III
It's Called Life
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo, gaje, rate M untuk bahasa kasar, CRACK PAIR, dll
Hinata dan Choji sedari tadi duduk di sofa sambil memperhatikan Kiba yang meninju samsak berkali-kali. Semenjak keberangkatan rombongan Sasuke ke Iwa satu minggu lalu, Kiba menjadi aneh. Saat ditanya, dia beralasan kesal karena tidak diikut sertakan ke Iwa. Kekanakan sekali.
"Dia aneh," gumam Hinata sambil mengunyah apel hijau yang dia ambil dari kulkas.
"Biarkan saja, dia sudah biasa seperti itu," ucap Choji dengan sekantong kripik dipangkuannya.
Hinata mengangguk-angguk "Kata Sakura, sudah beberapa hari ini dia melakukan hal yang sama," telunjuk Hinata mengarah ke Kiba.
Choji menaikkan bahunya tidak peduli, "kalau lapar nanti juga berhenti."
Hinata mengangguk lagi ikut membenarkan apa yang diucapkan Choji. Mereka kembali memperhatikan Kiba dalam diam.
"Hinata-chan,"
"Iya?" Hinata memutuskan pandangan ke Kiba beralih kesosok disampingnya, Choji.
"Apa kau benar Hyuga?," mata Choji menyipit penasaran. Wajahnya menatap lurus Hinata.
"Emm..." Hinata tidak langsung menjawab dia masih menguyah apel sambil memasang mode berpikir, "menurutmu?", Hinata mengerlingkan matanya ke Choji. Dia ingin menggoda Choji yang menampilkan wajah penasaran yang menurutnya lucu. Pipi cubby Choji bertambah bulat saat dia penasaran seperti ini.
Choji tersedak kripik, "uhuuk..uhuuk."
Hinata menyodorkan botol air mineral yang belum sempat dia buka kepada Choji.
"Aku serius, Hinata-chan!" bentak Choji hingga sisa remahan kripik dimulutnya sedikit menyembur ke wajah Hinata.
"Maaf...maaf..., aku memang dari Hyuga." Hinata meringis membersihkan wajahnya dari semprotan Choji kemudian kembali menggigit apel yang tinggal beberapa gigitan, "tapi itu dulu, sekarang namaku Hinata. Hanya Hinata," imbuhnya dengan mulut penuh.
"Kenapa?" Choji membeo dengan wajah penasaran.
Kiba yang mendengar percakapan mereka, menghentikan latihannya dan meloncat duduk ditengah-tengah diantara Choji dan Hinata.
"Kau benar-benar Hyuga? " ulang Kiba. "Malapetaka! Bukankah Hyuga dan Uchiha tidak baik?" teriak Kiba dengan memberi tanda dengan kedua tangannya saat mengucapkan tidak baik.
Hinata menyerngit membaui tubuh Kiba, "kau bau," ucapnya beranjak menjauh sambil mengibaskan tangan dan menutup hidung. Choji juga melakukan hal yang sama seperti Hinata disertai suara ingin muntah
"Sialan kau bau sekali," teriak Choji. "Minggir sana!" ditendangnya tulang kering Kiba sebelum beranjak dari sofa.
"Hei...," teriak Kiba melihat Choji berjalan menjauh bersama Hinata. Merasa tersinggung karena ditinggal begitu saja. "Dasar gendut, baumu itu yang lebih busuk dari sampah." Kiba menudingkan tangan kearah Choji lalu tersenyum miring. Kata gendut bagi Choji adalah kata-kata keramat yang tidak boleh diucapkan disekitarnya.
Dan benar saja begitu mendengar kata 'gendut', Choji menghentikan langkahnya. Ekspresinya berubah keras secepatnya dia memutar tubuhnya ke hadapan Kiba.
"Apa kau bilang?gendut, hah?!," mata Choji melotot.
Hinata yang berada disamping Choji bergidik ngeri mendengar suara Choji yang berubah garang. Tangan Hinata terjulur meraih lengan Choji, namun kalah cepat dengan gerakan Choji mendekati Kiba.
