Kira Nakazato
Declaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Sasuke Uchiha x Naruto Uzumaki
Slight ItaKyuu
Uchiha Nanase
Uchiha Satoru
Uchiha Yuki
Rated : T+
Anime: Naruto
Genre : Family & Romance
Al-genre: Friendship & Humor
Warning : Shounen-Ai, M-preg, TYPO(S), AU, OC (Chara)
DON'T LIKE DON'T READ!
Pasangan kakak-beradik beda dua tahun itu sedang berada di teras rumah. Mereka sudah meminta ijin orang-tuanya untuk pergi bermain. Dan tanpa khawatir pasangan SasuNaru itu mengijinkan. Alasannya, rumah mereka ada di kawasan elite dan di setiap gerbang keluar kawasan tentu saja ada penjaga yang bertugas membuka dan menutup gerbang. Tidak sembarangan orang yang dapat keluar masuk karena setiap penghuni memiliki access code yang hanya di miliki oleh orang yang tinggal di dalamnya. Dan sudah pasti keamanan di perumahan itu sangat terjamin.
Satoru mengikatkan pita berwarna biru laut di kerah kemeja berwarna putih yang dikenakan adiknya dengan telaten. Setelah selesai ia kemudian mengambil topi miliknya yang sempat ia taruh di bangku teras kemudian memakainya terbalik yang seharusnya bagian depan yang lebih panjang menutupi wajahnya dari sinar matahari.
Sementara Nanase menatap kakak kandungnya dengan wajah bingung. Ia membuka bungkus permen lollipop warna pelangi kemudian menjilat permen lollipop itu dengan riang.
.
.
.
Naruto menghela nafas. Setelah mengobati dahi Sasuke yang memar karena terantuk meja tadi ia menidurkan tubuhnya di sofa ruang keluarga.
Ngomong-ngomong kenapa Sasuke bisa terantuk meja? Pelakunya siapa lagi kalau bukan si bungsu Uchiha, Nanase.
Tadi setelah selesai sarapan Naruto memandikan Nanase seperti biasa. Tapi bukan Nanase namanya jika ia bersikap tenang barang sejenak. Anak itu terus bergerak kesana kemari saat dimandikan membuat Naruto hampir terjatuh membentur dinding karena terpeleset sabun yang terjatuh akibat ulah Nanase kalau saja Sasuke tidak datang karena mendengar suara gaduh kemudian menangkapnya. Dengan sedikit perjuangan 45 akhirnya Nanase selesai dimandikan. Tidak sampai disitu, saat akan dipakaikan baju pun Nanase melompat dari ranjang yang sudah ia injak-injak dengan kaki basah lalu berlarian dengan berteriak nyaring –merasa senang. Dengan riang ia berlari lalu menjerit sambil berkata ' tidak mau ' saat Naruto membujuknya untuk memakai baju. Terpaksa Sasuke dan Naruto mengejar kemanapun kaki kecil itu melangkah.
Anak itu terus berlari hingga keluar kamar. Dari ruang tamu, dapur, ruang bermain bahkan gudang. Setiap akan tertangkap entah itu oleh Naruto atau Sasuke, ia bisa dengan mudah berkelit lalu kembali berlari sambil tertawa-tawa senang. Puncaknya, Nanase berlari ke arah ruang kerja Sasuke yang seharusnya terkunci tapi saat itu terbuka begitu Nanase mendorongnya.
Ia kemudian bersembunyi di bawah meja kerja ayahnya. Selang beberapa detik Sasuke masuk dengan nafas terengah.
Ia tersenyum senang melihat punggung kecil terbalut handuk tebal berwarna kuning sedang berjongkok di bawah meja. Sasuke berlari hendak menangkap Nanase tapi naas ia tersandung kakinya sendiri lalu dengan keras dahinya beradu dengan meja kerjanya.
Suara yang ditimbulkan Sasuke tadi sontak membuat Nanase menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati sang ayah sedang meringis sambil memegangi dahinya. Nanase dengan panik pun keluar dari bawah meja lalu menghampiri ayahnya yang sedang terduduk. Seakan ikut merasakan sakit yang Sasuke rasakan tangisnya pun pecah sambil memanggil-manggil ibunya. Tidak berapa lama Naruto datang dengan berlari kecil menghampiri Sasuke dan Nanase kemudian bertanya apa yang sudah terjadi. Setelah itu Nanase menurut saat dipakaikan baju kemudian Naruto mengobati dahi Sasuke yang memar.
