Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. But, this story is mine. Namikaze Eiji. So, dont be Plagiator. Dont Copy my fic. And dont Bash my story. Thank You (^o^)

Rate : M

Pairing : SasuFemNaru slight SasoFemNaru

Warning : Gender Switch, Newbie, AU,OOC,OC,Typo bertebaran,EYD jelek. No flame. Kritik dan saran yang membangun dan menggunakan bahasa yang sopan diterima. Alur kecepetan. Cerita aneh bin Gaje. Mature Content.

.

.

Cast :

Namikaze Naruto ( 21 tahun )

Akasuna Sasori ( 23 tahun )

Uchiha Itachi ( 27 tahun )

Uchiha Sasuke ( 24 tahun )

Namikaze Kyuubi ( 27 tahun )

.

.

Gak suka ! Gak usah baca !

.

.

Summary : Sasuke dan Naruto. Mereka dua orang yang tak mengenal satu sama lain. Namun, karena suatu 'peristiwa' mereka bertemu dan memutuskan untuk tinggal bersama. Mungkinkah ini takdir? Bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka selama tinggal bersama?

.

.

Happy Reading Minna.. (^o^)

.

.

Do You Love Me?

By.

Namikaze Eiji

Soulmate?

Samar-samar Naruto merasakan kecupan disepanjang bahu kanannya. Perlahan kesadarannya datang, namun Naruto memutuskan untuk tetap diam. Ketenangan itu membuainya, membuat Naruto semakin larut dalam kecupan lembut di bahunya.

"Kau, berarti segalanya untukku, Naru. Aku akan menjagamu." Bisik Sasuke. Lalu ia mencium pipi Naruto dan turun dari tempat tidur.

Ketika mendengar suara air dinyalakan dari kamar mandi, Naruto membuka mata. Jantungnya berdebar keras. Bisikan itu terus terulang dalam pikirannya bagaikan sebuah kaset yang diputar secara berulang-ulang, membawa Naruto ke dalam perasaan asing yang dulu pernah ia rasakan. Naruto menghela napas, entah kenapa sangat sulit baginya untuk mengontrol detak jantungnya bila berada di sekitar Sasuke. Ia sangat sadar perasaan asing itu, perasaan yang telah lama ia hapus dalam kamus kehidupannya, namun entah kenapa kini perasaan itu kembali muncul.

Perasaan asing yang ia yakini telah lama ia hapus dalam kamus kehidupannya kini muncul setiap kali ia bersama Sasuke. Naruto mengerutkan kening tak suka. Dalam hati ia mengukuhkan dirinya untuk menyingkirkan perasaan asing itu. Bukan, bukan karena perasaan itu salah, karena bagi Naruto tak ada cinta yang salah. Kita tak pernah bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta bukan? Hanya saja, ia terlalu takut. Takut untuk terluka, takut untuk kembali terpuruk oleh perasaan asing yang bernama cinta.

Dan karena alasan itulah, seorang Namikaze Naruto menutup hatinya.

Naruto beranjak dari tidurnya, melangkah pelan menuju kamar mandi. Begitu membuka pintu, Naruto menemuka sosok Sasuke dengan tubuh sempurnanya berada di tengah hujan air. Pria itu sangat tampan, dengan tubuh ideal dan wajah rupawan sang Adonis yang dimilikinya. Dan entah kenapa dorongan itu muncul begitu saja dalam pikirannya. Naruto ingin dipeluk oleh kedua lengan kokoh itu, ingin bersandar pada bahunya yang tegap. Maka dengan langkah pasti ia menghampiri Sasuke, kemudian memeluknya dari belakang.

"Aku rasa kau butuh bantuan untuk menggosok punggungmu," bisik Naruto.

Sasuke membalik tubuhnya, balas memeluk Naruto.

"Aku membutuhkanmu ditempat lain," balas Sasuke.

Naruto berjinjit mencium Sasuke. Tak terhitung lagi banyaknya ciuman yang telah mereka lakukan, namun tetap saja Naruto merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Naruto meremas rambut Sasuke, mengerang ketika tubuhnya diangkat lalu punggungnya bersandar rapat di dinding yang dingin.