Kiba tertawa keras, Choji termakan omongannya. "Iya, Gen-" bruuuk, pukulan Choji menghentikan ucapan Kiba. Tidak hanya sekali pukul, Choji menendang perut Kiba yang telah tersungkur di lantai.
Hinata menjerit kaget melihat Choji yang sedang kalap. Dia berusaha menarik lengan Choji tapi tepisan Choji membuatnya terjengkang kebelakang. Hinata berdiri dan mengusap bokongnya yang sakit. "Hentikan, please!".
"Bilang sekali lagi?" geram Choji tanpa berhenti memukuli Kiba.
Kiba sendiri tertawa menerima pukulan Choji dan berusaha berdiri. Mengelap pinggiran mulutnya yang berdarah. "Genduuut," ucap Kiba sedikit mengeraskan suaranya dengan memainkan nada suaranya lalu kembali tertawa. Dia senang akhirnya ada lawan untuk mengurangi kekesalannya.
"Sialan kau!"
Choji kembali menyerang Kiba, menghujani dengan pukulan dan tendangan. Kali ini dengan semangat Kiba berusaha mengimbangi dengan menangkis lalu membalas semua pukulan dan tendangan Choji.
Sementara Hinata hanya berteriak dan mondar-mandir bingung mencari cara untuk menghentikan mereka. Dia terlalu takut mendekati Choji atau Kiba apalagi untuk memisahkan mereka.
Braaaak
Tendangan Kiba mengenai pinggang Choji yang membuatnya terjatuh diatas meja kaca. Kiba bersiap menimpa tubuh Choji yang masih terlentang dipuing-puing kaca meja, tapi dengan gesit Choji berguling ke samping. Kiba hanya menimpa lantai. "Sial!" desis Kiba.
"Wah ada pesta ya?,"
Hinata menoleh kearah sumber suara. "Sai tolong hentikan mereka,"
Sai yang baru datang berjalan lurus ke arah Choji dan Kiba yang masih baku hantam. Dia melewati Hinata seakan keberadaan Hinata disana tidak ada. "S-sai..." Sai mengabaikan panggilan Hinata, menggulung lengan sampai siku dan membuka tiga kancing teratas kemejanya. "Kalian tidak sopan bersenang-senang sendiri," ucapnya sambil menendang Kiba dan Choji.
Sontak tindakan Sai membuat Kiba dan Choji balik menyerangnya. Mereka bertiga saling pukul dan tendang. Tidak peduli siapa lawan siapa. Asal tendang saja. Hinata kembali berteriak panik.
"Tadaima..." ucap Suigetsu, Shino dan Juugo serempak.
Hinata langsung berlari menghampiri mereka bertiga. "T-tolong p-pisahkan mereka, aku... m-mereka.." kata-kata Hinata terputus berganti dengan tangis.
Juugo menghela Hinata yang masih menangis untuk duduk di sofa. Suigetsu dan Shino saling pandang seakan tahu apa yang ada dikepala masing-masing, mereka menghambur ke arena adu pukul. Mereka ikut bergabung memukul menendang siapapun yang kena.
Hinata yang baru mendudukkan diri di sofa hampir terlonjak berdiri melihat Suigetsu dan Shino ikut bergabung dengan keributan sebelumnya. Tapi dengan cepat Juugo menggeleng dan menahan Hinata untuk duduk.
"Itu sudah biasa terjadi diantara kami, Hinata-chan." Mata Juugo mengawasi gerombolan yang saling memukul itu. "Kami menganggap kegiatan itu sebagai olahraga." Kata Juugo sambil menunjuk arah depan.
Hinata menganga tidak percaya dengan ucapan Juugo, tangisnya terhenti berganti dengan kekagetan. Berkelahi sebagai olah raga? Sedikit terdengar aneh bagi Hinata.
"Kau tahu?" Juugo mengubah posisinya menghadap Hinata dengan menaikkan salah satu kakinya ke sofa, "Barang-barang disini tidak ada yang bertahan lama, apalagi kalau Sasuke ikut gila seperti mereka. Itulah kenapa ruangan lantai satu sangat luas dan tidak ada sekat sama sekali."
"B-benarkah?" bulu kuduk Hinata meremang membayangkan kengerian mereka saat mereka semua merusak barang-barang.
