Tidak seperti biasanya, Luhan bangun tiga puluh menit lebih awal. Kebahagiaan dan semangat membuncah di dalam dadanya, tak sabar ingin menggilas Hufflepuff. Suasana Aula Besar benar-benar meriah pagi ini. Meja Gryffindor, yang seluruhnya berwarna merah dan emas, bersorak setiap ada anggota tim yang memasuki aula. Di seberang sana, Hufflepuff tak kalah girangnya. Mereka mengumumkan keras-keras bahwa mereka punya kapten baru, perempuan yang sangat cantik, namanya Kim Taeyeon. Luhan memandang sekilas langit-langit dan melihat langit yang cerah, biru pucat: pertanda baik, dan semoga saja memang begitu.

"Kaptennya perempuan? Wah, cerdas sekali. Tapi kapten kita laki-laki, Namjoon jelas lebih tangkas," gumam Baekhyun mencemooh. Mau tak mau, Luhan setuju.

"Aku benar-benar takut," kata Seokjin. "Berjanjilah padaku kalian tidak akan kenapa-napa."

"Kami akan baik-baik saja, percayalah," kata Namjoon menenangkan.

"Kalian teman terbaikku," mata Seokjin berkaca-kaca. Dia memang selalu seperti ini saat pertandingan Quidditch dimulai. Hatinya selembut hati seorang ibu. "Para Beater, jangan terlalu keras memukul Bludger. Ini masalah serius. Para Chaser, hati-hati, selalu hati-hati dengan Bludger-nya. Keeper tak ada masalah. Seeker... kau, Namjoon, pokoknya berhati-hatilah."

Mereka semua mengangguk mengiyakan.

Setelah sarapan, para anggota tim Gryffindor berjalan memasuki stadion. Mereka langsung banjir sorakan dan teriakan "buu" yang gegap gempita. Salah satu sisi stadion total berwarna merah dan emas; sisi lainnya lautan kuning dan hitam, warna khas Hufflepuff. Kim Taehyung berdiri di podium komentator, tampak bergairah sekali.

Namjoon melangkah ke Profesor Junsu, wasit mereka, yang sudah siap melepas bola-bola dari dalam kotaknya. Kim Taeyeon sangat pendek, tingginya hanya kisaran seratus enam puluh sentimeter, nyaris tiga puluh senti lebih pendek dari Namjoon. Mereka berjabat tangan, lalu kemudian menjejak ke angkasa, diikuti oleh seluruh anggota tim. Saking bersemangatnya, Minseok terbang mengelilingi lapangan dua kali, melesatnya sangat cepat dan spektakuler. Dia nyaris menabrak podium komentator kalau saja Profesor Junsu tidak membunyikan peluit.

"Dan bola di tangan Gryffindor. Min Yoongi dari Gryffindor memegang Quaffle, meluncur terus menuju gawang Slytherin. Bagus sekali—YAK—sedikit lagi! Argh, sayang sekali, Quaffle direbut oleh Yoona dari Hufflepuff. Yoona membelah lapangan—YEAH, SASARAN BLUDGER YANG TEPAT SEKALI DARI BYUN BAEKHYUN! Kini Quaffle berada di tangan Luhan dari Gryffindor, melesat sangat cepat menuju gawang—Menunduk, Luhan, ada Bludger!—DAN GOL! SEPULUH-NOL UNTUK GRYFFINDOR!"

Penonton berteriak semakin keras. Luhan tersenyum lebar sekali. Teman-temannya bersorak menyelamatinya. Saat berikutnya, Yoongi sudah memegang Quaffle, melesat bagai angin di tengah udara, berkelit menghindari Bludger. Kemudian dia melempar Quaffle sekuat tenaga ke gawang sebelah kiri, dan berhasil. Pendukung Gryffindor bersorak riuh.

"DUA PULUH-NOL UNTUK GRYFFINDOR!" teriak Taehyung.

"Jungkook, siap-siap!" teriak Namjoon ketika melihat Quaffle berada di tangan salah satu Chaser Hufflepuff, Choi Sooyoung. Tetapi Jimin tangkas, dia segera memukul Bludger kepada Sooyoung. Quaffle jatuh dan ditangkap oleh Minseok, yang melesat lewat bawah kaki Huang Zitao, Chaser Hufflepuff.

"Kim Minseok berkelit menghindari serangan Bludger—dan Yoona menghadangnya—tetapi Yoongi segera merebut Quaffle, woah, melesatnya cepat banget—Baekhyun mengarahkan Bludger ke Yoona—OH TIDAK, Quaffle di tangan tim Hufflepuff! Dan—yeah, Jeon Jungkook berhasil menyelamatkan gawang, teman-teman! Kini Gryffindor mengambil alih, Luhan melesat menuju gawang Hufflepuff—YEAH, TIGA PULUH-NOL UNTUK GRYFFINDOR!"

