.
oOo
If I want to kiss you?
May I?
oOo
.
.
Rated T
Meanie Couple
Genderswitch
OS
.
.
Happy Reading
Angin sejuk menerpa kulit wajah Mingyu, didepannya ada pemandangan pegunungan dan padang rumput yang luas.
Mingyu menoleh kesamping dimana seorang gadis cantik dan manis duduk disampingnya. Mingyu tersenyum pada gadis cantik itu dan gadis itu membalasnya. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Wonwoo.
Wonwoo menikmati pemandangan didepannya sambil menggigit wafer cokelat. "Menyenangkan bukan? Piknik berdua?" Ucap Mingyu sambil tersenyum.
"Hmmm udaranya sejuk." Balas Wonwoo.
Mingyu mendaratkan kepalanya pada pangkuan Wonwoo. Tangan Wonwoo bergerak mengusap kepala Mingyu, dan Mingyu terus tersenyum bisa bermanja-manja dengan Wonwoo. Wonwoo menyuapi dengan memberikan camilan dan Mingyu dengan senang langsung mengunyahnya.
Mingyu bangun dan menatap Wonwoo dengan jarak yang sangat dekat. Perhatian Mingyu tertuju pada bibir Wonwoo, dengan hati yang berdebar Mingyu memajukan kepalanya namun Wonwoo agak menghindar.
"Kamu mau apa?"
"Noona-ya, aku mau coba cium. Boleh?"
"Eh? Kenapa memanggilku begitu? Sudah lama kamu tidak memanggilku seperti itu."
"Hanya ingin saja, aku mau panggil dengan sebutan noona saat ingin manja sama kamu." Mingyu merajuk memeluk Wonwoo.
"Bolehkah?" Mingyu bertingkah imut saat menatap Wonwoo. Pipi Wonwoo bersemu merah sambil tersenyum dan mengangguk malu-malu.
"Yes!" Mingyu memekik senang.
"Tunggu, memangnya kamu bisa berciuman? Ini first kiss aku lho."
"Sama, ini juga first kiss aku. Aku hanya ingin menempel saja sebagai perkenalan. Ya boleh ya?"
Wonwoo tertawa geli lalu mengangguk, ia memejamkan mata dan Mingyu menarik nafas lalu mulai memajukan kepalanya agar bisa menempelkan bibirnya ke bibir Wonwoo.
Chup
Mingyu tersenyum malu setelah berhasil menempelkan bibirnya. Wonwoo pun mengalihkan pandangan karena wajahnya makin bersemu merah.
"Terima kasih noona." Mingyu meraih tangan Wonwoo dan menciumnya dengan lembut. Tak lama ia berbaring lagi dengan kepala di pangkuan Wonwoo lalu memejamkan mata dan Wonwoo memainkan pipi Mingyu.
...
...
...
"MINGYU!"
"KIM MINGYU BANGUN!"
Mingyu tersentak kaget seketika langsung membuka matanya dan menegakkakn tubuhnya. Diam sesaat mencoba mengenali situasi.
"Ini dimana?" Mingyu mengedarkan pandangan, melihat sekeliling. Mingyu berada di ruang kelasnya sendiri dan masih memakai seragam sekolah. Dan yang paling utama ada seseorang di hadapannya terlihat sangat marah.
"Kamu tahu? Aku menunggu kamu lama di gerbang sekolah! Berkali-kali aku telepon tapi tidak diangkat! Sibuk mencari kamu, mencoba mengingat-ingat teman sekelas kamu untuk bertanya cuma ingin tahu keberadaan kamu! Dan ternyata kamu masih disini! Tidur! Apa kamu tidur selama jam pelajaran? Hah! Apa semalam kamu begadang lagi hanya untuk main game? Aku sudah berulang kali bilang! Belajar! Jangan main game terus! Jangan sampai kamu di setrap lagi seperti tempo hari!"
