Eiji Notes : Hay Minna (^o^) pertama-tama saya mau curhat dikit, buat seseorang yang merasa hubungan ItaFemNaru di salah satu fic saya yang judulnya Bad Love terlalu di paksakan dalam fic itu. Jujur, kata-kata kamu sedikit menyinggung perasaan saya . Saya sadar fic Bad Love masih banyak kekurangannya - sangat. Dan saya juga sadar, saya juga bukan Author yang berbakat, saya masih pemula dan masih harus banyak belajar lagi . Tapi, bukankah sudah sangat saya sering ingatkan dalam setiap fic saya Gak suka ! Gak usah baca ! simple kan? . Ehehe, udah itu aja yang mau saya curhatin jujur waktu baru pertama baca tuh ripiw, saya sempet dongkol juga, dan sempet males buat ngetik fic. Tapi, meskipun sempet ngerasa dongkol dan agak kesel, tapi saya marahnya gak lama sih :v paling sehari dua hari juga udah ilang rasa jengkelnya :v. Yeah, jujur itu bukan flame pertama saya :v karena fic saya yang lain pun pernah dapet flame bahkan mungkin kata-katanya lebih pedas dari yang di fic Bad Love - menurut saya :v. Dan saya juga sadar, yang namanya fic gak mungkin di pisahin ama yang namanya flamer :v. Kalo ada yang suka, pasti juga ada yang gak suka :'v ehehe. Tapi, sekali lagi saya bilang, kalo kalian gak suka tolong jangan di baca dari pada kalian ninggalin jejak yang justru malah nyakitin persaan saya . Saya sadar, cerita yang saya buat mungkin idenya pasaran, jalan ceritanya monoton dan itu-itu aja, EYD-nya juga masih berantakan ehehe :v. Tapi tolong hargai usaha saya, dalam merangkai kata dalam fic yang saya buat . Kedua, saya mau ngucapin rasa terimakasih buat para reader yang selalu ngasih semangat buat lanjutin fic ehehe. Dan, buat beberapa reader yang udah ngasih Fav/Follow/Ripiw apalagi yang ripiwnya panjang banget di fic saya itu bener-bener jadi suntikan semangat buat saya ngetik . Ketiga, sebagai ganti karena saya updatenya agak lama chapter kali ini saya bikin panjang meski gak sepanjang chapter 2 kemaren sih :v ehehe. Oh iya, untuk chapter kali ini akan ada banyak Flashback . Terimakasih

Desclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. But, this story is mine. Namikaze Eiji. So, dont be Plagiator. Dont Copy my fic. And dont Bash my story. Thank You (^o^)

Rate : M

Pairing : SasuFemNaru slight SasoFemNaru

Warning : Gender Switch,AU,OOC,OC,Typo bertebaran,EYD jelek. No flame. Kritik dan saran yang membangun dan menggunakan bahasa yang sopan diterima. Alur kecepetan. Cerita aneh bin Gaje. Mature Content.

.

.

Cast :

Uchiha Sasuke ( 24 tahun )

Namikaze Naruto ( 21 tahun )

Akasuna Sasori ( 23 tahun )

Uchiha Itachi ( 27 tahun )

Namikaze Kyuubi ( 27 tahun )

.

.

Gak suka ! Gak usah baca !

.

.

Summary : Sasuke dan Naruto. Mereka dua orang yang tak mengenal ssatu sama lain. Namun, karena suatu 'peristiwa' mereka bertemu dan memutuskan untuk tinggal bersama. Mungkinkah ini takdir? Bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka selama tinggal bersama?

.

.

Happy Reading Minna.. (^o^)

.

.

Do You Love Me?

By.

Namikaze Eiji

Chapter 3 : Kenangan

.

.

.

.

Sudah tak terhitung berapa kali Ino menghela nafasnya dalam lima menit terakhir. Wajah cantiknya menampakan ekspresi kesal yang sangat kentara, tak jarang gerutuan kecil terdengar dari bibirnya. "Ahk! Aku benar-benar membenci dosen sialan itu!" makinya kesal seraya menjambak rambut pirangnya keras - menampakan seberapa frustasinya dia.

Kekehan geli terdengar dari seseorang yang duduk tepat di depannya. Ino mendelik kesal melihat Naruto yang terkekeh geli karena kefrustasiannya. Ia memberikan tatapan tertajam yang dimilikinya lalu mengarahkannya pada sahabatnya yang duduk persis di hadapannya seolah berkata lewat tatapan itu 'Diam-sekarang-atau-kau-mati'.

Tatapan tajam yang di arahkan Ino pada Naruto sama sekali tak berefek, justru sebaliknya kekehan geli itu semakin jelas terdengar - membuat beberapa pasang mata yang duduk tak jauh dari mereka mengalihkan pandangannya pada ke dua gadis pirang yang kini menjadi pusat perhatian penghuni canten lainnya.

Naruto secara otomatis menghentikan tawanya begitu sadar kini dirinya dan sahabatnya menjadi pusat perhatian beberapa pasang mata. Dalam hati ia mengutuk sikapnya yang tak bisa menahan tawa hingga mengakibatkan mereka berdua sukses menjadi pusat perhatian penghuni canten.

"Oke, maaf aku tak akan tertawa lagi," ucap Naruto dengan wajah tanpa dosa. Ino mendengus melihatnya, sebelum berkata. "Kau tau Naru? Sekarang kau berubah dari gadis dingin menjadi gadis menyebalkan," cibir Ino seraya mengerucutkan bibirnya.