Selewat setengah jam Gryffindor berhasil unggul enam puluh lawan tiga puluh. Luhan berubah beringas begitu Hufflepuff mendapatkan gol mereka yang keempat. Dia menambah tingkat laju sapunya menjadi maksimal, sehingga dia nyaris tak terkejar. Dia mencetak satu gol lagi. Minseok berhasil mencetak satu juga, sementara Yoongi mencetak dua. Skor mereka kini seratus lawan empat puluh.

Beater tim Hufflepuff, Kim Jongin, ternyata tak semengerikan yang Luhan bayangkan. Pukulannya tak sehebat pukulan Baekhyun, jadi Luhan masih bisa berkelit. Quaffle sekarang berada di tangan Minseok, yang meliuk menghindari serangan Bludger sekaligus tubuh kurus Yoona. Baekhyun memukul Bludger kepada Sooyoung ketika melihat cewek itu hendak menghadang Minseok. Kedua Beater Hufflepuff, Kim Jongin dan Tiffany Hwang, tampak berang sekali. Sementara Snitch masih belum terlihat.

"YEAH! Pukulan yang cantik sekali dari Baekhyun! DAN GOL LAGI! KIM MINSEOK BERHASIL MEMASUKKAN BOLA! SERATUS SEPULUH LAWAN EMPAT PULUH! YEAAAAAH! GRYFFINDOR UNGGUL TUJUH PULUH ANGKA!" Taehyung melompat-lompat kegirangan di podiumnya.

Luhan tertawa keras. Tetapi tawanya langsung sirna karena dia melihat Namjoon dan Kim Taeyeon sedang berkelit mendapatkan Snitch. Jika Namjoon mendapatkannya, maka piala Quidditch akan jatuh ke tangan tim Gryffindor. Minseok melesat melewatinya, membawa Quaffle, dan memasukkannya ke gawang, namun berhasil ditangkap Yixing. Luhan merasakan ada monster di dalam dadanya, mencabik-cabik organ dalamnya, meraung memerintahnya melempar Quaffle ke arah Yixing sampai dia pingsan.

"HEH! APA YANG KAU COBA LAKUKAN, KAU CACING-CACING KECIL BRENGSEK?!" teriak Taehyung di megafon.

Kim Jongin dan Tiffany Hwang mengarahkan kedua Bludger kepada Jungkook. Kedua bola itu susul-menyusul menghantam perut Jungkook, dan dia berguling di udara, mencengkram perutnya, amat kesakitan.

"KALIAN PENIPU LICIK TAK BERGUNA! DILARANG MENYERANG KEEPER KECUALI QUAFFLE ADA DI AREA GOL! INI BERARTI PENALTI UNTUK GRYFFINDOR! DASAR BRENGSEK! KUCOLOK MATAMU, TAHU RASA KAU!"

Luhan berhasil memasukkan bola. Seratus dua puluh lawan empat puluh. Pertandingan semakin memanas. Yoongi berteriak frustasi melihat Yoona berhasil mencetak satu gol lagi. Luhan mengambil alih bola, melesat menuju ujung kiri lapangan, berkelit dengan Bludger, dan melempar bola ke gawang. Berhasil. Minseok memegang Quaffle, tetapi dia terkena Bludger dari Tiffany, dan bolanya direbut Sooyoung. Baekhyun dengan brutal melempar Bludger ke arah Sooyoung, sehingga Quaffle jatuh ke tangan Yoongi. Yoongi melesat ke ujung lapangan dan mencetak gol. Taehyung berteriak penuh kebahagiaan.

"YAK—YIXING KEMBALI MENYELAMATKAN GAWANG—ayo, Minseok, rebut bolanya!—pertandingan makin panas... makin brutal—Yoona memegang Quaffle untuk Hufflepuff—Jungkook menangkap lemparan dari Yoona! Quaffle sekarang berada di tangan Luhan, sekarang berada di tangan Yoongi—berada di tangan Luhan lagi—Yoongi lagi—menunduk, Yoongi!—Yeah, Bludger-nya meleset, teman-teman! Kini Luhan yang memegang Quaffle—berkelit menghindari Zitao—YEAH GOOOOOOOOOOOOL! GRYFFINDOR GOL LAGI! YEAH! FANTASTIS! MENAKJUBKAN!"

Teriakan Taehyung teredam oleh sorakan pendukung Gryffindor. Pertandingan tidak akan selesai kalau Namjoon belum mendapatkan Snitch. Luhan menggeram rendah, melesat mengejar Yoona yang mengambil alih. Yoongi dan Zitao kejar-kejaran. Jungkook, dengan gerakan mulus dan spektakuler, menyelamatkan gawang, lagi dan lagi, lagi dan lagi. Minseok menggolkan dua lagi, dan lautan merah di bawahnya bersorak gembira. Pendukung Hufflepuff marah-marah.

