Naruto – Masashi Kishimoto

Pembohong Kecil – Kei Dysis

.

AU, OOC, Typo, etc.

.

05/07/2016

Happy reading!

-:-

Netra Sasuke terpejam. Punggungnya bersandar pada pintu loker. Sudah hampir lima menit berlalu sejak Hinata membenamkan wajah di dada sang Uchiha. Perempuan bermahkota indigo itu duduk di antara kedua kaki Sasuke yang terbuka, belum berhenti menangis dengan gemetar kecil yang merayapi tangannya.

Rangkulan lengan Sasuke di pinggang Hinata kemudian mengerat, seiring dagunya bertumpu di bahu Hinata. Dirasakannya jemari Hinata semakin kuat mencengkeram jaketnya. Seringai Sasuke terukir tipis.

Lalu Sasuke merasakan ponselnya bergetar di dalam tas di sampingnya, membuat sepasang obisidian seketika menampakkan kilat tajam. Sambil kembali menopang dagunya di puncak kepala Hinata, Sasuke merogoh benda itu, dan menerima panggilan yang masuk.

"Aa. Kami akan segera ke sana," sahut Sasuke rendah. Ditutupnya sambungan telepon, tanpa menunggu balasan, lantas melempar ponselnya ke dalam tasnya yang terbuka.

Saat itulah Hinata menjauhkan wajahnya dari dada Sasuke. Dan yang dirasakan Sasuke di detik berikutnya adalah … sesuatu yang lembut menekan bibirnya. Sesaat Sasuke hanya tertegun, kemudian menahan senyum. Dipeluknya lagi pinggang Hinata dengan dua tangan, mulai membalas sentuhan bibir Hinata dengan gerakan yang lebih intens.

Ketika Hinata mencoba melepaskan kaitan bibir mereka, satu tangan Sasuke kontan menangkup belakang kepala perempuan Hyuuga itu, semakin memperdalam sentuhannya di bibir Hinata. Suara geraman rendah terdengar, namun diabaikan sepenuhnya oleh sang pemuda raven.

Dan lima jemari yang terkepal kemudian mendarat cepat di perut Sasuke.

Sasuke meringis pelan. Spontan bibirnya terpisah dari bibir Hinata.

"Ciuman seperti itu tidak ada di dalam perjanjian kita, Uchiha sialan!"

Kekehan Sasuke mengalun kecil, puas saat melihat rona merah menghiasi wajah kesal Hinata. Sasuke menelengkan kepala. Senyum geli tampak bermain-main di netranya. "Sepertinya aku berhak mendapatkan lebih, mengingat jumlah poin yang kucetak tadi."

Hinata menggertakkan gigi, kemudian mendengus kasar sembari memalingkan wajah. Dihapusnya jejak-jejak air matanya dengan punggung tangan.

Dengan sepuluh jemari menangkup pipi Hinata, Sasuke mendekatkan wajahnya dan mencium ringan kelopak mata Hinata. "Matamu tetap terlihat indah meskipun kau baru habis menangis," bisik Sasuke kemudian.

Semburat merah tipis pun menjalari wajah Hinata. "Tutup mulutmu, Ace!" Hinata menggeram sambil menyipitkan mata. Buru-buru Hinata beranjak berdiri, lalu memutar tubuh hingga membelakangi Sasuke.

Tanpa suara, Sasuke hanya tertawa pendek dengan kepala tertunduk. Lantas Sasuke beringsut bangun, dan ringisan kesakitan ternyata berhasil lolos dari mulutnya, tanpa sempat dicegah Sasuke.

Sial! Sasuke langsung mengumpat dalam hati, tahu akan sesuatu yang harus ia hadapi selanjutnya.

Hinata membalikkan badan. Ada pendar kecemasan, bercampur rasa sesal dan bersalah di sepasang lilac yang membulat. Tubuh Hinata mulai menggigil ringan.

Sinar oniks Sasuke sontak meredup. Tangannya terkepal kuat. "Jangan memasang ekspresi seperti itu lagi," ujar Sasuke datar, namun penuh ketegasan. "Sudah kukatakan aku baik-baik saja. Lebih baik kakiku yang terluka daripada kakimu, Manajer. Kau kira tadi aku akan bisa fokus bertanding jika kau yang terluka, huh? Dan laki-laki seperti apa aku jika tidak melindungi gadis yang kusukai?"

Hinata mengalihkan pandangan, menahan diri untuk tidak kembali menangis. "Aku tidak butuh perlindunganmu," bisik Hinata tajam di antara giginya yang bergemeletuk.

"Butuh atau tidak, aku tidak peduli," Sasuke menyahut rendah sembari mencengkeram lembut dagu Hinata. Ditatapnya lekat-lekat kedua mutiara gadis itu, "karena sekarang aku punya hak sekaligus kewajiban untuk melindungimu. Tim basket sekolah kita menjadi juara nasional dan aku mendapatkan piala MVP. Sesuai perjanjian kita, sekarang kau adalah milikku. Dan berhenti mengelak perasaaanmu lagi padaku, Pembohong Kecil."

Bola Hinata membesar. Api kekesalan memanaskan wajahnya. "Aku tidak kecil atau pendek, kau saja yang terlalu tinggi, Uchiha sialan!" timpal Hinata garang sambil melepas paksa dagunya dari tangan Sasuke, lalu memukul perut pemuda itu.

Sasuke meringis pelan dengan seringai puas. "Mmm. Mmm. Ini baru gadisku."

.:.

THEEND

.:.

THANKS! :)