Story By: Bekantan Hijau.

Disclaimer: Yuki Midorikawa, Tadatoshi Fujimaki, Kazuki Takahashi.

Crossover: Natsume Yuujinchou & Kuroko no Basuke. Slight! Yu-Gi-Oh! Duel Monster.

Rate: T

Genre: Romance/Humor/semi-Family/Drama/Parody.

Pair: Harem!Takashi.

Warning: Maybe-OOC, some mistakes EYD, semi-Pedo!Seijuurou, semi-AU, Sho-Ai, BL, typo.

xXx

Senyum Muna

xXx

.

.

.

Episode 3

.

.

.

xXx

.

.

.


Tulisan di kertas dibaca baik-baik, tepatnya sudah puluhan kali dibaca. Nama toko dihapal. Berharap semoga melihat papan nama toko selagi mata mengerling sana-sini.

Sesudah turun dari halte bus, Takashi berlari kecil menuju alamat toko tersebut. Sialnya, sudah lebih dari lima kali, Takashi berputar-putar di tempat yang sama. Serius, bahkan ia sudah tanya orang, tetapi tetap tidak ketemu. Entah tunjukkan arah orang yang kurang jelas atau dia saja yang kurang teliti.

"Oi! Natsume! Ramen! Ramen!"

"Sebentar, Sensei! Cari tokonya dulu!"

"Isi tenaga dulu! Ramen!"

"Berisik, Sensei!"

Makin pusing karena kucing yang dibawa tidak berguna, malah semakin berisik. Yang tadinya mengingatkan crepes dan ramen tiap sepuluh menit, berubah jadi sepuluh detik. Berisik sekali, sumpah. Gatal Takashi menyumpal mulutnya pakai isi tong sampah penuh yang kebetulan dilihatnya sekitar lima meter dari tempat Takashi berdiri.

"Hu-uh, rempong sekali. Kapan aku bisa makan crepes? Ramen terutama. Perutku sudah lapar," dengus Nyanko, bosan melihat rumah-rumah yang itu-itu saja dari tadi.

Takashi mengerang frustasi. "Sensei, kalau ada waktu mengeluh, lebih baik bantu aku mencariny–Hwaaa!"

Bruk!

Jatuh terjerembap di tanah. Nyanko menguap lebar. Dasar bocah ceroboh, bagaimana bisa ia jatuh karena terinjak tali sepatunya sendiri? Nyanko tak habis pikir.

Nasib baik jalanan sepi. Yang agak ramai cuma kedai ramen di ujung kompleks. Tak ada yang lihat, youkai pun tak ada. Bakal runyam kalau ada yang lihat.

Sakitnya tak seberapa, malunya yang setengah mati.

"Aduh ..." Takashi bangkit, hidungnya berdenyut-denyut nyeri. Uuh ..., hidungnya terbentur keras. Memang tidak apa-apa, tetapi tetap saja rasanya sakit.

Pemuda itu berdiri, hidung disentuh pelan. "Ouch!"

"Wah, Natsume, hidungmu merah," komentar Nyanko.

"Uh ..." Takashi mengelusnya. Ia tak bisa mengobatinya sekarang. Ah, biarkan saja, deh. Mau bagaimana lagi, 'kan?

"Are? Natsume-kun?"

Gerakan Takashi terhenti. Ia terdiam merespon, merasa familiar dengan suara tersebut. Kemudian ia menoleh ke belakang.

Sosok mantan ketua kelas berdiri tak jauh darinya. Dari kacamata, menatap Takashi keheranan. Uh, oh, suatu kebetulan sekali.

"Sasada?"

"Kenapa Natsume-kun ada si sini?" Jun melangkah maju. Gadis itu membawa tote bag yang tampak berat, entah apa isinya.

"Ah." Takashi berbalik menghadap Jun. "Aku sedang mencari toko Petite Glass. Touko-san memintaku membeli vas bunga."

"Petite Glass?" Kepala ditelengkan, bola mata bergulir ke kanan. Mengingat-ingat nama yang terdengar familiar. Jari menjentik. "Oh! Karena diskon?"

Iris Takashi menerawang. "Sasada tahu?"

Jun mengibaskan poninya ke belakang telinga seraya menjawab, "Tentu saja aku tahu. Ibuku langganan di sana, dan aku sering diminta membeli gelas atau semacamnya. Malah aku juga mau ke sana. Mau bareng?"

