The Love Has Falls

Chapter 2

Selama pelajaran berlangsung Kai sama sekali tak bisa memfokuskan dirinya pada penjelasan Leeteuk songsaengnim. Pikirannya melayang pada perkataan Appanya beberapa saat lalu. Kai masih berharap bahwa Appanya hanya bermaksud bercanda. Tapi mengingat Appanya memang bukan tipe orang yang suka bercanda bahkan Kai sudah tidak ingat kapan terakhir kali Appanya bercanda, jadi tak ada prasangka lain, Appanya memang serius.

Pelajaran Bahasa Inggris yang seharusnya menjadi salah satu mata pelajaran favorit Kai tidak ia indahkan sama sekali. Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Perjodohan? Dirinya dijodohkan? Demi tuhan!! Appanya selama ini tak pernah memberi clue apapun bahwa dirinya sudah dijodohkan. Lalu kenapa menjadi tiba-tiba seperti ini.

Kegelisahan Kai rupanya tak lepas dari fokus sahabatnya Chanyeol.

"Kai! Ada apa sebenarnya? Kenapa moodmu menjadi drop to toe hanya dalam sekilas waktu??" tanya Chanyeol setengah berbisik.

"Appaku gila kau tahu?"

"Hah?! Yang benar saja? Kau serius? Apa sekarang Appamu ada di rumah sakit jiwa?? Tapi tunggu, jika Appa mu berubah menjadi gila, pasti sudah banyak yang memperbincangkan. Tapi kenapa dari tadi tenang-tenang saja?" Kai hanya menggeram tertahan mendengarkan celotehan tak berguna Chanyeol. Dia heran, bagaimana bisa orang seperti ini memiliki banyak penggemar?

"Sst Kai! Kenapa tak menjawab? Cepat jawabbb" ucap Chanyeol memaksa.

"Kau Park, kau membuat mood ku lebih lebih dan sungguh sungguh buruk sekarang."desis Kai menoleh menatap Chanyeol dengan wajah dinginnya.

"Hei Kim, seharusnya kau bersyukur mendapat perhatian dariku.Di luar sana banyak yang meminta-minta perhatianku." Ucap Chanyeol sambil menyeringai bangga.

"Diamlah brengsek."

*

Mobil Lykan Hypershot merah terlihat memasuki halaman KCHS. Terlihat Sehun keluar dari mobil itu dan segera memasuki gedung sekolahnya. Dia berjalan di koridor menuju ruang kelasnya, XII A1. Tampak suasana koridor dan sekolah yang begitu sepi karena saat ini memang sedang jam belajar mengajar.

Ya, Sehun tadi keluar sekolah untuk pergi ke kantor Orang tuanya. Ohsen Company. Dia mendapat kabar dari Kepala Sekolah bahwa sang Ibu menyuruhnya untuk bertemu di perusahan mereka. Yah, Ibunya meminta Sehun untuk bertemu, karena sudah 3 hari ini Orangtua Sehun memang tidak pulang ke rumah. Mereka bermalam di perusahaan mereka. Bahkan Sehun merasa bahwa rumah utama Orangtua mereka adalah perusahaan. Bukan rumah yang Sehun selalu tempati. Sudah Sehun bilang kan, bahwa Sehun ragu untuk menyebut mereka Orangtua.

'Tok tok tok' terlihat pintu terbuka setelah ketukan itu berhenti. Nampak Sehun yang sedang berjalan memasuki kelas menuju Yura songsaengnim.

"Dari mana kau Oh Sehun? Tak biasannya kau meninggalkan pelajaran favoritmu?" kata Yura songsaengnim sambil menutup buku cetak tebal miliknya.

"Apa Kepala Sekolah tidak memberitahumu Saem, bahwa aku mendapat izin pagi ini."

" Benarkah? Kalau begitu kau bisa duduk Sehun." Sehun hanya berdehem pelan tanda mengerti. Dia segera meuju tempat duduknya di pojok ruang kelas.

