Story By: Bekantan Hijau.

Disclaimer: Yuki Midorikawa, Tadatoshi Fujimaki, Kazuki Takahashi.

Crossover: Natsume Yuujinchou & Kuroko no Basuke. Side Yu-Gi-Oh! Duel Monster.

Rate: T

Genre: Romance/Humor/semi-Family/Drama/Parody.

Pair: Harem!Takashi.

Warning: Maybe-OOC, some mistakes EYD, semi-Pedo!Seijuurou, semi-AU, Sho-Ai, BL, typo.

xXx

Senyum Muna

xXx

.

.

.

Episode 4

.

.

.

xXx

.

.

.


Persahabatan bagai kepompong.

Tidak tahu dari mana asal mulanya kalimat tersebut, tahu-tahu Seijuurou sudah tak asing saja. Ingat begitu saja dan familiar. Mungkin ini yang namanya menghapal tanpa membuka buku.

Tetapi, sungguh, dia tak tahu apakah memang persahabatan memang bisa sebegitu kentalnya hingga tua, atau cuma mitos orang zaman dulu belaka. Dan tidak tahu pula apakah yang namanya persahabatan itu memang selalu indah.

Pokok masalahnya, ialah hubungan Seijuurou dengan makhluk-makhluk sinting sejak SMP ini masuk golongan absurd.

"SATSUKI! MASAK APA KAU?!"

"ALEX! PAKAI CELANAMU KUBILANG!"

"ASTAGA! TETANGGA LAGI BERCUMBU! SIP! MANA KAMERA!"

"IT'S COOOOOLD~~! TAIGA! WHERE'S MY PILLOW?!"

Oke, Seijuurou salah. Mungkin lebih tepat disebut ... putus urat malu.

Ini bahkan belum masuk apartemen, masih di lobi, loh. Hebat bisa terdengar sampai luar.

"Hei, Daddy, mau masuk?"

Chihiro sudah terbiasa dengan suara ribut ibarat sorakan perang dunia. Ingat? Hampir tiap akhir pekan ia kemari, mengantar boneka yang disuruh beli dan antar langsung ke tujuan. Sungguh, Chihiro sudah kenyang dengan sekian pengalaman Tokyo-Kyoto.

Dari kali pertama Seijuurou berteriak memanggilnya sampai refleks melempar buku Light Novel isi waifu baru dan tergopoh-gopoh mencari-cari boneka beruang, lalu pontang-panting pulang ke Kyoto karena Tuan Besar ikut mencarinya mendadak minta diantar ke Nagano.

Salahkan Tuan Muda bawel yang enggak mau pakai jasa kurir, takut tidak higienis bekas pegang-pegang tangan penuh kuman. Demi anak, semua barang kualitas wajib terjamin.

Pria berumur awal kepala tiga tersebut melepas sarung tangan baru tadi pagi. Majikannya bertitah tak boleh pakai sarung tangan yang sama jika bawa boneka baru dan susu kocok. Harus selalu beli, yang sebelumnya disedekah atau buang pun tak masalah.

Dalam hati Chihiro membuat catatan mental bahwa hati Seijuurou selalu hitam penuh konflik menolak KEAJAIBAN, tapi masuk kategori konservatif juga.

Dan hari ini lebih hitam lagi.

Sumpah.

Makanya ia berinisiatif datang sendiri kemari, sampai membelikan boneka dan vanilla. Niat sudah jelas, ingin menghibur diri. Chihiro tidak kaget lagi kalau Seijuurou bertingkah OOC dalam hal ini, sumpah sudah terbiasa. Dikira kenapa Chihiro sengaja meledek Seijuurou 'Daddy' tanpa mengindahkan delikan bengis dari majikan?

Tombol bel ditekan sepenuh hati. Chihiro berpura-pura asyik melihat tanaman bunga aster di samping pintu, ogah melihat senyum nista penuh pesona Seijuurou. Seingatnya kondisi majikan tadi pagi acak-acakan, rambut belum disisir, kerah tidak terlipat. Intinya, penampilan Seijuurou renyuk sekali.