Mingyu hanya menelan ludah dan menunduk pasrah diomelin Wonwoo. Dimana Wonwoo yang tersenyum manis malu-malu? Momen first kiss langsung buyar karena ternyata hanya mimpi.
"Kamu tahu? Aku hampir terlambat ke tempat kursus hanya menunggu kamu! Ternyata kamu malah tidur!"
"Aaaaaaahhhh ampun ampun ampun ampun!" Mingyu hanya berteriak menerima amukan Wonwoo yang menjewer telinganya.
"Iya maaf sayang, tadi tidak ada guru jadi aku tidur, ponselku dalam keadaan silent. Aku tidak tahu sudah bel pulang. Maaf." Mingyu mengusap telinganya yang perih.
"Ih! Menyebalkan! Aku beri kamu waktu 5 menit untuk membereskan buku dan mencuci muka kamu! Aku sudah terlambat ini!" Wonwoo menghentakkan kaki dan mengepalkan tangannya merasa sangat kesal.
Mingyu buru-buru merapihkan bukunya dan melesat keluar kelas menuju toilet karena takut ada amukan susulan lagi. Wonwoo ikut berlari kecil dibelakang Mingyu.
Mingyu memang berjanji akan mengantar Wonwoo ke tempat kursus. Wonwoo mulai mempersiapkan diri karena sebentar lagi ke tingkat akhir di High School. Ia berencana mencari beasiswa di perguruan tinggi.
Wonwoo masih merasa kesal hingga tidak mau disentuh oleh Mingyu. Mingyu hanya pasrah melihat Wonwoo yang masih marah.
"Sudah sampai, tidak terlambat kan? Masih ada waktu 5 menit." Ucap Mingyu didepan tempat kursus.
"Iya itu karena aku mencari-cari kamu, kalau tetap diam menunggu kamu keluar entah jam berapa."
"Iya aku minta maaf. Ya sudah masuklah nanti malah terlambat. Kabari aku kalau sudah pulang, hati-hati pulangnya nanti."
"Iya, kamu juga belajar jangan begadang."
"Iya sayang. Sudah masuklah."
Wonwoo masuk ke dalam gedung tempat ia kursus dan melambai sambil tersenyum pada Mingyu. Mingyu sedikit lega karena Wonwoo terlihat mau tersenyum lagi. Mingyu melangkahkan kaki menuju rumahnya. Berjalan kaki karena rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat kursus Wonwoo.
oOo
Waktu menunjukkan pukul 22.30, Wonwoo sudah terlihat lelah karena pulang sekolah sudah sore ditambah ikut kursus hingga malam.
Dengan langkah lemas ia keluar ruangan bersama murid dari sekolah lain untuk pulang. Hari makin malam, namun hujan turun sangat deras. Wonwoo masih bersabar setelah kejadian sore tadi ia mengomel pada Mingyu, kini ia harus sabar menghadapi hujan yang turun dimana ia tidak membawa benda yang bernama payung.
Wonwoo merasa iri pada teman-temannya yang dijemput oleh orang tuanya yang membawakan payung atau dijemput dengan mobil. Wonwoo hanya menunduk lemas menerima kenyataan dimana ia tinggal jauh dari orang tua. Ia sangat merindukan kedua orang tuanya. Mencoba menguatkan hati dan tersenyum ia mengangkat kepalanya lagi. Kini ia tinggal seorang diri dan hujan masih terus membasahi kota.
Wonwoo hanya terdiam di teras dimana ia menunggu hujan reda agar ia tidak pulang kehujanan. Seseorang menghampiri Wonwoo sambil tersenyum memakai payung dan memegang payung yang masih dilipat.
"Aku antar pulang."
Wonwoo hanya terdiam dengan bibir yang bergetar. Wonwoo tak kuasa menahan haru dimana ia beberapa menit lalu merasa iri dan rindu. Wonwoo memalingkan wajahnya sambil menunduk.
"Kenapa? Kamu sakit?"