"Aish! Aku benar-benar bisa gila," erangnya frustasi. Naruto memperhatikan raut wajah frustasi sahabatnya dengan alis saling bertaut bingung.

"Sebenarnya apa yang membuatmu terlihat sangat frustasi, Ino?" Tanyanya akhirnya.

"Tugas dari dosen itu membuatku gila!" akunya jujur. Naruto menatap iba ke arah Ino, Naruto akui tugas yang di berikan dosennya kali ini memang cukup sulit.

"Kau bisa memulainya pelan-pelan," nasehatnya.

"Mudah mengatakannya."

"Kau tak akan pernah tau jika belum mencobanya Ino," ucapnya bijak.

"Tapi, aku sama sekali tak punya ide." Ino mengatakannya dengan nada frustasi yang sangat kentara, ia sembunyikan kepalanya pada lengannya yang ia tekuk di atas meja canten.

"Buatlah sebuah bangunan. Dimana bangunan itu bukan hanya sebuah kerangka batu bata yang berjejer kokoh dengan tiang-tiang besi penyangga di dalamnya. Tapi buatlah sebuah bangunan dimana di dalamnya terdapat sebuah harapan yang tak akan pernah sirnah walau terkikis oleh waktu."

Well, masih segar dalam ingatan Naruto akan tugas yang di berikan dosennya beberapa jam yang lalu.

Tugas akhir pekan mereka. Ah, dosennya ini memang sangat baik hati karena selalu 'memberikan' perhatian pada para mahasiswanya untuk menggunakan waktu luang di akhir pekan mereka dengan 'bijak.'

"Emm, bagaimana kalau kita pergi ke tempat-tempat yang menyimpan banyak kenangan mungkin? Kurasa itu referensi yang bagus untuk tugas ini," usul Naruto. Wajah Ino langsung terangkat dari atas meja, iris aquarin-nya menatap penuh binar kebahagiaan dan rasa terimakasih pada Naruto.

"Ah, Naru! Kau jenius," ucapnya girang.

"Aku tau," Ino mendengus mendengar jawaban Naruto. Oke, terkadang ia bingung dengan sahabatnya yang satu ini. Dia seperti pengidap Bipolar Disorder ( Kepribadian Ganda ). Terkadang Naruto bisa menjadi gadis yang sangat dingin dan menyebalkan dan terkadang gadis itu berubah menjadi gadis yang hangat dan berisik mungkin?

.

.

Do You Love Me?

.

.

Suara high heels-nya terdengar berbenturan dengan lantai yang ia pijaki menimbulkan suara khas antara gesekan sepatunya dengan lantai. Kaki-kaki jenjangnya melangkah dengan pasti melewati ruang-ruang kelas tempat dulu ia menimba ilmu kala masih berstatuskan siswi Senior High School. Mata safir indahnya menatap lama sebuah lapangan bola basket. Entah mengapa saat melihat lapangan ini pikirannya tanpa sadar melayang membayangkan kejadian beberapa tahun yang lalu.

.

.

.

.

Flashback On

Seorang gadis tampak terburu-buru terlihat jelas dari langkah kakinya yang melangkah lebar setiap kali berjalan. Tangannya mendekap erat sebuah buku dalam dekapannya. Karena terlalu terburu-buru dan terfokus pada buku yang berada dalam dekapannya membuat langkahnya tak fokus.

Brukk...

Naruto memejamkan matanya erat bersiap menerima rasa sakit yang akan menjalari tubuhnya. Tapi, tunggu dulu. 'Kenapa tak sakit sama sekali?' batinnya heran.

"Bisakah kau menjauhkan tanganmu dari 'itu' ku," sebuah suara baritone seorang pemuda sontak menyentak Naruto kembali dalam kenyataan. Ia membuka matanya dan menatap horor ke arah pemuda yang tengah ia 'tindih'.

Naruto terdiam membeku pada posisinya. Masih seperti posisi awal dengan dirinya yang menindih tubuh pemuda itu. Entah kenapa otaknya yang jenius seakan tak berfungsi saat berada di dekat pemuda ini.

1 detik... 2 detik... 3 detik... 4 detik... 5 detik...

Pada detik ke lima Naruto kini sadar akan posisi tubuhnya yang salah, terutama posisi tangannya yang telah 'menyentuh' 'milik' pemuda itu. Naruto segera beranjak, dan dengan cepat ia berlari pergi meninggalkan pemuda berambut merah yang menatap heran kepergian Naruto dengan alis saling bertaut bingung hingga punggung gadis itu menghilang di balik tembok dan tak terlihat lagi oleh jarak pandangnya.

.

.

.

.

'Bodoh. Bodoh. Bodoh.' Naruto terus mengutuk dirinya sendiri.

'Aish! Dia pasti berpikir aku gadis yang mesum,' erangnya frustasi. 'Benar-benar memalukan,' tambahnya.

Naruto menatap tampilan dirinya di dinding kaca sekolahnya. Tangannya terangkat memutar keran air hingga air keluar dari wastafel. Diusapnya wajah itu dengan air yang mengucur deras dari wastafel, setidaknya air ini dapat meredam warna merah yang menghiasi wajah putih cantik miliknya.

Ia menarik nafas pelan lalu menghembuskannya perlahan. Ia terus melakukan kegiatan itu selama beberapa menit, mencoba menenangkan dirinya.

'Lupakan. Lupakan. Anggap kejadian memalukan hari ini tak pernah terjadi,' ujarnya dalam hati menyemangati dirinya sendiri.

Setelah merasa cukup tenang ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Semua pasang mata mengarah ke arahnya. Dengan berbagai macam pandangan. Dalam hati Naruto menghela nafas lelah. 'Selalu seperti ini,' batinnya lelah.

