.

oOo

If I more become jealous

Coz I don't want split up from you

.

.

oOo

.

.

Rated T

Meanie Couple

Genderswitch

OS

.

.

Happy Reading

Mingyu menatap kalender meja miliknya, ia terus menandai di satu tanggal. 17 Juli. Itu adalah ulang tahun Wonwoo. Mingyu ingin memberikan kado istimewa untuk kekasihnya.

Mingyu menopang dagunya sambil menatap kalender di meja belajar kamarnya. "Hufftt... beli apa ya? Kesukaan dia apa ya?" Mingyu galau lalu ia beranjak menuju tempat tidurnya dan merebahkan diri. Ia mengusap layar ponselnya menampilkan wallpaper foto Wonwoo, Mingyu membuka chat lalu menutupnya kembali karena chat terakhir 2 jam lalu Wonwoo sudah pamit tidur.

"Ah sudah malam, besok saja aku cari tahu." Mingyu memejamkan matanya setelah lelah mengerjakan tugas sekolah.


oOo


Mingyu menyusul Wonwoo saat jam istirahat ke perpustakaan. Mingyu memerhatikan penampilan kekasihnya saat sedang membaca disamping ia duduk. Merasa diperhatikan, Wonwoo menoleh dan memandang dengan tajam.

"Kenapa? Ada yang salah?"

"Tidak, hanya saja kamu terlihat serius. Kamu suka membaca ya? Buku apa yang kamu suka?" Mingyu berpikir mendapat ide untuk membeli barang kesukaan Wonwoo.

"Aku suka membaca novel, majalah, hmmm tentang motivasi dan resep masakan."

"Kamu suka memasak?" Mingyu semakin tertarik dengan jawaban Wonwoo. Calon idaman pikir Mingyu.

"Tidak. Hanya suka melihat gambar makanannya saja. Terlihat enak." Jawab Wonwoo sambil terkekeh geli.

"Aish aku pikir benar suka memasak biasanya remaja putri mulai senang memasak."

Wonwoo hanya terkekeh geli dan melanjutkan membaca sementara Mingyu terlihat berpikir dengan jawaban Wonwoo.

"Masak ya? Masak? Hmm..." gumam Mingyu lirih sambil menatap langit-langit perpustakaan sekolahnya.

.

.

"Sayang, nanti kamu turun sendiri ya karena aku masih ada urusan." Mingyu mengusap punggung tangan Wonwoo saat pulang bersama seperti biasa.

"Kamu mau kemana?"

"Aku mau ke tempat paman aku." Mingyu mengedip sembari tersenyum ke arah Wonwoo.

"Ya sudah, jangan pulang malam ya. Jangan keluyuran, langsung pulang dan istirahat." Wonwoo memberi nasehat sebelum turun.

"Iya sayang." Mingyu senang merasa sangat diperhatikan. Wonwoo bangun dari duduknya untuk bersiap turun.

"Hati-hati turunnya ya."

Wonwoo turun dari bis dan menengok ke arah Mingyu yang masih didalam bis, Mingyu memberikan sign heart dengan kedua telapak tangannya yang ditekuk dan Wonwoo tersenyum melihatnya.

Mingyu mendatangi ke tempat pamannya bekerja di sebuah hotel. Beruntung sang paman ada di tempat jadi Mingyu bisa langsung bertemu.

"Ada apa Gyu? Tumben kemari."

"Paman, apa disini bisa kerja part time?" Mingyu langsung ke pokok masalah.

"Untuk siapa?"

"Untukku." Jawab Mingyu cepat. Pria dihadapan Mingyu duduk langsung kaget dengan jawaban keponakannya.

"Apa? Aku tidak salah dengar? Untuk apa?"

"Ayolah paman, beri aku kesempatan 2 minggu saja asal aku dapat uang dari hasil kerjaku."

"Kim Mingyu, kamu butuh uang? Berapa? Apa ayahmu tidak memberi uang jajan padamu? Atau kamu mengambil uang SPP?"

"Astaga paman Kim Beom yang paling tampan tapi aku juga tak kalah tampan darimu, aku tidak akan bertindak bodoh mengambil uang SPP bisa dihajar aku oleh ibu. Tapi aku butuh untuk membeli sesuatu."

"Untuk apa? Katakan dengan jelas."

"Pacarku mau ulang tahun 2 minggu lagi jadi aku ingin membeli sesuatu dengan uang hasil keringatku."

"Wow! Amazing! Aku tak menyangka kamu bisa berpikir sampai sejauh itu. Dia sangat istimewa bagimu ya?" Kim Beom tertawa setelah mendengar jawaban Mingyu.

"Iya paman, ya boleh ya. Aku cuci piring di restoran juga tidak apa. Ayolah paman, izinkan aku. Disini pasti banyak yang bisa aku kerjakan."

"Apa orang tuamu tahu hal ini?"

"Tidak dan tolong rahasiakan hal ini paman."

"Apa?! Bisa di hajar aku oleh ayahmu nanti."