Wonwoo langsung menghambur memeluk Mingyu yang bersedia datang menjemputnya ditengah hujan deras malam hari. Mingyu kaget dengan sikap Wonwoo, pertama kalinya mereka berpelukan. Mingyu mengusap lembut kepala dan punggung Wonwoo.
Punggung Wonwoo bergetar dan Mingyu mendengar isak tangis Wonwoo.
"Sayang, kamu kenapa?" Mingyu menatap wajah Wonwoo.
"Aku mau pulang." Air mata Wonwoo sudah banjir tidak peduli didepan Mingyu.
"Iya aku antar pulang, ini pakai payung."
Mingyu memberikan payung yang masih dilipat namun Wonwoo menggeleng.
"Aku mau pulang ke rumah."
"Iya ini aku antar, ayo pulang." Mingyu membuka payung untuk Wonwoo. Wonwoo masih menggeleng.
"Kenapa? Jangan menangis, kamu lapar? Mau beli makan dulu?" Mingyu menghapus air mata Wonwoo dengan ujung hoodienya.
"Mau pulang ke Changwon."
"Hah? Tapi bagaimana? Kan besok sekolah, besok juga masih kursus. Kamu baru masuk kursus masa sudah bolos?"
Wonwoo masih menangis, Mingyu bingung harus apa. Baru kali ini ia melihat Wonwoo merengek biasanya Wonwoo selalu bersikap dewasa. Wonwoo masih menangis sedih dan Mingyu hanya menggaruk kepalanya bingung harus apa. Mingyu melepas hoodienya lalu memakaikan pada Wonwoo.
"Sudah malam, pulang dulu ya. Besok kita bicarakan lagi oke." Mingyu merangkul Wonwoo dan hanya memakai 1 payung untuk berdua. Payung yang sempat dibuka, dilipat kembali.
"Hoodie kamu, nanti kamu kedinginan."
"Tidak apa, daripada kamu yang sakit. Ayo pulang, kamu harus istirahat." Mingyu sangat menjaga Wonwoo walau udara sangat dingin namun ia bertahan. Berjalan berdua ditengah derasnya hujan.
"Istirahatlah, jangan menangis lagi. Aku pulang dulu ya." Mingyu pamit setelah mengantar Wonwoo dan memakai hoodienya lagi.
"Kamu hati-hati pulangnya langsung istirahat. Terima kasih sudah menjemput."
"Iya sayang, aku pulang ya. Sampai jumpa besok." Mingyu pamit pulang sambil berlari kecil masih ditengah guyuran hujan.
oOo
Wonwoo berlari tergesa menuju ruang kesehatan, langkahnya terhenti saat didepan pintu bercat putih dan mencoba mengatur nafas agar kembali tenang lalu membuka pintu. Wonwoo membuka tirai yang tertutup dan melihat Mingyu yang sedang berbaring.
Mingyu merasa terusik saat sesuatu menempel di dahinya. Dengan mata yang masih berat, ia membuka matanya dan melihat raut wajah Wonwoo yang cemas.
"Noona..." Mingyu meraih tangan Wonwoo dan menempelkan di pipinya.
Wonwoo hanya menatap heran dengan sikap Mingyu. "Eh? Kenapa memanggilku begitu? Sudah lama kamu tidak memanggilku seperti itu."
Mingyu langsung tersadar, membuka kedua matanya dengan lebar. "Apa aku masih bermimpi?" Mingyu menatap ke sekeliling hanya ada dia dan Wonwoo di ruang kesehatan. Sang dokter sekolah sedang istirahat.
"Kamu demam?"
"Oh itu, tidak apa..."
"Seharusnya semalam kamu tetap pakai hoodie kamu! Kenapa dikasih ke aku? Aku kaget saat Seokmin bilang tadi dikantin kalau kamu sakit sejak pagi. Seharusnya kamu istirahat dirumah tidak usah masuk." Wonwoo mengomel dan meneteskan air matanya, duduk dihadapan Mingyu.
