Kira Nakazato

Declaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sasuke Uchiha x Naruto Uzumaki

Slight ItaKyuu

Uchiha Nanase

Uchiha Satoru

Uchiha Yuki

Rated : T+

Anime: Naruto

Genre : Family & Romance

Al-genre: Friendship & Humor

Warning : Shounen-Ai,YAOI, M-preg, TYPO(S), AU, OC (Chara), OOC, ALUR KEONG, DLL.


DON'T LIKE DON'T READ!


Naruto mengerjapkan matanya perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Sambil memegangi kepalanya yang sedikit terasa pening ia mencoba duduk diranjang. Naruto kemudian menoleh menatap Sasuke yang tengah tertidur di sampingnya. Dengan kesal ia menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya lalu berdiri di atas kasur.

"SASUKEEE!" Teriaknya dan dengan beringas menginjak-injak perut Sasuke yang tidak tertutup celana panjang yang ia pakai.

Sasuke dengan refleks membuka lebar matanya karena tiba-tiba merasa nyeri di bagian perutnya. Menangkap kaki Naruto yang hendak menginjak perutnya lagi ia kemudian menarik kaki tersebut hingga sang empu terjatuh ke arahnya karena keseimbangannya hilang.

Naruto jatuh menimpa Sasuke dengan posisi menungging.

Sasuke menyeringai kejam melihat pemandangan erotis yang dibuat Naruto. Saat hendak menyentuh bahu milik istrinya, Naruto sudah terlebih dahulu berlari ke kamar mandi setelah tadi sempat memberikan tinjuan mautnya ke perut Sasuke. Sasuke meringis nyeri sambil mengusap perutnya pelan.

Yah, setidaknya ia berhasil mencuri tiga ronde dari istrinya. Ia turun dari ranjang kemudian berjalan menuju satu-satunya jendela berukuran besar yang ada di kamarnya. Menatap pemandangan yang ada di bawahnya ia mengeryit saat melihat sebuah mobil berwarna merah tengah memasuki pekarangan rumahnya.

"Dobe. Dokumen yang kemarin kau taruh dimana?" Sasuke bertanya dengan suara sedang sambil menyisir poninya kebelakang –merasa gerah.

"Ku taruh di mejamu. Apa Ita-Nii sudah datang?" Naruto melongokkan kepalanya menatap Sasuke yang sedang memejamkan matanya sambil melipat tangannya di depan dada.

Sebelum Sasuke menjawab terdengar suara bel rumah berbunyi. Sasuke berjalan menghampiri Naruto di depan pintu kamar mandi.

Naruto baru saja selesai mengenakan baju lengan pendek berwarna orange kesayangannya setelah tadi sempat menyelesaikan acara mandi kilat.

Sebelum Naruto sempat berjalan meninggalkan kamar, Sasuke mengecupnya lalu segera masuk ke kamar mandi.

Naruto menatap Sasuke yang sudah berlalu dari hadapannya dengan kesal lalu menggosok bibirnya dengan punggung tangannya. Dengan terburu-buru Naruto berlari menuruni tangga kemudian membuka pintu depan rumahnya.

"Maaf menunggu lama." Naruto berucap sambil menampilkan senyum lebar.

"Dari mana saja kau?" Tanya kakak kandung dari Naruto itu dengan nada ketus.

Naruto merengut mendengar pertanyaan kakaknya.

Laki-laki ber-iris merah darah itu memasuki rumah dengan santai karena memang sudah biasa.

" Kyuu-Nii sendirian?" Tanya Naruto mengikuti kakaknya yang bernama lengkap Uchiha Kyuubi itu –sekarang.

Kyuubi mendudukkan dirinya di sofa single yang ada di ruang keluarga sebelum menjawab.

"Aku bersama Itachi dan Yuki. Mereka masih ada di mobil." Kyuubi berkata santai sambil meraih majalah sport yang ada di atas meja.

Naruto duduk di hadapan Kyuubi lalu menopang dagunya. Kakaknya sangat berbeda jauh darinya. Meskipun sama-sama jahil kakaknya cenderung pendiam dan pastinya menyebalkan –menurutnya. Walaupun bisa menjadi sangat baik.

Tidak berapa lama Itachi yang tengah menggendong Yuki yang tertidur nyenyak di bahunya memasuki pintu yang masih terbuka dengan lebar karena memang Naruto tidak menutupnya kembali.

