Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. But, this story is mine. Namikaze Eiji. So, dont be Plagiator. Dont Copy my fic. And dont Bash my story. Thank You (^o^)
Rate : M
Pairing : SasuFemNaru slight SasoFemNaru
Warning : Gender Switch, Newbie, AU,OOC,OC,Typo bertebaran,EYD jelek. No flame. Kritik dan saran yang membangun dan menggunakan bahasa yang sopan diterima. Alur kecepetan. Cerita aneh bin Gaje. Mature Content.
.
.
Cast :
Namikaze Naruto ( 21 tahun )
Akasuna Sasori ( 23 tahun )
Uchiha Itachi ( 27 tahun )
Uchiha Sasuke ( 24 tahun )
Namikaze Kyuubi ( 27 tahun )
.
.
Gak suka ! Gak usah baca !
.
.
Summary : Sasuke dan Naruto. Mereka dua orang yang tak mengenal satu sama lain. Namun, karena suatu 'peristiwa' mereka bertemu dan memutuskan untuk tinggal bersama. Mungkinkah ini takdir? Bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka selama tinggal bersama?
.
.
Happy Reading Minna.. (^o^)
.
.
Do You Love Me?
By.
Namikaze Eiji
Chapter 4
.
.
At Konoha International Hosital...
Dan akhirnya para kurcaci itu membangun tempat yang indah untuk Snow White yang sedang tertidur.
Hari demi hari para kurcaci itu menunggu dengan penuh kecemasan, akankah ada seorang pangeran tampan yang akan memberikan Ciuman Cinta Sejatinya untuk Snow White?
Musim terus berganti, mulai dari panasnya matahari, gugurnya dedaunan, dinginnya salju namun sang pangeran tampan yang di tunggu tak juga menampakan diri.
Hingga akhirnya, saat hewan-hewan mulai keluar dari persembunyiannya untuk menampakan diri setelah musim dingin yang cukup panjang, dan burung-burung mulai bernyanyi menyambut datangnya musim semi di iringi dengan mekarnya bunga-bunga indah sang pangeran yang di tunggu pun datang dengan kuda putihnya.
Perlahan ia mendekati Snow White, sang pangeran begitu terpukau melihat kecantikan Snow White. Pangeran tampan itu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Snow White.
Pangeran itu sedikit membungkukkan badannya, lalu memberikan ciuman kepada Snow White.
Dalam hati sang pangeran berharap bahwa ciumannya adalah ciuman cinta sejati yang dapat membangunkan Snow White dari tidur panjangnya.
Lama menunggu dalam diam, Snow White tidak juga membuka matanya.
Hingga akhirnya, saat pangeran mulai putus asa, mata Snow White perlahan terbuka. Sang pangeran menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rasa bahagia mulai menjalari hatinya, karena ia telah mematahkan kutukan sang penyihir jahat, Malefincent.
Sorak sorai terdengar dari para kurcaci melihat sahabat mereka - snow white - terbangun. Hiruk pikuk kegembiraan membuat sang pangeran tak bisa menahan senyum kebahagiaan yang terbit di wajah rupawannya, kemudian ia mengulurkan tangannya pada Snow White untuk membantunya berdiri dari tempat tidur indahnya.
"And they married and live happily ever after," Naruto menutup buku cerita yang ada di genggamannya lalu menatap lembut pada sosok sang kakak yang terbaring di ranjang rumah sakit di hadapannya.
Seulas senyum simpul terbit di wajahnya, sebelum berkata. "Kyuu-nii, kurasa akhir bahagia memang hanya ada dalam cerita dongeng dan tak mungkin menjadi kenyataan. Seperti kisah ku dengan Sasori. "Happily ever after doesn't even exist," ucapnya kemudian tersenyum masam.
.
.
.
Naruto menjadikan tangannya sebagai tumpuan untuk menyangga kepalanya, matanya menatap teduh pada sosok sang kakak yang teramat di sayanginya. Tangan kanannya terulur merapikan beberapa helai anak rambut sang kakak yang tampak lebih panjang dari yang terakhir kali ia lihat.