Wow! Kebetulan yang menyenangkan! Takashi nyaris saja tersenyum terlalu lebar karena senang.

"Oh, syukurlah. Tadinya aku hampir menyerah karena tidak menemukan tokonya," tutur Takashi jujur. Serius, ia benar-benar lega.

Tetapi raut wajah Jun justru berubah bingung. Menyadari perubahan ekspresi Jun, Takashi menelengkan kepala. Ia tak merasa ada yang salah dengan ucapannya, mengapa Jun melihatnya seperti itu?

"Ada apa, Sasada?" tanya Takashi heran.

"Kamu tidak menemukannya?" Jun malah bertanya balik, nada heran tidak percaya sangat kentara.

Gantian Takashi yang ikut bingung. Apa yang salah dari itu? Ia memang tidak menemukanmya sama sekali, sungguh. Jika memang sudah ketemu, tak mungkin Takashi pusing sendiri berkeliling di tempat yang sama. Pemuda itu mengangguk sebagai jawaban.

Terdiam sejenak, lalu gadis tersebut tertawa kecil. Sepertinya ia menyadari masalah Takashi.

Semakin bingung. Kedua alis Takashi menaik. Kenapa Jun malah tertawa begitu? Apa yang lucu? O-oh. Takashi meringis. Apa mungkin Jun tertawa karena mengingat kejadian jatuhnya tadi?

"Ahaha ...! Natsume-kun ...! Lucu sekali. Kamu tidak lihat, ya?" Tangan Jun diangkat, jari selain telunjuknya mengepal. Dia menunjuk jalan garasi tanpa pagar tepat di samping kanannya.

"Tokonya di sana."

"Eh?" Takahi menoleh ke arah yang ditunjuk. Di sana? Tetapi bukannya itu cuma ga ... rasi ...?

Mata Nyanko menyipit, ikut melihat. Hmm, ada atap aneh yang berbentuk seperti jaring, di bawahnya cuma tanah semen. Tepat si ujung, kira-kiera berjarak 50 meter ...

Oh.

Takashi dan Nyanko terdiam.

Memang benar kata Jun Sasada.

Di kejauhan, ada bangunan dari kayu yang dikira Takahi adalah garasi kendaraan biasa. Ada satu jendela dari kayu cantik, terbuka sedikit di bawahnya. Pintu lebar cokelat jamur tertutup rapat, tetapi sepertinya tak dikunci.

Karena dari jauh, ada poster diskon beserta gambar contoh produk terpasang di depan pintu. Takashi tak bisa baca tulisan lain selain kata diskon yang ditulis besar-besar. Belum lagi Takashi baru menyadari ada lemari kaca besar di kanan kiri luar bangunan, isinya beragam vas-vas cantik.

Tadinya ia mengira itu peralatan perbengkelan karena warnanya mirip.

"Tempatnya memang begitu, Natsume-kun. Makanya aku bingung kenapa kamu tidak tahu."

Jadi memang Takashi tidak teliti?

Nyanko membuang napas, sedangkan Takashi menunduk dengan wajah memerah. Malunya ...

"Ayo, kita masuk, Natsume-kun." Jun menarik lengan jaket Takashi tanpa menunggu responnya.

Untuk sejenak, isi kepala Takahi kacau karena malu. Nyanko mengikuti dari belakang. Tetapi mungkin ia tak ikut masuk, siapa tahu penjaga tokonya tidak memperbolehkan binatang ada si sana.

Lebih baik menunggi di depan saja, bisa tidur-tiduran atau main sama kupu-kupu yang melintas.

Pintu toko didorong dari luar, bersamaan dengan bunyi bel kecil yang sengaja dipasang di atas pintu. Di dalam, Takashi tak sanggup menahan decak takjub. Toko ini menakjubkan.

Banyak sekali perabotan dari kaca yang tersusun rapi, ada yang ditaruh dalam lemari kaca, ada yang berjejer di atas meja klasik, sampai diberi hiasan boneka-boneka lucu. Lukisan dan bingkai-bingkai antik menghiasi dinding.

Tak henti-henti iris mata Takashi bergulir, kagum dengan barang dagangan toko. Ada beberapa etalase yang diberi papan nama sesuai barang-barang yang disusun. Mulai dari piring, cangkir, vas, hingga pernak-pernik mini yang sering dipakai untuk hiasan gantung.

