WARNING!!Belum sempet ngedit, so banyak typos bertebaran!!
Chapter 4
Kai tetap diam berdiri di tempatnya. Masih memandang Sehun dari jauh. Entah apa yang membuatnya rela berdiri dengan posisi sama selama beberapa menit hanya untuk memperhatikan Oh Sehun.
Sebenarnya Kai juga bingung dengan dirinya sendiri, untuk apa dia memberikan sedikit atensinya kepada seseorang yang bahkan belum 1 minggu ini masuk dalam kehidupannya. Dia bisa saja segera pergi tanpa memperdulikan sosok itu. Namun pikirannya kali ini tak sejalan dengan hatinya, terbukti dia masih berada di tempat yang sama dengan alasan yang sama. Oh Sehun.
Dan disinilah ia, berdiri di samping pilar tinggi dan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana, menatap sebuah objek dengan lekat seperti mencoba membaca gurat di wajah pucat sempurna itu. Walaupun jarak mereka cukup jauh, tapi Kai masih dapat melihat dengan jelas air mata yang mengalir di pipi Sehun. Dan Kai hanya diam tak mencoba pergi ataupun menghampiri.
Sedangkan Sehun, ia masih tetap menangis dalam diamnya. Dan ini bukanlah suatu hal yang baru baginya. Ia sering menangis ketika ia yakin tak akan ada orang lain yang melihatnya. Namun ternyata untuk kali ini Oh Sehun salah dengan keyakinannya itu.
Ketika Sehun merasa ia sudah cukup tenang, Sehun mulai membuka matanya. Namun dalam hitungan detik, iris coklat itu melebar. Ia melihat Kai berdiri cukup jauh darinya, namun dia masih bisa melihat dengan jelas jika kini pemuda Kim itu menatap tajam kearahnya. Sehun melihat tak ada ekspresi disana. Iris hitam legam itu hanya menatapnya tajam dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Setelah beberapa saat mereka saling menatap iris masing-masing, Sehun yang terlebih dahulu sadar segera memutus kontak itu dan segera pergi. Ia segera keluar dari Cafetaria dan menuju kelasnya. Tentu saja ia merasa malu dan marah karena akhirnya ada orang lain yang melihatnya dalam keadaan lemah. Keadaan yang mana selalu ia tutup rapat dengan ekspresi wajahnya dan dinding kasat mata yang ia bangun.
Sial bagi Sehun karena jalan menuju kelasnya melewati dimana sosok Kai berdiri sekarang. Ia sekilas melihat ke arah Kai yang kini sedang menunduk bersandar di sebuah Pilar besar.
Sehun mencoba mengabaikannya dengan terus berjalan menatap lurus kedepan seolah tak ada sosok Kai disana. Namun langkahnya terpaksa terhenti ketika sebuah suara menginstupsinya.
" Ternyata kau tidak sekuat yang kupikirkan Oh." Jongin mendongakkan kepalanya menatap Sehun.
"Sudah kukatakan sebelumnya untuk tidak mencampuri dan peduli dengan urusanku." Ucap Sehun dingin. Posisi Sehun yang kini berada di depan Kai membuat Kai tak bisa melihat ekspresi Sehun saat ini. Kai hanya dapat melihat postur belakang Sehun.
" Kau pikir aku mau? Seharusnya kau sadar Sehun, bahwa sekarang keadaanlah yang mau tak mau harus menyeretku padamu ataupun sebaliknya. Dan aku yakin kau tak bisa mengelak itu."
Walaupun saat ini Sehun dalam posisi memunggungi Kai, tapi Sehun tahu bahwa Kai sedang menatap lekat kearahnya. Sehun bisa membayangkan iris hitam legam itu saat ini. Namun sekali lagi, Sehun takut jika Kai akan melihat sosok Sehun yang sebenarnya jika ia membalikkan badan dan balas menatap iris legam itu.
" Tapi kau bisa pura-pura tak tahu dan tak peduli Kim. Aku tak pernah menginginkanmu masuk dalam kehidupanku, dan kurasa kaupun juga sama. Maka dari itu jangan biarkan keadaan memegang kendali brengsek." Sehun menggeram, dan Kai tahu Sehun mati-matian menahan emosinya. Terus membelakangi Kai agar Kai tak melihat emosinya yang berarti kekalahan bagi Sehun.
" Kuberi tahu kau suatu hal Oh, sekuat apa dirimu sehebat dan sedingin apa dirimu, kau tak akan bisa memegang kendali atas keadaan itu sendiri. Bahkan akupun mengakui bahwa keadaanlah yang menang untuk saat ini."
