.

.

.

Cairan merah pekat dituang. Gelas kaca dipertemukan mesra. Tawa ejek meledak, menghiasi spasi tiap sudut ruang. Kandiler besar yang tergantung di tengah nampak begitu menawan sebagai penyejuk netra.

"Kudengar kau dipindahtugaskan, Moke."

Yang dipanggil hanya tertawa sambil menerima wine dari seorang wanita yang berdandan menor di sebelahnya. Sesekali ia berkedip menggodanya.

"Ya, ke Jepang. Kau kangen?" Moke menenggak lagi minumannya ―entah gelas yang ke berapa.

"Tidak." dengus pihak satunya, "kupikir di sana Yan He bekerja, bukan?"

Moke mendesah lega saat menghabiskan minuman hingga kandas. Ia menoleh dengan sedikit tatapan sayu ke kawannya.

"Kau pikir aku ini murahan apa hingga harus mengejarnya, Lio?"

Mengerlingkan bola mata, "Kau masih."

Moke tertawa, tapi tersedak tak karuan setelahnya. Wanita seksi bergaun lavender menepuk-nepuk punggungnya berusaha meminimalisir gejala, sambil mencuri-curi kesempatan menempelkan belahan dada pada lengan si pria.

"Perkataan macam apa itu? Aku ini laki-laki kalau kau belum tahu!"

"Laki-laki yang bahkan banting setir dari ekonomi ke fashion hanya demi seorang wanita?"

BUGH

Lio dihajar di tempat. Moke mendorongnya hingga terjatuh dari kursi; menindihnya agar tak kemana-mana sebelum melayangkan sebuah pukulan lagi.

"Lio...!"

Lio membalik posisi, ganti membebani bagian atas tubuh Moke. Karena sedang mabuk, tenaga Moke menjadi berkurang banyak.

"Jangan bohongi dirimu sendiri, kawan."

Moke cegukan.

.

.

a little happiness

Yamaha, Crypton, dll.

Panda Dayo.

.

.

.

Yan He hanya ingin menikmati hari liburnya dengan tenang. Ya, memang tenang sampai di hari Minggu ini, justru si tetangga kurang ajar mengetuk pintu dan mengajak ketiga adiknya ke kolam renang umum. Sebagai hiburan katanya.

Yan He mendecih, hampir saja meludahinya kalau tak ingat tempat apalagi di hadapan ketiga adiknya. Tidak cukup kah Matsuzaki Yuu mengganggunya? Apa Yan He masih kurang berbesar hati untuk memaafkannya kemarin?

"Ayo kak, sudah lama kita tak pergi bersama." bujuk Tianyi. Begitu pula Chika dan Ling yang ikut-ikutan merayunya sambil memeluk kaki jenjangnya.

"Tidak ada salahnya mengakrabkan diri dengan tetangga, bukan?" Yuu tersenyum bak malaikat.

Hell no.

"Kalian bertiga saja dengan si mesum itu. Aku lelah." Yan He tak sepenuhnya berbohong. Ia juga butuh istirahat setelah enam hari bekerja keras, tolonglah.

Yuu berkedut kesal, "si mesum?"

"Kak Yan He―" bla bla bla. Yan He memegang kedua sisi kepalanya sendiri karena merasa pusing mendengar ocehan adik-adiknya.

"Pergi saja sendiri! Sudah kubilang aku tidak mau!" bentaknya sambil menaiki tangga ke lantai dua; kamarnya. Ketiga adiknya langsung diam. Mereka tahu setelah kakaknya membentak, berkomentar adalah tindakan terlarang karena bisa saja Yan He main tangan. Mereka takut.

"Yan He, ayolah!" Yuu mengejarnya sebelum Yan He melangkah lebih jauh. Pergelangan tangan kanannya ditahan, mencegah Yan He pergi.