Ciuman mereka terlepas ketika bagian tubuh mereka yang mendamba bersentuhan. Erangan Naruto tenggelam oleh suara air di sekitarnya. Naruto dapat merasakan Sasuke menahan diri, karena itu Naruto yang mengambil langkah pertama. Naruto menurunkan pinggulnya perlahan, membawa masuk kepala kejantanan Sasuke yang tegak dan mengeras.

"Naruto," desis Sasuke. Matanya terpejam. Merasakan kehangatan kulit Naruto yang melekat dengan sempurna pada tubuhnya. Begitu tersadar, Sasuke membuka kembali matanya. Ia berusaha menarik kembali dirinya.

Namun Naruto tidak memberi kesempatan. Naruto menempelkan tubuhnya semakin rapat, lalu menciumi rahang kokoh yang ada di depannya; menggoda sang Uchiha. Tahu bahwa itu adalah titik lemahnya.

"Aku mengkonsumsi pil. Aku aman, Sasuke. Aku mohon. Aku membutuhkanmu. Aku mohon Sasuke, aku ingin merasakan dirimu." Desah Naruto.

Sasuke menggeram. Tubuhnya mendorong maju hingga Naruto kembali rapat pada dinding dan kejantanannya melesak memasuki celah manis itu. Namun kini segalanya berbeda. Sasuke dapat merasakan langsung kehangatan juga kelembutan tempat paling rahasia dalam tubuh Naruto. Juga merasakan remasan kuat yang hampir terasa menyakitkan. Sasuke tidak bisa memaksa dirinya untuk menunggu. Ia memantapkan posisi tubuh Naruto lalu menghujam masuk dengan keras.

Jeritan penuh kenikmatan Naruto menggema jelas. Membuat gerakan Sasuke semakin cepat. Tak membutuhkan waktu lama, hingga akhirnya milik Naruto berkontraksi dan membawa Sasuke menuju batasnya. Sasuke melenguh, merasakan kepuasan mendalam dengan mengeluarkan benihnya di dalam tubuh Naruto.

Perlahan, Sasuke menarik dirinya keluar dan menurunkan Naruto. Gadis itu begitu lemas, hingga membuat senyum Sasuke mengembang. Sasuke membersihkan tubuh mereka, bersama dngan keheningan yang nyaman. Sasuke melarikan tangannya disetiap inchi tubuh indah berlekuk sempurna gadis itu, sementara Naruto hanya bersandar padanya.

"Kemana perginya suaramu, Sayang?" goda Sasuke.

"Aku yakin suaraku mengajukan pengunduran diri. Tanyakan penyebabnya pada jagoanmu di bawah sana." Sahut Naruto dengan nada mengantuk.

Sasuke tertawa. Setelah mengeringkan tubuh, Sasuke membawa Naruto kembali ke tempat tidur. Ia tidak peduli rambut lembab Naruto kembali membuatnya basah, yang Sasuke inginkan hanyalah terus memeluk Naruto.

Naruto menarik selimut hingga dadanya, lalu bersandar tepat diatas jantung Sasuke. Detaknya seiringan dengan detak jantung Naruto sendiri. Bagaikan musik pengantar tidur yang mengalun indah. Naruto tidak ingin saat ini berakhir. Ia memejamkan kedua matanya untuk bisa mendengarkan detak jantung mereka. Dengan mata terpejam ia dapat merasakan sebuah tangan kokoh yang tengah mengelus lembut pucuk kepalanya.

"Apa kau menyukainya?" tanya Sasuke diantara elusannya pada pucuk kepala Naruto

"Hmm…" Naruto menggumam sebagai jawaban.

"Suke kau tau? Setiap orang memiliki detak jantung yang unik. Setiap orang juga memiliki wajah yang berbeda… setiap detaknya berbeda. Hanya ada satu orang yang memiliki detak jantung yang sama sepertimu, yaitu belahan jiwamu." Seulas senyum terbit di wajah cantik itu, matanya menatap Sasuke.

"Lalu apa kau sudah menemukan seseorang itu? Seseorang yang memiliki detak jantung yang sama sepertimu?"

"Entahlah, kurasa belum." Iya aku sudah menemukannya, orang itu kini ada di depanku, tengah memelukku dengan semua kelembutannya. Lanjut Naruto dalam hati.

.

.

.

Mimpi buruk itu datang lagi.

Bersama dengan kenangan buruk yang selalu menghampirinya; terus mengusik hidupnya.

