"Anggap ciuman itu tak pernah terjadi."

Yuu hanya diam sepanjang perjalanan pulang mereka, tak kuasa menatap Yan He di sebelahnya. Ketiga adik Yan He sedikit lelah dan tertidur, untung perempuan itu mengerti lalu membawa kendaraannya pada kecepatan standar. Cahaya keemasan membias melalui kaca, mengintip dari celah pepohonan di pinggir jalan dan mengenai wajah mereka.

"Bukan masalah. Tapi tolong jangan seret aku lebih jauh, aku tak mau terlibat sandiwaramu."

"Memangnya siapa yang mau?"

Yan He menyengkeram setirnya erat, mungkin berniat menyakiti properti tak bersalah itu meski akhirnya ia tahan.

"Maaf, Matsuzaki. Kuharap tidak akan ada kejadian seperti ini lagi ke depannya."

Yuu dapat melihat raut wanita itu yang tampak mencemaskan sesuatu. Mungkin memang sepatutnya, dan Yuu tak akan menanyainya macam-macam. Yang telah berlalu, biarlah. Lagipula satu atau dua ciuman mungkin tak masalah baginya.

Eh?

.

.

.

.

.

.

.

.

.


A little happiness

Vocaloid © Yamaha, Crypton, Internet, Bplats, dll.

Story © panda dayo

Gerakan otp sendiri #terserah

AU. Typo(s).


.

.

.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan, Moke?"

"Kubilang, aku hanya menciumnya."

Lio menampar pelan mukanya sendiri. Baru juga ditinggal sebentar, Moke sudah keluyuran dan mendapat hasil kalah telak. Lio tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran lelaki yang merangkap sebagai sahabatnya sejak kecil.

"Katamu kau tak mengejar gadis itu." desisnya, mengungkit aib serta luka lama.

"Siapa yang mengejarnya? Aku hanya sedikit bermain dengannya karena bosan." Moke terlihat enggan, namun Lio yang tahu seluk beluk kepribadian Moke lantas tak percaya begitu saja.

Lio bergegas menyeret Moke kembali ke mobil tadi ketika ia selesai dengan sirveinya. Hari ini sudah sore, kolam renang akan ditutup.

Begini saja, bagaimana perasaanmu saat menemukan teman yang depresi hampir menenggelamkan diri di kolam renang anak-anak?

Oh, astaga. Lio tidak dibayar untuk menjadi baby sitter seorang Zhiyu Moke.

"Moke, besok kau mulai kerja. Aku bukan ibumu, jadi tolong jangan bertingkah aneh-aneh lagi." Lio tidak mau selalu terseret dalam tindak tanduk temannya. Ia kesusahan setia waktu Moke berulah, tolonglah. Mau ditaruh mana harga dirinya?

Xiu Lio sudah lama mengenal Zhiyu Moke, mereka selalu berada di sekolah yang sama. Ayah Xiu Lio kebetulan merupakan manajer personalia di perusahaan jual beli saham milik keluarga Zhiyu. Secara otomatis dan tanpa seleksi, Lio menjadi babu tak langsung Moke.

Moke mendengus kesal. Lio tahu betul sahabat karibnya sedari kecil itu mendengarnya, tapi ia malas menjawab karena harga dirinya yang tinggi.

Singkat kata; tsundere.

"Di kantor Bplats, kan?" tanya Moke memastikan. Memastikan apakah otaknya geser atau tidak. Lio mengangguk.

Dari cermin dasbor, Lio dapat melihat refleksi wajah Moke yang tersenyum lebar.

Mereka kemudian sampai di sebuah studio yang sedikit jauh dari jalan raya, memasuki gang. Terhenti pada salah satu gedung tinggi dengan halaman luas yang berfungsi sebagai temat parkir. Lio ada pemotretan hari ini setelah menyurvei tiap sudut kolam renang umum, dan dimasukkan dalam daftar rencana berikutnya.

"Moke, jangan kabur lagi. Aku tidak mau kena masalah." nasihat Lio.

"Aku mau makan." Moke berusaha mencari alasan.

