Pelajaran bersama Slytherin kini menjadi menyenangkan bagi Luhan. Kemarin, dia dan Sehun dimasukkan ke dalam satu kelompok saat pelajaran Ramuan bersama Taehyung, dan berhasil membuat Penangkal Racun yang diberi nilai sempurna oleh Profesor Myungsoo. Taehyung ketakutan setengah mati begitu namanya disebutkan, berbeda dengan Luhan yang justru bersorak girang lalu merangkul Sehun erat. Hal ini membuat seisi kelas melongo berjamaah, bertanya-tanya bagaimana bisa Oh Sehun, si antisosial kelas berat, berteman bahkan tertawa bersama seorang Gryffindor hiperaktif kebanyakan gula bernama Luhan.
Dia selalu kepikiran tentang Sehun selama sebulan ini; apa yang sedang dilakukannya, apakah ada yang mengganggunya, bagaimana kabarnya hari ini, semua itu selalu melintas di benak Luhan. Tetapi, untuk hari ini, ada hal lain yang mengganggu pikirannya. Dia tak melihat Taehyung di Aula Besar saat sarapan, dan Yoongi menjadi sangat pendiam sepanjang pagi. Akhirnya, saat makan siang, Luhan mendapat jawaban atas semuanya, kenapa Taehyung menghilang dan Yoongi yang berubah judes. Jimin tersenyum lebar ke arah teman-temannya, berdehem diplomatis, dan berkata,
"Aku dan Jungkook berkencan."
Anak-anak Gryffindor riuh. Jungkook merona hebat. Yoongi tersenyum lirih, menepuk pundak Jungkook dan memberinya selamat, lalu kembali menghadapi roti isinya. Sekilas Luhan dapat melihat matanya berair. Taehyung hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Luhan baru saja hendak membuka mulut ketika bunyi berkeresak di atas kepalanya terdengar. Kira-kira seratus burung hantu melesat masuk dari jendela yang terbuka, membawa surat-surat dan paket-paket untuk pemiliknya. Namjoon mendapat boks berisi jubah pesta hitam mengkilap. Jimin mendapat tongkat pemukul Bludger baru dan jubah pesta.
Luhan membuka paketnya, dan amat terkejut ketika melihat isinya. Jubah pesta warna hitam, celana warna senada, dan kemeja putih berenda, lengkap dengan pita kupu-kupu putih. Lalu di bawahnya, ada kotak beludru kecil warna merah dan sebotol parfum. Dia tersenyum lebar. Pandangannya kemudian jatuh pada Sehun, yang tengah kesulitan membuka paket. Luhan terus memandanginya hingga Sehun mengeluarkan isi boksnya. Jubah pesta. Dia kelihatan senang sekali.
"Hei, kau tak membuka surat dari pamanmu?" Seokjin menyenggol pundak Luhan.
"Oh, ada surat juga?" gumamnya tolol. Ada dua surat. Dibukanya surat pertama cepat-cepat.
Luhan tersayang,
Dari tulisannya saja, Luhan tahu surat ini dari Bibi Sungmin.
Aku diberitahu Profesor Yunho kalau ada pesta dansa Natal di penghujung tahun nanti. Kuharap kau suka jubahmu. Kalau menurutmu jelek, salahkan Kyuhyun. Jubah itu pilihannya. Nikmati pestanya, oke? Oh ya, cincin itu milik mendiang ibumu, tapi sekarang milikmu. Jagalah baik-baik.
Peluk cium,
Bibi Sungmin.
Dibukanya surat kedua.
My dearest Lulu,
Aku tak akan menulis banyak. Nikmati pestanya, oke? Kalau kau tak suka parfumnya, salahkan Sungmin. Itu pilihannya, wangi stroberi dan persik. Katanya itu cocok untuk kepribadianmu, blah blah. Semoga teman dansamu cakep, ya. Dadah.
Pamanmu yang paling cakep sedunia (jangan protes),
Cho Kyuhyun.
P.s (ini tulisan Bibi Sungmin): Kami merindukanmu. Muah muah.
Luhan menganga melihat isi kotak beludru itu. Sebuah cincin perak yang sangat indah. Di bagian tengahnya terdapat berlian putih bening berbentuk bantal dengan tiga berlian kecil di kedua sisinya. Luhan mengeluarkan cincinnya dari kotak dan mencobanya; pas. Tapi dia agak murung, cincin ini membuat tangannya kelihatan feminin sekali seperti tangan perempuan.