Juugo mengangguk membenarkan, buru-buru dia menambahkan, "Tapi..." Juugo menggantungkan penjelasannya. Kedua tangan Juugo meraih wajah Hinata yang melihat teman-temannya dengan ekspresi ngeri untuk menghadap wajahnya. "Kami tidak semengerikan itu, Hinata-chan. Setelah saling pukul kami kembali seperti semula kok."
Hinata menatap Juugo yang tersenyum lembut. Dalam benaknya Hinata menyangkal kata-kata Juugo, mana ada berkelahi dengan teman sendiri tanpa alasan jelas dibilang tidak mengerikan. Hinata menghela nafas dan menepis tangan Juugo yang masih menahan wajahnya agar berhadapan.
"Setidaknya hentikan mereka, Juugo" mata Hinata kembali melihat perkelahian absurd. Suara bedebam, umpatan, makian dan tawa saling ejek mewarnai aksi mereka. Hinata kembali memekik dan sontak mengangkat kedua kakinya ke atas sofa saat tubuh Suigetsu terlempar di dekat kakinya diikuti lemparan kursi kayu.
Suigetsu mengerang memegangi pundaknya. "Shino sialan!" dia berteriak kemudian berdiri menggerakkan pundaknya.
"Apa-apaan ini?"
Teriakan dari arah pintu masuk sontak menghentikan mereka, seakan mereka membeku. Secara serempak mereka melihat sosok yang berteriak itu. Sakura.
"Kalian semua bersihkan kekacauan ini sebelum Sasuke pulang!" kata Sakura sambil menunjuk kekacauan yang telah mereka perbuat. "Dan kau Juugo, jangan coba-coba menggoda Hinata. Jaga jarak!"
Juugo yang merasa namanya disebut langsung beringsut menjauhi Hinata. Sedangkan lima orang yang lain buru-buru membenahi sisa-sisa kegiatan 'olahraga' mereka. Mereka memilih merepotkan diri berbenah daripada berurusan dengan Sakura.
...
Bruuuk
Tendangan Sasuke mengenai wajah orang yang digantung terbalik di depannya. Jarak kepalanya dan lantai hanya sejengkal. Dengan nafas tersegal dan darah yang membasahi wajahnya, orang itu hanya merintih kesakitan.
"Siapa bosmu?," suara Sasuke tidak menunjukkan emosinya. Suaranya lirih seakan berbisik walaupun begitu aura kemarahan tidak bisa pungkiri. Suasana ruang bawah tanah yang temaram dan dingin menambah sesak.
Dengan susah payah orang itu berusaha menggelengkan kepalanya. "S-saya t-tidak t-tau,"
Sasuke kembali menyarangkan tendangan ke wajah orang itu. Dia sama sekali tidak terlihat marah bahkan ekspresi wajahnya terlalu datar. Shikamaru yang sejak tadi mengotak-atik ponselnya di pojokan, menghela nafas melihat Sasuke yang belum juga mampu membuat orang itu berbicara. Padahal wajah dan tubuh orang itu sudah babak belur dihajar Sasuke.
Shikamaru berdiri menghampiri Sasuke. "Biar aku urus," kata Shikamaru sambil menyentuh pundak Sasuke. Dia mengedikkan kepalanya memberikan tanda agar Sasuke keluar. Sekali lagi Sasuke menyepak kepala orang itu sebelum meninggalkan dia bersama Shikamaru. Tidak bisa dipungkiri Shikamaru lebih bisa diandalkan untuk membuat orang berbicara tanpa mengeluarkan tenaga.
Shikamaru menyimpan ponsel yang dia pegang di saku kemeja dibalik jasnya. "Ini benar-benar merepotkan," Shikamaru sudah bersiap menyalakan rokoknya dan berjongkok menjajarkan posisi di dekat orang yang digantung terbalik itu.
"Chiriku atau dikenal dengan nama Achi, imigran gelap dari Cina memiliki seorang istri yang sedang hamil. Anak perempuan manis yang memiliki lesung pipi," Shikamaru menghentikan kata-katanya melihat ekspresi Chiriku berubah dengan cepat. Sejenak dia menghisap rokoknya kuat-kuat lalu menghembuskan ke wajah Chiriku.
