IV
It's Called Life
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo, gaje, rate M, CRACK PAIR, dll
.
.
.
.
.
.
Hinata bertepuk tangan memberikan semangat Kiba yang sedang adu panco dengan Shikamaru. Kelompok Sasuke saat ini sedang berkumpul di salah satu klub malam miliknya. Kiba yang hobi mengeluarkan tenaga selalu saja memiliki ide untuk menantang semua orang yang dia temui. Dan orang yang mendapat sial menerima tantangan Kiba adalah Shikamaru. Bukan Shikamaru namanya kalau dengan begitu saja melayani tantangan Kiba. Bagi Shikamaru mengeluarkan tenaga tanpa alasan yang jelas merupakan hal yang merepotkan. Entah apa yang dilakukan Kiba sehingga bisa memprovokasi Shikamaru untuk meladeni tantangannya.
Beberapa menit sudah berlalu namun Kiba masih berusaha keras untuk mengalahkan Shikamaru. Bahkan tangan Shikamaru tidak bergerak sedikitpun. "Kau..kau.. bagaimana bisa sekuat ini!" ucap Kiba terengah disertai bulir-bulir keringat yang mulai membasahi dahinya.
Shikamaru tersenyum miring mendengar ucapan Kiba, "kau salah memilih lawan, dasar bocah!". Dengan sekali hentakan Kiba kalah dari Shikamaru. Semua orang yang mengelilingi mereka mengeluarkan sorak-sorak mengejek Kiba.
"Sial! Ulang sekali lagi," umpat Kiba.
Shikamaru melenggang tidak menghiraukan Kiba yang kesal. Dia memilih pergi dan duduk di sofa yang selalu mereka tempati saat berkumpul disini daripada melayani tantangan Kiba.
"Yeah kau hebat Shikamaru," kata Hinata mengacungkan dua jempolnya lalu mengambil tempat duduk disamping Shikamaru.
"Kiba bukan tandinganku," aku Shikamaru bangga sambil menuang sake ke gelas.
Sasuke yang sedari tadi duduk tenang diseberang Shikamaru hanya mendecih. "Bangga karena memenangkan permainan anak kecil, memalukan!"
Shikamaru hanya mengangkat bahu kemudian menyalakan rokok. "Mana Sakura?" tanyanya kepada Sasuke.
"Kau kira aku pengasuhnya!"
Hinata melihat interaksi keduanya hanya tersenyum geli. Bagi Hinata, mereka berdua sudah seperti sepasang kekasih saat beradu pendapat. Belum pernah dia melihat orang selain Shikamaru yang mampu berbicara seakrab itu dengan Sasuke.
Shikamaru menghembuskan asap rokoknya, sejenak kemudian dia terkekeh. "Kau lebih mirip induknya, dia selalu mengikutimu kemanapun."
Sasuke mengosongkan gelas didepannya dengan sekali teguk tidak menanggapi perkataan Shikamaru.
"Kekacauan yang kita buat dua hari yang lalu sepertinya berbuntut panjang. Pihak kepolisian ikut campur dengan pihak lawan," lanjut Shikamaru. Dia memperhatikan Sasuke yang masih tidak menanggapi info yang dia utarakan. "Rencana kita berlanjut atau-"
"Sejak kapan kita takut dengan polisi?" Sasuke memotong perkataan Shikamaru.
"Aah benar juga, aku akan mengumpulkan yang lain."
Shikamaru beranjak meninggalkan Sasuke dan Hinata menuju ke kerumunan yang sedang menari di tengah ruangan. Hinata dan Sasuke sama-sama terdiam sepeninggal Shikamaru. Mata Hinata menjelajahi ruangan, sementara itu Sasuke sibuk dengan ponselnya.
"Sasuke"
"Hm"
"Boleh aku bergabung dengan mereka?"
"Siapa?" tanya Sasuke tanpa memindahkan pandangan dari layar ponselnya.
"Itu..." tunjuk Hinata dengan telunjuknya, namun Sasuke hanya bergumam menanggapi perkataan Hinata tanpa melihat siapa yang ditunjuk Hinata.
"Sasuke..." Hinata berpindah disamping Sasuke. Sedikit menarik lengan Sasuke untuk menarik perhatian pria itu. Begitu Sasuke menoleh kearahnya, Hinata lalu mengarahkan telunjuknya kearah para pole dancer. Sasuke menyerngitkan keningnya mengikuti arah telunjuk Hinata lalu memandang Hinata yang masih melihat para penari itu dengan pandangan kagum.
"Jangan harap!"
"Kenapa?" Hinata memasang wajah kecewa, menurutnya tidak ada yang salah dengan menari ditiang seperti itu. Mereka terlihat sexy dengan gerakan gemulai dan atraksi-atraksi ditiang itu.
"Seharusnya itu pertanyaan untukmu." Sasuke kembali memusatkan perhatiannya ke layar ponselnya.
"E-eto ~ mereka terlihat cantik dan- sexy" Hinata berbicara lirih sambil memilin ujung celana pendeknya.
Sasuke menarik ujung bibirnya mendengar alasan jujur dari Hinata. Dia memutar tubuhnya menghaap Hinata, "Jadi kau ingin diakui orang-orang kalau kau cantik dan sexy?"