"Loh, kau sudah dikirimi jubah pesta? Aku belum, hiks..." Baekhyun pura-pura terisak, melihat isi paketnya. "Ayah malah mengirimiku kalung ini. Ish, warnanya cewek banget, lagi."
"Kalungnya bagus, beneran deh, gak bohong," kata Seokjin. "Sudah, jangan nangis. Kau kelihatan jelek kalau menangis."
Baekhyun tampak tersinggung.
Begitu bel berbunyi, Luhan, Baekhyun, Minseok, dan Yoongi segera beranjak menuju kelas pertama mereka, Transfigurasi, bersama Ravenclaw. Di belakang mereka, Jimin dan Jungkook berangkulan mesra, dan Yoongi kentara sekali ingin menendang sesuatu. Anak-anak Gryffindor selalu menunggu-nunggu pelajaran bersama Profesor Kim Jaejoong, sehingga mereka selalu tiba lebih awal lima belas menit dari biasanya. Luhan duduk di sebelah Yoongi yang masih pundung, yang berusaha mati-matian untuk tidak melihat pasutri baru di seberangnya. Kelas hening, bahkan Luhan bisa mendengar suara kepak sayap burung hantu dari luar sekolah.
Materi hari ini luar biasa sulitnya. Transfigurasi manusia ternyata jauh lebih sulit daripada apa yang dibayangkan Luhan selama Profesor Jaejoong menjelaskan. Mereka ditugasi mengubah warna alis mereka sendiri, berlatih di depan cermin, dan hanya Yoongi yang berhasil mengubah alisnya menjadi merah terang dengan sempurna. Hal ini membuat Gryffindor mendapat tiga puluh poin ekstra dari Profesor Jaejoong. Luhan menertawakan usaha pertama Minseok dalam hati. Alih-alih berubah warna, sebelah alisnya malah menghilang. Baekhyun tertawa ngakak, tapi usahanya juga tak berhasil. Alisnya malah tumbuh memanjang seperti kumis bapak-bapak dan berwarna ungu.
Profesor Jaejoong tampak menikmati suasana kelas yang ramai dengan canda tawa. Inilah yang membuatnya berbeda dengan profesor-profesor lainnya, yang kebanyakan malah marah ketika anak didiknya tidak berhasil melakukan sesuatu. Profesor Jaejoong mengajari anak-anak sampai bisa, tanpa marah dan selalu tersenyum.
"Kalau gurunya menyenangkan begini, aku jadi semangat belajar," kata Yoongi ketika kelas berakhir. Setidaknya, dia tersenyum sekarang.
"Sudah sebulan dia mengajar di sini dan dia guru favoritku. Dia beda banget dengan Profesor Jiyong. Profesor Jaejoong itu sempurna. Baik, ramah, cantik, bijaksana pula," kata Baekhyun.
Mereka berempat berbelok ke lapangan Quidditch untuk latihan. Ada beberapa anak Durmstrang yang menonton, cewek semua. Setelah berganti baju, Luhan menjejak ke angkasa membawa Quaffle-nya, terbang mengitari lapangan. Jungkook sudah mengambil posisi di depan gawang tengah, Jimin dan Baekhyun siap dengan tongkat pemukul Bludger. Yoongi melesat ke sebelah Minseok, melewati Jungkook, dengan sengaja menabraknya agak keras. Namjoon di bawah sana memegang peluit, matanya menyipit ketika dia menengadah ke atas menatap para pemain.
Secara keseluruhan, ini latihan mereka yang terbaik, meskipun tadi Jungkook sempat kebobolan satu gol dan terkena Quaffle dari Yoongi sampai jatuh. Kedua Beater, Jimin dan Baekhyun, semakin lama semakin mahir memukul Bludger. Minseok memang sejak dulu tak ada masalah. Kemampuan Yoongi meningkat sangat drastis; dia tidak lagi terbang ogah-ogahan, kini dia melesat bagai elang, mengoper Quaffle dengan lincah dan mencetak hampir empat belas gol.
"Kita akan menggilas Hufflepuff tahun ini, tentu saja," kata Minseok bergairah, melempar jubah Quidditch-nya ke sebelah tasnya. "Kita tidak akan kalah."
"Tchah. Yixing bukan tandingan kita," kata Yoongi meremehkan.
"Siapa Yixing?" tanya Namjoon.
"Keeper tim Hufflepuff. Aku pernah melihat mereka latihan. Buruk sekali. Kebobolan lima dari sepuluh," jawab Jungkook. "Pokoknya, lusa kita harus menang!"