Mingyu langsung bangun dan duduk didepan Wonwoo, Mingyu hanya berani mengusap lembut kepala Wonwoo.
"Sudah jangan menangis, aku tidak apa-apa. Lagipula sudah lebih baik."
"Iya tapi kamu sakit kan karena aku."
"Ini tidak panas kan? Aku sudah minum obat tadi, sistem imun tubuhku bagus." Mingyu menuntun tangan Wonwoo untuk memeriksa suhu tubuhnya. Wonwoo masih terisak sedih, Mingyu berpikir untuk menghiburnya.
"Noona-ya, ne ga jin jja jo a ha neun sa ra mi, seng gyeo seo hon ja kkeung kkeung, al ta ga ju geo beo ril keon man ga ta, seo ye gi reu ran da."
Wonwoo hanya terdiam melihat tingkah Mingyu. "Haaaaaa jangan menatapku begitu, aku malu." Mingyu tiduran dan menyembunyikan wajahnya.
Wonwoo merasa gemas menarik-narik tangan Mingyu agar bangun lagi namun Mingyu menolaknya hingga Wonwoo merasa lelah sendiri. Wonwoo mengalah hanya diam masih terkekeh geli dengan duduk membelakangi Mingyu.
Mingyu bangun dan kembali duduk melihat punggung Wonwoo merasa ingin memeluk sang gadis namun tidak berani mengingat masih dalam lingkungan sekolah. Mingyu mendekat dan menyampirkan rambut panjang Wonwoo dari bahunya ke belakang.
"Noona-ya..." Mingyu memiringkan kepalanya sambil menatap bahu Wonwoo dengan jarak yang dekat.
Wonwoo menengok kebelakang saat Mingyu memanggilnya.
"Hmmmppphhh." Wonwoo bangun dan berjalan mundur sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Mingyu hanya menunduk malu menutup wajah dengan kedua tangannya.
Cukup lama keduanya terdiam setelah kejadian yang tidak disengaja saat keduanya saling menempelkan bibir. Saat Mingyu memanggil dan Wonwoo menengok tanpa sengaja bibir keduanya bertemu dan Wonwoo refleks menjauh dari Mingyu.
"Ah itu tadi tidak disengaja, jangan marah. Ya?" Mingyu membuka suara meminta maaf takut Wonwoo mengomel lagi.
"Ini pertama bagiku." Ucap Wonwoo lirih.
"Tidak. Ini kedua."
"Kedua? Memang kapan yang pertama."
"Dalam mimpiku. Hehehe..." Mingyu tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Yak! Dasar mesum! Kenapa kamu sampai mimpi begitu?" Wonwoo mulai berteriak, Mingyu buru-buru bangun dan menghampiri Wonwoo untuk membekap mulut Wonwoo takut Wonwoo mengomel berkepanjangan.
"Ssst diam jangan ribut, iya aku minta maaf. Aku kan masih puber tapi aku tidak mimpi yang aneh-aneh. Sungguh." Mingyu melepas tangan dari mulut Wonwoo.
Wonwoo tertawa geli melihat wajah Mingyu yang malu.
"Noona-ya."
Wonwoo langsung menempelkan jari telunjuk ke bibir Mingyu. "Panggil aku noona lagi, aku tidak mau ciuman sama kamu."
Mingyu langsung merengek dengan wajahnya yang sedih karena tidak boleh memanggil noona pada Wonwoo.
"Eh? Tidak boleh ciuman kalau panggil noona? Jadi aku boleh cium lagi?"
"Aaaahh itu?" Wonwoo berubah grogi karena salah ucap.
"Maksudku jangan panggil aku noona karena hmmm panggil aku seperti biasanya saja. Ah tidak, boleh panggil kan aku lebih tua jadi tidak apa." Wonwoo langsung keluar dari ruang kesehatan sambil menunduk malu. Mingyu langsung mengejar namun balik badan lagi mencari sepatunya dan asal memakai hanya diinjak saja tidak dipakai dengan benar.
