II

It's Called Life

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Typo, gaje, crack pair, dll

VERSI REVISI (tanda baca hilang hahahahaha)

makasih yang telah mengingatkan :*

Tolong diingatkan lagi :D

.

.

Hinata terbangun saat jam di atas nakas menunjukkan pukul 09.00 pagi. Dia melihat Sasuke masih tertidur memunggungi dirinya. Hinata mengendap-endap ke kamar mandi, berusaha tidak membangunkan Sasuke.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Sasuke membuka matanya. Dia masih enggan untuk beranjak keluar dari selimut yang membungkus dirinya. Pandangan Sasuke tertuju pintu kamar mandi. Pikirannya tertuju pada sosok yang berada dibalik pintu itu. Dia mengusap wajahnya dan menghela nafas. Masih segar diingatannya bagaimana dia lepas kendali terhadap Hinata tadi malam.

Sasuke turun dari ranjang dan memakai pakaiannya. Berjalan menuju meja di dekat balkon. Dia meraih botol wine yang tinggal setengah, sisa semalam. Menuang dalam gelas berkaki panjang, sedikit demi sedikit menyesap rasa wine itu.

Sasuke menyingkap gorden balkon, matanya menerawang pemandangan dibalik kaca. Beberapa anak buahnya mengerubungi Kiba, ekspresi mereka serius. Kiba sesekali mengangguk.

Kembali dia menuang wine dalam gelas. Matanya masih melihat kegiatan di bawah, sementara pendengarannya tertuju bunyi shower di kamar mandi.

Sasuke melirik jam, sudah hampir satu jam Hinata di kamar mandi. 'Jangan-jangan dia pingsan di dalam,' batin Sasuke. Dia meletakkan gelas dan botol wine.

"Buka pintunya," suara Sasuke disertai gedoran di pintu.

"Buka pintunya atau aku dobrak," gedoran semakin keras.

Cklek

Hinata tampak sudah payah melilitkan handuk di tubuhnya. Menjepit ujung kaitan handuk diantara dada dan dagunya. Sementara itu, tangan kanannya membuka pintu.

"M-maaf, saya kesulitan memakai tangan kiri saya," ucap Hinata sambil memegang handuk ditubuhnya begitu pintu terbuka sempurna.

Sasuke melihat kearah tangan kiri Hinata yang terlihat kaku dan membengkak. Perban yang membalut jari Hinata berwarna merah diujungnya, kembali berdarah. Sasuke menuju lemari besar yang berada disudut kamar. Dengan isyarat tangan, Sasuke menyuruh Hinata mengikutinya.

Hinata memperhatikan Sasuke yang sibuk mencari-cari entah apa di lemari. Dia tidak berani bertanya, hanya sekedar menyimpulkan bahwa Sasuke mencari pakaian untuknya.

Tanpa basa-basi Sasuke membuka lilitan handuk Hinata, dia sudah menemukan pakaian yang cocok untuk Hinata, yukata berwarna biru langit.

"Singkirkan tanganmu!"

Hinata menurunkan tangannya yang berusaha menutupi dadanya. Wajah Hinata memanas karena malu harus berhadapan dengan Sasuke dengan penampilan seperti itu.

"Berputar."

Hinata mengikuti perintah Sasuke, dia berputar membelakangi Sasuke. Sasuke mulai memakaikan yukata ke Hinata. Hinata menunduk tidak berani menatap Sasuke yang kini berada didepannya merapikan yukata dan obi bagian depan.

"Jangan pernah menampilkan wajah malu-malu didepan orang lain. Sasuke berkata dengan wajah datar.

"I-itu, diluar k-keinginan saya...s-saya-," Sasuke mengangkat telunjuknya menempelkan ke bibir Hinata.

"Jangan tergagap."

"Baik." Hinata menghela nafas begitu Sasuke selesai dengan yukata.

...

Hinata menuruni tangga menuju lantai satu. Sasuke menyuruhnya turun lebih dulu. Di meja besar sebelah pantry, semua orang berkumpul. Meja besar yang dikelilingi 10 kursi itu, baru terisi tujuh orang. Semua berpakaian rapi lengkap dengan jas dan semua bergender laki-laki. Hinata bersyukur Sasuke memilihkannya yukata, setidaknya pakaiannya masih bisa resmi.

Hinata berjalan pelan, mencoba melihat wajah-wajah asing. Beberapa wajah sudah dikenal Hinata, walaupun belum tahu nama masing-masing. Begitu mencapai tangga terbawah, semua orang disitu memalingkan muka ke arah Hinata.