"Kemana si kembar?" Tanya Itachi sambil berjalan menghampiri Kyuubi. Biasanya Nanase akan langsung merecokinya dan Satoru akan langsung menarik Yuki pergi.

"Tadi mereka bilang mau bermain. Tapi aku berharap mereka tidak membuat ulah lagi." Naruto menjawab, ia kemudian berlalu menuju dapur untuk membuat minum.

Itachi menurunkan Yuki dari gendongannya ke pangkuan Kyuubi yang sudah menjulurkan tangannya.

Kyuubi mengusap pelan punggung kecil milik puteranya setelah tadi menyandarkan kepala Yuki di dadanya.

Itachi ikut mengusap kepala Yuki lalu mendudukkan dirinya di sofa panjang di sebelah Kyuubi.

"Kyuu. Nanti kau mau membantu 'kan?"

Melepas jaket yang ia pakai Itachi menyandarkan punggungnya di sofa sambil menyamankan duduknya.

"Aku mau alat itu." Kyuubi berkata pelan. Ekor matanya melirik Itachi.

Itachi menelan ludahnya gugup. Jangan bilang istrinya menginginkan alat pendeteksi nuklir yang tidak sengaja ia bahas tadi malam bersama rekan bisnisnya. Dan sialnya kenapa Kyuubi harus mendengarnya? Tidak masalah jika Kyuubi menginginkan alat tersebut. Ia tahu Kyuubi tidak akan berbuat macam-macam. Tapi masalahnya harganya itu yang membuat ia merinding. Bayangkan saja, harganya mencapai 100 juta yen untuk satu unit alat itu. Bisa-bisa saham perusahaannya turun. Dan ia bisa digantung oleh ayahnya.

"Hahaha~" Itachi tertawa kikuk sambil menggaruk kepala belakangnya tidak ikhlas.

"Omae wa shitte imasu ka? Itu limited edition 'Tachi! Aku harus mendapatkannya!" Kyuubi menampakan wajah serius ketika mengatakannya.

Sambil menatap tajam iris hitam Itachi mencoba membuat wajah memohon tapi malah wajah mengintimidasi yang ia buat.

Sebenarnya bukan sepenuhnya salah Itachi Kyuubi bersikeras mendapatkan alat tersebut. Ia memang sudah memiliki hobi mengoleksi barang-barang impossible semacam itu dari kecil. Bahkan ia sudah tergolong fanatik untuk membuatnya sendiri. Dulu saat masih sekolah dasar saja ia sudah bisa membuat Shoot Handler. Semacam alat yang digunakan jika seseorang menembakkan peluru padanya Kyuubi hanya perlu menaikkan frekuensi gelombang suara pada alat yang ia buat. Memang telinga manusia biasa tidak akan mendengar suara yang dipancarkan tapi peluru tadi berhasil memantul sejauh 100 meter saat dikembalikan. Bahkan kecepatannya melebihi daya letup yang dihasilkan senjata api itu sendiri. Dan itu Kyuubi langsung turun tangan untuk mencobanya dengan meminta bantuan ayahnya yang saat itu merasa kagum sekaligus bangga. Tapi tidak ada yang boleh mengetahui hal itu dan hanya keluarga mereka sendiri sebagai pengecualian. Karena jika sampai ada orang lain yang mengetahui informasi tersebut akan sangat berbahaya apalagi sampai disalah gunakan. Dan itu menjadi rahasia hingga saat ini. Sebenarnya masih banyak lagi benda-benda semacam itu yang dibuat oleh Kyuubi tapi jika dijelaskan satu persatu akan menjadi sangat panjang ceritanya.

"Kyuu. Aku tahu itu limited edition tapi bukan itu masalahnya." Itachi mencoba membujuk.

"Kau takut saham perusahaan turun 'kan?" Kyuubi bertanya sambil menaikkan alisnya. Sifat egoisnya mulai keluar saat ini.

"Memangnya salah siapa aku harus meminta sesuatu yang kusukai padamu? Aku sudah mencoba mendaftar pekerjaan tapi kau selalu meminta mereka untuk menolakku."

