Story By: Bekantan Hijau.

Disclaimer: Yuki Midorikawa, Tadatoshi Fujimaki, Kazuki Takahashi.

Crossover: Natsume Yuujinchou & Kuroko no Basuke. Side Yu-Gi-Oh! Duel Monster.

Rate: T

Genre: Romance/Humor/semi-Family/Drama/Parody.

Pair: Harem!Takashi.

Warning: Maybe-OOC, some mistakes EYD, semi-Pedo!Seijuurou, semi-AU, Sho-Ai, BL, typo.

xXx

Senyum Muna

xXx

.

.

.

Episode 5

.

.

.

xXx

.

.

.


Pada senin pagi, Shuuichi bergelut dalam selimut.

Meski sudah bertahun-tahun menjadi aktor sekaligus model, Shuuichi cuma penat dan gabut di kalangan pengusir youkai. Entahlah, ia sendiri tidak tahu mengapa karirnya tak kunjung surut, justru berkali-kali meroket apabila tuntas syuting film terbaru.

Begitu rilis, makin gencarlah daun-daun muda di kalangan kaum hawa yang histeris melihat sosoknya.

Mungkin karena bakat bawaan? Oh, tidak, mungkin lebih tepat disebut pesona bawaan lahir. Ia tak mau menyebut bakat, baik dari segi akting sampai mengusir youkai.

Dengarkan dan camkan ini baik-baik, orang berakal sehat tak pernah bangga dengan bakatnya.

Selimut ditarik turun, merasa pengap karena suhu kamar disetel terlalu hangat. Kemarin ia baru pulang ke apartemen sekitar pukul sepuluh malam. Mandi, pakai piyama, dan langsung terlelap begitu saja.

Film yang akan diikutinya nanti akan mulai syuting dua pekan lagi. Selama itu, dia bebas dari tugas agensi. Paling cuma tawaran sponsor iklan Sport Vision Kaibaland tiga hari lagi.

Ia tak terlalu mengerti apa yang sebenarnya mau diiklankan, cuma sekadar mengiyakan tawaran manajernya saja.

Akhir-akhir ini kerjaan di kalangan makhluk gaib juga nyaris tak ada, mana mau Shuuichi nganggur selama dua pekan. Waktu istirahat memang enak, tetapi ia tak suka jika istirahat terlalu lama.

Shuuichi segera bangkit, sisa-sisa kantuk perlahan lenyap seiring bergeraknya tubuh. Tubuhnya pegal, mungkin ia perlu mandi air garam laut nanti.

Jam digital pipih dicari-cari, anak poni turun menutupi mata melihat angka delapan berkedip-kedip warna biru. Cukup lama juga dia tertidur, hampir sepuluh jam.

Menguap sebentar sebelum berdiri. Berjalan malas ke kamar mandi tanpa alas kaki. Sandal biru dibiarkan menganggur, tidak berminat dipakai.

Bukan tipikal Shuuichi untuk mencari pasangan hidup. Tidak tahu, ya. Bergelut di antara dua dunia berbeda kadang membuatnya lupa pada roman-roman picisan, aksi di depan kamera pun cuma sebatas akting.

Selalu saja ada jenis orang yang terlalu sibuk memikirkan akhirat sehingga tak pernah belajar hidup di dunia. Dalam kasus Shuuichi, dia sibuk di dunia 'mampu melihat'. Hahaha, hampir-hampir mirip, 'kan?

Bujangan sepertinya pun memulai aktivitas di pagi hari dengan sedikit tidak biasa. Sedikit, karena Shuuichi menyempatkan diri menyapa Hiiragi dan Sasago. Untuk normalnya, itu bukan hal biasa, 'kan?

Tidak, Shuuichi tidak mau disebut aneh.

Mesin penerima pesan suara ditekan selagi setangkup roti bakar diolesi saus maple, diselingi segelas besar jus tomat dari kulkas. Shuuichi mendengar sambil lalu pesan pagi dari manajernya.

Paling-paling cuma bilang soal pertemuan dengan calon sponsornya nanti, uh ... Iklan apa? Vision–ah, sudahlah.