"Ayolah paman, 2 minggu saja ya." Mingyu terus memohon agar diizinkan, Kim Beom hanya terdiam melihat permintaan tulus dari keponakannya.

"Aku beri kamu uang saja dan kamu bisa langsung membeli hadiah untuk pacar kamu." Kim Beom bergerak untuk mengambil dompetnya.

"Tidak paman. Niatku kesini untuk bekerja bukan untuk minta uang, kalau uang aku bisa minta pada ibu. Tujuanku membeli hadiah hasil dari keringatku sendiri." Mingyu masih berusaha meyakinkan pamannya. Kim Beom hanya terdiam dan Mingyu menatap sang paman berharap diberi izin.

"Baiklah, 2 minggu saja ya. Aku antar kamu untuk bertemu Chef Jung barangkali dia butuh tenaga untuk di dapur." Kim Beom bangun dari duduknya diikuti Mingyu berjalan dibelakangnya sambil tersenyum senang usahanya mendapat kerja part time berhasil.

Berkat jabatan pamannya yang seorang General Manager di hotel bintang 5, maka Mingyu dengan mudah mendapat pekerjaan. Mingyu bisa langsung mulai keesokannya setelah pulang sekolah dengan jam kerjanya selama 4 jam setiap hari mengingat Mingyu masih sekolah.


oOo


Mingyu pulang sekolah tetap bersama Wonwoo tapi seperti sebelumnya Wonwoo turun sendiri sementara Mingyu melanjutkan perjalanan. Mingyu beralasan ada urusan, ia tidak memberitahu tentang kerja part time yang ia lakukan pada Wonwoo.

Sudah 4 hari Mingyu bekerja, ia sangat bersemangat setiap melakukan kegiatannya mengingat ulang tahun Wonwoo yang tinggal menghitung hari. Mingyu mengerjakan berbagai kegiatan di dapur dari mencuci piring, membuang sampah hingga membersihkan dapur. Semua pegawai merasa senang dengan semangat kerja Mingyu yang tinggi.

"Mingyu, tolong ambil persediaan kubis ya." Ucap Chef Jung sang koki utama.

"Iya chef!" Jawab Mingyu semangat, ia langsung keluar dapur menuju tempat persediaan bahan makanan.

Mingyu membawa sekantung besar kubis sambil bersenandung senang.

"Mingyu?"

Mingyu menoleh setelah ada yang memanggil, ia kaget dengan seseorang didepannya.

"Sayang?" Mata Mingyu membulat melihat sosok didepannya.

Tanpa disangka Mingyu bertemu dengan Wonwoo di lorong hotel. Wonwoo kaget dengan penampilan Mingyu yang memakai seragam, ia terus mengamati dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan sosok yang ia kenal didepannya.

Mingyu juga tidak kalah kaget karena bisa bertemu Wonwoo di hotel, saat malam hari. Penampilan Wonwoo dan Mingyu bagaikan bumi dan langit. Saat itu Wonwoo terlihat cantik dengan dress selutut berwarna putih dan rambutnya ia gerai, sepatu yang dikenakan juga terlihat cantik dengan warna senada seperti dressnya. Sementara Mingyu dengan seragam hitam putih dan celemek yang basah serta kotor.

"Won? Sudah selesai? Sudah malam, ayo pulang." Ajak seorang pemuda pada Wonwoo.

"Iii..ya oppa." Jawab Wonwoo terbata-bata sedikit menoleh ke belakang, Mingyu mendengar dengan jelas Wonwoo memanggil "Oppa" pada pemuda itu.

Ada guratan sedih dan kecewa dari wajah Mingyu mendengar Wonwoo bicara dengan seorang pemuda yang Mingyu tidak kenal. Pemuda itu tampan dan berkulit putih bersih walau tingginya masih kalah dibanding Mingyu.

"Pulanglah." Ucap Mingyu sedih walau ia ingin bertanya lebih lanjut siapa orang itu namun dengan penampilan Mingyu saat ini jelas kalah dibanding dengan pemuda itu yang terlihat rapi. Mingyu langsung berjalan lagi menuju dapur meninggalkan Wonwoo yang masih diam mematung.


oOo


Wonwoo mencari keberadaan Mingyu karena Mingyu tidak membalas chatnya, hanya dibaca. Ditelepon pun tidak diangkat. Wonwoo mencari ke kelas tidak ada, di kantin tidak ada. Sempat bertanya pada teman sekelasnya tapi tidak ada yang tahu.

Wonwoo mencari keseluruh sekolah, sampai ke atap akhirnya ia menemukan Mingyu sedang sendiri.

"Kamu kemana saja? Aku mencarimu." Ucap Wonwoo dengan nafas tersengal karena lelah. Mingyu hanya menoleh lalu terdiam.

Wonwoo merasa suasananya tidak enak. "Kamu kenapa ada disana?" Tanya Wonwoo hati-hati. Mingyu langsung pergi meninggalkan Wonwoo.