Well, bukan Namikaze Naruto jika tak menarik perhatian. Gadis ini memang selalu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Ia seperti magnet yang memiliki daya tarik kuat hingga membuat orang sulit mengalihkan pandangan mereka darinya - terutama para pria.

Naruto melangkahkan kakinya pada tempat tujuan awalnya. Yup, perpustakaan. Hari ini buku yang ia pinjam telah habis masa tenggangnya dan ia harus segera memperpanjang jangka waktu peminjaman buku bila tak ingin terkena denda.

Perpustakaan merupakan salah satu tempat yang paling di sukainya di sekolah ini - selain taman. Ia bisa menghabiskan berjam-jam waktunya dengan buku. Katakanlah ia kutu buku, ia tak marah. Karena itu memang kenyataan. Naruto memang tipekal gadis yang suka menghabiskan waktunya selama berjam-jam dengan membaca buku ketimbang pergi berbelanja dengan teman-teman perempuan seperti halnya kebanyakan remaja putri lainnya. Tidak seperti kebanyakan gadis yang suka bersenang-senang dengan menghabiskan waktu dan uang mereka, Naruto lebih senang menggunakan waktunya dengan bijak. Seperti membaca.

Seulas senyum sopan terbit di wajah cantiknya saat menjawab sapaan ramah sang penjaga perpustakaan. Penjaga perpustakaan di sekolahnya memang mengenal Naruto, karena gadis itu sering menghabiskan waktunya untuk membaca disini.

Mata safirnya menatap kumpulan rak-rak buku yang berjejer dengan kokoh dan rapi di depannya. Tak jarang matanya menyipit, - mencoba menajamkan penglihatannya untuk mencari buku yang ia inginkan. Senyuman merekah dengan sempurna di wajah cantiknya kala buku yang ia cari telah ia temukan.

Naruto menjinjitkan kakinya, sebelah tangannya terulur ke atas berusaha meraih buku pada rak yang ada di depannya. Buku itu terletak di rak yang paling tinggi, membuat Naruto cukup kewalahan untuk menggapainya. Sebuah tangan lain terulur dari arah belakang. Tangan itu meraih buku yang di inginkan Naruto.

"Kau harusnya meminta bantuan orang lain jika sulit menggapainya."

Deg...

Suara ini...

Naruto ingat jelas milik siapa suara ini. Dengan gerakan gugup ia membalikkan tubuhnya ke arah pemuda yang baru saja menolongnya itu.

"Te-terimakasih," ujarnya gugup dengan kepala tertunduk. Matanya menatap kebawah seolah pemandangan dibawah jauh lebih menarik dari pada sosok pemuda tampan yang tengah berdiri di depannya. Sebuah kekehan geli dari pemuda itu sontak membuat Naruto mendongakkan kepalanya. Alisnya bertaut heran dengan tatapan penuh tanda tanya yang ia arahkan pada pemuda itu seolah mengatakan 'Apa-yang-lucu?' lewat tatapannya.

Sasori. Nama pemuda itu. Pemuda berambut merah itu sontak menghentikan tawanya saat melihat ekspresi bingung yang ditujukan Naruto padanya. Ia meringis, sedikit merasa bersalah karena telah membuat gadis cantik yang ada di depannya bingung dengan sikapnya. Ia berdeham pelan sebelum berbicara.

"Maaf, ini buku yang kau cari." Tangannya terulur memberikan buku itu. Naruto menyambut uluran tangan itu dan meraih bukunya.

"Terimakasih -"

"Sasori. Akasuna Sasori," sebuah senyuman lembut yang terbit di wajah tampan pemuda itu membuat Naruto terpaku di tempatnya selama beberapa saat.

"Namikaze Naruto."

Flashback Off

.

.

.

.

Sebuah senyuman simpul terbit di wajahnya kala mengingat pertemuan pertamanya dengan Sasori. Bukan pertemuan yang manis memang. Terkesan memalukan bahkan. Tapi, satu hal yang pasti. Ia tak pernah menyesali pertemuan itu. Sejak saat itu Naruto mulai mengerti arti kata'mengagumi' tapi dalam 'diam'. Memperhatikannya dalam kebisuan.

Terkadang ada beberapa hal yang membuatmu mengagumi seseorang dalam diam.

Memperhatikannya dalam kebisuan. Mengamatinya dari jauh.

Semilir angin menerpa dengan lembut wajah cantik itu. Membuat kedua kelopak matanya tersembunyi merasakan hembusan angin yang menerpa kulitnya. Tanpa Naruto sadari sedari tadi bibirnya tak henti menyunggingkan sebuah senyuman. Ia kembali melangkah menuju taman belakang sekolahnya.

.

.

.

.

Flashback On

"Tangkap aku jika kau bisa." Naruto menjulurkan lidahnya ke arah seorang pemuda yang tengah mengejarnya dari belakang. Raut wajah bahagia tampak kentara di wajah cantiknya. Bukan ekspresi datar dan dingin yang biasa ia tunjukan. Namun, benar-benar ekspresi kebahagiaan dengan senyuman merekah di wajah cantiknya.

"Awas kau jika tertangkap," ancam pemuda itu seraya mempercepat langkahnya menyusul Naruto yang berada di depannya.

"Kemarikan." Sasori menjulurkan tangan kanannya ke arah Naruto meminta kamera yang berada dalam genggaman gadis itu.

"Tidak mau," ujarnya keras kepala.

