Honestly, I Wish I Never Know You

Warning : ShikaTema here. Full of Temari POV. Maaf kalo romance-nya nggak greget

Disclaimer : Naruto cuma punya om Kishi. Gue cuma minjem

Happy read, anyone!

Chapter 3 : 26 Maret

Hari ini libur musim semi. Aku mulai menyicil satu demi satu tugas-tugas kuliahku. Berkutat dengan diktat-diktat kuliah dan laptop sembari sesekali melihat keluar jendela yang berhadapan langsung denganku rasanya menenangkan. Apalagi di awal musim semi ini terlihat banyak bunga sakura yang mekar. Sempurna. Tipikal liburan musim panas yang cukup damai menurutku.

"Tadaima" terdengar suara seseorang memasuki rumahku. Aku tidak mendengar suara ketukan pintu. Aku berpikir apakah dia pencuri. Penasaran, aku melangkah turun menuju ruang tamu untuk memastikan siapa yang datang. Langkahku terus berderap dan kewaspadaanku semakin meningkat. Siapa tahu saja yang datang pencuri. Belum sempat aku bertanya siapa yang datang, mataku terkejut sekaligus senang melihat siapa yang datang ke rumahku. Kankurou dan Gaara, adikku, mereka pulang dari Kyoto. "Kalian! Sebelum pulang, beritahu aku dulu!" kataku. "Warui. Kami hanya ingin memberimu kejutan saja" kata Kankurou. Aku menjitak kepala Kankurou, namun si empunya kepala hanya meringis sembari tertawa kecil. "Lama tidak berjumpa, kak" kata Gaara, adik bungsuku. "Begitupun aku, Gaara. Bagaimana kalau kalian bawa barang kalian masuk ke dalam kamar?" kataku. "Baiklah, kak" kata mereka bersamaan. Mereka pun beranjak naik ke kamarnya masing-masing di lantai dua dan menaruh barang bawaan mereka di sana.

Setelah Kankurou dan Gaara selesai menaruh bawaannya di kamar, kami bertiga duduk bersama di sofa ruang tamu. Aku bercerita tentang kuliahku di Tokyo. Kankurou menceritakan kegiatannya di SMA dan kesibukannya di klub kesenian sekolah. Gaara pun sama. Ia menceritakan teman-temannya di SMA. Mendengar cerita Gaara, aku agak sedikit lega. Aku sempat khawatir kalau Gaara tidak akan mendapatkan teman di sekolahnya karena Gaara introvert dan tidak terlalu pandai berteman. Syukurlah kekhawatirankutidak terwujud.

Kami banyak bercerita siang itu. Lelah bercerita, kami pun menonton televisi bersama-sama. Bosan menonton televisi, kami bermain kartu bertiga. Bosan bermain kartu, kami bertiga bergantian bermain konsol game hingga agak malam. Aku tidak merasa kesepian lagi selama ada Gaara dan Kankurou di rumah. Ingin rasanya aku hanya tinggal bertiga saja dengan Kankurou dan Gaara. Terlarut dalam kebahagiaan, kami seolah tidak sadar kalau saat ini sudah pukul sepuluh lebih tiga puluh malam.

"Ayah masih belum pulang juga?" tanya Gaara begitu melihat waktu yang ditunjukkan jam dinding. "Kau tahu kan ayah sibuk?" kataku. "Jadi, ayah masih belum meninggalkannya? Maksudku, kebiasaan buruknya itu" Kankurou bertanya dengan nada suara yang agak sedikit meninggi dan kemudian merendah sedikit. Tanpa aku sadari, raut wajahku sedikit berubah. "Wajahmu mengatakan segalanya, kak" kata Gaara. "Terus terang aku malu memiliki ayah sepertinya" ketus Kankurou. "Ibu bagaimana? Sudah mendapat pencerahan?" tanya Gaara agak sinis. Aku hanya menggeleng pelan. "Makin menjadi" Dua kata tersebut lolos dari mulutku dan nampaknya membuat keadaan memburuk. Aku melihat ekspresi Gaara yang seolah tak terbaca, namun menunjukkan kesedihan yang cukup dalam. "Kupikir ibu akan menjadi lebih baik" ungkapnya kecewa lalu menghela napas panjang tanda putus asa setelahnya.