" Kyuu-nii, apa kabar? Ku harap kau baik. Kau tidak perlu menghawatirkan aku, karena aku hidup dengan baik. Maaf, akhir-akhir ini aku jarang mengunjungimu. Aku benar-benar sibuk dengan tugasku belakangan ini." Seulas senyum simpul terbit di wajah cantiknya, tanpa bisa ia tahan setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
"Kyuu-nii, sebenarnya aku tak ingin menceritakan hal ini padamu. Tapi aku sudah benar-benar tidak tahan lagi. Dia kembali Kyuu-nii, Sasori kembali. Aku memang merindukannya. Tapi, meskipun begitu aku tidak pernah bisa mengontrol emosiku jika berada di dekatnya. Setiap melihatnya aku selalu merasa marah. Aku membencinya, Kyuu-nii, namun hati kecilku justru mengatakan hal yang sebaliknya." Naruto menghela nafasnya pelan seraya menyeka air matanya menggunakan punggung tangannya.
Naruto menghembuskan nafasnya kasar. "Aku membencinya karena ia hidup dengan baik, sedangkan aku tidak. Aku hampir saja kehilanganmu. Aku hampir kehilangan hal paling berharga yang pernah aku miliki. Aku membencinya karena dia menghianatiku. Dia mungkin saja hidup bahagia dengan gadis itu, sedangkan aku?" Naruto kembali menghela nafasnya perlahan, ia kembali menyeka air matanya.
Naruto mendesah frustasi. "Apa yang harus kulakukan Kyuu-nii? Ini sungguh sulit. Aku membencinya, dan bukankah harusnya tetap seperti itu?" Naruto terisak pelan saat merasakan rasa sesak mulai menggerogoti dadanya. Entah kenapa rasa sakit yang selama bertahun-tahun coba ia kubur kini ia rasakan kembali.
Rasa sakit yang di sebabkan oleh seseorang yang berasal dari masa lalunya. Rasa sakit dari seorang pria yang mengajarkannya arti cinta sekaligus membuat hatinya terluka. Seseorang yang telah membuat Naruto merubah prinsipnya akan cinta.
.
.
.
Sasori menyandarkan punggungnya pada tembok Rumah Sakit. Matanya memandang kosong ke arah langit-langit Rumah Sakit.
'Itukah alasanmu Naru? Alasan kenapa kau sangat membenci-ku?' Sasori tersenyum miris, mengingat kesalahannya beberapa tahun lalu. Ia sadar semuanya berawal dari dirinya. Seandainya saja dulu ia bisa menahan hasrat sementaranya untuk mencumbu gadis yang Naruto benci mungkin semua tak akan berakhir seperti ini. Mungkin saat ini Naruto masih bersamanya, tersenyum ke arahnya, dan memandangnya dengan tatapan teduh gadis itu yang selalu membuat hatinya hangat dan selalu membuat jantungnya berdebar.
Sasori meremas rambutnya kuat saat rasa pusing yang sangat kentara menyerang kepalanya. Tangannya terangkat mencengkeram bagian dadanya yang saat ini terasa sesak seolah paru-paru ditarik paksa darinya hingga mengakibatkan ia kekurangan oksigen. Ia berbalik dalam diam, menyeret kakinya yang terasa berat saat ia mulai melangkah menuju mobilnya yang terparkir di basement Rumah Sakit. Kemudian tanpa bisa menahannya lagi, pria itu menangis. Meluapkan semua emosi yang selalu ia pendam disana.
Tangannya membentuk kepalan sebagai bentuk rasa marah dan kecewanya. "Maafkan aku, Naru." Hanya kata itu yang sesekali terdengar dari bibirnya. Ia sadar kata maaf tak kan bisa mengubah apapun sekarang. Karena jauh di dalam hatinya ia sadar jika ia telah menyakiti gadis itu terlalu dalam. Tapi, seandainya Naruto tau, jika selama ini, ia pun tak bisa bernafas dengan baik dan hidup dengan benar setelah kepergian gadis itu dari hidupnya.
Seandainya ia tau itu.
Yah, seandainya gadis itu tau.
.
.
.
Naruto mendesah pasrah saat melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya telah menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Ia terpaksa harus menunggu tiga puluh menit karena bis yang biasa ia taiki telah berangkat sekitar lima belas menit yang lalu.
Double sialan, kenapa hari ini ia benar-benar sial?
Matanya menyapu pemandangan disekitarnya. Jalan tampak ramai meski waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam, lampu-lampu dari mobil yang memenuhi jalan raya menjadi hiburan tersendiri untuk gadis itu. Yah, setidaknya hal ini dapat mengurangi rasa jenuhnya karena harus menunggu bis.