/–ingat, sebelum makan siang. Nanti kujemput. Pastikan sudah siap di depan apartemenmu–/

Roti digigit. Lidahnya terasa hambar. Oke, jadi jadwalnya dipercepat. Karena apa tadi? Ah, lupa, Shuuichi tidak menyimak dengan baik. Yang diingatnya cuma manajer akan datang menjemput sebelum jam makan siang.

Dengan kata lain sebelum tengah hari dia sudah harus siap-siap.

Tak masalah. Tubuhnya sudah lebih segar usai mandi air hangat dengan garam.

Jus tomat diminum khidmat selagi koran dibaca. Meringis karena asam-manis tomat meresap di lidah.

Bukan ketika General Manajer yang merangkap calon sponsornya nampang di halaman depan koran.


Kesannya selalu sama ketika menjejakkan kaki di lantai kantor orang-orang yang berpangkat tinggi dan berpengaruh di berbagai bidang.

Shuuichi terdiam bisu, agak tertekan oleh suasana kantor yang entah mengapa lebih menusuk ketimbang saat ia berkeliling di gedung agensi. Mungkin faktor perbedaan bidang yang dikelola? Atau karena gosip tidak enak tentang direkturnya?

Manajernya sedang berbicara dengan sekretaris. Shuuichi diminta menunggu sebentar.

Itu tak masalah. Shuuichi hanya tidak menyangka.

Kalau hatinya bisa tidak tentram selain karena youkai. Ahahaha. Hidup adalah permainan nekat. Itu tidak terbatas hobi main terjun bebas tanpa parasut atau sengaja meloncat ke mulut youkai buas.

Di kalangan manusia juga berlaku, karena ada kalanya, manusia bisa menjadi lebih bahaya dari maut itu sendiri.

Berawal dari pintu masuk bangunan kantor yang agak menyeramkan, meski cuma sebatas pintu kaca yang bisa terbuka otomatis. Hingga ke resepsionis yang bertindak ala profesional, tak lupa senyum ramah ala perkantoran. Meski dalam tata krama, itu suatu teknik dasar menyambut tamu, di lain sisi bisa berartikan senyum menyambut kematian.

Kemudian menuju ruang tunggu yang Shuuichi perhatikan dilengkapi perabotan kelas atas yang mungkin tidak mampu dibelinya walau sudah lebih dari tiga tahun menabung.

Lorong lobi kantor dipenuhi hiasan serta lukisan yang tersusun apik. Namun, yang menarik adalah temanya berupa monster-monster fantasy. Seperti yang sering muncul di game-game petualangan dunia Peterpan.

Shuuichi menyadari monster naga berwarna perak dan bermata biru lebih sering muncul di mana-mana. Apakah itu simbol maskot dari kantor ini?

Tak lama kemudian, manajernya datang menghampiri. Katanya, calon sponsor sudah menunggu di ruangan beliau. Shuuichi berjalan mengikutinya.

"Kaiba-sachou sudah menunggu di dalam bersama rekan kerjanya."

Begitu kata sekretaris. Senyumnya ramah mempersilakan Shuuichi dan manajernya masuk. Namun itu tidak sanggup menghapus sesuatu yang aneh seakan sedang menciutkan nyali Shuuichi.

Aneh memang, mendadak ia berkeringat dingin. Padahal jika berada di situasi yang biasa saja seperti di perkumpulan pembasmi youkai, Shuuichi biasa saja. Atau berhadapan dengan youkai liar yang sulit disegel.

Kenapa mau bertemu calon sponsor saja sampai gugup ketakutan begini?

Oh, pantas Shuuichi agak deja vu. Hh, ada yang menyaingi aura berbahaya Seiji Matoba sepertinya.

Pintu ruang kantor yang terbuat dari kayu sukar ditemui dan dilindungi, nama Seto Kaiba tampak megah dan terukir indah di depan pintu. Di sisi lain, makin menguatkan insting Shuuichi untuk mundur teratur.

Gila.

Pantas saja saat di taksi tadi manajernya membekalinya dengan petuah agar menjaga sikap dan tidak sembarangan bicara. Kabar burung bahwa CEO kantor ini seorang yang toleransinya sangat rendah pada semua yang dianggapnya tak selevel tampaknya benar.

Kesampingkan prestasinya. Shuuichi dengar GM lain yang mengadakan Collaboration pun nyaris 11:12, judes dan perfeksionis.