Seorang dengan rambut dikuncir tinggi memperkenalkan diri dengan nama Nara Shikamaru. Dia memperkenalkan semua anggota yang berada disitu. Aburame Shino, Inuzuka Kiba, Juugo, Sai, Suigetsu dan Choji.

"Bagaimana lukamu, Hinata-chan?" Sai dengan senyum andalannya. Dia bertanya seolah bukan dia eksekutor yubitsume.

"Lumayan," Hinata tersenyum sambil berusaha menggerakkan tangan kirinya, masih sakit. Imbuhnya.

"Maaf ya, perintah Sasuke mutlak."

Hinata menggeleng, dia mengerti dan tidak menyalahkan Sai. Kesetiaan dan perintah adalah hal yang tidak terbantahkan. Setidaknya dia merasa beruntung terdampar di tempat ini dari pada harus kembali ke hidupnya yang dahulu.

Suasana berubah santai, bahkan Kiba, Choji dan Suigetsu membuat lelucon-lelucon yang membuat semua orang tertawa. Shikamaru hanya menggelengkan kepala melihat tingkah gila rekan-rekannya.

Shikamaru tiba-tiba berceletuk, "Tradisi disini, anggota baru harus menuang sake kepada semua senior."

Hinata mengalihkan pandangan ke Shikamaru, pria itu masih sibuk menyesap rokok disela bibirnya. Jumlah yang disini 8 orang termasuk Sasuke. Berarti 8 cawan sake yang harus Hinata minum juga. 'Mungkin tidak apa-apa hanya 8 cawan,' batin Hinata.

"Diluar masih ada sekitar 20 orang," ucap Shikamaru, seakan mengerti yang dipikirkan Hinata.

"A-apa? Saya harus minum sebanyak itu?", Hinata meneguk ludahnya.

Shikamaru mengangguk dan memberikan perintah ke Juugo untuk menyiapkan sake. Sebelumnya Hinata belum pernah meminum minuman beralkohol.

Juugo datang dengan nampan berisi 2 botol sake dan 2 cawan. Dia meletakkan di hadapan Hinata. "Silahkan, Hinata-chan."

"Terima kasih Juugo."

"Kita mulai," Shikamaru menghisap dalam rokoknya dan menghembuskan asapnya, kemudian mematikan sisa rokok yang masih setengah itu ke asbak.

Giliran pertama yang mendapat tuangan sake adalah Shikamaru. Shikamaru meraih cawan yang sudah dituangi sake oleh Hinata. Dia memperhatikan Hinata berkali-kali meneguk ludahnya. Ketara sekali ini baru pertama kali meminum sake.

Dengan sekali teguk sake dicawan Shikamaru tandas. Hinata dengan gerakan pelan-pelan, menempelkan bibirnya ke mulut cawan. Baru sedikit sake yang masuk ke tenggorokannya, Hinata sudah terbatuk-batuk. 'Rasanya aneh , ucap Hinata dalam hati. Walau begitu Hinata tetap menandaskan isi cawannya dan melanjutkan ke orang selanjutnya, Kiba.

Sama seperti Shikamaru, Kiba mengosongkan cawan sake dengan sekali gerakan. Hinata mencoba mengikuti Kiba, namun begitu sake meluncur ke tenggorokannya, lagi-lagi Hinata terbatuk. Wajah Hinata memerah dan sedikit membungkuk menahan agar tidak terbatuk lagi. Bertahanlah, Hinata menegakkan badannya. Kembali menuang botol sake ke cawan ketiga, giliran Sai.

"Kau tidak apa-apa, Hinata-chan?" Sai tersenyum menerima cawan dari Hinata.

Hinata menggeleng dan melanjutkan kegiliran selanjutnya. Tepat setelah cawan kelima, Hinata berlari ke wastafel, memuntahkan semua isi perutnya.

Sakura yang baru datang, terkaget melihat semua orang berkumpul di meja makan. Lebih tepatnya meja serba guna.

"Ada apa?" Sakura bertanya kepada salah seorang yang berdiri menghalangi pandangannya.

Orang itu hanya berucap, "Tradisi anak baru."

"Apa?!" Sakura naik pitam mendengar kata tradisi anak baru

Dia berteriak agar orang-orang menyingkir dari jalannya. Begitu matanya melihat Hinata yang masih menunduk diwastafel, Sakura langsung menghampiri.

