.

oOo

If I more and more be jealous?

I just wanna say I Love You

oOo

.

.

Rated T

Meanie Couple

Genderswitch

OS

.

.

Happy Reading

Me :

'Jangan lupa makan, semangat belajarnya, jaga kondisi tubuh.'

...

Jisoo cantik :

'Iya kamu juga, jangan terlalu banyak main.'

...

Me :

*stiker kiss*

Mingyu terkekeh geli membaca isi chat, sementara Seokmin tersentak kaget isi chatnya dibaca oleh Mingyu yang kini terlihat sangat senang bisa menggoda temannya.

Seokmin hanya terdiam karena ia merasa malu, ia terus menatap Mingyu yang masih merasa geli dan duduk disebelahnya dengan membawa susu pisang.

"Romantis sekali Lee Seokmin, unch unch!" Mingyu masih menggoda Seokmin dengan tampang imutnya beraegyo.

"Kenapa? Memang ada yang salah? Apa kamu dan Wonu noona tidak begitu?" Seokmin menyimpan ponselnya di saku celana seragamnya.

Seketika Mingyu terdiam, ia bingung menjawab.

"Kalau aku terbiasa saling mengingatkan, karena itu menjadi semangat untuknya." Ucap Seokmin lalu meraih botol air didepannya dan meneguk cairan bening dalam botol itu.

"Ya ya a...aku juga seperti itu dengan Wonu noona." Balas Mingyu, ia jadi memikirkan sikap Wonwoo selama ini pada dirinya.

Selama ini Mingyu yang selalu aktif dalam artian lebih dulu bertindak memberi sinyal sementara Wonwoo lebih pasif, menunggu umpan dari Mingyu.

Mingyu tersenyum miris merasa iri, terkadang ia iri ingin Wonwoo lebih dulu mendekatinya walau hanya sekedar bertanya 'apa kamu sudah makan?', 'bagaimana dikelas?', 'apa ada pelajaran yang tidak dimengerti?'

Namun selama ini Wonwoo hanya menyuruhnya 'jangan main game terus!'. Itu pun sekarang sudah jarang.

"Gyu! Ayo sebentar lagi bel." Seokmin membuyarkan lamunan Mingyu tentang gadis manisnya.

Mingyu menurut langsung bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari kantin bersama Seokmin.

"Jun! Kembalikan! Jun!" Wonwoo berseru mengerjar Jun yang menggodanya mengambil buku milik Wonwoo.

Jun tertawa meledek Wonwoo yang terus berjinjit untuk mengambil bukunya, Wonwoo pun ikut tertawa. Mingyu hanya terdiam melihat pemandangan didepannya yang tidak sengaja dilihatnya.

Bel tanda istirahat telah selesai berbunyi, Jun dan Wonwoo berlari kembali ke kelasnya dan langsung menghilang dari pandangan Mingyu.

Hati Mingyu merasa perih melihat keakraban Wonwoo dengan Jun. Mingyu tahu kalau Wonwoo dan Jun hanya berteman tapi melihat Wonwoo tertawa riang pada pemuda lain membuat Mingyu merasa cemburu.

...

...

Mingyu merasa bosan dengan rumus-rumus yang selalu ditulis oleh gurunya di papan tulis. Ia menoleh ke arah jendela disamping mejanya persis.

Senyum Mingyu mengembang karena ia melihat Wonwoo sedang berada di lapangan dengan seragam olah raganya. Wonwoo sedang bermain lempar bola tangan bersama teman perempuan sekelasnya.

Riuh tawa canda samar-samar terdengar, Mingyu tersenyum merasa ada hiburan disela pelajaran Kimia di kelasnya.

Reaksi kimia dalam buku teks pelajarannya tidak membuatnya tertarik sama sekali, ia lebih menyukai reaksi kimia dari seorang Jeon Wonwoo yang terlihat lucu karena Wonwoo selalu tertawa. Wonwoo terlihat sangat cantik dengan tawanya.

'Bugh!'

"Wonu!"