"Sayang, jawab!" Wonwoo mengejar dan memegang tangan Mingyu, namun Mingyu menepisnya. Wonwoo kaget dengan perubahan sikap Mingyu yang dingin.

"Seharusnya aku yang tanya! Kamu sedang apa ke hotel malam-malam dengan laki-laki lain? Oppa? Oppa kamu bilang?" Mingyu mendengus kesal dengan tatapannya yang tajam.

"Aku bisa jelaskan."

"Aku mau break! Jangan cari aku dulu." Mingyu masih menahan amarahnya, hatinya sangat sakit saat ia berjuang mencari uang demi membelikan Wonwoo hadiah tetapi ia malah melihat Wonwoo berpakaian cantik dengan pemuda lain di hotel. Padahal sepulang sekolah mereka masih bersama saat itu, Mingyu masih melihat Wonwoo turun dari bis dan berjalan masuk menuju asrama tempat tinggalnya.

Mingyu benar-benar kecewa, ia bingung akan melanjutkan kerja part time atau tidak. Hatinya sangat sakit, mengingat kejadian semalam. Wonwoo hanya diam melihat sikap dingin Mingyu yang sama saat baru mengenalnya pertama kali.

Saat bel pulang berbunyi, Mingyu pulang duluan tanpa menunggu Wonwoo seperti biasa. Wonwoo benar-benar sedih, merasa ada yang hilang.

"Won, Mingyu mana?" Tanya Jihoon karena melihat Wonwoo sendiri di halte. Wonwoo hanya menarik nafas dan mencoba tersenyum.

"Mingyu buru-buru pulang ada urusan." Jawab Wonwoo pelan dengan senyum tipis menyembunyikan masalah yang sebenarnya.

"Oh ya sudah ikut pulang sama kita saja." Ajak Soonyoung, Wonwoo mengangguk.


oOo


Mingyu masih dengan sifat keras kepalanya, Wonwoo terkadang masih menanyakan kabar namun chatnya tidak pernah dibaca lagi oleh Mingyu.

Saat di sekolah, Wonwoo berusaha mendekati namun Mingyu selalu tidak peduli. Sudah 3 hari Mingyu bersikap dingin, Wonwoo sudah tidak tahan.

"Mingyu!" Panggil Wonwoo saat bertemu di koridor kelas, beruntung saat itu sedang sepi. Mingyu sempat berhenti namun ia terus berjalan.

"Kim Mingyu berhenti!" Wonwoo sedikit berteriak lalu menghampiri Mingyu dan sedikit mendongakkan kepalanya karena Mingyu lebih tinggi darinya.

Mingyu membuang muka malas menatap Wonwoo.

"Kamu mau kita putus? Itu maksud kamu? Tidak usah ada kata break! Itu sama saja menggantungkan aku."

"Oh kenapa kalau aku bilang break? Kamu jadi tidak bebas mau dekat dengan yang lain? Silahkan, lagipula kamu sudah punya penggantinya. Aku tidak memaksa, awalnya aku kecewa, aku menghormati gadisku, aku sangat menjaganya namun apa? Malam-malam di hotel?" Mingyu memelankan suara dan terkesan sinis menyindir, namun masih teramat malas menatap Wonwoo.

Wonwoo memukul dada Mingyu dengan keras lalu berlari sambil menutup wajahnya, Wonwoo sudah tidak tahan dengan prasangka buruk Mingyu terhadap dirinya. Berulang kali Wonwoo mencoba menjelaskan tapi Mingyu tidak peduli. Isi chat yang dikirim pun tidak pernah dibacanya. Wonwoo masuk ke toilet dan meluapkan kesedihannya. Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

"Oppa, aku minta bantuanmu." Ucap Wonwoo disela isak tangisnya.


oOo


"Kim Mingyu."

Mingyu menoleh pada seseorang yang memanggilnya, suara yang terdengar rendah dan berat. Mingyu ingat dengan pemuda didepannya dan ia memakai seragam sekolah juga. Mingyu sudah berpikir pasti ada hubungannya dengan Wonwoo.

"Kenapa? Ada urusan apa?" Mingyu menatap sinis orang didepannya sambil mengamati seragam sekolah yang dikenakan.

"Bisa kita bicara? Tapi tidak disini."

"Hah kenapa lagi? Baiklah, rasanya tanganku mulai gatal." Ucap Mingyu sambil melirik sinis dan mengancam ingin memberi bogem mentah. Mingyu menatap tajam pada pemuda didepannya dan menggerakkan dagunya seolah menyuruh jalan duluan. Mereka berjalan menjauh dari sekolah Mingyu.

"Tidak usah jauh-jauh, disini saja." Ucap Mingyu setelah keadaan sepi, mereka melewati taman.

"Kalau tujuanmu mencariku masalah Wonwoo, aku sudah lepaskan ia. Terserah." Ucap Mingyu.

"Ah begitu jadi terserah? Aku juga kurang suka melihatmu yang angkuh. Jadi kalian sudah putus? Baiklah itu bagus untuk adikku, pasti ia dapat pengganti yang lebih baik darimu."