Sekarang? Kacamata terpasang melindungi mata, rambut disisir ke belakang, kerah kemeja kotak-kotak terlipat rapi. Seperti mau kencan saja. Mungkin majikannya memang beneran pedo.

Bahaya, bisa bikin sakit mata.

Suara dari interkom menyapa mereka membalas bunyi bel.

Tak ayal kepakan sayap kupu-kupu mememuhi hati Seijuurou kala suara lucu nan manis terdengar.

/Halo~ siapa, ya?/

Oh, imutnya. Mungkin jika ini adalah fiksi, Chihiro akan menyamakannya dengan MiyuMiyu atau Yuyu-chama di light novel. Sayang ini kenyataan, jadi Chihiro tak terlalu suka. Suara anak kecil soalnya.

Beda hal pada reaksi majikannya.

"Tetsuya? Ini aku."

Ih.

Chihiro bergidik. Mantan kapten basket saat SMA pakai acara melembutkan suara segala. Sementang lawan bicaranya kali ini spesial, sih, ya.

Pria kelabu mencibir diam-diam. Kalau terang-terangan nanti buku-buku kesayangan jadi serpihan confetti.

/Oh! Daddy!/

Seruan riang setengah cempreng mengumandang, bersamaan suara kunci dibuka melangkah dua kali lebih jauh ketika kedua sudut bibir Seijuurou siap naik.

Tepat saat pintu akan terbuka, suara lain yang tidak kalah kencang dari sebelumnya membahana.

"STOP! STOP! HENTIKAN! TECCHAN! JANGAN DIBUKA! BAHAYA! ITU SETAN GUNTING MERAH, 'KAN?! TIDAK BOLEH DIBUKA! KUNCI! PINTU HARAM DIBUKA UNTUK CEO ABSOLUTE SYNDROME!"

Nah, ini dia.

Pff ...

Sekuat tenaga Chihiro menahan tawa. Semestinya orang seperri dirinya tidak akan tertawa karena hal seperti ini. Akan tetapi, wajah gelap Seijuurou yang muncul lantaran diledek bocah lain sungguh sangat enak untuk ditertawakan. Sialan, perut Chihiro geli sekali.

Keributan sepak terjang terdengar sebelum pintu benar-benar terbuka. Wanita cantik, berdada besar nan seksi muncul. Sebelumnya, Chihiro katakan, ia tak tertarik pada wanita ini. Dia lebih suka yang imut dan berkesan rata.

"Akashi-kun? Selamat datang," sapa Satsuki Aomine.

Belum sempat Seijuurou membuka mulut, teriakan sumpah serapah di lorong dalam kamar apartemen menggema.

"MAMA! TUTUP! ITU TITISAN MALAIKAT MAUT! SUMPAH, TUTUP LAGI! BISA BIKIN BAKTERI PEDO MENYEBAR!"

Tak mengindahkan, Seijuurou memilih bersimpuh satu kaki. Langsung disambut oleh pelukan hangat sepasang tangan kecil mungil, muncul dari belakang Satsuki.

"Dadddyyyyyy~~~"

Tangan dikibas-kibas, Chihiro ogah kena efek bunga-bunga karena Seijuurou tengah berbahagia. Sekalian menghindari Satsuki yang gemas memotret momen tersebut. Kapan lagi bisa dapat asupan pria ganteng masuk golongan Om-Om memeluk bocah mungil?

Seijuurou Akashi berdiri, dengan balita umur tiga tahun di gendongannya. Tawa riang memberi kesan gemas dan lucu pada bocah tersebut. Helai-helai biru muda sewarna langit musim panas bergoyang lembut.

Tetsuya Aomine. Putri bungsu pasangan suami istri Daiki dan Satsuki. Dengan rambut biru muda sewarna langit terang pendek, terlalu pendek. Malaikat mungil kalau kata Ryouta Kise.

"Daddy datang! Daddyyy~~" serunya ceria. Tak ada bosan mengulang-ulang kata "daddy".

