Story By: Bekantan Hijau.
Disclaimer: Yuki Midorikawa, Tadatoshi Fujimaki, Kazuki Takahashi.
Crossover: Natsume Yuujinchou & Kuroko no Basuke. Side Yu-Gi-Oh! Duel Monster.
Rate: T
Genre: Romance/Humor/semi-Family/Drama/Parody.
Pair: Harem!Takashi.
Warning: Maybe-OOC, some mistakes EYD, semi-Pedo!Seijuurou, semi-AU, Sho-Ai, BL, typo.
A/N Ehem. Fic ini semata-mata mengisahkan slice of life di balik senyum seseorang. Apa yang terlihat, bukan berarti memang demikian. Karena itulah dinamakan Senyum Muna.
xXx
Senyum Muna
xXx
.
.
.
Episode 6
.
.
.
xXx
.
.
.
Malam cepat berubah pagi, seolah hitungan jam berubah menjadi detik. Baru saja mata ditutup, tahu-tahu subuh telah tiba.
Ruang makan begitu sepi ketika Seijuurou turun untuk sarapan. Ia sudah membersihkan diri dan memakai jas kantornya lagi. Beberapa orang pelayan membungkukkan badan tiap kali Seijuurou melintas.
Hari ini ia tak meminta sarapan diantar ke kamar, suasana hati tengah cerah sekali karena tadi malam sempat menelepon putri tercinta. Ucapan semangat "Selamat bekerja, Daddy" sukses mengikis penat yang melanda.
Seorang pelayan yang melayaninya memberitahu bahwa Masaomi masih terlelap di kamar beliau. Sempat kening Seijuurou berkerut, bingung. Segera dilanjut Masaomi kelelahan usai bertanding catur dengan Ronove.
Ayah dan Anak. Satu catur, satu lagi shogi. Gila permainan strategi.
"Tuan Ronove meminta kami untuk membiarkan beliau beristirahat," terang pelayan pria, kopi hitam dituang dalam cangkir keramik timur untuk Seijuurou.
Mengabaikan sisi penasaran apa yang digundahkan ayahnya sampai kelelahan main catur, Seijuurou memilih menikmati sarapan. Bawaan masih dendam ingat pembicaraan perjodohan gila beberapa minggu lalu.
Sarapan hari ini terdiri dari satu mangkuk sup ayam dan egg benedigt yang tampak sangat menggiurkan. Seijuurou mengambil satu suapan kecil sup dalam sendok perak.
Enak.
Tentu saja enak, semua masakan buatan koki ternama keluarga Akashi tak pernah mengecewakan. Cita rasa bumbu racikan buatan tangan hingga kelezatan masakannya sangat terasa.
Menyedihkan mengingat hanya dirinya yang menikmati, seorang diri.
Di saat begitu, terbayang celotehan Tetsuya. Ia ingat saat menyuapi kue pada Tetsuya. Betapa bibir mungil itu tertawa-tawa mengagumi rasa manis kue, sampai bibirnya penuh krim vanili.
Kursi kosong di sebelahnya dilirik lama. Sepertinya bagus apabila kursi antik ini diganti, ubah khusus untuk anak-anak, disesuaikan dengan tinggi Tetsuya. Jadi, akan cocok apabila Tetsuya duduk di sana. Duduk dengan kaki belum sampai lantai, bergerak-gerak menendang taplak meja. Bersama-sama sarapan dengan Seijuurou.
Memegang sendok hati-hati, berusaha menyuap nasi ke dalam mulut. Lalu mengeluh kesulitan memotong daging atau telur di piring. Mungkin juga memuji enaknya susu vanili hangat dengan bibir penuh noda laktosa.
Kemudian meloncat turun dari kursi, menarik-narik jas Seijuurou, memintanya tidak bekerja hari ini dan menemaninya berma–
Cukup.
Seijuurou bisa gila terlalu banyak membayangkan Tetsuya. Tipikal pria dewasa sehat jasmani dan rohani yang ngebet ingin punya anak. Apa-apa dibayangkan bagaimana anaknya nanti, macam apa tingkah anaknya kelak, dan milyaran rencana untuk anak tercinta.
Tak sedikitpun terpikir niatan mencari pasangan yang akan mendiami sisi lain kasur.
Sebut saja Seijuurou kelainan. Tak masalah. Dibilang pedofil lebih bagus lagi.
Pria merah meraih serbet dan mengusap mulut. Tanpa banyak bicara, Seijuurou hengkang dari mansion. Siap bekerja lagi.