"Setiap pagi istrimu selalu mengantar anak gadis kecil menunggu bus di pertigaan dekat rumahmu. Bagaimana jadinya kalau bus yang seharusnya mengantarkan anakmu yang manis itu malah menabrak mereka?"
"J-jangan l-libat-kan m-mere-ka," suara Chiriku bergetar menahan sesak, sakit dan khawatir dengan keadaan keluargannya.
Lagi-lagi Shikamaru menghisap dan menghembuskan asap rokoknya ke wajah Chiriku. Kali ini Chiriku terbatuk-batuk menghirup asap rokok di wajahnya.
"Nasib mereka berada pada keputusanmu." Shikamaru berdiri. Berjalan menuju pintu keluar.
"T-tung-gu a-aku akan mem-beritahu s-semua-nya."
Shikamaru sedikit mengangkat sudut bibirnya. Tanpa perlu mengeluarkan tenaga, Chiriku pun menyerah. "Turunkan dia," perintah Shikamaru kepada dua orang yang sejak tadi menjaga tali yang mengikat Chiriku. Mereka mengangguk dan langsung memutus tali menggunakan senjata sejenis katana. Shikamaru memutar tubuhnya kembali menuju Chiriku, begitu bunyi bedebam jatuh terdengar.
"Jadi… bisa kita mulai?" kata Shikamaru disertai seringai kemenangan.
….
Sasuke memilih menenggak bir kaleng dingin begitu dia menginjakkan kakinya di lantai dua salah satu klub malam milik Obito. Sudah lebih dari empat kaleng bir dingin dia habiskan sambil menunggu Shikamaru menyelesaikan introgasinya. Sasuke berdiri memperhatikan pemandangan di bawahnya lewat jendela kaca satu arah dari dalam ruang kerja Obito. Malam ini para pengunjung klub malam Obito ramai ditambah dengan adanya live show sexy dancer yang sebenarnya lebih mendekati striptise dancer.
Para penari dengan pakaian minim itu melenggak-lenggokkan tubuhnya seiring dengan alunan musik. Tak jarang mereka melakukan gerakan seduktif yang mampu membuat mata pengunjung terpaku menelan ludah. Namun ada juga yang tidak peduli dengan pertunjukkan itu, mereka yang hanya sekedar melepas stress dengan minum-minum bersama rekan-rekannya.
Sesekali Sasuke menghisap rokok yang bertengger jari kirinya kemudian diselingi meminum bir dari tangan kanannya. Dengan mata yang masih menatap dengan enggan pemandangan di bawah. Pikirannya berkecamuk banyak hal.
Bunyi pintu terbuka mengembalikan Sasuke dari lamunan. "Bagaimana?" kata Sasuke tanpa mengubah posisi berdiri menghadap kaca. Dari pantulan kaca di depannya, dia dapat melihat Shikamaru memasuki ruangan itu.
Shikamaru menarik kursi di depan meja kerja Obito dan duduk, "dapat satu nama. Sarutobi Asuma." Shikamaru membuka rokok yang tersimpan di kantong jasnya lalu menyalakannya.
"Hn, aku sudah tahu" jawab Sasuke acuh.
Shikamaru mendengus sembari menghembuskan asap rokok dari mulutnya, "Lalu kenapa kita repot-repot membuang tenaga membuat orang itu bicara hal yang sudah kau ketahui?" Diraihnya satu kaleng bir dingin di meja yang masih tersisa. Membuka tutup kaleng dan meneguk lambat-lambat.
Sasuke tidak menjawab kata-kata Shikamaru. Pandangannya masih terpaku pada kerumunan orang dilantai bawah.
"Apa langkah selanjutnya?" Tanya Shikamaru lagi sambil mengelap ujung bibirnya yang basah karena sisa bir.
"Pulang."
Shikamaru hanya menggeleng mendengar jawaban singkat Sasuke. Hampir satu minggu mereka di Iwa hanya untuk memburu para pelaku pengeroyokan Obito dan sekarang setelah menemukan dalangnya, Sasuke hanya berucap 'pulang'.