Semakin sering diucapkan, semakin pudar penat Seijuurou. Apa ini yang namanya keajaiban dari malaikat kecil kesayangan Seijuurou semenjak ia dilahirkan di muka bumi?

Hidung Tetsuya digosok-gosok Seijuurou dengan hidungnya sendiri, pipi bulat dikecup lembut penuh sayang. Tetsuya tertawa geli.

"Tumben majikannya ikutan datang. Apa besok tanggal merah?"

Suara malas nan berat terdengar di belakang. Daiki Aomine menguap lebar sambil menggaruk perut dari balik kaos hitam, sebelah tangan Daiki memegangi kerah baju putra sulungnya.

"Papa! Lepasin!" Anak pendek di tangan meronta-ronta, minta dilepas. Kedua kaki dan tangan kecil bergerak meninju dan menendang-nendang udara.

"Yah, halo juga, Daiki." Seijuurou memandang sinis bocah tersebut, yang dibalas dengan tatapan maut penuh raut benci setengah mati.

Perkenalan ringan untuk pasutri Aomine–ehem. Tepatnya, anak-anak Aomine.

Mari perkenalkan, putra sulung Aomine; Tetsuna Aomine, panggil saja Tsuna. Ibarat cerminan ibu, wajah cantik dengan rambut biru muda halus. Nahas, tidak ada tanda-tanda gen tubuh tinggi sang papa menurun padanya. Justru bahasa dan sikap tidak tahu sopan santun yang menurun. Umurnya dua belas, kelas enam SD. Garis bawahi, Tetsuna itu laki-laki.

"Seriuslah, Pa! Turunkan Tetsuna! Tecchan wajib ditarik turun! Nanti di-grepe gimana?! Uuiiihh!" Teriak Tetsuna, sesekali ia membenarkan rok yang tersibak terlalu liar memberontak.

"Aku bisa digunting nanti, Tsuna," sahut Daiki cuek. Tanpa mempersilahkan tamunya masuk, Daiki menyeret paksa Tetsuna ke ruang tengah.

"Aku tersanjung masih dihormati," tutur Seijuurou penuh emosi.

Satsuki tertawa. "Mari masuk, Akashi-kun, Mayuzumi-san," katanya mempersilakan tamu memasuki apartemen.

Seijuurou melepas sepatu hitam sambil tetap menggendong Tetsuya, berjalan masuk dengan kaki berlapis kaus kaki hitam. Chihiro mengikuti di belakang membawa masuk boneka.

Keranjang piknik disodorkan pada Satsuki, yang langsung menghambur ke dapur dengan gembira.

Di ruang tengah, Daiko sudah menunggu di sofa panjang, remote televisi di tangan. Tetsuna di lantai, duduk cemberut bersandar pada kaki papanya. Kaki diselonjorkan, rok dibiarkan tak beraturan. Yang penting menutupi paha katanya.

Seijuurou berhenti di ambang pintu, iris tajam mengamati ke seluruh penjuru ruangan, merasa heran barang-barang tersusun rapi pada tempatnya. Sejujurnya itu aneh, karena Daiki berpedoman kotor dan berantakan itu kreatif.

"Tumben rapi," cetus Seijuurou tak minat berbasa-basi, pria itu duduk di sofa khusus satu orang sambil memangku Tetsuya yang tak mau turun. Tipikal anak-anak, tak mau lepas dari orang kesayangan.

Daiki menyeringai. "Inspektur datang berkunjung, dan BOOM!"

"Dimarahi?"

"Tebak lagi, Akashi."

"Oh, sungguh polisi tidak beradab." Seijuurou memberi isyarat pada Chihiro, pria kelabu menyodorkan boneka pada Tetsuya yang langsung menerimanya dengan senyum lebar. Seijuurou membiarkan Tetsuya memeluk boneka barunya, tubuh mungil bocah itu spontan tenggelam dalam bulu-bulu tebal kain boneka.