"Bukankah foto ini akan sangat menarik jika aku mencetak dan memasangnya di majalah dinding sekolah kita, eh?" ucap Naruto dengan nada menantang seraya menggoyangkan kamera yang berada dalam genggamannya tepat di hadapan wajah pemuda itu, - menggodanya.

"Kau tidak akan bisa melakukannya." Sasori mengatakannya dengan datar dan raut wajah tenang tanpa beban, membuat alis Naruto bertaut menjadi satu membentuk satu garis lurus. Dalam hati Naruto merasa takjub melihat sikap pemuda ini, - jauh berbeda dengan beberapa saat yang lalu.

Dengan satu gerakan cepat pemuda itu berhasil meraih kamera yang berada dalam genggaman Naruto bahkan sebelum Naruto sadar akan apa yang terjadi.

Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk satu seringai yang sialannya membuat pemuda ini beribu kali lebih tampan dari sebelumnya. "Your lost." Naruto mengerucutkan bibirnya sebal mendengar ucapan Sasori. Memutar bola matanya sebal seraya menghentak-hentakan kakinya pada tanah dan berlalu pergi meninggalkan pemuda yang tampak puas dengan kemenangannya. Ah, ia bahkan masih bisa mendengar tawa kemenangan pemuda itu walau ia sudah berjalan agak jauh.

Seperti bunga Mussaenda yang tumbuh tanpa mengenal musim.

Seperti itulah cinta tumbuh pada jiwa setiap umat manusia.

Mengalir bagai air di sungai yang sulit terbendung.

Seperti itulah sosokmu merasuk dalam hati dan jiwaku.

Sebuah pohon Mussaenda dengan ukuran paling besar yang ada di sudut kanan taman sekolahnya menarik perhatian Naruto.

.

.

.

.

Flashback On

"Apa yang sedang kau baca?" Sebuah suara dari arah belakangnya membuat Naruto terlonjak kaget pada posisi duduknya. Ia mengarahkan tatapan tajamnya ke arah pemuda itu seolah mengatakan 'Apa-kau-ingin-membuat-ku-mati-karena-serangan-jantung?'

Sebuah kekehan terdengar dari pemuda itu sebagai jawaban. Naruto menghembuskan nafasnya kasar melihat kelakuan pemuda yang ada di sampingnya. Dengan wajah tanpa merasa bersalah sedikitpun ia mendudukan dirinya tepat di samping Naruto.

"Aku baru tau jika Princess Ice sepertimu menyukai sesuatu berbau hangat seperti bunga?" Naruto mendengus mendengar ejekan halus yang dilontarkan Sasori padanya.

"Bunga apa ini?"

"Edelweisatau dikenal juga sebagai Bunga Abadi mempunyai nama latin Anaphalis Javanica, adalah tumbuhan endemik zona elpina atau montana di berbagai pegunungan tinggi. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian maksimal 8 meter dengan batang mencapai sebesar kaki manusia, walaupun umumnya tidak melebihi 1 meter." Jelas Naruto seraya menunjuk buku yang menampilkan sebuah bunga cantik berwarna putih.

Sasori menatap kagum ke arah Naruto. Well, bisa di bilang ini pertama kalinya ia mendengar Naruto berbicara sepanjang itu. Biasanya gadis itu hanya akan menanggapi setiap ucapannya dengan satu atau dua patah kata. Tapi lihat? Bila sudah menyangkut bunga gadis ini benar-benar nampak berbeda, bukan?

Seulas senyum lembut terbit di wajah tampannya, matanya menatap hangat ke arah gadis yang duduk tepat di sampingnya. "Bunga ini mirip dengan mu?" Kerutan tampak terlihat samar di dahi Naruto saat mendengar ucapan pemuda itu.

"Lihat. Bunga ini terlihat sederhana namun juga sangat indah di saat bersamaan. Membutuhkan usaha yang keras untuk meraihnya karena ia berada di puncak gunung yang tak semua orang bisa menggapainya. Sama sepertimu bukan, Naru?" Ujar pemuda itu, jemarinya menunjuk gambar bunga yang berada dalam genggaman Naruto.

Tertegun. Naruto tertegun mendengar ucapan pemuda yang berada di sampinya. Ia dapat merasakan kerja jantungnya yang berdetak diluar kata normal dan ia dapat merasakan rasa panas mulai menjalari pipinya membuat semburat kemerahan yang tampak kentara di kulit putihnya.

Flashback Off

Terkadang Cinta bisa membuatmu menjadi orang lain.

Dan Cinta bisa membuatmu tampak seperti orang bodoh.

Terkadang kau tersenyum, lalu tak lama kau menangis.

Naruto menapaki satu per satu anak tangga dengan tangan yang berpegangan pada pegangan tangga. Kakinya melangkah dengan pelan namun pasti.

Mata safir Naruto mengamati lama sebuah pintu yang terbuat dari kayu mahoni di depannya, sebelum sebelah tangannya terangkat meraih kenop pintu dengan gerakan perlahan.

Krieet...

Sepi. Ruangan ini tampak sepi.

Mata safirnya menyusuri setiap sudut ruangan auditorium ini. 'Tak banyak yang berubah,' batinnya seraya melangkah memasuki ruangan tersebut.

Sebuah piano yang terletak di atas panggung menjadi fokus utama Naruto, tanpa ia sadari kaki-kakinya perlahan mendekati piano itu.

Naruto mendudukan dirinya pada sebuah kursi yang terletak di belakang piano itu. Jemari lentiknya menyentuh tuts-tuts piano menimbulkan nada-nada yang indah ketika jemari lentik itu mulai menunjukan kemahirannya dalam bermain piano.

