Chapter 3
Malam ini hanya kesunyian yang mendominasi diantara Kai dan Sehun. Tak ada yang bicara. Mereka berdua hanya sibuk dengan Handphone masing-masing.
Namun Kai mulai sadar ada yang kurang disini. Kemana orang tuanya? Bukankah tadi orangtuanya meminta dirinya untuk segera pulang. Lalu kenapa ketika ia sampai rumah hanya sosok Sehun yang terlihat? Karena menyadari bahwa pertanyaan tadi tak bisa dijawab sendiri olehnya, akhirnya ia menjadi pihak yang membuka suara ditengah keheningan itu.
"Dimana orangtuaku?" kata kai mengalihkan perhatiannya yang kini menatap Sehun. Merasa dirinya diajak bicara, Sehun mendongakkan kepalanya dan balas menatap obsidan pekat milik Kai.
"Pergi." Ucap Sehun yang lalu kembali terfokus pada layar ponselnya.
"Kemana? Lalu kau pergi kesini sendiri?" Kai masih memandang Sehun yang tak balas memandangnya. Pandangan Sehun kini kembali terfokus pada Kai.
"Mana aku tahu Kim. Orangtuamu dan orangtuaku pergi meninggalkanku sendirian di rumahmu." Baiklah itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Kai dengar keluar dari mulut Sehun.
"Bodoh. Lalu apa yang mereka harapkan dengan meninggalkan kita berdua?" Decih Kai mengalihkan pandangannya dari Sehun.
Hening
Tak ada lagi percakapan yang keluar dari mulut 2 namja dingin ini. Mereka kembali berkutat dengan handphone mereka. Lagipula bagaimana mungkin sosok Kai dan Sehun yang cuek dan dingin dipertemukan?
Kai yang notabenya adalah sosok tidak peduli lingkungan sekitar dan Sehun yang sangat sulit untuk terbuka, tentunya secara tak langsung akan terbangun dinding tegak kasat mata diantara keduanya. Tak ada dari mereka berdua yang memiliki pikiran untuk memulai pembicaraan. Karena mereka tak peduli.
Kai ingin pergi ke kamarnya dan meninggalkan Sehun disini sendiri sampai orangtuanya datang dan akhirnya mereka pulang. Namun mengingat Ayahnya tak akan menunjukkan reaksi baik jika mengetahui itu, maka Kai mengurungkan niatnya. Bagaimanapun kuasa Ayahnya tetap lebih besar dari kuasanya. Dan Kai sangat mengutuk hal itu.
"krucukk" (duh gatau bikin suara perut kelaperan gimana hehe)
Kai dan Sehun spontan saling menatap satu sama lain.
"Perutmu?" tanya Kai dengan nada datarnya.
"Bukan urusanmu kau tahu."
"Bodoh, itu memang bukan urusanku. Sama sekali bukan. Aku hanya bertanya Oh." Kata Kai memutar bola matanya malas.
"hm" hanya deheman singkat yang diterima Kai.
Kai menatap tajam Sehun. Yang ditatap hanya fokus pada layar ponsel yang ia pegang. Kai segera beranjak dari tempatnya. Sehun yang mengetahui bahwa seseorang yang berada diseberangnya berjalan pergi, hanya menatap sekilas lalu kembali pada layar ponselnya. Masa bodoh batinya.
Sekitar 10 menit sosok Kai pergi. Sehun kira Kai pergi ke suatu tempat yang bisa membunuh rasa bosannya. Sebenarnya saat ini Sehun tak kalah bosan dengan Kai. Ingin rasanya dia pulang sekarang meninggalkan rumah milik keluarga Kim ini menggunakan taxi. Tapi mengingat janji kedua orang tuanya yang mengatakan bahwa setelah dari rumah tuan Kim, mereka akan membawa Sehun kesuatu tempat. Bisa dibilang orangtua Sehun sedang menjanjikan 'Family time' untuknya.
Tentu saja Sehun gembira akan hal itu. Walaupun tidak ia tunjukkan melalui ekspresi, tapi dalam hati Sehun bersyukur akhirnya ia setidaknya bisa berkumpul dengan kedua orangtuanya setelah kurang lebih 2/3 bulan mereka tak pernah mengobrol selayaknya sebuah keluarga.
"tuk"
"Makan itu Oh, aku tak mau orangtuaku menganggapku membiarkanmu kelaparan." Ucap Kai yang kini sudah kembali ketempat duduknya. Ia masih memandangi Sehun.
Sehun menatap makanan itu cukup lama, lalu mengarahkan iris matanya untuk menatap Kai.
