"S-s-sakit paman," Hinata beringsut ke belakang menjauhi pamannya yang bersiap mencambuki lagi. Pergerakan Hinata terhenti saat punggungnya tembok. Perih di sekujur tubuhnya semakin menjadi ketika dinginnya tembok menyentuh kulitnya. Baju terusan yang Hinata pakai sudah tidak utuh lagi, terutama bagian belakang terkoyak akibat cambukan.
Tubuh Hinata jatuh terduduk karena tidak kuat menahan sakit. Sang paman tersenyum tanpa dosa sambil mendekat. Cambuk yang berada di tangannya seakan berteriak girang karena mendapat mangsa.
Ctaaar, cambuk itu mengenai paha Hinata. "Aaakh..."
"Hi-na-ta, apa kau tau kesalahanmu, hm?" Hinata menggeleng dengan ketakutan sesekali matanya melirik cambuk yang masih teracung.
Sang paman tertawa terbahak-bahak melihat kabut takut di mata gadis itu, lalu berjongkok mensejajarkan dirinya. "KAU.." bentakan kasar tepat di wajah Hinata. "KAU... KAU... KAU YANG MEMBUATKU SEPERTI INI," teriaknya lagi. Selanjutnya tamparan melayang ke pipi Hinata.
Hinata menangis sambil meraba pipinya yang panas. Rasa asin terasa di dalam mulutnya. Tenggorokannya terasa tercekat, semua kata-kata sangkalan kembali tertelan dalam ketakutannya. Dia bahkan tidak berani menatap mata sang paman. "SIAPA YANG MENYURUHMU BERBICARA DENGAN LAKI-LAKI LAIN, HAH?"
"A-aku..a-aku..," Hinata teringat kejadian tadi sore saat tanpa sengaja dia menyapa tetangga yang lewat di depan rumah. Hanya sekedar menyapa dan tersenyum tidak lebih.
Bruugh, kepalan tangan menghantam dinding di samping Hinata. Hinata memejamkan matanya. "Bangun," suara sang paman berubah lembut. Menarik tangan Hinata agar berdiri lalu memeluk erat. "Aku tidak mau berbagi, Hinata."
Tanpa disadari, Hinata menahan nafasnya. Bukan karena pelukan erat yang dia terima, tetapi dia menebak-nebak apa yang selanjutnya akan pamannya lakukan. Kepribadian yang sering kali berubah membuat Hinata harus waspada dan takut membantah.
"Hinata..Hinata..," gumaman lirih pamannya membuat bulu kuduk Hinata meremang. Perlahan tangan sang paman menyusup ke dalam pakaiannya. Dalam hati ingin sekali dia memberontak dan melarikan diri dari cengkraman pamannya. Namun, semua itu dia tepis saat sadar bahwa melawan pamannya tidak akan membuahkan hasil. Bahkan ayah dan ibu tirinya tidak akan percaya dengan aduannya.
Semenjak Hiashi meresmikan hubungan dengan Mei, Hinata dititipkan kepada Choujuro. Pertama kali bertemu dengan Hinata yang saat itu masih berusia 13 tahun, Choujuro langsung tertarik untuk memiliki Hinata.
"Hi..na..ta...hi..na..ta..," Choujuro masih menggumamkan nama Hinata sambil sesekali mencium pundak dan leher Hinata. Posisi mereka masih menempel erat. "Kau sangat cantik, Hinata. Tidak akan aku biarkan orang lain merebutmu."
.
.
.
V
It's Called Life
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo, gaje, rate M, CRACK PAIR, dll
.
.
.
Hinata terbangun dari tidurnya. Nafasnya tersegal. Choujuro, nama itu muncul dalam mimpinya lagi. Mimpi buruk yang pernah coba dia lupakan.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Hinata. Rasanya enggan beranjak dari tempat tidur, apalagi setelah kegiatan bersama yang dilakukan dengan Sasuke semalam menguras tenaganya. Berjalan ke pintu pun serasa bermeter-meter jauhnya. Ketukan kembali terdengar. "Iya, sebentar." Hinata setengah berteriak untuk memberitahukan bahwa dirinya sudah bangun.
Dia menyingkap selimut yang masih membelit tubuhnya. Mencari celana piyamanya yang raib entah dimana. Saat ini Hinata hanya memakai atasan piyama saja. Hinata berdecak kesal, celananya tidak juga ketemu. Untung saja atasan piyama panjangnya mencapai setengah paha.
"Iya..iya.."
"Ohayou, Hinata chan," Sakura menyapa dengan ceria begitu Hinata membuka pintu.
