Naruto – Masashi Kishimoto
Elegi Tengah Malam – Kei Dysis
.
F/SC/AR, OOC, Typo, etc.
.
25/09/2016
Happy reading!
-:-
Alis Sasuke terangkat heran, dari jarak cukup jauh melihat satu sosok familier tengah duduk di atas atap apartemennya. Sambil tetap melompat melintasi bangunan-bangunan Konoha, ditengadahkannya kepala, mengikuti fokus kedua netra dari sosok bersurai panjang itu.
Bulan. Hyuuga Hinata sedang memandang bulan.
Seketika mata Sasuke mengelam. Tak mampu mencegah sengatan rasa nyeri semakin nyalang menyerang dadanya.
"Ini sudah tengah malam, kuingatkan kalau kau tidak sadar," ujar Sasuke ketika sudah mendaratkan kaki di dekat Hinata. Suara maskulinnya tak diwarnai emosi.
Hinata mendongakkan kepala, lalu berdiri menghadap Sasuke. Hanya lekuk lemah di bibir Hinata yang membalas perkataan sang Uchiha.
Helaan napas Sasuke terdengar pelan. Dengan punggung tangan kanannya, Sasuke membelai lembut pipi Hinata, selagi lanjut menggerutu tanpa intonasi, "Kau seharusnya istirahat. Kau baru saja pulang dari misimu tadi sore."
"Tidak bisa tidur." Hinata menggeleng kecil. Matanya terpejam. "Boleh aku menginap?"
Sasuke terdiam, bisa merasakan kesedihan bersembunyi di balik bisikan halus Hinata. "Bodoh," gumam Sasuke rendah, seiring jarak di antara keduanya terhapus. Bibir Sasuke menyentuh pelipis Hinata, sebelum akhirnya Sasuke menggendong gadis itu, dan membawa Hinata memasuki apartemennya.
Ketika sudah berada di dalam kamarnya, seperti kebiasaan Hinata saat menginap selama beberapa bulan mereka berhubungan, Sasuke pun melihat Hinata membuka lemari, menarik salah satu baju gelapnya, dan menggunakannya sebagai pakaian tidur.
Kebiasaan yang menjadi kesukaan sang Pimpinan ANBU Konoha. Sasuke suka melihat simbol Uchiha melekati punggung Hinata. Gadis yang juga akan menjadi seorang Uchiha suatu hari nanti.
Sementara mengganti pakaiannya sendiri, Sasuke memperhatikan Hinata yang merangkak di atas ranjang, membuka tirai jendela, lalu berbaring menghadap dinding.
Dan … tatapan lilac kembali ke sang bulan.
Pemandangan itu membuat kelam di mata Sasuke semakin nyata. Segera disusulnya Hinata, merebahkan tubuh di bawah selimut yang sama. Dagu kini bertumpu di puncak kepala Hinata. Lengan melingkari pinggang gadisnya. Sedangkan kedua jelaga Sasuke ikut mengamati bulan.
Menemani Hinata yang tengah merindukan Hyuuga Neji.
Lembut sekaligus sendu, lantunan lagu lantas terdengar dari bibir Hinata. Lantunan lagu yang sangat dikenal Sasuke. Lantunan lagu yang pertama kali didengar Sasuke setahun yang lalu secara diam-diam. Dari sosok yang sedang menyendiri di pinggir danau, sembari menatap bulan di tengah malam.
Lantunan lagu yang saat itu juga membuat … air mata Sasuke tanpa sadar meluruh dari balik topeng ANBU miliknya.
Sontak Sasuke mengeratkan pelukannya, bersamaan dengan wajahnya yang tenggelam di bahu Hinata. Tanpa melihatnya, Sasuke pun tahu, jika cairan bening telah mengaliri pipi gadis itu.
Hinata terus bernyanyi, kini dengan lima jemari yang mengusap lembut rambut hitam Sasuke. Hinata tetap bernyanyi, seolah ingin menghipnotis Sasuke untuk menumpahkan emosinya dalam bentuk air mata.
"Aku tahu," lirih Hinata kemudian, setelah lagu mencapai akhir. Napasnya gemetar. "Saat tadi melihat-lihat jurnal misiku, aku tahu kalau hari ini …." Hinata memutar tubuh hingga menghadap Sasuke yang bergeming. Kabut bening menjalar samar di sepasang oniks. "Hari ini … adalah tanggal kematian kakakmu."
Sasuke masih membisu kaku. Masih terdiam dengan ketegangan mutlak.
Lalu, dengan mata tertutup rapat, Sasuke menekan wajahnya kuat-kuat di leher Hinata. Tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan Hinata. Tak lagi mampu menahan sesak. Tak lagi sanggup menahan isak.
Keduanya menangis. Bersama-sama. Dan membentuk elegi di tengah malam.
.:.
THEEND
.:.
THANKS! :')