Hinata terkesiap mendengar kata-kata Sasuke, buru-buru dia mengibaskan kedua tangannya "Bu-bukan seperti itu-"
"Kau sexy apalagi saat tidak memakai apa-apa dan saat kita-" Sasuke mengucapkan kata-kata itu tepat ditelinga disertai rangkulan dipinggang Hinata.
"Jangan diteruskan..." Hinata berteriak sambil menutup telinganya, memotong ucapan Sasuke.
"Ada apa?" ucap Shikamaru begitu dia dan yang lain sudah kumpul.
"T-tidak." Hinata sedikit menggeser duduknya menjauh dari Sasuke.
Shikamaru tidak bertanya lagi dan langsung duduk diikuti yang lainnya. Mereka membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak Hinata pahami. Setelah beberapa bulan tinggal bersama Sasuke, ada kalanya dia merasa tidak paham apa yang sebenarnya Sasuke dan kelompoknya itu lakukan. Kadang mereka seperti sekelompok anak-anak muda yang suka bersenang-senang, kadang mereka seperti para eksekutif muda yang berbicara bisnis. 'Huh, mereka membingungkan'
"...Hinata"
"..."
Shikamaru menjentikkan jarinya dimuka Hinata, membuat Hinata yang sedang melamun gelagapan. Semua orang yang duduk melingkar di sofa memandanginya.
"A-apa?"
"Kau mau membantu kan?", tanya Sai.
"H-ha? Membantu apa?"
"Dia bukan anggota kita." Sasuke angkat bicara, "Lagipula tidak mungkin kita meminta anak kecil untuk ikut rencana ini,"
"Aku bukan anak kecil," Hinata berteriak tepat ditelinga Sasuke, membuat Sasuke spontan mengkorek telinganya mengurangi denging yang ditimbulkan suara nyaring Hinata, "Kau sendiri yang bilang begitu, iyakan...iyakan.." lanjut Hinata seraya menunjuk wajah Sasuke.
Sasuke menyingkirkan jari Hinata yang masih menunjuk-nunjuk wajahnya sambil berdecak kesal. Dia meraih tengkuk Hinata sekilas mencium bibirnya sebelum pemiliknya kembali melancarkan protes. Begitu ciuman terlepas, wajah Hinata memerah menyadari tindakan mereka dilihat banyak orang.
Semua yang menyaksikan aksi Sasuke terbengong-bengong. Baru kali ini mereka melihat Sasuke mencium wanita dihadapan anak buahnya. Biasanya para wanitalah yang mendekap dan bergelayut pada Sasuke bukan sebaliknya.
"Kalau begitu sudah diputuskan. Hinata membantu kita," ucap Shikamaru memecah perhatian sementara yang lain mengangguk paham kemudian membubarkan diri.
"T-t-tapi-"
Tidak ada satupun yang memperdulikan Hinata yang membuka suara, mereka sudah memisahkan diri dan kembali bersenang-senang. "-tadi aku tidak mendengarkan dengan jelas," lanjutnya lirih. Hinata mendesah, menyesali aksinya yang sok ingin membantu. Padahal dia tidak tau cara kerja dari 'membantu' mereka. Sasuke pun tidak menunjukkan gelagat menjelaskan. Sial!
"I-ittai." Hinata memegang dahinya yang terkena sentilan jari Sasuke.
"Baka! Lain kali jangan sok unjuk diri." Sasuke bangkit dari sofa dan menarik tangan Hinata untuk mengikuti dirinya.
...
Karin menatap lelaki yang sedang memakai dapurnya dengan pandangan kesal. Entah ini yang keberapa kali usaha mengganti kode apartemennya gagal. Sosok di depannya selalu selangkah lebih maju. Pernah Karin berusaha melarikan diri namun semua sia-sia karena lelaki itu selalu bisa menemukan dirinya. Karin mendengus, melihat lelaki itu bersenandung lirih sambil sesekali mengaduk lalu mencicipi masakan yang dia buat.
"Kau pasti sudah tidak sabar mencicipi masakanku kan?" seulas senyum terbit dibibir lelaki itu.
"Semoga saja kau tidak menambah sesuatu dalam masakanmu yang membuat aku sakit perut, Uzumaki Naruto"
Jawaban ketus Karin membuat sang lawan bicara tertawa. "Aku lebih suka menambahkan sesuatu yang bisa membuat malam kita menjadi panas."
"Dasar gila! lebih baik aku mati kelaparan."
Lelaki yang dipanggil dengan nama Uzumaki Naruto kembali tertawa lalu menuangkan kare ke mangkuk yang sudah dia siapkan di depan Karin. "Apa perlu aku ingatkan kau juga Uzumaki, nyonya?"
"Apa ini bisa dimakan?" Karin memainkan sendoknya dalam mangkuk kare.
"Kalau tidak enak kau bisa menendangku keluar."
"Oke, kupastikan tendanganku mampu membuat kau keluar dari sini."
Karin mencicipi sedikit kare didepannya kemudian menyendok lebih banyak. Naruto mengambil tempat duduk diseberang meja. Dia hanya mengamati sambil tersenyum geli melihat ekspresi Karin yang sepertinya menyukai apa yang baru saja dia masak.