Kai tak berhenti menatap sosok pucat itu. Semakin ia melihat jelas bahwa tubuh tinggi ramping itu bergetar.
" Tutup mulutmu brengsek! Hanya diam dan jangan peduli." Sehun mendesis, menekankan setiap kata-katanya dengan tubuh gemetar.
Sehun benci ini, Kai pasti melihat tubuhnya bergetar dengan jelas. Sehun tahu bahwa saat ini ia kalah. Baik itu dari keadaan maupun Kai sendiri.
Sehun yang tak ingin memperlihatkan kekalahannya lebih lama, maka ia segera pergi meninggalkan Kai dengan emosi yang mati-matian ia tahan.
Kai melihat punggung itu semakin menjauh. Meninggalkannya yang masih menatap lekat tanpa mencoba berpaling. Kai melihat jelas bagaimana tubuh Oh Sehun bergetar. Terlalu kentara jika dirinya sangat rapuh sekarang ini. Hingga tubuh itu menghilang Kai sadar dan segera kembali ke dalam kelasnya. Melupakan niat awalnya yang ingin pergi ke Cafetaria.
*
Baekhyun terlihat gelisah di tempat duduknya. Pasalnya sudah lewat 45 menit Sehun belum kembali dari Cafetaria. Pelajaran Heechul Songsaengnim tinggal 1 jam perlajaran, yang berarti 45 menit lagi tersisa hingga Baekhyun bisa segera mencari Sehun.
Sebenarnya Baekhyun bisa meminta izin Heechul Songsaengnim untuk pergi keluar kelas, namun mengingat tugasnya yang masih belum selesai dan harus dikumpulkan saat jam pelajaran Heechul Songsaengnim berakhir, membuat Baekhyun mengurungkan niatnya.
Namun sekarang ini fokusnya terbagi antara tugas seninya dan Sehun. Ia terus menerus menatap pintu ruang kelasnya. Berharap Sehun segera membuka pintu itu. Namun keinginan Baekhyun tak kunjung terpenuhi. Sehun masih belum juga kembali. Dan sungguh ia khawatir dengan sahabatnya itu. Jarang sekali Sehun membolos tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
Dan Baekhyun yakin, saat ini Sehun pasti sedang tidak baik-baik saja.
*
TEEETTT!!!
Bel tanda istirahat akhirnya terdengar. Tepat 5 menit setelah Baekhyun mengumpulkan tugasnya. Segera setelah Heechul Songsaengnim pergi meninggalkan kelas, Bakhyun segera keluar untuk mencari sahabatnya itu.
Bakhyun cukup kewalahan mencari Sehun di KCHS. Mengingat betapa luasnya area sekolah ini dan Sehun yang ternyata tak membawa handponenya. Baekhyun terus berlarian di area KCHS. Mulai dari Cafetaria, UKS, lapangan Basket, Tenis, Sepak Bola, dan beberapa tempat lainnya. Namun sampai saat ini Baekhyun masih belum menemukan sosok Sehun.
Kekhawatiran semakin terlihat jelas di matanya. Ia mulai bertanya kepada beberapa siswa yang ia temui. Namun semuanya memberikan jawaban yang sama, mereka tak tahu keberadaan Sehun. 15 menit lagi bel tanda masuk berbunyi. Dan itu semakin menambah kekhawatiran Baekhyun yang tak menemukan Sehun dimanapun.
" Hi Byun, kenapa kau terihat kacau sekali." Sebuah suara mengintrupsinnya. Sontak Baekhyun menoleh ke asal suara itu. Chanyeol.
" Chanyeol, apa kau tahu dimana Sehun?" tanya Baekhyun tanpa basa-basi. Chanyeol yang mendengar pertanyaan Baekhyun mengernyit bingung.
" Hah? Mana aku tahu? Memangnya selama ini kau pernah melihatku bersama Sehun?"
" Aiishh. Kemana sebenarnya kau Sehunah.." Baekhyun mengusak rambutnya kasar.
"Tunggu, maksudmu sekarang Sehun menghilang? Memang sejak kapan?" tanya Chanyeol yang di balas tatapan frustasi dari Baekhyun.
" Tadi Sehun mengatakan bahwa ia izin pergi untuk makan di Cafetaria seperti biasa. Namun hingga 2 jam Sehun belum juga kembali. Dan sekarang ini aku tak tahu dimana dia berada." Ucap Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar.
" Ya tuhan Baek, kau mengkhawatirkan Sehun yang baru menghilang 2 jam ?! Kau tahu Sehun bukan seorang anak kecil yang perlu dikhawatirkan jika menghilang selama beberapa jam. Dan aku yakin Sehun tidak cukup bodoh untuk melakukan hal yang macam-macam." Chanyeol terkekeh.