"Matsuzaki-sensei akan mati..." Chika gigit-gigit jari, Tianyi bersembunyi di balik tubuh Ling dan si cabe tak jauh berbeda; khawatir akan nasib guru sekaligus tetangganya.

Yan He berbalik, mengeluarkan senyum termanisnya. Tangan kirinya ia letakkan di atas tangan Yuu yang menahan sisi kanannya.

Yuu merasa mendapat lampu hijau, "Jadi, Yan He―"

Yan He mencengkeram erat pergelangan tangan Yuu.

"Nadiku!"

Yan He melepas genggamannya, menciptakan warna merah dan melanjutkan perjalanannya untuk hibernasi seharian di kamar. Tapi lagi-lagi niatnya diurungkan karena adik kecilnya malah menangis.

"Kak Yan He, tidak sayang kita..." lirih Tianyi yang hatinya paling sensitif.

"Nanti dia akan menamparmu, Tianyi. Jangan nangis!" Ling memeluknya, berusaha menenangkan sekaligus mencegah kemungkinan terjadinya tindakan kekerasan. Sedang Chika tak mengatakan apa-apa, hanya diam sambil bergantian melirik pada Tianyi dan Yan He.

Yan He menghela nafas seraya mengibas tangan. "Baiklah, kalian menang. Siapkan barang-barang kalian sendiri." Yan He tetap berjalan memasuki kamarnya dan menutup pintu agak keras. Ketiga bocah cilik langsung berseru gembira lantas beralih memeluk kaki Yuu.

"Terima kasih, sensei!"

Yuu juga ikut bahagia —mungkin.

.

.

.

Yan He termenung sendiri di dalam kamar. Duduk membelakangi daun pintu kecokelatan serta sedikit terkena sinar dari celah ventilasi. Ia mengambil nafas dalam-dalam sebelum dihembuskannya kembali.

Ponselnya di meja nakas berbunyi. Yan He bergegas bangkit lalu melihat nama penelpon; Kagamine Rinto.

Yan He tidak ingin mengangkatnya. Pria itu pasti hanya akan mengucapkan salam atau invitasi pesta perpisahan. Yan He mendiamkannya hingga nada dering berhenti. Sedikit merasa bersalah, ia memilih mematikan ponselnya dan menyiapkan perlengkapan untuk ke kolam renang bersama ketiga adiknya,

dan juga tetangganya.

.

.

.

"Yan He tidak mengangkatnya." keluh Rinto sambil menatap sendu pada ponselnya.

"Mungkin dia sibuk?" Ring di sebelahnya mencoba memberi asumsi positif.

"Dia pasti kelelahan, ahaha. Aduh padahal aku ingin mengajaknya karaoke bersama rekan-rekan kerja." Rinto jadi merasa sendirian bila Yan He tak bersamanya. Di ruangan karaoke ini, Rin bernyanyi bersama Kiyoteru. Beberapa staff lain bersorak dan hanya ikut bergoyang sesuai irama.

"Kau tahu Yan He seperti apa, Kagamine." Ring menyeruput jusnya.

"Dia tak seburuk itu, kok."

Ring tak berfikir saat mengatakan kalimat, "Karena dia mantanmu?"

"Suzune, kumohon." Rinto tertawa paksa. Itu memang benar. Namun hubungannya dengan Yan He berakhir ketika Rinto mengatakan sudah dijodohkan oleh pihak keluarga dan tak bisa menolak begitu saja karena berbagai pertimbangan. Yan He memilih mengakhiri semuanya daripada semakin sakit hati. Ia menyibukkan diri dengan pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan, seolah tak pernah beristirahat. Rinto meringis pedih, bisa saja ia memperjuangkan Yan He, tapi―

"Kagamine, sana nyanyi."

―Rinto tahu resikonya seribu kali lebih buruk daripada memutus hubungannya.

.

.

.

.

.

"Kau tak bisa menyetir?"