"Hinata-chan, kau tidak apa-apa?," Sakura memijit tengkuk Hinata.

Hinata masih menundukkan kepalanya, "Saya baik-baik saja."

"Siapa yang memerintahkan melakukan tradisi ini sekarang, hah?" bentak Sakura ke semua orang yang berada disitu.

"Aku tanya sekali lagi, siapa yang bertanggung jawab dengan ini, hah?" suara Sakura kian meninggi.

Semua orang serempak menunjuk Shikamaru. Shikamaru mengumamkan kata andalannya, "merepotkan."

Choji dan Shino menepuk pundak Shikamaru, Sai memberikan senyum, Juugo dan Suigetsu menahan tawa melihat kemarahan Sakura. Sedangkan Kiba berbisik ditelinga Shikamaru, "mati kau, Shika,"

"Merepotkan"

"Shi-ka-ma-ru!,"

Sakura menerjang Shikamaru, menyarangkan pukulan ke wajah Shikamaru. Semua yang berada disitu hanya terdiam tidak berani menenangkan Sakura yang sedang emosi. Mereka mengakui kekuatan Sakura berada satu tingkat dibawah Sasuke.

Shikamaru tidak berniat membela diri ataupun membalas. Dia hanya mengelus pipinya yang terasa sakit. Berdebat dengan Sakura hanya akan menghabiskan tenaga dan waktu karena Sakura selalu bisa membantah apapun yang dilontarkan Shikamaru.

"Shi-ka-ma-ru... berani-beraninya kau menjahili Hinata-chan yang sedang sakit?," desis Sakura.

Sakura bersiap meninju wajah Shikamaru lagi, namun terhenti karena Sasuke menghentikan tangan Sakura.

"Hentikan, Sakura,"

Tangan Sakura yang sudah terarah ke wajah Shikamaru turun perlahan. Menyentakkan tangan Sasuke.

"Ta-tapi Sasuke-kun..." Tangan Sasuke terangkat menghentikan aksi protes Sakura.

"Hinata," panggil Sasuke.

Merasa dirinya dipanggil, dengan langkah sempoyongan, Hinata mendekat.

Lanjutkan, Sasuke memberikan botol sake kepada Hinata. Hinata mengangguk kemudian menegakkan badannya.

"Sasuke-kun... ," ucap Sakura.

Sasuke tidak menggubris Sakura, dia menyodorkan cawan kosong. Hinata meraih cawan lalu mengisinya dengan sake dan memberikannya kepada Sasuke. Dia sendiri mengisi cawan kosong miliknya.

Sasuke memperhatikan Hinata disela-sela meminum sakenya. Hinata terlihat enggan meneguk sakenya, namun hanya sebentar sedetik kemudian cawan Hinata sudah tandas. Muka Hinata berubah pucat, perutnya kembali bergejolak. Lagi-lagi Hinata berlari ke wastafel memuntahkan isi perutnya lagi.

Suasana diruangan berubah menjadi senyap, mereka yang tadinya ribut mengolok-olok Shikamaru karena kena tinju Sakura, terdiam. Perhatian mereka mengarah ke gadis yang muntah di wastafel. Bahkan Sakura sudah terisak-isak di belakang Sasuke, tidak tega melihat keadaan Hinata.

Begitu selesai, Hinata mendekat ke meja lagi. Kembali menuang sake, dengan tangan gemetar dia menyerahkan ke Juugo.

Juugo memandang Hinata dengan kasihan, menentang Sasukepun tidak mungkin. Dengan cepat Juugo menandaskan sakenya. Hinata mengangkat cawan, mendekatkan ke mulutnya. Matanya sudah tidak bisa fokus melihat. Kepalanya terasa berat.

Sebelum Hinata meneguknya, tangan Sasuke meraih cawan Hinata dan meminumnya. Semua yang melihat kejadian itu tercengang. Sasuke dengan wajah tanpa ekspresinya menyodorkan cawan yang kosong dan menyuruh melanjutkan. Sampai tradisi minum sake berakhir giliran Hinata digantikan oleh Sasuke.

...

Shikamaru memperhatikan Sasuke yang duduk diam disampingnya. Mereka sudah berada di mobil, perjalanan menuju Iwa. Semenjak keluar dari rumah, Sasuke hanya diam tanpa mengeluarkan suara.

Shikamaru menyodorkan map yang tergeletak di dashboard kepada Sasuke. Dahi Sasuke menyerngit setelah membuka dan melihat isi dari kertas itu. Dia melanjutkan membaca dengan teliti dan sesekali melihat ulang kertas yang sudah dibacanya.

