Honestly, I Wish I Never Know You
Warning : ShikaTema here. Full of Temari POV. Maaf kalo romance-nya nggak greget
Disclaimer : Naruto cuma punya om Kishi. Gue cuma minjem
Happy read, anyone!
Chapter 2 : 11 Januari
Semalam telah berlalu. Kini aku sudah pulih. Dokter bilang aku sudah boleh pulang. Walaupun begitu, aku masih harus beristirahat sesampainya di rumah.
Keadaan hari ini tidak jauh berbeda dengan yang semalam. Aku masih bersama Shikamaru, orang yang menolongku semalam.
"Lain kali, kalau ada masalah, jangan pergi dari rumah! Membuat repot orang saja" kata Shikamaru. "Iya" kataku.
"Rumahmu di mana? Biar aku antar." kata Shikamaru. "Azabu" kataku. Kulihat ekspresinya sedikit terkejut mendengar jawabanku. "Azabu? Rumahku juga di sana." katanya. Wah, kebetulan yang lucu.
Sekarang, ia mengantarku pulang dengan mobilnya. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju ke rumah, kami sama-sama terdiam. Satu menit pertama terasa sunyi. Tidak ada salah satu dari kami yang membuka pembicaraan. Sampai akhirnya Shikamaru mau berbicara padaku. "Tunjukkan jalan ke rumahmu, ya" katanya. Aku hanya mengangguk.
Butuh waktu tujuh menit untuk mencapai rumahku. Setelah sampai di depan rumahku, Shikamaru malah ikut turun dari mobilnya. Aku heran. Kenapa dia malah ikut turun?
"Tidak baik kalau aku tidak bertemu orangtuamu dan menjelaskan semuanya." katanya. Kata-katanya seolah menjawab apa yang kutanyakan dalam pikiranku. Dia seperti bisa membaca pikiranku.
Kuketuk pintu rumahku seperti biasanya. Ibuku yang membukakan pintu. "Temari! Dasar anak tidak tahu diri! Dari mana saja kau semalam? Dan kenapa kau pulang bersama dengan pria?" tanya ibuku dengan penuh kemarahan. Aku hanya bisa diam. Sampai Shikamaru akhirnya membuka suara menjawab pertanyaan ibuku. "Maaf, bibi. Semalam saya menemukan Temari pingsan di taman kota. Dan saya mengantarnya ke rumah sakit. Pagi ini dia baru pulih" kata Shikamaru tenang. Seolah ingin memperbaiki citranya di hadapan orang yang baru ditemuinya, ibuku berubah lembut dan tenang. "Oh, begitu? Terima kasih banyak, nak. Ngomong-ngomong, namamu siapa?" tanya ibuku. "Nara Shikamaru, bi" katanya.
"Maaf, bi. Saya masih ada urusan yang harus dikerjakan. Saya izin pamit, bi" kata Shikamaru. "Oh, iya. Hati-hati, nak" kata ibuku. Setelah Shikamaru lalu, ibuku menarik kasar tanganku dan masuk ke dalam rumah bersamaku.
"Kau pasti kabur, kan, semalam?" Amarah ibuku kembali lagi. Aku hanya bisa diam membatu menanggapi amarah ibuku. "Kau pikir aku tidak tahu, hah? Aku selalu tahu selama ini kau kabur ketika aku dan pria sialan itu bertengkar!" Amarah ibuku malah makin menjadi. Suaranya tidak melembut, malah meninggi. "Kalau kau tidak mau aku kabur dari rumah, jangan bertengkar lagi dengan ayah" kataku dingin. "Apa kau bilang? Kau sekarang membela ayahmu?"
"Jadi ibu berpikir aku membela ayah? Tidak, bu! Aku sudah cukup dewasa untuk tahu kalau kalian berdua sama-sama bersalah! Untuk apa membela orang yang bersalah?" aku menjawab ibuku dengan lebih dingin. "Aku benci dengan suasana di rumah sekarang. Tidak ada hari tanpa menyaksikan ayah dan ibu bertengkar. Di meja makan, di ruang keluarga, bahkan di taman belakang rumah pun kalian bertengkar. Wajar jika aku kabur dari rumah, kan?" kataku semakin dingin. Segera ibuku menampar pipi kananku dengan keras. "Anak kurang ajar! Sana masuk ke kamar!" hardik ibuku dengan kasar.
Aku segera naik ke kamarku di lantai dua. Kubuka pintu dengan gusar dan kubanting pintu tersebut untuk menutupnya. Aku melemparkan tubuhku ke atas tempat tidur, lalu menutup wajahku dengan bantal. Tangisku pun pecah di bawah bantal. Rumahku yang dulu tidaklah seperti ini. Entah sejak kapan pertengkaran ini bermula dan akhirnya terus berulang hingga sekarang.