Gelagatnya masih angkuh ketika Chihiro menunggu di samping mobil memakai seragam supir, namun latar belakang bunga-bunga memberitahu pecinta gadis waifu imitasi betapa majikannya sangat bahagia.
Tidak peduli seberapa bengis mata merah itu berkilat tajam tiap kali menatap lawan bicara tidak sepadan, Chihiro sudah hapal kapan pria merah tersebut sedang berbunga-bunga.
Memilih mengangkat bahu dan mengantar majikan ke kantor seperti biasa. Apa yang dilakukan seseorang adalah urusannya sendiri. Kalau dia ingin keluar, dia akan keluar. Kalau dia ingin tinggal di dalam rumah, maka dia pun berhak tinggal di dalam. Perbuatannya mungkin aneh bagi orang lain, tapi tidak baginya.
Pada pertengahan jalan menuju kantor, Chihiro menyetop mobil di depan lampu merah. Pandangan Seijuurou tampak menerawang dilihat dari kaca spion. Pria kelabu menduga majikannya baru saja melihat penampakan.
Seperti ..., penampakan seorang anak gadis berambut biru yang luar biasa manis di mata merahnya. Duduk di sampingnya, menunjuk-nunjuk keluar jendela, melontar berbagai pertanyaan pada ayah barunya yang tahu segala dan hanya sabar cuma pada putri kesayangan.
Lampu hijau menyala, Chihiro kembali mengemudi. Penampakan hilang sementara, muncul lagi pada lampu merah berikutnya. Mungkin ada anak laki-laki berambut biru dalam balutan terusan renda polkadot merah jambu kali ini, mengomel tidak suka adik perempuannya dimonopoli papa baru berambut merah.
Keberadaan anak akan menyenangkan hati majikannya. Anak pilihan sang majikan.
Curiga nantinya putri keluarga Aomine akan digenggam tangannya oleh Seijuurou, berdiri di depan toko roti. Kencan makan siang. Tetsun–Tetsuya yang berpakaian manis, Seijuurou gagah di sampingnya, dengan umur bertaut jauh.
(Pria kelabu mengakui ia masih suka salah menyebut kedua anak itu lantaran nama mereka tidak sesuai jenis kelamin.)
Chihiro memutuskan tidak menyela tindak Seijuurou, pria yang suka berinisiatif tidak biasa, untuk mengubah bayangan penampakan tersebut menjadi kenyataan.
Camkan itu, dan Chihiro bisa membaca buku waifu dengan tenang.
Begitu urusan kerja sama dengan Kaiba Corp selesai, pasti sesegera mungkin dilaksanakan rencana pengangkatan anak.
Sayang sekali dalam artian masih betah melajang. Kapan majikannya bertingkah kasanova bukan pada anak di bawah umur?
Curiga dibanding khawatir istri banyak empedu, Seijuurou lebih memonitor anak secara teratur tiap detik layaknya dokter mengurusi pasien.
"Di Cina ada piramida?"
Kaname menyedot isi gelas, meneguk likuid soda biru. Giginya agak ngilu bertemu sapa cairan dingin berkarbon.
"Jumlahnya ratusan. Kebanyakan berada di Provinsi Shaanxi. Dalam kasusku, kami akan ke Pegunungan Qinling," terang Kaname.
"Hee. Kedengarannya menarik!" Takashi manggut takjub.
"Apa itu piramida?" Kepala Nyanko muncul dari balik jaket Takashi, mengais-ngais kentang goreng dan mengunyahnya nikmat.
Takashi menepuk kepalanya, mendorong Nyanko masuk ke dalam jaket. Tidak boleh kelihatan, binatang tak boleh dibawa masuk.
Kaname tertawa. Burger digigit secuil, lalu dikunyah pelan-pelan dalam rahang.
Pulang reuni, Kaname dan Takashi pergi bersama. Kaname mau membeli sepatu untuk kuliahnya, yang sebelumnya sudah rusak. Alasnya copot, terlalu sering dipakai, dan tugas-tugas yang merepotkan membuatnya tak sempat merawat.
Tersisa Kaname dan Takashi, sudah janji akan pulang bersama. Sekalian reuni berdu–bertiga.
Nyanko juga ikut.
Dua jam berkeliling, diselingi obrolan bernostalgia, mereka mampir di rumah makan siap saji.
"Dua burger! Stroberi-shake!"
"Silakan dinikmati. Baik, Tuan, mau pesan apa?"