"Jangan menyalah artikan ini sebagai bentuk perhatian. Aku sama sekali tak menaruh perhatian padamu. Seandainya kaupun mati kelaparan aku juga tak peduli, kau bukan siapa-siapaku dan tak berdampak apapun padaku. Hanya saja aku tak mau berurusan dengan Appaku." Ucap kai dengan senyum tipis tersungging yang terlihat cukup memuakkan bagi Sehun.
"Benar kata mereka." Gumam Sehun
"Apa kau bilang?"
"Benar kata mereka, bahwa kau menyebalkan, brengsek dan memuakkan." Kata Sehun masih dengan wajah datarnya.
"Cih, apa kau bodoh Oh? Kau pikir apa yang mereka juga katakan tentangmu heh? Setidaknya aku masih bicara lebih banyak daripada dirimu. Aku masih memiliki banyak teman. Sedangkan kau? Hanya Baekhyun." Ucap kai masih dengan senyum brengsek itu.
"Kau tak perlu mengurusi apa-apa tentangku Kim."' Desis Sehun tajam. Namun Kai tak terpengaruh dengan tatapan tajam Sehun yang seolah ingin mengulitinya. Malah itu menimbulkan hasrat untuk semakin mengerjai namja ini. Kai membalas perkataan Sehun, masih dengan senyum itu. Tak berubah.
"Bagaimana mungkin aku tak mengurusimu Oh Sehun. Kau tunanganku kau tahu." Kai menatap iris coklat itu. Senyum itu tetap ada disana.
Bisa Kai lihat bahwa Sehun marah sekarang. Mencoba sekuat tenaga untuk tidak meluapkan amarahnya. Namun itu malah menimbulkan rasa puas tersendiri bagi Kai. Oh ayolah, setidaknya Kai berhasil melihat namja satu ekspresi ini mengeluarkan ekspresi yang lain.
"Dan kita akan lebih banyak bertemu nantinya." Lanjut Kai.
"Ayolah Kim, aku tahu kau tidak menyukai fakta itu. Jangan menjadikan itu lelucon hanya karena kau ingin membuatku kesal bodoh." Sehun memutar bola matanya muak.
"Kau benar, aku mungkin tak menyukai fakta bahwa kau sekarang adalah tunanganku. Tapi..." jeda Kai. Matanya menyorot tajam ke arah obsidan coklat itu. Senyum brengsek itu kembali terlihat
"Aku cukup tertarik." Senyum samar itu perlahan terlihat semakin jelas. Bisa Sehun lihat bahwa senyum itu memiliki banyak arti. Senyum brengsek yang sayangnya sangat pas dengan wajah Kai membuat Sehun mengerang geram. Ingin rasanya ia menghampiri Kai dan memukul tepat di rahangnya agar berhenti menunjukkan senyum itu.
"Persetan dengamu Kai. Aku tak tahu bagaimana kedepannya setelah kita mengetahui fakta mengerikan ini. Tapi satu hal yang perlu kau tahu. Aku tetaplah Sehun yang sama. Aku tak akan berubah dan kau tak akan bisa mengubahku. Jangan mencoba untuk menyampuri kehidupan dan urusanku. Begitupula aku, tak akan sekalipun peduli pada hidupmu. Jadi apapun yang sekarang sedang kau pikirkan, jika itu menyangkut aku, maka hentikan pikiranmu itu mulai sekarang." Sehun mendesis geram. Sengaja ia tekankan setiap kata-katannya berharap Kai akan terintimadasi olehnya.
Namun Sehun seharusnya tahu bahwa Kai bukanlah sosok pengecut yang mudah takut hanya dengan gertakan seperti itu. Kai tak jauh berbeda dengan Sehun. Keras kepala, pembangkang, cuek, dan semaunya sendiri. Dan harusnya Sehun tahu bahwa gertakan semacam itu tak akan berpengaruh apa-apa pada Kai.
Dan itu benar adanya. Perkataan Sehun barusan malah membuat Kai semakin menyunggkinkan senyum miringnya. 'Menarik' batinnya.
" Kau pastinya tahu jika gertakanmu tak akan berpengaruh apa-apa padaku kan?" lagi-lagi senyum brengsek itu terpampang jelas disana. Smirk yang biasanya selalu membuat banyak orang terpesona, tapi tidak bagi Sehun. Smirk yang justru membuat Kai semakin terlihat memuakkan baginya.
Sehun baru akan membalas perkataan Kai namun bunyi pintu terbuka membuatnya harus mengalihkan perhatiannya. Namun tidak dengan Kai, ia masih menatap sosok putih pucat di hadapannya. Kai sebenarnya sudah tahu siapa yang datang. Maka dari itu ia lebih tertarik untuk menatap Sehun daripada kedua orangtuannya dan Sehun.