"Apa? Adik? Wonu adik kamu? Dia tidak punya kakak laki-laki, aku tahu itu. Jangan mengarang."

"Benar, ia tidak punya kakak laki-laki tapi aku masih saudaranya. Aku jadi heran kenapa ia masih berusaha mempertahankan hubungannya dengan orang sepertimu? Dia meneleponku sambil menangis meminta bantuan untuk menjelaskan padamu."

Mingyu hanya terdiam mendengar pemuda itu berkata kalau Wonwoo sampai menangis. Entah mengapa hatinya ikut perih.

"Ah iya kenalkan namaku Baek Juho, aku masih sepupu Wonu. Malam itu, aku sekeluarga mengajak Wonu makan malam untuk merayakan ulang tahunku. Berhubung Wonu juga akan berulang tahun jadi kita merayakannya. Saat itu ada kedua orang tuaku juga. Kita semua datang dan hanya makan lalu pulang."

Mingyu hanya terdiam.

"Masih kurang jelas? Jadi aku dan orang tuaku menjemput Wonu di asramanya lalu ke hotel untuk makan malam lalu mengantarnya pulang."

"Apa? Sepupu?" Mingyu memerhatikan pemuda didepannya. Mingyu menelan ludahnya sendiri saat menatap dengan seksama, memang terlihat mirip wajahnya dengan Wonwoo. Ada rasa bersalah pada diri Mingyu.

"Ah sudahlah, tugasku sudah selesai. Kalian juga sudah putus." Juho pergi meninggalkan Mingyu yang masih terdiam. Mingyu langsung membuka ponselnya mulai mencari chat Wonwoo yang tertindih chat lain karena setiap Wonwoo kirim chat tidak dipedulikan oleh Mingyu. Giliran Mingyu yang frustasi sekarang, ia benar-benar menyesal tidak mau mendengar penjelasan Wonwoo.

Mingyu mencoba menelepon Wonwoo namun tidak aktif, tak lama ponselnya berbunyi. Pamannya menelepon.

"Mingyu! Katanya mau kerja, aku dapat laporan kalau kamu mulai malas sejak kemarin. Mau dilanjut atau tidak?"

"Iya paman, aku segera kesana." Mingyu buru-buru ke tempat kerja part time-nya. Mencoba memperbaiki kesalahannya dan berpikir untuk kembali pada Wonwoo yang telah ia sakiti.


oOo


Setelah Wonwoo yang mengejar Mingyu kini giliran Mingyu yang mengejar Wonwoo. Wonwoo terlihat sering berbaur dengan teman-temannya, Mingyu mencoba mengirimkan chat namun selalu gagal. Saat Mingyu mencoba meneleponnya selalu tidak bisa.

"Astaga, sepertinya ia memblokir nomorku." Mingyu panik sendiri.

"Seok, mau kemana?" Mingyu melihat Seokmin lewat didepannya.

"Biasa, antar camilan untuk noona tersayang." Seokmin mengacungkan jus kemasan dan sebungkus snack kripik kentang rasa madu.

"Aku ikut." Mingyu mendorong tubuh Seokmin agar langsung jalan menuju tempat Jisoo berada, Seokmin hanya bingung dengan sikap Mingyu.

Jisoo duduk di bangku taman sambil mendengarkan musik, Seokmin langsung duduk disamping Jisoo memberikan camilan yang ia bawa. Jisoo menatap heran dengan Mingyu yang berdiri didepannya.

"Ada apa?"

"Noona, bolehkah aku pinjam ponselmu?" Ucap Mingyu sambil menunduk. Jisoo dan Seokmin bingung dan saling tatap.

"Memang ponselmu kenapa Gyu? Kamu mau modus ya? Ini pakai punyaku saja." Seokmin mengeluarkan ponselnya.

"Noona, aku minta bantuan. Hmm kalau tidak, tolong noona ketik saja sendiri. Minta tolong Wonu noona agar datang kesini. Kalau sama noona, ia pasti menurut."

Jisoo menaikkan alisnya. "Kalian bertengkar lagi?"

"Hmm itu, hmm iya. Aku minta tolong, aku mau bicara dengannya tapi sulit. Nomorku juga diblokir."

"Ppfftt hahahahahaha." Seokmin tertawa, Jisoo memukulnya tak lama Seokmin langsung terdiam.

"Selesaikan masalahmu Gyu, aku tidak mau ikut campur. Wonu tidak akan begitu kepada orang lain kecuali ia benar-benar sudah sakit hati. Kalau sampai ia memblokir nomormu, artinya ia benar-benar sudah marah. Sejak kemarin aku sering melihat Wonu murung. Aku pergi dulu." Jisoo bangun sambil membawa camilan dari Seokmin. Seokmin hanya diam menatap Mingyu, ia ikut bangun dari duduk lalu menepuk bahu sahabatnya dan berjalan mengikuti Jisoo. Mingyu mengacak rambutnya, merasa kesal sendiri.