Semua kebahagiaan itu, semua kenangan indah itu, penghianatan menyakitkan, dan seolah tak cukup dengan semua itu… kecelakaan kakaknnya.

Peluh membasahi wajah cantik Naruto yang pucat, kedua tangannya meremas selimut putih miliknya, keningnya mengernyit, dan gumaman samar tampak terdengar dari bibirnya yang pucat. Detik berikutnya matanya terbuka dan napasnya tercekat. Tubuhnya menegang dalam tidurnya dengan tangan yang mencengkram selimutnya dengan erat. Kedua matanya menatap sekeliling ruangan itu.

Ah, iyaa.. dia berada di apartermen Sasuke. Lebih tepatnya dia berada di kamar pria itu. Matanya terpejam; memutar ingatannya sebelumnya. Ah, iya semalam ia bercinta. Lagi dengan Sasuke. Bahkan masih teringat jelas dalam ingatannya jika semalam ia yang memulainya, menggoda pria itu lebih dulu. Semburat merah mulai menjalar keseluruh wajahnya; membuat wajahnya terasa panas seketika.

Aish! Bagaimana mungkin aku bisa menjadi begitu agresif semalam? rutuk Naruto dalam hati.

Naruto menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, dan saat itulah ia sadar jika kini ia telah berpakaian lengkap. Sebuah dress berwarna putih dan nyaman kini telah membalut tubuhnya. Tentu saja Sasuke yang telah memakaikannya. Pria itu bahkan memakaikan pakaian dalamnya.

Mata Naruto menatap lurus kedepan, menerawang. Sasuke adalah pria yang baik, dan Naruto sadar betul akan hal itu. Well, tentu saja terlepas dari sifat mesum dan kehidupan kelam pria itu di masa lalu sebelum bertemu dengannya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" suara barithon itu membuat Naruto sedikit berjengit dari lamunannya. Suara Sasuke. Pria itu kini tengah berdiri di depannya, lengkap dengan seragam kerjanya. Tanpa menunggu jawaban Naruto, pria itu berjalan menghampiri ranjang lalu mendudukkan dirinya tepat di samping Naruto.

"Jangan terlalu sering melamun, itu bukan kebiasaan yang baik." Ucapnya penuh perhatian.

"Kau demam," ucap Sasuke atau yang lebih menyerupai pernyataan saat tangannya terulur untuk mengecek suhu tubuh gadis itu, dan saat merasakan rasa panas yang langsung terasa oleh saraf tangannya.

"Hari ini aku ada meeting, tapi setelah itu akan akan segera kembali. Kau istirahatlah." Perintah Sasuke tak terbantahkan.

"Aku berjanji, aku akan segera kembali." Ucap Sasuke untuk kedua kalinya dalam sepuluh menit terakhir. Membuat Naruto mendengus geli.

Setelah yakin Sasuke telah benar-benar pergi, Naruto menghembuskan napasnya dan menyeka keringat di pelipisnya.

Kenapa bisa sebuah mimpi bisa begitu indah dan menakutkan disaat bersamaan?

Dan bagaimana dia bisa datang terus menghantuimu?

Naruto kembali memejamkan matanya, lalu menatap langit-langit kamarnya. Dia menarik napas lalu menghembuskannya perlahan; mencoba untuk menstabilkan napasnya. Menggelengkan kepalanya pelan; mencoba untuk mengusir mimpi buruk itu. Hanya saja… semuanya terasa sangat jelas. Seperti rekaman yang diputar berulang-ulang dan pada akhirya dia bisa mengingat detailnya dengat baik.

Hyperthymesia, entah Naruto harus bersyukur ata sebaliknya tentang penyakitnya ini. Namun entah kenapa penyakit yang memungkinkannya untuk mengingat hampir seluruh kejadian setiap harinya secara detail dan sempurna terkadang juga terasa begitu menyakitkan. Penyakit ini jugalah yang membuat Naruto sangat sulit melupakan masa lalunya dan semua kenangan menyakitkan itu.