"Kini Gryffindor unggul—entah berapa angka, yang penting unggul, lah. Yoona mengambil alih bola, mengopernya ke Zitao—meluncur ke gawang Gryffindor—dan Jungkook berhasil menangkap bola! Rasain! Quaffle berada di tangan Sooyoung—bukan, di tangan Luhan—kembali ke tangan Sooyoung, gawang Gryffindor semakin dekat—ayo, Jungkook, selamatkan—"

Tetapi Sooyoung berhasil mencetak gol. Terdengar sorakan riuh dari anak-anak Hufflepuff dan Taehyung mengumpat-umpat keras, sehingga Profesor Jaejoong berusaha menjauhkan megafon sihir darinya.

"Maaf, Profesor, maaf! Tak akan terjadi lagi! Jadi, sampai mana kita tadi? Oh—YA! Gryffindor masih unggul, duh, skornya berapa, sih, tadi? Ah, maaf! Lanjut ke pertandingan! Quaffle berada di tangan Minseok—AH, TAI NAGA!—maaf, Profesor, kelepasan! Maksud saya, Quaffle kini berada di tangan Yoona—tidak, di tangan Yoongi—balik lagi ke Yoona—ke Yoongi—Sooyoung merebut bola—melesat cantik ke gawang Gryffindor—Jungkook menyelamatkan gawang lagi! Minseok merebut bolanya—TAI KUCING!—maksud saya, bola berada di tangan Zi—"

"YES! AKU MENDAPATKAN SNITCH-NYA! AKU MENDAPATKAN SNITCH-NYA! KITA MENANG!"

Luhan menunduk ke bawah; Namjoon tersenyum lebar, tangannya terulur ke atas menunjukkan bola kecil keemasan, wajahnya luar biasa bahagia.

"NAMJOON MENDAPATKAN SNITCH-NYA! GRYFFINDOR MENANG! AKU BAHAGIA SEKALI—MAAFKAN AKU, PROFESOR, TAPI AKU SENANG SEKALI! GRYFFINDOR MEMENANGKAN PIALA! SINGA MEMANG JUARA!" Taehyung teriak-teriak di megafon sihir.

Stadion meledak. Luhan, Minseok, dan Yoongi berpelukan di udara. Jungkook langsung melesat ke bawah, merangkul Namjoon, terisak tak terkendali di bahunya. Jimin dan Baekhyun bertos ria dengan air mata berlinangan. Tim Gryffindor mendarat di tanah sambil berteriak-teriak serak. Para pendukung Gryffindor memanjat pagar pembatas memasuki lapangan. Profesor Jaejoong terisak di bahu salah satu profesor lainnya. Lapangan seakan berwarna merah. Bendera-bendera merah berlambang singa emas dikibarkan. Yoongi menutupi wajahnya yang merah padam dengan kedua tangannya, menangis lebih keras daripada saat dia melihat Jimin berciuman dengan Jungkook.

Mereka tak sanggup bicara saking terharunya. Teriakan dan sorakan penuh keharuan menggema di lapangan. Luhan bahagia sekali, rasanya benar-benar campur aduk ketika Profesor Yunho berjalan ke arah mereka, membawa piala yang amat besar. Namjoon, sebagai Seeker sekaligus Kapten, menerimanya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Anak-anak bersorak makin keras.

"Luhan!"

Menyeruak di antara kerumunan menuju Luhan, tampak Oh Sehun, wajahnya yang biasanya pucat sekarang merah padam. Senyumnya terukir lebar sekali. Dia berlari menghampiri Luhan dan memeluknya sangat erat, memutar-mutarnya di udara. Mata Luhan berair, antara senang, terharu, kaget, semuanya bercampur jadi satu.

"Aku memenangkan pialanya, Sehun! Gryffindor menang!"

Tetapi Sehun tidak menjawab; dan tanpa aba-aba, begitu cepat, dan tanpa mencemaskan fakta bahwa seratus orang mengawasi mereka, Sehun menciumnya.

Selewat beberapa waktu yang lama—atau barangkali sudah setengah jam—atau mungkin malah beberapa hari—atau beberapa bulan—mereka saling melepaskan diri. Baekhyun dan Minseok melongo lebar, namun tersenyum sepersekian detik kemudian. Namjoon, meskipun tangannya tampak bergetar, menepuk punggung Sehun main-main. Luhan menunduk, wajahnya merah padam. Monster di dalam dadanya meraung penuh gembira. Ribuan kupu-kupu itu muncul lagi dari dasar perutnya. Sehun baru saja menciumnya, mencium bibirnya, di depan teman-temannya, ini tentulah tidak main-main...

Dan saat itu juga, saat menyadari bahwa Sehun tersenyum ke arahnya, menciumnya sekali lagi tepat di bibir, Luhan merasa dia adalah pemain Quidditch paling hebat sedunia.


END.

ah, gak deng. haha.

jadian, ya?

azek.