Ulang tahun Wonwoo semakin dekat, namun hubungan Mingyu malah runyam. Rencana ingin merayakan berdua sepertinya sulit karena ulah Mingyu sendiri. Saat pulang sekolah, Wonwoo selalu bersama Jihoon, Soonyoung, Jun serta Minghao. Mingyu sangat merindukan saat pulang sekolah bersama dengan Wonwoo.

Mingyu sangat merindukan dengan senyum manis Wonwoo saat Mingyu memberikan sign heart dari dalam bis. Mingyu sangat merindukan saat-saat berdua, pergi membeli es krim atau camilan lain sepulang sekolah. Mingyu memegang dadanya, dada yang pernah dipukul dengan sangat keras oleh Wonwoo hingga membuat Mingyu langsung merasakan nyeri saat itu.


oOo


Mingyu menunggu Wonwoo yang belum pulang, info dari Soonyoung mereka sedang makan-makan merayakan ulang tahun Wonwoo di restoran. Wonwoo mentraktir Jihoon, Soonyoung dan Jun saja.

Wonwoo hampir sampai didepan asramanya, matanya menangkap sosok Mingyu, yang sedang duduk menunggu. Wonwoo berjalan pelan.

"Sayang." Panggil Mingyu, Wonwoo terus berjalan.

"Sayang, tunggu. Aku minta maaf." Mingyu meraih tangan Wonwoo. Wonwoo diam saja tidak menolak.

"Lepas. Tolong lepaskan."

"Aku tidak akan melepaskannya lagi. Aku minta maaf. Aku menyesal tidak mau mendengarkan penjelasanmu."

"Lepas!" Wonwoo mulai berontak sambil menggertakkan giginya.

"Tidak! Aku tidak akan melepaskannya lagi. Aku minta maaf. Sungguh."

"Terserah kamu mau pukul aku atau apa, asal kita bisa bersama lagi. Aku benar-benar menyesal." Mingyu tetap tak mau melepas tangannya yang terus memegang kuat pergelangan tangan Wonwoo.

"Lihat, aku beli kue. Ada lilinnya. Selamat ulang tahun sayang." Mingyu menitikkan air matanya.

"Aku sungguh menyesal. Aku minta maaf. Aku ingin kita kembali seperti dulu." Mingyu menatap Wonwoo dengan tatapan memohon dengan tulus.

"Untuk apa? Kamu sudah menghinaku, aku seperti pelacur rasanya." Wonwoo membalas tatapan dengan sinis.

"Tidak tidak. Aku salah, aku minta maaf. Aku kasar sudah bicara seperti itu padamu."

"Pulanglah. Aku lelah mau istirahat." Wonwoo melepas tangan Mingyu yang masih menempel.

"Tidak, aku tidak mau pulang. Kumohon. Aku membeli ini semua dari uangku, hasil kerjaku 2 minggu ini untukmu. Kita tiup lilin ya." Mingyu mencari korek untuk menyalakan lilin.

"Gyu, pulanglah. Aku lelah. Lagipula kita sudah putus." Wonwoo berjalan menuju asramanya.

"Tidak, jangan kumohon. Aku benar-benar minta maaf. Maaf sayang." Mingyu masih menahan untuk tidak menangis.

"Kumohon tiup lilinnya, kuenya memang tidak besar tapi aku membelinya dari uangku sendiri. Kumohon. Aku sudah menunggu 3 jam disini. Kumohon."

Wonwoo memang lemah saat bersama Mingyu ditambah Mingyu mengucap meminta maaf dengan tulus, Wonwoo menahan tangisnya yang hampir tumpah lagi. Setelah putus dari Mingyu, ia menangis terus hingga akhirnya ia bisa sedikit tertawa dengan teman-temannya. Kini ia hampir menangis lagi.

"Selamat ulang tahun Jeon Wonwoo sayang. Maafkan aku. Setelah ini aku akan menunggu sampai kamu mau memaafkan aku. Aku memang bodoh. Aku memang tidak berguna. Setelah kamu tiup lilinnya, kamu boleh masuk kedalam."

Wonwoo menangis lagi, air matanya kembali banjir menatap kue didepannya yang dipegang Mingyu dengan lilin yang sudah menyala.

"Kumohon satu permintaanku, tiup lilinnya. Ini aku beli khusus untuk kamu." Mingyu menahan air matanya, ia merencanakan merayakan ulang tahun Wonwoo dengan ceria bukan sedih seperti ini.

Wonwoo menghapus air matanya, ia mencoba tenang dan menatap Mingyu yang masih menunggu Wonwoo untuk meniup lilin.

"Saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida, sara..." Mingyu berhenti bernyanyi, menahan isak tangisnya sambil menunduk.

"Saranghaneun Wonu-ya..." Mingyu menyanyi dengan suaranya yang parau dan terputus-putus.

"Saengil chukka hamnida..."