"Bagaimana dengan Sarutobi Asuma?" kejar Shikamaru penasaran.
Sasuke memutar tubuhnya memunggungi jendela kaca, mengambil lagi kaleng bir di meja. "Bukan urusanku lagi, biarkan saja Obito yang menyelesaikan."
Shikamaru menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi, mengadahkan kepalanya ke atas. Dia menggoyang-goyangkan bir yang berada ditangannya.
"Sasuke, ada barang baru di sini kau mau coba?"
"Tidak tertarik,"
Shikamaru yang baru menghisap rokoknya terbatuk kecil. Tanpa mengubah posisi nya, dia menatap Sasuke tidak percaya. "Biasanya kau paling bersemangat untuk mencicipi barang baru. Ada apa denganmu Sasuke?" ujar Shikamaru dengan sedikit nada mengejek.
"Jangan bilang saat ini kau tidak tertarik dengan wanita lain selain wanita cilik Hyuga?" lanjutnya. Shikamaru tidak dapat menahan kekehannya melihat Sasuke mendengus kesal dengan ucapannya. "Hanya sekali menyentuh kau langsung terikat erat dengannya. Sugoi!" Jempol Shikamaru teracung ke wajah Sasuke.
Sasuke melempar kaleng birnya ke Shikamaru yang masih terkekeh dengan analisanya. Sasuke tidak menyangkal atau membenarkan ucapan Shikamaru yang menurutnya buang-buang tenaga untuk mendebatnya. Shikamaru mengaduh kecil sambil mengusap keningnya yang kena lemparan kaleng.
"Wanita Hyuga memang memiliki daya tarik tersendiri. Hei..hei.. jangan menatapku seperti itu," Shikamaru menghentikan ucapannya, begitu Sasuke menatapnya tajam. "Dilihat dari badannya, wanita cilik Hyuga itu tidak terlihat seperti anak kecil,"
"Hentikan membicarakan hal yang tidak perlu," Sasuke melangkah keluar.
Shikamaru mengikuti Sasuke dibelakang. Dia masih saja terkekeh geli melihat tampang jengkel Sasuke. Untung saja ada rokok yang bertengger manis dibibirnya sehingga kekehannya tidak begitu terdengar.
...
Sakura yang masih mengenakan pakaian kerjanya berupa jas putih khas dokter, berjalan meninggalkan ruangan UGD menuju ruangannya sambil memijit tengkuknya. Sedikit menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri mengusir rasa pening yang agak mengganggu. Akhir-akhir ini kepalanya memang sering pusing dan kadang disertai mual. Apalagi dia belum sempat makan malam karena setelah kunjungan rutin di rumah Sasuke, Sakura langsung menuju tempat kerja resminya di rumah sakit Konoha.
Setiba ruangannya, Sakura meraih biskuit dengan selai strawberry dan sekaleng teh dari laci mejanya. Dia selalu menyiapkan cemilan saat mendapat giliran shift malam seperti saat ini. Begadang dimalam hari membuat perutnya selalu berteriak lapar.
Getar ponsel di meja, menghentikan Sakura untuk membuka bungkus kedua biskuit kesukaannya itu. Nama Naruto tertera dilayar. Sakura bimbang antara menerima panggilan itu atau mengabaikan saja. Sekilas diliriknya jam dinding diatas pintu ruangannya. Jam 11 malam. Untuk apa malam begini Naruto menelponnya, batin Sakura. Dengan enggan Sakura menggeser tombol berwarna hijau dilayar ponselnya.
"Moshi-moshi, Naruto-kun,"
Sakura dapat mendengar suara hentakan musik memekakkan telingan dibelakang suara Naruto.
"Iya, Sasuke kun tidak ada di Konoha." Sakura sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga terganggu dengan kebisingan diponselnya. "Kenapa kau menelponku malam-malam begini? Hah kau ingin info apa?" Sakura sedikit berteriak mengimbangi suara dibelakang Naruto. "Kau tahu info itu mahal harganya, Naruto-kun. Kalau kau sudah memikirkan penawaran yang lebih baik hubungi aku lagi oke? Bye-bye," secara sepihak Sakura menutup telepon. Dia tersenyum geli membayangkan Naruto marah-marah diseberang sana.