Semuanya dari kaca, ada yang bening dan berwarna, hingga putih bersih atau berwarna pastel. Pantas Touko heboh sekali tentang toko ini.

"Natsume-kun, bagaimana menurutmu cangkir teh ini?"

Takashi mengikuti Jun menuju rak lemari penuh cangkir-cangkir teh. Dilihatnya gadis itu memegang sebuah cangkir dengan garis cokelat melingkar tipis mengelilingi mulut cangkir.

"Cangkir teh?"

"Lihat, nih." Tunjuk Jun. "Bentuknya memungkinkan aromanya lebih menyebar."

"Eeh ..." Takashi memperhatikan takjub. "Ternyata cangkir itu macam-macam, ya?"

Jun menaruh cangkir tersebut di atas tatanan, lalu meraih cangkir lain. Tentu saja! Nah, kalau yang ini punya tekstur yang berbeda pegangannya," katanya menerangkan.

"Beda?"

"Coba saja dipegang."

Takashi menurut dan agak menunduk. Penasaran, ujung telunjuknya mengelus pegangan cangkir. Matanya menerawang sekilas memahami maksud Jun."Wah, benar."

Berdiri tegap, Takashi memuji. "Sasada tahu banyak, ya?"

Jun tertawa. "Aku sering memperhatikan cangkir teh yang aku minum."

"Hee ..." Pemuda itu manggut paham, ia tak terlalu mengerti tentang perbedaan cangkir. Beda gelas teh dan kopi saja tidak tahu jika bukan Touko yang menjelaskannya dulu. "Aku biasanya cuma pakai cangkir yang biasa saja."

"Cangkir itu ada macam-macam, tergantung bentuknya." Kali ini Jun mengambil cangkir kopi.

"Lihat, ini khusus untuk kopi? Beda dengan cangkir teh yang melebar, karena diperlukan agar aroma teh lebih menyebar."

"Hoo. Aku baru tahu."

"Lalu, Natsume-kun mau cari apa tadi?" tanya Jun.

Ups, hampir lupa.

"Vas," jawab Takashi. "Touko-san memintaku mencari vas bunga."

"Tepat di belakangmu, Natsume-kun." Jun menunjuk dengan mimik geli.

Takashi berbalik, ia ikut tertawa melihat sederet vas-vas cantik dengan berbagai ukuran dan bentuk.

Jun membantunya memilih vas begitu selesai membeli cangkir baru. Sungguh Takashi terbantu sekali. Sebagai laki-laki, ia agak sulit menentukan vas sesuai selera Touko. Keberadaan Jun membantu sekali.

Seorang wanita yang bertugas melayani muncul dari pintu belakang toko selagi mereka memilih. Takashi harus menunggu membayar selagi wanita itu menjelaskan promosi tokonya. Dan suatu keberuntungan, Takashi dan Jun mendapatkan bonus pernak-pernik lucu karena berkunjung dan membeli produk hari ini.

Jun mendapatkan bros kupu-kupu cantik dengan batu kaca imitasi berwarna hijau, Takashi mendapat gantungan kunci botol kaca berisi maneki neko. Susah payah Takashi menahan tawa karena teringat Nyanko.

"Oh, ya, Nishimura sudah bertemu kamu?"

Takashi menoleh, "Nishimura? Tidak, tuh."

"Oh, berarti belum. Natsume-kun, mau ikut reuni minggu depan?" tawar Jun.

"Reuni?"

Jun mengangguk. "Kemarin aku bertemu Nishimura, kami ngobrol banyak. Lalu kepikiran mengajak yang lain reuni. Mau ikut?"

Takashi tak langsung menjawab, ia memilih diam mengingat-ingat jadwalnya minggu depan. Tak lama kemudian, ia mengangguk.

"Oke, sepertinya bisa."

"Benarkah? Bagus! Tempatnya di Virtual World Kaibaland."

"Di mana?"

"Nanti tanya Nishimura saja. Dia yang pegang tiket. Ooh! Sudah sudah jam segini!" Seru Jun panik menyadari arah jarum jam panjang menunjuk angka lima.

"Sudah dulu, ya, Natsume-kun! Aku ada janji dengan Taki!"