"Hei Sehun-ah, kau darimana? Kenapa izin pagi-pagi sekali?" tanya Baekhyun merendahkan volume suaranya.

"Mereka memintaku untuk bertemu."

"Ah, Orangtuamu? Orangtuamu tak pulang lagi, sehingga kau harus menemui mereka di Perusahaan?

"Kau tau sendiri Baek." Ucap Sehun tanpa ekspresi dan hanya memfokuskan pandangannya ke arah papan tulis sambil mencatat materi-materi yang sempat ia tinggalkan.

Baekhyun menatap Sehun nanar. Ia sudah berteman lama dengan Sehun. Dia sudah mengetahui bagaimana sosok Oh Sehun itu sebenarnya. Walaupun ia tidak mengetahui semua hal tentang Sehun, tapi dirinya cukup yakin bahwa mungkin Ia mengerti Sehun sedikit lebih baik dan lebih banyak dari Orangtua Sehun sendiri.

Baekhyun tahu, sifat dingin Sehun itu Sehun tunjukkan bukan tanpa alasan. Ia memiliki alasan kuat, kenapa tatapan dingin yang selalu ia tunjukkan kepada orang-orang. Dia sebenarnya hanya terlalu rapuh. Ya Baekhyun sangat menyadari bahwa Sehun itu sebenarnya rapuh. Ia tak lebih dari seorang remaja 18 tahun yang tak pernah mengerti apa itu kasih sayang sebenarnya.

Mungkin bisa dihitung dengan jari berapa orang yang kira-kira pernah berhubungan dengan Sehun. Sebenarnya mudah baginya untuk mendapatkan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya. Mengingat betapa hampir sempurnanya dirinya.

Namun karena itu Sehun tahu, bahwa mereka mencintai kesempurnaan Sehun, bukan sosok Sehun. Seandainya Sehun tak dilahirkan dengan kesempurnaannya kini, Sehun yakin, mereka orang-orang sekitarnya tak akan mau mendekat atau memberi kasih sayang mereka kepada Sehun. Itu menyedihkan bukan?

"Jangan menatapku seperti itu Baek, aku tak apa. Sudah 18 tahun, jadi semua itu sudah menjadi hal yang biasa bagiku." Ucap Sehun tiba-tiba masih dengan menatap lurus ke arah papan tulis. Sehun tahu apa yang dipikirkan teman satu-satunya itu.

"Lain kali kau harus menceritakan sedikit banyak tentangmu kepadamu Oh." Kata Baekhyun yang hanya dibalas senyum tipis dari Sehun.

Hal kecil seperti itu merupakan salah satu yang menjadi favorit Baekhyun. Dia setidaknya bisa membuat Oh Sehun, orang yang sudah Baekhyun anggap sahabat tersenyum, ya walaupun hanya sedikit tapi itu merupakan moment yang jarang terlihat dari seorang Oh Sehun. Dan Baekhyun sangat suka dengan senyum Oh Sehun. Sehun terlihat jauh lebih manis dan lucu baginya.

*

"Aaghhhhhh" teriak Bakehyun ketika pelajaran Matematika berakhir dan Yura Songsaengnim sudah keluar kelas. Dia menggeliat di tempat duduknya sambil merentangkan kedua tanganya ke atas.

"Sehun-ah ayo temani aku ke cafetaria."ajak Baekhyun pada Sehun

"Kau tahu aku selalu malas kesana Baek. Di sana sangat ramai. Dan aku tak mau susah payah berdiri lama untuk mendapatkan makanan." Ucap Sehun sambil memasang earphonenya.

"Sehuna-ahh kau benar-benar akan menjadi manusia gua jika terus menerus berada di kelas. Sekali-kali jalan-jalanlah di sekolah ini, agar kulitmu mendapat cukup sinar matahari dan kulit pucatmu itu tidak bertambah pucat!"