Naruto mengalihkan pandangannya pada jendela apartermen. Salju mulai turun. Hari pertama di musim salju dan Naruto bisa melihat gumpalan-gumpalan kecil es yang turun di langit. Gumpalan es itu turun di atap rumah di seberang apartertermen mereka; menutupi jalan, semuanya bisa Naruto lihat dari kamarnya. Perasaan hangat menjalar di seluruh tubuhnya membuatnya merasa nyaman. Naruto sangat suka salju, rasanya dia selalu ingin berada dalam kamarnya, dan menatap gumpalan-gumpalan kecil itu turun lewat jendela kamarnya. Saat kecil dulu ia dan Kyuubi selalu membuat boneka salju kecil-kecil dan menjajarkannya di halaman rumahnya.

Naruto merapatkan selimutnya, entah kenapa meski kini ia tengah demam namun Naruto masih bisa merasakan udara dingin di musim salju yang menusuk-nusuk kulitnya berbanding terbalik dengan keringat dingin yang mulai terlihat di kulit putihnya.

Sudahlah tidak ada gunanya terus memikirkannya, batin Naruto. Ia memutuskan untuk kembali tidur selagi menunggu Sasuke kembali pulang.

Do You Love Me?

Mata Sasuke mangawasi presentasi yang tengah dijelaskan oleh manager yang berada dibawahnya, senyum puas tersungging dibibirnya saat melihat hasil penjualan yang memuaskan dan terus meningkat.

Setelah dirasa cukup, ia memutuskan untuk mengakhiri rapat itu. Satu persatu bawahannya mulai meninggalkan ruang rapat itu menyisakan beberapa orang dan sekretarisnya.

"Kau pergilah duluan," ucap Sasuke pada sekretarisnya.

Sasuke menatap layar ponselnya, terdiam untuk beberpa saat ketika melihat wallpaper depan yang menghiasi ponselnya.

"Apa yang kau lihat?" nada penuh ingin tahu itu membuat Sasuke mengalihkan pandanggannya.

"Bukan urusanmu, Nara." Ucap Sasuke acuh.

"Ck, merepotkan. Bagaimana jika kita pergi minum? Bukankah kita sudah lama tidak pergi minum bersama teman-teman yang lain?" Tanya Shikamaru, lalu mendudukkan dirinya diatas meja. Sasuke mendengus geli melihat sikap Shikamaru yang tak pernah berubah; selalu berbuat semau dan sesuka hatinya bahkan didepannya yang notabene atasannya sendiri. Namun, mungkin inilah yang membuat Sasuke bisa bersahabat dengan Shikamaru. Pria bermarga Nara itu memang telah lama menjadi sahabatnya.

"Hari ini aku tidak bisa. Aku harus segera pulang." Ucap Sasuke.

"Baiklah, tapi lain kali kau tidak boleh melewatkannya lagi." Ujar Shikamaru yang dibalas anggukan setuju oleh Sasuke.

Sasuke menatap kresek obat yang berada di tangannya. Ia kembali memikirkan apa yang harus ia beli sebelum kembali ke apartermen. Setelah itu ia berjalan memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya membelah jalan yang masih tampak ramai.

Sasuke memarkirkan mobilnya di parkiran yang telah di sediakan . Ia melangkahkan kalinya keluar dari mobil tak lupa dengan jaket hangat yang telah ia gunakan, kepulan uap tampak terlihat setiap dia menghembuskan napasnya. Cuaca tampak dingin. Terutama saat musim salju seperti sekarang ini. Matanya menyapu sekeliling pemandangan di sekitarnya, mendengus dan mencoba mengacuhkan tatapan tertarik yang ditujukan secara langsung oleh para wanita yang berada disekirtanya. Well, pesona seorang Uchiha memang sulit untuk diabaikan, bukan?

Lalu tatapannya terkunci pada sebuah pohon Natal besar yang sengaja di tempatkan di tengah-tengah taman, cahaya warna-warni yang indah dari hiasan lampu pohon itu tampak begitu memukau di tengah gelapnya malam di Tokyo. Dari sini ia bisa melihat banyaknya orang yang mengunjungi taman itu ditambah dengan pohon Natal yang menghiasinya, mulai dari remaja, pasangan kekasih, dan juga beberapa pasangan keluarga. Dalam hati Sasuke memutuskan untuk mengajak Naruto pergi ketaman indah itu dan berfoto dibawah pohon Natal itu.