Yan He terlihat marah, ―dan memang sedang marah. Ia menunjuk-nunjuk ke arah Yuu tidak sopan,

"Kau mengajak kami dan setelah kupinjami kendaraanku, kau bilang tidak bisa? Lelaki macam apa kau ini. Cih, pasti gadis yang jadi istrimu nanti tidak waras."

Non, ada yang sakit hati di sini.

"Sensei biasanya naik motor ke sekolah." jelas Chika sebagai adik tertua. Lalu ketiga bocah cilik itu hom pim pa untuk menentukan posisi di jok depan.

Yan He benar-benar pusing.

"Baiklah, aku yang menyetir. Aku tidak mau terlihat seperti supirmu, jadi kau duduk di jok depan, Matsuzaki."

Terdengar desahan cempreng akibat kecewa.

"Aku di belakang tidak apa-apa, kok." Yuu tertawa renyah. Yan He justru menatapnya tajam seakan hendak mengulitinya hidup-hidup. Yuu meneguk ludah, agak takut melihatnya. Rupanya persis seperti pemain film antagonis di drama televisi yang sering dilihatnya.

"Ba-baiklah." Yuu memilih aman.

Barang-barang lalu mulai dimasukkan ke dalam mobil. Dua buah tas berisi pakaian ganti. Ketiga adik Yan He membawa barang-barang lain seperti topi pantai dan kacamata hitam.

Yuu duduk di jok depan sebelum menutup pintu mobil. Sebenarnya Yuu berencana mengakrabkan diri dengan sang tetangga untuk menghindari kekerasan terhadap anak di masa depan. Ia tak mau melihat bocah seperti Ling diperlakukan semena-mena. Salah satu cara mengetahui kepribadian orang adalah dengan mengajaknya jalan-jalan dan ngobrol bersama. Mungkin saja Yan He awalnya bukan seseorang yang berkepribadian keras, pasti ada sesuatu yang mengubahnya. Yuu harus hati-hati dengan penyelidikannya terhadap perempuan yang satu ini.

"Ok, kita siap. Sabuk pengaman." Yan He memanaskan mobil, menimbulkan sedikit getaran. Ketiganya patuh, buru-buru memasang sabuk pengaman sebagai salah satu tindakan melindungi diri apabila terjadi kecelakaan. Yuu pun turut memasang seat-beltnya.

"Siap, anak-anak?" Yan He bertanya.

"Siap, kapten!" seruan Ling yang terdengar paling keras di antara semuanya.

Yuu mulanya mengira perjalanan ini akan aman karena Yan He adalah seorang wanita. Namun angannya pupus ketika Yan He secara tiba-tiba melajukan mobil dengan kecepatan tinggi hingga Yuu sedikit terjungkal pada sandaran.

"Kapten memang yang terbaik!" Chika berteriak. Tianyi bertepuk tangan dan Ling mengangkat satu tangan ke atas bak suporter bola menyoraki tim favoritnya.

"Wohoooo!"

'Perempuan ini gila!' batin Yuu, melirik pada Yan He di jok sebelah. Yan He mengemudi sangat cepat seperti pembalap. Persneling turut diputar-putar hingga Yuu tak lagi tahu ia memasang gigi berapa karena tubuhnya sendiri terguncang-guncang tidak karuan.

"Cih." Yan He melihat dua mobil agak berhimpitan beberapa belas meter di depan.

"Berdoalah, anak-anak."

Chika, Ling dan Tianyi saling berpelukan satu sama lain di belakang. Sementara Yuu yang tak mengerti Yan He mau apa. Jawaban ia dapatkan ketika Yan He memiringkan mobilnya sendiri sekitar tiga puluh derajat. Yuu panik bukan main karena ia yang kini tiba-tiba tubuhnya naik.

"Hwaaaaa! Yan He!" keluar juga suaranya. Yan He tak mendengarnya, fokus melihat jalan. Akhirnya mereka terbebas dari halangan dan mobil melaju secara datar di atas jalan.

Yuu jantungan.