"Kau ini kenapa memang? Biasanya kau kan juga pergi kesana tanpaku. Ayolah Baek aku malas." Ucap Sehun dengan wajah datarnya.

"Kau ikut atau aku akan terus menerus mengeluarkan suara cemprengku Oh!"

Mendengar ancaman Baekhyun yang cukup mengerikan itu, akhirnya Sehun dengan berat hati melepaskan kedua earphone yang ada di lubang telinganya dan segera berdiri. Terlihat Baekhyun yang mengeluarkan smirk bahagianya. Sehun hanya bisa mendengus kesal mengeluarkan gerutuan lucunya, yang tentu sangat-snagat jarang ia tunjukkan di depan orang lain.

Melihat itu, baekhyun segera mencubit pipi Sehun dan merangkul pundak yang lebih tinggi itu.

" Ahh Sehun-ah, kau harusnya bisa ekspresif seperti ini lebih sering! Kau terlihat lebih baik dengan ekspresi-ekspresi terpendam dalam dirimu daripada dengan ekspresi datarmu itu." Sehun yang mendengar itu semakin mendengus kesal dan segera setelah mereka keluar kelas, ekspresi datar dan dingin Sehun kembali ke mode on (?)

*

Siang itu suasana cafetaria KCHS terlihat ramai. Sekarang memang saatnya istirahat pertama jadi hampir seluruh murid pergi ke cafetaria. Sehun dan Baekhyun yang memasuki Cafetaria langsung mendapat banyak perhatian dari siswa-siswi yang ada di sana. Bukan apa, tapi mereka cukup heran melihat seorang Oh Sehun pergi ke cafetaria di jam istirahat. Karena setahu mereka, Sehun jarang sekali pergi ke cafetaria di saat sedang ramai seperti ini, biasanya dia akan ke Cafetaria di jam pelajaran. Entah bagaimana Sehun mendapat izin keluar kelas tapi Sehun selalu membeli makanan di saat keadaan Cafetaria sedang sepi.

Tak lama mereka semakin menjerit tertahan ketika menatap arah belakang Sehun. Disana terdapat Kai dan juga Chanyeol yang rupanya baru saja masuk ke Cafetaria.

Sekarang ini, mereka menatap 4 orang populer di sekolah mereka yang berdiri tepat berdekatan. Banyak dari murid perempuan dan laki-laki yang menjerit tertahan dan menatap kagum Kai,Chanyeol,Sehun, dan Bakehyun.

Ah, aku lupa mengatakan jika Baekhyun juga merupakan salah satu murid yang populer dia KCHS. Dia terkenal akan wajah imut yang kadang juga terlihat cukup manly (bagi perempuan) dan juga sifatnya yang selalu ceria dan banyak senyum. Jangan lupakan bakat menyanyinya yang luar biasa. Kalian semua tak akan percaya saat mendengar suara bak malaikat yang keluar dari mulut cempreng Byun Baek itu.

Melihat banyak mata yang rupanya tak hanya fokus padanya, melainkan sesuatu yang ada di belakang mereka, membuat baekhyun dan Sehun menoleh ke arah belakang. Dan mereka akhirnya bertemu tatap dengan Kai dan Chanyeol.

"OH, Oh Sehun! Apa yang membuatmu pergi ke sini di saat jam istirahat? Apakah efek dari kau tadi pagi yang keluar dari ruang kepala sekolah?" Sehun hanya membalas pertanyaan Chanyeol dengan wajah datarnya.

"Itu tak ada hubungannya Chanyeol." Baekhyun menyahuti pertanyaan Chanyeol.

"Oh hi Baek.Ah, bisakah kau memberi tahu temanmu yang satu ini agar menambah sedikit stok ekspresinya. Sedikit membosankan melihat wajahnya yang hanya mengeluarkan satu ekspresi itu."

" Jika kau bosan maka kau tak perlu menatapku Park." Kini Sehun yang membalas perkataan Chanyeol.