"Ohayou Sakura,"
Sakura menyerngitkan keningnya melihat penampilan Hinata dari atas sampai ke bawah. "Kuso! Sasuke kun kejam sekali terhadapmu," Sakura menggeleng-geleng sambil melipat tangan di dadanya. Sedikit melongokkan kepala ke dalam kamar. "Aku ingin memastikan sendiri kenapa Sasuke melarang siapapun membangunkanmu, Ckckckck. Ternyata sekarang aku tau alasannya."
"A-apa maksudmu, Sakura." Hinata menggaruk pipinya canggung, tidak mengerti apa yang dimaksud Sakura. Memang selama ini tidak pernah ada yang membangunkan dirinya, sesiang apapun dia bangun tidak ada yang bertanya langsung atau sekedar basa-basi bertanya. Homura pun saat ditanya mengapa tidak membangunkan Hinata, dia hanya menjawab sesuai perintah Sasuke. Semenjak itu, Hinata tidak pernah bertanya-tanya lagi.
"Pasti Sasuke yang membuatmu seperti ini," telunjuk Sakura naik turun menunjuk penampilan Hinata yang acak-acakan. "Hah, lebih baik kau membersihkan diri dulu. Aku tunggu kau dibawah."
Sakura berlalu begitu saja meninggalkan Hinata yang masih belum sepenuhnya paham. Otaknya belum sepenuhnya mencerna apa yang diucapkan Sakura. Salahkan saja Sasuke yang membuatnya harus begadang sampai hampir pagi menjelang. Sehingga rasa kantuknya belum hilang. Ups, tapi mana berani Hinata menyalahkan Sasuke.
Hinata mempercepat acara mandi paginya. Dia tidak ingin membuat Sakura menunggu. Mandi yang biasanya menghabiskan waktu hampir 1 jam termasuk berganti pakaian dan merapikan diri kini selesai kurang dari 30 menit. Hinata mengikat rambutnya secara asal sambil berjalan menuruni tangga. Mendekati Sakura yang duduk di sofa dengan posisi membelakangi. Sakura menatap serius tayangan berita di televisi sampai tidak menyadari Hinata duduk di sampingnya.
"Kau serius sekali," Hinata menjentikkan jarinya tepat di muka Sakura.
Sakura berdecak lalu mengambil remote mematikan televisi. "Aku bosan tidak ada kegiatan di sini. Temani aku jalan-jalan, ya?"
"Bukannya kau harus ke rumah sakit?"
"Aku mengambil cuti," Sakura menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Sebenarnya itu perintah Sasuke juga, sih."
"Apa tidak sebaiknya kita di rumah saja? Bagaimana kalau ada yang berniat jahat pada kita di jalan?"
Sakura tergelak, "Jangan naif Hinata. Kau sekarang ini juga hidup di lingkungan penjahat. Jadi, bertemu satu, dua atau sepuluh orang jahat pun bukan masalah. Tinggal ucapkan saja nama Uchiha."
"E-eto.. apa nama Uchiha ditakuti?"
Sakura mengedikkan bahunya, "Tidak juga, yang jelas Uchiha disegani dan juga dimusuhi."
"Menakutkan."
"Apa yang menakutkan? Bukankah kau sendiri yang meminta tinggal disini." Sindir Sakura.
Hinata mengangguk malu menanggapi sindiran Sakura. Benar apa yang dikatakan Sakura, dirinya lah yang memohon untuk diijinkan tinggal disini.
Sakura tertawa geli melihat Hinata yang malu-malu karena sindirannya. "Ayo kita belanja saja,"
...
Neji masih setia duduk diam berhadapan dengan Hyuga Hiashi yang sedari tadi masih membaca dokumen yang itu-itu saja. Neji tahu pamannya itu hanya mengulur waktu untuk mendengarkan dia berbicara.
"Paman," Neji berkata lirih berusaha mengalihkan perhatian Hiashi. "Hinata menghilang dari kediaman Choujuro."
Hiashi menghela nafas kasar lalu membanting dokumen yang sedang dibacanya. "Kalau itu pilihnya kenapa jadi kau yang repot, hah?"
"Apakah bagi paman Hinata tidak berharga?" Neji menatap pamannya dengan raut wajah tenang. Menghadapi pamannya dengan emosi sama saja menyiram api dengan bensin, membakar habis semua yang didekatnya.
"Kau sudah tahu jawabannya Neji," Hiashi menurunkan volume suaranya beranjak meninggalkan ruangannya.
Neji ikut berdiri dan berkata, "bukan salah Hinata kalau paman ditinggalkan oleh wanita yang anda cintai." Ucapan Neji menghentikan langkah pamannya.