"Diam, nanti kalau pulang kumasakkan. Ini cuma setengah jam." ancam Lio.

Lio kemudian berjalan pergi, masuk ke dalam studio. Sedangkan Moke menunggunya di mobil yang berada di area parkir. Ada banyak mobil berjejer di sini, mungkin punya model lain.

"E-eum, permisi, tuan."

Moke melihat seorang gadis mengetuk kaca jendela mobilnya. Moke pun segera membuka pembatas translusen yang menggelap itu.

"Ada apa, nona?" tanyanya.

Rambut pirang gadis itu bergerak karena tiupan angin. Moke dapat merasakan hembusannya sejenak akibat ventilasi yang terbuka di sampingnya.

"Err, bolehkah saya masuk sebentar? Saya dikejar-kejar stalker. Saya mohon." wajahnya ketakutan akan sesuatu.

Moke membuka kunci pengaman dan menyuruh gadis itu masuk ke jok belakang, gadia itu bergegas masuk dan bersembunyi di spasi antar jok. Moke dapat melihat seorang lelaki aneh dari kejauhan, nampak seperti mengejar sesuatu. Di lehernya tersemat kamera. Perawakannya sedang dengan rambut keputihan yang tertutup dengam topi. Moke mendapatinya terlihat kesal dan segera menghilang di antara kendaraan.

"Dia sudah pergi, nona."

Perempuan itu mengangkat kepalanya, sedikit mengintip dari jendela ke arah luar.

"Ah, terima kasih, tuan. Mohon maaf sudah merepotkan." ia terlihat sungkan.

"Tidak, bukan masalah. Ini hanya hal kecil."

Moke mendengar suara pintu terbuka, gadis itu sudah keluar kala keadaan dirasa aman. Dari kaca jendela yang terbuka setengah, gadis itu membungkuk. Ia kemudian menyerahkan kartu namanya.

"Saya akan senang jika dapat membalas budi pada anda, tuan."

Moke membaca sekilas. Anri Rune.

"Oh, baiklah. Sama-sama, lain kali bawa teman jika keluar, terutama laki-laki." saran Moke. Ia kemudian menyimpan kartu nama itu di saku kemejanya.

"Terima kasih. Saya permisi dulu." gadis cantik itu berlalu, dan Moke melihat ia masuk ke studio.

"Dia juga model? Pantas saja dikejar stalker begitu." gumam Moke. Setelah setengah jam menunggu, Lio akhirnya keluar juga.

"Kau tidak kemana-mana, kan?"

Lio langsung masuk ke bangku kemudi, membuka kunci dengan remote cadangan yang ia bawa, menyalakan mesin dan memanaskannya. Lio melihat raut masam Moke di sebelahnya.

"Kau kenapa, Moke?"

"Jadi model itu susah, ya."

Lio tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin diucapkan oleh Moke.


.

.


"Moke, kenapa kau masih mengejarnya?"

"Tidak boleh?"

Moke dan Lio menghabiskan waktu mereka untuk ngobrol usai sesi pemotretan beberapa model di salah satu studio. Lio menjadi babu seperti biasa, menenteng kresek putih berisikan jajanan dari minimarket. Keduanya memasuki lobi hotel lalu menuju lift, sebelum berjalan ke ruang mereka menginap selama di Jepang.

Ruang ini tergolong cukup luas. Biasanya Moke akan tidur di sofa dan Lio di tempat tidur. Sederhananya, Lio punya riwayat nyeri punggung serta mudah masuk angin, dan Moke tidak mau dikira belok padahal Lio adalah babunya. Jadi, mereka membuat kesepakatan sendiri soal ini karena hanya ada satu kasur di sana.

"Mau makan apa, Moke?" tawar Lio.

"Yang enak di lidahku."

"Sup daging babi, mau? Atau katsu saja?" Lio memastikan.

"Katsu." jawab Moke ogah-ogahan sembari melepas dasi. Ia kemudian berganti pakaian, sementara Lio mulai memasak.

"Moke, kau yakin ingin menikahi wanitamu?" tanya Lio di sela-sela acara memasaknya.

