Fakta bahwa Oh Sehun jadian dengan Luhan menarik perhatian banyak orang, mayoritas cewek. Meskipun demikian, Luhan senang-senang saja dan tahan-gosip selama beberapa minggu ke depannya. Dia dan Sehun selalu menghabiskan waktu selesai makan siang di tepi danau, ngomong tentang berbagai macam hal yang sedang terjadi di dunia sihir ditemani selusin puding coklat, semacam piknik. Biasanya, anak-anak mengintip lewat jendela koridor yang terbuka, cekikikan lalu pergi sambil berbisik-bisik seru. Semenjak jadian dengan cowok paling ditakuti se antero sekolah, dia jadi lebih disegani, baik oleh kakak kelas maupun adik kelas, namun dia tidak seberapa suka diperlakukan seperti itu. Dia tidak ingin menggunakan statusnya sebagai pacar Oh Sehun supaya dia dihormati.
"Kau seharusnya bangga jadi topik obrolan terpanas dua bulan ini!" kata Baekhyun saat sarapan, mencomoti Cokelat Kuali dan membaca Daily Prophet.
"Tapi aku tidak suka dipandangi terus-terusan kalau aku berada di koridor," kata Luhan. "Terus, gosip-gosip itu... aku sebenarnya masa bodo. Tapi, siapa sih, yang tahan digosipin terus-terusan?"
"Aku kadang kasihan dengan Sehun," mata Minseok menerawang. "Dosa apa dia, sampai-sampai bisa suka dengan cowok kebanyakan gula dan sangat tidak peka macam kau?"
"Sialan kau," Luhan memukul lengan Minseok main-main.
Namjoon dan Seokjin baru saja tiba di aula, membawa setumpuk buku tebal usang di tangan masing-masing. Namjoon langsung mengambil tempat di sebelah Taehyung, yang anehnya tampak lemas sekali seperti tidak makan sebulan.
"Hai, Luhan," kata Seokjin.
"Hai," balas Luhan, tersenyum aneh. "Untuk apa buku-buku itu? Memangnya ada ujian?"
"Oh, ya. Nanti kelas Ramuan ada ujian. Menyebalkan sekali Profesor Myungsoo itu... oh, hai Yoongi!"
Yoongi, yang duduk agak menyendiri sambil mengaduk-aduk sup kacang merahnya (Luhan tahu Yoongi masih berusaha untuk tidak memedulikan Jimin dan Jungkook), mendongak, kemudian tersenyum ramah. "Hai, Seokjin!" katanya riang.
"Kau ke pesta Natal malam ini?"
"Ya. Aku sudah janjian dengan Vladimir jam tujuh dan kami akan—"
"Kau pergi ke pesta dengannya? Dengan Vladimir Polkanov?" kata Seokjin kaget. Vladimir Polkanov adalah cowok pindahan Durmstrang yang masuk asrama Gryffindor. Setahu Luhan, dia adalah cowok yang meminta Jungkook menjelaskan sesuatu tentang Hogwarts saat pesta penyambutan. Wajahnya memang tampan sekali.
"Ya, aku pergi dengannya. Kami akan ke pesta sama-sama," kata Yoongi manis.
"Dia, kan, cakep banget!" kata Minseok takjub. "Terus, kalian jadian, begitu?"
"Tentu saja. Kau tidak tahu, ya?" kata Yoongi, dengan kikik yang sama sekali tidak-seperti-Yoongi. Baekhyun dan Minseok menggeleng memuja, sangat antusias dan bergairah mendengar gosip seru ini. "Kami baru saja jadian kemarin malam. Nah, maaf, aku harus pergi. Aku harus siap-siap ke pesta dansa..."
Yoongi pergi. Baekhyun, Jungkook, dan Minseok saling mendekatkan kepala untuk membicarakan perkembangan seru ini. Jimin, yang anehnya tampak hampa dan murung begitu mendengarnya, tidak berkata apa-apa. Luhan diam-diam melirik Sehun—yang seperti biasa makan agak jauh dari teman-temannya—dan wajahnya merona merah mengingat kejadian dua bulan lalu, saat di lapangan. Takut Baekhyun akan melihatnya curi-curi pandang dan menggodanya, lagi, Luhan menunduk menghadapi sup kaldu berasapnya.