Setelah merasa puas mengamati keadaan sekitarnya, ia kembali pada tujuan utamanya. Dengan langkah pasti ia berjalan menuju restaurant bubur yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

"Apa? Tutup." Sasuke mengerutkan kening dan membuang napasnya kesal. Tidak biasanya restaurant ini tutup. Sasuke memang bukan pelanggan tetap restaurant bubur ini, namun setiap kali ia pulang kantor ia selalu melewatinya dan ia sangat yakin jika harusnya hari ini restaurant itu tetap buka.

Baiklah dia tidak punya pilihan lain. Sasuke menghubungi nomor yang sebenarnya ia sedikit enggan untuk ia hubungi. Bukan karena seseorang itu menyebalkan, hanya saja mungkin setelah ini ia akan menghadapi rentetan pertanyaan yang ditujukan orang tersebut padanya.

"Hallo,"

"Kaasan," Sasuke tidak pernah berfikir suatu hari nanti dia akan melakukan ini.

"Aku perlu bantuanmu."

.

.

.

Naruto menggeliat pelan dalam tidurnya membuat selimutnya sedikit tersingkap. Kemudian matanya mulai membuka, menyipitkan matanya sebentar untuk membiasakan diri dengan cahaya lampu di kamarnya. Aroma vanilla dalam kamarnya membuatnya merasa lebih tenang, tapi kepalanya terasa sangat sakit bagaikan dipukul palu godam berkali-kali. Naruto meringis pelan sambil mengusap kedua sisi matanya dan mencoba untuk bangkit, lalu matanya memperhatikan keadaan kamarnya yang kosong. Ia menatap jam dinding berbentuk keroppi yang telah menunjukan pukul setengan sembilan malam, itu artinya sudah hampir dua jam Sasuke pergi.

Naruto merasakan tenggorokannya kering. Ia memerlukan air putih, lalu ia memutuskan untuk bangkit dari tidurnya menuju dapur. Dari luar kamar Naruto dapat mencium aroma masakan yang mengganggu hidungnya disertai suara; lebih tepatnya keributan yang bersumber dari arah dapur. Suara dentuman panci di wajan serta bunyi gelembung-gelembung air yang mendidih.

Naruto mengerutkan keningnya, sepertinya ada yang sedang memasak di markas gadis itu dan entah kenapa ia merasakan perasaannya sedikit tidak enak. Naruto memaksakan langkahnya untuk segera berjalan menuju dapur.

Dan saat itulah Naruto mendapati dirinya terperangah dan tak dapat menutupi ekspresi kagumnya. Ada pemandangan yang membuatnya terkejut yang bahkan tak pernah ia pikirkan dapat melihat pemandangan ini sebelumnya.

Dari sini Naruto bisa melihat punggung pria yang tengah membelakanginya, tangan pria itu tampak sibuk mengaduk dengan sangat serius sesuatu yang berada pada wajan di depannya. Dan entah kenapa pemandangan yang di sajikan di depannya tampak begitu seksi untuknya. Well, meskipun Sasuke hanya menggunakan kaos polo berkerah V necknya dan juga celana training panjang berwarna hitamnya.

Sasuke tengah berdiri di depan kompor menghadapi wajan dan panci sekaligus; tangannya yang satu memegang spatula dan yang satu lagi memakai sarung tangan bergambar keroppi yang digunakan Naruto untuk memasak ( perlu diulangi dan digaris bawahi SARUNG TANGAN KEROPPI ) dengan ponsel terjepit dintara pundak dan telinganya. Dan seperti ada perang kecil di meja dapur dengan talenan, pisau serta sayur-sayuran yang berantakan.

Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali; meyakinkan dirinya akan apa yang dia lihat adalah halusinasi atau bukan, tapi sepertinya itu benar-benar nyata.

"Sepertinya nasinya sudah hancur," ucap Sasuke pada seseorang di telepon."Lalu, apa yang harus kulakukan?" lanjutnya.

"Kau mau membuatnya cair atau kental?" suara lain terdengar menjawab pertanyaan Sasuke melalui telepon, seperti suara seorang wanita atau mungkin ibu pria itu? Karena dari suaranya ia menebak bahwa mungkin perempuan disana berkisar antara usia lima puluhan.

Apa Sasuke sedang belajar masak bersama ibunya? pikir Naruto.

Sasuke terdiam untuk beberapa saat, pria itu tampak berpikir sebentar sebelum kembali menjawab."Bubur seharusnya cair atau kental?"