"Hot dog dua, satu burger, dan satu mocha."
Suara riuh di kasir menggema. Kaname dan Takashi duduk di meja panjang menghadap jalanan di balik dinding kaca tebal. Duduk bersebelahan.
"Piramida itu bangunan besar berbentuk segitiga, yang umum ada di Mesir. Kuburan orang Mesir, Sensei," jawab Takashi.
"Hush, ngawur," tepis Kaname.
"Eh?" Mata berkedip-kedip. "Memang bukan?"
Nyanko mendengus, menertawakan kebodohan Takashi.
Kaname menghabiskan burger-nya yang pertama, tisu mengusap bekas tomat di bibir. "Tidak sepenuhnya benar. Mesir terletak di padang pasir, sulit untuk mengubur orang mati. Namanya pasir, mudah tertiup angin, 'kan?"
Takashi berpikir sejenak, lalu mengangguk. Serius, ia tak pernah kepikiran.
"Kemudian, orang Mesir kuno membangun bangunan batu di atas kuburan seperti rumah. Bangunan itu disebut mastabah. Pada zaman itu, yang berkuasa adalah Raja Narmer."
Pembicaraan ini sangatlah tidak menarik. Nyanko merengut bosan, memilih menghabiskan kentang. Beda dengan Takashi yang mulai tertarik, tidak acuh saat Nyanko mencomot sisa burger.
"Tanuma tahu banyak, ya."
Kaname tertawa kecil. "Kamu akan maklum kalau ingat jurusan kuliahku."
Takashi mendengus kecil. "Ya, tahu. Tuan arkeolog."
"Liburan depan, selagi Ayah mengadakan pertemuan di biara dengan biksu Buddha. Sekalian saja aku melihat piramida putih," lanjut Kaname.
Takashi mendengarkan, memasang baik-baik. "Apa bentuknya sama seperti piramida Mesir?"
Pertanyaan itu dijawab dengan gelengan singkat. "Tidak. Tahukah kamu nama puncak gunung yang tertinggi di Pegunungan Qinling?"
"Tanuma, aku tak pernah ke Cina. Sekalipun punya kendaraan sendiri." Ujung telunjuk mengarah ke Nyanko.
"Pff. Namanya Hua Shan. Kudengar itu salah satu dari lima gunung suci." Dagu lancip dicubit. "Em ..., kurang lebih sekitar ... Dua ribu tahun lalu, kuil Tao dibangun di kaki lereng gunung barat. Oh, hampir lupa. Aku punya fotonya."
Takashi memperhatikan Kaname sibuk mencari ponsel di saku sambil mengunyah sisa kentang.
Ibu jari menggeser layar sentuh, terus hingga ponsel pintar ditaruh di atas meja. Kaname menunjuk gambar gunung di layar ponsel.
"Lihat? Gunung Hua memiliki lima puncak. Di timur, barat, utara, selatan, dan puncak tengah. Natsume, menurutmu bagaimana bentuk gunungnya secara keseluruhan?"
Pemuda perak menunduk, memperhatikan layar. Mata memicing, menganalisa bentuk baik-baik. Kepala Nyanko menyembul, ikut melihat. Keduanya nyaris melotot memandangi gunung Hua, lalu menjawab bersamaan.
"Lancip," jawab Nyanko.
"Nyaris segitiga," tambah Takashi.
Sudut bibir Kaname naik, memancing kedua makhluk ini menyadari sesuatu. "Pada permulaan Desember, puncak yang tertinggi ditutupi salju. Duluuuu banget, saljunya tak pernah meleleh. Tapi sekarang, saljunya meleleh di akhir musim semi dan baru muncul lagi di musim dingin."
"Apa hubungannya dengan salju?" potong Nyanko.
"Apa warna salju?"
Takashi terdiam. Pending sesaat. Kepalanya mendadak kosong, lalu teringat penjelasan akan nama piramida yang disebut Kaname sebelumnya. Oh, begitu, Kaname ingin Takashi memahaminya sendiri.
Si kucing memiringkan kepala bingung. "Ya, putih. Lalu kenapa?"
"Sensei, itulah piramida yang dimaksud. Piramida putih ..."
Bingo!
Takashi mencetak tiga angka, Kaname terkekeh membenarkan jawaban Takashi.
"Kamu akan ke sana?"