.

.

.

.

Flashback On

I often close my eyes

( Aku sering menutup mata ku )

And I can see you smile

( Dan Aku dapat melihatmu tersenyum )

You reach out for my hand

( Kau mengulurkan tanganmu )

And I'm woken from my dream

( Dan aku terbangun dari mimpiku )

Although your heart is mine

( Meskipun hatimu adalah milik ku )

It's hollow inside

( Namun terasa hampa )

I never had your love

( Aku tak akan pernah memiliki Cinta mu )

And I never will

( Dan tak akan pernah bisa )

And every night

( Dan setiap malam )

I lie awake

( Aku berbaring tak bisa tidur )

Thinking maybe you love me

( Berpikir mungkin kau akan mencintai ku )

Like I've always loved you

( Seperti aku selalu mencintaimu )

But how can you love me

( Tetapi bagaimana kamu dapat mencintai ku )

Like I loved you when

( Seperti aku mencintaimu ketika )

You can't even look me straight in my eyes

( Kamu tidak dapat melihat lurus ke mata ku )

I've never felt this way

( Aku tidak pernah merasakan seperti ini )

To be so in love

( Menjadi sangat jatuh cinta )

To have someone there

( Untuk memiliki seseorang yang ada di sana )

Yet feel so alone

( Namun merasa sangat kesepian )

Aren't you supposed to be

( Bukankah seharusnya kau )

The one to wipe my tears

( Yang satu untuk mengusap air mata ku )

The on to say that you would never leave

( Ini dengan mengatakan bahwa tidak akan pernah meninggalkanmu )

The waters calm and still

( Air yang tenang dan tetap )

My reflection is there

( Bayanganku ada di sana )

I see you holding me

( Aku melihat kau memegang ku )

But then you disappear

( Tetapi kemudian kamu menghilang )

All that is left of you

( Semua yang tertinggal darimu )

Is a memory

( Adalah sebuah kenangan )

On that only, exists in my dreams

( Tentang itu saja, yang ada dalam mimpi ku )

I don't know what hurts you

( Aku tidak tahu apa yang menyakitimu )

But I can feel it too

( Tetapi aku dapat merasakan itu juga )

And it just hurts so much

( Dan itu juga sangat menyakitkan )

To know that I can't do a thing

( Untuk mengetahui bahwa aku tidak dapat berbuat apa-apa )

And deep down in my heart

( Dan jauh dalam hati ku )

Somehow I just know

( Bagaimanapun aku hanya tau )

That no matter what

( Bahwa tidak peduli apapun )

I'll always love you

( Aku akan selalu mencintaimu )

So why am I still here in the rain

( Jadi mengapa aku masih ada disini di dalam hujan )

.

.

Kiss The Rain

By.

Yiruma

.

.

Sebuah tepuk tangan yang berasal dari salah satu kursi penonton sontak membuat Naruto mengalihkan pandangannya dari piano yang berada di depannya. Mata safir-nya memicing melihat pemuda berambut merah yang tak asing lagi baginya dengan perlahan melangkah mendekatinya.

"Sejak kapan kau ada di sana?" Tanya Naruto. Sasori mengangkat telunjuknya pada dagunya, -memasang pose berpikir sebelum menjawab pertanyaan Naruto. "Entah, kurasa sebelum kau ada disini," Naruto mendengus mendengar jawaban pemuda itu.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Tidur," jawabnya seraya mengedikkan bahu acuh.

"Kau tau? Tadi itu lagu yang indah," Sasori berjalan mendekat pada Naruto dan mendudukan dirinya di samping gadis itu. Seulas senyum simpul terbit di wajah Naruto mendengar penuturan pemuda itu. "Kau benar, itu memang lagu yang indah -," Naruto menjeda ucapannya sesaat, matanya menatap lurus mata Sasori yang duduk tepat di sampingnya. "Tapi apa kau tau? Lagu ini benar-benar menyedihkan," kedua alis Sasori berkerut samar mendengar ucapan Naruto. Ia terdiam, menunggu Naruto melanjutkan ucapannya.

"Lagu ini menggambarkan perasaan seorang wanita yang mencintai seorang lelaki yang bahkan tak pernah menatapnya. Terdengar konyol, bukan?" Untuk beberapa saat keheningan menyelimuti mereka berdua, mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

"Kau tau Naru? Mungkin yang kau ucapkan itu benar. Mencintai seseorang yang bahkan tak pernah menatap kita terdengar konyol..." Sasori menjeda ucapannya sesaat, kedua tangannya terangkat menangkup wajah Naruto. "Tapi itulah cinta, kita tak akan pernah tau kapan cinta itu datang dan kepada siapa cinta itu berlabuh. Saat cinta itu datang menghampirimu, tanpa sadar kau akan bersikap seperti orang lain dan di luar kebiasaanmu," senyuman lembut terbit di wajah tampannya.

"Kau tau Naru? Kau tidak akan pernah tau seberapa dalam cinta itu, sebelum kau jatuh di dalamnya." Senyuman lembut menghiasi wajah tampannya, membuat gadis yang duduk di sampingnya tak bisa menyembunyikan raut merona yang timbul karena mendengar ucapan pemuda itu.

Flashback Off

.

.

.

.

Naruto tersenyum miris mengingat ucapan Sasori. "Ah, sial. Kenapa aku jadi tampak sangat lemah?' batin Naruto kesal.

.

.

Do You Love Me?

.

.

At New York, Amerika Serikat.