"Dasar laki-laki" gerutu Sakura.
...
Hinata terbangun saat cahaya matahari menembus jendela. Jendela kamar yang ditempati Hinata menghadap kearah matahari terbit. Dia sengaja tidak menutup tirai lapis kedua yang lebih tebal agar cahaya matahari pagi menyapanya. Mata Hinata mengerjap perlahan. Sambil menggeliat dia mengingat-ingat sepertinya tadi malam Sasuke menghampirinya saat setengah tidur. Atau jangan-jangan itu mimpi? Bahkan samar-samar diingatannya dia dan Sasuke melakukan -blush- wajah Hinata memerah mengingat hal itu. 'Bodoh, kalau tadi malam itu mimpi, aku sudah mimpi jorok,' pekik Hinata dalam hati. Dia memukul-mukul kepalanya berharap pikirannya tidak dipenuhi hal-hal 'aneh'.
Hinata mengangkat sedikit selimut yang membungkus tubuhnya. Memperhatikan pakaiannya yang masih sama dengan yang dia pakai semalam. Hanya kaos kebesaran milik Sasuke yang dia pinjam. Lebih tepatnya yang dia jadikan pakaian tidur semenjak dia disini. 'Berarti hanya mimpi,' batinnya menyakinkan. Dia mengangguk-angguk memantapkan argumennya. 'Tapi terasa nyata,' raungnya dalam hati.
Hinata menolehkan kepalanya ke jam digital diatas nakas. Jam 10. 'Pantas matahari sudah tinggi,' pikir Hinata. Niatnya untuk kembali memejamkan mata urung dia lakukan. "Jam 10?" teriak Hinata. Buru-buru Hinata menendang selimutnya bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
Begitu membuka pintu kamar mandi, wangi sabun yang biasa Sasuke gunakan menguar menyapa hidung Hinata. "seperti baru digunakan, jangan-jangan Sasuke memang pulang," Hinata berbicara sendiri. Matanya memindai seluruh sudut kamar mandi. Kosong . "Hah..Terserah sajalah" putusnya.
...
Setelah mandi dan berpakaian santai Hinata memutuskan untuk turun ke bawah mengisi perutnya yang sangat-sangat kelaparan. Dia menuruni tangga dengan bersenandung kecil. Di dapur Hinata melihat Homura -pria tengah baya yang bekerja sebagai pengurus rumah Sasuke- yang sedang mencuci piring.
"Ohayou Homura," sapa Hinata begitu berada di belakang Homura. Tangan Hinata meraih satu kursi di meja makan.
"Ohayou Hinata-chan," ucap sedikit menolehkan kepalanya kebelakang sambil memberikan senyum kepada Hinata tanpa menghentikan kegiatannya. "Akan segera saya siapkan sarapannya."
Hinata mengangguk dan berucap "Terima kasih Homura."
Dengan cekatan Homura mengeringkan tangannya dan menghidangkan sarapan pagi untuk Hinata. Hinata hanya menatap kagum kearah Homura. Gerakan menuang teh dalam cangkir dan menyiapkan sandwich seukuran sekali suap dengan begitu anggun. Seperti butler-butler profesional.
"Silahkan Hinata-chan"
Hinata mengangguk dan berterima kasih kepada Homura, begitu sarapan terhidang di depannya. Dia memakan dengan lahap seperti orang kelaparan. Homura sendiri kembali melanjutkan kegiatan mencuci piring yang sempat tertunda.
"Jadi ini pelacur Sasuke yang baru?"
Buru-buru Hinata menolehkan kepalanya kebelakang begitu mendengar kata 'pelacur'. Selera makannya hilang begitu melihat wanita dengan rambut merah menatapnya tajam sambil berkacak pinggang. Meletakkan kembali sandwich kesekian yang hampir masuk kemulutnya. Homura juga ikut memutar tubuhnya melihat sosok yang bersuara itu.
"Karin-san, anda mau sarapan?" sapa Homura.