"Tuan, Anda ketakutan? Apa di sini ada ayakashi yang mengancam?"

Setengah mati Shuuichi menulikan telinga dari ucapan Urihime. Ia memang merasakan firasat karirnya lenyap seketika jika salah langkah.

Ketukan pelan di pintu oak besar dan ucapan salam manajernya terdengar samar-samar.

"Masuk."

Jawaban dari dalam sama sekali tidak jelas mood empunya kantor dalam kondisi ceria atau jengkel. Shuuichi menebalkan nyali, mengikuti manajernya melangkah masuk begitu pintu dibuka.

Untuk sepersekian detik, Shuuichi nyaris mati akibat trauma hentakan ganas berupa serangan kejut kapak yang menghunus langsung ke arahnya dan manajernya.

"GYAAAAAAA!"

Bukan Shuuichi yang berteriak, tapi manajernya–yang langsung terjerembap di lantai disertai wajah sangat ketakutan. Terombang-ambing yakin akan mati dengan kebingungan tidak terkira.

Shuuichi cuma melompat mundur, dengan ketiga shiki-nya bersiaga di belakang.

Sosok monster minotaurus menggeram bengis di hadapannya. Shuuichi berdiri terpaku.

... Ayakashi? Di tempat seperti ini?

Tunggu! Ini aneh!

Sekilas, Shuuichi melirik manajernya yang gemetar ketakutan bersandar di pintu mencari-cari pegangan. Ia tahu betul manajernya tak bisa melihat makhluk astral.

Lantas mengapa ...?

"Natori!"

Suara Hiiragi menyadarkannya masih berhadapan dengan makhluk asing ini. Dilihatnya monster itu meraung nyaring, siap mengayunkan kapaknya lagi.

Sasago dan Hiiragi sudah bersiap di depannya, siaga melawan.

Kemudian makhluk itu lenyap.

Meninggalkan udara kosong.

Eh ...?

"Oh, dia cukup berani."

"Manajernya sudah pingsan."

Mendengar suara-suara asing, Shuuichi menoleh. Mata delimanya mendapati dua pemuda berdiri di depan meja direktur utama. Kesan pertama yang dirasa adalah aura intimidasi kuat penuh karisma tinggi.

"Huh ...?" Shuuichi mengerut bingung, tidak mengerti apa yang terjadi.

Makhluk apa itu tadi? Dan siapa mereka? Calon sponsornya?

"Sepertinya dia bisa diterima."

"Tidak yakin, ia tak tampak mengerti hologram tadi."

"Hei, sesuaikan keinginan konsumen."

Hah?

Shuuichi membenarkan posisi berdirinya. Ketiga shiki-nya berdiri berjejer di belakang. Efek kejutan tadi membuat tubuhnya sedikit lemas, juga melenyapkan gugup yang melanda. Semua terjadi begitu saja.

"Kau, kemari."

Itu perintah dari pria berambut cokelat. Nadanya yang kasar jelas ia tak menerima penolakan.

Shuuichi menurut saja, sekalian ingin meminta penjelasan. Bohong jika ia bilang ia tak mengerti apa yang sedang terjadi. Suara tapak kaki Shuuichi melangkah terdengar nyaring di ruangan tersebut.

Yang berambut merah bersidekap, memandangi Shuuichi dengan pandangan menyelidik. Netra merah tajam laksana hewan berbahaya, jelas mengancam meski hanya dari tatapan mata.

Shuuichi semakin merasa deja vu. Sungguh, ia seperti sedang berhadapan dengan petinggi-petinggi keluarga Matoba. Mirip ketika ia berada dalam satu ruang dengan Seiji dan Nanase. Bedanya, mereka masih lebih santai.

Kedua orang ini–sungguh kentara tidak ada santainya.

Bersandar di meja, pria jangkung bermata biru menatap Shuuichi dengan pandangan sangat ... Tidak level. Entahlah, Shuuichi cuma merasa begitu.

"Kuyakin kau ingat tawaran sponsor Sport Vision, bukan?" katanya memulai pembicaraan.

Shuuichi mengangguk.

"Bagaimana jika kutarik kembali?"

"Eh?"

Berkedip-kedip tidak percaya. Ditarik kembali? Apa maksudnya itu?