"Ah, iya."

Mereka berpisah di depan toko. Sepeninggal Jun, Takashi berkeliling mencari-cari sosok Nyanko.

"Loh? Sensei?"

Gadis bermata tajam menoleh, Nyanko mengabaikan capung yang sedari tadi bermain dengannya.

"Kenapa pakai wujud itu?" tanya Takashi seraya menghampirinya.

"Tadi cek kedai ramen selagi kamu milih vas. Ada kucing liar yang dilempari botol susu kosong. Jika aku pakai versi kucing, apa tidak disiram air es nanti?" sahut Nyanko sinis, mendecih tidak suka.

Takashi manggut paham. Pemuda itu lantas berjalan duluan menuju kedai, Nyanko menyusul di belakang.


Kaki-kaki ramping berbalut jeans melangkah ringan. Meski dirinya seorang kepala keluarga, bukan berarti Seiji tak pernah memakai baju kasual, justru sering. Tak mungkin ia akan selalu pakai yukata atau jas ke mana-mana, kimono cuma digunakan di kediaman Matoba atau gedung lain.

Seiji selalu mengingatkan diri. Berjalan-jalan ringan adalah salah satu cara untuk menenangkan tubuh dan pikiran. Emosi yang tidak stabil akan membuatnya sulit berpikir jernih.

Dan ia menjalankannya.

Di sepanjang distrik pertokoan, banyak orang berlalu lalang. Seorang penjual ikan meneriakkan dagangannya, ibu paruh baya bertanya harga sekilo wortel, dan ada lelaki yang kebingungan mencari koin di saku tepat di depan mesin penjual rokok otomatis.

Ahaha, sungguh pemandangan yang normal di kalangan manusia.

Dan jika mau diakui, sebetulnya ada wanita berleher panjang sedang melihat-lihat ikan dagangan yang sudah dipotong-potong, burung gagak dengan yukata melintas di atas pembuangan sampah, dan youkai mungil merayap melewati vending machine.

Yang begini baru pemandangan biasa untuk Seiji.

/—ini juga disebut realitas imajiner! Dengar, pemirsa! Dunia alternatif yang akan kalian lihat semuanya terintegrasi oleh komputer! Kau! Yang mengaku berani—/

Seiji mengangkat alis, sempat teralih perhatian oleh suara yang ditayangkan di televisi sebuah toko. Iseng-iseng, ia melirik. Oh, pembukaan Virtual World Solid Vision. Hehe, perusahaan yang ahli di bidang hologram.

Pria berambut hitam itu tertawa dalam hati. Kadang ia merasa jenaka, berpikir seandainya yang namanya youkai itu cuma hologram seperti yang dibuat oleh Kaiba Corporation.

Tetapi Seiji dengar orangnya kolot dan anti spiritual, kok bisa-bisanya membuat hologram dari makhluk-makhluk begitu? Kurang lebih sejenis ayakashi, tuh.

Hmp, dasar.

Aroma menyengat dan gurih hinggap pada indera penciuman Seiji. Pria tersebut berhenti sejenak, penasaran mencari-cari sumber bau. Papan nama junk food menyambutnya. Di balik dinding kaca, cukup banyak orang duduk di meja yang tersedia.

Menikmati santapan burger dan kebab lezat panas.

Oh, jadi ini bau minyak daging siap saji? Pantas menyengat sekali.

Kepala ditongakkan. Hari sudah siang, sebentar lagi memasuki jam makan siang. Kebetulan. Seiji tersenyum samar, berbelok melangkah menuju rumah makan bernama Maji Burger.

Dengan tenang, Seiji meraih gagang pintu dan mendorongnya. Bau khas burger makin menyengat. Seiji tak pernah bilang ia benci makanan begini. Justru cukup enak di lidahnya. Meski Nanase sering mengingatkan untuk tidak sering-sering memakan makanan sampah, gizinya tidak baik untuk tubuh.

Mata delima mengerling, memperhatikan sekeliling. Beberapa orang telah duduk menempati meja masing-masing, namun masih ada pula meja kosong. Ini akhir pekan, tak lama lagi pasti penuh. Seiji berjalan menuju etalase merangkap kasir.

Jejeran pengunjung yang mengantri masih sedikit, hanya sekitar empat orang. Beberapa pelayan berlalu lalang membawa nampan bekas piring kotor, ada pula mengantar pesanan yang dibuatkan kemudian.