"Kehadiran Hinata di dunia ini adalah kesalahan paman sendiri. Lantas paman dengan tanpa rasa bersalah menimpakan semua itu kepada Hinata, bukankah itu lucu." Neji berhenti sejenak memperhatikan perubahan ekspresi pamannya itu. Muka Hiashi merah padam mendengar ucapan keponakannya itu.
"Paman sendiri yang membuat skandal dengan menghamili anak asisten keluarga Hyuga dan membuat istri paman bunuh diri. Ini adalah kesalahan paman. Jangan melampiaskan kepada Hinata yang tidak tahu apa-apa."
Hiashi menghampiri Neji melayangkan tamparan di pipi keponakannya itu. Lancang. Itulah kata dibenak Hiashi. Belum pernah ada yang membahas masa lalunya dan menyalahkan dirinya seperti Neji barusan. Sebagai kepala dari klan Hyuga dirinya merasa digurui oleh keponakan yang tidak tahu sopan santun.
Neji tertawa sinis sambil mengusap pipinya. "Apa ada yang salah dari kata-kataku paman?"
"Itu urusanku, kau tidak perlu ikut campur." Bentak Hiashi.
Pundak Hiashi ditepuk oleh Neji sambil berlalu. "Kalau begitu jangan sampai anda mencampuri urusan Hinata lagi, paman. Aku tidak akan membiarkan Hinata menderita lagi."
Begitu pintu ruangan tertutup, Hiashi kembali duduk di kursi kebesarannya, meraih cerutu yang selalu terselip dibalik jasnya. Menghisap cerutu adalah kebiasaan yang tidak bisa hilang dari dirinya saat sedang gelisah. Hinata. Nama anak yang selama ini dia telantarkan. Berada dalam satu atap namun tidak pernah dia perlakukan selayaknya anak. Bahkan setelah dia menikahi Mei, Hinata dia titipkan kepada Choujuro yang merupakan adik tiri dari Mei.
Sayuri adalah istri yang begitu dia cintai. Begitu memuja dan mendukung apapun yang dilakukan sang suami. Namun semua berubah semenjak kedatangan salah satu mantan asisten keluarga Hyuga yang membawa bayi yang diakuinya sebagai anak Hiashi. Mantan asisten itu menceritakan bahwa ibu dari bayi itu meninggal sesaat setelah melahirkan. Sementara dirinya sudah terlalu renta untuk merawat bayi. Sayuri begitu terpukul menerima kenyataan itu, suami yang begitu dia banggakan telah mengkhianati dirinya. Apalagi 4 tahun usia pernikahan mereka belum ada tanda-tanda penerus Hyuga dari Sayuri.
Berita skandal perselingkuhan Hiashi menyebar dengan cepat. Secepat api menyambar tumpukan daun kering di musim kemarau. Sayuri yang merasa tertekan akibat skandal itu mengambil jalan pintas dengan meminum obat tidur hingga Hiashi menemukan sang istri over dosis.
...
Naruto menatap serius Sasuke yang sedang memberikan instruksi melalui ponsel. Bentakan dan umpatan meluncur dari mulut Sasuke. Naruto menggeleng geli melihat sosok di depannya tidak berubah dari dulu. Bagi Naruto, Sasuke hanyalah manusia sombong yang suka memberikan perintah dan menghajar orang.
Semenjak bangku sekolah Naruto dan Sasuke mereka adalah teman dekat walaupun sering kali terlibat adu mulut dan berakhir perkelahian. Setelah lulus komunikasi mereka terputus karena Naruto harus pindah ke Uzu untuk melanjutkan usaha keluarganya. Mereka kembali bertemu lagi saat tanpa sengaja bersitegang karena merebutkan wilayah. Hubungan mereka pun sempat memanas beberapa lama. Namun ketegangan perlahan mencair dengan bergabungnya Karin ke dalam kelompok Sasuke. Karin adalah wanita yang menyelamatkan dirinya dari kematian. Berkat Karin, Naruto masih dapat menghirup udara.
Karin sendiri tidak sengaja menyelamatkan Naruto. Dirinya yang saat itu baru pulang dari markas Sasuke, melihat seorang pemuda yang tergeletak dengan noda darah membasahi pundaknya di selasar menuju pintu apartemennya. Dengan penuh kewaspadaan, Karin mendekati pemuda itu dan menyeret pemuda itu masuk ke apartemennya. Dia tidak bisa membiarkan pemuda itu mati kehabisan darah. Kalaupun nanti dia adalah musuh akan dia cari caranya nanti, pikir Karin saat itu.
"Tatapan matamu menjijikan, Dobe!" bentak Sasuke begitu tatapan mereka bertemu. Sasuke menghela nafas kasar dan mendudukkan dirinya di seberang Naruto.
Naruto mendecih, "Kau dan sikapmu itu yang lebih menjijikkan! Bagaimana bisa kau memanfaatkan wanita."