Sasuke menghampiri Naruto yang sedang tiduran di sofa. Ia kemudian duduk di sebelahnya. Kepalanya masih sedikit berdenyut nyeri tapi ia tidak mempermasalahkannya. Sebenarnya ia merasa kasihan kepada Naruto. Nanase yang terlalu aktif sering kali membuat mereka pusing tapi mau bagaimana lagi. Itulah keistimewaan Uchiha Nanase. Jika anak itu tidak ada mungkin rumah akan menjadi sepi.
" Dobe. Kau tidak apa-apa?" Sasuke bertanya pelan. Ia mengusap lembut surai pirang Naruto.
Naruto menolehkan kepalanya kaget. Sejak kapan Sasuke ada di sampingnya? Naruto lantas mendudukkan tubuhnya.
" Ya. " Naruto menjawab sambil tersenyum kecil.
Sasuke balas tersenyum. Ia mengusap pipi halus Naruto dengan lembut lalu mendorong kepala Naruto supaya bersandar di dadanya dengan pelan. Ia tahu istrinya sedang kelelahan. Wajah manis itu sedikit pucat. Sedikit banyak membuatnya khawatir.
Naruto menyamankan posisi kepalanya di dada bidang Sasuke. Melingkarkan lengannya di pinggang Sasuke, ia menghirup aroma mint milik suaminya.
" Teme. Sepertinya aku harus berterima –kasih lagi dan lagi kepada Kaasan." Naruto membuka suara.
" Kenapa?" Tanya Sasuke tidak mengerti.
Naruto mendongakkan kepalanya sebelum menjawab, " Yah, aku pikir... saat aku kecil mungkin aku sama aktifnya dengan Nanase. " Ia kemudian menatap wajah tampan Sasuke.
Sasuke tertawa mengerti. Sebenarnya ia seperti dejavu saat melihat kelakuan Nanase. Memang dari kecil ia sudah tahu seperti apa kejahilan Naruto, sangat mirip dengan ulah jahil milik Nanase saat ini. Saat kecil Naruto tidak hanya jahil tapi juga berisik, menurutnya. Tapi berkat dirinya perilaku jahil Naruto dapat dibatasi. Setiap Naruto hendak berbuat jahil Sasuke akan menghentikannya dan dengan patuh Naruto menurutinya.
" Ya, kau harus berterima-kasih Dobe. " Ucap Sasuke tulus.
Ia kemudian mendekatkan wajahnya kewajah Naruto yang sedang memandangnya. Sasuke kemudian memagut bibir Naruto sambil menghisapnya pelan membuat Naruto memejamkan matanya erat.
" Nghh~ " desahan lolos dari bibir Naruto yang tengah menerima lidah Sasuke yang bergerilya di dalam mulutnya. Naruto mendorong dada Sasuke pelan membuat pagutan bibir mereka terlepas. Dengan nafas terengah Naruto mengusap saliva yang mengalir di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
" Dobe. Ayo buat adik untuk Nanase. " Dengan entengnya Sasuke berucap.
Kalimat itu sukses membuat persimpangan di dahi Naruto muncul. Ia menatap sebal ke arah wajah Sasuke yang membuat tampang mesum –menurutnya.
" Tidak mau, Dasar Teme hentai. Yah! Jangan menyentuhku!" Naruto berteriak panik dengan kaki yang bergerak naik-turun menendang Sasuke karena tangan laki-laki itu sudah bergerak kemana-mana.
" Hei, Dobe!" Sasuke menghentikan berontakan Naruto dengan memegang kedua bahu Naruto.
Ia menatap serius wajah manis itu. Hah, ia hanya ingin mendapat jatah apa itu tidak boleh? Lagipula sudah lama ia tidak melakukannya dengan Naruto karena ada Nanase yang butuh perhatian khusus.
Jadi mumpung timingnya sedang bagus karena kedua anaknya sedang pergi bermain apa salahnya. Mendadak Sasuke mengeluarkan aura devil dan seringaian mengerikannya muncul tanpa sadar.
" Te-Teme?" Panggil Naruto.