"Kenapa tidak? Ia milikku." Moke memakaikan kaus biru muda ke tubuhnya.

"Kau tidak bisa memaksa seseorang mencintaimu, tau."

"Sejak kapan kau jadi tukang ceramah?" dengus Moke tidak suka.

"Hanya pendapatku." Lio sing a song.

Moke duduk dekat meja persegi panjang berwarna hitam yang rendah. Ia menyetel asal channel televisi untuk ditonton. Sebotol bir mampir duluan ke meja, disertai gelas untuknya. Moke tidak tertarik minum saat ini, pikirannya melayang kepada pria yang dicium Yan He di kolam renang.

"Siapa dia? Aku belum mendengar Yan He punya pacar baru. Argh." Moke garuk-garuk kepalanya sendiri. Berita yang sedang disiarkan mengenai pembunuhan tidak masuk ke otaknya.

"Tidak usah patah hati begitu, Moke." Lio kembali sibuk di dapur yang tak jauh dari posisi Moke berada.

"Aku jauh-jauh ke Jepang untuk mendapatkannya kembali, harusnya kau mendukungku." cibir Moke.

"Wanita mana pun akan marah jika diselingkuhi, tahu?" Lio mengucapkan aib kawannya dengan sengaja.

Moke menganga. "Kau ini wanita, Lio?"

"Kurobek mulutmu nanti."

"Aku tidak selingkuh, tahu."

"Tapi bagi wanitamu, selingkuh tetaplah selingkuh, Moke." Lio memotong-motong daging yang akan dimasak. Ia juga telah menyiapkan bumbu. Panci dipanaskan, diisi banyak minyak goreng. Lio kemudian mengambil tepung di almari penyimpanan. Dari dalam toples berisi terigu, ia menuangkannya ke dalam sebuah wadah putih seperti mangkuk. Mengira-ngira porsinya seorang diri.

"Kau ini temanku atau bukan, sih?"

"Aku penasihatmu, Tuan Muda."

Moke beralih meletakkan dagunya ke meja, menumpukan kepalanya di sana. Ia merasa kesal karena Yan He menemukan pengganti dirinya secepat ini. Padahal, ia pikir, Yan He masih mencintainya sama seperti dulu.

Apa ia terlalu banyak berharap? Ataukah ia harus menyerah sekarang?

"Moke, jangan ngiler di atas meja." peringat Lio.

"Kubunuh kau nanti, Lio!"


.

.

.

.

.

.

.

.

.


Ling, Tianyi, dan Chika, melambai-lambai ke arah Yuu sebelum mereka masuk ke dalam rumah. Sementara Yuu dan Yan He masih berada di luar sisi mobil, hendak berbicara beberapa patah kata. Mobil dikunci Yan He, kini mereka bersandar pada bodi samping sedan merah milik Yan He.

"Siapa lelaki tadi, Yan He? Kalau dia pacarmu, mati aku." Yuu mengeluarkan pendapatnya. Ia tidak mau mengurusi kehidupan pribadi siapa pun, apalagi Yan He, dan ia tidak ingin kepalanya dipenggal atau menjadi target pembunuhan bila ia mendekati wanita yang sudah memiliki kekasih. Ia masih ingin hidup panjang, oke.

Yan He hanya menghela nafas. "Dulu, dia memang pacarku. Tapi, kami berpisah karena suatu alasan. Puas, Matsuzaki?" Yan He melirik ke arahnya. Yuu seketika merasa terintimidasi dengan tatapan itu.

"Oh, begitu. Tidak apa, sih. Aku hanya ingin tahu saja. Beritahu Ling, jangan menambah catatan kriminalnya jika masih ingin naik kelas. Aku berharap padamu." Yuu berusaha menutupi hatinya yang berteriak penuh cemas.

"Heh? Kau mengharapkan apa dari wanita sepertiku? Aku sibuk, tahu." Yan He melenggang pergi dan membuka pagar rumahnya yang sempat tertutup. Yuu hanya berganti direksi, beranjak menuju rumahnya sendiri tepat di sebelah rumah wanita itu.