"Kai, kau sudah pulang? Bagaimana, apa kau mengobrol banyak hal dengan Sehun?" tanya Eomma Kai yang segera menghampiri Kai dan Sehun. Kai mengalihkan perhatiannya kini pada Ibunya.
"Yah, tidak terlalu Eomma. Hanya saja sedikit yang kita bicarakan itu cukup menarik." Katanya sambil melirik ke arah Sehun sekilas.
" Kalian berdua pasti terkejut bukan? Mengingat kalian berdua berada di sekolah dan tingkat yang sama." Kini giliran Mom Sehun yang berbicara. Ia menepuk pundak Sehun. Berharap respon dari putranya itu.
"Anda benar Nyonya Oh, kurasa kami berdua sangat terkejut. Benarkan Sehunah." Kata Kai yang kini kembali menatap Iris coklat milik Sehun.
Sekarang ini yang Sehun inginkan adalah berjalan ke arah Kai dan meninju tepat di wajahnya. Ini hanya bebrapa menit mereka bertemu. Tapi Sehun sudah membenci segalanya yang ada pada Kai. Dan lagi apa-apaan dia memanggil namanya dengan 'Sehunah' itu terdengar seperti panggilan akrab yang sangat memuakkan bagi Sehun. Namun Sehun hanya bisa membalas obsidan hitam pekat itu dengan wajah datarnya yang Kai tahu menyimpan begitu banyak kebencian disana. Beberapa saat suasana hening, Eomma Kai lah yang akhirnya membuka suara.
"Wah, kau bahkan sudah memanggil Sehun dengan sebutan yang akrab. Aku harap kalian berdua memiliki waktu yang baik kedepannya." Kata Eomma Kai dengan senyum cantiknya.
"Dan Sehunnie, kau sekarang bisa memanggilku eomonim." Lanjut eomma Kai sembari menatap Sehun lembut.
" Tentu saja Sehun akan memanggilmu begitu Soo young ah. Dan Kai, kau sekarang juga jangan memanggilku Nyonya Oh, panggil aku eomonim kau tahu." Giliran Mom Sehun yang mengatakannya.
"Hm." Jawab keduanya bersamaan dengan senyum tipis.
"Kalau begitu , kurasa pertemuan yang pertama ini cukup sampai disini Soo young ah Yunho oppa. Kami akan pergi." Ucap Tiffany Mom Sehun.
" Kalau begitu berhati-hatilah Jaejong ah , Tiffany. Lagipula kita besok akan bertemu lagi di kantor." Kata Yunho tersenyum hangat. Yang membuat Kai memutar bola matanya. Kai bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ditatap seperti itu oleh Appanya sendiri.
"Tentu saja hyung. Baiklah kami pergi dulu." Setelah itu keluarga Kim mengantarkan keluarga Oh sampai depan rumah. Sehun membungkuk kearah keluarga Kim dan tentunya kepada Kai juga. Kai yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Dia tak menyangka hidupnya akan sedikit berbeda setelah ini. Dan Kai masih belum tahu akankah hal itu berjalan dengan baik atau tidak. Tapi setidaknya hidupnya tak akan terlalu bosan lagi. Begitulah yang dipikirkannya.
*
Suasana di dalam mobil keluarga Oh tampak hening. Jaejong ,sosok tampan berwajah dingin itu sedang fokus menyetir dan Tiffany istri yang duduk di sampingnya terllihat sibuk berkutat dengan handphone miliknya. Sedangkan Sehun hanya memandang jalanan yang cukup sepi di luar jendela.
" Mr. Stevan baru saja menghubungiku jika kita berhasil menanam saham di perusahaanya. Kontrak perjanjiannya akan diurus besok siang. Jadi pagi sekali kita harus segera pergi ke Kanada Dear." Kata Tiffany Mommy Sehun.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu nanti aku akan segera menguhubungi Onew untuk segera memesankan tiket pesawat keberangkatan besok pagi." Kata Jaejong menoleh sekilas namun segera kembali terfokus pada jalanan.
"hm." Hanya deheman singkat yang menjadi penutup percakapan singkat itu.
Sehun yang mendengarnya hanya bisa menghela nafasnya berat. Ia tahu bahwa keinginan untuk memiliki keluarga sempurna, keluarga yang selama ini ia inginkan akan sangat sulit terwujud. Bahkan Sehun bisa menghitung berapa lama intensitas pertemuan dengan kedua orangtuanya dalam sebulan. Jika di akumulasikan tak akan sampai 3 hari lamanya.