Wonwoo masih terdiam setelah Mingyu bernyanyi. Mingyu masih menunggu Wonwoo meniup lilinnya.

"Make a wish sayang, sebelum ditiup. Aku sungguh minta maaf." Mingyu masih tetap menunggu Wonwoo untuk meniup lilin. Wonwoo hanya menunduk, tangannya meremas kuat tas sekolah miliknya.

"Fuuuhh." Akhirnya Wonwoo meniup lilin, Mingyu mengangguk karena sesuai janji ia akan pergi setelah Wonwoo meniup lilin.

"Aku akan pulang, terima kasih sudah menuruti permintaanku." Mingyu menutup kue-nya kembali. Mingyu menyerahkan kotak kue dan paper bag kecil dengan hiasan pita biru.

"Kado untuk kamu, semoga kamu suka. Aku sangat berharap kamu mau memakainya tapi kalau kamu tidak suka boleh dibuang tapi jangan didepan aku. Aku pulang. Selamat malam. Istirahatlah." Mingyu berjalan lesu meninggalkan Wonwoo yang masih terdiam. Setelah Mingyu berjalan jauh, Wonwoo masuk ke dalam asramanya.

"Baru pulang Won?"

"Iya ibu, maaf aku pulang larut. Ah aku titip kue ya, kalau ada yang mau makan ambil saja." Wonwoo memasukkan kue ke dalam lemari pendingin.

"Dari pacar kamu Won? Tadi ibu suruh menunggu di dalam tapi ia tidak mau. Sejak kemarin malam, ibu lihat ia juga kesini. Kenapa ia masih berkeliaran malam-malam? Bahaya, apalagi masih memakai seragam."

"Dia datang? Untuk apa?"

"Entahlah. Yang ibu lihat dari dalam, ia terus memandang kamar kamu. Sudah malam, istirahatlah. Mandi pakai air hangat." Ibu asrama pergi menuju kamarnya. Wonwoo naik ke lantai 2 menuju kamarnya.

Wonwoo membuka paper bag kecil dari Mingyu. Ada sebuah jam tangan bertali warna biru dengan pinggiran warna emas sangat cantik dan terlihat mewah, serta ada surat yang ditulis tangan oleh Mingyu sendiri, isinya selain ucapan selamat juga permintaan maaf. Tangisan Wonwoo pecah lagi saat membaca tiap kalimat yang ditulis oleh Mingyu.


oOo


Wonwoo sudah rapi bersiap ke sekolah, ia sempat mengompres matanya yang agak bengkak karena menangis semalam. Matanya tertuju pada jam tangan pemberian dari Mingyu yang tergeletak di meja belajarnya. Wonwoo mengambil tas dan bersiap sarapan bersama teman-teman dan ibu asramanya.

Wonwoo berjalan sendiri menuju sekolah setelah turun dari bis. Tak disangka, didepannya ada Mingyu yang berjalan sendirian juga sambil menunduk lesu. Wonwoo berjalan menyusul Mingyu.

"Pagi." Sapa Wonwoo pada Mingyu dan berjalan cepat hingga membuat Mingyu kaget karena Wonwoo menyapanya. Mingyu melihat Wonwoo yang terlihat buru-buru saat berjalan, matanya menangkap benda yang melingkar di pergelangan tangan kiri Wonwoo.

Mingyu tersenyum karena Wonwoo memakai pemberiannya, Wonwoo sengaja memperlihatkan tangan kirinya dengan cara memegang tas di bahu kirinya. Tak lama ponsel Mingyu bergetar ada pesan masuk, hanya stiker kelinci dari Wonwoo. Dari kejauhan Wonwoo menggenggam ponselnya, Mingyu berlari mengejar Wonwoo.

"Jam istirahat belikan bulgogi dan orange jus." Ucap Wonwoo cepat meninggalkan Mingyu yang belum sempat berkata apa-apa. Wonwoo tetap berjalan cepat menuju kelasnya, Mingyu tersenyum senang ia langsung membalas chat Wonwoo dan langsung dibalas dengan stiker yang lain bukan kalimat.

Sesuai permintaan Wonwoo, Mingyu membelikan makanan sementara Wonwoo sudah duduk manis menunggu pesanan.

"Ini sayang." Mingyu tersenyum memberikan nampan berisi makanan dan minuman pesanan gadis cantik di sampingnya. Wonwoo langsung makan, Mingyu hanya tersenyum melihat Wonwoo makan.

"Lihat pasangan itu." Ucap Seungcheol dari kejauhan menatap Wonwoo dan Mingyu sambil terkekeh geli.

"Memangnya kenapa?" Tanya Jeonghan.

"Saat Wonu makan, Mingyu menatapnya dengan cinta." Seungcheol masih terkekeh geli.

"Aish aku pikir kenapa." Jeonghan melanjutkan makannya namun Seungcheol masih menonton Mingyu dan Wonwoo sambil tersenyum geli.