Kedua mata bulatnya mengerjap bingung.
Beberapa detik kemudian Sasuke sudah memanggul Naruto layaknya karung beras yang membuat Naruto berontak.
" Kau mau membawaku kemana?!" Naruto bertanya kesal. Ia menggerakkan kakinya naik turun minta diturunkan.
Sasuke tidak menggubris. Ia sudah akan berjalan melewati lorong yang menuju ke kamar mereka.
" Teme, turunkan aku!" Naruto berteriak kesal. Suaranya bahkan menggema di dalam lorong panjang itu.
" Sst, Dobe. Aku hanya meminta jatahku, tidak sampai membuatmu hamil lagi. Lagipula anak-anak sedang tidak ada jadi mereka tidak akan melihat." Sasuke berkata santai.
Tangannya yang tidak menyangga badan Naruto meremas pelan pinggul sintal milik istrinya. Sontak hal itu membuat berontakan Naruto terhenti dan pipinya memerah parah.
Setelah sampai di di depan kamar Sasuke segera masuk kemudian mengunci pintunya.
" Teme, aku sedang tidak mood. Jadi biarkan aku keluar ya?" Naruto bertanya pelan setelah sempat diturunkan oleh Sasuke di ranjang.
" Tidak Dobe. Akan kubuat kau menikmatinya." Ucap Sasuke sambil menyeringai mesum lalu menerjang Naruto hingga jatuh telentang di atas ranjang.
" Sasuke?! Iie, iie, iie, IIEEEEEEEE!"
Sepertinya itu teriakan terakhir yang dikeluarkan Naruto karena selanjutnya, ne readers pasti tahu apa yang akan terjadi.
"Oh? Apa Nii-chan mendengar suara Kaa-san?" Nanase bertanya kepada kakaknya yang sedang menggenggam tangan mungilnya.
Membuat Satoru menoleh lalu mengorek lubang telinganya dengan jari kelingking. Sepertinya adiknya salah dengar. Ia tidak mendengar suara apapun, memang kenyataannya kawasan ini biasa sepi. Lagipula jarak mereka dengan rumah jauh.
" Tidak, Nana-chan. Mungkin kau salah dengar." Satoru berkata di depan wajah Nanase.
Ia kemudian mengambil permen lollipop yang sedang dimakan adiknya lalu memasukannya kedalam mulutnya sendiri.
Nanase memekik kesal. Ia kan sedang memakan lollipopnya. Kedua pipi gembulnya menggembung lucu.
" Kenapa Nii-chan tadi tidak bawa lollipop sendiri sih?!" Nanase bertanya ketus. Kedua kaki mungilnya menghentak-hentak ketanah dengan kesal.
Satoru tertawa kecil. Entah kenapa ia suka sekali menjahili adiknya ini.
" Gomen. Nii lupa membawanya." Satoru mengacak-ngacak rambut emas milik adiknya dengan gemas yang dihadiahi protesan oleh Nanase.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka menelurusi jalan setapak yang mengarah ke taman di dalam perumahan –salah satu fasilitas disana.
Berniat mencari mangsa untuk meminum susu yang tadi pagi telah Nanase buat.
Saat mereka akan berbelok menuju kedalam taman dua orang penjaga yang memakai seragam berwarna biru lengkap dengan topinya menghampiri Satoru dan Nanase. Salah satu dari mereka yang berkepala botak berjongkok di depan Nanase yang memandang heran padanya.
" Adik kecil mau kemana?" Tanyanya ramah.
Orang itu yang bernama Shinosuke Ryo lalu menggenggam tangan mungil Nanase lalu memainkannya naik turun.
" Kau siapa?" Tanya Nanase dengan suara imut.
Kepalanya dimiringkan tanda bingung. Seingatnya ia tidak mengenal orang ini.
Tiba-tiba Satoru berjalan cepat lalu menarik Nanase untuk bersembunyi di belakangnya. Ia tidak suka ada orang yang berani pegang-pegang adiknya.
" Jangan sentuh adikku!" Satoru berkata dingin lalu memberikan death glare khas ayahnya yang membuat laki-laki bernama Ryo itu sukses terjungkal ke belakang.
Melihat temannya terjungkal dengan nista penjaga satu lagi yang bername tag Hibiya Kira membungkukkan badannya dengan tangan menumpu pada lutut di depan Satoru.