Desahan frustasi terdengar dari ponselnya. "Sasuke, kau sebenarnya pernah memakan bubur tidak sih?" bentaknya, dan baru kali ini ia mendengar seeorang yang berani membentak Sasuke. Sepertinya kebodongan Sasuke dalam hal memasak memang bisa dikategorikan pada tahap menyedihkan 😂.

"Menurut Kaasan orang yang sedang demam harus makan bubur cair tau kental?"

Deg

Naruto bisa merasakan jantungnya berdetak dengan keras saat mendengar jawaban pria itu. Pertanyaan Sasuke barusan seolah membuat napas Naruto terhenti dan jantungnya berdetak tanpa bisa ia control. Otaknya mencoba meresapi pertanyaan Sasuke.

Apa pria ini sedang membuat bubur untuknya?

"Menurutku kau sebaiknya membuat bubur yang cair karena baik untuk pencernaan." Saran suara wanita dari seberang telepon yang ia yakini ibu pria itu.

"Sial, telur gorengnya hancur." Maki Sasuke, lalu meletakkan sendok bubur di panci lalu reflex memegang spatula besi yang bersandar di wajan lalu menjerit kepanasan.

"ARGH," tangannya reflex melempar spatula itu kembali ke wajan.

"Uchiha Sasuke, kau benar-benar mahluk yang menyedihkan." Ujar Mikoto seraya menghembuskan napasnya melihat sikap anaknya.

"Telur idiot," maki Sasuke kesal, seraya menunjuk-nunjuk telur itu dengan tangannya yang masih terasa sakit akibat terkena cipratan minyak panas, tak lupa ia mengarahkan deathglare andalannya pada telur itu. Seseorang disana tertawa melihat sikap Sasuke dan mendengus geli setelahnya, "Aku yakin bukan telur itu yang idiot, Uchiha Sasuke."

Sasuke tak mengacuhkan komentar ibunya, tangannya yang bersarung memegang spatula dengan hati-hati memindahkan telur goreng yang hancur itu di piring.

Naruto hanya mampu melihat semua itu dalam diam, tapi emosi dalam dirinya bergejolak. Entah kenapa dadanya terasa sesak melihat semua perhatian Sasuke padanya, tapi ia juga tak bisa menyingkirkan perasaan bahagia yang melingkupi hatinya; membuatnya merasa nyaman. Tiba-tiba jantung Naruto berdetak tak karuan dan ia merasakan matanya mulai memanas dan pandangannya sedikit mengabur.

Apa fakta bahwa Uchiha Sasuke yang sama sekali bodoh dalam hal memasak yang mencoba membuat sarapan untukmu adalah sesuatu yang cukup mengharukan?

"Ngomong-ngomong, apakah kekasihmu tidak terbangun mendengar jeritanmu?" Tanya Mikoto dengan nada menggoda pada putra bungsunya."Kau tau Suke, kau lebih mirip berperang dari pada memasak." Sasuke mendengus mendengar tawa ibunya yang pecah setelah mengatakan itu. Dalam hati ia menggerutu menghadapi sikap ibunya, walau tak ia pungkiri ibunya adalah sosok wanita yang berharga dalam hidupnya.

Sasuke terdiam. Naruto membeku ditempatnya; mengira Sasuke akan berbalik ntuk mengecek keadaannya tapi pria itu tidak menoleh sedikitpun dan melanjutkan kegiatannya.

"Aku ragu dia akan bangun. Caranya tertidur sama seperti beruang kutub yang sedang berhibernasi."

Apa? Naruto mengernyitkan keningnya dan rasa haru juga kagumnya untuk pria itu sedikit terkikis.

Ibunya tertawa mendengar pengakuan Sasuke."Yang pasti gadis itu benar-benar sesuatu sampai dia bisa membuatmu memasak, Suke. Kau saja tidak mau memasak meski sedang kelaparan setengah mati."

Hening sejenak dan Naruto takut detak jantungnya yang sangat keras bisa terdengar karena sekarang setiap kalimat Mikoto di telepon membuat dadanya bergemuruh tidak jelas.

Tapi Sasuke tidak senang dengan pernyataan ibunya, ia benci mengakui ini; bahwa ibunya sangat memahaminya dan ia tak bisa menyembunyikan apapun dari Mikoto."Aku tutup dulu Kaasan."