Wonwoo terus makan dengan tenang tanpa bicara, Mingyu hanya menatapnya dengan tersenyum. Saat Wonwoo ingin minum, Mingyu memegang gelas dan menyodorkan sedotan ke bibir Wonwoo, setelahnya Mingyu terus memandang Wonwoo tanpa bosan. Mingyu tidak makan, hanya memandang Wonwoo.

"Ada apa dengan mereka? Sepertinya ada yang aneh." Jihoon berbisik pada Soonyoung.

"Mereka habis melewati prahara." Jawab Soonyoung lalu menyuap nasi ke mulutnya.

"Prahara?" Jihoon menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti apa yang Soonyoung ucapkan. Soonyoung hanya mengangguk sambil terus mengunyah.

"Mingyu sedang minta rujuk pada Wonu." Ucap Soonyoung terkekeh geli. Mingyu memang bertukar pikiran dengan Soonyoung setelah kejadian "putus" dengan Wonwoo.

"Memangnya mereka sudah menikah dan Mingyu menjatuhkan talak?" Ucap Jihoon gemas sambil mencubit pipi bulat Soonyoung.

"Aduh aduh sakit Ji."

Wonwoo sudah selesai makan, makanan dan minuman didepannya sudah habis. Mingyu tersenyum senang melihat Wonwoo menghabiskan semuanya.

"Sudah makannya? Mau tambah apa lagi sayang?"

"Tidak. Aku mau ke toilet." Wonwoo bangun dari duduknya, Mingyu ikut bangun mengekor dibelakang Wonwoo mengantar ke toilet, menunggunya dengan setia dan mengantarnya sampai depan kelas Wonwoo.

Saat bel pulang, Mingyu menghampiri Wonwoo dan mengantarnya pulang seperti biasa. Wonwoo memang tidak banyak bicara, ia lebih memilih diam walau ia tidak menolak Mingyu ada disampingnya. Mingyu paham kalau Wonwoo masih marah. Mingyu tetap menunggu sampai Wonwoo kembali seperti sebelumnya yang mau menerimanya lagi.

"Sayang, minggu besok nonton yuk." Ajak Mingyu sambil berjalan di samping Wonwoo saat menuju asramanya.

"Iya."

"Hmm jam 11 aku jemput ya." Mingyu langsung memutuskan.

"Hmm..." Wonwoo hanya bergumam dan langsung berjalan masuk kedalam asrama tanpa menoleh lagi ke Mingyu. Mingyu hanya mengangguk paham kemudian langsung pergi pulang ke rumahnya.


oOo


Hari yang dijanjikan Mingyu menepati janji menjemput Wonwoo tepat waktu dan Wonwoo sendiri juga sudah siap.

"Sayang, mau nonton apa?" Tanya Mingyu bersemangat.

"Itu nomor 2."

Mingyu terdiam karena Wonwoo memilih film horor, ia menoleh ke arah Wonwoo yang hanya diam.

"Nomor 2 ya?" Tanya Mingyu meyakinkan takut ia salah dengar.

"Terserah, selain itu aku tidak mau nonton." Ucap Wonwoo langsung pergi menuju sofa dan duduk menunggu Mingyu. Mingyu bersabar demi mendapatkan Wonwoo kembali, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikuti apa kemauan Wonwoo. Mingyu membeli tiket film yang Wonwoo minta.

Selama film diputar, Mingyu memejamkan mata karena tidak berani melihat sementara Wonwoo sangat menikmati film.

Wonwoo menoleh dan melihat Mingyu tampak tidak nyaman. Tangan Wonwoo mengarahkan kepala Mingyu agar menyender pada pundaknya. Mingyu kaget dengan sikap Wonwoo, ia tersenyum lalu menurut. Mingyu merendahkan tubuhnya dan mulai bersandar di bahu Wonwoo dan menghirup aroma parfum milik Wonwoo kesukaan Mingyu. Tangan Wonwoo bergerak mengusap sebagian kepala Mingyu, Mingyu buru-buru meraih tangan Wonwoo dan menciumnya. Dalam kegelapan Wonwoo tersenyum.

Setelah selesai menonton, Mingyu menggandeng tangan Wonwoo lagi. Wonwoo tidak menolak namun masih dalam diamnya.

"Sayang, lapar tidak? Mau makan apa?" Mingyu menatap dengan tersenyum.

"Apa saja." Ucap Wonwoo tanpa menatap Mingyu. Mingyu mengangguk paham, ia mengajak Wonwoo ke restoran fast food ala Jepang dan Wonwoo tidak menolak. Mingyu mencoba memanjakan Wonwoo dengan menyuapinya, Wonwoo hanya diam lebih memilih makanannya sendiri. Mingyu hanya menarik nafasnya, mereka mulai skinship namun Wonwoo masih belum ada respon. Seharian tidak ada canda tawa.

"Apa kamu masih marah? Apa aku masih belum pantas diterima lagi?" Ucap Mingyu sedih saat di bis, pulang setelah berjalan-jalan.