"Sarutobi Hiruzen," desis Sasuke.

"Penyelidikan yang kami lakukan mengarah kepada Sarutobi Hiruzen."

"Klan Sarutobi memperlihatkan taringnya, huh," Sasuke memasukkan kembali kertas-kertas laporan itu kedalam map.

"Ada info yang lebih menarik, Hiruzen dan Hyuga Mei memiliki hubungan dekat," ucap Shikamaru. Sesekali Shikamaru melihat kearah spion, memperhatikan kendaraan dibelakang mereka. Juugo, Shino, Sai dan Suigetsu berada di mobil belakang.

Sasuke menaikkan satu alisnya, sedikit tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Hyuga Mei istri kedua dari Hyuga Hiashi, kau tahu kan siapa Hiashi?" lanjut Shikamaru.

"Ayah Hinata," Sasuke menghela nafas, "dia sudah menceritakan asal-usulnya semalam. Sepertinya ini semakin menarik."

Shikamaru mengangguk setuju, "Sebaiknya jangan sampai si tua Hiashi ataupun istrinya tahu kalau Hinata berada dipihak kita,"

Sasuke membuka jendela mobil, kemudian menyalakan sebatang rokok, "Justru aku ingin sebaliknya."

"Kau ingin semua orang termasuk Hyuga dan Uchiha tahu tentang Hinata?," Shikamaru kaget dengan pemikiran Sasuke.

Sasuke menghisap dalam-dalam rokoknya, menghembuskan kepulan asap melewati jendela sampingnya. "Begitulah."

"Jadi kau memanfaatkan Hinata?"

"Mungkin, tapi pertemuanku dengan wanita kecil itu sama sekali tidak ada unsur kesengajaan,"

"Wanita?" Shikamaru sedikit mengangkat ujung bibirnya. Dia sangat yakin semalam bahkan kemarin awal pertemuannya dengan Hinata, Sasuke selalu menyebut gadis kecil bukan wanita kecil.

"Jadi kau sudah mengubah Hinata dari gadis menjadi wanita,huh?" Shikamaru terkekeh.

"Bisa dibilang begitu."

Shikamaru ikut membuka jendela di sampingnya. Membiarkan angin menerpa sebagian wajahnya. Dia menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan tindakan Sasuke yang terkesan seenaknya sendiri.

Tangan kanan Shikamaru meraih kotak rokok yang berada di dashboard sedangkan tangan kiri tetap berada dikemudi.

"Dasar pedofil," gumam Shikamaru.

"Aku dengar itu."

Shikamaru terkekeh mendengar kekesalan dalam kata Sasuke. "Kemungkinan ada keterlibatan pihak luar yang membantu Hiruzen."

"Aku juga berpikir seperti itu, sangat tidak mungkin hanya mengandalkan klan Sarutobi dia berani menyerang Uchiha terang-terangan." Sasuke memperhatikan jam yang melingkari tangan kirinya. "Lewat jalan pintas,"

Shikamaru memotong jalan untuk melewati jalan sempit diseberang. Aksinya membuat mobil-mobil yang berlawanan memberikan klakson panjang.

"Bagaimana kalau Hyuga terlibat? Kau akan membunuh Hinata?" Shikamaru melirik Sasuke

Sasuke menghembuskan asap rokoknya, "mungkin."

Shikamaru tersenyum geli. "Kau tahu? Sepertinya kutukan Hyuga benar adanya."

"Kau percaya mitos seperti itu?" Sasuke mendengus, seorang Shikamaru yang selalu berpikir rasional mempercayai mitos tak berdasar seperti itu.

Shikamaru hanya mengangkat bahunya, "hanya sekedar pendapat. Normalnya kau akan berkata iya atau tidak, sekarang muncul kata mungkin. Ajaib sekali"

Dalam hati Sasuke tidak sepenuhnya menyangkal kata-kata Shikamaru. Toh, memang kenyataannya tetua Uchiha selalu berkata kalau wanita Hyuga merupakan ancaman bagi para pria Uchiha.

Pertama kalu melihat mata perak Hinata, Sasuke seolah merasa sesuatu yang beda. Dia tidak bisa mendeskripsikan perasaan itu. Insting Sasuke berbisik, tidak ada kepura-puraan dari sikap yang ditunjukkan Hinata. Apalagi setelah Hinata menceritakan semua kejadian yang menimpanya, namun dia tetap bersikap hati-hati.