" kau tidak tahu apa-apa tentang Sehun Park. Kau tak tahu bagaimana kehidupannya. Kau tak tahu bagaimana keadaan Sehun yang sebenarnya selama ini! Dan Aku yakin bahwa sekarang ini Sehun tak sedang baik-baik saja!" Baekhyun menatap tajam Chanyeol. Terlihat matanya memancarkan emosi tertahan. Dadanya naik turun setelah mengatakan hal itu. Dan 2 orang itu kini melihatnya dengan raut kaget dan bingung.
" Sehun sedang kacau sekarang. Aku tahu, dia pasti benar-benar kacau sekarang. Setidaknya jika aku tahu dimana dia, aku bisa sedikit menenangkannya walaupun aku tahu ia tak akan membagi masalahnya dan menceritakannya padaku.
" Lirih Baekhyun. Chanyeol merasa sedikit iba melihat kekalutan Baekhyun saat ini. Ia tak menyangka jika banyak hal tak terduga dari sosok dingin pucat itu.
Sedangkan Kai hanya menatap Baekhyun dengan tatapan datar. Namun pikirannya kini melayang pada kejadian beberapa waktu lalu. Ketika ia melihat Sehun menangis di Cafetria dan pertengkaran kecil mereka.
Yah pertengkaran kecil bagi Kai, namun Kai tak tahu jika ternyata membawa dampak besar bagi Sehun. Mau tak mau Kai kini dibuat penasaran dengan keberadaan Sehun sekarang. Karena jika mengingat cerita Baekhyun, berarti orang terakhir yang bertemu Sehun adalah dirinya.
Dan mendengar Baekhyun mengatakan dengan yakin bahwa Sehun pasti sangat kacau saat ini, Kai menyetujuinya. Sehun sedang tidak baik-baik saja sekarang. Mengingat gambaran bagaimana punggung ramping itu bergetar beberapa waktu yang lalu, semakin membuat kai meyakini tebakan Baekhyun.
Entah apa yang Kai rasakan sekarang, tapi perasaan akan keingintahuan tentang Sehun cukup membingungkan dirinya sendiri. Mengapa sosok Kai yang tidak pernah peduli akan apapun kini berpikir keras tentang apa yang terjadi dengan Sehun. Sosok yang belum seminggu ini resmi masuk dalam kehidupannya.
Tanpa berkata apapun, Kai meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol. Ia sendiri tak tahu mengapa ia menjauh dari 2 orang itu. Kai hanya mengikuti langkahnya yang bertolak keras dengan pikirannya.
*
Dua mata itu terpejam Sempurna. Desir angin memainkan poninya dengan lembut. Sinar matahari siang tampak tak mengganggu sosok itu. Kulit putih bersihnya terlihat bersinar di bawah cahaya cerah itu. Oh Sehun.
Merebahkan tubuhnya di atap sekolah, jejak air mata terlihat samar di kedua pipi putih bersihnya. Jika saja orang-orang melihat sosok Sehun sekarang ini, mereka tak akan percaya jika sosok Sehun benar-benar nyata. Karena memang terlalu indah untuk menjadi nyata.
Hidung manucung sempurna, rahang v-line yang sangat pas dengan bentuk wajahnya, bibir pink merona, dan mata yang memancarkan perasaan teduh dibalik tatapan dinginnya.
Sehun mendesah, ia tak tidur, hanya saja inilah salah satu cara bagaimana ia bisa menghilangkan sedikit bebannya. Sedari kecil ia terbiasa menanggung bebannya seorang diri. Seberat apapun ia akan melaluinya seorang diri. Bahkan kedua orangtuanya akan mengira jika selama ini putranya baik-baik saja. Selama ini mereka menganggap sikap dingin putra mereka itu adalah murni dari dalam diri Sehun. Padahal tidak.
Sosok dingin itu sebenarnya adalah sosok yang Sehun buat mati-matian. Dia sengaja menciptakan sosok dingin itu agar sosok Sehun asli tersembunyi dan tak terlihat. Ia menyembunyikan sebuah telur dalam sebuah brangkas kokoh. Yang hanya segelintir orang saja tahu akan keberadaannya.
" Apa yang kau lakukan disini?" sebuah suara berhasil membuyarkan pikiran Sehun. Ia tahu suara itu. Suara sama yang membuat pikirannya kacau beberapa saat yang lalu. Dan Sehun memilih untuk diam. Tak menjawab pertanyaan Kai.