Rambut hitam bergoyang ketika kepala mengangguk, ponsel ditaruh dalam saku. "Maunya sekalian menaikinya, tetapi ayahku melarang keras. Karena gunung itu sangat berbahaya, dan butuh tekad lebih dari sekadar main-main untuk mendaki. Di musim panas saja sudah berbahaya, apalagi akhir tahun."
Kentang goreng sudah habis beserta burger, tersisa segelas soda. Pemuda perak memilih menyedot sisa air berkarbon sebelum bertanya.
"Apa yang ada di puncaknya?"
Kaname tersenyum kalem. "Seekor singa tidur di atas batu pengetahuan."
Rahang mengeras, dahi berkerut-kerut, alis berkedut, mata berkunang-kunang, pandangan terasa berputar.
Kepala pusing, pening melanda tanpa kompromi waktu.
Tangan kanan terangkat, jam tangan nyaris dipelototi. Indera penglihatan jadi sulit fokus, ia lebih lelah dari rekor sebelumnya. Coba lihat, jarum pendek sudah menunjukkan angka ke berapa? Mata Shuuichi menyipit susah payah, bingung jarum menunjuk angka sebelum atau sesudah angka empat.
"Aku akan benar-benar masuk rumah sakit jika Hiiragi tidak membantu ..." Permukaan dahi diurut nyaris tanpa tenaga, susah sekali menghilangkan pening yang tak mau enyah. Sungguh kepalanya terasa sangat berat.
Ha, baru sehari, Shuuichi sudah pegal linu. Padahal ia yakin tadi pagi sudah sangat fit dan bersemangat.
Seto Kaiba dan Seijuurou Akashi benar-benar brutal, nyaris saja Shuuichi babak belur pada sesi perekaman untuk data solid vision. Padahal cuma untuk iklan, tetapi Shuuichi merasa tidak untuk akting. Sekali lagi nyaris tertipu oleh gerakan atlet di depan mata yang sebenarnya cuma hologram.
Andai kata Hiiragi tidak maju duluan menembus dengan niatan hendak menerjang mengira atlet imitasi itu musuh karena tidak bisa membedakan mana hologram mana sungguhan, Shuuichi sudah bersikap tolol nyaris terjatuh di lantai–bawaan akan balas menyentak bahu lawan yang datang menghadang.
Sesi perekaman, Shuuichi berada dalam ruang lapangan basket khusus bersama Seijuurou. Mereka akan melawan lima atlet imitasi yang sudah diprogram bergerak sesuai para pemain NBA elite.
Pertanyaan sederhana, mengapa Shuuichi yang tak tahu menahu tentang basket disewa? Taktik sederhana dalam iklan, yang diperlukan adalah muka yang masuk kategori modus dalam artian harafiah.
Ditambah, bukan hal aneh kalau iklan hobi mempecundangi 'badut' malang. Suatu keberuntungan mampu melewati tanpa harus mempermalukan diri sendiri kelak di layar televisi.
Sementang ia dibayar mampu membeli kondominium tiga lantai dan kedua CEO bangsat semua, lantas nama baik Shuuichi dikira bisa dilecehkan.
Enak saja.
Yah, biarlah. Toh, dengan nominal angka di ATM, dia tak akan rugi walau menolak tawaran kerja beberapa hari. Ambil hikmahnya, jangan cuma mengeluh.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"
"Apa aku kelihatan baik?" Letak topi dibenarkan. Shuuichi tersenyum kecut melihat wajahnya yang melintas di kaca sebuah toko.
Besok ia harus menjalani sesi rekaman lagi, dengan bidang sepak bola kali ini. Hu-uh ..., entah bagaimana nasibnya nanti. Serius, brutal sekali kedua GM itu. Jika semakin parah, Shuuichi memilih keluar.
Tidak, terima kasih. Ia bukan penggila kerja judes dan perfectionis macam Seijuurou atau kolot dan anti kesalahan macam Seto yang mana tidak pernah segan mengambil resiko. Ibarat, terjun bebas tanpa parasut karena namanya terjun bebas.
Shuuichi membenarkan gosip bahwa kedua pria itu tak kalah sinting walau genius layaknya kepala keluarga Matoba. Entah kalau ketiganya bertemu, Shuuichi tak mau tahu.
Hii ...
Berkedip-kedip, kedua mata Shuuichi memandang lurus ke deretan bangunan di antara gedung pencakar langit. Iris delima berhenti bergerak begitu menangkap papan nama berwarna karamel kayu, beberapa huruf alfabet yang merangkai sebuah nama menarik perhatian.
Standard House.