Ujian praktek Ramuan kali ini bukan main sulitnya—mereka ditugasi membuat Amortentia, ramuan cinta paling manjur di dunia, dengan dosis tinggi. Seperti biasa, begitu masuk kelas, Profesor Myungsoo tanpa banyak omong langsung menyuruh anak-anak untuk menghadapi kuali masing-masing. Ramuan Baekhyun mengental dan berwarna lumut, berbau telur busuk, serta berbuih. Kuali Minseok dan Seokjin meledak, sehingga mereka kena detensi setelah pesta. Taehyung keliru memasukkan biji delima dengan telur ikan. Luhan gemetar memegang pengaduknya, dan baru bisa bernapas lega ketika ramuannya sudah berubah warna menjadi bening.
"Oh, kau sudah selesai, Min Yoongi?" Profesor Myungsoo menghampiri Yoongi, melihat ramuannya. "Bagus. Sempurna. Sekarang, kutanya padamu, apa ciri-ciri Amortentia?"
"Amortentia memiliki pendar seperti karang mutiara. Dan uapnya berbentuk spiral yang khas. Baunya pun berbeda-beda bagi masing-masing orang. Tergantung pada apa yang menarik perhatian kita," kata Yoongi mantap. "Contohnya, saya mencium bau perkamen, kue yang baru keluar dari pemanggang, karamel, dan... uh, kayu cendana."
Luhan menghirup aroma ramuannya. Dia mencium bau rerumputan segar, buku-buku; seperti yang ada di toko Flourish and Blotts, teh hijau, dan vanila. Profesor Myungsoo mengernyit jijik melihat ramuan Namjoon yang menyerupai obat batuk hitam kental. Ramuan Taehyung dilewatinya begitu saja. Setelah memberi nilai pada ramuan masing-masing anak, dia mendecak sebal. "Yang berhasil hanya Min Yoongi dan Luhan. Yang lainnya gagal dan temui aku begitu pesta selesai. Detensi seminggu kedengarannya bagus..."
Sore harinya, dua jam sebelum pesta dimulai, anak-anak Gryffindor kalang kabut mempersiapkan kostum mereka. Luhan kini berdiri di cermin, memakai jubah pesta yang sedikit kebesaran, tak lupa menyematkan cincin ibunya di jari manisnya. Parfum pilihan Bibi Sungmin tidaklah buruk, wanginya didominasi persik. Baekhyun rupanya sangat menyukai parfum ini, sehingga dia memakainya hingga isinya tinggal tiga perempat. Minseok sedari tadi komplain tentang rambut Luhan yang sudah mulai panjang se bawah telinga dan berantakan, meskipun tidak dihiraukan oleh yang punya rambut.
"Serius, deh, Lu, kalau kau pakai Ramuan Pelicin Rambut, mungkin sekarang kau akan kelihatan cantik seperti cewek," kata Baekhyun geli. Dia lalu melanjutkan kegiatannya menyapukan bedak dingin ke seluruh muka.
"Baek, Luhan memang cantik seperti cewek," timpal Minseok yang sedang menyisir rambut.
"Oh iya, aku lupa."
Luhan memandangi dirinya di cermin sekali lagi; Baekhyun benar, tampilannya sekarang seperti seorang cewek yang sedang memakai jubah laki-laki dan berambut pendek. Mendengus, dia menyemprotkan parfum wangi persik itu sekali lagi ke jubahnya, menghela napas pelan dan turun ke ruang rekreasi, yang tampak aneh karena penuh dengan anak-anak yang memakai jubah aneka warna alih-alih hitam. Ruangan sunyi sebentar begitu Luhan muncul, semuanya memandanginya. Dia sudah terbiasa, jadi dia melenggang santai menuju koridor tanpa menghiraukan tatapan-tatapan aneh yang dilontarkan kepadanya.