Bayangan keluarga yang selalu berkumpul bersama, bercanda dan menceritakan hal-hal kecil dengan teh juga kopi hangat setiap harinya harus ia kubur semakin dalam. Sehun sadar semakin waktu berjalan maka bayangan keluarga sempurna itu juga semakin semu. Dan sayangnya Sehun tak punya kuasa apapun untuk itu.
*
Lykan Hypershot merah terlihat memasuki KCHS dan Bugatti Veyron hitam milik Kai terlihat tepat berada di belakangnya. Sesaat setelah kedua mobil itu terparkir, Kai dan Sehun keluar bersamaan. Sehun yang mengetahui Kai berada di sebelahnya terlihat cukup terkejut, walaupun itu hanya bertahan beberapa detik saja, karena ia segera kembali pada wajah datarnya itu. Berbeda dengan Kai yang malah menunjukkan senyum sama pada kemarin malam.
" Wow, tak kusangka kita akan datang disaat yang sama Oh. Ah! Atau sekarang aku harus memanggilmu Kim saja hm?" Kai tersenyum miring lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Aku tak akan menjadi Kim. Tapi kau yang akan menjadi Oh brengsek!" Sehun segera melenggang pergi. Meninggalkan Kai yang semakin menyunggingkan senyum tipisnya, yang kemudian mulai berjalan cukup cepat.
"Kim Sehun, apa kau bodoh? Semua orang tahu jika kau lebih pantas menjadi uke ku. Dan aku yakin, tak akan ada yang setuju melihatku menjadi seorang uke." Kata Kai yang kini telah berhasil menyamakan langkah Sehun. Sehun yang mengetahui itu hanya mendengus malas.
"Tutup mulutmu Kai! Jangan sampai berita bodoh itu menyebar di sekolah ini!' desis Sehun.
"Kenapa? Kau tak suka bertunangan denganku? Ayolah Sehun, kau harusnya bersyukur mendapatkanku sebagai tunanganmu. Berani taruhan, berapa banyak orang di sekolah ini yang mengingakan posisimu huh?" Kai menoleh kaerah Sehun dengan senyum brengseknya lalu segera kembali menatap ke depan.
" Persetan dengan semua ucapanmu Kai. Yang jelas aku tak mau hari-hariku menjadi terusik dengan hal bodoh semacam itu." Geram Sehun. Ia menoleh menatap Kai yang kini balas menatapnya. Untuk beberapa saat keduanya hanya saling tatap, dan itu berselang sekitar 3 detik lamanya.
"Tapi sayangnya kau tak bisa menghindar dari ini Oh Sehun. Bagaimanapun carannya... Dan aku yakin kau sudah tahu itu." Kai membuka suara.
"Aku tahu, tapi setidaknya jangan buat ini menjadi lebih buruk Kim." Sehun menatap lekat iris hitam pekat itu.
"Memangnya darimana kau tahu jika itu akan menjadi lebih buruk hm?" kata Kai kembali senyum brengsek itu terlihat. Sehun sempat akan membalas ucapan Kai ketika suara Chanyeol memecah fokusnya.
"Oh Sehun! Kim Kai! Kalian berdua berjalan berdampingan dan saling mengobrol berdua??!? Daebak!! Oh God ada apa dengan hari ini? Kenapa terjadi hal yang sangat anehh???" cerocos Chanyeol yang tiba-tiba saja muncul di depan Kai dan Sehun.
" Chanyeol ah, bisakah sehari saja kau tidak merusak mood pagiku dengan celotehanmu?" kata kai memandang Chanyeo malas.
"Tapi kali ini benar-benar berbeda Kai. Kau harus menjelaskan bagaimana bisa kau berjalan beriringan dengan Sehun dan membuatnya mau berbicara denganmu huh?!? Lagipula apa kau tak tahu, jika kalian berdua telah menjadi pusat perhatian huh?" tanya Chanyeol. Sontak Kai dan Sehun memandang sekitar mereka. Benar kata Chanyeol, mereka berdua kini telah menjadi sorotan siswa-siswa KCHS. Sehun mendengus sedangkan Kai memutar bola matanya malas.
"Bodoh! apa mereka tak ada pekerjaan lain selain menatap seperti orang bodoh?" dengus Sehun.
"Sudahlah, aku ingin segera ke kelas. Dan ini semua karenamu Kim!" lanjut Sehun menunjuk Kai tepat di depan wajahnya kemudian melenggang pergi. Menghiraukan tatapan-tatapan penuh rasa penasaran itu.