" Hai." Sapanya tak kalah ramah.
Iris berwarna hijau terang berbingkai kaca-mata putihnya menyipit saat ia tersenyum.
Satoru menatap tidak suka kearah penjaga bernama Kira itu.
" Nii-chan minggir dulu~" Nanase mendorong Satoru kesamping karena menghalangi pandangannya. Ia kemudian mendongak menatap wajah tampan Kira. Pipi bulat milik Nanase tiba-tiba memerah.
" Kira-Nii~" Panggil Nanase lalu melompat riang yang langsung ditangkap oleh Kira dengan tertawa kecil.
" Apa kabar Nanase?" Tanya Kira sambil menggendong tubuh mungil Nanase.
" Nanase baik. Kira-Nii kenapa tidak pernah main ke rumah Nanase?" Tanya Nanase antusias. Sudah lama penjaga satu itu tidak bermain kerumahnya.
Kenapa Nanase bisa kenal dengan Kira? Itu karena penjaga ini pernah menolongnya pulang saat ia bermain keluar sendirian saat umurnya tiga setengah tahun.
" Ah, akhir-akhir ini sangat banyak pekerjaan jadi tidak bisa bermain ke rumah Nanase." Kira menjawab sambil tersenyum.
Nanase mengangguk-anggukan kepalanya. Tangan mungilnya memainkan rambut abu-abu milik kira yang menyentuh lehernya.
Satoru berdecak kesal melihat interaksi antara Nanase dan penjaga bernama Kira itu. Dalam hati ia akan balas demdam karena sudah membuat Nanase mengacuhkannya. Begitu juga dengan penjaga satu lagi yang bernama Ryo, ia sibuk menggigiti topi tugasnya merasa cemburu.
" Kira-Nii kenapa Nii tampan sekali?" Tanya Nanase polos ia memegangi pipi Kira.
Kira tersenyum lagi lalu balik bertanya, " Nanase juga. Kenapa kau manis sekali? Ah, tidak. Tapi cantik." Ia rasa otaknya korslet.
Entah terhipnotis mata berwarna Shappire itu atau karena terhipnotis wajah cantik anak berumur empat tahun digendongannya tanpa sadar Kira mengecup singkat bibir merah muda Nanase.
Satoru yang melihatnya refleks membulatkan matanya tidak percaya. Orang ini benar-benar! Selama ini belum ada orang lain yang berani mencium adiknya dibibir kecuali anggota keluarganya. Rasanya sudah ada asap yang keluar dari kepalanya yang siap meledak.
" Turunkan adikku!" Satoru berteriak kesal.
Nanase yang baru tersadar dari keterkejutannya menoleh ke arah kakaknya lalu berkata tanpa terduga. " Nii-chan berisik!"
Satoru menganga tidak percaya. Apa adiknya sudah gila?
Nanase kembali menatap wajah Kira yang sedikit memerah.
" Nanase maaf... in-"
" Hihi, Nanase suka Kira-Nii kok." Kata Nanase riang. Menghasilkan senyum tipis di bibir Kira.
Tiba-tiba Ryo bangkit berdiri lalu kembali menggenggam tangan mungil Nanase.
" Nanase-chan, boleh Nii cium juga ya?" Tanyanya antusias. Ryo mulai mendekatkan wajahnya.
Saat kurang dari 15 cm menuju wajah Nanase. Anak itu sudah mendorong wajah Ryo dengan sekuat tenaga. Membuat Ryo terdorong beberapa langkah ke belakang.
" Tidak mau! Aku tidak suka Nii botak!" Kata Nanase kesal sambil menunjuk-nunjuk wajah Ryo dengan jari telunjuknya.
Bagai terkena ribuan panah yang menusuk jantungnya Ryo pun jatuh terduduk sambil menundukkan kepalanya ia kemudian bergumam 'kenapa' berulang kali karena ditolak oleh Nanase.
Satoru yang sudah sangat kesal menendang lutut Kira cukup keras membuatnya menunduk lalu menurunkan Nanase dari gendongannya.
" Nii-chan!" Nanase berteriak tidak terima karena kakaknya menendang Kira.
"Heh. Rasakan itu!" kata Satoru dingin.
" Nii tidak apa-apa?"