" Sayangnya kau cukup manis untuk tak kutatap Oh Sehun." Ucap Chanyeol menunjukkan senyum menggodanya kepada Sehun.

"Chanyeol-ah kau akan terus disini atau mengambil makanan. Lagipula kau perlu banyak waktu untuk membuat Oh itu membalas perkataanmu. Dan aku tak mau mengorbakan waktu makan siangku untuk menunggumu." Kata Kai dingin dan beranjak meninggalkan Chanyeol,Sehun dan Baekhyun.

"Seperti dia tidak saja!" dengus Baekhyun setelah mendengar ucapan Kai.

"Kau benar Byun Baek, seperti si tan itu tidak saja." Chanyeol membalas sambil menatap Kai yang sudah menuju tampat makanan dan segera menyusul sahabatnya itu.

"Sampai bertemu lagi Byun Oh. Dan kau Oh Sehun, kuharap ketika kita bertemu lagi kau tak hanya akan menampilkan ekspresi itu."

Sehun hanya menatap Chanyeol tanpa mengubah ekspresinya sama sekali. Sedangkan Baekhyun menatap Chanyeol malas.

"Sudahlah Sehunah, jangan dengarkan raksasa Park itu. Dia memang menyebalkan kau tahu." Ucap Baekhyun sambil merangkulkan tanganya ke bahu yang lebih tinggi itu.

"Aku tak mendengarnya Baek. Dia hanya mengatakan hal tak berguna." Ucap Sehun masih menatap Chanyeol dan Kai yang sedang mengantre makanan.

"Eh, tapi kalau kupikir-pikir untuk perkataanya barusan aku setuju dengannya. Kau harus mengganti ekspresi datarmu itu dengan ekspresi yang lain. Senyum sedikit sering mungkin."

"Baek kau mulai lagi. Aku sudah dilahirkan dengan wajah seperti ini." Ucap Sehun memutar bola matanya malas.

"Kau memang terlahir dengan wajah manis yang tampan Sehunah, tapi tidak dengan ekspresi datarmu itu. Kau tak pernah terlahir dengan ekspresi itu kau tahu." Ucap Baekhyun sambil melepas tanganya di pundak Sehun dan segera menuju kerumunan untuk mengambi makanan.

Sehun hanya menatap punggung Baekhyun dan terlihat dirinya yang sedang berpikir.

*

"Oh Sehun! Aku menyukaimu. Tidak! Tapi aku mencintaimu! Maukah kau menjadi kekasihku??" seorang namja berperawakan tinggi dan putih itu berdiri di meja tempat Sehun dan Baekhyun sambil menatap Sehun yang balas menatapnya dengan pandangan datar seperti biasa.

"Lee Johny, kau sebenarnya tahu kan apa yang akan dikatakan Sehun?" ucap Baekhyun

"Setidaknya aku ingin mendengar dari Sehun sendiri." Melihat Sehun yang sudah kembali fokus pada makanannya tanpa mengindahkan Johny sama sekali, membuat Johny sedikit geram. Segera ia membalikkan badan Sehun menghadpanya secara paksa. Membuat Sehun sempat terkejut meskipun segera kembali ke wajah datarnya.

" Apalagi yang kau mau? Aku bahkan tak mengenalmu, tak pernah berbicara denganmu dan tak tertarik padamu. Jika sudah seperti itu, kau pasti tau akan jawabanku." Ucap Sehun memandang Johny malas. Namun itu tak membuat Johny berhenti. Dia kembali mengeratkan peganganya pada kedua bahu Sehun yang spontan membuat Sehun meringis karena itu cukup sakit.

"Akhh, bisakah kau lepaskan kedua tanganmu dariku?!" ucap Sehun sedikit membentak.

"Aku tak akan berhenti Sehun, bisa kupastikan kau akan menjadi milikki." Ucap Johny penuh penekanan dan segera melepaskan tangnya dari bahu Sehun. Para siswa yang melihat itu hanya sedikit bergidik ngeri dan heran. Bagaimana bisa Sehun menolak sosok Johny yang juga bisa dikatakan seorang pria idaman?