Setelah menutup teleponnya, Sasuke kembali berkonsentrasi pada zat aneh di dalam pancinya. Sasuke berkacak pinggang dan memiringkan kepalanya, berpikir keras melihat benda liat berwarna putih di dalam panci. Apakah bubur seharusnya seperti ini? pikirnya membatin.

Bubur liat, telur hancur, dan sup bayam yang ambigu. Pantaskah orang yang sedang sakit memakannya?

"Aish, harusnya aku beli diluar saja." Gumam Sasuke, menjadi sedikit gelisah. Keberaiannya untuk memasak tidak pernah seimbang dengan hasilnya.

Sasuke mambalikkan tubuhnya dan ia dapat merasakan tubuhnya membeku saat itu juga, saat melihat Naruto berdiri tepat di belakangnya dengan rambut kuning keemasannya yang tergerai bebas, wajah pucat dan tatapan datar khas gadis itu.

"Sejak kapan kau disitu, Naru?" tanya Sasuke tanpa bisa menutupi rasa terkejut dalam suaranya. Tangannya yang satu masih memegang spatula dan tangannya yang lain memakai sarung tangan keroppi setengah terangkat. Sama persis seperti seorang anak kecil yang tertangkap basah oleh ibunya.

Tunggu, apa dia mendengar seluruh pembicaraan Sasuke dengan Ibunya?

"Apa yang kau lakukan di dapurku?" Tanya Naruto tenang sambil berjalan mendekati Sasuke.

Sasuke berdeham lalu meletakan spatula yang ada ditangannya ke dalam panci. Tertangkap basah memasak masakan yang menggelikan sedikit melenceng dari rencananya.

"Apa itu bubur?" tanya Naruto polos sambil menunjuk benda liat berwarna putih di dalam panci.

"Bukan apa-apa," ujar Sasuke lalu dengan terburu-buru ia menutup panci dengan penutupnya. Jujur saja, dia sendiri tidak yakin bubur ini ama untuk dimakan.

"Ah, aku lapar." Ucap Naruto santai dengan tatapan geli yang mengarah pada Sasuke. Sasuke mengerutkan keningnya.

Haruskah dia memberikan benda-benda ajaib buatannya untuk dimakan manusia?

"Apa aku boleh memakan itu?" Tanya Naruto.

Sasuke ingin menggelengkan kepalanya namun entah kenapa otak dan tubuhnya tidak berjalan dengan sinkron."Kalau kau mau,"

"Coba saja," tambahnya.

Naruto mengangguk pelan. Jujur saja sikap tenang Naruto kerap kali menganggu Sasuke; membuatnya sulit menebak apa yang tengah dipikirkan gadis itu. Biasanya pria itu yang terkenal tenang, dingin, dan dapat mengontrol situasi tapi setiap Naruto berada di sekelilingnya gadis itu seperti membuat Sasuke kehilangan kendali yang membuatnya berakhir dengan perasaan mengenaskan.

Naruto mengambil mangkuk sup dan piring telur itu lalu membawanya ke meja makan yang menempel dimeja dapur, lalu mengambil mangkuk putih dan membuka tutup panci bubur itu.

Hati Sasuke mencelos.

Jangan makan bubur itu Namikaze Naruto. Jangan, setidaknya jika kau tetap ingin hidup. Pikir Sasuke.

Ekspresi Naruto tetap tenang ketika melihat bubur di dalam panci, lalu diambilnya beberapa sendok besar ke dalam mangkuk, membawanya ke meja makan setelah itu Naruto mendudukan dirinya di bangku tinggi dan mulai memakan buburnya.

Sasuke masih diam di tempatnya. Matanya memperhatikan Naruto yang makan dengan tenang, seolah makanan itu memang layak untuk dikonsumsi. Sasuke lalu berjalan menghampirinya dan mendudukan dirinya tepat dihadapan gadis itu.

"Apa itu enak?" tanyanya ragu.

Naruto menatap Sasuke sambil manyantap makanannya lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

"Serius?" tanyanya tak yakin, dia tidak akan heran kalau Naruto hanya berbohong untuk menyenangkannya. Tapi gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban tanpa menghentikan acara makannya.

Tangan Naruto terulur untuk mengambil minuman dan meminumnya dengan tenang, dan melanjutkan makanannya lagi.