Shuuichi mengerutkan kening, lantas bertanya, "Apa maksud Anda?"

"Reaksimu tadi lumayan, tetapi itu belum cukup."

"Reaksi?"

"Solid vision tadi."

Solid vision? Oh.

Pria itu teringat pembicaraan hologram oleh kedua orang ini tadi, juga monster aneh meski Shuuichi tidak merasakan hawa keberadaan youkai sebelumnya. Apa mungkin yang dilihatnya tadi itu cuma hologram?

"Jadi ..., yang tadi itu hologram?" tanya Shuuichi memastikan pada pemuda jangkung tersebut, yang dikiranya sebagai Seto Kaiba.

Seto mendengus, pria tersebut berjalan menjauh dari meja.

"Kaiba Corporation sampai detik ini merupakan perusahaan yang kubangun sedemikian rupa. Aset yang tercipta terhadap teknologi dan game adalah fokus utama. Teknologi virtual dari main computer sudah dikembangkan hingga mampu menciptakan solid vision. Hologram padat yang tidak mampu dibedakan imitasi tidaknya."

Langkahnya tegap menjejaki lantai. Berdiri membelakangi Shuuichi dan pria berambut merah tadi.

"Pada proyek kali ini, tepat setelah Virtual World Reality, dikenal sebagai Sport Vision. Kali ini, Kaiba Corporation bekerja sama dengan Akashi Corporation yang unggul di bidang olahraga."

Oh, ya, itu sebabnya Shuuichi datang kemari.

Seto berbalik, raut wajah dingin tak ayal ikut membuat suasana ruangan mendingin pula.

"Untuk memberikan yang terbaik bagi para konsumen, diperlukan pula orang-orang yang berdedikasi untuk kelangsungan Sport Vision. Dalam hal ini, orang-orang sepertimu seharusnya termasuk daftar."

Sebentar, apa maksudnya itu? Oh, apa itu mungkin maksudnya golongan yang mukanya sering masuk televisi? Yang sering dikenal memang kadang lebih diminati produk suatu iklan.

"Tapi aku tak berminat pada orang yang tidak punya nyali."

Nyaris saja Shuuichi mengangguk setuju. Ia nyaris kehilangan nyawa karena serangan jantung oleh kejutan maut walau cuma hologram.

"Kukatakan, ini bukan tawaran iklan sabun cuci muka. Tugas ini nanti, lebih dari mengiklankan produk alat-alat olahraga."

Apa? Jadi bukan seperti mengendarai mobil keluaran terbaru atau produk harian seperti keramas dengan shampo yang diiklankan?

Pria merah di belakang melanjutkan. "Beberapa atlet Hidup adalah permainan nekat. diundang juga. Sekalian untuk tambahan data Sport Vision. Tetapi lawannya, butuh orang-orang awam di bidang olahraga."

Sampai di sini. Kedua CEO tersebut saling berjalan ke meja lain, di mana dua kursi saling berhadapan tersedia. Meninggalkan Shuuichi yang termangu.

Ia paham cara berpikir orang-orang kantor semacam mereka. Jika ingin untung, maka harus pandai membawa diri. Ini tak jauh beda dengan politik walau kasusnya di bidang bisnis.

Karena. Politik pada tingkat mana pun pada dasarnya adalah ajang latihan membuat kebohongan kedengaran menyenangkan. Dengan kata lain, kebohongan yang meyakinkan.

Semakin pandai kau berpolitik, makin mudah menghasut orang awam pada kebohongan otoriter. Hal yang sama terjadi di bidang bisnis. Dan, yah, bisnis selalu terjadi dari segala hal.

Cermati baik-baik. Orang-orang awan di bidang olahraga. Hologram padat. Solid Vision yang tidak sulit dilihat sisi imitasinya.

Kuncinya adalah awam dan hologram.

Oh.

Shuuichi tersenyum. Begini-begini ia juga termasuk lebih dari kepala dua, lho. Yah, penghujung kepala dua. Masih sebaya dengan kedua orang ini.

"Mohon maaf, Kaiba-sama dan ...," ada jeda panjang, "Akashi-sama."

"Sepertinya kalian salah sangka."