"Apa maumu?" Sasuke memijit pangkal hidungnya. Bertemu dengan Naruto disaat seperti ini membuat moodnya berubah buruk.
Naruto melemparkan amplop coklat yang dia bawa ke depan Sasuke. Sasuke membuka sambil mengerutkan dahinya. "Ini tugas Karin." kata Sasuke setelah melihat isi amplop dan membaca sepintas. Naruto membenarkan perkataan Sasuke dengan mengangguk-angguk.
"Kenapa bisa berada ditanganmu?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan pandangan dari isi amplop itu.
"Hari ini aku akan membawa Karin ke Uzu." Naruto mengaitkan jemarinya diatas meja.
"Kami masih memiliki kerjasama yang belum selesai."
Naruto berdiri dari sofa mendekati Sasuke. "Sudah cukup Karin terlibat urusanmu."
"Kau memaksa Karin, hn?" Sasuke tertawa sinis, sepengetahuannya Karin sering menghindari Naruto dan menolak kehadirannya.
"Dia mengandung anakku," senyum Naruto mengembang. "Aku baru mengetahuinya tadi pagi."
Sasuke bisa melihat binar bahagia di mata Naruto saat berkata Karin hamil. Selama ini dia pikir Naruto tidak berniat untuk memiliki keturunan atau hubungan yang mengikat semacam itu. Sasuke mengira hubungan Naruto dan Karin hanya sekedar rasa terima kasih . "Terserah saja." putusnya.
"Kalau kau butuh bantuanku, aku pasti siap," Naruto menepuk pundak Sasuke lalu pamit meninggalkan Sasuke.
Shikamaru berpapasan dengan Naruto di pintu masuk menyerngitkan dahi keheranan. Tidak biasanya Naruto berwajah secerah ini setelah bertemu Sasuke bahkan dia tersenyum.
"Kenapa dengan si Baka itu?" Shikamaru tidak dapat menahan rasa penasarannya.
"Dia menghamili Karin,"
Jawaban Sasuke membuat Shikamaru terkekeh. "Pantas saja, suasana hatinya bagus. Rupanya Karin sudah kalah,"
Sasuke sama sekali tidak menanggapi ucapan Shikamaru. Dirinya masih berkutat pada dokumen yang tersebar di mejanya. Sesekali membalik-balik dan merunut dengan menggunakan jarinya.
"Persiapan untuk nanti malam sudah siap," Shikamaru melaporkan tugasnya begitu mendudukkan dirinya di kursi depan Sasuke.
"Bagus, perintahkan Juugo menjemput Sakura dan Hinata."
"Kau yakin membawa Hinata?" Shikamaru memastikan.
"Aku ingin melihat seberapa bergunanya nona Hyuuga bagi kita."
Shikamaru menggelengkan kepalanya, "sudah ku duga, tidak mungkin kau berlaku tak biasa tanpa alasan." Dari awal perlakuan Sasuke terhadap Hinata membuat Shikamaru bertanya-tanya rencana apa yang akan Sasuke rencanakan.
...
Hinata sekali lagi memutar tubuhnya di depan kaca. Gaun backless panjang berwarna hitam tanpa ornamen maupun hiasan melekat pas ditubuhnya. Rambutnya disanggul rapi. Tidak lupa sepatu berwarna merah yang senada dengan lipstik yang dipakai Hinata. Menambah kesan dewasa. Belum pernah dia berdandan seperti ini. Gaya yang terkesan gotic namun elegan.
Hinata meraih kantong belanjaannya yang belum disentuh dari tadi. Sejak menginjakkan kaki di markas, Hinata langsung digiring menuju kamar untuk di dandani oleh orang yang disewa Sasuke. Begitu pun Sakura. Padahal Hinata belum puas jalan-jalan, tiba-tiba Juugo datang dan meminta mereka segera pulang. Ini pertama kalinya dia berjalan-jalan dengan bebas tanpa perasaan takut. Hinata akan minta pada Sakura untuk menemani jalan-jalan lagi lain kali. Sakura teman ngobrol yang menyenangkan.
Hinata membuka kantong belanja yang berisi softlens yang tadi sempat dia beli. Sebenarnya Sakura yang memberikan usul agar dia mengenakan softlens untuk menyamarkan mata Hyuganya. Hinata langsung mengangguk setuju. Dia tidak ingin dikenali sebagai Hyuga. Warna hitam pekat menjadi pilihannya karena sewarna dengan milik Sasuke.
"Apa yang kau lakukan?"
Lensa kontak yang siap dipakai terjatuh ke lantai. Sasuke yang tiba-tiba masuk ke kamar membuatnya kaget. Hinata berjongkok meraba-raba lantai. "Kau mengagetkanku, softlensku jadi hilang, kan."