"Ah, sepertinya malam ini aku akan mendapat lebih dari sekedar pelukan hangat." ujarnya.
Karin sontak menghentikan suapannya mendengar ucapan Naruto, "kare ini tidak enak," rajuk Karin dengan sedikit membanting sendoknya. Namun hanya sejenak dia kembali meraih sendoknya dan melanjutkan kembali makan kare bersikap seolah tadi hanya gurauan.
"Wanita dan egonya." cibir Naruto.
Karin tidak lagi memperdulikan apapun yang diucapkan Naruto. Dia hanya merasa sangat lapar dan rasa kare yang tadi dia ragukan ternyata jauh dari kata tidak enak. Sebaliknya malah sangat enak. Dalam hati Karin membenarkan ucapan Naruto, 'wanita dan egonya.'
Disela-sela acara makannya Naruto dengan setia memandangi wajah Karin yang kelihatan sangat menikmati kare buatannya. Bagi Naruto, Karin hanya galak dibibir saja karena kenyataannya Naruto selalu dapat mendapatkan apa yang dia inginkan tidak peduli seberapa keras Karin mengusirnya. Dia akan kembali dan kembali lagi.
"Apa?!" bentak Karin begitu pandangannya dengan Naruto bertemu.
"Besok kita kembali ke Uzu, sudah cukup kau bermain-main ditempat Sasuke."
Karin membulatkan matanya kearah Naruto, nafsu makannya tiba-tiba hilang. "Tidak! Kau tidak bisa seenaknya memerintahku, brengsek!" sendok yang tadinya dipegang Karin melayang kearah Naruto.
Naruto sedikit menunduk menghindari lemparan Karin lalu beranjak mendekati Karin. Sedikit merendahkan tubuhnya, Naruto mendekap Karin dari belakang dan berbisik tepat ditelinganya disertai kecupan-kecupan disekitar leher belakang milik Karin, "Siapa yang meminta pendapatmu, sayang? Mau atau tidak aku tetap membawamu pulang besok."
Karin mendorong tubuh Naruto agar sedikit menjauh. Namun sia-sia karena posisi Naruto tidak berubah malah semakin erat menempel Karin. "Kau menggemaskan saat marah," Naruto mengangkat Karin dari kursinya, "Kita lanjutkan perdebatan ini di ranjang saja." Naruto menggendong Karin menuju kamar yang berada di ujung.
"Lepas! Lepaskan aku, dasar brengsek!" Karin meronta, menggerak-gerakkan kakinya mencoba turun dari gendongan Naruto.
"Diam atau kita melakukan diatas meja?" ucapan lirih Naruto yang disertai seringai kecil membuat Karin berhenti memberontak. Karin tau menolak Naruto hanya membuang-buang tenaga karena apapun yang sudah Naruto inginkan pasti dia dapatkan. Terdengar sedikit arogan, namun begitulah kenyataannya. Tidak jarang Naruto memojokkan Karin dengan kata-kata kasar dan ancaman tapi dia tidak pernah berkata keras.
"Turunkan aku, Aku bisa jalan sendiri!"
Naruto menggeleng, "aku suka seperti ini"
Karin kembali mendengus, memutuskan mengikuti saja apapun yang diinginkan lelaki yang menggendongnya itu.
...
Mobil yang dikendarai Sai melaju cukup kencang membelah jalanan yang lengang. Jam 2 dini hari seperti ini memang hal wajar jarang ada aktivitas di jalanan. Tentu saja kelengangan itu dimanfaatkan Sai untuk memacu kendaraannya diatas rata-rata. Sebelah kiri jalan terdapat sungai dan sebelah kanan area hutan yang semakin membuat suasana semakin sepi karena tidak ada pemukiman. Sasuke yang duduk disebelah Sai pun terlihat tidak peduli dengan keadaan diluar sedangkan Hinata dan Kiba yang berada di kursi belakang sesekali tertawa meributkan hal yang tidak penting.
Suasana dalam mobil masih ramai dengan obrolan-obrolan Hinata dan Kiba, Sai sesekali ikut membuat lelucon garing yang berakhir dengan cibiran dari keduanya. Sasuke sibuk dengan ponselnya tidak terlihat tertarik bergabung dengan obrolan mereka. Sesekali pandangan matanya mengarah ke depan. Memperhatikan jalanan yang lengang, yang menurutnya agak aneh. Biasanya masih ada beberapa mobil atau truk yang bersimpangan jalan. Kali ini sama sekali tidak ada yang bersimpangan atau melewati mobil mereka. Sasuke melihat spion yang berada disampingnya memastikan mereka tidak ada yang mengikuti.
Sai memperhatikan Sasuke yang melirik spion akhirnya berbicara, "Kau juga merasakan?"
"Hn,"
"Merasakan apa?" sahut Kiba penasaran.
Sai tersenyum sambil mengetuk-ketuk jarinya ke pelipis tanpa menjawab. Kiba menggaruk pipinya yang tidak gatal. Gagal paham apa yang dimaksud Sai. Hinata yang mengerti maksud Sai, menepuk pundak Kiba.