Perkataan Kyuubi tepat sasaran membuat Itachi menghela nafas. Memang Itachi sendiri yang tidak memperbolehkan Kyuubi bekerja dan meminta perusahaan yang didatangi Kyuubi untuk tidak menerima istrinya bekerja. Alasannya cukup ia yang harus mencari nafkah untuk keluarga mereka karena itu merupakan tanggung jawabnya. Selain itu Kyuubi memiliki kondisi fisik yang lemah. Ia bisa sakit parah jika terlalu kelelahan dan terlalu banyak beban pikiran.

"Baiklah. Tapi setelah ini jangan ada alat-alat seperti itu lagi!" Itachi akhirnya menyerah. Kau tahu rasanya tidak dipedulikan istri itu bagai tertimpa gunung. Sakit man! Daripada mendengar Kyuubi merengek secara tidak langsung dan akhirnya dicueki lebih baik menuruti saja permintaannya.

Kyuubi menampilkan cengiran lebarnya yang tidak pernah ia perlihatkan kepada orang lain selain keluarganya. Membuat Itachi balas tersenyum kecil lalu meraih dagu Kyuubi dan menariknya mendekat. Ia kemudian memberikan kecupan singkat di bibir berwarna merah alami itu.

Pipi putih Kyuubi merona mendapat kejutan itu hingga ia tanpa sadar melalukan kebiasaannya ketika sedang malu, yaitu mencubit siapa saja yang ada di dekatnya dengan cubitan yang sangat menyakitkan. Rasanya mirip disengat lebah, dan saat ini yang menjadi korban adalah sang suami sendiri.

Itachi berjengit merasakan serangan tiba-tiba itu. Wajahnya bahkan sudah berwarna ungu menahan betapa sakitnya cubitan yang dihasilkan. Mungkin jika itu orang lain ia akan menjerit sejadi-jadinya sekarang. Penderitaan Itachi berhenti ketika adiknya yang kelihatan baru saja selesai mandi memasuki ruang keluarga dengan handuk kecil yang menggantung di leher pucatnya. Mata onyx Itachi menyiratkan kata 'terima-kasih' untuk adiknya yang membalas dengan seringai tipis dibibirnya.

"Dimana Naruto?" Suara baritone itu memecah keheningan yang tidak sengaja tercipta antara pasangan suami-istri di hadapan Sasuke.

Kyuubi menjawab dengan ibu jarinya yang menunjuk dapur didalam ruang keluarga berada.

Sasuke kemudian mengangguk mengerti. Ia melirik jam dinding berbentuk bola yang tergantung di dinding sebelah kirinya. Tepat menunjuk angka 11 di jarum pendeknya. Satu jam lagi sebelum waktu makan siang tiba. Ia yakin sebentar lagi kedua puteranya akan pulang.

"Maaf lama. Tadi aku mencari persediaan teh hijau yang masih tersisa di dapur." Naruto berkata pelan sambil menaruh empat cangkir berisi teh hijau di atas meja. Ia kemudian duduk di sebelah Sasuke sambil memeluk nampan yang tadi ia gunakan untuk alas membawa cangkir.

Baik Sasuke, Itachi maupun Kyuubi hanya mengangguk singkat kemudian mulai menyesap teh hijau hangat yang tersaji di depan mereka dengan anggun. Naruto tersenyum kecil melihat itu. Pandangannya lalu tertuju pada keponakannya yang masih tertidur dipangkuan kakak kandungnya. Bocah manis itu terlihat bagai copy-an wajah Kyuubi, begitu juga dengan rambut dan iris matanya yang berwarna ruby. Hanya saja ia mewarisi sifat tenang mirip Itachi dan sedikit sifat jahil milik Kyuubi.

"Apa Yuki-chan sedang sakit?"

Itachi yang baru saja menaruh cangkir ke atas meja menjawab dengan tenang. "Kira-kira seperti itu. Tapi keadaannya sudah jauh lebih baik daripada semalam, ini berkat ibunya." Itachi melirik Kyuubi melalui ekor matanya yang dibalas tatapan tajam milik Kyuubi.

Naruto menghela nafas lega. Ia hampir saja akan berteriak khawatir jika saja Itachi menjawab hanya dengan kata 'iya' atau 'benar'. Naruto hendak menanyakan sesuatu kembali tetapi terinterupsi ketika dengan suara nyaring putera bungsunya mengakatan akan menendang pantat kakaknya nanti jika sudah makan siang.