Wonwoo terjatuh setelah menerima pukulan bola yang mengenai kepalanya. Semua teman-temannya yang melihat berteriak, kepalanya merasa pusing seketika.

Wonwoo merasa sangat pusing, tiba-tiba kedua lengannya ada yang menyentuh, Wonwoo langsung menengok dan melihat wajah Jun mendekat.

"Tidak apa-apa? Masih bisa berjalan? Aku antar ke ruang kesehatan."

Wonwoo hanya mengangguk dan mulai bangun dibantu Jun dan berjalan berdua menuju ruang kesehatan.

Mingyu mematahkan pensil kayunya dengan 1 tangan karena melihat adegan drama dari seorang Jun yang menjadi pahlawan untuk Wonwoo.

"Mingyu! Kim Mingyu!"

Mingyu tersentak kaget saat sang guru berteriak memanggil namanya dan semua teman-teman sekelasnya menengok ke arahnya.

"Kerjakan soal ini."

Mingyu kelabakan melihat 1 soal di papan tulis dan ia tidak tahu jawabannya karena ia tidak memerhatikan pelajaran sedari tadi.

"Tidak bisa menjawab? Keluar kamu ke ruang kesiswaan sekarang!" Bentak sang guru dan Mingyu hanya bisa pasrah kena hukuman lagi. Ia segera keluar kelas, namun ia tidak langsung menuju ruang kesiswaan melainkan mencari dimana Wonwoo berada.

Mingyu melongok ke dalam ruang kesehatan dan melihat Wonwoo sedang duduk di ranjang bersama dokter sekolah.

"Oh, ada perlu apa?" Tanya sang dokter pada Mingyu.

"Aku... itu, sakit perut mau minta obat." Ucap Mingyu bohong dan matanya melirik mencari keberadaan Jun namun hasilnya nihil hanya ada Wonwoo dan dokter sekolah di hadapannya.

"Oh sebentar." Sang dokter mencari obat yang diminta Mingyu.

Wonwoo hanya terdiam sambil mengompres keningnya.

"Obatnya habis, bisa tunggu? Saya ambilkan dulu ada di ruang guru." Ucap sang dokter.

"Ah iya, saya tunggu disini."

Sang dokter segera keluar meninggalkan Mingyu dan Wonwoo. Mingyu langsung mendekati sang gadis dan menatapnya.

"Apa sakit?"

"Hmm tidak apa-apa sudah hilang pusingnya." Ucap Wonwoo.

Mingyu hanya terdiam padahal ia berharap Wonwoo mau mengadu padanya merasakan sakit, atau bersikap manja yang lain.

"Oh, aku harus pergi ganti pakaian. Oh iya, nanti kamu pulang duluan saja aku ada janji dengan yang lain mau beli buku pasti lama. Oke." Wonwoo langsung pergi meninggalkan Mingyu yang diam memantung sendiri.

"Ini obatnya." Sang dokter datang setelah Wonwoo keluar dan ia langsung menyodorkan obat sakit perut pada Mingyu. Mingyu menerima dengan lemas.

Dalam hati ia merasa sedih, Wonwoo tak bertanya sedikitpun mengenai Mingyu meminta obat.

Mingyu menunduk mengucap terima kasih setelah menerima obat dan segera keluar menuju ruang kesiswaan untuk menerima hukuman.

...

...

Tangan Mingyu terasa lemas setelah menulis permintaan maaf sebanyak 10 lembar halaman penuh.

Dengan langkah gontai ia berjalan sendiri karena sudah lewat jam pulang. Mingyu merasa sangat lesu.

"Haksaeng! Haksaeng!"

Mingyu menghentikan langkahnya dan menengok merasa dipanggil. Jalanan sedang sepi hanya ada dia berjalan sendiri dan dihapannya ada seorang gadis cantik tersenyum lembut menyapa.

"Haksaeng, aku baru membuka kedai patbingsu. Ini ada kupon diskon, ajak teman-temanmu untuk mampir." Ucap sang gadis pada Mingyu setelah memberi selembar berisi kupon diskon.