Nanase mengusap-usap lutut Kira yang terbungkus celana panjang berbahan katun berwarna biru yang ia pakai. Dengan wajah khawatir ia berbicara sendiri akan rencananya untuk menendang pantat kakaknya membuat Kira tersenyum kecil merasa lucu.
" Iya."
Saat hendak menegakkan tubuhnya Kira dibuat terkejut karena Nanase mencium singkat pipinya. Ia kemudian menarik kakaknya untuk pergi setelah mengucapkan 'sampai jumpa' kepada Kira.
Samar-samar Kira dapat mendengar teriakan kesal Satoru yang berkata akan membalas dendam kepada mereka.
Kira membalikkan badannya kemudian melihat teman kerjanya masih duduk di tengah jalan sambil menatap kosong ketempat terakhir Nanase berdiri tadi.
" Aku sudah bilang jangan menganggu Nanase 'kan? Kakaknya itu galak." Kira berkata santai lalu berlalu meninggalkan Ryo yang masih pundung sambil mengusap bibir bawahnya dengan ibu jari sebelum tersenyum kecil.
Nanase duduk di salah satu ayunan berbentuk bangku sambil mencoret-coret sebuah buku bersampul keroro di pangkuannya. Sambil memasang wajah serius bak orang dewasa yang sedang berpikir akan sesuatu ia tertawa kecil lalu membentuk suatu huruf yang dipelajarinya dari ibunya kemarin dengan pensil di tangannya. Menghiraukan sang kakak yang sedang memakan sandwich buatan Naruto.
" Nii-chan. Makannya masih lama? Nanase bosan. Kapan kita membagi susunya?" Nanase bertanya bosan dengan raut wajah sebal.
Terhitung sudah lima belas menit ia menunggu sang kakak selesai dari acara makannya. Bukannya berhenti Satoru seolah asik sendiri dengan sandwich-nya. Ia bangkit berdiri setelah memasukkan buku dan pensilnya kedalam tas selempang yang ia pakai untuk kemudian berjalan mengahmpiri kakaknya.
Dengan wajah datar Satoru asik memakan sandwich kesukaannya. Menoleh sesaat Satoru lalu menelan bulat-bulat potongan sandwich yang tersisa di dalam mulutnya. Ia kemudian meraih botol air mineral yang ia taruh disampingnya kemudian meminum isinya.
"Aku sudah selesai." Ucapnya sambil menepuk-nepuk tangannya yang terkena remah sandwich yang tertinggal.
Nanase melompat-lompat semangat begitu melihat kakaknya mulai berdiri dari duduknya. Ia segera menarik kakaknya menuju kerumunan anak-anak lain yang kira-kira umurnya lebih tua dari kakak-beradik itu. Lebih tepatnya anak kelas lima SD yang sedang bermain kasti di salah satu lapangan mini perumahan itu.
Anak-anak itu tertawa-tawa senang ketika tiba giliran mereka untuk berlari memutari lapangan.
Nanase berlari kecil menghampiri salah satu anak yang duduk di pinggir lapangan karena tidak ikut bermain meninggalkan kakaknya yang terburu-buru mengejar jauh dibelakangnya.
" Nii!" Sapa Nanase kepada anak tersebut. Sontak anak berambut merah itu menoleh merasa ada yang memanggilnya.
Nanase dengan santainya duduk merapat di sebelah anak berambut merah itu. Menghasilkan tanda tanya besar di kepala anak bernama Hyuuga Akari itu.
Akari mengerutkan alisnya bingung. Iris ungu-nya menelisik wajah anak kecil di sebelahnya yang sedang tersenyum lebar padanya.
" Kau siapa?" Tanya Akari pelan. Duduknya sudah sepenuhnya menghadap ke Nanase.
Nanase tertawa riang. Ia kemudian dengan imutnya memperkenalkan diri sambil menggoyang-nggoyangkan tas selempangnya.
" Namaku Uchiha Nanase. Tousanku sangat tampan dan Kaasan sangat manis, Nii-chan juga tampan. Ah, tapi menurutku aku jauh lebih tampan dari Nii-chan~" Nanase berkata semangat sambil tersenyum manis.