"Kaasan~" Suara itu terdengar lagi begitu sang pemilik suara berlari kecil memasuki rumah dengan wajah riang.

Naruto menoleh menatap putera bungsunya yang tengah berlari ke arah dirinya berada. Dengan sigap ia mendekap Nanase di pelukannya lalu mengangkat sang putera bungsu kepangkuannya.

Tidak berapa lama Satoru masuk dengan wajah datarnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Satoru naik ke atas sofa dimana ayahnya berada lalu memeluk leher ayahnya cukup erat sambil membenamkan wajah putihnya di bahu tegap ayahnya, menghiraukan tatapan bingung dari semua orang yang ada disana. Bukan tanpa alasan tiba-tiba Satoru bersikap manja seperti itu. Ia tetaplah anak berusia enam tahun pada umumnya walaupun ia terlalu jenius untuk anak seumurannya. Ia akan seperti ini jika merasa sangat kesal dan sedang dalam keadaan bad mood tingkat parah.

Tidak menampakan wajah terkejut karena sudah beberapa kali mengalami hal serupa, Sasuke menepuk pelan puncak kepala raven Satoru. Ia tidak bisa memungkiri jika Satoru memang memiliki sifat yang manja sama dengan Nanase, hanya saja ia mendadak bersikap dewasa karena peran kakak yang ia sandang. Dalam hati Sasuke tertawa kecil, tetap saja Satoru dan Nanase adalah putera kesayangannya. Handuk kecil yang tadi ada di samping kanan Sasuke ia taruh di atas kepala raven Satoru untuk menutupinya.

"Ayah. Tadi ada yang berani mencium Nanase. Kau tahu, aku sangat kesal." Meski suara yang dikeluarkan Satoru begitu datar dan sangat pelan tetapi Sasuke masih dapat mendengarnya berkat telinganya yang tajam. Mata Sasuke mendadak berkilat tidak suka. Tiba-tiba ia memikirkan hal-hal sadis yang akan ia lakukan pada siapapun yang berani melakukan itu pada Uchiha bungsunya.

"Kaasan. Apa Nanase boleh makan daging?" Suara lembut dan polos yang tiba-tiba terdengar itu membuat berbagai kepala menoleh kearahnya tak terkecuali yang dipanggil 'Kaasan' oleh Nanase.

Naruto menggangguk kecil. "Tentu saja sayang. Asal setelah itu Nanase harus menggosok gigi."

Jawaban dari Naruto membuat Nanase menampilkan senyum lebarnya. Mata bulatnya kemudian menatap Kyuubi yang masih menatapnya.

"Kyuu-aunty~" Pekikan kecil itu membuat Kyuubi sedikit terperanjat tetapi ia segera sadar kemudian merentangkan tangannya, memberikan isyarat supaya Nanase memeluknya.

Setelah diturunkan oleh ibunya Nanase segera menghampiri Kyuubi kemudian memeluk bibi kesayangannya itu dengan erat. Dibalas dengan pelukan hangat mirip ibunya dari Kyuubi.

Seperti biasanya, Nanase akan mencium orang yang ia sayangi termasuk bibinya tepat dibibir. Sebenarnya sebuah kecupan yang polos. Cerminan dari rasa sayang yang begitu tulus.

Kyuubi mengacak surai emas keponakannya merasa gemas sendiri. Wajah garang yang biasa ia tunjukkan di depan orang lain berganti dengan wajah lembut khas Kyuubi.

Nanase terkikik kecil merasa senang. Ia kemudian beralih menatap Itachi yang masih asik dengan teh hangatnya. Agak terkejut Itachi buru-buru menaruh cangkirnya ke atas meja karena Nanase menarik lehernya turun dari samping dengan tangan mungilnya untuk mencium pipi kanan Itachi.

Sasuke yang melihat itu hanya tersenyum kecil sambil mengusap punggung Satoru yang masih memeluknya begitu juga dengan Naruto.

"Nanase tidak ingin menyapa Yuki-Nii juga, hm?" Pertanyaan itu membuat Nanase menolehkan kepalanya ke arah Kyuubi dengan wajah polos.