Contoh nyata korban dari mitos konyol itu adalah sepupunya yang bernama Nagato. Dulunya bermarga Uchiha namun karena campur tangan klan Hyuga, sekarang ini dia bermarga Hyuga. Ibunya bermarga Hyuga sedangkan ayahnya Uchiha. Orang tua Nagato tidak pernah menikah karena tidak mungkin mendapat restu dari kedua belah pihak klan.

Perlakuan Hyuga terhadap Nagato tidak jauh berbeda dengan Uchiha, sama-sama menganggap dirinya bukan anggota klan.

"Itachi juga memiliki masalah yang sama denganmu," suara Shikamaru membuat Sasuke tersadar dari lamunannya.

"Gadis berambut biru itu bermarga Hyuga?"

"Benar, walaupun dia tidak memiliki mata perak".

"Mampus kau Itachi!" Sasuke menyeringai memdengar hal ini.

"Ucapkan itu pada dirimu sendiri," timpal Shikamaru.

"Urusai!"

...

Desain rumah Obito bergaya Eropa dengan pilar-pilar tinggi di bagian teras. Disekitar terdapat banyak pohon rindang, kesan pertama melihat adalah hunian yang nyaman dan tenang. Namun, kesan tenang itu hilang saat melihat orang-orang berpakaian hitam berjaga disetiap sudut bangunan rumah. Mereka berlalu lalang dengan alat komunikasi yang menempel ditelinga. Peristiwa penyerangan Obito membuat penjagaan disekitarnya diperketat.

Baru saja Sasuke dan kawan-kawan mencapai pintu gerbang, mereka disambut dengan prosedur pengamanan. Mereka digeledah satu persatu. Nama Uchiha yang disandang Sasuke pun tak mampu meloloskannya dari pemeriksaan.

Setelah menyita sementara senjata milik rombongan Sasuke, mereka dipersilahkan masuk. Sasuke dan Shikamaru masuk kedalam kamar Obito, sedangkan yang lain menunggu di ruang tamu.

Wanita yang sedang menunggui Obito mempersilahkan Sasuke dan Shikamaru mendekat. Obito terbaring dengan perban melilit kepala, tangan dan kakinya.

"Aku keluar dulu," bisik wanita itu ditelinga Obito. Wanita itu mengangguk kearah Sasuke dan Shikamaru.

"Sudah tahu pelakunya?" tanya Sasuke to the point.

"Mana aku tahu, musuhku banyak Sasuke," Obito tersenyum simpul.

"Pantas saja kau bahkan merebut kekasih orang lain," sindir Sasuke.

Obito tidak menghiraukan ucapan Sasuke, dia mencoba beringsut mengangkat tubuhnya agar bisa duduk bersandar.

"Bagaimana dengan Izuna?"

Obito melirik kearah Shikamaru, merasa tidak nyaman membicarakan masalah internal Uchiha saat ada pihak luar.

Seakan tahu yang dimaksud Obito, Sasuke berucap, "tak perlu khawatir, Shikamaru tangan kananku,"

"Terserah saja," Obito tidak mau ambil pusing.

"Kasus Izuna hampir menemukan titik terang," ucap Sasuke.

"Begitu, ya." Obito menghela nafas, "saat itu tiba aku sendiri yang akan mengeksekusi orang yang membunuh Izuna dengan tanganku."

"Hn," Sasuke menyerahkan map yang tadi sempat dibacanya.

Obito membaca sambil mengeram menahan amarah. Hanya sebentar saja dia membaca, setelah itu dikembalikan lagi kepada Sasuke.

"Kenapa dengan klan Sarutobi?"

"Kau juga menambah masalah dengan mengambil Nohara Rin dari tangan Sarutobi Asuma."

Obito terdiam dan membaringkan tubuhnya kembali. Tanpa mereka ketahui, Rin yang tadi diluar mendengarkan semua pembicaraan mereka.

.

.

.Continued.

.

.

Special thanks :

Sasuhia69, hiru nesaan, anislh, anonym, hyachint uchiha, siroi tensi, aindri961, lovely sasuhina, hip-hipHuraHura, Baby Niz 137, keiko-buu89 dan semua yg membaca cerita ini.

.

Nb. Mungkin masih banyak typo yang nyelip, alur atau plot yang kurang pas, so mohon bantuannya. Sangat menunggu kritik dan saran agar part selanjutnya lebih baik. Arigato :)

28/06-16