"Hasami-ossan lebih tidak beradab," celetuk Tetsuna, anak itu mencomot keripik kentang di meja.

"Apa, Tetsuna?"

"Tidak. Mohon maaf."

Seijuurou mendelik ketika Chihiro duduk sekaligus berdehem menahan tawa.

"Daddy, Daddy," panggil Tetsuya.

Secepat raut wajah itu berubah jelek, secepat itu pula ekspresi Seijuurou melembut. Pria tersebut menatap penuh sayang pada Tetsuya. Daiki dan Chihiro lantas mengalihkan pandangan pada televisi dan novel, menyelamatkan mata dari bahaya buta karena silau.

"Ya, Tetsuya?"

"Daddy bawa boneka sama apa?" tanya Tetsuya.

Seijuurou tersenyum lembut, sebelah tangan mengelus-elus rambut Tetsuya. Suasana hatinya sungguh cerah, makin cerah seiring mengamati lekat-lekat wajah manis Tetsuya.

"Coba tebak, apa yang dibawa untuk Tetsuya?" Seijuurou menjawabnya dengan tantangan.

Kepala Tetsuya miring. Senyumnya hilang menjadi wajah datar. Itu bukan cemberut, hanya sedang berpikir. Toh, begitu pun tetap membuat Seijuurou gemas menciumi pipi Tetsuya.

Tidak acuh pada raut wajah horor Daiki; Chihiro yang mencoba tenggelam pada bukunya; Tetsuna yang mengamuk lagi tapi kerahnya ditahan Daiki.

Suasana kekeluargaan Daddy-anak yang sangat kentara tersebut cukup menimbulkan api kecemburuan timbul pada diri Tetsuna. Roman menggemaskan tak sanggup memadamkan api kebencian.

Betapa anak itu sangat yakin niat Seijuurou itu tidak baik sama sekali.

Sekembalinya Satsuki ke ruang tengah, tak kuat wanita itu membendung jeritan gemas. Tak sia-sia ia mempertahankan rambut Tetsuya tetap pendek. Di gendongan General Manager rambut merah, ibarat Om-Om sedang grepein anak kecil.

Jangan kira Satsuki benci pedo-pedoan.

"Fuuuu! Kue stroberi! Ada vanilla! Krimnya banyak!" Tetsuya menggerakkan tangannya lucu, hendak meraih seloyang kue sekaligus. Tetapi Seijuurou menahan tubuh mungil si kecil.

"Buang saja, Ma. Ada peletnya pasti," fitnah Tetsuna berang. Sekuat tenaga menahan liur menetes.

Mengapa yang namanya vanilla sangat menggugah iman?

"Oh, kalau gitu Tsuna-chan gak mau?" Satsuki mulai memotong-motong kue dan meletakkannya dalam piring-piring kecil. Tak lupa menambahkan sendok mini berbentuk es krim vanilla.

Daiki nyengir lebar melihat Tetsuna meneguk liur, nyaris tergoda. "Hoi, Tsuna, apa aku melihatmu ngiler?"

Buru-buru Tetsuna mengusap liur di pinggir bibir. "Enggak, kok! Tetsuna enggak ngiler!"

Seijuurou meraih satu piring dengan stroberi terbesar. Tetsuya bertepuk tangan kencang-kencang, gembira akan disuapi oleh Daddy-nya.

Jika ada satu hal konyol yang dicurigai oleh Daiki, maka itu ialah ia sempat berpikir bahwa hormon pendek Seijuurou bisa menular. Sumpah, meski kapten, tetapi dia yang paling rendah. Entah bagaimana, anak-anaknya ikutan pendek. Entah dengan Tetsuya, mungkin karena masih kecil, tubuhnya belum memasuki waktu bertambah tinggi.

Kata Dokter Shintarou, tak ada masalah dengan perkembangan pertumbuhan kedua anaknya, bahkan sudah diyakini tak ada sperma Seijuurou ikut masuk. Tapi memang yang nama tubuh pendek itu bisa menular lewat udara?