Oh iya, ia hampir lupa dengan Yuki-Nii yang tadi masih tidur di pangkuan bibinya. Nanase dengan jahil pun mulai menggelitiki pinggang ramping milik Uchiha Yuki yang masih tertidur pulas. Alis berwarna merah itu mulai bergerak gelisah akibat rasa tidak nyaman yang sang pemilik rasakan. Perlahan-lahan kelopak mata berwarna putih susu itu terbuka menampilkan bola mata berwarna ruby yang sangat cantik. Sambil mengerjap Yuki mendudukkan dirinya di sebelah Kyuubi yang tengah menatapnya. Anak yang berusia lebih muda beberapa bulan dengan Satoru itu menatap sekelilingnya dengan bingung.

"Apa ini sudah pagi?" Suara yang tak kalah lembut dari milik Nanase bertanya pelan.

Bukannya mendapat jawaban, ia malah mendapat pelukan hangat dari sepupunya. Siapa lagi kalau bukan si kecil Nanase.

"Nii~" Nanase memanggil pelan.

Yuki memiringkan kepalanya lalu mengusap kepala Nanase dengan pelan. Sebenarnya kepalanya sedikit pusing, ia juga bingung kenapa tiba-tiba bisa terbangun di rumah pamannya.

Mendengar suara Yuki di telinganya Satoru beranjak turun dari sofa setelah mendapat tepukan pelan di pipi kirinya dari sang ayah dan menghampiri Yuki yang juga tengah menatapnya.

"Hai." Sapa Satoru singkat. Seringai yang biasa ia tunjukkan tiba-tiba muncul kembali di wajah tampannya setelah tadi sempat menghilang beberapa saat.

Yuki balas tersenyum kemudian meraih uluran tangan yang diberikan Satoru padanya. Mereka kemudian segera berlari dari ruangan itu. Entah dapat kekuatan dari mana Yuki mampu mengimbangi langkah kaki Satoru yang sedang berlari padahal sebelumnya ia masih lemas untuk sekedar berdiri. Para orang-tua disana hanya menatap maklum. Kedua anak itu memang sangat dekat, bisa dibilang sudah seperti sahabat yang tak terpisahkan.

Nanase kembali naik ke pangkuan Naruto setelah tadi menyambut Kyuubi, Itachi dan Yuki. Tangan mungilnya memegang sisi kiri dan kanan wajah ayahnya lalu membuatnya menoleh kepadanya.

Sasuke memandang bingung sebelum tertawa kecil begitu Nanase mencium bibirnya sambil mengatakan 'Nanase sayang Tousan' di atas permukaan bibir pucat itu. Sasuke memundurkan kepalanya lalu mengusap pipi bulat milik Nanase yang sedikit merona merah karena udara sedikit dingin. Yah, sebentar lagi memang akan masuk musim dingin.

Naruto bangkit berdiri lalu menarik Kyuubi yang sempat asik melihat-lihat majalah sport ditangannya.

Menaikkan alisnya dengan bingung, Kyuubi hanya menuruti adiknya yang menarik dirinya berdiri.

"Kami menyiapkan makan siang dulu ya~" Kata Naruto riang. Ia kemudian menarik Kyuubi ikut bersamanya yang dibalas dengusan pasrah oleh orang yang bersangkutan.

Tetapi sebelum itu Itachi terkena lemparan majalah oleh istrinya sendiri yang telak mengenai wajah tampannya. Oh, betapa malangnya dirimu, Itachi-san. Menghiraukan Itachi yang sedang mengusap hidung mancungnya yang sedikit memerah, Sasuke serta Nanase masih sibuk bersenda gurau. Sasuke menciumi perut serta leher Nanase yang membuat anak itu tertawa karena merasa geli hingga berbaring di sofa. Walaupun tangan mungilnya berulang-kali mendorong wajah Sasuke, tetap saja Sasuke berhasil mengulangi hal yang sama dengan mudah. Mau tidak mau Itachi jadi ikut tertawa kecil melihat pemandangan itu. Rupanya ia memiliki hobi yang sama dengan adiknya untuk menggelitiki putera masing-masing seperti itu. Tentunya saat Yuki masih sangat kecil dan suka diajak bercanda seperti Nanase saat ini.