Owh, namanya lucu. Tempat apa ini? Kedai kopi? Atau kafe? Melihat banyaknya pelayan yang berlalu lalang di balik dinding kaca membawa cangkir-cangkir kopi, tampaknya iya.
Mungkin Shuuichi bisa menenangkan diri sejenak di dalam? Kelihatannya dari luar, suasana kafe tampak klasik dan apik.
Warna cokelar dari dinding kayu mendominasi. Di bawah dinding kaca, berjejer pot-pot hitam mungil ditanami bunga-bunga hias yang mekar warna-warni dengan indahnya. Ada beberapa orang yang duduk di dalam, memesan set kopi dan penganan kecil. Menikmati harum nikmat likuid hitam dan manis gurihnya kue lezat.
"Tuan." Sasago menegur di belakang.
Shuuichi menoleh. "Ada apa?"
Tidak mejawab, Sasago menunjuk ke sisi lain kafe.
Mengikuti arah tunjukkan, kepala Shuuichi spontan dipaling. Helai-helai perak dan kepala bulat berbulu jingga, putih, dan abu-abu tertangkap indera penglihatan.
Kaki otomatis melangkah mendekat.
Reuni dengan teman-temannya sekaligus obrolan piramida dengan Kaname menyenangkan hati Takashi. Dengan jelas dikatakan, ia senang sekali.
Sekaligus pesimis.
Mungkin ini bawaan sirik? Atsushi juga belum kuliah, kerja serabutan karena ingin menggunakan uangnya sendiri untuk biaya kuliah nanti entah dari segi biaya apartemen kelak sampai biaya beli asupan ala bujangan.
Satoru dan Jun sudah kuliah. Satoru ikut kakaknya ke Nagano, mengeluh karena kakaknya masih betah berpedoman diam itu emas sementang sibuk skripsi. Jun juga tinggal di apartemen dekat kampus, tetapi tiap akhir pekan berkumpul dengan orangtua.
Tooru juga kuliah, mengambil jurusan sejarah. Katanya terinspirasi dari kakeknya. Nyanko meronta-ronta tiap kali Tooru memeluknya erat-erat.
Lalu Kaname? Huh, siapa sangka malah mengambil jurusan arkeolog? Mengakunya karena tertarik pada simbol di benda-benda kuno peninggalan pra-sejarah, terlebih di kuil dahulu ada banyak sekali mayoke dan kertas mantra. Lucu, alih-alih fokus ke Buddha, Kaname memilih artefak yang lebih luas cakupannya.
Tersisa Takashi sendiri.
Yang mana belum bekerja dan belum kuliah. Siriknya ...
DUK!
"Ouch! Sensei!" Takashi mengaduh, rasa ngilu di dagu membuyarkan pikiran.
Nyanko menunjuk-nunjuk ke samping usai menyundul dari bawah, betah di dalam jaket Takashi. "Natsume! Aku mencium bau manis! Kita harus ke sana! Ke sana!"
"Bau manis?"
Hidung mengendus-endus, sampai aroma yang manis dan lembut hinggap pada indera penciumannya. Kepala perak ditoleh ke samping, bangunan berlantai dua dan berpapan nama kayu bertuliskan Standard House mampir di ruang lingkup pandangan.
Pemuda perak berdiri diam di depan ... Kafe? Atau toko?
Bangunan tunggal di jepit antara toko bunga dan toko alat tulis. Gaya kafe terlihat hangat dari luar, mungkin karena ekstarior kayu berwarna cokelat mocha. Samar-samar terdengar suara musik klasik dari dalam.
Nyanko masih mengeong-ngeong menyuruh masuk, jelas sekali karena mencium aroma biji kopi dan roti hangat bermentega panas bertabur gula.
Ya, ampun, padahal Takashi yakin dia sudah makan burger. Kenapa mencium bau manis roti di sini, ia jadi lapar lagi?
Dari balik dinding kaca, Takashi menelan ludah. Terdapat kue-kue mungil tak terlalu mewah, namun berkesan cantik elegan memesona yang tertata apik pada etalase, sengaja untuk dipamerkan pada orang-orang yang lewat di depan kafe.
Mengikuti kata hati, kaki maju dua langkah ke depan. Sialan, menyesal Takashi melakukan itu. Nyanki makin parah mengeong, diduga jaket Takashi basah kena liur.
Dari sini, kue-kue itu terlihat enak sekali, entah mengapa tampak fresh from the oven walau Takashi tahu semua kue sudah mendingin. Di atas etalase, ditaruh pamflet besar bahwa tema hari ini adalah one bite, kue berukuran besar bisa dipesan di kasir.