"Berpikir, Kiba."
Mendengar ucapan Hinata, Kiba mencebik dengan kata lain Sai meremehkan kinerja otaknya yang kurang cepat berpikir. Belum sempat Kiba protes, mobil yang mereka kendarai direm mendadak karena jalan di depan ditutup oleh mobil-mobil yang berjajar rapi. Sasuke tersenyum miring, dugaannya tepat. Sai menggeretakkan jari-jari tangannya bersiap menghadapi meraka. Hinata dan Kiba hanya terbengong kemudian saling pandang melihat pemandangan di depan.
"Hinata-" begitu namanya dipanggil Hinata melihat kearah Sasuke, "-kau tetap didalam". Takut-takut dia mengangguk.
Beberapa orang berpakaian hitam dilengkapi dengan tongkat bisbol mendatangi mobil mereka. Tanpa basa-basi orang-orang itu mulai memecahkan kaca depan sambil berusaha membuka pintu mobil.
Sai melihat kearah Sasuke dan memberi tanda dengan anggukan. Mereka langsung membuka pintu dan menghajar orang-orang yang berkerumun. Sai mengeluarkan pisau lipat yang selalu dia simpan dikantong. Menghujam ke musuh tanpa ampun. Begitu pula Kiba, senyum tak lepas dari bibirnya. Dia merasa mendapat jackpot dengan memukul jatuh lawan-lawannya. Dan Hinata, dia meringkuk di dalam mobil dengan menutupi kepalanya dengan kedua tangan.
Sasuke melirik jajaran mobil yang menghalangi jalan didepannya. Sambil terus menendang dan memukul lawannya, mengamati salah satu mobil dengan kaca yang setengah terbuka. Seakan si penumpang ikut menikmati perkelahian dari dalam mobil. Sekilas Sasuke melihat orang itu, seorang yang dia kenali. Orang yang selalu menutupi mata kanannya. Seulas seringai terbit diwajah orang itu disertai ibu jari yang mengacung kebawah, kala pandangan matanya dan mata Sasuke bertemu. Sasuke merangsek maju menyadari orang itu adalah Shimura Danzo.
Rasanya amarah Sasuke langsung terkumpul di kepala seolah ingin meledak begitu tahu Danzo lah orang yang terang-terangan menghadang dan dengan mengerahkan anak buahnya untuk menghajar Sasuke. "Danzo keparat!" maki Sasuke ditengah keroyokan anak buah Danzo. Sedangkan Danzo tertawa melihat lawan didepannya kalah jumlah menghadapi anak buahnya. Sejenak kemudian terlihat Danzo berbicara kepada sopirnya dan mobilnya bergerak meninggalkan arena keributan itu.
Sasuke melampiaskan amarahnya. Tidak segan-segan dia mematahkan leher lawannya. Tidak peduli lawannya mati. Dari arah belakang Sasuke mendengar jeritan Hinata. Seorang yang memakai pakaian hitam menarik rambut Hinata untuk keluar dari mobil. Sai menghalangi dengan menjegal lawannya dan menginjak dada orang itu lalu menjauhkan Hinata dari jangkauan lawan. Sai menghalau Hinata dengan tangan kirinya sementara tangan bersiap menghunus dengan menggunakan pisau lipat.
Hinata memegang rambutnya yang masih terasa sakit. Sedikit beringsut lebih mendekat dengan punggung Sai. Belum pernah dia melihat aksi keroyokan brutal seperti ini secara langsung, lewat filmpun jarang. Hinata menghindari film action yang mengandalkan otot dan darah dimana-mana. Dia lebih menyukai film fantasi atau komedi romantis ala tangled dimana seorang pemuda berhasil menyelamatkannya dari puncak yang mengisolasi dirinya.
"Hinata-chan, jangan jauh-jauh dariku," Sai berujar dengan wajah tenangnya.
"B-baik." Hinata melihat sisi wajah Sai yang lebam dan sedikit mengeluarkan darah, kontras dengan kulitnya yang putih pucat. "K-kau tidak apa-apa Sai?"
Mendengar namanya disebut, Sai sedikit menolehkan kepalanya ke belakang. "Maksudmu luka ini?" Sai tersenyum menunjuk sisi wajahnya yang lebam. Hinata mengangguk membenarkan. "Ini bukan masalah besar."
Mata Hinata mencari sosok Sasuke dan Kiba. Kiba terlihat sedikit kepayahan dengan lawan yang berbadan besar. Baju atasannya sudah tidak berbentuk utuh bagian depan dan belakang terkoyak. Sasuke yang berada paling jauh, diaterlihat baik-baik saja. Dengan tangkas dia menangkis dan membalas serangan lawan-lawannya.
Dorr... dorr.. dorr..
Hinata dan Sai sontak melihat asal suara tembakan itu. Rentetan suara muntahan peluru dari arah mobil yang menghalangi jalan. Sekitar 5 orang mengarahkan senapan laras panjang kearah mereka. Sasuke berlindung dari hujaman peluru dengan menggunakan tubuh lawan yang berhasil dia jadikan tameng.