Sekilas, Shuuichi menangkap perubahan raut wajah kedua pria itu. Tegakkan kepalamu dan tahan keinginan untuk memukul. Apa yang dikatakan orang lain, jangan dimasukkan ke hati. Cobalah melawan mereka dengan pemikiranmu.

"Saya kemari untuk menolak tawaran tersebut. Karena, yah, saya tergolong 'pengecut' untuk melihat hologram padat seperti tadi. Mana mungkin saya mau mempermalukan Anda berdua karena memakai orang yang tak pintar akting seperti saya."

Itu jawaban telak. Shuuichi tersenyum ramah. Jikalau bisa dilihat, cicak melintas di pipinya.

Niat kedua orang ini sudah jelas. Mempecundangi seorang aktor untuk promosi proyek aneh mereka. Semakin dikenal seseorang, semakin banyak orang yang tertarik. Meski Shuuichi tidak begitu mengerti kinerja solid vision.

Bukan berarti ia tak mengerti ajang situasi mempermalukan diri. Ini sederhana, tidak semua iklan suatu produk akan selalu punya peran baik. Shuuichi bisa terancam menurunkan derajatnya jika menolak dengan cara yang salah.

Teknik dasar perang, jangan biarkan dirimu masuk perangkap musuh.

Ketika senyum remeh tersembunyi berubah jadi senyum puas, Shuuichi tahu ia tidak sepenuhnya menang.

Tetapi setidaknya ia bisa bernapas lega.

"Kau diterima. Mari lanjutkan pembicaraan."

Produk-produk Akashi Corporation di bidang olahraga sangatlah berkualitas, sudah tak terhitung berapa cabang toko olahraga yang memuat aset mutu paling mutakhir ala Akashi Corp.

Tidak berbohong, Shuuichi kagum pada ide kreatif Seijuurou Akashi menggabungkannya dengan proyektor kuat Kaiba Corporation. Tak terbayang bagaimana perkembangan dunia atlet nantinya.

Semoga ia tak menyesal menerima tawaran ini kelak hari.


Apabila ada sesuatu yang paling tidak ingin Masaomi ingat seumur hidup.

Itu adalah hari kelahiran putra tunggal tercinta.

Ronove–penasihat sekaligus dokter pribadi merangkap mantan kepala pelayan yang sudah digantikan posisinya oleh Tanaka–menganjurkan untuk tidak melupakannya.

Sebuah peristiwa, tidak perlu dilupakan, namun tidak perlu diingat. Cukup biarkan menjadi kenangan angin lalu. Karena, semakin fokus konsentrasi pada waktu di mana kejadian berlangsung, semakin mudah untuk menempel di otak.

Enggan pergi walau dipaksa lenyap.

Menyedihkan, memang, seorang Akashi gundah oleh satu ingatan kecil. Namun, apa mau dikata? Beliau sendiri tidak pernah berkehendak mengalami kejadian seperti pada saat itu.

Hmp, menggelikan.

Ada sesuatu di dunia ini yang membuat orang kehilangan akal, mereka tak bisa menolak meskipun sudah berusaha. Berbeda-beda untuk setiap orang.

Almarhum istrinya, Shiori, mengatakan itu adalah mukzizat Tuhan. Bagi Masaomi, itu tak lebih dari tindak tak masuk akal takhayul. Dan pendapatnya pun menurun pada Seijuurou, putranya anti setengah mati pada hal-hal spiritual.

Puluhan tahun berlalu. Desember nanti putra-putranya akan berumur dua puluh delapan tahun.

"Ronove."

"Anda tidak berkonsentrasi, Tuan."

Masaomi melirik Ronove, menteri putih digeser dari posisi C1.

Ronove mendengar pion catur dihentak kasar, majikannya tengah gusar. Teh hitam dituangkan lagi dalam cangkir porselen.

"Anda sudah meminum obat?"

"Aku bosan dengan obat."

"Katakan itu ketika Anda tak lagi gusar."

Ratu di D8 baru saja melahap menteri putih di F6.

"Kusarankan Anda untuk jalan-jalan, Tuan. Dengan kaki, tentu saja."

Tidak acuh dengan lirikan bengis, Ronove melanjutkan saran dengan tenang.

"Tidak di sini. Bukan di perkotaan. Mungkin ... Pedesaan?"

"Kau menghinaku?"

"Bagaimana kalau Kyushuu? Udara sawah dan hutan dari gunung begitu segar."