"softlens?"
"Iya, aku tidak ingin orang tahu kalau aku Hyuga."
Tanpa menanggapi, Sasuke menarik tangan Hinata yang masih meraba lantai. "Kita sudah ditunggu yang lain." Kata Sasuke sambil meraih mantel dan clutch milik Hinata.
"T-tunggu,"
"Ayo," Sasuke tetap menarik Hinata untuk keluar. Hinata kepayahan berjalan cepat karena sepatu hak tinggi yang menyulitkannya menyamai langkah panjang Sasuke. Begitu Hinata hampir terjatuh, Sasuke memelankan langkahnya dan meletakkan tangan Hinata di lengannya.
"S-sasuke, a-apa tidak masalah dengan mata ini?" Hinata berbicara pelan hampir berbisik, sambil menunjuk matanya. Dijawab dengan gumaman tidak jelas khas Sasuke. Hinata menyimpulkan itu sebagai jawaban tidak masalah.
Begitu mereka tiba di undakan tangga terbawah, Shikamaru, Sakura, Kiba dan Shino sudah bersiap dengan pakaian formal. Bahkan Kiba yang biasanya tampil aneh dan berantakan, kali ini tampil rapi dengan jas dan menyisir rambutnya klimis.
Kiba bersiul jahil begitu Hinata dan Sasuke menghampiri mereka. "Kau cantik sekali, Hinata chan."
"Benarkah?" Hinata tersipu.
"Benaar..," Kiba menjawab dengan nada riang sambil mengangguk.
Plaak.. Shino memukul kepala Kiba, "Kau ingin mati" bisik Shino.
"Aku kan hanya kagum saja," Kiba cengengesan sambil memperbaiki rambutnya.
"Lain kali liat dulu siapa yang kau goda, baka."
"Lebih baik kita segera berangkat," Shikamaru angkat bicara begitu melihat Sasuke yang mendahului mereka sambil menarik tangan Hinata.
"Berdoa nyawamu tidak melayang," bisik Shino tepat ditelinga Kiba. Membuat Kiba bergidik ngeri membayangkan kemarahan Sasuke.
...
Mobil limusin yang membawa mereka berhenti di depan gerbang bangunan serupa kastil Eropa, menunggu pintu gerbang terbuka. Dari pintu gerbang ke bangunan utama jaraknya lumayan jauh. Kanan kiri jalan penghubung terdapat taman yang diterangi lampu-lampu dengan jarak yang teratur. Pemandangan itu membuat Hinata terpukau. Tidak henti-henti mulutnya bergumam kagum.
"Sasuke, kita seperti di dunia dongeng," Hinata menggoyangkan lengan Sasuke. "Hn," jawaban Sasuke membuat Hinata berdecak kesal, "Lain kali ajak aku ke tempat yang indah seperti ini lagi, ya." Lagi-lagi Hinata meminta perhatian Sasuke dengan menarik lengan Sasuke.
"Iya,"
"Janji?" Hinata mengarahkan jari kelingking kirinya di muka Sasuke. "Ups, salah.. yang ini kan sudah hilang," Buru-buru Hinata mengulurkan tangan kanannya. "Sasuke.., mana kelingkingmu?" Hinata mengaitkan jari kelingking Sasuke dan jarinya.
"Nah, sekarang kau sudah berjanji. Kau tidak boleh mengingkarinya," Hinata tersenyum lembut.
Sasuke meraih dagu Hinata. Memposisikan bibir Hinata tepat dibibirnya. "Ini cara mengikat janji yang benar." Tanpa canggung Sasuke mencium Hinata dihadapan Shikamaru dan Sakura.
"Dasar," Shikamaru yang satu mobil dengan mereka mengumpat dan memalingkan wajahnya ke jendela. Sasuke memilih tidak menghiraukan, malah semakin memperdalam ciumannya dengan menekan leher belakang Hinata.
"Kau hanya iri, Shika-kun." Sakura menunjuk-nunjuk pipi Shikamaru. "Kalau kau mau, boleh kok." Sakura memajukan bibirnya ke arah Shikamaru.
"Merepotkan. Kita sudah sampai."
Sakura tersenyum melihat wajah Shikamaru yang sedikit memerah karena godaannya. Dia berani bertaruh, jika saat ini mereka sendirian sudah pasti tawaran itu tidak disia-siakan Shikamaru.
Sasuke mengurai ciumannya. Jemarinya mengusap bibir Hinata merapikan lipstik yang sedikit berantakan. Hinata pun melakukan hal yang sama menghapus lipstik yang tertinggal dibibir Sasuke.