"Oh, dimana?" Mingyu tersadar setelah terbius sejenak dengan senyum manis sang gadis.

"Itu disana, kamu mau coba dulu tidak apa nanti aku beri lagi kuponnya."

"Oh aku mau, kebetulan aku sedang haus." Mingyu langsung setuju menerima tawaran gadis penjual patbingsu.

Sang gadis merasa senang mendapat pelanggan, ia langsung membuatkan pesanan Mingyu.

Mingyu menikmati patbingsu sendirian sekedar menyegarkan otaknya yang terasa panas. Tidak hanya otak namun juga hati.

..

..

Wonwoo mengecek ponselnya setelah mandi namun tidak ada chat dari Mingyu seperti biasa.

"Apa dia sudah tidur?" Wonwoo melirik jam di dinding kamarnya yang sudah menujuk ke angka 10.

Wonwoo hendak mengetik saat membuka kontak chat Mingyu namun ponselnya bergetar ada panggilan masuk. Wonwoo langsung menerimanya, ayahnya menelepon menanyakan kabar putrinya.

Wonwoo larut dalam obrolan hingga lupa untuk menanyakan kabar Mingyu.


oOo


"Aku masih ada urusan, kamu pulang duluan saja." Pamit Wonwoo saat pulang sekolah keesokannya, Mingyu hanya terdiam dan Wonwoo langsung menghampiri segerombolan teman-teman sekelasnya. Mingyu masih terdiam melihat canda tawa Wonwoo dengan teman-temannya.

Mingyu hanya menarik nafas dan menerimanya, ia pulang sendirian lagi. Saat melewati kedai patbingsu, ia singgah lagi.

"Hei Mingyu, bagaimana harimu? Kenapa suram begitu? Mau coba rasa baru? Aku buatkan ya."

"Terima kasih noona." Ucap Mingyu senang.

Sang gadis penjual menghidangkan semangkuk patbingsu dengan berbagai potongan buah-buahan.

Mingyu langsung menyantapnya dan tersenyum senang menikmati rasanya yang manis dan menyegarkan.

"Kenapa kamu selalu sendirian Gyu? Mana teman-temanmu?"

"Mereka sibuk semua." Jawab Mingyu.

"Pacar?"

Mingyu berhenti sejenak lalu tersenyum. "Noona jualan sendirian saja? Teman kampus tidak ada yang bantu?"

"Iya ada, kami bergantian karena kami beda jurusan."

"Ooh begitu, aku pikir sendiri."

"Tentu saja tidak, aku bakal repot kalau sendirian, memang kamu mau bantu-bantu disini? Aku belum sanggup bayar kerja part time."

Mingyu tertawa geli merasa akrab mengobrol dengan sang gadis penjual patbingsu yang notabene sudah kuliah dan nama gadis itu adalah Hani. Keduanya larut dalam obrolan berbagai hal.

"Selamat datang!" Hani berteriak saat pintu kedainya terbuka dan datang segerombolan siswi.

"Sebentar ya." Pamit Hani pada Mingyu, Mingyu mengangguk mengiyakan. Hani melayani pelanggan anak sekolah.

Suasana semakin ramai setelah datang segerombolan siswa yang baru datang, dan semuanya perempuan. Mingyu menunggu sendirian dengan bermain ponsel.

Selang 10 menit, Hani mengantar pesanan dan ia sempat memberi Mingyu sepiring tteokbokki sebagai camilan.

"Eh, aku kan tidak pesan noona."

"Bonus untuk kamu." Ucap Hani dengan tangannya mengusap pundak Mingyu. Mingyu menerimanya dengan senang dan langsung memakannya.

"Won, coba dicek lagi semuanya sudah dibeli kan? Jangan sampai ada yang kelupaan." Ucap Nayoung salah satu teman sekelas Wonwoo.

"Won!" Nayoung sedikit mengguncang pundak Wonwoo dan mengikuti arah pandang Wonwoo.