Baru beberapa menit kami membicarakan ayah dan ibu kami, kudengar pintu rumahku diketuk agak kasar. Seolah-olah sang pengetuk pintu harus segera masuk ke dalam rumah kami tidak peduli apapun yang terjadi. Aku berlari kecil ke arah pintu rumah dan diikuti Kankurou dan Gaara yang kelihatannya sudah siap melindungiku jika terjadi sesuatu yang buruk.

"Siap–Ayah?! Dari mana saj–" "Cukup, Temari! Antarkan kami berdua ke kamar tamu" kata ayahku setengah membentak. Aku tahu ia mabuk berat. Kulihat ia dipapah oleh seorang wanita berambut hitam panjang yang menurutku umurnya tidak terlalu berbeda jauh dengan ibu. Selingkuhan ayah yang baru, kah? Kutepis pikiran itu jauh-jauh dan mulai membantu memapah ayah sampai ke ruang tamu terdekat. Saat aku memapah ayahku, wanita yang bersamanya malah melepaskan ayah dan membiarkanku memapah ayah sendirian. Setelah sampai, ia baru kembali memapah ayah. Bukan ucapan terima kasih yang ia berikan padaku, namun sebuah tatapan dingin tanda tak suka berkilat di matanya yang ditujukannya padaku.

"Wanita baru lagi?" tanya Kankurou bosan. "Begitulah" tanggapku. "Lalu, ibu? Lelaki baru lagi?" gantian Gaara yang bertanya. "Sama saja" jawabku mengiyakan. "Sebetulnya aku benci mengatakannya, kak. Tapi kau harus tahu ini. Ayah, ibu, dan perselingkuhan mereka adalah alasan mengapa aku dan Gaara berpikir panjang untuk pulang ke rumah setiap kali liburan" kata Kankurou terus terang. "Sudahlah. Begitu kalian lulus SMA, kita bisa menyewa sebuah tempat tinggal kecil lalu tinggal bertiga di sana" ujarku. "Hontou?" Kankurou nampak antusias mendengarnya. Aku hanya mengangguk saja. "Ah, aku tidak sabar menunggu saat itu tiba" kata Gaara.

Menit demi menit berlalu setelah obrolan panjang dengan Gaara dan Kankurou. Kulirik jam dinding di ruang tamu. Sudah pukul sebelas malam rupanya. Karena Gaara dan Kankurou terlihat lelah, kami pun memutuskan untuk menyudahi obrolan kami malam ini dan melanjutkannya kembali di esok hari.

Begitu aku masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku di kasur, kenangan-kenangan buruk tentang perselingkuhan ayah dan ibuku selama ini tiba-tiba muncul kembali di dalam pikiranku seperti sebuah film yang sedang diputar di layar lebar. Kenangan itu terlalu melekat sampai-sampai aku tidak bisa menghapusnya sekeras apapun aku mencoba. Di tengah-tengah usahaku melupakan segala kenangan buruk itu, aku malah teringat Shikamaru. Terakhir kali kami bertemu, ia sempat mengatakan bahwa ia siap mendengarkan keluh kesahku kapanpun aku mau. Aku pun mengirim sebuah pesan singkat untuknya.

[To : Shikamaru Nara]

Maaf mengganggu. Apa kau sibuk?