Mendadak Akari memalingkan wajahnya yang tiba-tiba saja memerah. Ia belum pernah melihat anak semanis sekaligus cantik dan bertingkah imut begitu selama ini. Memang banyak teman sekelasnya yang mengidolakan dirinya karena ia keren dan tampan –menurut mereka. Tapi mereka adalah perempuan yang tidak sepenuhnya memiliki karakter seperti bocah yang ada di hadapannya ini yang terlihat natural. Tidak seperti mereka yang kesannya dibuat-buat, ia sama sekali tidak menyukainya. Melihat saja ia enggan.
Setelah menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba menjadi cepat Akari kembali menoleh ke arah Nanase yang sedang menatapnya polos. Entah perasaannya atau bukan ia seperti mencium aroma yang sangat manis menguar dari tubuh bocah itu. Ia menggaruk kepalanya bingung.
" Hyuuga Akari." Ujarnya singkat.
" Akari-Nii?"
Akari mengangguk kecil.
Tak berapa lama muncul Satoru yang berlari menghampiri Nanase yang sedang duduk dengan salah satu anak dilapangan. Iris tajamnya memandang sebal ke arah anak yang duduk di sebelah Nanase. Ia heran kenapa adiknya bisa dengan mudah disukai oleh orang lain walaupun hanya dengan sebatas melihat. Pulang nanti ia harus melapor ke ayahnya tentang kejadian tadi dan mungkin nanti juga.
" Nana-chan." Panggilnya sambil berlari menghampiri Nanase.
Bocah manis itu menoleh sambil membuka tas selempangnya.
" Nii-chan sudah punya target?" Tanya Nanase, ia mengambil termos kecil yang isinya adalah susu buatannya tadi pagi.
" Ya, orangnya tepat disampingmu." Satoru menyeringai sadis sambil melirik Akari yang sedang duduk.
Nanase ikut menyeringai. Tangan mungilnya kemudian memeluk lengan anak berumur 10 tahun itu dengan erat membuat siempunya lengan menoleh kaget.
Akari meneguk ludahnya dengan susah payah. Firasatnya mengatakan akan ada hal berbahaya yang akan menimpa dirinya. Ia menatap bergantian wajah Satoru dan Nanase.
" Ah, hari ini panas ya Nana-chan." Satoru bertanya OOT sambil meraih termos berisi susu milik Nanase. Dan diangguki oleh adiknya.
" Nah bagaimana kalau kau minum ini? Kau tidak keberatan 'kan?" Satoru berjalan perlahan mendekati Akari dengan wajah bak shinigami. Membuat Akari mengerutkan alisnya. 'Apa yang akan anak ini lakukan?' tanyanya bingung dalam hati. Ia hendak mundur tapi Nanase tengah memegang lengannya dengan erat.
" Nii. Bagaimana kalau ganti target saja? Nanase suka Akari-Nii." Nanase berujar polos membuat Satoru mengangkat sebelas alisnya dan membuat pipi Akari bersemu sambil menundukkan kepalanya.
Menghela nafas, Satoru menganggukkan kepalanya lalu pandangannya beralih ke arah anak perempuan yang sedang bermain tak jauh darinya. Ia lalu menghampiri anak-anak tersebut. Selang beberapa detik terdengar jeritan dan tangisan yang diakibatkan oleh Satoru.
Nanase yang melihat tertawa senang sambil menepuk-nepuk tangannya. Kakaknya memang hebat. Hampir semua anak perempuan yang ia lihat lari ketakutan karena ulah Satoru yang memaksa mereka untuk meminum susunya.
Sebenarnya tidak masalah jika susu itu didalamnya terdapat daging semangka yang manis. Masalahnya susu itu terlihat mengerikan dengan warna merah muda sedikit kuning juga terdapat bintik-bintik hitam jika dilihat dari kejauhan. Penyebabnya adalah daging buah semangka yang Nanase remas-remas dengan tangan mungilnya kemudian ia tambahkan mayonaise juga sedikit keju yang ia ambil dari dalam kulkas, ah lebih tepatnya keju yang sudah basi. Jangan tanya bau dan bagaimana rasanya. Mendekat saja bau keju basi sudah sangat menyengat membuat pusing.