Naruto menyipitkan matanya, mencoba memfokuskan pandangannya pada sosok kecil yang tengah duduk meringkuk di seberang jalan. Naruto mengernyitkan dahinya, dalam hati ia menerka-nerka apa yang dilakukan seorang anak kecil dimalam hari?
Merasa penasaran, ia beranjak menghampiri anak itu.
"Hay, apa yang kau lakukan tengah malam begini anak manis?" Naruto membungkkukkan sedikit badannya untuk mensejajarkan tingginya dengan anak itu. Anak kecil yang semula tengah memandang ke bawah itu secara otomatis mendongakkan kepalanya saat mendengar suara Naruto.
"Aku sedang menjual bunga," jawabnya pelan. Naruto melirik pada keranjang bunga yang berada pada tangan kanan gadis itu.
"Tapi, sekarang sudah malam. Kau harusnya pulang,"
"Aku belum bisa pulang kak jika bunga yang kujual belum habis terjual," Naruto menggulum senyum mendengar jawaban polos yang terlontar dari gadis kecil itu.
"Aku akan membelinya,"
"Sungguh?" Naruto tertawa renyah mendengar nada bahagia yang keluar dari sosok gadis kecil itu, kemudian ia menganggukkan kepalanya beberapa kali untuk meyakinkan sosok gadis kecil yang ada di depannya.
"Terimakasih kakak,"
"Sama-sama," Naruto mengacak rambut gadis itu gemas. "Nah, sekarang kau harus pulang karena sekarang sudah malam." Perintah Naruto.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi, namun pada langkah ke tujuh ia kembali memutar tubuhnya dan berlari kecil menghampiri Naruto.
"Ini untuk kakak," gadis kecil itu melambaikan tangannya menyuruh Naruto untuk sedikit membungkukkan badannya lalu memberikan sekotak pepero pada Naruto.
Naruto tersenyum lembut pada gadis itu, "Terimakasih."
Naruto berbalik menuju halte setelas melambai pada gadis kecil itu dan memastikan gadis kecil itu berjalan pulang menuju rumahnya. Tak sampai sepuluh menit bis yang ia tunggu pun tiba.
Naruto mendudukan dirinya pada kursi kedua dari belakang; tempat favoritnya. Matanya menyapu pemandangan sekitar bis selama bis berjalan dengan senyum yang tersungging di wajahnya.
Hey, sepertinya hari ini bukan benar-benar hari 'sial' untuknya. Buktinya ia masih bisa tersenyum, bukan?
Ia masukkan kedua tangannya pada saku jaketnya saat udara malam yang dingin mulai menusuk-nusuk kulitnya.
PING... satu pesan masuk.
Naruto merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan ponselnya. Tanpa ia sadari, ia tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
From : U. Sasuke
To : N. Naruto
Subjeck : Kau sedang apa?
From : N. Naruto
To : U. Sasuke
Subjeck : Aku sedang di jalan menuju apartemen.
From : U. Sasuke
To : N. Naruto
Subjeck : Ha? Apa yang sedang kau lakukan di jalan tengah malam begini Dobe! Bukankah sudah ku bilang jangan keluar malam hari! Itu berbahaya!
From : N. Naruto
To : U. Sasuke
Subjeck : Aku dari Rumah Sakit, mengunjungi Kyuu-nii. Hey! Kau tak berhak memerintahku Mr. Bossy! Kau bukan bos ku!
From : U. Sasuke
To : N. Naruto
Subjeck : Tsk, kenapa kau meneriaki ku? Dan apa-apaan kau menggunakan tanda seru sebanyak itu!
From : N. Naruto
To : U. Sasuke
Subjeck : Aish! Sudahlah, percuma berdebat dengan Angry Bird sepertimu ! Dasar Mr. Bossy dan Angry Bird jelek :p
From : U. Sasuke
To : N. Naruto
Subjeck : Hey, Dobe kenapa kau menyebutku Mr. Bossy, huh? Dan apa maksudmu menyamakanku dengan burung jelek berwarna merah itu!
From : N. Naruto
To : U. Sasuke
Subjeck : Suka-suka ku ingin menyebutmu apa :p .
Itu karena Uchiha Sasuke dan Angry Bird sama-sama pemarah T_T) xD
From : U. Sasuke
To : N. Naruto
Subjeck : Tsk, awas kau jika aku pulang nanti Dobe!