Sasuke mengernyit dan menatap heran kearah gadis itu; masih tidak percaya Naruto memakan masakannya dengan tenang tanpa ragu sedikit pun.

Sasuke lalu memberanikan diri untuk mengambil sendok yang ada di depannya dan mulai memakan bubur buatannya dan mncoba sup bayam dalam mangkuk, detik berikutnya dia tersedak. Kalau bukan dia sendiri yang memasaknya, ia pasti mengira ini bubuk deterjen atau semacamnya.

Sasuke meneguk air putih yng ada di depannya dalam satu kali teguk, lalu menatap Naruto yang masih dengan santai menyantap makanannya.

"Jangan dimakan," ucapnya tegas tak terbantahkan.

"Kenapa?" Tanya Naruto heran dengan alis terangkat.

"Kau…." Sasuke menghembuskan napasnya kasar, lalu menatap Naruto dan mangkuk buburnya bergantian secara berulang-ulang."Bagaimana kau bisa memakan makanan seperti ini?" dan dia sendiri yang memasaknya.

"Lalu kau ingin aku makan apa?" Tanya Naruto tenang namun tak mampu menyembunyikan senyum geli yang tersungging di bibirnya.

Sasuke menghembuskan napasnya, lagi.

"Ngomong-ngomong bagaimana rapatnya?" Tanya Naruto mencoba mengalihkan perhatian pria yang ada di depannya.

"Tidak ada masalah, semuanya berjalan lancar." Sasuke menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya masih mengamati Naruto yang melahap makanannya, lalu memgernyit melihatnya. "Kau manusia pertama yang memakan masakanku dan masih dalam keadaan baik-baik saja. Yang lain pasti sudah memakiku."

Naruto tertawa geli mendengar penuturan Sasuke; lalu mengambil sesendok sup, lalu memakannya sambil memejamkan kedua matanya dan bersenandung."Hmm… lezat,"

Kali ini giliran Sasuke tertawa, selain karena kebohongan besar gadis itu tapi juga ekspresinya yang cukup langka. "Kalau kau sakit lagi, aku tidak akan sebaik ini. Namikaze Naruto." Ujar Sasuke serius."Kau yang sakit tapi aku yang dibentak ibuku,"

"Kau seharusnya merawatku dengan baik," ujar Naruto pura-pura protes.

"Apa?" mata Sasuke tampak berkilat-kilat."Siapa yang menyuruhmu berada di dalam kamar mandi terlalu lama." Tangannya yang masih memegang spatula menunjuk-nunjuk ke arah kamar mandi, membuatnya terlihat seperti anak kecil yang sedang berkelahi denga temannya. Naruto tertawa kecil melihat sarung tangan keroppi di tangan Sasuke tapi memutuskan lebih aman untuk diam.

"Oh ya? Lalu apa perlu aku mengingatkanmu siapa yang telah membuatku tertahan di kamar mandi selama berjam-jam." Perkataan Naruto kontan membuat wajah Sasuke memerah, Naruto yang tersadar melihat perubahan raut wajah Sasuke seolah menyadari apa yang barusan dikatakannya, kini wajahnya tampak lebih merah dari sang Uchiha. Mereka saling melirik satu sama lain; lalu tak lama tawa merekapun pecah. Memecah keheningan malam di hari pertama turunnya salju di Tokyo.

.

.

Tbc

.

.

Eiji Note: Hay.. ada yang kangen ama saya? *^▁^* #bhakkk. Lama juga ya gak buka fanfiction, jadi kangen sendiri ehehehe. Oh iya, makasih ya buat reader yang selalu ngasih semangat buat saya supaya tetep lanjut ff saya, pas baca ripiw dia yang panjangnya pake banget bikin saya jadi semangat nulis o) makasih. Terus yang ngirim pm dan mungkin gak saya bales mungkin ketimpa ama pesan yang lain -_-). Terus yang nanya cerita yang lain masih dilanjut gak? Masih kok, cuman mungkin agak lama update nya. Terus yang nanya apa saya punya aku wattpad? Iya punya dong, saya juga kan anak gaul xD #bhakk. Emm.. mungkin itu aja, jangan bosen ya baca cerita saya *^O^*)

#weDoCareAboutSFN

.

.

Boleh minta ripiw? (^o^)/