Wonwoo tersentak kaget karena temannya berteriak, sedari tadi ia melihat seseorang yang ia hafal sedang duduk sendiri di pojok. Orang yang ia lihat adalah Mingyu.

Mingyu tak kalah kaget mendengar ada seseorang berteriak, ia langsung menengok ke belakang dimana segerombolan siswa duduk. Pandangan keduanya bertemu, Wonwoo terdiam saat menatap Mingyu.

Hani datang dan duduk berhadapan dengan Mingyu setelah selesai mengantar pesanan. Mingyu buru-buru memalingkan wajah dan menunduk.

"Kamu kenal mereka? Seragamnya sama dengan kamu."

"Oh, itu sepertinya kakak kelas." Ucap Mingyu lirih dengan terus menunduk.

"Eh? Bukankah itu Mingyu?" Ucap salah satu teman Wonwoo, Siyeon. Wonwoo hanya terdiam sambil mengaduk patbingsunya yang terus mencair.

"Oh iya, aku sengaja minta jemput." Wonwoo berbohong pada temannya. Ia kehilangan selera padahal awalnya ia sangat haus setelah berkeliling belanja kebutuhan untuk tugas kelompok sekolahnya.

"Itu siapa? Kakak? Saudara? Mereka terlihat akrab." Nayoung masih penasaran.

"Oh itu, itu temannya." Wonwoo menjawab asal dengan terbata-bata.

"Hani-ya, aku datang!" Seorang gadis datang ke kedai dan langsung menghampiri Hani yang sedang mengobrol dengan Mingyu.

"Ada Mingyu ternyata pantas kamu tidak merengek padaku untuk buru-buru datang. Ada dedek gemes disini." Ucap Solji menggoda Mingyu.

Hani tertawa sementara Mingyu hanya menunduk tanpa banyak bicara mengingat ada Wonwoo yang duduk tak jauh darinya.

Mingyu menerima pesan dari Wonwoo, Mingyu langsung pamit dan menunggu Wonwoo ditempat yang disarankan oleh Wonwoo.

...

...

"Aku..." Mingyu masih menunduk merasa bersalah saat berada di taman, duduk di ayunan dengan Wonwoo yang duduk disebelahnya.

"Ini." Wonwoo memberikan gantungan kunci bentuk wanita memakai hanbok.

"Aku beli sepasang, aku pakai yang laki-laki dan ini pasangannya. Lucu ya. Teman-temanku meledek saat aku membelinya." Ucap Wonwoo sambil mengayunkan tubuhnya, rambutnya yang dikuncir ekor kuda ikut bergerak. Mingyu menatap Wonwoo dan tersenyum tipis lalu ikut bermain ayunan.

'Tap'

Wonwoo mendaratkan kakinya dan berhenti bermain ayunan.

"Mingyu, apa kamu bosan padaku?" Wonwoo menunduk dan meremas rok seragamnya.

"Maksudnya?" Mingyu ikut berhenti dan terus menatap Wonwoo dari samping.

"Mingyu sayang, kalau rambutku digerai begitu apa aku terlihat cantik?" Wonwoo tersenyum menatap Mingyu. Wonwoo tampak ceria saat menatap Mingyu.

"Eonnie yang duduk bersamamu tadi, dia cantik."

"Kamu tidak marah?" Mingyu menatap Wonwoo.

"Marah? Kenapa? Ah, maaf kalau akhir-akhir ini aku sibuk. Aku ada tugas kelompok dan harus selesai." Wonwoo kembali bermain ayunan, Mingyu tersenyum lalu mengikuti Wonwoo bermain ayunan juga.

"Mingyu, aku pulang duluan." Wonwoo mendaratkan kedua kakinya dan langsung berdiri.

"Oh, sudah mau pulang?" Mingyu ikut berhenti, Wonwoo langsung berjalan tanpa menengok ke arah Mingyu.

"Dasar bodoh, selalu begitu." Ucap Mingyu lirih dan berlari mengejar Wonwoo yang berjalan dengan cepat.