"Aku tidak sudi satu meja dengan pelacur ini"
Hinata menghela nafas kasar. Sama sekali tidak berniat untuk bertanya siapa dan apa maksud orang itu. Dia berdiri dari kursi dengan membawa piring yang masih ada beberapa potong sandwich, lalu melewati Karin yang masih menatapnya dengan tajam.
"Kau mau kemana pelacur? Aku belum selesai denganmu!" suara Karin meninggi begitu melihat Hinata mengabaikannya.
"Berhenti kataku!," Karin menarik lengan Hinata, membuat piring yang dibawanya terjatuh dan pecah. Hinata memandang sandwichnya yang berserakan di lantai dengan wajah muram.
"Biar saya yang membereskan" Homura sudah muncul di samping Hinata dengan membawa sapu dan pengki.
"Kau-" Karin menunjuk wajah Hinata, "-siapa? berani sekali memanfaatkan Sasuke?"
Masih enggan menanggapi, Hinata menyentakkan lengan yang masih dipegang Karin.
"Sarapanku...," ucap Hinata masih melihat lantai kotor meratapi nasip sandwichnya.
Karin semakin emosi dengan sikap acuh Hinata. Plaaaak. Tangan Karin menampar pipi kiri Hinata.
Tamparan Karin membuat Hinata mengalihkan pandangan dari lantai yang dibersihkan Homura ke wajah Karin.
Homura yang masih membersihkan pecahan piring terkesiap mendengar tamparan itu, "Karin-san apa yang anda lakukan pada Hinata-chan?" Homura menghampiri Hinata, "Kau tidak apa-apa Hinata-chan?"
Hinata menggeleng sambil memegang pipi kirinya yang terasa panas. "Apa masalahmu?"
"Aku tidak suka pelacur sepertimu." jawaban ketus Karin membuat Hinata kembali memandangnya dengan pandangan menilai.
Diperhatikannya penampilan Karin dari atas sampai ke bawah. Bibir dipoles semerah warna rambutnya, tank top berwarna pink pucat dan rok mini hitam membungkus tubuh berisi milik Karin, tas tangan berwarna perak, sebatang rokok bertengger manis di jari kirinya. Penampilannya dilengkapi dengan highheel berwarna merah setinggi 7cm yang seakan memamerkan kaki jenjangnya. Hinata mendengus.
"Lihat penampilan siapa yang lebih mirip pelacur," cibir Hinata.
"K-kau...," Karin merasa tertohok dengan ucapan Hinata. Wajahnya bersemu memerah menahan amarah.
"Kenapa?" tanya Hinata sambil menampilkan wajah polosnya, "Aku benar kan?" lanjutnya. Melihat Karin yang tidak membantah, Hinata tersenyum kecil lalu meninggalkan ruangan menuju taman belakang.
"Sudahlah Karin-san," Homura mencoba menenangkan Karin yang masih belum beranjak. "Hinata-chan sama sekali tidak mengganggu siapapun disini. Sasuke-sama juga tidak keberatan berbagi kamar dengan Hinata-chan," lanjut Homura.
"A-apa? Sasuke-kun dan pelacur itu satu kamar?" Karin membelalakkan matanya mendengar informasi yang baru didengarnya. Sejenak kemudian Karin tertawa. "Ini lucu Homura, maksudku, kau tau kan Sasuke-kun lebih sering bersenang-senang di love hotel, bahkan tidak pernah membawa wanita ke kamarnya disini. Apa ini pertanda buruk?"
Himura terdiam tidak berani menyela Karin.
"Aku hanya ingin memastikan seperti apa wanita yang dibicarakan oleh para penggosip di luar sana dengan mata kepalaku sendiri. Ternyata dia Hyuga, itu luar biasa" lanjut Karin. Dia melangkah menuju sofa yang berada di tengan ruangan. Kembali menghisap rokoknya. Menaikkan kedua kakinya ke atas meja.
"Homura, aku minta kopi," perintah Karin.
"Segera saya siapkan." Homura segera meninggalkan Karin menuju dapur.
Karin menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil menoleh ke arah taman belakang. Wanita yang baru saja dia tampar sedang berlarian kejar mengejar dengan seekor anjing putih. Sepintas seperti anak kecil yang bahagia bermain dengan mainannya.