Tunggu.

Kenapa Yan He tidak bilang saja kalau dia ini pacar—palsu—nya dan malah menciumnya?

Yuu tidak mau memikirkannya lagi. Ia masih merinding. Bergegas ia menuju kamar mandi, menyalakan air keran wastafel dan membasuh bibirnya sendiri.

Sialan.

Kenapa rasa bibir Yan He enggan menghilang dari sana?

Yuu tidak mau pusing. Ia ingin segera tidur karena kelelahan mengajar trio bersaudara dari China itu. Yuu menyalakan lampu kamar dan membetulkan gorden, tepat di saat itu ia melihat Yan He tengah memegang ponselnya sendiri sambil melamun. Meski pun agak jauh dan terhalang kaca jendela, tapi Yuu bisa melihatnya jelas.

Yan He menangis.


.

.

.

.


"Kak Yan He, tadi ngobrol apa sama Matsuzaki-sensei?"

Chika bertanya tepat ketika Yan He masuk ke dalam rumah. Yan He hanya menggeleng seraya berlalu ke kamarnya di lantai dua. Chika hanya mengernyit, begitu pula dengan Ling dan Tianyi yang tengah beres-beres.

"Oya, anak-anak, jangan lupa cuci baju kalian dan setrika sendiri! Aku ada deadline besok!" teriak Yan He dari dalam kamar.

"Yes, sir!" jawab ketiganya kompak sembari memberi hormat, meski pun Yan He juga tidak akan bisa melihatnya.

"Eh, Ling, renangmu berkembang pesat, ya. Syukurlah." Chika menepuk bahu Ling.

"Ini semua berkat Matsuzaki-sensei." Tianyi menambahkan. Ling menangis di dalam hati.

'Aku tadi hampir saja mati!'

"Oya, Ling, apa kak Yan He tidak memarahimu—em...yang di sekolah..." tanya Tianyi takut-takut.

"Cuma tamparan biasa. Kita semua mendapatkannya, bukan?"

Chika dan Tianyi mengangguk.

"Semenjak putus dari kak Rinto, kak Yan He selalu begitu. Kasihan, kak Yan He pasti sangat sendirian sekarang."

"Aku tidak akan berbuat nakal lagi, maaf. Aku janji. Demi kak Yan He dan juga kalian." ucap Ling penuh sesal. Meski ia yakin tindakannya membela saudaranya adalah benar, namun jika ia hanya menambah beban pikiran kakak tertuanya, ia tidak akan mengulanginya. Di antara mereka, Ling yang sering kena tampar karena perilaku buruknya.

"Kupikir, Ling juga tidak salah, kok. Kak Yan He cuma sedikit emosi, mungkin." Tianyi memelankan suaranya ke akhir.

"Dan aku juga masih ingin naik kelas. Kata Matsuzaki-sensei, kalau aku melanggar lagi, aku tidak akan naik kelas." ujar Ling. Jelas saja ia takut tidak naik kelas, dan menjadi bahan olokan bocah kaya Hatsune Mikuo.

"Matsuzaki-sensei diam-diam mengerikan, ya." Chika swt.

"Ya sudah, ayo kita beres-beres dulu. Nanti kita belajar lagi." ajak Tianyi, membuka tas besar yang mereka bawa saat berenang tadi.

"Aku tidak pernah suka belajar." Ling berpura-pura muntah.

"Jangan begitu, Ling. Setidaknya jangan permalukan dirimu sendiri." Chika berusaha memberi motivasi.

Ling ingin muntah sungguhan sekarang.


.

.

.

.


Yan He tidak tahu kenapa ia memutar musik melankolis di ponselnya.

Hari ini begitu banyak yang terjadi. Terutama Zhiyu Moke. Apa yang ia lakukan di Jepang? Sepenting apa? Dan masih banyak pertanyaan yang tak terjawab di benaknya.

Nada ponsel berganti. Sebuah panggilan masuk, dan Yan He mengangkatnya tanpa melihat nama.

"Halo, Yan He di sini."

"Yan He? Kau kemana? Dari pagi aku menelponmu."