"Kalian ini benar-benar," Shikamaru menggelengkan kepalanya lalu beranjak turun mendahului yang lain begitu seorang pria berpakaian butler membukakan pintu limosin yang mereka tumpangi.
"Uchiha Sasuke-san selamat datang di masion Akatsuki." Mereka disambut oleh seorang kakek bertubuh besar dan sedikit bungkuk. Kakek tua itu lebih mirip Homura, kepala pelayan di markas Sasuke.
Sasuke tidak berbasa-basi dengan membalas ucapan selamat datang itu, dia langsung melangkah masuk diikuti rombongannya. Hinata yang tangannya diapit Sasuke tidak henti-hentinya menatap kagum bangunan yang mereka datangi. Lampu kecil dengan desain aneh tetata rapi di dinding koridor yang menghubungkan hall tempat pesta diselenggarakan.
Begitu rombongan Sasuke memasuki tempat pesta, sebagian tamu mengalihkan perhatian ke pintu masuk. Mereka adalah tamu terakhir dari daftar undangan. Sasuke sengaja datang terlambat untuk menjalankan rencananya.
Pemimpin Akatsuki itu yang tadinya sedang berkeliling ke meja para tamu untuk berbasa-basi langsung mendekati Sasuke. "Uchiha Sasuke..." suara pemimpin Akatsuki menyambut lalu menjabat tangan Sasuke.
"Hn, pesta yang meriah," ujar Sasuke. Pein hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum ramah. "Sepertinya usaha Akatsuki mengumpulkan orang-orang disini patut diapresiasi," lanjut Sasuke. Semua yang hadir di pesta Akatsuki merupakan orang–orang yang berpengaruh.
Pein, Pemimpin Akatsuki yang bergaya nyentrik dengan banyaknya pearcing yang menghiasi wajah dan telinganya, tergelak mendengar kalimat Sasuke. "Kau terlalu memuji sobat," Pein menepuk-nepuk lengan Sasuke. "Hyuga?" ucapnya kaget begitu pandangannya menyapu sosok yang berdiri di samping Sasuke.
Hinata sendiri menjadi salah tingkah diperhatikan sedemikian rupa. Pandangan Pein membuatnya tidak nyaman. Seperti pandangan predator yang bertemu mangsa. Siap menerkam. Hinata semakin mengeratkan pegangan di lengan Sasuke.
Sasuke menepis tangan Pein yang hampir menyentuh pipi Hinata. "Jaga tanganmu," suara datar Sasuke membuat Pein tertawa lalu mengucapkan maaf. Dia beralasan tidak mampu menahan diri untuk tidak mengusap pipi wanita cantik.
"Silahkan dinikmati pesta kami," Pein menunjukkan meja yang diperuntukkan untuk rombongan Sasuke. Meja mereka berada di bagian depan dengan label VIP tertulis di atas meja. Hinata mengeratkan pegangan tangan di lengan Sasuke. Perasaannya tidak nyaman dengan pandangan Pein masih tertuju kepada dirinya.
"Orang itu menakutkan," Bisikan Hinata hanya dibalas Sasuke dengan usapan tangan.
...
Shikamaru yang duduk di sisi kanan Sasuke, mengedarkan pandangan ke semua sudut ruangan. Sejak kedatangan mereka disini, Shikamaru sudah mencium ketidakberesan. Penjagaan keamanan di tempat Akatsuki ini terlalu longgar untuk pesta sebesar ini. Bahkan mereka tidak dilarang membawa senjata api. Padahal semua undangan disini, berasal dari berbagai kalangan yang kemungkinan terjadi bentrok sangat besar. Aneh, batin Shikamaru.
"Apa kau yakin melakukan rencana awal," bisik Shikamaru tepat di telinga Sasuke. "Sepertinya akan sulit jika situasinya semacam ini." Lanjutnya masih berbisik.
"Tidak masalah,"
"Aku akan bersiap." Shikamaru mengeluarkan ponselnya mengetik pesan cepat. Disaat seperti ini melakukan panggilan telepon sangat tidak effisien. Suara ruangan begitu bising dengan ucapan pidato dari seorang anggota Akatsuki yang diselingi tepuk tangan para tamu. "Shino dan kau Kiba, bersiap untuk kemungkinan terburuk,"
"Oke," Shino dan Kiba menjawab bersamaan perintah Shikamaru.
"Lanjut?" Sakura menanggapi, sementara Hinata hanya memandang mereka bergantian tidak tahu apa yang dibicarakan.
"Hn."
Para maid atau pelayan wanita dengan lincah berkeliling membawa nampan berisi gelas minuman dan piring makanan. Sesekali menanyakan makanan atau minuman yang diinginkan para tamu. "Satu gelas air putih," ucap Sakura begitu salah satu maid memberikan gelas minuman ke meja mereka.