Mengikuti insting umum, Seiji memilih antrian paling pendek.

Di balik etalase, gadis-gadis karyawan sibuk melayani pembeli dengan tak lupa memasang senyum andalan. Sesekali menunduk menjepit pesanan roti-roti manis selain dari daftar menu di atas kepala.

"Ada yang bisa saya bantu?"

"Satu vanilla milkshake ukuran besar!"

Kaki-kaki mungil berjinjit agar kepalanya kelihatan di balik etalase, bersusah payah menyodorkan koin 500 yen. Ibarat anak ayam, mencicit milkshake berkali-kali.

Seorang pelayan kasir tak dapat menahan senyum geli. Ia menerima koin tersebut dan berteriak ke belakang menyebutkan vanilla shake.

"Satu vanilla milkshake ukuran besar. Harganya 450 yen. Ada lagi, Adik Manis?"

Kepala biru muda mungil menggeleng-geleng lugu, masih berusaha berjinjit. Roknya bergoyang seiring pergerakan menjaga keseimbangan.

"Jadi, kembaliannya 50 yen. Jangan sampai jatuh, ya."

Sebuah koin 50 yen beserta satu gelas besar kemasan disodorkan.

Mata biru besar tiada henti berbinar-binar memandangi gelas plastik kemasan dingin dengan sedotan di tengahnya. Anak kecil itu menerima pesanannya. Setelah mengantungi kembalian, ia berbalik.

Splash!

Ouh, nahas. Tidak bernasib baik.

Tak sengaja, pria bergaya metal menubruk bocah itu. Gelas minuman langsung terlepas, tumpah ke lantai.

"Uuii!"

Serentak, keributan kecil menarik perhatian orang-orang. Yang terlihat adalah seorang anak kecil jatuh terduduk dengan minuman tumpah di lantai, di dekatnya berdiri pria bertubuh besar berkulit hitam serta rambut perak, penampilan ala berandal sangat kentara.

Tetapi yang menjadi perhatian, bagian bawah sepatu pria tersebut basah. Mungkin secara tak sengaja, milkshake anak itu terciprat saat jatuh.

"U-uuii ..." Gadis kecil biru tersebut meringis, hampir menangis karena minuman yang baru saja dibelinya tumpah, bahkan ia belum sempat meminumnya.

"What a SH*T!"

Tersentak, anak itu bergidik terkejut sebelum mendongak melihat dalang yang menabraknya. Matanya melebar takut bertemu pandang tatap sinis dan beringas, benar-benar khas dari preman jalanan.

Insting ala anak-anak berbunyi nyaring, tahu dalam situasi ini, biasanya akan dibentak marah.

Tulisan nama Jason Silver di dada kiri tertampang jelas. Pria itu mengatakan sesuatu dalam bahasa inggris dengan sangat cepat, entah apa yang ia katakan. Tetapi orang-orang bisa menerka bahwa ia tengah mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan sepatunya.

Si kecil itu dalam bahaya ...!

Penjaga kasir yang melayaninya tadi berinisiatif maju menyela.

"P-permisi, And—"

"Shut up, B*tch!"

Bungkus rokok di tangan diremas kuat-kuat sebelum dilempar kasar pada gadis penjaga kasir. Tidak bisa dibiarkan, kelakukannya benar-benar keterlaluan ...!

"And, you!" Fokusnya kembali pada si bocah yang gemetar ketakutan, tak sanggup berdiri. "Let m—"

Satu tepukan mendarat di bahunya.

Seiji melangkah ringan melewati tubuh besar pria tersebut, ia mendekati bocah biru itu dan membantunya berdiri. Dengan tenang, membisiki sesuatu padanya. Keadaan hening selama beberapa detik.

Pria berkulit gelap itu terpaku, berdiri kaku tidak menyangka ada yang berani melakukan itu padanya. Sekadar menepuk, lalu mengabaikannya seakan-akan cuma lewat semata.

Kedua alis peraknya mengangkat tinggi. "Hei, you, Bast*rd!" Nada kesal sekaligus geram terdengar nyaring pada tiap kata. Dari gelagatnya, ia siap menghajar pria aneh bertutup mata satu ini.

"Be quiet."