Yan He terjengit. Suara ini—

"Rinto? Ada apa? Kau bukan atasanku sekarang, tak ada yang perlu kita bicarakan." Yan He hendak mengakhiri panggilan, namun Rinto keburu berteriak mencegah dari seberang.

"Tunggu! Aku cuma mau bilang, aku pindah ke Kanada! Aku ingin memberimu alamat dan telponku di sana, mungkin suatu saat kau membutuhkan bantuanku."

"Sayangnya aku tidak perlu bantuan darimu."

"Yan He, ini demi adik-adikmu juga. Anggap saja aku ini saudaramu sekarang, oke? Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan."

Yan He memijit keningnya. Perkataan Rinto ada benarnya. Ia sudah tidak punya siapa-siapa, dan tidak ada keluarga yang menerimanya. Yan He rasa ia tak punya pilihan lain. Selama ini demi adik-adiknya, ia akan setuju saja.

"Baiklah, kirim lewat email. Ada lagi?" Yan He berusaha menekan emosinya.

"Kalau kau sempat, datang ke pernikahanku."

"Aku sibuk." sela Yan He cepat.

"Sayang sekali kalau begitu. Yah, memaksa pun tidak akan ada hasilnya. Yan He—"

Yan He mengakhiri panggilan. Sebuah pesan suara masuk beberapa detik kemudian. Sama, dari Rinto. Yan He lekas memutarnya dan ingin cepat-cepat istirahat.

"Aku selalu mencintaimu."

Yan He menutup ponselnya sembari memejamkan mata, merematnya begitu erat karena luapan perasaannya. Perlahan, ia terisak. Wanita mana yang tak sakit hati mengetahui kekasihnya menikahi wanita lain?

Tentu saja, tidak ada seorang pun.

Yan He yakin ia sudah berubah jadi lebih baik, dan Yan He yakin bahwa impian kecilnya akan terwujud bersama dengan Rinto. Sayang, takdir berkata lain. Mempermainkan Yan He dalam labirin bernama kehidupan, terus membuatnya tersesat di arah yang sama dan tak membiarkannya menemukan jalan keluar

Ia bertemu Rinto saat pertama kali bekerja di Bplats. Rinto sangat baik kepadanya dan menaruh perhatian. Satu kantor juga tahu bahwa dalam waktu singkat mereka sudah lebih dari sekadar teman.

Tapi, mereka harus berpisah di tengah jalan tanpa diinginkan. Yan He tahu Rinto pasti diancam kedua orang tuanya yang memang tak memberi restu pada mereka. Rinto pernah sekali membawa Yan He menemui orang tuanya, dan ketidaksetujuan langsung melayang. Mereka tidak bisa menerima latar belakang Yan He yang tidak jelas.

Nafasnya makin memendek. Suara isakannya berusaha ia redam.

Yan He tidak tahu apa yang lebih buruk dari ini.

Dimana pun itu, ia tak pernah bisa meraih siapa yang ia cinta.


.

.

.


Keesokan hari berjalan seperti biasa. Yan He masih mengantar adik-adiknya ke sekolah, dan ia justru berpapasan dengan Yuu yang juga baru saja hendak memasuki gerbang dengan motornya.

"Matsuzaki-sensei!" Chika, Tianyi, dan Ling turun dari mobil Yan He dengan riang ketika melihat Yuu. Yuu otomatis mengerem, mematikan mesin motornya.

"Halo, anak-anak." sapa Yuu. Ia melihat Yan He membuka kaca jendelanya.

"—dan halo, Yan He." Yuu memelankan suaranya.

"Apa aku bisa percaya padamu untuk menjaga adik-adikku?" tantang Yan He.

"Tentu saja, nona Yan He." Yuu berkedut kesal.

"Sampai jumpa. Aku harus masuk kerja." Yan He menutup kembali kaca mobilnya dan memundurkan mobilnya, diputar ke lain arah dan melaju kencang.