Benar dugaan Mingyu, Wonwoo menahan isak tangis. Ia menahan langkah Wonwoo dengan cara menarik lengan kurus milik Wonwoo.

Wonwoo masih menangis dengan menunduk, tangan kanannya meremas ujung seragam Mingyu. Mingyu hanya terdiam, tangannya terus mengusap kepala sang gadis.

"Menangislah, luapkan amarahmu. Aku menerimanya."

"Mingyu kamu sayang sama aku kan?"

"Tentu saja."

"Aku lebih cantik darinya kan?"

"Iya tentu saja." Mingyu tidak tahan langsung memeluk sang gadis yang ia cintai. Wonwoo menangis dalam dekapan Mingyu. Mingyu tersenyum melihat Wonwoo mau mengadu padanya.

Mingyu menangkup wajah sembab Wonwoo dan jemarinya bergerak menghapus jejak air mata.

"Aku minta maaf." Ucap Mingyu.

"Menyebalkan." Wonwoo memukul Mingyu dengan masih terisak, pukulannya tidak keras. Mingyu terus tersenyum melihat Wonwoo yang cemburu.

"Ayo pulang, sudah malam." Mingyu menautkan jemarinya dan mulai berjalan untuk mengantar Wonwoo kembali ke asramanya.

...

...

Mingyu terus tersenyum menatap wajah Wonwoo selama di bis, sudah lama ia tidak menatap Wonwoo dalam jarak dekat. Tangan keduanya juga belum lepas, saat terlepas lalu keduanya saling menyatukan lagi.

"Boleh aku jujur?"

"Apa?" Wonwoo menoleh ke samping dimana ada Mingyu yang masih setia menemaninya pulang. Keduanya berjalan pelan setelah turun dari bis.

"Jujur, kemarin aku kesal melihat kamu bercanda dengan Jun hyung dan saat kamu diantar ke ruang kesehatan juga."

"Aaaah itu, kepalaku kena bola karena aku melihatmu dari lapangan. Jadi aku tidak bisa menghindar." Wonwoo tersenyum malu memalingkan wajahnya. Mingyu hanya terdiam menatap Wonwoo tidak percaya.

"Lalu kenapa di ruang kesehatan kamu langsung pergi? Padahal aku mau ngobrol sama kamu."

"Hmm itu, aku merasa dokter Yoo akan segera datang jadi aku buru-buru pergi dan ternyata benar dia langsung datang." Jawab Wonwoo dan Mingyu masih belum percaya ditambah ekspresi malu-malu dari seorang Wonwoo yang biasanya selalu datar.

"Satu lagi."

"Apa?" Wonwoo menoleh ke arah pemuda tinggi disebelahnya.

"Aku sebal melihat Jun hyung berada didekatmu."

"Oooh itu, dia memang begitu. Kamu tahu, kemarin aku hampir malu saat ketahuan sedang coret-coret buku."

"Hmm? Malu kenapa?"

Wonwoo melepas tautan jari Mingyu dan tangan mungilnya langsung membuka tas. Ia memperlihatkan sebuah buku yang pernah Mingyu lihat.

"Ini, tadinya mau aku kasih lihat kemarin tapi aku sibuk tugas kelompok. Aku ingin kamu orang pertama yang melihatnya." Wonwoo memberikan selembar sketsa wajah.

"Mirip tidak? Aku menggambarnya dari melihat foto kamu di ponsel."

Senyum Mingyu mengembang melihat hasil goresan pensil Wonwoo, lumayan bagus untuk seorang amatiran seperti Wonwoo menurut Mingyu. Mingyu langsung merangkul Wonwoo tak lupa mendaratkan kecupan di puncak kepala Wonwoo.

"Ini untukku?"

"Hmm tadinya begitu, tapi sepertinya tidak bagus. Aku tidak pandai menggambar."

"Aku akan menyimpannya." Ucap Mingyu senang.

Mingyu terus tersenyum setelah mengantar Wonwoo pulang sambil menatap hasil gambar dari Wonwoo. Wonwoo memang berbeda dari gadis lain dari cara mengungkapkan rasa sayang dan perhatiannya.


oOo


"Bisa geser tidak?"