Luhan, Baekhyun, dan Minseok sibuk membicarakan tentang Quidditch sepanjang perjalanan menuju kastil, dan saat mereka tiba di depan kelas Arithmancy, ada seorang cowok Ravenclaw memanggil Minseok. Yang dipanggil langsung merona hebat hingga ke leher. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke koridor yang lebih sepi. Sebenarnya itu tidak diperlukan, karena dari gelagatnya saja, Luhan tahu cowok itu mau mengajak Minseok ke pesta. Baekhyun mengendikkan bahu, dan keduanya berjalan santai ke Menara Gryffindor.
Ruang rekreasi kosong melompong, jadi Luhan bisa leluasa mengerjakan PR Sejarah Sihir-nya. Baekhyun menguap lebar dan mengucapkan selamat malam, lalu pergi ke kamar. Kembali menghadapi perkamennya, Luhan sama sekali tidak tahu apa-apa tentang pembakaran penyihir di abad keempat belas. Mengerang frustasi, dia membuka buku Sejarah Sihir dan membacanya sekilas. Pandangannya berhenti di atas paragraf yang dirasa cocok. Dia mencelupkan pena bulunya ke botol tinta, mulai menulis:
Orang-orang non-sihir (lebih dikenal sebagai Muggle) terutama takut akan sihir pada abad pertengahan, tetapi tidak begitu menyadarinya. Pada kesempatan yang jarang terjadi, ketika mereka menangkap penyihir wanita atau pria, pembakaran penyihir sama sekali tak ada efeknya. Si penyihir yang bersangkutan akan mengucapkan Mantra Pembeku-Lidah-Api dan kemudian pura-pura berteriak kesakitan, sementara mereka sebetulnya menikmati perasaan nyaman seperti digelitik. Alexander si Aneh malah sangat menikmati dibakar, sehingga dia membiarkan dirinya ditangkap tak kurang dari enam puluh tiga kali dalam berbagai penyamaran.
"Kau ngerjakan PR Sejarah Sihir? Rajin amat," kata Taehyung, yang sudah duduk di hadapan Luhan entah sejak kapan. "Lagian lusa kita ada pertandingan, kan?"
"PR ini susah banget, tahu. Ngarang sedikit saja bisa langsung ketahuan."
"Ah, halo! Kalian sedang mengerjakan PR, ya?" Jungkook baru saja masuk, wajahnya merah padam, bibirnya berkilat-kilat basah. Untuk sepersekian detik, Luhan mengira dia habis makan sesuatu yang pedas. Tetapi kemudian Jimin masuk dan cepat-cepat berlari ke kamarnya, wajahnya juga merah. Luhan meringis miris menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku duluan," nada bicara Taehyung mendadak tidak enak. Cowok itu berjalan perlahan menaiki tangga, dan menghilang.
"Uhm," deham Jungkook canggung. "Aku naik ke atas dulu. Dadah."
Yoongi masuk tepat setelah Jungkook menghilang; matanya merah dan sembap, wajahnya benar-benar kusut, langkahnya gontai sekali. Luhan refleks berdiri untuk menuntunnya ke sofa dekat perapian, merangkulnya erat, membiarkannya menangis di bahunya. Yoongi sesenggukan tanpa suara, dan itu membuat hati Luhan berdenyut sakit. Dia mati-matian menahan keinginannya untuk mengutuk Jimin menjadi agar-agar lembek. Saat tangisan Yoongi mereda, barulah Luhan bertanya apa yang terjadi.
"A-aku..." ada jeda dua detik. "M-melihat mereka... berciuman—di koridor... aku tidak tahu, rasanya sakit..."
Oh, persis seperti apa yang dipikirkannya! Kini keinginan Luhan untuk mengutuk Jimin semakin kuat.
"Dan mereka tertawa, aku seharusnya bahagia... tapi aku tidak... malah aku merasa nyeri—di sini," Yoongi menekan dada kirinya, dan air matanya makin deras mengalir.
"Menangislah, kalau itu akan membuatmu baik," gumam Luhan.
"Aku terbiasa membuat kenari kalau aku sedang sedih," kata Yoongi. "Bisakah aku membuat beberapa... kalau kau tak keberatan?"
Luhan hanya mengangguk.
"Avis," Yoongi melambaikan tongkatnya ke udara kosong, dan lima ekor kenari kecil gemuk muncul, terbang melingkar di atas kepalanya. Luhan mau tak mau mengagumi kemampuannya menguasai mantra dalam situasi seperti ini.