"Berlindung!" teriak Sasuke sambil berlari membawa mayat yang dijadikan perisai kearah mobil mereka.
Sai menarik Hinata kebagian belakang mobil berjongkok dari serbuan hujan peluru. Kiba pun melakukan hal serupa.
"Kita kalah jumlah dan senjata," ucap Sasuke dibawah rentetan peluru yang menghujani mobil mereka. "Hanya akan mati konyol kalau kita tetap seperti ini. Kita manfaatkan sungai untuk menghindar." Kiba dan Sai mengangguk mendengar ucapan Sasuke.
Begitu hujan peluru berhenti mereka berempat berlari kearah sungai. Mereka melompat ke sungai yang gelap tanpa penerangan. Sontak tindakan mereka, membuat lawan yang menggunakan senjata api berlari mengikuti sampai batas pinggir sunagi dan mulai menembak secara membabi buta kearah sungai.
...
Shikamaru berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Sasuke. Hanya suara dari operator yang menyapa Shikamaru. "Sialan!"
"Suigetsu, bereskan tikus-tikus ini bersama Choji. Aku akan menyusul Sasuke. Sepertinya ada yang tidak beres." Shikamaru berjalan menghampiri Juugo, "Kau ikut dengan ku."
Setelah pertemuan internal mereka selesai, Sasuke yang berniat pulang membatalkan rencananya karena mendapatkan pesan misterius terkait kesehatan Uchiha Madara. Sasuke dan rombongan langsung bertolak ke Suna, tempat peristirahatan Madara untuk memastikan kebenaran pesan itu.
Shikamaru dan yang lain mendapat tugas mencari info dengan mendatangi beberapa orang yang mereka curigai terkait penyerangan klan Uchiha. Mendatangi disini bukan seperti kunjungan bertamu secara formal, tapi dengan cara mereka.
Bukti-bukti yang Shikamaru kumpulkan mengarah kedugaan lain. Kabar ini harus secepatnya disampaikan kepada Sasuke. Shikamaru menghirup rokok kuat-kuat dan menghembuskan dengan penuh rasa kesal. Dugaannya, pesan yang diterima Sasuke merupakan jebakan juga. Dia berharap Sasuke dan yang lain tidak mendapat masalah berarti.
...
Hinata masih memegang cangkir yang berisi ocha hangat tanpa minat untuk meminumnya. Perasaannya masih campur aduk. Senang karena bisa lolos sedih karena harus melihat salah satu dari mereka terluka parah.
Sesaat setelah mereka terjun kesungai, rentetan peluru yang ditembakan secara random mengenai Sai. Ada sekitar dua tembakan yang bersarang di bahu dan punggung kanan Sai. Mereka tidak menyadari Sai terkena peluru musuh, sampai mereka tiba diseberang sungai dan Sai yang tidak kunjung menepi. Hal itu membuat Kiba dan Hinata kelabakan mencari Sai. Sasuke lalu memaksakan dirinya kembali masuk ke sungai menelusuri keberadaan Sai. Begitu menemukan Sai, Sasuke menyeretnya ke tepi sungai membantu mengeluarkan air yang sempat tertelan dengan menekan dada Sai dan Kiba yang memberikan nafas bantuan. Begitu Sai mendapatkan kesadarannya Sasuke menyuruh Kiba memapah Sai.
Beruntung mereka menemukan klinik kecil setelah berjalan hampir 30 menit. Setelah mengetuk pintu -lebih tepatnya menggedor- dokter pemilik klinik bersedia membukakan pintu. Dokter setengah baya yang awalnya berwajah kesal berubah menjadi ramah ketika melihat Kiba yang bertelanjang dada memperlihatkan tato yang memenuhi sebagian area pundak dan dadanya. Seperti pandangan orang pada umumnya, tato dianggap sesuatu yang berhubungan dengan mafia atau kriminalitas. Mereka enggan berurusan atau menghambat urusan para mafia, karena takut akan kemarahan mafia yang tidak segan-segan membunuh.
"Persediaan darah diklinik kami tidak mencukupi, tuan. Kita harus mendapatkan donor darah yang sesuai," ucap sang dokter begitu selesai memeriksa luka Sai. Sasuke dan Kiba yang mendapat luka tidak begitu parah hanya duduk sofa. "Saya belum bisa mengeluarkan peluru dari tubuh pasien sampai mendapat donor darah yang sesuai." Lanjut si dokter.
"Kau bisa mengambil darahku dan Kiba"
"Tapi golongan darah kalian tidak cocok, tuan."
Hinata yang berada diruang tunggu luar mendengar pembicaraan Sasuke dan dokter. Hinata beranjak memasuki ruangan. "Kenapa?"
"Sai butuh transfusi darah," jawab Kiba yang duduk di samping Sasuke
"E-eto, dokter bisa memeriksa darahku. Siapa tahu cocok"
"Baiklah, mari saya periksa dulu."
"Tunggu!" Sasuke mengangkat tangan dan menunjuk kearah Hinata "dia tidak belum cukup umur untuk donor darah."
Dokter yang tadinya beranjak menyiapkan peralatan berhenti, memperhatikan Hinata dari ujung kepala sampai kaki seakan melakukan observasi. Sedetik kemudian sang dokter menghela nafas, "Kalau saya tidak salah nona berusia sekitar 15 tahun, benarkan?"