"Seperti anak kecil saja," Karin menggumam.
Hyuga Neji. Satu nama itu muncul ketika dia melihat mata yang sama pada wanita yang berlarian dengan anjing itu. Mereka sama-sama Hyuga, batin Karin.
Tiba-tiba pikiran Karin berandai-andai, jika saja 5 tahun yang lalu dirinya tidak mengacaukan bisnis yang dirintis Hyuga Neji, akankah Neji dan dirinya akan menjadi pasangan bahagia. Kadang perasaannya merasa bersalah pada Neji tentang semua yang telah dia lakukan, namun Karin bertekad tidak akan merendahkan harga dirinya dengan meminta maaf.
Karin tau bahwa baik Neji maupun dirinya tidak mungkin bersama. Jadi kekacauan yang dia buat bukan pemicu berakhirnya hubungan mereka tapi pembuka jalan keluar bagi mereka.
Semua yang telah Karin lakukan, bukannya tanpa alasan. Shimura Danzo –ayah karin- telah menjodohkannya dengan laki-laki yang menurutnya lebih menguntungkan. Terlebih ayah Karin memiliki dendam pribadi dengan keluarga Hyuga. Akan sangat sulit untuk memaksakan hubungan itu kedepannya. Shimura Danzo bahkan memberikan ancaman yaitu menuruti perintahnya atau melihat Neji mati.
Pilihan kedua terlalu sulit bagi Karin, melihat orang yang dicintainya mati akan sangat menyakitkan. Akhirnya Karin memutuskan untuk menghancurkan usaha yang dirintis Neji. Dengan begitu Neji membencinya dan meninggalkannya. Lebih baik Neji yang meninggalkannya karena Karin tidak akan mampu menjauhkan diri dari Neji.
"Silahkan Karin-san", ucapan Homura membuat Karin sedikit terkaget. Lamunannya buyar begitu butler setia Sasuke ini meletakkan kopinya.
Karin hanya menganggukkan kepala dan kembali memandang si Hyuuga yang kekanak-kanakan.
...
Sasuke menyerngitkan dahi melihat isi pesan yang dikirim Karin. Karin mengabarkan dirinya sudah bertemu dengan Hinata. Sasuke menarik satu sudut bibirnya dengan begini akan lebih mudah bagi dirinya menjalankan rencana yang sudah disusun.
"Ada apa?" tanya Shikamaru melihat Sasuke menyerngit.
"Karin menemui Hinata."
"Woaa..Sepertinya perhitunganmu tepat,"
Begitu tahu Hinata berasal dari Hyuga, Sasuke langsung teringat dengan Karin. Masa lalu Karin dengan Hyuga Neji sedikit banyak akan berpengaruh dengan rencana Sasuke ke depannya. Apalagi dengan bertemunya Karin dan Hinata, dia yakin Karin dengan senang hati membantu memuluskan rencananya.
"Apa yang kau bawa?"
Shikamaru melempar undangan berwarna hitam dengan corak awan merah ke hadapan Sasuke. "Akatsuki mengadakan pesta pembukaan usaha barunya di Kiri. Mereka mengirim undangannya tadi pagi."
Sasuke membuka undangan itu membaca sekilas lalu mencampakkan begitu saja di mejanya. "Aku tidak sabar bertemu dengan Sarutobi Hiruzen"
"Apa rencanamu?"
Sasuke menyeringai "sedikit memberi kejutan untuk si tua bangka."
-bersambung-
Special thanks to :
Hiru nesaan, Yukina Ruka, she, Hyacinth Uchiha, Sasuhina69, lavender, srilestari, little lily, lovely sasuhina, Anonym, HipHipHuraHura, keiko-buu89, sushimakipark, indhz.soekyuyoowonbinkyojunior, clareon, Salsabilla12, Ayaka nanda.
Dan semua teman-teman yang mengikuti, menyukai dan membaca cerita ini. Arigato minna!
NB. Jangan ragu untuk mengkritik, mengingatkan kalo ada typo nyelip, bahasa yang kurang pas, tanda baca, atau apalah itu silahkan saja. Dengan senang hati aku menerima semua masukan dan kritik. J J