"Wow, Beautifull girl," Sasuke segera menutup layar monitor laptopnya saat mendegar ucapan Itachi. Ia mendelik kesal ke arah Itachi saat mendengar nada tertarik yang di ucapkan Itachi barusan. Mata oniksnya memandang tajam ke arah Itachi seolah mengatakan 'She-is-mine!' lewat tatapannya. Salah satu sudut bibir Itachi terangkat ke atas membentuk sebuah seringai jahil yang sialnya membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat. Ia tak menyangka, Sasuke akan bereaksi seperti itu saat mendengar pernyataannya pada foto gadis yang berada dalam laptop adiknya itu. Rasa penasaran mulai menyergapnya untuk mengetahui siapa gadis itu.

Dengan seringai jahil yang masih bertahan dalam wajah tampannya, dengan perlahan ia mendudukan dirinya di salah satu kursi single yang terletak pada sudut ruangan kerja Sasuke.

"Who is she?" Tanya Itachi tanpa bisa menutupi nada penasaran dalam pertanyaanya.

Sasuke mendengus mendengar pertanyaan yang di lontarkan Itachi padanya. "Bukan urusanmu," jawabnya acuh tak acuh.

"Special girl, eh?" Tawa renyah Itachi terdengar memenuhi ruang kerja Sasuke. Seringai jahil lagi-lagi muncul di wajah tampannya, matanya menatap menggoda ke arah adiknya yang tengah duduk di kursi kerjanya. Tak ia pedulikan tatapan tajam Sasuke yang di arahkan padanya.

Hey! Meskipun Sasuke tak menjawab pertanyaannya barusan, tapi raut wajah Sasuke sudah memberikan jawaban yang sangat jelas.

"Siapa nama gadis beruntung itu?" Sasuke mengacuhkan pertanyaan Itachi, - tak menjawabnya. Ia kembali membuka layar laptopnya dan kembali meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda karena ulah Itachi.

Itachi, mendegus geli melihat sikap Sasuke yang mengacuhkan pertanyaannya. Tak menyerah, ia terus mengganggu Sasuke dengan meluncurkan berbagai pertanyaan tentang foto gadis yang menjadi wallpaper utama pada layar laptop sang Uchiha bungsu.

Hey! Ayolah kapan lagi ia bisa menggoda adiknya itu. Belum lagi semburat merah yang tampak samar di kulit putihnya terlihat samar setiap kali Itachi menanyakan beberapa hal tentang gadis itu. Meski jawaban yang ia dapatkan selalu berupa gumaman samar sang adik. Namun, hal ini sama sekali tak mengurangi niat Itachi untuk menggoda adiknya dan mengetahui informasi lebih tentang gadis itu.

.

.

.

.

Itachi tersenyum lebar hingga menampakan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi saat mengetahui nama gadis itu. Dari tempatnya duduk, Itachi bisa mendegar gerutuan kecil yang keluar dari mulut Sasuke mengutuki kecerebohannya yang telah terjebak dalam pertanyaan sang kakak yang penuh dengan jebakan hingga tanpa sadar telah menyebutkan nama gadis itu.

"Naruto? Nama yang cantik. Kuharap kau akan mengajaknya ke pesta pernikahanku nanti. Aku ingin melihat gadis seperti apa yang telah berhasil meluluhkan hati adik ku yang keras," ucap Itachi sebelum berlalu pergi meninggalkan ruangan Sasuke.

.

.

Do You Love Me?

.

.

Naruto tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Tangannya tergerak merapikan beberapa berkas yang masih tampak berantakan di atas meja kerjanya. Tak lama keningnya berkerut samar, senyumannya kini berubah menjadi senyum masam. Bibir pinknya mencebik kala mengingat ia harus mengantarkan hasil sketsanya secara langsung kepada sang CEO, padahal semenjak kedatangan pria itu, ia selalu berusaha mencoba menghindari Sasori di kantor. Cukup sulit memang, mengingat mereka berada pada kantor yang sama dan mengingat Sasori yang notabene merupakan bosnya di kantor. Dan selama ini ia cukup berhasil menghindari pria itu selama di kantor, namun sayang nampaknya kali ini keberuntungan sedang tak berpihak padanya. Sebagai ketua tim arsitek divisi satu ia harus menyerahkannya langsung hasil sketsanya kepada Sasori. Dengan langkah gontai dan kaki yang diseret dengan enggan Naruto melangkah menuju ruangan Sasori.

Tok Tok Tok

Naruto mengetuk pintu yang ada dihadapannya beberapa kali, sebelum sebuah suara baritone yang terdengar dari dalam mempersilahkannya masuk. Dengan enggan, tangan kanannya terangkat untuk membuka kenop pintu yang ada di depannya. Matanya menatap sekeliling, - menyapu pemandangan yang tampak berubah dari terakhir kali ia memasuki ruangan ini. Ruang kerja Sasori sangat luas dan kesan elegan sangat terasa dalam ruangan ini. Perabotan berwarna gelap menjadi warna dominan yang memenuhi ruangan ini. Sebuah kursi berlapis kulit berwarna hitam. Sebuah rak buku yang berukuran besar menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit ruangan ini dan rak itu dipenuhi ratusan buku dan folder yang tersusun rapi menurut abjad. Dibelakang meja kerjanya yang mewah ada sebuah jendela kaca besar dengan pemandangan Space Needle. Tampaknya Sasori melakukan beberapa perubahan terhadap interior ruangannya, hal ini terlihat jelas dari ruangan pria itu yang sangat mencerminkan kepribadian pria itu.

Ia melangkah dengan pelan, menghampiri meja pria itu. Setelah berada tepat dihadapan meja pria itu, ia berdeham pelan mencoba mengalihkaan fokus pria itu dari laptop yang berada di depannya.