"Kakak kalian kerja dimana? Sepertinya sibuk." Yuu sekarang menuntun motornya ditemani anak-anak kecil ini. Selama jadi tetangganya, Yuu tidak pernah mau tahu kehidupan Yan He. Atau mungkin sekarang ada yang berbeda sehingga ia malah makin penasaran dengan wanita itu?

"Oh, kak Yan He jadi desainer di perusahaan kak Rinto." jelas Chika.

"Kak Rinto?" heran Yuu.

"Bos sekaligus mantannya." sela Ling. Tianyi hanya manggut-manggut, membenarkan.

Yuu mendadak berpikir bahwa mantannya Yan He itu banyak. Kasihan. Apa yang laki-laki lihat dari sosok Yan He yang seperti itu?

"Oh—begitu." Yuu kemudian memarkirkan motornya, dan mengantar tiga bersaudara ke kelas masing-masing sebelum pergi ke ruang guru untuk memeriksa absensi. Di sana baru ada satu guru yang datang, Mizki—guru pembimbing sebelum Yuu mengambil alih. Sekarang Mizki dimutasi ke posisi Wakil Kepala Sekolah.

"Pagi, Mizki-sensei."

"Pagi juga, Matsuzaki-sensei. Mai menghitung absensi?"

"Ah, iya. Absensi bulan lalu belum kuhitung." Yuu duduk di kursi kerjanya, sedikit jauh dari Mizki yang entah sedang apa dengan komputer di mejanya. Mungkin mengetik berkas—dia Wakasek, pasti sibuk.

"Bagaimana dengan Ling, Matsuzaki-sensei?"

Yuu keselek ludahnya sendiri dan terbatuk-batuk hebat. Ia kemudian berusaha meredakannya.

"Ah, cukup baik. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya."

"Wah, kau sangat hebat, sensei! Aku tak pernah berhasil membuatnya diam—dan, bagaimana dengan kakaknya?" tanya Mizki tiba-tiba. Mizki mengingat memori tak menyenangkan tiap kali bersua dengan kakak Yuezheng Ling.

"A-ah, kakak Ling cukup baik." Yuu berusaha menutup-nutupi. Dia cewek temperamen, batinnya menambahkan.

"Oh? Masa? Terakhir kali aku bertemu dengannya, ia menjambak Ling dan membuatnya menangis."

Astaganaga.

"Ka-kali ini sudah lebih baik, kok. Ahaha." Yuu pura-pura mengerjakan hitungan absensi murid di jam ajarnya.

"Syukurlah. Soalnya, aku sempat mendengar gosip kalau Ling itu bukan adiknya."

"Eh, maksudnya?" Yuu penasaran. Bukan adik kandung, artinya? Adik tiri?

Pantas saja Yan He kesal atau mungkin sedikit sensitif dengan Ling. Yuu mungkin akan menemuinya nanti untuk menanyakan ini, dan memberi saran kejiwaan untuk Yan He. Bisa saja Yan He hanya terpengaruh lingkungannya dulu, atau suasana hati yang memburuk tiap melihat Ling. Yuu akan merekomendasikan psikiater kalau perlu.

"Dari rumor yang beredar saat dia pindah ke sini—"

Mizki menghentikan ketikannya, beralih memandang Yuu di area belakang.

"—sebenarnya Ling itu anaknya."

"Eh?" tanya Yuu pada dirinya sendiri.

"Kau pasti mendengarnya juga saat ia pindah ke Jepang, kan? Kupikir dia tetanggamu?"

Yuu mana pernah mendengar gosip. Sekali pun iya, ia tak pernah menggubris dan menganggap itu semua angin lalu.

"Darimana anda dapat menyimpulkan demikian?" Yuu berusaha tetap tenang.

"Temanku di China bilang mengenal Yan He, dan ia tahu tentangnya, semacam itu lah. Aku sempat berpikir ia berbohong, tapi dia tampaknya serius saat mengatakannya."

Yuu tidak tahu harus berkomentar apa.


.

.

.

.

.

.