From : N. Naruto
To : U. Sasuke
Subjeck : Aku tak takut! :p _
Naruto tersenyum melihat pesan yang baru saja ia kirim untuk Sasuke. Ia bisa membayangkan betapa merahnya wajah pemuda itu saat ini. Benar-benar mirip Angry Bird, bukan?
Ah, kadang ia heran dengan dirinya sendiri dan Sasuke. Kenapa setiap kali mereka chat hal yang mereka ributkan tak pernah jauh dari tanda seru.
Naruto mencebikkan bibirnya lucu seraya menggerutu pelan saat mengingat sikap Sasuke yang sangat Bossy dan pemerintah itu.
Bahkan, dalam chat pun pria itu selalu memberikan tanda seru padanya lebih dari satu, maka untuk membalas perbuatan pria itu, ia selalu membalas chat Sasuke menggunakan tanda seru yang jumlahnya memang 'agak' diluar batas. Dan hal ini kerap kali membuat Sasuke marah, yang menurutnya sangat manis. Karena wajah pria itu akan memerah bila tengah menahan amarah.
.
.
.
Naruto menjitjitkan kakinya, kedua tangannya berusaha menggapai kaitan tirai yang ada di atasnya.
Naruto menghembuskan nafasnya secara berlebihan, "Aish! Kenapa sulit sekali?" makinya kesal.
Sekali lagi ia menjitjitkan kakinya, pekikkan girang terdengar ketika ia berhasil melepaskan pengait itu. Kemudian, dengan terampil tangannya mengganti tirai lama menggunakan tirai baru yang telah ia siapkan sebelumnya.
Natuto tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Dengan perlahan ia menurunkan dirinya dari kursi yang ia gunakan untuk memasang tirai.
Mata safirnya meyapu pemandangan apartemen Sasuke yang tampak lebih bersih dari sebelumnya. Terseyum bangga pada dirinya sendiri karena telah menyulap apartemen Sasuke menjadi bersih.
Ah, benar-benar hari minggu yang melelahkan dan menyenangkan.
Yup, sekarang adalah hari libur. Dan Naruto memutuskan untuk membersihkan apartemen Sasuke, mengingat selama beberapa hari terakhir ini ia kurang 'merawat' apartemen ini karena kesibukannya di kampus dan kantornya.
Setelah berhari-hari 'berperang' melawan 'tugas-tugas' itu akhirnya ia bisa menarik nafas lega.
Naruto melirik jam dinding yang berbentuk seekor kodok lucu berwarna hijau dengan mata besar yang terpasang di ruang tengah apartemen Sasuke.
Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas ketika mengingat perjuangannya untuk memasang jam dinding bergambar kodok lucu itu. Dengan perdebatan kecil yang terjadi antara dirinya dan Sasuke, dan di menangkan olehnya.
Terkekeh pelan, ketika mengingat raut merengut yang di tujukan Sasuke padanya. Tak terima ia kalah berdebat dengan gadis itu.
"Sebaiknya aku mandi dulu," gumamnya lebih kepada dirinya sendiri. Lalu beranjak untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.
.
.
.
At Supermarket...
Hari ini, Naruto menggunakan kemeja kebesaran hingga mencapai setengah lututnya di tambah dengan celana hotpans yang membalut kakinya yang jenjang dan sepatu flat warna merah maroon favoritnya.
Cara berpakaian yang simple, namun tetap menarik.
Naruto kembali melirik daftar belanjaan yang ia bawa, - memastikan tak ada satu barang pun yang terlewat. Gumaman lirih terdengar dari bibirnya ketika ia melihat daftar belanjaan itu. "Kurasa sudah semua," ucapnya lalu melangkahkan kakinya menuju kasir untuk membayar belanjaan yang ia beli.
.
.
.
Jari-jari Naruto menekan beberapa digit angka, password apartemen Sasuke.
Ia melepas sepatunya, menaruhnya pada rak sepatu yang terletak tak jauh dari pintu masuk.
Mengganti sepatunya dengan sandal rumah berbentuk kodok.
Yup, Naruto memang penggila kodok lucu bernama keroppi. Terbukti dari semua barang-barangnya yang bergambar kodok lucu itu _.
Tangannya meraba dinding, mencari saklar untuk memyalakan lampu.
"Dari mana saja kau Dobe?" suara datar itu membuat Naruto terlonjak kaget dan hampir menjatuhkan belajaannya.