Bruk!
Wonwoo jatuh dilantai setelah tersandung lantai yang tidak rata. Wonwoo hanya menunduk menahan malu dari beberapa pasang mata yang melihat Wonwoo terjatuh.
"Ya ampun, kamu tidak apa-apa? Ada luka tidak?" Mingyu gantian cemas. Wonwoo masih menunduk malu menepis tangan Mingyu yang mencoba membantunya berdiri namun Mingyu tetap memegang lengan Wonwoo dan membersihkan debu sambil mengecek takut lutut Wonwoo luka.
"Semua gara-gara kamu." Wonwoo kesal sendiri.
"Kok aku? Salah aku apa lagi? Kenapa dari kemarin aku salah terus?"
Wonwoo langsung berlari lagi menuju kelasnya, Mingyu hendak mengejar namun bel berbunyi tanda jam istirahat sudah selesai.
Pulang sekolah Mingyu menunggu Wonwoo seperti biasa. Wonwoo menunduk saat melihat Mingyu, ia masih merasa malu.
Tanpa banyak basa basi, Mingyu berlutut dan memberikan plester bergambar kelinci pada lutut Wonwoo karena Mingyu sempat melihat ada luka kecil saat Wonwoo terjatuh tadi.
"Ayo, aku antar ke tempat kursus. Mau beli camilan dulu?"
Wonwoo hanya menunduk sambil mengangguk. Mingyu merasa gemas sendiri lalu meraih tangan Wonwoo untuk berpegangan dilengannya.
"Sudah jangan lihat kebawah terus, tidak ada uang jatuh. Mending lihat wajahku yang tampan saja."
Wonwoo mendongakkan kepalanya dan tersenyum geli. "Tidak lucu. Oppa."
"Ya ya ya kenapa memanggilku Oppa?"
"Oppa-ya..." Wonwoo gantian bertingkah imut membuat Mingyu tertawa geli merasa gemas.
"Jangan panggil aku oppa."
"Kenapa? Kamu juga panggil aku noona." Wonwoo memeletkan lidahnya.
"Panggil aku oppa, aku cium lho."
"Oppa oppa oppa oppa oppa oppa." Wonwoo makin meledek dan berlari meninggalkan Mingyu.
"Oh! Ya hati-hati nanti jatuh lagi!" Mingyu mengejar Wonwoo diantara murid lain karena jalanan masih ramai saat jam pulang sekolah.
"Eoh? Kemana dia?" Mingyu kehilangan jejak Wonwoo dan mulai mencarinya.
"Eih disini rupanya, ayo nanti kamu terlambat." Mingyu menepuk pundak Wonwoo yang sedang berdiri didepan kafe.
"Oppa, aku ingin es kopi."
"Heee? Es kopi?" Mingyu mengikuti arah pandang Wonwoo ke dalam kafe lalu merogoh isi saku celananya.
"Hmm... beli bubble tea saja ya. Kopi tidak bagus untuk anak gadis nanti cepat tua. Ayo." Mingyu menarik tangan Wonwoo.
"Tapi aku mau itu." Wonwoo memperlihatkan sisi lainnya pada Mingyu, mulai terlihat sering merengek dan mood yang berubah-ubah.
"Iya tapi, lain kali saja ya. Beli makanan saja ya daripada kopi."
"Aku mau es kopi oppa." Wonwoo menarik tangan Mingyu dengan kedua tangannya makin membuat Mingyu merasa terkejut.
'Ya ampun imut sekali, kemarin mengomel, semalam menangis sekarang berubah manja.'
"Iya tapi... uang aku kurang hanya sisa segini." Mingyu menunduk lemas mengeluarkan isi kantongnya yang sisa 2.000 won. Wonwoo langsung mengambil uang milik Mingyu dan menarik tangan Mingyu untuk masuk ke kafe.
