Naruto – Masashi Kishimoto
Fiksi – Kei Dysis
.
AU, OOC, Typo, etc.
.
09/06/2017
Happy reading!
-:-
Sasuke mendesah pelan. Satu telapak tangan memijat leher belakang dengan gerakan ringan. Berkas-berkas hasil rapat telah ia letakkan di atas meja, di samping layar laptop yang menyala.
Sambil menahan kantuk, Sasuke menyandarkan punggung di kursi kerjanya. Lalu pintu di hadapan Sasuke perlahan terbuka.
Sejenak, Sasuke hanya terdiam. Hanya memperhatikan Hinata yang tersenyum, dengan bola mutiara yang mengelam. "Sudah selesai?" tanya Sasuke, sementara mematikan laptop.
"Hmm," Hinata bergumam riang. Buku tangan memutih kala menggenggam gagang pintu erat-erat.
Sasuke bangkit dari kursi, lantas melangkah setelah mengambil cangkir kopinya dari atas meja. Tanpa berkata apa-apa, Sasuke melingkari pinggang Hinata dengan tangannya yang bebas.
Hinata menutup pintu, lalu berbisik, "Bisa kita tidur di dekat perapian?"
.
-:-
.
Sambil berbaring di tumpukan selimut tebal, Sasuke menunggu kedatangan Hinata yang tengah mengambil selimut lain untuk mereka berdua. Sudut mata Sasuke lantas tertuju pada satu benda di atas nakas dekat sofa, namun segera diabaikannya. Obsidian Sasuke kini terpancang pada Hinata.
Setelah menebarkan selimut di atas tubuh Sasuke, Hinata kemudian ikut menyelusup ke bawah selimut. Lengannya melingkar erat di tubuh tunangannya itu.
"Tidak biasanya kau jadi baik," gumam Sasuke seraya membalas pelukan Hinata. "Dan manja."
"Shut up," Hinata hanya berdesis pendek di leher Sasuke.
Sasuke tersenyum tipis, sekilas mencium kening Hinata yang tertutupi poni. Lantas dipandanginya perapian yang menyala hangat, membiarkan keheningan ikut menyelubungi mereka berdua.
Namun tiba-tiba saja Sasuke merasakan sesuatu. Sesuatu yang membasahi kulit lehernya. "Oke. Sialan. Kenapa kau menangis?" tanya Sasuke sembari berniat mengurai pelukannya, tetapi justru ditahan oleh Hinata.
"Jangan pergi!" Hinata berujar dengan suara parau. Memohon. Jenis suara yang sangat jarang didengar Sasuke.
Sasuke sontak kembali mendekap Hinata. Lebih erat. "Sshh. Aku di sini, Hinata, Sunny Place. Aku tidak pergi ke mana-mana." Lembut, diusap-usapnya punggung Hinata. "Apa ini ada hubungannya dengan kenapa kau bertindak aneh saat di ruang kerjaku tadi?" tanya Sasuke rendah.
"Dia mati," Hinata berucap lirih. "Galen mati."
Alis Sasuke terangkat bingung. "Apa maksudmu?"
"Galen mati karena kecelakaan pesawat," Hinata terisak kecil, "dan meninggalkan Alana sendiri."
Seketika Sasuke tertegun. "Jadi... ini semua karena novel? Karena cerita fiksi?"
"Aku tidak akan seperti ini kalau Galen bukan seorang arsitek dan Alana bukan seorang penulis novel, Bodoh," Hinata menyahut hampa. "Aku nyaris saja melempar novel itu ke perapian."
Dan sekali lagi Sasuke dibuat membisu beberapa saat. Sasuke menghela napas, kemudian kembali berusaha melepas pelukan Hinata, ingin menatap Hinata-nya.
Hinata menyerah, namun ditutupnya netra. Menolak bertemu pandang dengan Sasuke.
Sasuke menangkup wajah Hinata, menyeka air mata yang membasahinya. Dengan hati-hati, lantas dikecupnya kelopak mata Hinata sembari berkata lembut namun tegas, "Hinata, itu hanya cerita fiksi. Tidak nyata. Dan aku tidak akan pergi ke mana-mana, Sayang, jika kau tidak ikut bersamaku."
"Aku tahu, tapi—" Hinata membuka mata. Kengerian berpendar kelam di sepasang bulan. "Jangan pergi tanpaku. Setelah di Dublin dan Kinsale, aku akan ikut ke mana pun kau pergi. Jadi jika akhirnya nanti kau merasa bosan padaku—"
"Sialan! Aku tidak akan pernah merasa bosan padamu!" Sasuke menggeram rendah seraya menekan keningnya di kening berponi Hinata. "Dari mana kau mendapat pemikiran seperti itu, hah?"
Bibir Hinata bergetar ringan. "Ma-Maaf. Aku hanya—" Hinata menggeleng lemah, lalu menyentuh wajah Sasuke dengan lima jemari, dan membawa bibir mereka bertemu. "Maaf," bisik Hinata di bibir Sasuke.
"Jangan menangis lagi." Sasuke merengkuh Hinata. "Kita bukan mereka, Sunny Place."
.:.
THEEND
.:.
THANKS! :')