Mata safirnya menyipit dan menatap tajam pada sang pemilik suara. "Ya ampun Teme, kau mengagetkanku! Dan apa yang kau lalukan disini? Bukankah harusnya kau tiba lusa esok?" tanya Naruto beruntun.
"Pekerjaan ku sudah selesai disana, jadi untuk apa aku berlama-lama disana," ucap Sasuke sambil berlalu dan berjalan menuju dapur. Ia berhenti di depan pintu kulkas, dan mengambil sebotol air dingin di dalamnya, dan langsung meneguknya dalam sekali tegukan hingga hanya menyisakan separuh dari isi botol itu.
Naruto mendengus kesal melihat tingkah Sasuke. "Bukankah aku sudah sering mengingatkanmu. Jangan meminum air dingin dimalam hari, itu tidak bagus untuk kesahatan."
Ucapan Naruto dibalas dengan senyuman tanpa rasa bersalah oleh Sasuke, membuat gadis itu berjalan menghampiri Sasuke dan mencubit pinggang pria itu.
"A-aww..." Sasuke meringis merasakan cubitan Naruto. "Maaf, baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi." Naruto tersenyum mendengar ucapan Sasuke.
.
.
.
Sasuke melangkah keluar dari kamarnya dengan handuk kecil yang melekat pada lehernya. Sesekali tangan kanannya terangkat untuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk itu.
Pagi ini ia terbangun dengan lebih segar, entahlah mungkin karena malam ini ia tidur dengan nyenyak. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Well, mungkin salah satu penyebabnya adalah keberadaan Naruto disisinya, hingga membuatnya dapat tertidur nyenyak.
Ia melangkah menuju ruang tamu apartemennya. Dari tempatnya berdiri ia dapat melihat Naruto yang tengah tertidur di sofa dengan posisi meringkuk menbentuk sebuah janin.
Seulas senyum simpul terbit di wajahnya. Kebiasaan Naruto dari dulu hingga sekarang memang tak pernah berubah. Well, selama hidup berdua dengan Naruto, membuat Sasuke sedikit banyak hapal kebiasaan gadis itu bahkan hingga hal-hal kecil sekalipun, begitupun sebaliknya.
Sasuke melangkah perlahan menghampiri Naruto, dari posisinya ia dapat melihat Naruto tengah memeluk sebuah novel.
Alis Sasuke saling bertaut hingga membentuk satu garis lurus, saat melihat Naruto yang terus bergerak gelisah dalam tidurnya.
Dengan perlahan ia membungkukkan tubuhnya hingga sejajar dengan Naruto, dan membawa gadis itu dalam gendongannya. Ia melangkah perlahan menuju kamar Naruto di lantai dua, sebisa mungkin membuat Naruto tak terusik dalam tidurnya.
.
.
.
Naruto mengerjapkan matanya perlahan saat sinar matahari mulai masuk melalui celah-celah gorden kamarnya. Dengan sedikit malas ia menarik selimut yang menutupi tubuhnya hingga menutupi kepalanya.
"Mau sampai kapan kau akan tidur, Dobe?" Naruto mengerang mendengar suara Sasuke, namun sama sekali tak berniat untuk bangun dari tidurnya.
Sasuke menghela napas, "Jika kau tidak bangun juga, aku akan membakar novelmu Dobe!" ucapan Sasuke sontak membuat Naruto segera bangun dari tidurnya. Salah satu sudut bibir Sasuke tertarik membentuk sebuah seringai puas.
.
.
.
Sasuke memakan makan siangnya dalam hening, tak jarang ia melirik ke arah Naruto yang duduk di depannya melalui ekor matanya.
"Kau tidak makan Dobe?" tanya Sasuke mengakhiri keheningan yang menyelimuti mereka.
"Hmmm..."
"Sebenarnya apa yang sedang kau baca?" Sasuke meletakkan sendok dan garpunya di atas meja makan, dan mengakhiri acara makannya. Kedua tangannya bertumpu di atas meja makan dengan tangan saling bertaut untuk menopang kepalanya.
"Novel," jawab Naruto pendek, tanpa mengalihkan perhatiannya dari novel yang sedang ia baca.
Sasuke mengernyit dan menghela napas pendek melihat Naruto yang sama sekali tak menolehkan kepala ke arahnya.