Aula Depan juga penuh anak-anak, semuanya menunggu datangnya pukul tujuh, saat pintu Aula Depan akan dibuka. Luhan berpapasan dengan Zitao, dan dia sama sekali tidak heran melihat Zitao mencemoohnya, soalnya di pertandingan kemarin, Luhan tak sengaja menabraknya sampai mau jatuh. Dia menganga ketika seorang pemuda kelebihan kalsium melingkarkan tangannya di pinggang Zitao; Wu Yifan, anak Slytherin yang amat congkak, sombong hanya karena keluarganya keturunan darah-Murni, sekaligus Seeker tim Quidditch Slytherin. Tetapi sebelum dia bisa berkata apa-apa, seseorang menepuk pundaknya lembut.
"Halo," kata Sehun canggung. Luhan menganga lagi. Sehun tampan sekali meskipun pada dasarnya, jubah pestanya biasa saja. Rambutnya hitam, bukan pirang seperti dulu, disisir rapi ke belakang menggunakan Ramuan Pelicin Rambut. Bekas lukanya sudah sedikit memudar, pengecualian untuk lebam yang di pelipis. "Uh... apa kabar?"
"B-baik," kata Luhan, dalam hati mengutuk kegugupannya. Kenapa wajahnya harus memerah sekarang? Kenapa? "Bagaimana kabarmu?"
"Tak pernah lebih baik."
Dan Luhan tak pernah merasa segugup dan secanggung ini berbicara dengan pacarnya. Mungkin karena mereka terbiasa mengobrol di dekat danau, yang tenang dan tak ada gangguan, itu pun jarak tempat duduk mereka satu meter. Semua anak memandangi mereka, berbisik-bisik dan terkikik. Luhan sangat ingin kembali ke ruang rekreasi sekarang, membaca buku atau sekadar mengerjakan PR, setidaknya melakuan sesuatu yang benar-benar bermanfaat, tetapi sayangnya dia tidak ada PR dan sudah terlanjur bertemu dengan Sehun. Baekhyun berjalan di depannya, mengedip cepat, dan buru-buru menghampiri pasangannya, Park Chanyeol, yang dijuluki 'Si Ganteng Telinga Peri' oleh hampir semua orang.
Jam tujuh tepat, pintu Aula Besar dibuka, dan Sehun langsung menggandeng Luhan masuk. Dinding aula dilapisi es tipis berkilauan, dengan seratus untaian mistletoe dan sulur yang bersilang-silang di bawah langit-langit hitam berbintang. Meja-meja asrama diganti dengan puluhan meja bundar kecil berlilin menyala, masing-masing dikitari selusin anak. Dan yang paling mengejutkan Luhan adalah para pelayannya; tidak mungkin Veela mau menjadi pelayan. Veela adalah perempuan paling cantik yang tak mungkin manusia. Ada juga yang laki-laki, tetapi mereka amatlah langka, dan di sini terdapat sekitar selusin Veela laki-laki. Mereka tampan, luar biasa tampan, sehingga sama sekali tak mungkin mereka mau diperintah sebagai pelayan.
"Mari duduk," kata Sehun, menarik kursi di salah satu meja. Begitu mereka duduk, alunan musik akustik menenangkan terdengar, dan ratusan anak berdiri untuk berdansa. Lilin di meja-meja lain sudah padam, menciptakan suasana temaram menentramkan jiwa.
"Aduh, jangan sekarang dong, dansanya. Masih capek nih," keluh Sehun. "Oh, ya, makasih," dia menambahkan kepada Veela laki-laki yang datang membawa senampan bolu cokelat, sebotol Butterbeer, dan dua piala kaca.
"Coba saja tidak ada salju. Aku ingin main ke pinggir danau," dengus Luhan, mencomot sepotong bolu dan mengunyahnya dengan kesal. Di sebelahnya, ada Jimin dan Jungkook sedang bercakap-cakap tentang Naga Ekor-Berduri Hungaria, lalu Yoongi dan Vladimir datang memasuki aula. Minseok tampak canggung sekali saat berdansa waltz dengan pasangannya, Kim Jongdae, ketua klub Choir Katak. Anak-anak bertepuk tangan meriah ketika Profesor Yunho dan Profesor Jaejoong turun ke lantai dansa.