Wonwoo tersenyum senang sambil menyedot es kopi yang baru dibelinya. Ia membeli es kopi dari uang Mingyu dan menambahkan kekurangan dari uangnya sendiri.
Mingyu hanya tersenyum geli melihat ekspresi Wonwoo, Mingyu berpikir lebih baik menuruti keinginan Wonwoo daripada melihat Wonwoo mengomel.
Wonwoo menyodorkan minuman ke arah Mingyu. "Buat kamu saja, kan kamu yang ingin."
"Ini enak, kamu harus coba." Wonwoo memaksa dan Mingyu menuruti untuk meminumnya. Mingyu tersenyum menatap Wonwoo, setelah Mingyu menyedot es kemudian Wonwoo gantian menyedot.
"Indirect kiss, again?"
Wonwoo menoleh ke arah Mingyu. "Oppa oppa oppa oppa oppa oppa." Wonwoo berlari kecil meninggalkan Mingyu.
"Aish dia masih memanggil begitu. Eh? Maksudnya dia minta cium ya? Oh astaga kenapa aku baru sadar?" Mingyu berlari menghampiri Wonwoo dan langsung merangkulnya.
"Panggil oppa lagi?"
Wonwoo menoleh dan membulatkan bibirnya, Mingyu menunggu berharap Wonwoo memanggil oppa lagi. Tak lama Wonwoo tersenyum dan kembali menyedot es kopi lagi.
"Eih tadi lancar bilang oppa. Ayo bilang oppa lagi."
Wonwoo menggeleng imut sambil tersenyum makin membuat Mingyu gemas dan mencubit pipi mulus Wonwoo.
"Awh!" Wonwoo menghentikan langkahnya membuat Mingyu kaget.
"Hmm? Maaf sayang, apa aku terlalu keras mencubitmu?"
"Awh! Sakit!" Wonwoo menunduk sambil mencengkeram erat lengan Mingyu.
"Kamu kenapa? Jangan bercanda pura-pura sakit."
"Aku tidak bercanda! Ini sakit!" Wonwoo memberikan gelas es kopinya pada Mingyu lalu mencari tempat duduk. Mingyu makin bingung melihat Wonwoo yang kesakitan. Wonwoo celingukan mencari sesuatu lagi dan berubah senang saat menemukannya. Ia bergegas ke toilet. Mingyu hanya bingung melihat Wonwoo, namun ia tetap mengikuti Wonwoo. Menunggu diluar toilet.
"Sayang..." Wonwoo berubah manja lagi makin membuat Mingyu merasa gemas.
"Kenapa? Kamu sakit perut habis minum ini?"
"Bukan, bisa minta tolong tidak?"
"Kenapa?"
"Belikan pembalut, aku tidak membawanya. Ini uangnya. Tadi aku lihat disana ada toko, yang merk ini ya pakai sayap kemasan kecil saja. Aku kirim gambarnya ke ponsel kamu. Ya cepat, sekarang aku tunggu! Nanti aku terlambat ke tempat kursus."
Mingyu hanya terdiam setelah menerima uang dari Wonwoo, tak lama ponselnya memberikan notif chat dari Wonwoo yang mengirimnya gambar.
"Ayo, cepat belikan ya! Aku tunggu. Perut aku sakit." Wonwoo merengek.
"Tapi..."
"Ayooo sayang... belikan..."
"Iya tapi aku belum pernah."
"Oh kamu tidak mau bantu? Kamu tega aku lagi sakit perut begini? Ya sudah aku tidak minta bantuan kamu lagi!"
"Iya iya iya aku belikan. Kamu tunggu disini." Mingyu mendengus kesal karena Wonwoo mengomel lagi, kini ia tahu kenapa Wonwoo sangat sensitif sejak kemarin. Karena ibunya sering sensitif juga kalau sudah datang bulan.