"Baik, Nona."
Kiba penasaran dengan minuman yang dipesan Sakura lalu berkomentar, "Bukankah kau penggila wine, Sakura?"
"Bukan untukku, tapi Hinata."
"A-aku?" Hinata menunjuk dirinya sendiri memastikan tidak salah dengan apa yang didengarnya.
"Huh?" Kiba ingin protes apa masalah dengan minum sedikit wine. "Kenapa?" ucap Kiba dan Hinata bersamaan.
Sakura mengibaskan tangan di depan mukanya. "Jangan bertanya dan lakukan saja."
Kiba tidak berani bersuara lagi, bisa repot kalau harus berurusan dengan Sakura. Selain mendapat omelan panjang dia juga akan mendapat bogem dari Sakura. Sementara Hinata tidak puas dengan jawaban yang diberikan Sakura. Apa salahnya dengan segelas wine? Bukankah dulu dia pernah meminum bercawan-cawan sake saat pertama kali bergabung dengan mereka?
Hinata menatap Sasuke bermaksud meminta penjelasan. "Lakukan saja," Sasuke bersuara. Hinata mengangguk patuh tanpa berkata apapun.
Suasana meja kembali riuh dengan candaan garing dari Kiba seperti biasanya. Dari mereka berenam hanya Sakura dan Hinata yang mau menanggapi ocehan Kiba. Shikamaru dan Sasuke berdiskusi sendiri sedangkan Shino hanya diam mendengarkan tanpa ekspresi.
...
Itachi melompat turun begitu mobilnya terhenti di depan rumah Obito. Dia berlari menuju pintu depan melihat keadaan Rumah Uchiha Obito yang biasanya ramai dengan penjaga, kini lengang. Terasa ganjil. Apalagi telepon asing yang menghubungi dirinya, secepat mungkin dia datang menemui Obito.
"Sial.." umpat Itachi begitu melihat para penjaga di rumah Obito tergeletak bersimbah darah di ruang tamu. Beberapa kehilangan anggota tubuhnya tersayat benda tajam. Itachi masuk ke ruang keluarga sambil meneriakkan nama Obito.
"Kau terlambat Uchiha Itachi.." suara dari ujung ruang keluarga menghentikan langkah Itachi. Itachi tidak dapat melihat sosok yang menyapanya di kegelapan itu.
"Dimana Obito?" Bentak Itachi.
"M-a-t-i," orang itu menekankan dengan jelas tiap huruf yang dia ucapkan lalu tawa keras. "Sekarang giliranmu, Uchiha Itachi." Ucapnya sambil berjalan mendekat. Menampakkan wajahnya yang tadinya tertutupi gelap. Di tangan kanannya menenteng katana yang tersarung. Bekas darah masih membekas di tangan dan sebagian bajunya.
"Danzo?" tebak Itachi.
"Rupanya ingatanmu bagus," Danzo tertawa keras. Dia membuat tanda dengan menjentikkan tangan kirinya, membuat beberapa orang muncul dari jendela lalu mengelilingi Itachi. Mereka bersiap dengan mengarahkan katana ke arah Itachi.
"Kau tidak seperti kakek dan saudaramu yang lain. Ingatan mereka payah." Ucap Danzo.
Itachi melihat sekeliling dengan teliti, sedikit memicingkan mata. Mencari-cari sosok Obito. "Apa maumu sebenarnya?" Mata Itachi menubruk sosok yang tertelungkup di sebelah kiri dirinya berdiri. 'Obito', batin Itachi.
"Mauku?" Danzo membuka katana yang tadinya tersarung. Dia menggerakkan katananya dengan tidak beraturan. "Para Uchiha lenyap dari dunia," lanjut Danzo sambil tertawa.
"Jadi, kau yang membunuh Izuna?" Itachi menggepalkan telapak tangannya. Mencoba meredam amarahnya. Mendengar pertanyaan Itachi tawa Danzo semakin keras.
"Benar sekali." Danzo menghentikan tawanya sebentar. "Sayang sekali adik kecilmu bisa lolos".
"Dasar brengsek kau, Danzo." Itachi menyambar kursi kayu yang berada di dekatnya. Menghantamkan asal ke anak buah Danzo untuk membuka jalan ke arah Danzo.
"Bereskan, Uchiha sialan itu." Titah Danzo. Dia hanya berdiri memandang Itachi yang dikeroyok anak buahnya.
Itachi berusaha melumpuhkan satu persatu anak buah Danzo yang mengepungnya. Berada di ruangan yang luas seperti ini dengan posisi terkepung beberapa orang membuat Itachi kewalahan. Apalagi lawannya bersenjata dan dia sendiri menghadapi dengan tangan kosong. Dia mencari ide agar mampu mengalahkan satu persatu anak buah Danzo. Itachi berlari menuju sisi dalam rumah Obito.