"Apa?" Kiba yang sedari duduk dengan malas disamping Sasuke terlonjak kaget mendengar ucapan sang dokter. "Yang benar saja? Selama ini aku kira kau seumuran denganku" gumam Kiba.
"E-eto..." Hinata menatap Sasuke meminta bantuan untuk menjelaskan, namun Sasuke tidak bereaksi apapun. Hinata menggaruk pipi kirinya yang tidak gatal, "I-itu... usia hanya angka kan.. ha..ha..ha... d-dan sebentar lagi a-aku akan berulang tahun yang ke 16"
"Sial! Jadi kau baru 15 tahun? berarti benar kata Shikamaru," Kiba berteriak kaget.
Dari awal kedatangan Hinata, tidak ada yang tahu mengenai latarbelakang Hinata selain mengetahui dia bermarga Hyuga.
Sasuke yang merasa terganggu sontak menendang kaki Kiba. "Berisik, tutup mulutmu itu! Dokter dimana teleponmu"
"Sebelah sini Tuan."
Sasuke tidak mempedulikan erangan kesakitan Kiba yang terduduk mengelus kakinya. Sementara Hinata hanya berdiri canggung disamping Kiba.
...
"Sebentar lagi klan Uchiha akan segera habis masanya," suara tawa disertai bunyi denting gelas berpadu menjadi satu. Tiga orang yang sedang duduk mengelilingi meja dengan motif ukir-ukiran, sedang berpesta merayakan kemajuan kerjasama mereka. Mereka -Hiruzen Sarutobi, Hyuga Mei dan Oonoki- sepakat untuk bersama-sama menghancurkan klan Uchiha.
Hiruzen Sarutobi, lelaki tengah baya yang memakai hakama dengan lambang monyet dipunggungnya kembali mengisi gelasnya yang sudah kosong. Di sampingnya, nyonya besar dari klan Hyuga berpenampilan anggun menghisap rokok yang sedari tadi bertengger di sela jarinya. Satu orang lagi berperawakan chibi, Oonoki mengikuti Sarutobi dengan mengisi gelasnya.
Disini mereka membuat rencana yang satu persatu sudah mereka jalankan, salah satunya kekacauan di keluarga besar Uchiha.
"Satu-satunya pilar yang masih berdiri kokoh hanya Uchiha Fugaku dan keturunannya." timpal lelaki yang berpostur chibi, Oonoki.
"Tenang saja, Danzo yang bertugas membereskan Fugaku dan anak-anaknya." Hyuga Mei menjawab sambil menghembuskan rokoknya perlahan.
"Shimura Danzo?" Sarutobi tertawa kecil mengingat nama Danzo, "Dia seperti bayangan yang sulit dipegang," lanjutnya.
"Setidaknya hanya dia yang bisa diandalkan. Mengingat seberapa terobsesinya Danzo terhadap Uchiha." Hyuga Mei kembali berujar.
Oonoki hanya mengangguk membenarkan ucapan Mei. Mereka bertiga kembali terdiam berkutat dengan pikiran masing-masing. Asap rokok dan bau sake memenuhi ruangan bernuansa western itu.
"Bagaimana kabar suamimu dan anak gadisnya?" Oonoki memecah keheningan diantara mereka. "Desas desus yang beredar, anak gadisnya menghilang."
Hyuga Mei tidak langsung menjawab pertanyaan Oonoki. Dengan anggun dia menghembuskan asap rokok perlahan, lalu menggilas ke asbak. Kembali mengambil rokok baru dan menyalakannya. "Lebih baik dia menghilang dan tidak pernah muncul lagi. Dia hanya membuatku repot saja."
"Dasar wanita kejam" Oonoki terkekeh. "Kau tahu, dari dahulu Hyuga dan Uchiha memiliki ikatan yang aneh?" lanjut Oonoki.
Mei hanya mengangkat bahu tidak peduli. Oonoki kembali melanjutkan ucapannya sambil menerawang, "Sekeras apapun para tetua menasihati anggota klannya agar saling menjauh, pada akhirnya banyak yang terikat takdir."
"Apa kaitannya dengan urusan kita," Sarutobi mendengus mendengar perkataan Oonoki yang terkesan berbelit-belit.
"Aku hanya sedikit. Yah, hanya sedikit khawatir nantinya Hyuga akan berbalik berkhianat dari kita." Oonoki tergelak begitu tatapan tajam Hyuga Mei menghujam kearahnya.
Mei memandang tanpa minat kearah Oonoki. "Apa maksudmu sebenarnya, Oonoki?"
"Beberapa hari yang lalu anak buahku mengatakan ada seorang wanita muda bermata perak berjalan disamping Sasuke."
"Menurutmu wanita muda itu putri Hyuga Hiashi?" tanya Sarutobi.
"Kemungkinan besar seperti itu."
"Kalau itu benar, anak itu pasti sudah menjadi pelacur si Uchiha itu."
"Kau berniat memberitahukan kepada suamimu?" Oonoki melirik Mei.