"Kalian sedang apa?"
Yoongi langsung bangkit, lingkaran kecil burung-burung keemasan terus berkicau mengitari kepalanya, sehingga dia tampak seperti model tata surya yang ajaib dan berbulu. Dia mencengkram tongkatnya, menghadapi Jimin yang baru saja turun ke ruang rekreasi membawa buku-buku dan perkamennya. Dengan gerakan yang terlampau cepat, Yoongi mengarahkan tongkat sihirnya pada Jimin dan berteriak, "Oppugno!"
Kerumunan kecil burung itu meluncur ke arah Jimin dan mematuki tiap jengkal daging yang bisa mereka raih, mencakarnya beringas. Luhan spontan mundur selangkah. Jimin berteriak kesakitan, berusaha menutupi wajahnya, namun burung-burung keemasan itu malah mencakari tangannya. Dengan pandangan penuh dendam kesumat membara, Yoongi berlari naik ke atas. Di satu sisi Luhan merasa puas, tapi di sisi lain dia merasa kasihan. Dia baru tahu orang patah hati bisa berubah menjadi semengerikan ini.
"Demi kolor Merlin, apa yang salah dengan otaknya?" teriak Jimin.
Luhan hanya mengendikkan bahu tak acuh. Dia mengemasi buku-bukunya dan segera beranjak ke kamar. Yoongi sudah telungkup di kasurnya, sepertinya menangis lagi, dan Luhan tahu dia tidak ingin diganggu. Perhatiannya tersita pada jendela kamar; ada seekor burung hantu bertengger di sana. Luhan tidak yakin itu burung hantunya, Owlett memiliki bulu coklat kehitaman, sedangkan yang satu ini berwarna putih bersih. Di kakinya terdapat segulung perkamen yang diikat pita ungu.
Perkamen itu dialamatkan untuknya. Cepat-cepat Luhan membukanya dan membaca:
Luhan,
Aku tidak bisa mengirimkan surat ini secara langsung padamu karena kita belum bertemu sama sekali hari ini, jadi aku pakai burung hantu. Aku menulis ini saat aku menonton kau latihan Quidditch. Kau hebat sekali. Kudoakan kau memenangkan pertandingan besok. Melawan Hufflepuff, ya? Aku hanya memperingatkan, Beater tim mereka jago sekali. Hati-hati terkena Bludger-nya. Soalnya Chanyeol pernah kena sekali dan koma selama dua minggu.
Kirim balasanmu lewat burung hantu yang sama. Selamat malam.
Salam,
Oh Sehun.
P.s: Kalau kau tak mau balas juga tak apa. Mimpi indah.
Kini, wajah Luhan merah padam. Perutnya seolah diisi oleh ribuan kupu-kupu, menggelitik aneh. Dia duduk di kasurnya, menarik sehelai perkamen baru, mencelupkan pena bulunya ke botol tinta, dan menulis.
Sehun,
Aku benar-benar merindukanmu. Maksudku, kita belum bertemu sama sekali, kan? Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk nonton aku latihan. Apakah benar Beater tim Hufflepuff semengerikan itu? Setahuku namanya sih, Kim Jongin. Terima kasih sudah mengingatkan. Informasi itu sangat penting untuk keselamatan Chaser-chaser timku. Apakah besok kau bisa nonton? Kalau tidak bisa, kuharap kita bisa bertemu setelah pertandingan. Di Menara Utara, kelas Ramalan. Tapi aku akan sangat senang kalau kau bisa nonton besok.
Selamat malam. Mimpi indah juga.
Sahabatmu,
Luhan.
Diikatkannya surat ini ke kaki si burung hantu. Begitu ikatannya selesai, si burung hantu mengepakkan sayapnya yang besar dan meluncur keluar dari jendela yang terbuka. Luhan mengawasinya sampai lenyap dari pandangan, kemudian gulung-gulung di kasurnya, efek terlalu senang. Kalau saja dia tidak teringat ada Baekhyun yang tidur, mungkin sekarang dia sudah berteriak gembira. Pikirannya tentang seramnya Beater tim Hufflepuff dipadamkan, digantikan bayangan sosok pucat berambut pirang yang berdiri di stadion, tersenyum ke arahnya, mulutnya menggumamkan kata-kata penyemangat untuknya.