Itachi memasuki area dapur. Dia meraih apapun yang bisa digunakan untuk menangkis hunusan katana. Piring yang tadinya tersusun rapi kini berterbangan menghalau gerakan anak buah Danzo yang merangsek maju.
Braak.. Itachi menendang perut salah satu orang yang terdekat dengan dirinya. Orang itu tersungkur jatuh. Katana dalam genggamannya terjatuh. Satu orang lagi mengibaskan katananya. Itachi berhasil menghindar kesamping namun, gerakannya kurang gesit mengakibatkan lengan kirinya tergores. Tanpa memperdulikan rasa perih di lengannya, Itachi meraih katana yang tergeletak disampingnya. Mengggunakan senjata yang sama untuk melawan balik lebih imbang dari pada hanya menggunakan benda yang sempat diraih.
Danzo berdiri bersandar di pintu dapur memperhatikan Itachi yang kini imbang melawan anak buahnya. Dia sama sekali tidak berniat bergabung mengeroyok Itachi. Bagi Danzo hal itu akan menghabiskan tenaga. Anak Sulung dari Uchiha Fugaku terlihat lebih unggul dari anak buahnya. Walau Danzo tidak memungkiri kalau tenaga dari Itachi sudah terkuras banyak.
...
Hinata masih berdiri menunggu Sakura yang masih berada di dalam kamar mandi. Dipertengahan acara Sakura mengeluh sakit perut. Dia meminta Hinata menemaninya. Sudah hampir setengah jam Sakura tidak juga keluar dari toilet.
Hinata mengetuk pintu toilet, "Sakura aku menunggumu di ujung koridor,ya."
"Iya, jangan jauh-jauh. Tunggu sebentar, lagi." Balas Sakura dari balik pintu.
Hinata berjalan menjauhi kamar mandi. Kakinya melangkah menuju ujung koridor, disana terdapat sepasang kursi kecil lengkap dengan meja. Kursi itu menghadap ke arah taman membelakangi koridor. Sebaiknya aku menunggu disini saja, batin Hinata. Suasana taman yang sepi berbanding terbalik dengan suasana pesta yang hingar bingar. Sayup-sayup terdengar suara musik dari tempat pesta.
Hinata duduk menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ternyata menghadiri pesta melelahkan, batinnya. Hinata bersenandung kecil menghilangkan rasa bosan menunggu Sakura yang tidak kunjung selasai.
"Hinata..."
Suara sapaan yang familiar membuat Hinata menghentikan senandungnya. Perlahan bulu kuduk Hinata meremang. Dalam hati dia berdoa, semoga tebakannya salah. Dia bahkan tidak berani menolehkan kepalanya.
"Akhirnya aku menemukanmu, sayang." Suara itu berbisik tepat di telinganya.
Tubuh Hinata kaku menyadari itu adalah suara yang paling dia takuti. Alih-alih berlari, dia tidak bergerak dan menutup matanya. Kakinya seakan berkhianat, keinginan untuk berlari sejauh yang dia bisa hanya dalam angan saja.
"Kau, tidak merindukan pamanmu ini, hm?" Choujuro memeluk Hinata dari belakang. Sesekali dia mencium pucuk kepala Hinata.
Airmata Hinata mulai meleleh perlahan. Mulutnya terkunci rapat. "Ayo kita pulang," bisik Choujuro.
'TIDAK...' teriak Hinata dalam hati.
.
.
.
.
.
.
Continue
.
.
.
Attention :
Maaf atas update yang super duper lamaa..
Special thank to :
Green Oshu, Mo, Aileem712, Sushimakipark, Narulita706, HipHipHuraHura, Putri94, Nametabiyong, Miyuchin2307, hirakirishe, uchiha sahi, sasuhina always, erliana mayi, sasuhina69, Anindita616, Anonym, Guest, sasuhinaF, Ozellie Ozel, lovely sasuhina, keiko-buu89, taomio, clareon, hyacinth uchiha, Han zizaH, Dewimatondang, imamanur2, azzahrah2002, ade854II, sasuhina69, Uchiha Cullen738, Reader69, Mikku hatsune, hime, Manelavender, haeri elfishy, Bill Arr, Cieluca, TheTomatoShop, Hima. (maaf kalau ada nama yang salah nulis atau belum tercantum)
Saya ucapkan banyak terima kasih kepada teman2 yg sudah bersedia meluangkan waktu untuk sekedar membaca, memfavoritkan, mengikuti dan meninggalkan jejak dikomen. Arigato minna...