"Tidak ada untungnya buatku. Cepat atau lambat Hiashi juga pasti tahu keberadaan anaknya." Mei mengakhiri pembicaraan tentang keluarganya.
...
Mobil yang dikendarai Juugo berhenti tepat di depan klinik seperti yang diinstruksikan Sasuke lewat telepon. Buru-buru Juugo dan Shikamaru memasuki klinik yang masih tertulis 'closed' dibagian pintu masuk. Hinata meneriakkan nama Shikamaru dan Juugo begitu mereka sampai didalam. Membuat semua orang termasuk dokter dan asistennya menolehkan kepala kearah tamu mereka.
"Bagaimana keadaan Sai?"
Hinata menunjuk bilik yang tertutup tanpa menjawab pertanyaan Shikamaru. Shikamaru tidak langsung membuka bilik tapi menemui Sasuke terlebih dahulu diikuti Juugo dan Kiba. Ekspresi Sasuke berubah serius mendengarkan laporan Shikamaru. Hinata sendiri tidak berniat mengetahui apa yang mereka diskusikan.
Begitu selesai dengan pembicaraan mereka, Sasuke mengambil duduk disamping Hinata sedangkan Kiba dan Shikamaru duduk didepan Hinata. Juugo yang kebetulan memiliki golongan darah sama dengan Sai menjalani donor darah.
"Sakura sudah menghubungimu?" tanya Sasuke.
"Belum. Ponselnya tidak aktif."
Ponsel Shikamaru kembali berdering sebelum dia sempat melanjutkan ucapannya. Shikamaru langsung menjawab begitu mengenali nama yang terpampang dilayar ponselnya.
"Apa?" suara Shikamaru mengeras matanya memandang kearah Sasuke. Sasuke menyerngitkan dahinya melihat ekspresi terkejut Shikamaru. "Shino, kau cari Sakura sampai ketemu." lanjutnya seraya mematikan sambungan telepon.
"Ada apa dengan Sakura?"
"Shino melaporkan gedung apartemen Sakura terbakar. Sumber kebakaran dari apartemen yang ditempati Sakura. Saat ini Shino sedang mencari Sakura."
"Dasar keparat!" maki Sasuke. "Kiba, kau disini dengan Juugo dan Sai. Aku akan memastikan keadaan Sakura dengan mata kepalaku sendiri."
"A-aku ikut."
Hinata mengekori Sasuke dan Shikamaru beranjak keluar dari klinik.
...
Hari sudah menjelang pagi begitu mereka sampai di gedung apartemen Sakura. Mobil mereka parkir agak jauh dari lokasi karena terlalu banyak orang berkumpul disana jadi sulit untuk bisa mendekat. Polisi juga masih menjaga ketat dan melarang siapapun yang tidak berkepentingan melintas. Sasuke mengepalkan tangannya erat-erat meredam emosi yang memuncak. Hinata yang berada disamping Sasuke menatap ngeri bangunan di depannya. Membayangkan nasib Sakura berjuang melewati kobaran api yang belum padam sepenuhnya. Sedangkan Shikamaru berpencar berkeliling sekitar gedung untuk mencari informasi mengenai Sakura.
"Sasuke, Sakura pasti selamat kan?" kata Hinata dengan suara bergetar menahan tangis, prihatin dengan kejadian yang menimpa Sakura. Dia sudah menganggap Sakura seperti kakaknya sendiri.
Sasuke membalikkan badan menjauhi orang-orang yang berjubel tanpa menjawab pertanyaan Hinata. Hinata mengikuti Sasuke sambil sesekali menyusut airmatanya yang lolos. Mata Sasuke mencari-cari keberadaan Shikamaru. Dia melirik sisi belakang yang menyisakan jarak dengan Hinata. Tanpa banyak berkata Sasuke mengisyaratkan Hinata mendekat. "Jangan sampai terpisah." Ucap Sasuke begitu Hinata di sampingnya. Tangannya meraih tangan Hinata lalu menggandeng erat.
"Sasuke-" Hinata menggoyangkan genggaman Sasuke. "-disana." Telunjuk Hinata mengarah ke gang sempit dibelakang gedung aparetemen Sakura.
Mata Sasuke mengarah ke segerombolan laki-laki yang sedang dimarahi wanita berambut pink. "Sakura." gumam Sasuke.
Hinata bergegas berlari menghampiri Sakura dengan menarik tangan Sasuke yang membuat Sasuke ikut berlari. "Sakuuraaaa." Hinata berteriak nyaring hingga membuat Sakura yang sedang berkacak pinggang menoleh dan melambaikan tangan ke arah Hinata.
"Hinataa.."
Mereka berpelukan seperti baru pertama berjumpa setelah lama berpisah. "Yokatta, kau baik-baik saja Sakura," Hinata masih memeluk erat Sakura.
Sakura mengelus punggung Hinata, "Hei…kau jangan remehkan kemampuanku, Hinata-chan."
"Hentikan drama kalian," suara tegas Sasuke membuat Hinata dan Sakura mengurai pelukan mereka. "Siapa pelakunya?" tanya Sasuke langsung.