Sekitar lima menit kemudian, mereka sampai di kolam renang umum. Yan He parkir secara brutal di tempat yang jarang kendaraan. Ketiga adiknya turun setelah melepas sabuk pengaman dan membawa tas mereka secara gotong royong bertiga.

Yuu kepalanya masih terasa berputar-putar.

"Matsuzaki, ayo turun." Yan He mencabut kunci mobil dan diletakkan di tas kecil yang ada di dasbor, lalu mengenakannya.

"Matsuzaki?" ulangnya. Ia melihat Yuu yang nampak seperti orang pingsan dan arwahnya sebentar lagi akan lepas dari raganya. Yan He mengguncang bahunya pelan.

Yuu mengerjap, sedikit tersadar. Ia mendapati Yan He di sebelahnya yang menatapnya lekat-lekat.

"A-ah, kita sudah sampai, ya?" tebaknya sendiri. Yan He mengangguk, dan melangkah turun. Disusul Yuu yang keluar dari mobil.

"Aduh, perutku mual." Yuu menutup mulutnya, menahan diri agar tidak muntah. Di luar, ketiga bocah berbaris rapi. Yan He mengambil tas milik Yuu yang ada di dalam melalui jendela sebelum diserahkan pada pemiliknya. Yan He lalu mengunci mobilnya dari luar menggunakan sebuah remote.

"Baik, kutu kupret. Kalian bertiga boleh berenang dengan durasi dua jam. Tidak ada tambahan waktu karena pasti kalian jadi ubur-ubur. Aku akan menunggu di pinggir." penjelasan Yan He membuat ketiganya berlari bahagia menuju ke loket tiket. Yan He melihat Yuu yang wajahnya jadi pucat.

"Kau baik-baik saja, Matsuzaki?"

"A-ah, aku tidak tau, rasanya aku ingin muntah."

Yan He terbahak-bahak. Tanpa sadar membuat Yuu terbeliak karena melihat senyum wanita itu.

Yan He lalu menutup mulutnya saat menyadarinya. Ia melirik pada Yuu beberapa detik, kemudian melepas tangannya.

"Kau bukan laki-laki, Matsuzaki." Yan He berjalan menuju tiga adiknya yang melompat-lompat di depan loket.

Rasa mual Yuu hilang entah ke mana.

.

.

.

Suasana di kolam renang umum sangat ramai. Yuu menemani Chika, Ling dan Tianyi berenang sebagai pengawas agar tidak tenggelam. Chika dan Tianyi sudah menguasai gerakan dasar. Yuu lalu mengajari mereka gaya lain seperti gaya dada. Alangkah lucu melihat Ling yang mencoba tapi berakhir kelelep dan ditolong Yuu pada akhirnya. Tianyi melihat sambil memegang erat ban kuning yang disewanya dari petugas kolam tadi.

"Akh, sial!" Ling menggerutu kesal.

"Perlu kubantu, Ling?" tawar Yuu ikhlas.

"Tidak, aku tak boleh bergantung pada orang lain, itu kata kak Yan He padaku." Ling lalu menyejajarkan kedua tangan di depan lalu membuka jalur, sementara kakinya berusaha mengepak.

Yuu memandangi Yan He yang mengamati mereka di bawah salah satu fasilitas payung. Wanita itu tak mengganti pakaian kasualnya, padahal udara sedikit menyengat hari ini. Ia cuma duduk-duduk tanpa melakukan sesuatu yang berarti.

Yuu berenang ke pinggir dan memanggilnya, "Kau tak mau renang, Yan He?"

Yan He menjawab ketus ke arahnya, "Tidak jika bersamamu."

Ah, masih marah toh, hahaha. Tapi Yuu tak kehabisan akal, ia masih mencoba membujuknya.

"Apa kau memang semenyedihkan ini, nona keras kepala?"

Yan He menahan emosinya yang mendadak meluap. Si Matsuzaki itu...