"Novel apa yang sedang kau baca?" tanya Sasuke lagi.
"Jane Eyre," Sasuke menaikkan sebelah alisnya dan mendengus kesal melihat sikap Naruto yang mengacuhkannya, lagi.
"Aku baru tau kau menyukai novel," tanya Sasuke lagi, tak menyerah dengan sikap Naruto yang mengacuhkannya.
Naruto melirik dari balik novelnya, mata safirnya menatap Sasuke yang duduk tepat di hadapannya. Ia menandai halaman yang sudah ia baca, kemudian menatap Sasuke; memusatkan seluruh pusat perhatiannya kepada Sasuke.
"Aku baru membelinya kemarin," jelas Naruto, seolah menjawab tatapan penuh ingin tahu yang di tujukan Sasuke padanya.
"Kau tau? Novel ini adalah novel romance kuno dari abad ke-18,"
"Aku baru tahu kau menyukai novel klasik, Dobe." Sasuke mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Naruto.
"Hmm, mungkin karena novel ini menarik." Kedua sudut bibir Naruto terangkat ke atas, menciptakan seulas senyum lembut di wajah cantiknya.
.
.
.
Jika cinta itu sama dengan hujan...
Maka kaulah tetes air yang mengalir itu...
Menerpa tubuhku... membasahi hatiku...
Membuatku mampu bermimpi...
Bahwa mungkin akan ada 'Bahagia selamanya' untuk kau dan aku...
"Kau masih membaca novel itu, Dobe?" ucap Sasuke seraya mendudukkan dirinya di sebelah Naruto.
"Hmm.."
Sasuke melirik novel yang tengah di baca oleh Naruto, "Apa novel klasik itu sangat menarik?" tanya Sasuke.
"Hmm, kau tahu, Suke, awalnya aku tak percaya pada akhir yang bahagia," Naruto menjeda ucapannya, dan mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke, menatap mata pria itu intens.
"Itu hanya ada di dongeng-dongeng, Dobe," tanpa sadar kata itu terucap oleh Sasuke, seolah menjawab pernyataan yang di utarakan Naruto.
Naruto terkekeh pelan mendengar jawaban Sasuke, membuat Sasuke mengernyitkan keningnya. "Kau tau Suke? Yang kau ucapkan barusan itu sama persis seperti yang pernah kukatakan."
"Jadi kau percaya pada akhir yang bahagia?"
"Entahlah.. tapi aku percaya bahwa setiap perempuan pasti menemukan kebahagiaannya masing-masing,"
"Tetapi, tidak ada yang bahagia selamanya. Karena hidup terus berputar, manusia yang bercinta harus menghadapinya. Mereka bisa bahagia karena cinta, tetapi terkadang menangis juga karenanya. Begitulah hidup, begitulah cinta." Mata oniks Sasuke berubah sendu ketika mengatakannya.
"Dan karena ada kematian. Suatu saat manusia harus siap menghadapinya. Dipisahkan satu sama lainnya, oleh sesuatu yang bernama takdir..."
Kata-kata itu membuat Naruto tertegun dan membeku di tempatnya... kata-kata itu sama persis seperti yang pernah di ucapkan Sasori padanya.
Hening
Sasuke mengernyitkan keningnya saat melihat perubahan ekspresi yang ditunjukan Naruto. "Kau kenapa Naru?" tanyanya datar, berbanding terbalik dengan isi hatinya yang di penuhi oleh kekhawatiran saat melihat perubahan ekspresi Naruto.
"Aku tidak apa-apa Suke..." ujar Naruto memaksakan seulas senyum di wajahnya.
.
.
.
Gadis itu berdiri canggung diambang pintu, matanya menatap makhluk lain yang tengah duduk diranjang sambil memainkan tablet-nya. Seakan tidak menyadari kehadirannya, Sasuke membuatnya seperti orang bodoh sambil menatapnya. Gelenyar aneh kejadian beberapa hari yang lalu kembali melintas, ketika Sasuke dengan penuh kesabaran dan kelembutan menemaninya.
"Sampai kapan kau berdiri disitu? Kemari," Naruto tersadar dari lamunannya, Sasuke tidak lagi menatap tablet-nya. Ia tengah menatap dengan intens dirinya, membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Naruto mendekat, membiarkan debaman pintu kamar Sasuke yang sudah tertutup rapat. Ia sudah tidak bisa menolak ataupun mengelak lagi karena telah mengawasi Sasuke diam-diam.