.

.

.

.

Sasori Pov On

Mataku dengan serius menatap layar laptop yang berada di depanku. Mengamati perkembangan perusahaanku yang selama ini di tangani oleh pamanku. Salah satu orang kepercayaanku yang dipercaya untuk mengelola perusahaan ini selama beberapa tahun, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mengelola perusahaan ini sendiri dan sebagai gantinya pamanku mengurus salah satu cabang anak perusahaanku yang berada di Inggris. Sebenarnya alasan utamaku untuk turun tangan langsung menangani perusahaan selain karena desakkan kedua orang tuaku juga karena-nya. Karena Naruto….

Saat mendengar bahwa ia bekerja di perusahaanku, tanpa berpikir panjang aku langsung menyetujui saran Tousan yang memintaku untuk turun tangan langsung menangani perusahaan keluarga kami.

Mataku dengan teliti membaca hasil laporan yang berada didepanku, sebelum sebuah suara ketukan dari arah pintu mengalihkan fokusku untuk sesaat. Tanpa mengalihkan perhatianku dari laptop yang menjadi fokus perhatianku saat ini, aku menyuruhnya masuk.

Suara gesekan sepatunya yang berbenturan langsung dengan lantai menjadi musik pengiring langkahnya menghampiriku. Ia berdeham pelan, membuatku mengalihkan fokusku dari layar laptopku. Kepalaku terangkat, mendongak ke arahnya. Mataku bertubrukan langsung dengan mata safir indahnya yang selalu membuatku jatuh akan pesonanya setiap kali aku menatap mata itu. Perasaan hangat dan nyaman selalu kurasakan setiap kali menatap matanya, apalagi setiap ia membalas tatapanku dengan tatapan teduh miliknya. Membuat hatiku berdesir dan rasa hangat menyelimuti perasaanku.

Namun, itu dulu….

Sekarang bukan tatapan teduh miliknya yang menatapku, namun tatapan dingin dan raut wajah datarnya yang ia perlihatkan padaku. Hatiku berdenyut nyeri melihat tatapan yang ia tujukan padaku. Namun, aku sadar ini semua bukan salahnya. Aku memang pantas mendapatkan tatapan itu. Akulah yang bersalah, hingga membuatnya seperti ini.

Sasori Pov Off

.

.

.

.

Naruto melangkah mendekat ke tepi kursi warna hitam yang berada tepat di depan meja kerja Sasori. Tangannya mengeluarkan sketsa yang ia bawa, lalu menyusunnya di atas meja kerja Sasori. Mata safirnya menatap balik mata Sasori, sorot matanya memancarkan ketegasan dan penuh percaya diri.

Hening…

Tak ada satupun yang memulai pembicaraan diantara mereka berdua. Mereka berdua terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, tanpa Naruto sadari kedua tangan Naruto yang berada dibawah meja saling meremas - berusaha untuk mengurangi kegugupannya.

"Bagaimana kabarmu?" Tanya Sasori lembut, - memulai pembicaraan diantara mereka berdua.

"Seperti yang kau lihat," jawabnya datar.

Sasori menghela nafas mendengar jawaban Naruto. "Kau tidak banyak berubah Naru. Justru kau semakin cantik dan seksi." Salah satu sudut bibir Sasori terangkat membentuk sebuah seringai yang kini menghiasi wajah tampannya. Hatinya menghangat dan perasaan senang menjalari dirinya saat melihat semburat kemerahan yang tampak samar kini menghiasi wajah cantik Naruto. Itu artinya ia masih memiliki kesempatan, bukan?

Sasori mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua sikunya bertumpu diatas meja kerjanya. Kedua jari tangannya saling bertautan, matanya menatap sosok gadis cantik didepannya dengan begitu intens.

Naruto berusaha mengacuhkan tatapan intens yang Sasori tujukan padanya. Sedikit risih memang, tapi ia tetap harus bersikap profesional.

"Ini hasil sketsa-ku," Naruto membuka sketsanya dan menyerahkan hasil sketsa-nya pada Sasori.

"Bagaimana dengan kabar Kyuu-nii?" Tanya Sasori lagi.

Naruto mendengus malas seraya melipat kedua tangannya di depan dada, mata safirnya manatap menantang ke arah pemuda tampan yang duduk tepat dihadapannya. "Itu bukan urusanmu."

"Aku kesini untuk membicarakan pekerjaan. Tapi, jika tidak ada yang ingin kau tanyakan, maka aku akan pergi." Naruto beranjak dari tempat duduknya, kakinya yang dibalut high heels berwarna peach melangkah menuju pintu, tangannya terangkat meraih kenop pintu sebelum sebuah tangan lain menahan lengannya.

Pandangannya teralih dari pintu yang ada didepannya pada sosok pria tampan yang kini tengah menahan lengannya. Matanya mentap tajam ke arah pria itu, seolah berkata lewat tatapannya 'Lepaskan-tanganku-atau-kau-akan-menyesal,' lewat tatapannya.

Sasori tersenyum miring melihat reaksi gadis cantik didepannya. Ia berjalan mendekat yang membuat tubuh Naruto secara otomatis bergerak mundur hingga membentur tembok yang berada dibelakangnya. Pria itu menumpukan tangan kanannya pada tembok disebelah kepala gadis itu. Naruto masih bertahan pada posisinya. Mencoba menghilangkan segala rasa gugup yang mulai menyerangnya dan menunjukan pada pria itu bahwa dia sama sekali tidak terintimidasi oleh tindakannya.