"Sudahlah teman-teman, ini bukanlah hal yang menarik lagi untuk ditonton, lebih baik kalian habiskan makanan kalian dengan cepat." Ucap Baekhyun smabil menatap ke arah murid-murid yang menatap mereka. Mendengar perkataan Baekhyun, sontak para siswa kembali pada kesibukan mereka sebelumnya.

Sedangkan Sehun hanya melanjutkan makan siangnya seolah tak terjadi apa-apa.

*

Kejadian beberapa saat lalu tak terlepas dari perhatian 2 orang namja tampan yang sekarang ini masih menatap kearah Baekhyun dan Sehun.

"Oh Sehun, dia sangat berbeda kurasa." Kata Chanyeol yang masih menatap kearah Sehun."Sedikit dia membuatku ingin tahun tentang dirinya." Kata Chanyeol melanjutkan. Kai menatap Chanyeol yang tak balas menatapnya itu.

"Kurasa tak banyak hal yang bisa kau tahun dari Oh Sehun itu." Chanyeol yang mendengarnya mengganti arah pandangnya menjadi Kai.

" Kurasa kau benar Kai, tapi juga kurasa tidak."

Kai yang mendengarnya hanya kembali menyantap makanannya. Namun dia sedikit banyak memikirkan perkataan Chanyeol. Ya, bisa jadi iya dan bisa jadi tidak. Batin Kai mengulang perkataan Chanyeol.

*

"Tetttttt" Bel Pulang sekolah telah terdengar. Tentunya semua murid KCHS terlihat menunjukkan wajah lega dan bahagia. Akhirnya mereka berhasil melewati satu hari lagi dengan pelajaran-pelajaran sialan itu. Setidaknya itulah yang kebanyakan dipikirkan oleh mereka.

Namun kebahagiaan dan perasaan lega itu tidak berlaku bagi Kai. Dia semakin memikirkan perkataan Ayahnya tadi pagi. Itu berarti setelah ini ia akan menghadapi hal yang ia tidak suka. Perjodohan sialan itu.

"Kim Kai, ayo pergi ke Club nanti malam. Sedikit melepas stress kau tahu." Ajak Chanyeol yang kini berdiri di samping meja dan terlihat bahwa dirinya sudah membereskan buku-bukunya.

"Aku tak bisa malam ini." Ucap Kai sambil membereskan bukunya.

"Ayo pulang." Ajaknya yang sudah membereskan bukunya itu.

"Memangnya kau ada acara apa malam ini?" tanya Chanyeol setelah menyamakan langkahnya dengan Kai.

"Ada urusan yang sebenarnya tak pernah ingin kuhadapi tapi aku harus." Kata Kai sambil terus menatap depan.

"Ah, jika seperti ini pasti menyangkut Appa mu kan?" "Eh, tunggu apa ini yang kau maksud tadi pagi? Tentang Appamu gila? "tanya Chanyeol sedikit menaikkan nada bicaranya. Kai yang mendangar itu hanya melirik Chanyeol malas. Ayolahh, berarti sedari tadi, Chanyeol benar-benar menganggap bahwa Appanya 'gila' dalam artian sebenarnya.

"Ya Park" Jawab Kai seadanya.Mencoba menahan hasrat untuk memukul sahabat brengseknya ini.

"Ah, kalau seperti itu, kau sungguh tak bisa bersenang-senang malam ini Kai. Dan kuharap masalahmu dengan Appa mu tak akan selesai. See you Bruh!" Ucap Chanyeol tertawa dan segera memasuki mobilnya . Kai yang mendengar itu hanya bisa mengumpat, mengingat Chanyeol yang sudah masuk ke dalam mobilnya.

"Diam kau brengsek!"