Luhan terbangun keesokan harinya merasa segar bugar dan gembira, tetapi siang harinya dia harus berhadapan dengan tugas Ramuan yang tak kalah sulitnya dari transfigurasi manusia; melakukan riset tentang penangkal racun. PR ini harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh karena Profesor Myungsoo telah menjelaskan bahwa dia mungkin akan meracuni salah satu dari mereka untuk melihat apakah penangkal racun mereka manjur. Cuma Baekhyun dan Yoongi yang antusias, sisanya mengeluh.
"Ini susah banget, demi apa," keluh Minseok frustasi. Dia bersama Baekhyun dan Luhan sedang berada di perpustakaan, membaca setumpuk buku tebal mengenai ramuan.
"Jangan banyak bicara. Kita harus sudah mendapatkan hasilnya sebelum minggu depan," Baekhyun berkata tanpa menatap Minseok. "Atau kita akan diracuni olehnya. Aku masih ingin mewujudkan cita-citaku menjadi Beater handal."
"Eh, tapi apa benar Beater tim Hufflepuff itu jago?" tanya Luhan.
"Katanya sih iya. Siapa namanya? Kim Jongin? Tenang saja, lagian Beater tim Slytherin lebih menyeramkan kok," jawab Baekhyun. "Cih. Pada dasarnya, Oh Sehun itu memang menyeramkan. Kalian ingat, kan, tahun lalu aku terkena Bludger sampai masuk rumah sakit gara-gara dia?"
"Dia enggak semengerikan itu, kalau menurutku," Luhan nyengir kuda.
"Ya iya lah. Kau kan naksir dia."
Perkataan Minseok barusan sukses membuat wajah Luhan merah padam. "A-apa sih, maksudmu? Kami cuma temenan, tahu."
"Ya ya ya. Semalam siapa yang tidur sambil memeluk suratnya?" Minseok dan Baekhyun terkikik. "Tapi emang harus kuakui, galak-galak begitu, Sehun cakep juga. Kalau saja dia mau bicara dikit, pasti aku sudah mengajaknya ke pesta Natal. Sayangnya, dia enggak seberapa suka bersosialisasi."
"Anak-anak Slytherin memang menarik," mata Baekhyun menerawang.
"Jangan bilang kau lagi naksir anak Slytherin," kata Minseok.
"Ish! Aku enggak naksir siapa-siapa. Aku cuma memikirkan ajakan Park Chanyeol kemarin," wajah Baekhyun merah sedikit. "Yeah... dia cakep sih. Cuma kan... ya gitu deh."
"Park Chanyeol yang telinganya mirip telinga peri rumah dan senyumnya super lebar itu? Anak Slytherin? Kok kau mau sih diajak olehnya?" tanya Minseok.
"Gini-gini aku bersyukur ada yang sudi mengajakku ke pesta," kata Baekhyun datar.
"Minseok, kau pergi dengan siapa? Oh, ya, si Ravenclaw yang kemarin itu bagaimana?" tanya Luhan. Minseok merona parah.
"I-itu..." jeda sebentar. "Jongdae mengajakku dan aku tidak bisa menolak. Jadi... yeah..."
"Dia oke sebenarnya," Baekhyun manggut-manggut. "Tapi coba bilang ke dia supaya mengganti model rambutnya. Pokoknya ganti saja, asalkan enggak dibelah tengah kayak kemarin."
"Dia cakep kok," bela Minseok, yang merona lagi setelahnya.
"Dengan potongan ala-ala 90-an seperti itu? Ayolah!"
"Baekhyun, kita memang hidup di era 90-an. Sekarang tahun 1994."
"Oh, ya, maafkan aku, Lu."
Setelah menghabiskan waktu nyaris dua jam di perpustakaan, berkutat dengan buku-buku tebal penuh kata-kata asing, akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat sejenak dengan latihan Quidditch. Anak-anak lain ternyata sudah berkumpul. Luhan menjejak ke angkasa, mengambil posisi di tengah, sementara Yoongi dan Minseok di sebelahnya. Jimin dan Baekhyun siap di ujung lapangan, ekspresi mereka sungguh bertolak belakang; Jimin kusut, Baekhyun bersemangat. Jungkook kelihatan lebih pucat dari biasanya. Mungkin karena gugup, dan karena hal ini, mereka kebobolan lima dari sepuluh. Minseok marah-marah sendirian, Baekhyun mendecak sebal, dan Namjoon mengumpat keras. Jimin diam saja, wajahnya makin kusut.