Bibir tebal Sasori hendak menempel pada bibir Naruto, tapi kemudian pria itu berhenti saat gadis yang kini berada dalam kungkungan tangannya dengan sengaja menatap wajahnya balik, - seolah menantangnya.

Sasori tersenyum tipis melihat reaksi Naruto, pria itu kemudian mengalihkan bibirnya mengecup kening Naruto lembut.

"Aku benar-benar merindukanmu," matanya menatap lembut ke arah Naruto.

Naruto menunjukan seringaiannya pada Sasori. "Apa kau sedang mengemis cinta padaku, Sasori?"

.

.

Do You Love Me?

.

.

Sasuke Apartemen, Tokyo

Naruto meletakan piring kotor bekas makan malamnya ke tempat cucian piring. Lalu membuka lemari es dan mengambil sebotol lemonade kesukaannya, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kamar. Tubuhnya yang berbalut baju tidur berbahan satin berwarna putih gading semakin menonjolkan kecantikannya. Dari balik jendela kamarnya, ia dapat melihat hujan tengah turun membasahi kota Tokyo.

Naruto menghembuskan nafasnya gusar, gurat kelelahan tampak jelas di wajah cantiknya. Kedua tangannya terangkat mengusap wajahnya berusaha menghilangkan gurat kelelahan yang tampak jelas di wajahnya. Pertemuannya yang kedua kali dengan Sasori setelah bertahun-tahun benar-benar menjadi beban pikiran gadis itu sekarang. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya. Marah, benci, dan rindu, mungkin?

Tapi saat ini, entah Dewa Erebus dengan segala kegelapannya yang tengah mengikuti takdir gadis itu, atau Dewi Aprohdite dengan segala kebaikannya yang tengah mengikuti takdir gadis itu. Saat ia kembali bertemu denga pria itu, entah kenapa benteng kokoh yang ia buat selama bertahun-tahun seolah runtuh begitu saja.

Naruto menggelengkan kepalanya pelan, - berusaha menyingkirkan pemikirannya barusan. Entahlah. Naruto tak munafik, ada sosok dalam hati kecilnya yang merindukan pria itu. Tapi tidak, demi masa lalunya. Dia telah membenci pria itu dan semua yang terjadi setelahnya. Dia membenci masa lalunya yang tidak berjalan baik setelah berpisah dengan pria itu.

Hanya sikap dingin dan keangkuhannya juga orang-orang yang disayanginya yang membuatnya bertahan hingga saat ini. Naruto tidak akan membiarkan kejadian menyakitkan itu terulang kembali untuk menyakitinya. Tidak, meskipun sosok pria dari masa lalunya kembali lagi. Naruto akan mencoba bertahan meskipun pria itu adalah Akasuna Sasori.

.

.

Tbc

.

.

Thanks For : | gothiclolita89 | Aliyah649 | Ema Sabaku No Gaara628 | PenaBulu | luviz hayate | winteraries| yukiko senju | langit cerah 184 | miszshanty05 | zielavienaz96 | Hyull | Uzumaki Prince Dobe-Nii |

| Dewi15 | Kim Seo Ji | Aiko Michishige | SNlop | michiiend | Shiroi 144 | kHaLerie Hikari | TiaFujo12 | kazekageashainuzukaasharoyani | hanazawa kay | Arum Junnie | Darken L | Uchy Nayuki | Yuli Alvianita |

| iche cassiopeiajaejoong | SasuFemNaru Lovers | akane uzumaki faris | Serrara Tan | Namikaze Otorie | AprilianyArdeta | anita indah 777 | HikariChan93 | Jessica | D'Angel | Keila005 |

| Dahlia Lyana Palevi | Namikaze Aira | Kazuki Pegasus | KazeUchi Karina | iisElfsparsomnia | choikim1310 | yukiji |

| Guest1 | Guest2 | Guest3 | kimjaejoong309 | zukie1157 | anis ladyroseuchiha | Kyou-chan | Dita Pramita | Versya | Karina Adita | megumi ichikawa | Shinzui Koori | Za666 | ilma | narakurama71 |

.

.

.

.

Eiji Notes : Nah, Minna chapter 3 segini dulu ya kalo kepanjangan kayak chapter kemaren takut bosen bacanya :v dan jujur aja nge-ditnya juga capek :v chapter kemaren saya sampai berjam-jam nge-ditnya :v tapi typo masih tetep aja ada m(-_-)m gomen for typo #BungkukkinBadan. Well, lagi-lagi saya pakai nama bunga :v maklum saya emang suka bunga jadi suka nyelipin nama-nama bunga di fic saya :v terutama bunga Mawar merah :v tapi kemaren saya malah di beliin bunga mawar Kuning (-_-) dan bunganya malah layu (-_-) padahal ama saya udah di siram hampir tiap sore (-_-) tapi tumbuh lagi sih :v. Oh iya adakah yang kangen ama saya? Maaf ya, kalo updatenya lama m(*o*)m #BungkukkinBadan kemaren saya habis masuk Rumah Sakit dan harus di rawat seminggu, bosen juga sih disono :v ehehe. Ada yang pernah denger lagu Kiss The Rain by Yiruma, itu salah satu lagu favorit saya :v malah bisa dibilang lagu lullaby saya :v karena tiap mau tidur pasti selalu nyempetin buat dengerin lagu itu dulu :v lagunya sedih :'v tapi entah kenapa saya suka banget ama lagu ini bagi yang belum pernah denger saya nyaranin banget lagu ini .

#WeDoCareAboutSFN

.

.

Boleh minta Ripiw? (^o^)