Hyuuga Akari merupakan putera tunggal dari pasangan Hyuuga Neji dan Hyuuga Gaara. Memiliki wajah tampan, rambut berwarna merah darah dan iris berwarna ungu menyala. Ia termasuk anak yang cerdas diantara teman-temannya yang lain dan sedikit pendiam. Di sekolahnya ia terkenal diantara para murid perempuan. Padahal menurutnya ia biasa saja, sangat terlampau biasa saja malah. Ayahnya adalah pemilik Hyuuga Corp sedangkan Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Dan status itu membuatnya menjadi seorang tuan muda di dalam rumah megahnya. Tapi diantara teman-temannya tidak ada yang benar-benar mengetahui kebenaran ini, karena ia lebih menyukai kesederhanaan yang diwariskan ibunya. Menurutnya itu lebih terasa nyaman daripada pamer akan harta benda yang dimiliki orang-tuanya.

Akhir-akhir ini ia merasa iri dengan teman sesekolahnya yang pamer dengan sok-sok-an mengatakan kalau mereka sudah memiliki pacar. Bukannya mengejek, ia memang tidak memiliki orang yang benar-benar ia sukai. Hingga saat ini sebenarnya banyak anak perempuan di sekolahnya yang berulang kali dan tidak tahu malunya menembak dirinya. Dan berulang kali juga ia menolak dengan alasan simple yaitu 'kau bukan tipeku'. Bisa dikatakan ia terlalu jujur memang.

Tapi yang mengerikan dari Akari adalah sekali ia menyukai sesuatu maka ia akan bersungguh-sungguh dan akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Sekalipun itu perbuatan tidak baik seperti mencuri sesuatu yang bukan miliknya karena ia terlanjur menyukainya.

Ngomong-ngomong setelah kejadian tadi di taman ia tidak bisa berhenti tersenyum membuat sang ayah yang bernama Hyuuga Neji menatapnya dengan alis mengeryit. Laki-laki tampan berambut cokelat gelap itu merasa heran akan mimik wajah yang ditampilkan putera tunggalnya sedari tadi. Biasanya Akari akan menampilkan wajah datar identik dengan istrinya.

Menaruh beberapa dokumen yang tengah ia tanda tangani ke atas meja ia bertanya dengan suara sedang karena merasa penasaran.

"Akari, apa yang membuatmu terus tersenyum seperti itu?"

Akari tersentak kecil mendengar pertanyaan tiba-tiba dari ayahnya, semula wajahnya yang dihiasi senyum hilang mendadak digantikan dengan wajah datar.

"Tidak ada apa-apa, Tousan." Akari menjawab dengan nada datar.

Neji menghela nafas mendengar jawaban singkat yang diberikan Akari.

"Tousan, dimana Kaasan?"

"Kau bisa menemukannya di perpustakaan, Akari."

Mendapat jawaban akan pertanyaannya, Akari mengangguk kecil kemudian segera melangkahkahkan kakinya menuju perpustakaan untuk menemui ibunda tercinta.

Neji yang masih penasaran mencoba menduga-duga sekiranya apa yang membuat sang putera menjadi ekspresif seperti itu. Mengedikkan bahunya, Neji meraih kembali dokumen yang belum selesai ia tanda tangani.


Kembali ke kediaman Uchiha. Setelah menyantap makan siang yang dibuat oleh dua chef handal bernama Uchiha Naruto dan Uchiha Kyuubi dengan tema 'daging' yang tumben-tumbennya berjalan dengan tenang dan damai. Masing-masing dari mereka kembali mengerjakan rutinitas yang sempat tertunda akibat perut lapar itu. Tak terkecuali Nanase yang sedang sibuk mencoret-coret buku milik kakaknya di atas meja setelah tadi sempat bergelayutan di kaki ayahnya yang berniat membicarakan masalah perusahaan dengan Itachi. Awalnya Nanase bersikeras ingin menemani tetapi dengan iming-iming lollipop jumbo oleh ayah dan pamannya ia akhirnya bersedia bermain di ruang keluarga bersama Satoru dan Yuki. Masih ingat bukan jika Nanase adalah anak yang jahil? Sasuke tidak yakin putera bungsunya akan dengan tenang duduk sambil memperhatikan Sasuke dan Itachi yang sedang berdiskusi. Bisa-bisa ruang kerja milik Sasuke hancur berantakan karena Nanase. Dan demi kepentingan bersama Sasuke terpaksa membujuk Nanase untuk bermain saja daripada menemaninya.