Sepotong apple pie yang tampak renyah dan gurih, butir-butir gula yang setengah meleleh memaksa rahang memproduksi liur lebih banyak. Kue sus berkulit garing yang renyah dengan isian krim lembut. Sponge cake berwarna cokelat pekat dilumuri cokelat putih ditambah lapisan cake berisi manisan buah pir.
Hampir saja air liur Takashi menetes, kepala Nyanko dijitak karena liur berceceran duluan nyaris mengotori jaket.
"Natsume?"
Tersentak.
Takashi dan Nyanko menoleh bersamaan dan terbelalak. Seorang aktor tenar yang sudah lama dikenal mereka berdiri di belakang. Yang membuat mata Takashi dan Nyanko membulat, adalah kondisi aktor tersebut yang ... Menyedihkan.
"Natori ...-san?" panggil Takashi takut-takut, ada apa dengan pria yang sudah dianggapnya kakak ini? Kenapa penampilannya seakan baru pulang dari hutan penuh monyet bandel?
Jangan-jangan ... Youkai?!
"Natori-san kenapa?!" seru Takashi panik, buru-buru menghampiri Shuuichi, memeriksa sekujur tubuhnya ada luka atau tidak.
Shuuichi mengibaskan tangan. "Aku tak apa-apa," dustanya.
"Bohong!" Bantah Takashi. "Yang seperti ini tak mungkin tak ada apa-apa! Ayo, bilang! Oh, Hiiragi! Na–Hmp!"
Telapak tangan membungkam mulut Takashi. Pria nyaris kepala tiga tersenyum kecut. Tidak mengindahkan tatapan heran orang-orang di sekitar. Nyanko melirik datar.
"Baik-baik, akan kujelaskan. Kemari, ikut sini. Kepalaku pusing."
Secara paksa, Shuuichi menyeret Takashi memasuki kafe. Ia tak bohong saat bilang kepalanya pusing, dan secangkir kopi akan membantunya merasa lebih baik.
Klining!
Lonceng di pojok atas pintu kayu berdenting bersamaan engsel berderit sedikit, pintu terbuka sepenuhnya. Hembusan udara dingin dari celah-celah mencuri-curi masuk, ikut memberitahu kedatangan tamu.
Dua orang pelayan menyambut ramah kedatangan Shuuichi dan Takashi. Baru masuk selangkah, wajah Takashi seolah diterpa wangi kopi. Seolah-olah udaranya sudah bercampur dengan serbuk-serbuk bekas gilingan kopi.
Nyanko ditepuk, dalam artian harus diam di tempat. Tidak boleh bergerak, biar dikira boneka. Samar-samar Takashi mendengar Nyanko berbisik ia mau pesan semua kue di menu.
Lampu-lampu temaram dan wangi manis menguar seiring kaki melangkah. Apa barusan Takashi mencium aroma kukis jahe hangat?
Mengikuti langkah Shuuichi, Takashi melirik ke seluruh penjuru ruangan. Menjelang sore, pengunjung mulai berkurang. Tepat di samping kasir, bersusun rapi kue-kue yang sama seperti etalase di depan. Yang membedakan, ada juga kue yang lebih besar ukurannya.
"Pilihlah, Natsume. Biar aku yang bayar."
"Eh? Tapi ..."
"Tak apa, pekerjaanku tadi menghasilkan nominal yang sebanding bekerja setahun jadi aktor. Gantinya, aku nyaris babak belur."
"Bekerja ap–"
"Nanti! Pesan saja."
Bibir dikerucutkan, setengah merajuk Takashi menghampiri etalase. Shuuichi mendekati counter, memesan kopi.
Shit.
Mata Takashi menerawang takjub memandangi etalase, tepatnya kue-kue yang berjejer rapi di sana, beraneka warna dan tertata sangat apik. Andai tidak terhalang kaca, pasti sudah tercium baunya.
"Psst! Natsume! Pesan semua! Semua!" bisik Nyanko agak kencang.
Tak diindahkan, Takashi memutuskan memesan sepotong pai berisi manisan stroberi, kulitnya gurih diolesi sirup gula ditabur potongan kacang almond. Untuk Nyanko ..., sponge cake disemprot krim cokelat dengan keju-keju keemasan di atasnya.