Langkahnya terhenti didepan Sasuke, menunduk malu karena pria itu tidak sama sekali berhenti menatapnya. Dan ketika Sasuke rasa tepat, pria itu menariknya hingga jatuh disampignya, mulai melancarkan aksinya.
"Aku merindukanmu," ucap Sasuke disela kecupannya. Bibir Sasuke mengecup rahangnya dengan lihai, membuat Naruto tidak mampu menjawab apa-apa.
Naruto mendongkak ketika bibir Sasuke merayap turun kelehernya, mengecupnya lagi, lalu menjilatnya. Tubuhnya menggelinjang ketika pinggangnya terangkat lalu duduk dipangkuan pria itu. Tangan Sasuke bergerak menyentuh kancing kemeja yang dikenakannya, membukanya hingga terdengar bunyi kain sobek. Dan sekarang ia menyadari, Sasuke akan selalu mengoyak pakaiannya.
"Aahh..." "Naruto mendesis ketika kedua tangan Sasuke mulai mengelus garis tubuhnya, dari ujung naik kepahanya yang mulus, menghindari titik sensitifnya. Tidak mengurangi intensitas ciumannya dileher Naruto, menghisapnya hingga mencetak warna kemerahan.
Sasuke beralih mencium bibirnya, yang disambut dengan sedikit kagok oleh Naruto, ia bukan pencium yang baik. Dan Naruto sangat sadar akan hal itu. Namun, Sasuke selalu mengajarinya dengan penuh kesabaran dengan ciuman yang memabukkan, membuat Naruto mau tak mau ikut terhanyut oleh ciuman Sasuke. Dan sekarang ia mulai bisa mengimbangi ciuman Sasuke. Setidaknya Sasuke tidak protes dengan kemampuan menciumnya.
Kedua tangannya mengacak rambut Sasuke, menariknya ketika pria itu membelitkan lidahnya didalam mulutnya, bertukar saliva. Tangan Sasuke naik mengelus perut hingga punggungnya dengan gerakan teramat pelan. Membuat Naruto melenguh dalam ciumannya.
Pria itu seperti tidak ingin melewatkan sesenti-pun untuk menyentuh tubuhnya. Membuat tubuhnya merinding dan geli disaat bersamaan. Sasuke mengakhiri ciumannya, menggantinya dengan kecupan-kecupan basah disekitar bibir Naruto. Bibir gadis itu sedikit membengkak dan memerah akibat kulumannya."
"Buka pakaianku," ucap Sasuke yang lebih menyerupai" perintah. Masih sempat-sempatnya untuk membuat gadis itu bekerja ditengah ransangan yang ia sendiri berikan. Naruto menurutinya, menarik kaos abu-abu yang dipakai Sasuke hingga terlepas, menampakkan dadanya yang bidang.
Sejenak mereka bertatapan, Sasuke memandangnya dengan api gairah yang tidak ditutup-tutupi. Mengalungkan kedua lengan gadis itu untuk melingkari lehernya, lalu menariknya mendekat hingga pusat tubuh mereka bersentuhan.
Perlahan pria itu menyeringai, menatap wajah Naruto intens lalu mendekatkan bibirnya ditepi bibir Naruto. Membiarkan helaan nafas keduanya berbenturan."
"Kau sangat cantik," ini bukan pertama kalinya Sasuke memujinya cantik. Entah kenapa kata-kata itu terucap begitu saja dari bibirnya. Tidak ada penyesalan, jika pada akhirnya Naruto akan memerah malu karena pujiannya. Perasaan hangat melingkupi Naruto saat mendengar pujian yang ditujukan Sasuke padanya.
Naruto tidak sengaja memajukan bibirnya dan Sasuke langsung menyambarnya, menghisap bibirnya bergantian hingga terdengar bunyi berdecit yang menggairahkan.
Sialan.
Sasuke tidak yakin bisa bertahan lebih lama.
.
.
.
Lenguhan-lenguhan penuh kenikmatan terus terdengar sejak dua jam yang lalu, baik Sasuke maupun Naruto, mereka tidak sama menghentikannya. Bergerak dibawah selimut dengan saling menatap satu-sama lain. Gelenyar aneh itu selalu datang, perasaan asing yang membuat Sasuke pusing untuk memikirkannya.