"Menurutmu, apakah hitam cocok denganku? Apakah ini membuatku tampak tak sehat?" tanya Sehun sambil mengelus surai barunya.
"Er..." Luhan kebingungan. Cocok, sih, tapi kau jadi kelihatan lebih pucat.
"Ya, memang," Sehun memutuskan. Dia memejamkan mata dengan ekspresi tegang seakan berjuang mengingat sesuatu. Sedetik kemudian, rambutnya berubah warna menjadi coklat terang. Luhan melongo.
"B-bagaimana—"
"Aku Metamorphmagus. Aneh ya, padahal aku kelahiran-Muggle," Sehun tertawa. Melihat wajah bingung Luhan, dia berdehem. "Itu berarti aku bisa mengubah penampilanku kapan saja. Kata Ibu, waktu aku baru lahir, rambutku warna hijau. Dan semenit setelahnya, rambutku jadi warna oranye."
"Cool banget!"
"Apakah aku bisa menjadi Metomarmangus juga? Dengan belajar, mungkin?" tanya Luhan antusias. "Aku ingin merubah warna rambutku jadi ungu muda. Kayaknya bagus."
"Metamorphmagus dilahirkan demikian, bukan karena belajar. Kalau pun bisa, itu akan sulit sekali," jawab Sehun. "Rambutku jadi ungu cerah kalau aku sedang sangat amat senang sekali. Dansa, yuk?"
"Oh, ya. Oke."
"Wah, teman dansamu cakep ya, Sehun." cemooh cowok Slytherin berkulit agak gelap dan nyaris setinggi Yifan. Luhan kenal siapa anak ini; Kim Mingyu, anggota geng Yifan ("Seventeen"), ikut berpartisipasi dalam acara ayo-kita-robek-jubah-Quidditch-Luhan. Mingyu memberinya tatapan dan senyuman sangat mencemooh, sementara Jeon Wonwoo—teman dansa Mingyu—hanya menatap mereka jijik. "Luhan! Jubah pestamu bagus sekali. Apakah kau jatuh miskin setelah membelinya?"
"Jaga mulutmu, Mingyu," ucap Sehun dingin. Luhan bisa melihatnya mencengkram tongkat sihirnya. "Apa kau mau bernasib sama dengan anak-anak yang kupukuli tahun lalu?"
"Kau akan dikeluarkan. Kau akan kembali ke rumahmu bersama ayahmu yang Muggle itu," kata Mingyu mengejek.
"Jangan hina ayahku."
"Jangan merusak suasana, deh," kata Luhan jengah. "Kim Mingyu, kalau kau sudah selesai ngoceh, pergi dari sini."
Mingyu tertawa bersama Wonwoo, melenggang angkuh menjauhi mereka. Sehun benar-benar marah sampai rambutnya berubah jadi merah-oranye, kemudian begitu dia tenang, rambutnya berubah cokelat terang lagi. Luhan mengusap lengannya lembut, "jangan pedulikan mereka. Ayo, kita dansa. Pelan-pelan, ya, aku enggak seberapa bisa dansa, soalnya."
Saking gugupnya, atau karena lapar, Luhan bergetar dan terserimpet jubahnya ketika berdiri. Musik sudah berganti dengan alunan musik klasik bernada merana, agak mirip dengan The Swan Lake yang biasa diputar Bibi Sungmin saat makan malam. Sehun menyambar kedua tangan Luhan, satu diletakkan di pundaknya, dan satunya lagi digenggamnya erat-erat. Mereka berdansa pelan mengikuti irama musik. Luhan dua kali menginjak kaki Sehun, dan Sehun dua kali menabrak pasangan Hufflepuff di sebelah mereka.
Ada mistletoe bergerak ke bawah, daun-daunnya mengepak-ngepak macam saya burung, namun begitu lemah. Luhan menengadah memandangnya, buahnya berwarna merah, cocok untuk acara Natal. Sehun tersenyum kecil, menempelkan dahinya ke dahi Luhan, berkata lirih. "Aku mencintaimu."
"Aku... juga mencintaimu."