*

Kai sengaja mampir ke kedai Tteokbokki untuk sekedar mengulur waktu sampai rumah. Dia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya nanti. Dia sebenarnya ingin memberontak dan mengatakan bahwa ia tak mau menerima perjodohan bodoh itu. Kai ingin mengatakan bahwa ini hidupnya, dia yang berhak mengatur bagaimana hidupnya akan berjalan. Bukan orangtuanya dan bukan siapapun. Hanya Kai! Namun Kai tau bahwa kali ini ia berhadapan dengan Appanya. Kai tahu bagaimana sosok Appanya itu. Sekeras kepalanya Kai, dia tetap menyadari bahwa Ayahnya lebih dari dirinya. Dan Kai benci itu.

Semakin ia memikirkan hal itu, semakin cepat waktu berjalan baginya. Dan mau tak mau dia harus pulang ke rumahnya sekarang. Sudah cukup 1 jam lebih ia mengulur waktu, dan ia yakin seberapa lamapun ia mengulur waktu untuk pulang, itu tak akan merubah pendirian Appanya.

Tepat jam 7 Malam ia sampai di depan rumahnya. Mobil Bugatti Veyron hitam itu memasuki gerbang tinggi rumahnya. Kai memarkirkan mobilnya di depan pintu rumahnya pas, dan memberikan kunci mobilnya kepada Minhyun Ahjussi untuk diparkiran di garasi mobil.

Segera ia melangkahkan kakinya ke arah pintu besar rumahnya. Dibukanya pintu rumah itu, terlihat ruang tamu yang tak jauh dari pintu rumahnya, namun tak terlihat kedua orang tuanya disana. Ia hanya melihat seorang asing yang sedang duduk di sofa ruang tamu megahnya. Ia tak bisa melihat siapa pria itu, karena posisinya yang membelakangi Kai.

"Kau siapa?" tanya Kai dari tempatnya, Walaupun jaraknya yang cukup jauh dengan pria itu, tapi Kai yakin bahwa pria itu mendengarnya. Segera pria itu menolehkan kepalanya kesumber suara. Dan obisdan cokelat nya bertatapan dengan obisdan hitam pekat milik Kai.

Diam, hening. Dua pria itu hanya saling menatap.Hingga Kai memulainya.

"Tak kusangkan itu kau." Kata Kai yang mulai melangkahkan kakinya mendekati pria berobsidan cokelat itu.

"Dunia sungguh sempit kurasa." Lanjut Kai ketika akhirnya is berdiri di dekat pria itu.

"Walaupun kau hanya menatapku diam, aku bisa melihatmu terkejut kau tau." Kata Kai dengan senyum tipis cukup brengseknya itu.

"Sudah kukira ini adalah hal bodoh. Dua orang itu benar-benar bodoh." Akhirnya si obsidan cokelat membuka mulutnya masih terus menatap Kai.

" Ternyata bukan hanya aku yang mengumpati orangtuku sendiri. Kau juga ternyata Oh." Kata Kai dengan senyum tipis brengseknya.

" Dan aku tak tahu jika kita akan bertemu cukup sering nantinya, " jeda Kai. "Oh Sehun."

Sedangkan pria itu, Sehun hanya menatap Kai tanpa ekspresi, meskipun hatinya menyimpan berjuta umpatan. Dia dan Kai akan sering bertemu. Hell! Dia tak mengenal pria ini sebelumnya. Namun Sehun tahu bahwa Kim Kai bukanlah sosok menyenangkan. Sama sekali bukan.

TBC

Hai gimana?? bosenkah sama jalan ceritanya?? chapter sebelumnya dikit yang kasih respon author, padahal itu adalah penyemangat author buat bikin ff :(

Mungkin kalau di Chapter ini yang comment/respon cuma dikit, aku bakan discontinue ff ini sampek sini ajaa

eakk pake ngancem segala

tapi emang bener loo, respon kalian itu bikin mood nulis itu naikk.. soo tinggalkan responn yaaaa