Satu kalimat penuh intimidasi. Sejenak, bulu kuduk entah mengapa langsung meremang.

"Anda, segeralah enyah dari tempat ini." Seiji berdiri dengan tetap membelakanginya. "Ini tempat umum, dan seharusnya Anda menjaga sikap."

Kepala Seiji menoleh dari balik bahu. "Atau ... Anda ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Anda, hm? Tourist?"

Tidak tahu apa yang membuat pria yang dari ukuran tubuh saja jauh lebih kecil dan kurus, namun aura penuh bahaya mengancam menguar begitu kuat. Semakin lama semakin kuat, sanggup untuk mengheningkan seisi rumah makan. Tak ada yang berani bersuara.

Membeku oleh sensasi dingin, pria itu lantas mundur teratur mengikuti insting.

"Heh, fuck!"

Orang itu memilih berlalu, keluar sambil menyebutkan sumpah serapah. Nyaris saja menyenggol seorang kakek tua. Keluar dari Maji Burger dengan menendang kasar pintu kaca, untung tidak pecah.

Suasana masih senyap untuk beberapa saat, lalu kembali ramai. Beberapa membicarakan betapa tak sopannya orang itu, yang lebih tua berkomentar kelakuan turis zaman sekarang. Para pelayan mengurut dada dan berinisiatif membereskan kekacauan kecil.

Bocah biru muda masih terpaku di tempat.

"Dua burger keju, dan dua large size vanilla milkshake, dan mocha frapuccino."

Mendengar kata vanilla, ikut menyadarkan fokus bocah tersebut. Ia menoleh dan mendapati laki-laki yang membelanya tadi tengah memesan, sebelah tangannya menunjuk sponge cake vanilla dengan potongan jeruk di atasnya.

Begitu nampan sampai di tangan, Seiji menghampiri bocah itu.

Yang menatapnya dengan kening berkerut.

"Jadi, mau menemaniku makan sambil menenangkan diri, Gadis Kecil?" tanyanya lembut.

Kunciran berpita bentuk es krim vanilla mengikat sebagian helai biru muda bergoyang-goyang lucu.


Dengan perut kenyang, Nyanko berbaring santai di dalam tas. Puas menikmati ramen lezat dan crepes manis, meski Takashi melarangnya tambah. Alasannya karena nanti mereka kesorean pulang, Touko menunggu di rumah. Huh, salah sendiri nyasar.

Takashi menghela napas dalam-dalam sebelum membenarkan posisi duduknya. Membuat dirinya senyaman mungkin di tempat duduk kereta. Kebetulan sedikit penumpang yang naik.

Takashi mendapati tiga orang gadis remaja asyik menampilkan layar ponsel masing-masing, ada juga sepasang suami istri tua yang duduk bersebelahan. Sisanya cuma dia dan Nyanko di gerbong ini.

Di dalam tas, vas pesanan Touko sudah diyakini aman bersama Nyanko. Takashi membujuk akan membelikannya manjuu begitu sampai nanti, mumpung bulu Nyanko cukup tebal untuk melindungi vas dari bencana pecah.

Takashi tersenyum, membayangkan raut wajah senang Touko nanti melihat vas tersebut. Kalimat yang lembut dan penuh kasih Touko selalu menenangkan.

Satu guncangan ketika kereta berbelok menyadarkan Takashi. Ia nyaris lupa bahwa tadi sempat membeli surat kabar. Lembar koran dibuka, Takashi mencari-cari bagian lowongan kerja.

"Em ..."

Mata menelusuri bait demi bait. Takashi membaca dengan teliti tiap lowongan yang tersedia, terutama di bagian persyaratan.

Sumpah, ada kalanya ia gagal paham jika melihat salah satu syarat yang tertera, pencalon harus ganteng atau cantik atau masih bujang lapuk.

Malah kadang disebutkan, diwajibkan mandi susu sebulan sekali.

Sumpah, Takashi auto lupa sama nama pekerjaannya. Tidak mau mengingat dan tidak habis pikir, ada saja orang yang melowongkan profesi absurd.

Nyanko mendengkur, ekornya nyaris menyembul di resleting yang tidak tertutup. Katanya panas kalau ditutup semua. Kereta yang berguncang ringan sama sekali tidak mengganggu tidur lelapnya.