Dalam keputusasaanku, aku berharap Gaara dan Kankuro ada di sini. Ketika mereka berdua ada di sini, ayah dan ibu tidak berani bertengkar. Dan aku juga tidak merasa kesepian.
Terlalu lelah menangis, aku terlelap. Cukup lama aku terlelap. Merasa haus, aku pergi ke dapur yang ada di lantai bawah. Coba tebak. Pemandangan apa yang aku temukan siang ini? Ibuku bermesraan dengan pria lain. Aku terus berjalan seolah aku tidak melihatnya. Dan aku akhirnya melepas dahagaku di dapur.
Kembali ke kamar, aku menggenggam ponselku hendak menelepon seseorang. Berharap dia bisa menenangkanku walaupun untuk sesaat.
"Halo, paman Baki? Maaf mengganggu. Paman sibuk?" kataku.
"Tidak, nak. Santai saja. Apa ada masalah di rumah?" jawabnya. "Ya, paman. Aku menemukan masalah baru di rumah." kataku. "Maksudmu masalah baru?" Paman Baki heran. "Ya. Ibu selingkuh dengan pria lain" kataku. "Apa?" Dari reaksinya, bisa kutebak Paman Baki terkejut mendengarnya.
"Kau baik-baik saja, kan, Temari?" katanya khawatir. "Aku masih baik-baik saja, paman. Sekarang aku tahu kenapa ayah dan ibu bertengkar setiap hari" kataku. "Tetap kuat, ya, nak. Maaf paman tidak sedang di sampingmu sekarang. Hubungi paman jika ada masalah. Atau kalau kau sudah merasa jenuh di rumah, kau bisa tinggal di rumah paman" katanya. "Iya, paman. Terima kasih banyak" kataku. Lalu aku memutus percakapan itu. Dan aku kembali tertidur.
Sore harinya, aku membawa anjingku berjalan-jalan di taman kota sekaligus menenangkan diri karena masalah yang ada di rumah. Kulihat banyak yang membawa anjingnya berjalan-jalan juga. Dan kulihat ada keluarga kecil di sana yang sedang bermain di taman. Mereka terlihat senang sekali. Aku jadi teringat. Kapan terakhir kali keluargaku begitu?
"Sudah bisa keluar rumah rupanya" kata seseorang yang tiba-tiba ada di sampingku. Aku terkejut melihat siapa yang berbicara padaku. Shikamaru. "Kenapa kau bisa ada di sini?" tanyaku. "Keadaan di rumahku kacau. Dan itu membuatku pusing" katanya. Kami berdua duduk di sebuah bangku kosong di taman itu.
"Kenapa semua orang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya?" kata Shikamaru membuka pembicaraan. "Maksudmu?" kataku heran. "Ayahku selingkuh. Sudah lama sekali" kata Shikamaru. Aku terkejut. Ternyata kami senasib. "Bagaimana dengan ibumu?" tanyaku. Kulihat ekspresinya semakin muram. "Maaf. Kau tidak perlu menjawabnya" kataku. "Tidak apa-apa. Ibuku juga sama." katanya lagi. "Kita senasib" kataku pelan. "Maaf, kau bilang apa?" tanya Shikamaru. "Bukan apa-apa" kataku.
"Kalau aku sudah menikah nanti, aku tidak mau selingkuh dengan orang lain. Kasihan anak-anakku kalau orangtuanya sampai bertengkar karena selingkuh" kata Shikamaru. Terlukis sebuah ekspresi sendu di wajahnya. Selain itu, aku juga melihat ada sebuah keseriusan dari ucapannya itu. "Aku juga" kataku pelan.
Kami berdua berbicara di taman itu sampai satu jam lebih. Dia menceritakan masalah di rumahnya padaku. Begitu juga dengan aku. Namun, aku merasa sedikit lebih beruntung. Aku punya adik-adik yang bisa kuajak berbagi masalah, sementara dia tidak. Dia anak tunggal dan dia tidak tahu harus berbagi masalah dengan siapa. Karena itu, dia memendam semuanya.
"Kapan-kapan kita bertemu lagi, ya?" katanya. Dan aku mengangguk setuju. Lalu kami berbagi kontak supaya lebih mudah untuk menghubungi satu sama lain. "Terima kasih hari ini, Shikamaru" kataku. Dan akhirnya, dia mengantarku pulang seperti tadi pagi.
TO BE CONTINUED
Bacot ala Author (?) : Hola temen-temen! Ini fic kedua gue di fandom Naruto. Sebetulnya gue nggak nggak terlalu pinter nulis romance. Ini cuma bagian dari ide gue doang sih yang kebetulan muncul di malam hari. Maaf part ini kurang greget.
Gimana? Enak ficnya?
Review kalian sangat dibutuhkan demi bagusnya fic ini.
So, mind to review?
Anyway, thanks for everyone who follow this story and reviewed this. So grateful that this story has a reader (?)