Sakura membenahi jas yang tersampir di bahunya. Menutupi pakaian tidur yang mengekspos bahunya yang terbuka. Sakura menaikkan bahunya pertanda tidak tahu. "Tau-tau mereka berada di dalam kamarku saat aku tertidur. Aku bahkan bertarung dengan mereka tanpa menggunakan alas kaki" Sakura menunjuk kakinya kemudian melanjutkan, "tiga orang yang berhasil aku lumpuhkan memiliki tato aneh di lengan kiri. Belum pernah aku melihat bentuk tato seperti itu."
"Lambang sebuah klan?" sela Shikamaru.
"Aku tidak begitu yakin." Sakura menggeleng pelan. "Shino dan tiga orang anak buahnya sedang mengejar beberapa musuh yang masih tersisa."
"Shika, perintahkan Shino untuk menangkap mereka hidup-hidup." Perintah Sasuke.
Shikamaru mengangguk lalu menelpon Shino. Begitu ponsel tersambung Shikamaru mengucapkan perintah sesuai ucapan Sasuke.
"Berita buruk. Musuh yang tertangkap memilih bunuh diri."
"Sialan!" kita semua kembali ke markas" ucap Sasuke.
….
Hinata memperhatikan keadaan rumah Sasuke yang sering disebut markas kini menjadi sedikit ramai dengan banyaknya orang yang berkumpul di lantai 1. Entah apa yang mereka bicarakan. Semenjak kembali Sasuke langsung mengumpulkan semua anak buahnya memberi instruksi yang sama sekali tidak Hinata pahami. Hinata memilih mengurung diri di kamar Sasuke dan tidur selama mungkin.
Daripada harus bertemu dengan banyak orang di bawah, Hinata memutuskan menemui Sakura yang sekarang ini menginap disini. Kamar yang ditempati Sakura, berada di bagian ujung lantai dua sebelah kanan. Bagian kanan dari lantai dua terdapat beberapa kamar yang sering ditempati oleh pengikut setia Sasuke. Sedangkan kamar Sasuke sendiri berada di ujung sebelah kiri.
Sakura satu-satunya anggota yang sangat jarang menginap di markas kecuali ada hal penting yang mendesak. Bahkan semalam apapun, Sakura selalu pulang ke apartemennya diantar Shikamaru. Apabila harus menginap dia lebih memilih berada di kamar Shikamaru yang sering kosong.
Setiba di depan pintu, Hinata berdiri mematung tangan kanan yang sedianya mengetuk pintu hanya mengambang di udara. Pemandangan dari celah pintu membuatnya terpaku. Sakura dan Shikamaru sedang berciuman mesra dengan posisi yang sangat intim. Sontak Hinata membungkam mulutnya meredam pekikan kaget dan mundur dengan pelan-pelan, kemudian berlari secepat mungkin kembali ke kamar Sasuke.
Dada Hinata masih berdebar keras dan nafasnya masih tersegal-segal begitu dia sampai di kamar. Dia berdiri bersandar dipintu yang tertutup.
"Ada apa?" tanya Sasuke yang baru keluar dari kamar mandi dengan masih mengusap rambut basahnya dia mendekati lemari pakaian.
Hinata tidak langsung menjawab tapi mengambil air minum yang selalu tersedia di meja pojok kamar. Lalu terduduk di lantai.
"Sasuke..."
"Hm"
"Aku tadi... melihat Sakura dan Shikamaru berciuman," ucap Hinata lirih. Dia menutup mukanya karena terbayang pemandangan tadi.
Sasuke yang sedang memilih kaos menghentikan gerakannya. Memutar tubuhnya dan mendekati Hinata yang masih menutup wajahnya. "Kau ingin berciuman seperti mereka, hm?" tanya Sasuke sambil tersenyum jahil.
Hinata membuka tangan yang menutupi wajahnya menatap Sasuke yang berjongkok di depannya. "Kau tidak marah tahu mereka bermesraan?"
"Untuk apa aku marah. Dasar bodoh." Sasuke menarik tangan Hinata untuk berdiri. "Seperti apa mereka berciuman?" tanya Sasuke yang memeluk erat Hinata. Dagu Sasuke bertumpu pada puncak kepala Hinata.
"Shikamaru mencium Sakura diatas tempat tidur."
Jawaban polos Hinata membuat Sasuke menyeringai lalu mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. "Kutunjukkan yang lebih baik dari itu."
.
.
.
.
.
-Bersambung-
.
.
.
.
Saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk teman-teman yang telah meninggalkan jejak :
Green oshu, Angel821, Sushimakipark, nona Mesha new, HipHipHuraHura, sasuhina69, lovely sasuhina, ana, Rosella Lavender, clareon, Mo, Uchiha Cullen738, Anonym, hyacinth uchiha, Luckyi, Hyugahime, Ayaka nanda, Ozel-Hime, hinahimechan, mikyu, narulita, Taomio, putri94, sasuhina lover (maaf jika ada nama peninggal jejak yang kelewatan tertulis J) serta Semua orang yang telah membaca, mengikuti dan memfavoritkan cerita ini.
Terimakasih telah mampir dan meninggalkan jejak :-*
NB. Ditungu kritik, saran, atau apapun itu JJJ
21/9/16