Selama sepuluh menit berkutat, diakhiri dengan keluhan samar. Koran ditutup, dilipat samar. Takashi mengeluh kecewa, tak ada yang lowongan kerja yang sesuai persyaratan dengan kondisinya.

Dan ada pula lowongan yang terlalu mencurigakan untuk dilirik.

Iseng melirik jam. Masih ada waktu kurang lebih lima menit lagi sebelum ia turun gerbang. Lima menit bisa menjadi sangat lama jika untuk ditunggu.

Merasa nantinya akan bosan, Takashi berinisiatif membuka korannya lagi. Hitung-hitung mengusir bosan. Mumpung tak ada youkai jejadian yang ikut menumpang-selain Nyanko.

Bukan kebiasaannya baca koran, walau Shigeru langganan koran harian. Menonton berita pun jarang. Salahkan para ayakashi yang datang terus-menerus tiada henti.

Tapi kadang ia iseng melihat-lihat, kadang muncul wajah-wajah yang dikenalnya seperti aktor tenar yang tak kunjung turun reputasi. Beberapa waktu lalu malah Takashi sempat menonton film terbaru yang dibintangi Shuuichi.

Takashi membuka halaman depan, dan ia menerawang mendapati monster aneh berwarna perak muncul di halaman depan koran. Ia tak terlalu memperhatikan tadi.

Ini bukan majalah animasi, 'kan? Mengapa ada muncul gambar ... Naga?

Deret huruf besar-besar dibaca baik-baik.

Collaboration Sport Vision

Kaiba Corporation dan Akashi Corporation.

Alis saling bertautan, baru menyadari dua entitas pria berpenampilan penuh karisma tinggi di sebelah gambar naga. Saling berjabat tangan dan tersenyum penuh intimidasi–sepertinya ke arah kamera yang memotret.

Dikatakan, CEO genius yang terkenal akan hologram padat menyetujui kerja sama dengan pihak General Manajer Akashi Corporation. Akan diadakan proyek pengembangan solid vision khusus di bidang olahraga.

Solid vision? Apa itu?

Takashi mengerutkan kening. Rasanya pernah dengar nama Kaiba, tapi di mana, ya ...?

Ah, sudahlah. Tidak penting. Toh, bukan urusannya juga. Takashi tak berminat pada bidang bisnis yang konservatif tinggi dan debat sinis saling memaki dalam perang dingin berbentuk kiasan-kiasan berkalimat sulit namun mutunya rendah.

Sumpah, pembicaraan yang begitu sangat dijauhi Takashi. Ia tak pernah kuat dengan situasi berat seperti itu.

Koran ditutup ketika suara pengumuman kereta sudah sampai di tujuan. Nyanko menyembul keluar siap meminta manjuu.


Seiji pulang dijemput. Sudah ada mobil hitam yang menunggunya.

Seorang bawahan terpaku melihat atasannya dengan sukarela menggandeng tangan mungil gadis kecil berambut biru muda, keluar dari rumah makan junk food. Kunciran ekor kuda di sebelah kanan bergoyang-goyang lucu.

Di sebelahnya, Nanase berdiri dengan sorot mata menyelidik.

Seiji melepas gandengan begitu berdiri di trotoar. Ia berbalik menghadap si kecil sambil berpangku pada lutut.

"Benar bisa pulang sendiri?"

"Un! Makasih sudah traktir, Om. Arigatou nano desu." Kepala bocah biru itu membungkuk sopan dan ceria, berhati-hati membawa gelas besar vanilla shake.

"Kalau begitu, hati-hati di jalan, ya." Seiji berpesan dan memberi satu tepukan pada rambut biru.

"Uuii, hai nano desu."

Dengan riang gembira, bocah asing tersebut berlari pergi meninggalkan Seiji.

Nanase berjalan mendekat. "Siapa anak itu?"

Seiji tertawa kecil. Tangannya mengibas ringan sembari berjalan ke mobil. "Hanya anak yang kebetulan kutemui hari ini."

Ia tak membenci anak kecil, kok. Tapi juga tidak terlalu suka. Lagipula ada yang bilang, anak kecil yang masih polos kadang kala berkemampuan melihat makhluk halus tanpa disadari.

Pria itu memasuki mobil.

"Oh, omong-omong dia bukan anak perempuan, lho."

xXx

To Be Continue

xXx