Pria itu menghentakkan tubuhnya kuat-kuat, sedangkan bibirnya mengecup seluruh wajah Naruto yang saat ini tengah dibawahnya, dibawah kuasanya, melenguh pedih ketika ia menurunkan tubuhnya. Kakinya jenjangnya melingkar erat dipinggang Sasuke, membuat Sasuke seakan melayang karena sensasi jepitan kuat yang meremas-remas kejantanannya.
'Astaga, aku sudah menghabisinya tiga ronde. Bahkan ini baru percintanku yang pertama dengan Naruto sejak kepulanganku.' Sasuke merutuk dalam hati, tapi tidak menghentikan kegiatannya.
"" Eunghh, Sukehh.." " Panggil gadis itu serak. Sasuke menatapnya nanar, keringat sudah berjatuhan diwajah tampannya, dan tubuh keduanya mengkilat karena peluh yang seakan tidak ada habisnya. Memejamkan matanya ketika Sasuke menghentaknya dalam. Tubuh Naruto menggelepar tidak berdaya dibawah kuasa Sasuke. Tubuhnya serasa remuk, tapi sensasi orgasme yang akan ia dapatkan lagi bersama Sasuke lebih membuatnya penasaran. "
"Ahh..." Sasuke mendesah sambil mendongkak, membuat lehernya yang jenjang terlihat begitu menggiurkan untuk Naruto. Menuruti nalurinya, gadis itu membenamkan bibirnya disana, menghisapnya hingga berdecit nyaring. Sasuke menurunkan wajahnya, membantu Naruto untuk menggapai sisi lehernya yang lain. Ia menyukai sensasi hangat dari bibir Naruto dibagian lehernya.
Sasuke menambah temponya, menghentaknya dalam-dalam hingga terdengar suara decitan ranjang. Tubuh Naruto terombang-ambing mengkuti pergerakan Sasuke, dan pria itu membenamkan bibirnya dipuntingnya lagi. Beberapa bagian dada dan lehernya bahkan masih memerah karena ulah bibir pria itu."
"Sasukehh lebih cepathh.." tidak sadar ia mengucapkannya. Tapi Sasuke mendengar dan melakukan apa yang Naruto inginkan, mempercepatnya. Ada dorongan dalam dirinya untuk terus menghujamnya.
Naruto memekik nyaring, semakin kuat menekan pinggang Sasuke dengan kakinya. Kepalanya terasa pening, tubuhnya menegang dan kewanitaanya berdenyut kuat, meremas milik Sasuke dengan denyutannya yang lembut.
""Argh..Naru," Sasuke memanggilnya dengan suaranya yang parau. Demi apapun, ia menyukai Sasuke memanggilnya seperti itu. Beberapa detik setelahnya, tubuhnya terasa melayang dan orgasme menyerangnya tanpa ampun. Masih sama seperti awal, begitu nikmat dan membuatnya ketagihan.
Sasuke benar-benar sudah meracuninya. Pria itu masih bergerak-gerak diatasnya, belum mendapatkan klimaks-nya. Dengan sisa tenaganya, Naruto ikut menggerakkan tubuhnya sambil mendenyutkan miliknya beberapa kali hingga Sasuke berteriak-teriak kenikmatan lalu menggelepar dengan cairan yang menyatu dengannya. Keduanya ambruk dengan degupan jantung luar biasa menggila, helaan napas yang putus-putus dan tubuh bermandikan keringat.
Sasuke masih menyandarkan kepalanya didada gadis itu, tubuhnya-pun masih bersatu dengan Naruto. Masih menikmati denyutan dari milik gadis itu, dan cairannya yang masih mengalir walaupun dalam frekuensi kecil. Tersadar jika ia membuat gadis itu sulit bernafas, Sasuke beralih kesamping hingga penyatuannya terlepas. Selain itu, jika dibiarkan didalam sana, besar kemungkinan ia akan melanjutkan ronde berikutnya, dan membuat Naruto tidak bisa berjalan lagi.
Sialan.
.
.
Tbc
.
.
Eiji Notes : Gomen, kalo updatenya bener-bener ngaret (m_m) semester sekarang bener-bener sibuk sampe gak ada waktu buat leha-leha, makasih buat semua yang masih mau nunggu fic ini *peluk satu-satu dan makasih juga buat yang udah ngasih komentar dan semangat supaya Ei terus lanjut fic ini... :*
.
.
#WeDoCareAboutSFN