Luhan sebenarnya pundung dan ingin mengumpat juga, tetapi melihat sosok pucat berambut pirang itu tersenyum ke arahnya, dia nyengir selebar mungkin. Oh Sehun ada di sana, di stadion, duduk memangku buku tebal yang ditebaknya sebagai buku Sejarah Sihir. Luhan sekarang bergulat dengan keinginannya untuk memeluk Sehun sekarang juga, namun dia segera sadar diri. Dia sedang latihan, dan ini latihan terburuk mereka, jadi dia hanya melambai santai lalu melesat menghampiri Jungkook yang dikerumuni anggota tim.
"Kemarin kau bisa menyelamatkan sembilan gol. Kenapa sekarang kau hanya bisa menyelamatkan lima?" geram Namjoon, yang kali ini bertugas sebagai wasit, sambil memukul gagang sapunya.
"Aku gugup! Pertandingannya kan besok! Kau seharusnya tahu!" suara Jungkook seperti mau menangis.
"Lalu apa? Kau akan tetap gugup begini di pertandingan besok? Kita harus memenangkan piala itu!" timpal Minseok.
"CUKUP!" bentak Baekhyun jengah. "Kita latihan sekali lagi. Jungkook, kau harus tahu sesuatu; pertandingannya besok dan kita harus menang. Buktikan pada teman-teman kita kalau kita bisa."
Mereka pun kembali ke posisi masing-masing. Luhan berusaha untuk mengacuhkan Sehun, karena entah kenapa, cowok pucat itu membuatnya kehilangan konsentrasi. Dan di latihan yang kedua ini, anggota-anggota tim kembali mendapatkan semangatnya. Jungkook menangkap semua gol yang diarahkan para Chaser ke arahnya dengan tangkapan-tangkapan yang luar biasa spektakuler, beberapa bahkan dengan ujung jari sarung tangannya. Cara terbang Minseok semakin lama semakin mahir, begitu juga dengan Yoongi. Mereka latihan hingga matahari terbenam di ufuk barat, kelelahan, namun juga senang sekali.
"Kau latihan dengan sangat baik," kata Sehun begitu Luhan selesai ganti baju. Anak-anak lain langsung berlari terbirit-birit meninggalkan lapangan, wajah mereka pucat pasi.
"Terima kasih banyak," Luhan membungkuk agak rendah. "Kau besok nonton, kan? Nonton, ya? Please..."
Sehun tertawa melihat ekspresi Luhan. "Ah, tentu saja aku akan nonton. Kebetulan aku tidak ada PR."
"Asyiiik!"
"Sudahlah. Kau perlu istirahat. Besok kau tanding. Tidurlah dengan nyenyak, oke? Selamat malam," tangan Sehun terulur untuk menggasak rambut Luhan yang sudah mulai panjang. Luhan mendengus sebal.
"Tapi kan kita baru ketemu hari ini! Apa tidak bisa kita bicara sebentar?"
"Aku harus menghadiri kelas tambahan Ramuan. Hari ini jam enam sore. Sekarang sudah jam enam kurang seperempat," dia melirik arlojinya. "Tenang saja, besok aku pasti ada di bangku penonton. Sekarang tidur, kau perlu energi ekstra besok."
"Hmph," dengus Luhan sekali lagi. "Baiklah. Kau sebenarnya sudah pintar. Tapi tetap saja, semoga sukses dengan kelas tambahanmu."
"Terima kasih. Mimpi indah, ya."
Sehun menggasak rambut Luhan sekali lagi, tersenyum, dan menghilang di koridor. Luhan menutupi wajahnya yang entah sejak kapan memanas. Dia tidak tahu kenapa, tetapi memang selalu begini kalau dia sedang berbicara dengan Sehun. Ditambah lagi, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya dan perutnya serasa jumpalitan. Apakah dia sakit? Dia tidak tahu.
Dan malamnya, dia tidak bisa tidur. Sosok Sehun yang tersenyum ke arahnya selalu melintas di benaknya, enggan pergi. Luhan mengerang kesal, membenamkan wajahnya ke bantal, namun bibirnya tersenyum dan wajahnya merah. Hatinya dilanda kebahagiaan yang aneh. Ribuan kupu-kupu itu kembali mengisi perutnya. Hari ini cerah, besok dia akan menjumpai Sehun sedang bersorak di bangku penonton, besok timnya akan menang, besok dia akan mengangkat Piala Quidditch itu tinggi-tinggi di tengah lapangan. Susah, sekarang ini, untuk merasa cemas tentang apa pun, bahkan tentang pertandingan sekalipun
TBC.
jangan panggil aku 'Kak'. i'm still 13, for god's sake.