"Sudah siap memesan?" tanya seorang pelayan di balik etalase. Takashi memperhatikan penampilannya, pria jangkung tersenyum ramah siap menjepit pesanan. Rambut pirangnya tergerai indah.
Takashi mengangguk dan menunjuk kedua kue pilihannya. Mata Nyanko berganti merah hati bersamaan pria pirang tersebut mengeluarkan pai dan sponge cake dari etalase, lalu ditaruh dalam piring cantik.
Pelayan lain menyela dan mengatakan pesanan Takashi akan digabung dengan kopi Shuuichi, nanti diantar ke meja mereka begitu kopi selesai dibuat.
"Jadi," ucap Takashi begitu mereka duduk berhadapan di salah satu meja, "bisa mulai cerita?"
Shuuichi meringis.
Selagi biji kopi digiling, salah satu butler mendekat membawa keranjang biskuit. Usai mengatakan itu gratis untuk tiap pelanggan yang makan di tempat, dengan ramah ia menanyakan apa Takashi atau Shuuichi mau dibawakan handuk basah. Keduanya serentak menggeleng.
"Pernah dengar perusahaan Kaiba Corp dan Akashi Corp?" Shuuichi memulai pembicaraan.
Gigi mengunyah biskuit renyah bertabur cokelat-cokelat bulat mungil, mengingat-ngingat nama yang rasanya pernah didengar. Uh, sial, tidak bisa diingat. Mungkin ia pernah dengar atau melihat di suatu tempat sekilas.
Takashi menggeleng.
Ini akan jadi pembicaraan yang panjang, Shuuichi tahu itu. Sampai pesanan mereka datang, Shuuichi mau tak mau harus menjelaskan mulai dari awal tawaran sponsor.
Sebetulnya pria itu malas cerita lengkap. Namun, Takashi jelas tak mau tahu, memaksa Shuuichi cerita. Hu-uh, dasar bocah, khawatirannya masih sama seperti awal bertemu. Tetapi biarlah, Shuuichi perlu curhat juga sesekali.
Waktu pun berlalu selama Shuuichi bercerita.
"... Itu serius ...?"
Dibalas senyum kecut. Kafein dihirup miris.
Sponge cake dibelah dua, lalu dipotong lagi tengahnya menjadi total empat potong. Takashi diam-diam mengarahkan potongan pertama ke balik jaket, yang langsung dilahap Nyanko.
Mata Takashi lurus menatap Shuuichi skeptis, tidak percaya.
"Silakan sebut aku gila, Natsume. Tetapi jika kamu bertemu kedua GM itu, pasti telak langsung berpikir mereka itu sinting." Likuid hitam dihirup khidmat, pria bermata delima menikmati lezatnya kopi melewati kerongkongan.
"Kalau pakai alat seperti di gedung yang kudatangi pagi ini dengan teman-teman, ya, mungkin aku akan percaya. Tapi ... Hologram, Natori-san?" Pai ikut dibelah jadi potongan-potongan kecil, Nyanko rewel ingin minta.
"Kukatakan sekali lagi. Seto Kaiba itu genius mendekati gila, dia bahkan punya ide membuat pesawat jet berbentuk naga putih fantasy." Gula kotak dicemplungkan ke dalam cangkir kopi. Rasanya gula darah Shuuichi turun drastis.
"Lalu Natori-san nyaris jadi badut–"
"–karena ulah Seijuurou Akashi. Aku tak tahu dia jago olahraga, tetapi jelas ke depannya akan disewa lagi aktor yang awam di bidang olahraga. Terang sekali kedua orang ini hobi mempecundangi orang yang dianggap tak selevel."
"Pongah sekali kedengarannya," potong Nyanko, mengais-ngais dagu Takashi minta disuapi lagi.
"Dan Natori-san tetap melakukannya?" sela Takashi, sekali lagi suapan sponge cake dilancarkan. Nyanko menyambut dengan senang hati.
"Bayarannya tinggi sekali, Natsume. Dan aku terbawa suasana, kesal di awal-awal sudah dipandang ..." kalimat Shuuichi terhenti. Dagu dicubit, bingung mencari kata yang tepat.
"... Layaknya orang kulit hitam di antara kulit putih."
Dan kapan pun seorang kulit putih menganiaya orang kulit hitam, siapa pun dia, sekaya apa pun dia, atau sebaik apa pun keluarga asalnya, orang kulit putih itu sampah.
Bagaimana caranya Shuuichi bisa berbicara begitu tenang walau penampilannya renyuk begitu, Takashi tidak tahu. Tetapi Takashi sudah sering kali melihat seseorang mampu bertingkah normal di saat paling gila.
