Naruto – Masashi Kishimoto

Black Sun – Kei Dysis

.

AU, OOC, Typo, etc.

.

22/07/2016

Happy reading!

-:-

Hinata berdiri menunggu, sembari memperbaiki letak topi beanie-nya dengan bercermin melalui pintu lift yang memantulkan bayangan dirinya. Senyum puas Hinata lantas tersungging, tepat ketika pintu di hadapannya terbuka.

Mendapati kotak lift ternyata tidak kosong, Hinata sontak mendongak. Matanya terbelalak melihat kehadiran seorang pria berbadan tinggi, yang memandangnya tajam dari balik kaca mata.

"Remember. Just one hour."

Tersenyum manis, Hinata melangkah masuk. "Aye, Sir," sahut Hinata dengan kaki berjinjit, mencium pipi pria itu. Lembut, didorongnya kemudian pria beruban tersebut keluar dari lift. "I'll be fine. I promise."

-:-

-:-

Pemandangan di hadapannya kembali membekukan Hinata dalam keterpanaan. Entah untuk keberapa kalinya. Bentangan langit hitam membiru di pagi buta dengan ditaburi ribuan bintang memanjakan mata Hinata. Gulungan-gulungan putih menyenandungkan nyanyian ombak untuk telinganya. Aroma asin yang khas pun ikut menggelitik hidung Hinata.

Mendesah rindu, Hinata melepas sepatu ketsnya. Dibiarkannya kulit telapak kakinya bebas bertemu dengan butir-butir pasir yang halus.

Hinata lantas menekuk kaki, mendekapnya erat dan menopang dagu di ujung lutut. Bibirnya terkembang bahagia. Menunggu matahari pagi.

Tiba-tiba ada gerakan di dekat Hinata, membuat Hinata menoleh dan tercengang. Seseorang sudah duduk tepat di sampingnya.

"Kenapa hari Minggu?"

Hinata mengerjap. "Uchiha … Sasuke?"

Tanpa memandang Hinata, Sasuke bertanya dingin, "Bagaimana kau bisa tahu namaku?"

"Kau adalah pendatang baru yang cukup terkenal di sini, kau tahu?" sahut Hinata sambil tersenyum kecil, kemudian kembali memandang laut.

Sasuke mendengus. "Jadi, Miss Sunday, kenapa kau memilih hari Minggu untuk datang kemari?"

"Miss Sunday?" Tawa Hinata mengalun lembut. "Namaku Hinata. Hyuuga Hinata. Dan … bagaimana kau bisa tahu aku selalu ke pantai hanya pada hari Minggu? Bukankah kau tak pernah keluar dari kamarmu sejak kau tinggal di sini?"

Hening sesaat menyergap, sebelum akhirnya Sasuke menjawab tenang, "Aku melihatmu dari jendela kamarku."

"Ah. Begitu." Hinata mengangguk, lalu melengkungkan bibir. "Kenapa hari Minggu? Hmm. Sunday. Sun. Matahari. Kau mengerti maksudku?"

Dengusan Sasuke terdengar lagi. "Jadi tidak salah bukan aku memanggilmu Miss Sunday?"

"Well. Kebetulan aku juga lahir pada hari Minggu." Hinata terkekeh pendek. "Aku jadi bertanya-tanya apa hari itu juga akan datang pada hari Minggu?"

"Berapa lama lagi?" tanya Sasuke datar, setelah sejenak hanya bisa terdiam. Tatapannya hampa. "Berapa lama lagi kau akan tinggal di sini?"

Senyum Hinata melebar. Nanar. Pelukan kedua tangannya di lutut mengerat. "Enam bulan. Itu yang mereka katakan," Hinata menjawab lirih.

Lalu netra Hinata berpendar takjub, ketika dilihatnya sang surya mulai menampakkan eksistensinya. Kontan Hinata beranjak bangun, dan berlari pelan menuju tepi pantai. Ada binar bahagia di wajah Hinata. Cahaya matahari pagi mulai menghangatkan dirinya.

Entah berapa lama Hinata bergeming, hingga mendadak sebuah suara maskulin terdengar dari samping, membuat Hinata seketika menegang dalam ketertegunan mutlak.

"Kau mau menikah denganku?"

Kepala Hinata menoleh kaku. "A-apa?"

"Aku ingin kau menikah denganku," ucap Sasuke, mengalihkan pandangan dari laut, dan memandang Hinata lekat-lekat.

Hinata berkedip lambat. Terperangah melihat kesungguhan di sepasang jelaga. Kesungguhan nyata yang juga menyelimuti perkataan pemuda bersurai hitam itu. "Ta-tapi kita baru saja bertemu," lirih Hinata, kemudian menyentuh kepalanya yang tertutupi topi. "Dan a-aku—"

"Aku sudah memperhatikanmu sejak dua bulan lalu," Sasuke mengakui, seraya meraih satu tangan Hinata, menjauhkannya dari kepala gadis itu. "Dan aku tidak peduli. Yang aku tahu aku ingin lebih mengenalmu, Hinata. Aku ingin bersamamu sebelum waktuku habis." Tersenyum tipis, Sasuke membawa genggaman tangan mereka ke jantungnya. "Mereka juga mengatakan sisa waktuku hanya tinggal enam bulan lagi."

Air mata semakin membasahi mutiara Hinata. "Ya," bisik Hinata kemudian, perlahan mengukir senyum haru. "Aku mau menikahmu denganmu, Sasuke."

Dan tangan Sasuke pun terasa semakin hangat di tangan Hinata, melebihi hangatnya matahari pagi.

.:.

THEEND

.:.

THANKS! :')