Sebodoh-bodohnya Daiki, ia tahu pasti tak ada yang namanya bakteri pendek.

"Ah~ kalian manis sekali~" Satsuki tak henti-hentinya fansgirling. Bahagia melihat asupan di depan mata, membuang jauh-jauh fakta akan gender si bungsu adalah betina tulen.

Tetap saja ngotot rambut Tetsuya harus pendek dan sering-sering pakai celana.

"Seriuslah, Tecchan, kenapa juga suka banget dekat-dekat titisan iblis gunting?" protes Tetsuna. Kue dikunyah kasar. Mengakunya saja tidak mau, akhirnya tidak tahan juga melihat vanilla.

Alis Seijuurou terangkat. "Tetsuna mau disuapi juga?" tawarnya.

"Enggak mau! Nanti kena rabies!"

Kesebalan terlintas di wajah Seijuurou, tak sudi disamakan dengan guguk. Tetapi wajah imut Tetsuya yang menggembung berlepotan krim tak sanggup membuatnya membendung senyum geli.

Chihiro membatin dalam hati, mengingat-ingat hari di mana majikannya ikut berada di rumah sakit pada waktu kelahiran kedua anak ini. Membandingkan mana yang lebih konyol peristiwanya. Dalihnya karena berbaik hati mengunjungi sahabat lama.

Kelahiran Tetsuna, sukses membuat Seijuurou sakit kepala. Apa mau dikata? Tetsuna menangis kencang ibarat baru melihat monster seram begitu bertemu pandang untuk pertama kalinya dengan Seijuurou.

Hari-hari berlanjut dengan kebencian tidak beralasan Tetsuna pada Seijuurou. Ryouta sampai tak kuat menahan tawa apabila ekspresi Seijuurou berubah suntuk ketika bertemu lagi dengan Tetsuna.

Daiki membantah dituduh Shintarou mengajari Tetsuna bahasa yang tidak sopan atau belajar meledek yang lebih tua, apalagi tak ada kapok mengatai Seijuurou. Tidak tahu mengapa anak itu benci sekali pada Seijuurou Akashi.

Sungguh tidak sopan.

Ngomong-ngomong tadinya Tetsuna akan diberi nama Tetsuya, namun Satsuki lebih ahli main jan ken pon. Daiki mendecih tidak suka ketika putranya resmi dinamakan Tetsuna.

Lain halnya Tetsuya.

Karena Satsuki belum memikirkan nama, Daiki ngotot mau pakai Tetsuya meski tahu anaknya yang kedua betina tulen. Terjadi perselisihan, dan kali ini Daiki yan menang suit. Satsuki harus memendam rasa kecewa dan banyak-banyak berniat akan membuat putrinya cross-dress atau ikutan suka homo.

Ryouta jatuh hati pada Tetsuya, terutama ketika si kecil Tetsu tertawa-tawa melihat banyak rambut beraneka warna seperti pelangi berkumpul di dalam kamar, sebulan setelah Satsuki melahirkan yang kedua kali.

Malaikat mungil inilah yang mampu memikat hati seorang Seijuurou. Kacamata Shintarou retak tatkala semburat merah tipis muncul di bawah pelipis Seijuurou; keripik kentang Atsushi jatuh mengetahui mantan kaptennya menciumi pipi gemuk Tetsuya; Daiki dan Ryouta yakin ini pertanda kiamat; Tetsuna otomatis membuat catatan mental bahwa Seijuurou adalah musuh seumur hidup.

Berawal dari iseng ingin menggendong Tetsuya karena bayi mungil itu cuma diam dengan raut wajah datar memandangi teman-teman orangtuanya, tak seperti kakaknya yang menangis saja jika ketemu Kiseki no Sedai.

Ketika jemari ramping Seijuurou menyentuh kulit bayi yang lembut dan harum buah persik bercampur vanilla samar-samar hinggap di indera penciuman, tatkala poni merah Seijuurou ditarik-tarik oleh Tetsuya, saat bibirnya mencium penuh sayang pipi bulat Tetsuya yang mirip kue bakpau.