"Hah? Apanya yang salahmu? Bagimana bisa salahmu? Tunggu memangnya apa yang Kalian bicarakan? Hei Kai! Kai! Kim kai!" teriak Chanyeol frustasi saat kai malah berjalan menjauh.
*
Saat ini adalah mata pelajaran Bahasa Inggris. Mrs Wendy terlihat sedang menerangkan tentang materi gerund di depan kelas. Karena ini adalah kelas unggulan maka banyak dari siswa-siswi kelas 12 A1 yang memperhatikan Mrs Wendy dengan baik. Walaupun ada juga beberapa diantaranya yang malah sibuk memainkan handphone ataupun tertidur.
Dapat Sehun rasakan bahwa perutnya kini mulai bergetar. Ya, pagi ini ia memang belum sarapan. Ia sengaja melewatkannya di rumah karena tadi pagi ia tak terlalu lapar setelah semalam ia mendapat makan malam bersama kedua orangtuanya. Namun kini rasa laparnya mulai Sehun rasakan. Ia berniat setelah mata pelajaran Mrs Wendy berakhir, ia akan meminta izin kepada guru seni Heechul songsaengnim untuk pergi ke Cafetaria.
Dan setelah pelajaran Mrs.Wendy selesai. Sehun segera berdiri dari tempat duduknya.
" Kau mau kemana Sehunah?" kata baekhyun setelah melihat Sehun akan pergi.
" Cafetaria Baek, aku melewatkan sarapanku tadi pagi."
"Oh, kalau begitu pergilah. Aku minta maaf tak bisa menemanimu, ada tugas seni yang belum kuselesaikan. Dan tenang saja akan ku sampaikan kepada Heechul songsaengnim jika nanti dia tak melihatmu saat mengabsen."
"hmm, terima kasih baek." Kata Sehun tersenyum kearah Baekhyun. Manunjukkan matanya yang menyipit dan membentuk lengkungan eye smile pada Baekhyun. Dan beberapa siswa yang melihat hal tersebut harus menjerit tertahan karena Sehun terlihat sangat menggemaskan. Dan itu adalah hal yang sangat sulit untuk mereka lihat tiap harinya. Bahkan tiap minggunya.
*
Sehun memasuki Cafetria KCHS. Suasana Cafetaria tentu saja terlihat sepi karena memang ini bukan waktunya bagi para siswa untuk pergi kesini. Namun ini adalah pengecualian untuk Sehun.
Segera ia mengambil beberapa menu makanan untuk ia santap. Dan ia memilih Kimbab Tuna , french fries dan sekaleng coca cola. Segera ia pergi ke tampat duduk yang paling dekat dengan dinding kaca. Ini selalu menjadi spot favoritnya disini. Karena ia bisa melihat dengan jelas pemandangan lapangan Basket yang dikelilingi oleh pohon-pohon terawat . Itu cukup indah bagi Sehun.
Sehun segera memasang earphonenya. Ia selalu menikmati makan seperti ini dengan musik memang. Karena Sehun akan merasa sedikit tenang. Sehun menutup kedua matanya. Entah mengapa Sehun merasa bahwa beban hidupnya akhir-akhir ini sedikit bertambah. Atau mungkin cukup bertambah. Sehun merasa berat dan sesak tentu saja. Namun apalagi memang yang bisa ia lakukan. Ia tak mempunyai seseorang untuk bisa ia jadikan sandaran. Karena ia selalu berpikir bahwa yang seharusnya menjadi sandarannya adalah orangtuanya. Hanya mereka.
Baekhyun? Tapi Sehun bukan tipe orang yang ingin terlihat lemah. Memang egoisme Sehun sendiri yang kadang membuatnya menjadi lebih hancur. Ia selalu merasa mampu untuk sendiri. Padahal ia tidak. Sehun tak sekuat itu. Ia rapuh tentu saja. Hanya saj dia selalu bersembunyi di balik baju bajanya. Dan akhirnya Sehun menangis, lagi. Dan ia sendiri.
Namun disana,sosok itu memperhatikan Sehun dari jauh, sempat ia terpana ketika melihat bagaimana pahatan wajah sempurna Sehun terpejam tenang tak ada beban, sampai ia melihat cairan bening itu keluar dari kedua mata Sehun yang tertutup. Ia tertegun. Sosok itu tertegun. Senyum samar yang tadi terlihat dari sosok itu kini hilang.
Kai kemudian tahu, bahwa Sehun sudah sangat rapuh.
TBC
hi hi. maaf ya author telat banget updatrnya :(
aku kau ngucapain makasih banyak buat yang sudah review luv luv!!
tolong jangan jadi sider ya.. at last tinggalkan jejak apapun..
heheee