"Ronove ..."

Bidak-bidak catur digusur. Masaomi bad mood. Tipikal manusia, semua kegiatan walau disukai bisa tambah bikin bete.

"Jumlah angka penghasilan semakin naik. Sepertinya kerja sama dengan Kaiba Corp berlangsung baik," kata Ronove. "Kalau begini, kelangsungan Akashi Corp akan semakin tinggi. Bolehkah saya katakan bahwa prestasi Tuan Muda sangat membanggakan?"

"Jangan bercanda." Masaomi menyandarkan punggung, percikan likuid teh dituang tak mampu menarik perhatian.

"Usia dan pandangan anak itu masih picik."

Ronove maklum. Apa bila tuan mudanya mendengar, pasti akan merasa sangat terhina. Komentar itu sangat merendahkan harga diri dalam segala hal.

"Maaf?" sela Ronove. "Apakah yang Anda risaukan lagi mengenai Tuan Muda?"

Masaomi meradang. "Kelakuan anak itu makin tidak terkendali."

Pria berumur lima puluh enam tergelak. Serbet dilipat rapi di atas meja, bersebelahan dengan sepiring kue kering bergula. Majikannya menghirup teh dengan gusar.

"Apa ini tentang rencananya tidak mau berkomitmen dan memilih mengangkat anak?"

"Ronove ..."

"Maaf." Ronove pamit hengkang. "Sudah waktunya bagi saya mengontrol pelayan lain. Koki bilang menu hari ini sup bawang dan keju."

Kepala Masaomi terlanjur pening sesudah Ronove keluar.

Ya, keheningan muram adalah respon kengerian bisu yang tepat untuk kondisi di ruangan ini. Suasana mencekam cocok untuk kondisi hati Masaomi di waktu sekarang.

Pria tua menerangkan pada otaknya bahwa ia sudah muak dengan ingatan lama. Namun, pikiran kuat terus-menerus terbayang dalam benaknya. Hal yang sama.

Masaomi menghela panjang.

Dari balik pintu, sebenarnya Ronove diam berdiri tak bersuara. Oh, tertawakan saja beliau, berdiri membelakangi pintu seolah mampu mengawasi Masaomi melalui kepala belakang.

Kepala pelayan itu punya ingatan sangat kuat. Bertahun-tahun yang lalu, beliau diterima kerja sebagai pelayan amatiran di keluarga Akashi. Amatiran kala itu, profesional di kalangan orang lain. Mau bilang apa? Yang dilayaninya termasuk bangsawan, tak sembarang orang mampu bekerja di sana.

Ketika Ronove bekerja, usianya baru memasuki awal dua puluh. Saat itu, Masaomi masih remaja. Usia mereka terpaut tak terlalu jauh beda. Bertemu di bagian timur halaman mansion. Mereka berkawan akrab sebagai lawan tanding catur.

Ronove tahu diri. Walau diangkat sebagai pelayan pribadi sekaligus teman, ia tetap tidak lupa untuk selalu melayani Masaomi layaknya majikan. Darah kuno keluarga Akashi jelas masih mengalir dalam dirinya.

Sebagai seorang Akashi, jelas Masaomi adalah orang yang berpendidikan tinggi, dengan kecerdasan di atas rata-rata, dan penyakit alami mereka yang genius.

Kadangkala orang berbakat pun sering dikucilkan karena kemampuan sosial tidak mampu mengikuti kecerdasan. Ilmiahnya boleh tinggi, namun tercemari jalan pikir konservatif ketidaksukaan pada minat mayoritas.

Namun, tetap, kemampuan dalam olahraga jelas bakat turunan, Masaomi menunjukkan semua itu dengan cara memenuhi ruang prestasi keluarga Akashi. Dan Seijuurou pun melanjutkan jejaknya sebagai generasi penerus. Sungguh sangat membanggakan.

Akan tetapi, serangkaian kemalangan di masa lalu yang menimpa majikannya tidaklah cukup sekadar diberi simpati. Ronove tahu betul beban yang ditujukan pada Masaomi dan Seijuurou selaku putra semata wayang.

Ponsel diperiksa. Terbersit niatan untuk menghubungi kawan lama di Kyuushu.

xXx

To Be Continue

xXx