Detik itu juga, Tetsuya diklaim sebagai anak.

Setiap sabtu sore, Chihiro menyempatkan diri duduk khidmat di toko buku Tokyo usai mengantar titipan boneka. Senin, ia membantu pelayan lain memindah buku-buku literatur ke gudang karena lemari Seijuurou diganti album foto-foto bayi.

Entah ini bisa disebut resiko jadi orang kolot ogah berkomitmen, tapi mau punya anak.

Barangkali Masaomi terlalu asyik dengan kehidupan masa tua atau menjunjung tinggi sikap konservatif, ia bilang Tetsuya terlalu manis untuk jadi anak sah putranya.

Gelagat Seijuurou kentara sekali bahwa ia lebih memilih Tetsuya ketimbang mencari bini.

Jangan sampai.

Lebih-lebih jika mengingat kelakuan orangtua aslinya begitu, curiga bocah mungil ini malah aneh-aneh karena lingkungan hidupnya sinting.

Tetsuna tak mau pergi tidur tepat setelah Seijuurou mendeklarasi rencana pengangkatan anak, takut adiknya diculik malam-malam oleh setan gunting. Hampir tiap malam ia berjaga di kamar Tetsuya.

"Akashi, mau apa kemari? Kukira Paman Masaomi tidak memberikan tugas tambahan di akhir pekan?"

Seijuurou menanggapinya dengan senyum tipis, masih asyik mendengarkan celotehan tidak jelas Tetsuya yang bercerita tentang pengalaman pertamanya di rumah penitipan anak. Main menempelkan stiker binatang pada kertas bersama anak sebaya bernama Shigehiro.

"Mau menemui putriku, tentu saja. Mau apa lagi, Daiki?"

Yakin Seijuurou bersungguh-sungguh. Tetsuya diklaim sepenuhnya sebagai anak padahal belum sah. Mengatainya tolol, sendirinya lebih sinting. Daiki harus banyak-banyak menyebut nama Tuhan kalau tak mau keceplosan.

Siapa yang tahu di balik kantong ada gunting?

Satsuki berdiri, dua potong kue di tangan. "Aku permisi dulu, mau membagi kue ke tetangga," pamitnya selajur hengkang keluar.

Tetangga, yang juga teman satu tim basket dulu. Ingat Taiga? Siapa sangka ia juga ada di apartemen yang sama, bertetangga pula. Tinggal bersama guru basketnya.

Tetsuna trauma di hari pertama bertemu guru Taiga, nyaris kecupan pertama diambil wanita setengah telanjang. Wajah saja awet muda dan seksi, tapi isinya monster tukang cium. Tetapi senang dengan Taiga, karena Taiga pintar memasak.

Sudah menjadi rahasia umum kalau Satsuki selalu berpotensi meledakkan dapur, bagaimana keluarga Aomine bisa tetap hidup sampai sekarang, itu masih rahasia dunia.

Dan kesukaan kedua bersaudara Aomine pada vanilla semenjak mereka dilahirkan dihapal Taiga, penganan manis selalu dibuatkan apabila Taiga ada waktu.

Sekuat tenaga pria beralis cabang dan Tetsuna kompak menjauhkan Tetsuya dari Alex, si kecil tak pernah tahu dirinya berkali-kali nyaris mau dicium tante-tante bohay. Daiki tak berguna, malah iri karena dua gunung Alex tak kalah dari istrinya.

Cukup Tetsuya mau diambil setan merah. Taiga dan Tetsuna tak berani membayangkan apa jadinya jika Alex mau menodai gadis kecil itu juga.

"Daddy nanti pulang?" tanya Tetsuya pada akhir ceritanya.

Seijuurou tertegun, ia belum memikirkan bagian ini. Semenjak berencana untuk kemari, yang ada di kepala Seijuurou cuma bertemu Tetsuya secepatnya. Pria itu berpikir untuk beberapa detik sebelum mengangguk.