Tanpa sadar, seulas senyum kecil terangkat saat mengirimkan pesan singkat itu. Anehnya lagi, aku selalu menunggu-nunggu balasan darinya. Aku jadi tidak bisa tidur sebelum pesanku dibalas. Perasaan apa ini? Lima menit kemudian, ponselku bergetar. Aku pun mengecek ponselku. Ternyata, ia membalasnya

[From : Shikamaru Nara]

Tidak. Ada apa?

Aku berpikir kembali. Bagaimana caranya agar dia mau mendengarkan curhatanku malam ini meskipun hanya lewat pesan singkat. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk jujur padanya tentang hal ini.

[To : Shikamaru Nara]

Aku ingin bercerita sesuatu. Mau mendengarnya?

Hatiku malah bimbang. Berputar-putar. Bingung memilih. Kirim tidak, ya? Walaupun begitu, akhirnya aku mengirimnya juga. Aku khawatir kali ini tidak ditanggapi olehnya. Namun setelah tiga menit, ia membalas pesanku.

[From : Shikamaru Nara]

Kalau mau bercerita, telepon saja.

Dia tidak sedang bercanda, kan? Dia bahkan mengizinkanku untuk meneleponnya. Bukan lewat chat seperti biasanya. Segera aku meneleponnya.

Tiga kali nada sambung terdengar sebelum aku benar-benar tersambung dengannya.

"Halo? Shikamaru?" kataku.

"Iya, ini aku. Apa ada masalah?" katanya dari seberang sana.

"Ayahku mabuk berat. Ia pulang dengan selingkuhannya" kataku. Tanpa sadar, suaraku sedikit bergetar.

"Setidaknya ayahmu masih pulang, Temari. Kau tahu? Ibuku mungkin tidak akan pulang malam ini" ujarnya sambil tertawa pahit. Aku hanya bisa tertawa getir menanggapinya.

Bermenit-menit kemudian, kami hanya saling berbagi cerita mengenai kedua orangtua kami yang sama-sama berselingkuh. Dari cerita kami malam itu, aku baru tahu kalau kedua orangtua Shikamaru sudah berselingkuh sejak ia masih SD kelas enam. Lebih dulu dibandingkan kedua orangtuaku.

"Besok kau sibuk?" tiba-tiba ia bertanya.

"Tidak. Ada apa?" aku balik bertanya.

"Mau melihat sakura di Ueno? Kalau mau, kujemput besok pagi" ajaknya.

"Kedengarannya tidak buruk. Sampai bertemu besok, Shikamaru" kataku mengiyakan. Hanya terdengar 'hm' darinya. Aku pun mengakhiri percakapan tersebut dan kembali mencoba tidur.

Baru dua menit berselang, ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat kuterima. Dari Shikamaru ternyata. Aku tidak menduga ia akan mengirimiku pesan singkat malam begini.

[From : Shikamaru Nara]

Tidurlah. Jangan terlalu memikirkan masalah orangtuamu. Besok setengah sembilan kujemput.

Pesan singkat itu sukses membuatku tersenyum. Cepat-cepat aku membalas pesan darinya. Singkat saja, namun mengena.

[To : Shikamaru Nara]

:)

Kusingkirkan ponselku lalu mulai tidur. Aku tidak sabar menunggu besok. Setidaknya besok kedua mataku tidak menyaksikan kedua orangtuaku berselingkuh untuk sementara waktu.

TO BE CONTINUED

Bacot ala Author (?) : Hola temen-temen! Ini fic kedua gue di fandom Naruto. Sebetulnya gue nggak nggak terlalu pinter nulis romance. Ini cuma bagian dari ide gue doang sih yang kebetulan muncul di malam hari. Maaf part ini kurang greget. Dan maaf baru up chapter baru lagi. Authornya kena WB soalnya wkwkwk /digeplak.

Terimakasih banyak untuk yang udah baca, ngereview, dan follow cerita ini. Semoga chap ini nggak mengecewakan.

Gimana? Enak ficnya?

Review kalian sangat dibutuhkan demi bagusnya fic ini.

So, mind to review?