"Atau nona Yan He tak bisa berenang?" Yuu masih sibuk mengompori sambil memberi tawa ejek padanya.

"Ma-tsu-za-ki." Yan He masih menahan dirinya. Nanti saja kalau pulang bakal ia hajar habis-habisan.

Yan He bukan orang temperamen

"Nona Yan He kulitnya tidak mulus?"

Yan He bukan orang temperamen

"Nona Yan He tidak pernah mandi, ya?"

Yan He adalah orang temperamental mulai saat ini!

Ia mendengus kesal sambil menuju ke belakang. Sekitar sepuluh menit, ia kembali dengan setelan bikini berwarna hitam sambil berkacak pinggang, membuat Yuu tertawa penuh kemenangan. Ia memberi isyarat tangan agar Yan He segera masuk kolam. Yan He mengikuti instruksinya lalu bergabung dengan ketiga adiknya yang mengapung-apung di tengah.

"Ayo, Ling. Kakakmu melihat, loh." Yuu tersenyum ―tapi bagi Ling itu adalah senyum Dewa Kematian. Ia memraktekkan gerakan yang dipelajarinya dan melesat ke sisi kiri kolam, lalu kembali ke tempat semula. Entah keajaiban dari mana hingga ia tiba-tiba menguasainya dalam sekejap.

"Anak pintar!" puji Yuu sambil mengacungkan jempol, memujinya.

Ling menatap jengah, 'di balik wajah manismu, kau ternyata setan, sensei.'

Yan He tak tertarik melakukan apapun di dalam kolam yang hanya airnya hanya sebatas perut orang dewasa sepertinya dan Yuu. Kenapa sih laki-laki itu ngotot SKSD dengan adik-adiknya?

Astaga, jangan-jangan dia sindikat penculik anak?

Yan He pokoknya harus waspada dan tak boleh melepas pandangannya dari Yuu barang sedetik.

"Yan He, Tianyi!" Yuu berseru saat ban Tianyi terseret gelombang dan semakin menjauh menuju kolam sisi lain yang lebih dalam. Yan He terpaku, lidah kelu dan tubuh kaku saat melihat adiknya memegang ban untuk bertahan agar tak tenggelam.

Kenapa ia tak bisa menggerakkan kakinya?

Yan He, kau kenapa?

Sekeras apapun Yan He mencoba, kakinya tak menuruti perintah otaknya, seolah menempel dari lantai kolam. Beruntung Yuu sudah kesana duluan dan menarik Tianyi kembali ke dekat mereka.

"Yan He, kau ini kenapa? Aku kan sudah―" Yuu hendak protes, tapi tak jadi begitu melihat air muka Yan He yang sedikit berbeda. Seperti...ketakutan?

Yuu hanya dapat menikmatinya beberapa detik karena setelahnya Yan He memasang muka yang biasanya.

"Karena kau bukan atasanku." katanya sambil menyilangkan lengan.

"Ugh, sombongnya." Yuu mendengus, wanita itu sangat aneh. Mereka lalu menyudahi acara berenang setelah dua jam berlalu. Chika dan Ling saling bercerita gerakan baru mereka, sedang Tianyi hanya mendengarkan. Ketiganya menuju kamar mandi anak-anak yang disediakan khusus oleh pengelola dengan mengangkat tas berisi pakaian mereka sendiri. Yuu mengambil handuknya sendiri dari tas di bawah payung. Mengernyit heran saat mengetahui Yan He tak memiliki tanda-tanda menyusul adiknya.

"Kau tak membilas diri?" tanyanya.

"Nanti juga kering sendiri. Sana." usir Yan He. Yuu berlalu dengan sejuta tanya di benaknya.

Yan He duduk kembali, memandangi kolam yang masih ramai. Ia memilih menunggu adik-adiknya selesai mandi saja, nanti ketika di rumah ia akan ganti karena pakaian yang dikenakannya ia buang saat membeli bikini di salah satu toko dekat situ.