Sementara dua pasangan kakak-beradik manis sekaligus cantik disana tengah sibuk ber-eksperimen membuat berbagai macam kudapan di dapur.

Nanase melirik kakaknya yang tengah asik membaca buku bersampul biru langit dengan tulisan 'MATEMATIKA' berwarna putih di covernya, dan Yuki yang sedang sibuk menguncir kecil-kecil rambut raven Satoru dengan karet sintetis berwarna hitam.

Entah apa yang ada di kepala Yuki, dia sangat menyukai aktivitasnya itu. Yang membuat heran Satoru sama sekali tidak memprotes malah terlihat menikmatinya.

Ia merasa bosan!

Nanase beranjak dari posisinya yang duduk nyaman diatas permadani berwarna putih gading. Tiba-tiba ide jahil melintas di otak polosnya.

"Nii-chan~" Nanase menghampiri kakaknya dengan berlari riang. Kedua lengan mungilnya memeluk erat buku milik Satoru didadanya.

Satoru menatap datar wajah adiknya, mulutnya sibuk mengunyah kentang goreng buatan ibu tersayang.

"Nanase mau main dengan Kira-nii, ya!" Pamit Nanase sambil memasang senyum lima jari.

Satoru tersedak, kedua bola mata birunya membelalak begitu mendengar kalimat yang diucapkan adiknya. Ia melompat dari sofa lalu mencekal lengan Nanase dengan pelan sebelum Nanase sempat berlari keluar.

"Tidak, tidak, tidak! Nii tidak mengizinkan, Nanase!" Satoru berucap cepat menghasilkan raut masam di wajah Nanase, tapi didalam hati Nanase tertawa senang bisa membuat wajah kakaknya menjadi panik seperti itu.

"Ta-tapi Nanase bosan, Nii-chan~" Nanase kembali merengek dengan suara mendayu, kali ini pipinya sudah menggembung.

"Sato-chan... Kenapa tidak membiarkan Na-chan bermain saja? Kalau kau khawatir kau 'kan bisa menemaninya." Kalimat yang dilontarkan Yuki semakin membuat wajah Satoru menggelap. Ia menoleh kepada sang sepupu sambil menunjukkan wajah tidak setuju.

"Yuki-nii yang terbaik!" Nanase menghambur ke arah Yuki membuat Yuki telentang di atas sofa yang tadi ia duduki.

Satoru menghela nafas. Sebenarnya ia tidak rela tapi ia juga sedang ingin berduaan saja dengan Yuki (eh?) Uchiha sulung punya niat terselubung ternyata. Psst, merupakan rahasia juga kalau ternyata Satoru punya hobi bermanja-manja dengan sang sepupu. Ia kembali menatap adik dan sepupunya yang sekarang sibuk saling menggelitik dan tertawa dengan renyahnya.

"Ok, tapi kau hanya boleh main di halaman rumah saja dan panggil rambut ubanan itu kemari. Pokoknya kau tidak boleh keluar Nanase!" Satoru melontarkan wejangannya sebagai seorang kakak yang baik. Hei, ia juga tidak mau adiknya hilang nanti saat ia bermain sendiri apalagi kawasan tempat tinggal mereka bisa dibilang tidak sempit.

Mendengar itu Nanase mengangguk setuju ia kemudian melompat memeluk kakaknya yang berada tepat di bawahnya.

Satoru mendelik kaget tapi itu hanya sesaat karena setelahnya ia tersenyum lalu mengelus surai emas adiknya. Setelah mendapat cengiran lebar dari adiknya dan mendapati adiknya sudah tidak ada di hadapannya dalam beberapa detik kemudian, Satoru kembali memakan kentang gorengnya tak lupa Yuki yang kembali asik menjamah rambut raven Satoru sambil sesekali menerima suapan kentang goreng yang diberikan padanya.

"Aaaah~" Nanase memekik senang ketika sampai di halaman rumah yang terbilang luas. Seperti baru mendapatkan udara segar dari luar karena dikurung di penjara ia meraup rakus oksigen yang melayang-layang di udara.

Hendak memeluk pilar favoritnya di sisi kanan pintu ia mengerutkan keningnya lalu menoleh cepat menatap gerbang yang terdapat siluet seseorang tengah berdiri memandangnya disana.

Oh? Siapakah dia? Nantikan di chapter depan.


Thank you very much for all reader! ^^ see you to next chapter!