Kekecewaan jelas melintasi paras Tetsuya, tak mau Daddy-nya pergi. Senyum Tetsuya hilang. Walau ekspresinya datar, hati Seijuurou nyeri melihat kerutan samar di tengah-tengah alis.

Beda cerita dengan si kakak, bahagia sekali Tetsuna mendengarnya. Kepergian setan dari rumahnya adalah yang paling dinanti-nanti. Siapa yang sudi rumahnya didatangi oleh gunting merah? Ikh.

Namun, sepertinya Tetsuna keliru.

Terutama ketika Seijuurou mengusap lembut pipi tembem Tetsuya.

"Tetsuya mau ikut ke rumahku minggu depan?"

Rasanya ada petir menyambar di siang bolong.


Latar belakang itu penting.

Apabila ditelusuri lebih dalam, hanya segelintir orang di muka bumi yang punya latar belakang. Sebetulnya, Seiji juga tidak mengerti seberapa luas yang diperlukan untuk menentukan seseorang memang punya latar belakang atau tidak.

Akan tetapi, sungguh, Seiji mengaku kadang dia sirik dengan Takashi Natsume.

Bukan karena bakat, tidak. Orang berbakat pun, kalau tidak pernah mengasah, mana bisa runcing. Otak pun bisa tumpul cuma apabila selalu dibawa tidur, bengong, dan cuma ingat jam makan-minum.

Kepala pelayan yang sudah dikenali Seiji memberi senyuman andalan, itu tulus, Seiji tahu. Wanita paruh baya tersebut membawa senampan kue beras serta satu set teh hijau dari dapur. Melewati Seiji, menyapa Tuan Muda, kemudian berjalan pergi.

Ada acara ikebana, Nanase menguasai teras belakang dengan para perempuan terhormat. Seiji cuma menyapa sebentar dengan sikap gentlemen, lalu pamit karena ada urusan di ruang pribadi.

Menurut spekulasi asal-asalan yang dibuat Seiji beberapa tahun lalu, sebagian besar keluarga tua itu konyol.

Kaki-kaki melangkah ringan, berjalan tenang menuju lantai tiga. Sesekali berpapasan dengan shiki. Ia sudah meminta teh linden untuk hari ini, menemani kegiatan di ruangannya nanti.

Menurut Seiji, latar belakang bukan berarti keluarga tua. Suatu keluarga jadi menonjol, faktor-faktor penyebabnya bukan selalu karena memiliki latar belakang yang jelas.

Ini bukan seberapa lama keluargamu bisa membaca dan menulis. Ada pendapat yang mengatakan, semakin lama suatu keluarga mendiami satu petak tanah, semakin baik keluarga itu.

Tak perlu satu ayakashi untuk membuat kepala pening. Mau tahu manusia jenis apa yang lebih menyebalkan? Manusia.

Ketika ia kecil, para petinggi mengatakan, jika seorang gadis kecil tertawa saat upacara di sekolah, itu menunjukkan keluarganya berkepala kosong. Singkat kata, Seiji diberitahu bahwa kemampuannya adalah bakat turunan. Katanya lagi, semakin tua keluargamu, bakat akan semakin tinggi.

Atas dasar, bakat turunan dengan latar belakang adalah perihal yang membutuhkan kompensasi tinggi.

Untuk sejenak, dia merenung. Apabila dalam suatu keluarga, heboh karena generasi sekian tidak menikahi sepupu, apakah keluarga tersebut berbakat inses?

Dan ketika ia mendengar nama Reiko Natsume, pendapat Seiji pun makin kuat. Tetapi tidak dengan Takashi Natsume, anak itu termasuk kasus bakat turunan.

Tetapi tanpa latar belakang.

Duduk di tatami beralas bantal empuk, Seiji menyibak rambut ke balik telinga. Poninya sudah terlalu panjang, mungkin ia perlu memotongnya lain hari. Meski mata kanannya ditutup, mata kirinya tetap perlu diperhatikan. Susah melihat dengan poni terlalu panjang.