"Yan He?"

Yan He menoleh saat suara seorang asing memanggilnya. Ia sangat terkejut hingga tak sempat berkata.

"Tak kusangka kita akan bertemu di tempat seperti ini."

Yan He berseru. "Moke?! Kau sedang apa di sini?"

Moke duduk di sebelah Yan He, lalu menyanderkan kepalanya di paha wanita itu, seenaknya. Namun Yan He tak memedulikannya.

"Apa katamu? Lio ngebet ingin mengajakku ke sini, mengambil latar kolam untuk tempat pemotretan. Ia sedang berbicara dengan pengurus tempat ini." jelasnya. Tidak ada salahnya bersenang-senang sebelum dirinya mulai resmi bekerja besok.

"Sejak kapan kau kembali ke Jepang?" Yan He menaikkan satu alisnya.

"Dua jam lalu. Kau tahu, sekarang aku bekerja di Bplats Jepang."

Yan He tak sengaja mengingat konversasi di kantor tentang pergantian kepala cabang.

"Jadi...maksudmu―"

Yan He tak pernah dapat menyelesaikan kalimatnya kala Moke mempertemukan bibir keduanya. Yan He menarik mundur kepalanya, tapi Moke menahannya kuat-kuat. Memaksa wanita itu membuka bibirnya untuk pertarungan lidah.

Yan He langsung meninju perut Moke hingga dia mengaduh kesakitan dan menyingkir dari pangkuannya.

"Ayolah, Yan He! Itu hanya ciuman, tidak lebih!" Moke kesal.

"Maaf, Moke. Aku bukan Yan He yang kau kenal dulu." Yan He bangkit berdiri sambil memanggul tas Yuu sebagai alasan untuk kabur. Beberapa orang melihat mereka, tapi Yan He tak peduli. Ia melenggang begitu saja, berniat menyusul Yuu. Moke masih mengejarnya, dan ia berhenti saat melihat seseorang keluar dari kamar mandi laki-laki.

"Loh? Yan He? Tasku mau kau bawa kemana?"

Yan He melihat kesempatan untuk kabur dari Moke.

"Aku sengaja membawanya agar kita bisa cepat pulang, sayang."

Yuu menganga. Yan He masih waras, kan? Atau tadi kepalanya terbentur sesuatu sampai sengklek begini?

"Apa maksud―"

"Nah, Moke, aku harus pulang sekarang. Kami baru saja merencanakan bulan madu yang ketiga." dusta Yan He makin menjadi.

"Yan He, tunggu, jelas―" Yuu tak diberi celah untuk menyela dan menanyakan tujuan Yan He berbohong pada seorang pria.

"Jangan malu-malu begitu, sayang."

Yan He sudah gila! Positif gila! ―teriak Yuu dalam hati.

"Tidak mungkin wanita jalang sepertimu menikah selain denganku."

Yan He dan Yuu terdiam. Yan He tak ingin Yuu terlibat lebih jauh, maka ia mendorong-dorong Yuu untuk segera kembali ke parkiran, sekalian ke kamar mandi anak-anak untuk menjemput ketiga adiknya.

"Tak ada yang bisa menerimamu selain aku, Yan He!" serunya.

Yan He tak menjawab. Ia masih mendorong Yuu agar terus melangkah ke depan. Meninggalkan Moke di belakang yang mengepal erat kedua tangannya. Tapi rupanya ia tak diam, masih menyuarakan sesuatu yang mungkin mengganggu di telinga Yan He.

Yuu semakin penasaran dengan tetangganya yang satu ini.

Yan He berhenti, membuat Yuu melakukan hal yang sama. Yan He melirik antara pria itu dan dirinya. Dan tak perlu berjinjit bagi Yan He untuk meraih bibir ranum Yuu karena tinggi mereka sama.

Yuu melebarkan matanya.

.

.

.

.

.

.

Bersambung