"Aku lelah, jangan berisik." Wonwoo memejamkan matanya. Mingyu hanya menarik nafas, bingung harus dengan cara apalagi untuk mendapatkan Wonwoo kembali. Tanpa disangka, Wonwoo memeluk lengan Mingyu dan menyenderkan kepalanya pada pundak Mingyu.

Mingyu hanya diam merasakan sangat menempel dengan tubuh Wonwoo. Jantungnya berdetak sangat cepat, Mingyu menoleh dan melihat kepala Wonwoo yang menyender. Rasanya waktu berputar kembali disaat Mingyu pertama kali menyatakan cintanya pada Wonwoo. Mingyu mengecup dengan lembut puncak kepala Wonwoo cukup lama.

"Saranghae..." bisik Mingyu setelah mengecup, Wonwoo memeluk lengan Mingyu lebih erat setelah Mingyu mengucapkan kata cinta. Mingyu tersenyum, sebelah tangannya ia gunakan mengusap sebelah lengan Wonwoo.

Wonwoo masih mengapit lengan Mingyu saat berjalan berdua setelah turun dari bis. Mingyu tidak berhenti tersenyum dengan sikap Wonwoo. Wonwoo memang tidak banyak bicara namun sikapnya cukup membuktikan kalau mereka sudah berbaikan. Mingyu paham, Wonwoo tidak mau mengungkapkan dengan kata-kata namun langsung dengan tindakan.

"Sudah malam, masuklah." Mingyu mengantarkan sampai depan pintu rumah asrama tempat Wonwoo tinggal.

Wonwoo melepas tangannya dan berjalan menuju pintu, tak lama ia berbalik badan lalu berjinjit sambil menarik tubuh Mingyu dan mengecup pipi Mingyu.

"Hati-hati pulangnya." Ucap Wonwoo cepat lalu buru-buru masuk ke dalam rumah. Mingyu hanya diam sambil mengedipkan matanya. Kejadiannya begitu cepat namun Mingyu masih bisa merasakan bibir Wonwoo menempel di pipinya. Cukup lama Mingyu terdiam lalu matanya melihat lampu kamar Wonwoo menyala, Mingyu tersenyum senang lalu ia bergegas pulang ke rumah.

Setelah kejadian itu, Wonwoo kembali ceria seperti biasa melupakan kejadian putus-nyambung hubungan ia dan Mingyu. Mingyu mulai belajar bersikap dewasa tidak ingin mengulangi sifat kekanakan yang pernah terjadi. Mingyu berjanji saat ada masalah, ia akan menyelesaikannya dengan baik-baik tanpa emosi.

.

.

END

Karena pepatah mengatakan Love Is Blind, terkadang seseorang terlihat bodoh dengan keputusannya dalam memutuskan untuk mencintai dan menjalani kehidupan asmaranya. (Backsound "Blind Love - CNBLUE aseekkk i like it versi jepangnya tapi yang dibawakan versi korea)

oOo

Annyeong, ini ff sudah lama dibuat sekitar hampir sebulan lalu saat Mingyu pergi syuting LOTJ dan beredar wajah Wonwoo yang "asem, jutek, death glare" berkeliaran bebas di sosmed hingga menjadi inspirasi begini. Terkesan "Drama" tidak sih? Karena sedang berusaha menulis berbagai suasana. Diedit lagi karena mau buat ultah Wonwoo.

Disini Mingyu aku buat sifatnya dari yang masih kekanakan belajar menjadi lebih dewasa. Putus - nyambung - putus - nyambung (bacanya jangan sambil nyanyi hehe) hal yang wajar dalam pacaran, yang menikah saja bisa cerai (lho?)

Saengil Chukkae uri Jeon Wonwoo, sempat "shock" saat melihat dia di konser Diamond Edge, menyempatkan diri mengikuti beritanya disaat kesibukan bantu-bantu 1 fanbase di acara sabtu kemarin. Why why dia terlihat dan terkesan "garang"? Okay itu karena kostum dan make up tapi saat dia tersenyum seketika kesan "garangnya" langsung memudar 😁😁😁.

fyi alasan pemilihan Baek Juho SF9 karena dia lahir di 4 Juli 1996 selisih 13 hari dengan Jeon Wonwoo.

Buat ff Meanie Married Life masih proses semoga bisa update cepat mengingat acara fangirlingan sudah selesai.

Silahkan tinggalkan reviewnya, saranghae reader-ssi 😘😘😘

Big thank's for

Mockaa2294 / wortelnyasebong / rizka0419 / auliaMRQ / Re-Panda68 / Naysa QIera KIm / Devil Prince / XiayuweLiu / Jeon06 / Dardara / KimHaelin29 / marinierlianasafitri / WooMina / wonuguaegi / daebaktaeluv / Cha KristaFer / Halololo . Hayiyiyi

Dan yang sudah memfavorite & memfollow

17 Juli 2017 ( Btw tanggalnya cantik ya 17.7.17)

#BeautifulWONWOOday

#HappyWONWOOday

#WONWOODAY

#SVTWONWOODAY