"Kau tahu? Aku pernah membaca tentang mistletoe di buku lama ibuku," kata Sehun. "Mistletoe... pernyataan cinta... dan juga—"
Sehun mencondongkan wajahnya ke depan, sehingga hidung mereka mulai bersentuhan. Luhan bisa melihat jelas semua luka-lukanya; di pelipis dan rahang yang paling parah, biru keunguan, tetapi lepas dari itu semua, Sehun tampak tampan. Dia meneguk ludah, cengkramannya menguat karena gugup. Dan sedetik kemudian, bibir mereka bersentuhan, dan kaki Luhan semakin melemas, kali ini tidak terburu-buru, lembut, tidak memaksa. Membahagiakan, menyenangkan, lebih menyenangkan daripada saat dia memenangkan pertandingan. Sehun satu-satunya hal nyata di dunia ini, hangat, wanginya lembut, vanila, persis seperti yang dihirupnya di kelas Ramuan—
Musik berhenti dan anak-anak bertepuk tangan keras. Mereka terlonjak menjauh, lilin-lilin menyala lagi, dan aula tak lagi gelap, wajah Luhan merona sampai ke leher. Dahi mereka masih menempel, dan sekilas pandang, dia melihat telinga Sehun memerah. The Weird Sisters sekarang memegang gitar dan drum, kemudian memainkan lagu bergenre rock. Semuanya mengerubungi panggung, melompat-lompat mengikuti irama lagu. Sehun pamit untuk ambil minum, sedangkan Luhan berjalan kembali ke meja, dan duduk di sebelah Minseok yang sedang mengipasi tubuhnya dengan tangan.
"Mana Jongdae?"
"Diamlah!" desis Minseok. "Aku kabur darinya. Aku malu, aku sama sekali gak bisa dansa."
"Lalu kenapa kau mengiyakan ajakannya?" tanya Luhan.
"Ck, lupakan. Aku pergi dulu," dan Minseok menghilang di balik kerumunan.
Sehun datang beberapa menit kemudian sambil membawa dua piala berisi Butterbeer. Luhan mengambil satu dan langsung meneguknya hingga habis. "Aku capek sekali. Bagaimana kalau kita balik duluan saja?"
"Ide bagus," Sehun tersenyum. "Aku ingin belajar. Besok Ramalan ada ujian."
"Kalau begitu, selamat malam. Terima kasih untuk dansanya," kata Luhan. "Bisakah kita... dansa lagi? Kapan-kapan? Kalau ada waktu?"
Sehun tertawa. "Selalu ada waktu jika itu untukmu."
Luhan tersipu malu. "Ah, kau ini. Ya sudah, selamat malam, ya. Tidur yang nyenyak. Mimpi indah."
"Aku selalu memimpikanmu, berarti aku selalu mimpi indah."
"Aish. Jangan menggodaku."
"Aku bicara fakta, sayang."
"Sudah, sudah! Sejak kapan kau jago gombal, hah? Kukira kau cuma pintar di pelajaran saja, ternyata kau juga pintar menggoda orang!"
"Aku menggoda pacarku, bukan seseorang bernama Orang."
"Gombalanmu garing sekali."
"Tapi kenapa pipimu merah padam, sayangku?"
"Oh, sudah—YAK! Kenapa kau mencium pipiku? OH SEHUN, KEMARI KAU! DASAR COWOK GANT—COWOK JAIL! MESUM!"
Dan semua orang di Aula Besar tertawa melihat dua sejoli itu kejar-kejaran mengitari ruangan; Luhan dengan wajah merah padam serta sepatu di tangan, dan Sehun yang tertawa-tawa tak jelas dengan rambutnya yang semakin berubah menjadi warna ungu cerah.
"OH SEHUUUN...! KEMARI KAAAU...!"
"TANGKAP AKU KALAU BISA, SAYANG! AKU MENCINTAIMUUU... SELALUUU..."
"AKU JUGA MENCIN—AH, MAKSUDKU, KEMARI KAU! DASAR COWOK MESUM!"
end.
luhan mendadak jadi tsundere, sehun mendadak jadi ceria.
kesambet apakah mereka?
saia juga tydak tau.
haha.
bye.