"Aku tahu kau tidak sedang tidur Oh. Dan aku tahu kau mendengarku." Lanjut Kai. Masih menatap kedua mata yang terpejam. Menunggu saat dimana kedua mata itu terbuka.
"Pergilah Kim, aku tak ingin membuat suasana hatiku buruk lagi." Kata Sehun masih enggan membuka matanya.
" Jadi benar, aku yang membuat suasana hatimu menjadi buruk sampai-sampai kau rela melewatkan beberapa jam pelajaran?"
Selang beberapa menit Kai tak menerima jawaban dari sosok Sehun. Dilihatnya Sehun masih berada di posisi yang sama. Kini Kai menatap sosok Sehun lebih tajam. Mungkin Kai merasa ia cukup terlambat untuk menyadari kesempurnaan wajah Sehun. Yah selama ini dia hanya tahu tentang Sehun namun ia tak pernah peduli.
"Apa kau masih akan tetap berada di sana Kim?" tanya Sehun yang sontak menyadarkan Kai dari pikirannya.
" Baekhyun sedang kalut mencarimu dan ia mengatakan bahwa saat ini kau pasti tak sedang baik-baik saja. Dan kurasa Byun itu benar."
" Pergilah, dan bilang pada Baekhyun jika aku baik-baik saja." Kata Sehun yang terdengar seperti gumaman namun masih tertangkap indera pendengaran Kai.
" Bodoh, apanya darimu yang baik-baik saja Oh?" Kai mendecih.
" Sudah kubilang padamu berulang kali untuk berhenti mencampuri urusanku dan jangan peduli." Kata Sehun sedikit meninggikan nada suaranya. Kai tahu bahwa ia kembali membuat mood Sehun buruk.
" Dan sudah berapa kali juga kubilang bahwa kau tak bisa melarang keadaan yang membuat kita untuk setidaknya saling tahu Oh. " Kai masih menjawab Sehun dengan nada yang tenang. Masih menatap mata yang tak balas menatapnya itu.
" Kau.. " jeda Sehun. Ia membuka matanya, kini menatap langsung iris hitam pekat tak jauh diatasnya.
"Aku... Membencimu... Kai." Sosok beriris coklat itu menekan setiap ucapannya. Matanya menatap tajam kearah Kai.
*
Kai tertegun ketika kedua mata itu terbuka, balas menatap tajam iris hitam miliknya. Kai akui kedua mata itu terlihat indah. Namun kali ini Kai dapat melihat dengan jelas bahwa mata itu menyorotkan keteduhan dan kesedihan yang sangat di dalamnya. Ia dapat melihat mata teduh itu memerah, tak lagi terlihat jernih. Ada perasaan campur aduk di dalamnya. Perasaan akan kesedihan yang bingung untuk mencari sebuah pelarian.
Jejak air mata yang belum sepenuhnya kering menjadi bukti nyata bahwa Sehun benar-benar rapuh saat ini. Jelas ia sepenuhnya bohong ketika mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Sorot mata itu menyiratkan semuannya. Bagaimana rapuhnya Sehun, bagaimana sakitnya Sehun dan bagaimana getirnya Sehun saat ini.
Namun topeng kokoh sok kuatnya masih ia pakai meskipun untuk saat ini topeng itu tak berfungsi dengan baik. Tak bisa menyembunyikan bagaimana rapuhnya Sehun saat ini.
" Apa kau selalu seperti ini?" Tanya Kai tak mengindahkan tatapan kebencian Sehun.
" Seperti apa maksudmu?" Sehun balas menatap iris legam itu.
" Selalu berpura-pura baik-baik saja padahal kau tidak, selalu merasa kau kuat padahal kau sendiri ragu apa memang kau sekuat dugaanmu, dan juga selalu ingin sendiri padahal kau sangat membutuhkan seseorang yang bisa kau bagi dan mendengarkan keluh kesahmu!"
Sehun terdiam matanya kini ia alihkan agar tak bersih pandang dengan iris hitam legam itu. Sehun tahu apa yang Kai katakan tentang dirinya 99 % benar. Sehun jelas bodoh jika ia menyangkalnya. Namun memang apa yang Sehun pikir bisa ia harapkan dari hidupnya?
Semua terlanjur menjadi buruk. Begitu pikir Sehun.
*
Kai melihat kini Sehun telah bangun dari posisinya. Ia berdiri membelakangi Kai, menatap hamparan kota Seoul dari atap sekolah. Sekitar beberapa menit Sehun dalam posisi itu, kemudian ia membalikkan badan menatap lurus kedepan dan berjalan melewati Kai.
