Naruto – Masashi Kishimoto

Happy Birthday, Lav – Kei Dysis

.

AU, OOC, Typo, etc.

.

27/12/2016

Happy reading!

-:-

Pendar kengerian terbit di bola lavender Hinata yang melebar. Jantung seolah berhenti berdetak. Oksigen seolah berhenti beredar.

Hinata membuka mulut, namun ia tidak bisa berbicara. Ia tidak bisa bergerak. Dan telinga Hinata kini tidak bisa mendengar apa-apa, selain ... suara desingan peluru. Satu peluru yang dengan cepat menembus tubuh seorang pria bersurai hitam.

"Sasuke," bibir Hinata kini hanya mampu berbisik lemah. Kepala menggeleng tak percaya. Tanpa sepenuhnya sadar, Hinata mengangkat tangannya yang bergetar ringan, membidik sang penembak dengan pistolnya sendiri. Namun ketidakfokusan dan ketakutan membuat tembakan Hinata meleset, membuang sia-sia satu peluru yang tersisa di dalam pistolnya.

Sumpah serapah keluar dari mulut Hinata, ketika kemudian melihat sang penembak telah melarikan diri ke dalam hutan, hingga menghilang dari pandangan matanya. Setelah hanya bisa terpaku, Hinata akhirnya berhasil menggerakkan kakinya lagi, dan segera berlari melintasi tubuh-tubuh musuh yang bergelimpangan di sekelilingnya.

"Sasuke," panggil Hinata saat sampai di sisi partner-nya yang tergeletak di atas aspal jalanan. Dilepasnya jas, lantas menggulung dan menekan benda itu ke bagian tubuh yang berdarah. "Sialan! Uchiha Sasuke, bangunlah! Kau tidak apa-apa, kan?"

Dua kelopak terbuka lambat, menampakkan manik jelaga pekat. Seringai tipis terukir di bibir yang meringis. "Ah, akhirnya aku bisa juga mendengar kau memanggil nama asliku."

Hinata menggeram rendah. "Aku serius, Nyx! Kenapa kau membiarkan dirimu tertembak, huh? Kenapa kau tiba-tiba lengah?"

Hanya senyum lemah yang membalas, beriringan dengan iris kelam yang perlahan-lahan kembali terpejam. Kembali bersembunyi di balik kulit.

Napas Hinata seketika tercekat. Sengatan rasa takut semakin memanaskan netranya. Direngkuhnya Sasuke, lalu mengguncang pundak pria itu. "Sasuke! Brengsek, jangan mati! Jangan tinggalkan aku!" Hinata menggeleng kencang. Air mata mengalir deras. "Kau tidak boleh mati! Tidak saat ..."

Ucapan Hinata terhenti, tepat ketika sebentuk suara terdengar dari pergelangan tangan kanan Sasuke. Dari jam yang menunjukkan ... pukul 12.00 malam.

Hinata membeku kaku. Cairan bening ikut berhenti meleleh. Dikedipkannya mata, memandang terperangah pada sepasang oniks yang bersinar lembut. Pada sepasang bibir yang menyeringai kecil.

"Yak! Cukup sudah!"

Tersentak, Hinata spontan menoleh, dan keterkejutan pun semakin nyata terlukis di wajahnya. Ada dua makhluk bersurai merah tengah melangkah mendekat. "I-Ivy? Ald? Ba-bagaimana—"

"Maaf, Hinata, karena sudah menjadi bagian dari rencana ini," ungkap Saara dengan senyum bersalah. Dua telapak tangan menyatu di depan dada. Lalu tatapan tajam Saara bersarang pada Sasuke. "Dan, Nyx, kau berhutang padaku dan Gaara. Karena ide sialanmu ini, Hinata hampir saja menembak Gaara tadi."

"Setidaknya kalian beruntung, musuh-musuh di misi kali ini tidak terlalu sulit untuk ditangani. Kalau tidak, mungkin rencanamu akan gagal, Uchiha," ujar Gaara ringan, sembari melempar topeng samarannya ke atas salah satu tubuh musuh yang tak sadarkan diri.

Tanpa menyuarakan tanggapan, Sasuke hanya memutar bola mata. Lantas pusat perhatian Sasuke kembali terpancang pada Hinata yang menegang.

Setelah hanya bisa bergeming dalam ketertegunan hebat, Hinata berhasil mengerjap kaku. Dua kali. Lalu ditundukkannya kepala, memandang Sasuke yang masih berada dalam pelukannya. Tak ada cahaya di manik mutiara, saat Hinata kemudian menekan ujung pistolnya tepat di kening Sasuke. "Kalau suatu saat nanti kau benar-benar melakukannya, aku tidak hanya akan membunuh yang menembakmu, Nyx, tapi aku juga akan membuat nyawamu melayang dengan tanganku sendiri. Berkali-kali."

Ujung mulut Sasuke melekuk tipis. Fokus obsidian lekat tertuju pada lavender. "Aku tahu. Karena aku juga akan melakukan hal yang sama padamu," timpal Sasuke dalam gumaman dingin. Ibu jari menyeka air mata Hinata.

Hinata mendengus rendah. Dijauhkannya pistol dari kening Sasuke. "Dan aku tidak mengharapkan yang sebaliknya darimu."

Kekehan Sasuke terlontar samar dan pendek. "Well." Sasuke menangkup leher Hinata dengan satu tangan, lalu berbisik rendah di bibir mungil, "Happy birthday, Lav."

.:.

THEEND

.:.

THANKS! :)