Honestly, I Wish I Never Know You
Warning : ShikaTema here. Full of Temari POV. Maaf kalo romance-nya nggak greget
Disclaimer : Naruto cuma punya om Kishi. Gue cuma minjem
Happy read, anyone!
Chapter 1 : 10 Januari
Malam itu dingin. Tidak peduli seberapa tebal pakaian yang kukenakan, hawa dingin tetap menusuk kulit dan tulangku. Di tengah keramaian kota, aku berjalan sendirian. Berjalan tanpa tujuan, mengabaikan setiap kenyataan yang ada, dan berharap untuk lupa akan setiap momen buruk dalam beberapa menit terakhir yang baru berlalu di hidupku. Berharap itu semua adalah sesuatu yang sureal, bukan sebuah realita yang harus ditelan bulat-bulat layaknya orang sakit harus menelan pil pahit.
"Sial! Aku lupa membawa uang saku!" makiku pada diri sendiri. Ya, betapa aku amat ceroboh. Aku memutuskan untuk lari dari rumahku, tapi aku lupa membawa beberapa peser uang bersamaku. Kini aku dalam keadaan lapar, haus, kedinginan, lelah, dan putus asa. Lapar dan haus karena sedari tadi tidak ada makanan ataupun minuman yang masuk dan dicerna dalam tubuhku. Kedinginan karena aku berjalan di malam musim dingin yang bersalju. Lelah karena sedari tadi aku hanya berjalan dan berlari menelusuri keramaian kota tanpa tujuan yang jelas. Dan putus asa setelah tahu hidupku begitu tidak indah.
Akhirnya, aku memutuskan untuk duduk di sebuah bangku kosong di taman kota yang nampak sepi. Aku melihat langit malam ini. Tidak ada bintang di sana. Yang ada hanya warna hitam ala langit malam musim dingin. Aku menyesal dengan tindakanku. Mengapa aku begitu tidak dewasa dengan membiarkan diriku dipenuhi emosi tanpa membiarkan logika ikut andil dalam mengambil tindakan? Itu bukan hal yang baik. Apalagi mengingat usiaku yang sudah menginjak kepala dua. Ini sangat tidak dewasa.
Dalam keputusasaanku, kurasakan pelupuk mataku mulai memberat. Badanku terasa lemas. Keseimbangan tubuhku hilang perlahan. Pelan tapi pasti, tubuhku terkapar di tanah yang bersalju dengan kesadaran yang entah ada di mana.
Setelah kesadaranku akhirnya kembali, aku menyadari bahwa aku ada di sebuah ruangan putih. Bau yang agak asing terdeteksi di hidungku sebagai bau obat. Kulihat sekelilingku, ada benda-benda yang kemudian kukenali sebagai infus, segelas air, dan tirai yang menjadi pembatas tempat. Kulihat tangan kananku tertusuk jarum yang pada akhirnya kukenali sebagai jarum infus. Sadarlah aku bahwa kini aku ada di rumah sakit. Satu yang aku belum sadar. Siapa yang membawaku kemari?
"Maaf, tuan, bisa saya cek pasien yang di dalam?" kudengar kalimat itu samar-samar. Kusadar bahwa dia adalah dokter. Tapi, tuan? Siapa yang dia panggil tuan? Apakah orang yang membawaku ke rumah sakit?
"Selamat malam, nona." kata dokter yang hendak memeriksaku. "Selamat malam juga, dokter" balasku. "Maaf, boleh saya memeriksa anda, nona?" tanyanya. Aku hanya mengangguk lemah. Dokter itu pun memeriksaku. Tak lama setelahnya, pria yang sebelumnya diajak bicara oleh dokter itu pun masuk dalam ruanganku.
"Nona, apa sebelumnya anda sudah makan atau minum?" tanya dokter itu. Aku hanya menggeleng pelan. "Tekanan darah nona sedikit di bawah normal. Mungkin karena nona juga belum makan atau minum. Selain itu, mungkin juga karena nona kelelahan. Tuan, sekarang nona ini harus makan dan minum sebelum kembali istirahat." kata dokter itu. Tidak ada jawaban dari pria yang sedari tadi dipanggil 'tuan' oleh sang dokter kecuali sebuah anggukan kepala. "Baik, itu saja. Saya pamit dulu, tuan, nona" dan dokter itu pun meninggalkan kami berdua.
"Kau mau bunuh diri, ya?" kata laki-laki itu sinis. "Tentu saja tidak! Aku hanya ingin melupakan masalahku sejenak. Aku tidak berencana untuk pingsan, apalagi bunuh diri!" jawabku. "Kau ini merepotkan! Berterimakasihlah, nona. Aku sudah menyelamatkanmu. Kalau aku tidak membawamu ke sini, mungkin kau sudah mati membeku" kata laki-laki itu lagi. "Ya, ya, ya. Terima kasih, tuan! Kau menyelamatkanku! Kau pahlawanku! Sudah? Puas?" kataku. "Hm, aku terima. Walaupun kesannya terpaksa." katanya. "Tidak baik terus berbicara dengan orang yang tidak dikenal. Aku Shikamaru. Namamu?" katanya sambil mengulurkan tangannya. "Temari" jawabku.
Ya. Malam itu, di kamar rawat rumah sakit yang putih dan sarat akan aroma obat, kami berkenalan.
TO BE CONTINUED
Bacot ala Author (?) : Hola temen-temen! Ini fic kedua gue di fandom Naruto. Sebetulnya gue nggak nggak terlalu pinter nulis romance. Ini cuma bagian dari ide gue doang sih yang kebetulan muncul di malam hari.
Gimana? Enak ficnya?
Review kalian sangat dibutuhkan demi bagusnya fic ini.
So, mind to review?