"Ck bodoh! Jika kau memang tak kuat dengan hidupmu sendiri kenapa kau tidak bunuh diri saja? Jika kau bertahan seperti ini, kau hanya menyia-nyiakan hidupmu sendiri."
Sehun menghentikan langkahnya. Kini ia berdiri membelakangi Kai.
" Kukira kita sudah cukup membicarakan hal itu." Sehun berkata dengan intonasi dinginya.
" Kau selalu lari dan menyangkal semua ini, padahal kau sendiri tahu bahwa tak selamanya kau bisa lari ataupun menyangkalnya. Akan ada waktu dimana tak akan ada pilihan lain selain harus kau hadapi. Dan sebagai orang yang setidaknya hanya sekedar tahu dirimu, aku ingin mengatakan bahwa jika kau menunggu sampai tak ada pilihan lain, hasilnya akan lebih menyakitkan."
Sunyi, sampai Sehun membalikkan badannya.
" Kumohon Kai, berhenti... Kumohon untuk kali ini berhentilah. Aku marah, karena apa yang kau ucapkan hampir 100 % merupakan kebenaran yang selama ini selalu kusangkal. Semakin kau membahas ini lebih jauh semakin itu membuatku gila!" teriak Sehun frustasi. Air mata yang selama ini selalu ia bendung kuat-kuat kini meluap bersama teriakan penuh emosi.
Sehun seakan melupakan role play yang selama ini ia jalani.
Akhirnya kini ia menangis di depan orang lain. Akhirnya kini ia meluapkan bebannya bersama orang lain.
Kai tertegun melihat Sehun seperti ini. Kai melihatnya, melihat bagaimana Sehun meluapkan segala emosinya dengan teriakan dan air mata itu. Air mata yang membuat Sehun terlihat bukan seperti Sehun yang banyak orang kenal. Air mata yang bisa menunjukkan bagaimana rapuh Sehun sebenarnya. Air mata yang tak sengaja membuat hati Kai berdesir sakit ketika melihatnya.
Tunggu, sakit? Mengapa Kai harus sakit? Bukankah Sehun hanyalah orang asing yang baru memasuki kehidupannya tak lebih dari seminggu yang lalu? Lantas untuk apa rasa sakit melihat Sehun seperti ini muncul?
Kai bergelut dengan pertanyaan – pertanyaan yang muncul di otaknya, namun pandangnyan tetap tak lepas dari sosok di depannya.
" Kumohon Kai, berhentilah setidaknya untuk sekarang..." lirih Sehun dengan kepala menunduk. Air mata masih keluar dari kedua matanya. Kai dapat mengetahui itu meskipun kini Sehun menunduk. Karena melihat bagaimana tubuh tu bergetar pelan, Kai tahu Sehun mencoba setengah mati untuk menahan tangisannya.
" Menangislah lagi jika kau masih merasa belum cukup lega saat ini." Walaupun Kai mengatakan dengan intonasi datarnya, tapi Kai sendiri harus mengakui jika ada rasa peduli di dalamnya. Rasa peduli yang sebelumnya tak pernah muncul untuk siapapun. Kecuali sahabatnya Chanyeol.
Sehun lantas mendongakkan kepalanya. Ia menatap iris legam yang balas menatapnya itu. Ia meihat benar sosok Kai yang berdiri di depannya saat ini. Namun Sehun dapat melihat mata itu bukan mata dingin acuh yang selama ini ia lihat dari sosok Kai. Ada yang berbeda kali ini dengan sorot mata itu. Dan Sehun tak bisa mengartikannya.
TBC
Maafin author ya yang updatenya ngaret sekaliii huhuhu T.T
Apalagi pas update pendek lagi :(
sebenernya aku ngetik ini selama 4 hari sih, tapi sebelum-sebelumnya aku emang sempat melupakan ff ini :') Sampai ada salah satu reader yang ngirim email ke aku, nannyai kabar ff ini.
Terharu aku tuh.. eaa apaan sih Thor alay banget wkwkkwk
Tapi terimakasih ya buat yang sudah ngirim email ke aku, sehingga aku tersadarkan kembali untuk melanjutkan ff ini :')
Dan juga aku ga janjiin bakalan fast up ya, soalnya lagi bingung sekolah juga huftt.Tapi bakal diusahain setiap sebulan minimal bakal up 1 kali.
Oke udah itu aja bacotannya author
Jangan Lupa review yaaa, biar akunya enggak teralalu males buat up. Tapi itu aja kalo klaian masih nungguin ff membosankan ini sih hehhehehe