Akari menoleh bingung. Sepertinya kakak-beradik beda wajah ini termasuk anak jahil setelah melihat kelakuan Satoru yang sedang mengejar-ngejar seorang anak perempuan berambut hitam dikuncir. Tapi ia bersyukur anak disebelahnya tidak jadi memaksanya untuk minum sesuatu dari dalam termos berwarna merah polos itu. Tunggu, anak kecil berwajah manis ini tadi bilang menyukainya 'kan? Ho~ tiba-tiba Akari mengeluarkan seringainnya. Kalau dipikir-pikir Nanase tidak buruk juga. Ia bisa membuktikan pada teman-temannya jika ia juga bisa memiliki orang yang bisa ia ajak kencan.
Akari, apa otak bocah ini sudah error? Ia bahkan baru berusia 10 tahun tapi sudah berpikir ke hal-hal seperti itu.
Yare-yare.
' Karena sepertinya kakaknya galak jadi aku harus mendapatkan hati bocah manis ini dulu.' Pikirnya dalam hati.
Ia berterima kasih lagi kepada otaknya yang genius karena mampu menganalisis sesuatu dengan cepat dan memang dugaannya tepat.
" Ehem." Akari berdehem pelan membuat Nanase menolehkan kepalanya.
" Apa tenggorokan Nii tersangkut sesuatu?" Nanase bertanya polos.
JLEB!
Perkataan anak ini sungguh diluar dugaan. Akari menyisir poni merahnya kebelakang sedikit menutupi rasa gugupnya.
" Ma-" Sebelum Akari selesai mengucapkan kalimatnya sebuah termos melayang dan tepat mengenai wajahnya membuat ia terjungkal ke belakang.
Sang pelaku pelemparan yang tidak lain tidak bukan adalah Satoru tersenyum bangga. Nice Shoot! Pikirnya. Ia bergegas menghampiri adiknya yang tengah memandangi Akari.
Akari bangkit berdiri dengan perasaan kesal lalu menatap Satoru tajam. Berani-beraninya bocah itu melempar wajahnya.
" Bocah! Kenapa kau melempar wajahku?!" Tanya Akari berang. Wajahnya memerah menahan marah.
" Cih, seharusnya aku yang bertanya kenapa kau menggoda adikku?!" Satoru memberikan death glare terbaiknya.
Tidak mau kalah Akari balas memberikan death glare menghasilkan kilatan listrik diantara mata mereka.
Nanase memandang bingung. Mereka kenapa sih? Tanya Nanase dalam hati. Ia kemudian berdiri menyempil diantara Satoru dan Akari lalu mendorong tubuh mereka mundur berlawanan arah.
" Kakak jangan marah-marah ke Akari-Nii!" Perintah Nanase kesal. Ia menampakkan wajah cemberutnya yang imut.
Membuat Satoru menunjuk wajah Akari dengan kesal lalu mengarahkan jari telunjuknya ke lehernya sendiri dengan gerakan seperti mengiris sesuatu. Kemudian ia berbalik.
" Ayo pulang!" Satoru berjalan terlebih dahulu setelah mengambil termos yang tadi ia lempar.
Nanase berhenti cemberut lalu tertawa kecil. Ia tiba-tiba menarik lengan Akari sehingga Akari menunduk lalu berjinjit untuk mencium pipi Akari.
" Nanase pulang dulu ya~ Dadah Akari-Nii!" Nanase melambai riang sambil menyusul kakaknya.
Akari yang tersadar dari rasa kagetnya mengusap pipi bekas ciuman Nanase tadi. Bagai kesurupan orang gila ia berguling-guling di lapangan tanpa memperdulikan bajunya yang menjadi kotor dan tanpa memperdulikan teman-temannya yang menatapnya aneh.
Sepertinya akan ada banyak orang yang menyukai si Uchiha kecil Nanase walaupun ia jahil. Tapi hanya akan ada satu orang yang bisa menarik hati kecil dan polosnya kelak. Dan menghentikan seluruh ulah jahilnya.
A/N: Yo~ Apa kabar? ^^ yang nunggu ItaKyuu keluar sabar dulu ne.. lalu penjelasan tentang Akari akan dibahas di chapter depan. Kalau ada yang mau bagi ide Kaze tunggu ne
Gomen, Kaze nggk bisa balas review satu-satu tapi Kaze ucapkan banyak-banyak terima kasih karena sudah mau mampir di cerita abal ini..
Akhir kata, See ya guys~
RnR