Ibarat, sedang meminum teh di sore hari sedangkan api berkobar membakar rumah.
Sepotong pai dimasukkan ke dalam mulut. Pemuda perak diam menikmati cita rasa kue yang menyebar di lidah, kelopak mata turun membiarkan lezatnya kue dan manisnya stroberi melumer ke seluruh permukaan lidah.
"Aku heran, kenapa mereka melakukannya?"
Kopi kedua diteguk pelan-pelan. "Apanya?"
Takashi menatap kuenya yang baru dimakan setengah. "Membayar orang, tapi ..."
"Mengotori nama baik? Mempecundangi mereka?"
"Ya, ya, itu."
Shuuichi mengangkat bahu. "Entahlah, aku tidak tahu. Mereka pernah melakukannya, dan mereka melakukannya, dan mereka akan melakukannya lagi. Ada noda di pipimu."
"Eh?" Takashi mengusap pipi. "Di mana?"
Shuuichi mencondongkan tubuh, ibu jari dengan lembut mengusap krim merah muda di sudut bibir Takashi. Sebelah mata Takashi menutup.
"Aku tidak mengerti, Natori-san."
Ibu jari dijilat. "Belum, Natsume. Semakin masuk lebih dalam, nanti juga kamu mengerti dunia manusia kadang lebih menyebalkan dari maraton dikejar youkai."
Cemberut, sisa kue dalam mulut dikunyah kasar. "Aku sudah kepala dua," bantah Takashi.
"Tapi belum berpengalaman." Sengit dibalas lantang oleh Shuuichi. "Kamu belum makan banyak garam di bidang manusia, Natsume. Ada dua cara untuk menghadapi hidup, sederhana; memperlihatkan integritas tanpa cela dan mengutuk kecurangan, atau jadilah licik dan jangan pernah tertangkap."
Kalimat Shuuichi menggebrak telinga dan berdengung di batin Takashi.
Kepala Nyanko menyembul keluar, tak sabar ingin memakan potongan kue yang berikutnya. Kaki depan mengais-ngais, ingin mencomot tanpa alat bantu. Takashi cepat-cepat menusuk potongan pai dan menyuapi Nyanko.
"Lalu, kamu? Sedang apa di sini?" tanya Shuuichi mengalihkan pembicaraan.
Nyanko menjawab lebih dulu saat Takashi akan membuka mulut. "Bocah ini galau mencari kerja dan sirik melihat teman-temannya kuliah."
"Natsume ingin cari kerja?"
Meringis, Takashi memilih menghabiskan pai miliknya.
Shuuichi menyeringai jahil. "Masih merasa sungkan dengan orang rumah?"
"Jangan berkata apa pun, Natori-san," tepis Takashi, semburat merah muda timbul di bawah mata.
Seringai berganti senyum maklum, rambut perak ditepuk-tepuk penuh sayang. Bibir Takashi mengerucut.
"Natsume memang anak baik, ya."
"Uh ..."
Kopi dihabiskan, Shuuichi sudah merasa lebih baik sekarang. Kafein lumayan membuatnya segar walau tidak sepenuhnya.
"Mau kubantu carikan lowongan?"
"Eh? Tidak usah, nanti merepotkan," tolak Takashi sopan.
Tengah dahi disentil. "Aku tidak menerima penolakan, Natsume. Lagipula kamu pasti cuma bisa mencari di koran-koran semata, 'kan?"
Strike! Tepat sasaran.
"Akan kucari yang kira-kira syaratnya sesuai dngan kondisimu. Kamu ingin pekerjaan semacam apa?"
"Apa saja ..., yang penting jauh dari youkai dan normal-normal saja," jawab Takashi. Ia tak peduli nantinya dapat kerja jadi pelayan, tukang antar di kedai ramen atau apalah, yang penting bisa merasakan yang namanya gaji pertama.
"Aku tidak janji bisa dapat secepatnya, ya. Tapi jika ketemu, akan langsung kuhubungi. Dan, Natsume, kuperingatkan." Raut wajah Shuuichi jadi serius. "Jangan pernah tergiur pada lowongan kerja manapun yang berhubungan dengan Kaiba Corp dan Akashi Corp!"
Takashi mengiyakan asal-asalan.
Dalam hati membatin bahwa pria di hadapannya resmi benci setengah mati pada kedua GM tersebut.
Mungkin?
xXx
To Be Continue
xXx
