Naruto – Masashi Kishimoto

4 O'Clock – Kei Dysis

.

F/SC/AR, OOC, Typo, etc.

.

09/06/2017

Happy reading!

-:-

Sepasang kakinya mendarat halus di permukaan taman. Tanpa suara. Langkahnya kemudian tertuju pada sebuah bangku panjang.

Ia duduk. Terdiam.

Lalu satu tangan merogoh saku jaket, meraih sebuah lilin ungu. Diletakkannya lilin itu di atas bangku. Dalam sedetik, cahaya berpendar ke sekeliling tempatnya berada, seiring aroma lavender ikut merebak harum.

Dan... sekali lagi ia bergeming, ketika nyala lilin menerangi kedua pergelangan tangannya. Membuat sesuatu yang terukir kian jelas terlihat oleh sepasang manik pucat.

Hyuuga Hinata tersenyum nanar.

Setelah menarik napas panjang, Hinata mengangkat kaki ke atas bangku, memilih duduk menghadap lilin. Tangan memeluk lutut. Dagu bertumpu di ujungnya.

Tanpa melepas pandangan dari binar indah sang lilin lavender, Hinata merogoh saku jaketnya yang lain. Selembar kertas yang masih terlipat-lipat kini ada di genggaman tangan mungil.

Genggaman itu lantas mengerat, bersamaan dengan kabut bening mulai menjalari dua mutiara. Seketika kepala Hinata tengadah. Mata tertutup rapat.

Ia tak ingin menangis lagi. Seperti saat tengah malam tadi.

Bukankah seharusnya ia merasa bahagia?

Suara burung tiba-tiba terdengar. Suara yang familier.

Sembari membuka netra, Hinata menoleh cepat ke sumber suara, dan bertemu pandang dengan seekor burung gagak yang bertengger di dahan pohon.

Hinata berkedip lambat. Jantung berdetak cepat. Burung itu terbang ke arahnya, lalu mendarat di bahunya.

Suara lain terdengar. Suara langkah kaki. Kian dekat.

Hinata menegang. Kepala berputar kaku.

Dari ujung jalan taman yang bercahaya redup, satu sosok muncul.

Terdiam kelu, Hinata hanya menatap termangu kedatangan sosok itu. Langkah demi selangkah.

Hingga akhirnya Uchiha Sasuke berdiri di hadapannya. Sang gagak menghilang.

"Kenapa kau ada di sini? Lupa lagi dengan waktu, huh?"

Hinata mengerjap kaget oleh suara dingin itu. Sontak ia bangkit dari bangku, berdiri sambil menundukkan kepala. Kedua tangan bersembunyi di balik punggung.

"A-aku—" Hinata menggigit bibir bawah, menahan tangis. "Kau sendiri kenapa ada di sini? Bukankah kau seharusnya masih menjalani misi?"

"Aku sudah pulang sejak kemarin sore," jawab Sasuke datar. "Aku hanya tidak sempat mengabarimu."

Hinata menutup netra. Gemetar ringan kembali menyerangnya. "Ah, begitu."

"Apa kau sebegitu kecewanya sampai kau menangis seperti itu?"

Sambil terisak menahan sesak, Hinata menutup mulutnya dengan punggung tangan kanan. Lalu pertanyaan Sasuke benar-benar merasuki otaknya. Hinata mengangkat kepala. "A-apa maksudmu?"

"Kau tahu benar maksudku," desis Sasuke tajam.

Hinata menggeleng-geleng kencang. Tangan terjatuh lunglai. "Aku sungguh tidak mengerti, Sasuke."

Dengan mata berkilat berang, Sasuke meraih kedua tangan Hinata. "Karena ini, karena namaku yang justru muncul di pergelangan tanganmu tengah malam tadi. Bukan nama yang seperti kauharapkan."

Hinata bergeming terperangah. Bibirnya sejenak terbuka, lalu tertutup rapat. Ditariknya napas dalam, sebelum kemudian bertanya pedih, "Bukankah kau sendiri yang merasa kecewa? Karena itu kau tidak langsung mengatakannya padaku, saat kau akhirnya berumur 16 tahun beberapa bulan yang lalu."

Sesaat Sasuke hanya membisu. Sinar oniks meredup. "Aku tidak mengatakannya padamu, menyembunyikannya darimu, karena aku tahu kau akan kecewa, karena aku tahu bukan aku yang kauinginkan, bukan sahabatmu ini," sahut Sasuke dingin.

"Tidak." Hinata menggeleng lemah, berusaha melepas genggaman tangan Sasuke. "Kau tidak tahu."

Sasuke tertegun, saat akhirnya tak lagi menggenggam tangan Hinata. Alih-alih, kini dalam genggaman tangan Sasuke telah ada secarik kertas usang, terlipat-lipat dan tampak kusut.

Segera Sasuke membuka kertas itu, membacanya, dan... membeku terpana. Kertas itu bertuliskan delapan kalimat yang hampir sama, hanya ada sedikit perbedaan di beberapa kata, dan ditulis pada masa yang berlainan. Mata jelaga Sasuke terpaku pada kalimat terakhir.

Kami-sama, Hyuuga Hinata yang sudah berumur 15 tahun ini, berharap Uchiha Sasuke akan menjadi Meito-nya setahun lagi.

"Bodoh," ucap Sasuke rendah. Dibawanya Hinata ke dalam pelukan.

Hinata menangis haru. "Kau juga bodoh."

.:.

THEEND

.:.

THANKS! :')