Yan He memasuki kantor dengan biasa. Ia memarkirkan mobilnya dulu sebelum memasuki gedung tempat ia bekerja. Ia berada di antara kerumunan, memberikan kartu pegawai ke resepsionis untuk diabsen, Dan Yan He beranjak menuju lift kala kartunya kembali ke lehernya. Yan He membuka sebuah lift, dan berjumpa dengan seseorang yang hendak masuk ke lift yang sama dengannya.

Yan He pura-pura tidak mengenalnya.

Itu Zhiyu Moke.

Apa yang dilakukan oleh pria itu di sini? Bisnis jual beli saham seperti biasa? Seperti yang dilakukannya di Tiongkok sana?

Mereka berdua masuk ke dalam lift dalam diam. Yan He menekan tombol lantai ruang kerjanya, dan Moke tak berniat menginterupsi. Selama perjalanan, keduanya hanya diam. Sampai lift mendadak berhenti dan lampu padam.

"Liftnya rusak?" Moke membuka pembicaraan.

"Sepertinya begitu. Aku akan memanggil Hiyama-san." Yan He mengambil ponselnya dan memberitahu Kiyoteru sebagai teknisi agar segera datang dan membenahi sistem lift.

Yan He menutup telponnya ketika selesai menelpon, dan menghela nafas. Berdua saja bersama Moke di sini tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Belum lepas ia dari Rinto, sosok Moke dari masa lalunya kembali menghantuinya.

"Apa yang kau lakukan di sini, Moke? Bukankah kau seharusnya mengurus perusahaanmu di Tiongkok?" sindir Yan He.

"Aku ke sini juga karena pekerjaan, tahu."

"Sejak kapan kau banting setir?" sindir Yan He.

"Sejak aku kehilanganmu, tentu saja."

Kehilangan? Ingin Yan He tertawa keras.

"Tidak usah berbohong lagi, Moke. Aku tidak akan percaya kata-katamu."

Moke hanya mengulas senyum tipis. "Aku tidak akan banyak bicara. Aku akan membuktikannya."

Lampu kembali menyala, dan lift yang mereka tempati telah berjalan kembali.

Moke turun di lantai yang sama dengan Yan He, dan wanita itu tidak mau bertanya. Seseorang menyambut Moke, dan Yan He pergi duluan ke ruang kerjanya.

"Pagi, Yan He!" sapa Ring dari mejanya.

"Pa-pagi, senpai!" Rin datang entah darimana dan membungkuk di hadapannya.

"Ada apa dengan kalian berdua?" Yan He menuju ke meja kerjanya dan meletakkan tasnya di bawah kakinya. Ia mau fokus kerja di hari ini dan menyelesaikan desain untuk musim dingin secepat mungkin.

"Aku dengar penggantinya Kagamine itu cakep, Yan He! Ayolah, kau harus melihatnya!"

"Kau menemuinya?"

"Tadi pagi kami bertabrakan di depan toilet. Indahnya~~~!" Ring sibuk dengan khayalannya sendiri.

Yan He tidak peduli dengan semua itu. Mau ganteng atah apa pun. Ia hanya ingin bekerja dengan tenang tanpa gangguan.

Pegawai sudah berkumpul kecuali posisi untuk atasan mereka di divisi ini sekaligus kepala cabang yang baru. Sepertinya ia sibuk, huh.

Krieettt

Pintu terbuka. Yan He melotot hebat saat melihat siapa yang datang. Dua orang masuk, dan Yan He mengenali mereka semua.

"Pagi, semuanya. Saya adalah kepala cabang yang baru, mohon bantuannya." ia membungkuk. Orang di sebelahnya ikut membungkuk, dan menjadi atensi tersendiri bagi para karyawan.

"Itu, loh, Yan He! Cakep, kan?" Ring bisik-bisik heboh.

Yan He pikir Moke cuma ada perlu dengan hal semacam pembelian saham di sini karena ia orang yang memang berurusan dengan hal semacam itu, siapa sangka Moke justru berdiri di sana dengan Lio; orang yang sempat ia kenal di negeri asalnya. Yan He tahu betul Lio adalah teman Moke.

Yan He terpaku, tangannya berhenti menggambar. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.

Zhiyu Moke adalah Kepala Cabang yang baru.


to be continued