Sifat meragukan tidak boleh ada dalam keluarga Matoba. Seiji mengingat-ingat ajaran petinggi untuk selalu bersikap awas. Jika diberi kesempatan sedikit saja, hendaklah untuk selalu mengerahkan kekuasaannya; mengatur, mewaspadai, memperingatkan.

Melihat corak selaman emas pada kimono, ceramah bahwa dirinya adalah hasil didikan terhormat beberapa generasi. Dengan menggarisbawahi orang melakukan yang terbaik dengan pengetahuan yang mereka miliki, Seiji mengulum senyum.

Kertas kosong siap ditulisi mantra. Seiji mengambil kuas.

Diperjelas sekali lagi, urusan keluarga tua itu konyol. Terlepas dari tugasnya sebagai khas keluarga Matoba, Seiji menarik garis hitam.

Ketahuilah, mempelajari tata krama, teknik khas keluarga, dan mengharumkan nama keluarga; itu cuma bonus. Semakin ruwet keluargamu, semakin banyak yang sedarah, semakin terkenal nama keluarga, semakin tinggi kemampuan bakat turunan, semakin putus asa dirimu.

Ibarat hukum yang sulit untuk diubah. Seiji juga manusia, dia tak akan hidup lebih lama. Ketika seseorang tidak dibebani kompensasi terlahir dalam keluarga tua, Seiji pasti sudah mati.

Tatkala nampan berisi teh dan sepiring potongan kecil roti bermentega panas diletakkan, Seiji ikut menaruh kuas. Istirahat sejenak menikmati kudapan.

Terdengar suara bambu dari kejauhan.

Likuid hangat membasahi kerongkongan. Seiji mengecap lambat, merasakan teh linden merangsang badan untuk rileks.

Melanjutkan yang tadi. Seiji tahu ia sudah menjadi bagian keluarga Matoba, bukan ketika ia diakui.

Entahlah, tidak ada jawaban pasti. Hal pertama yang Seiji pelajari, hukum keluarga bisa lebih menyesatkan ketimbang dirayu ayakashi.

Dan dia tak bisa bilang apa tujuan mengatakan ini, karena dia sendiri tidak yakin keadaannya memang demikian. Tetapi Seiji bisa mengatakan ia iri pada Takashi karena tidak punya latar belakang.

Perlu dipertebal sekali lagi dan harus dipertekankan lebih dalam; warisan, bakat, posisi, pelatihan, prestasi, nama baik, tata krama, dan garis keturunan sebenarnya cuma masalah sampingan dalam keluarga tua.

Mereka yang punya kekayaan dan keluarganya dikenal, kadang justru kehidupannya lebih baik.

Cangkir kosong diletakkan di atas nampan. Tubuhnya jauh lebih baik. Teh linden memang selalu punya kemampuan ampuh untuk relaksasi.

Seiji menghela napas panjang mengingat-ingat jadwalnya nanti malam. Nanase sudah memberikan jadwalnya tadi pagi sebelum sarapan, sebagai ganti kemarin terlalu lama berjalan-jalan.

Itu cuma dalih sebagai hukuman karena Seiji memakan junk food saat akhir pekan.

Tertawa kecil, Seiji lantas teringat pada aksesoris hiasan berbentuk maneki neko yang diterimanya oleh bocah kecil berambut biru.

(Tidak. Seiji tidak mengingat Takashi Natsume saat melihat poni bocah itu yang juga dibelah tengah, atau raut wajahnya yang ketakutan.)

Sebagai rasa terima kasih karena sudah menyelamatkannya dari turis menyeramkan. Seiji tak kuasa menolak gantungan kunci yang mengingatkannya pada kucing gembul aneh berbulu jingga-kelabu.

Meja berisi tumpukan kertas mantra dilirik. Wadah khusus tersedia, menyimpan ganci mungil tersebut.

Sudut bibir Seiji terangkat. Entah darimana munculnya firasat kuat bahwa dia akan bertemu lagi dengan bocah itu.

Bersama seseorang yang mungkin berjodoh dengannya.

xXx

To Be Continue

xXx