Dengan perasaan ragu dan malu, Mingyu menuruti perintah Wonwoo untuk membelikan pesanannya. Mingyu berjanji tidak akan ke minimarket tersebut keesokannya untuk sementara waktu.
Wonwoo menunggu dekat toilet umum, tak lama Mingyu memberikan bungkusan pada Wonwoo sambil menunduk. Wonwoo tersenyum geli melihat ekspresi Mingyu, Wonwoo langsung masuk ke toilet lagi.
Mingyu hanya terdiam saat mengantar Wonwoo ke tempat kursus, Wonwoo merasa tidak nyaman.
"Kamu marah?"
...
"Oppa..."
Mingyu mendorong tubuh Wonwoo ke dinding dan menguncinya, karena keadaan jalanan sedang sepi maka Mingyu berani. Wonwoo hanya bisa menunduk.
"Maaf..."
"Kamu tahu? Tadi aku sangat malu saat membelinya."
"Maaf oppa..."
"Aku berusaha mengerti dan menuruti hmmm.."
Mingyu hanya terdiam tidak melanjutkan kalimatnya karena Wonwoo dengan sengaja mengecup bibir Mingyu saat Mingyu mengomel walau dengan terpaksa sambil berjinjit.
"Terima kasih sudah selalu berada disisiku disaat seperti ini. Kamu selalu baik dan perhatian padaku."
Mingyu tersenyum lalu mengusap lembut kepala Wonwoo. "Ayo sebentar lagi sampai, nanti kamu terlambat." Mingyu menggenggam tangan Wonwoo seolah tidak akan melepasnya setelah ucapan dari Wonwoo.
Mingyu mengantar sampai depan gedung tempat Wonwoo kursus seperti biasa namun Mingyu tampak berat melepas tangannya.
"Nanti pulangnya aku jemput lagi ya."
"Jangan, kamu istirahat saja. Takut kamu demam lagi, oppa."
"Aish kamu senang meledek ya? Suatu saat aku serang jangan menangis ya."
"Memangnya kamu berani menyerangku? Oppa.." Wonwoo melepas genggaman tangan dari Mingyu dan berlari masuk kedalam gedung. Mingyu hanya tersenyum melihat tingkah Wonwoo.
Wonwoo balik badan menatap Mingyu dari dalam yang dibatasi pintu kaca sambil menunjuk ponselnya. Mingyu merogoh saku celana dan mengambil ponselnya. Wonwoo mengirimnya pesan.
"Terima kasih. I love you Kim Mingyu OPPA."
Dahi Mingyu berkerut lalu menatap Wonwoo yang tersenyum sangat lebar sambil melambaikan tangannya. Mingyu membalas pesannya.
"Terima kasih juga. I love you too Jeon Wonwoo NOONA."
Mingyu melangkahkan kaki menuju rumahnya sambil tersenyum mengingat berbagai hal yang ia lalui bersama Wonwoo.
"Aish, tidak ada romantis-romantisnya ciuman pertama. Tapi melihatnya tersenyum sangat cantik, aku merasa lega padahal semalam ia sangat merindukan orang tuanya. Hmm baguslah." Gumam Mingyu lalu bersiul senang bisa semakin dekat dan mengerti sifat Wonwoo.
.
.
END
Note : 2.000 KRW anggap saja Rp. 20.000
Annyeong,
Ada yang kangen? Mencoba mengetik lagi tapi ide tidak selalu lancar hehehe. Ini asli karena pas iseng lihat gallery isi hp pernah simpan video Mingyu beraegyo. Masih belum jelas ada project ff apalagi seteal MML hehehe... Gomawo yang sudah mau mampir membaca dan memberi review.
Special thank's
XiayuweLiu / Mockaa2294 / marinierlianasafitri / wortelnyasebong / LittleOoh / KimHaelin29 / jww sayanq / auliaMRQ / rizka0419 / Devil Prince / Merli Kim / Dardara / Cha KristaFer
Saranghae reader
9 Agustus 2017