Mingyu kaget karena Wonwoo datang mendekatinya saat di kantin. Mingyu langsung bergeser memberi ruang untuk Wonwoo duduk.

Bukan karena Wonwoo yang tiba-tiba datang tapi penampilan Wonwoo yang terlihat berbeda.

"Sayang, kamu pakai lipstick?" Mingyu berbisik, Wonwoo hanya membasahi bibirnya lalu tersenyum malu. Wonwoo menyampirkan rambutnya ke belakang telinga, kali ini rambutnya ia biarkan tergerai tidak di ikat seperti biasanya.

Mingyu terus melihat ke arah bibir Wonwoo yang kini terlihat berwarna merah muda dan sedikit glossy. Sangat menggoda untuk di kecup rasanya, namun Mingyu menahan diri.

"Ini bukan lipstick tapi lipbalm." Ucapnya lalu menyuap nasi kedalam mulutnya.

"Ooh begitu." Mingyu mengangguk mengerti namun ada rasa khawatir melihat penampilan Wonwoo.

"Hai Won." Sapa Jeonghan dan langsung duduk dihadapan Wonwoo dan Mingyu. Tak ketinggalan Seungcheol ikut duduk bersama.

"Eonnie, kalau aku potong model layer bagus tidak?"

"Wah kamu mau potong rambut Won? Aku rasa bagus, wajahmu cocok untuk model rambut apa saja." Puji Jeonghan.

"Model begini juga sudah bagus." Mingyu berucap, ia benar-benar khawatir kalau Wonwoo semakin cantik maka semakin banyak yang melirik. Mingyu menyukai penampilan Wonwoo apa adanya.

"Tidak, aku mau ganti model agar terlihat lebih dewasa seperti eonnie itu." Wonwoo mengerucutkan bibirnya di hadapan Mingyu.

Mingyu hanya menggigit bibirnya sendiri melihat ranumnya bibir Wonwoo ditambah mimik wajahnya yang sangat imut membuat Mingyu semakin berusaha menahan diri.

"Eonnie siapa?" Seungcheol mencium aroma kecemburuan pada hubungan Mingyu dan Wonwoo.

"Eonnie itu pemili... hmmmm."

"Hahahahaha tidak apa-apa hyung." Mingyu membekap mulut Wonwoo sementara Wonwoo mencubit tangan Mingyu agar segera melepasnya, Mingyu semakin takut urusannya menjadi panjang kalau Seungcheol ikut campur.

"Oooh aku paham." Seungcheol terkekeh geli.

"Paham apa?" Ucap Mingyu dan Wonwoo serempak.

"Iya paham saja." Ucap Seungcheol lalu melanjutkan makan. Mingyu dan Wonwoo langsung terdiam, Wonwoo melirik Mingyu dengan sebal.

...

...

Wonwoo terlihat lebih centil dari biasanya, membuat siswa lain iseng menyapa dan Wonwoo membalas sapaan tak lupa dengan senyum manisnya.

Mingyu terus mengikuti ke mana Wonwoo melangkah kecuali saat ke toilet, ia akan menunggu diluar. Mingyu panik sendiri melihat tingkah Wonwoo yang tidak biasanya.

"Sayang, jangan tebar pesona begitu."

"Hmm? Tebar apa? Aku tidak melakukan apa-apa." Wonwoo memainkan rambutnya yang panjang.

"Sayang, pulang nanti temani beli shampo ya, kebutuhan bulanan aku hampir habis."

"Iya nanti aku temani, tunggu aku dikelas saja. Kamu jangan keluar sebelum aku jemput."

"Baiklah cintaku, i love you." Ucap Wonwoo genit.

"I love you too." Balas Mingyu sambil tersenyum geli, Wonwoo segera masuk ke kelasnya. Mingyu masih tersenyum geli lalu kembali ke kelasnya.

...

...

Bel pulang berbunyi, Mingyu dengan tergesa keluar kelas setelah sang guru lebih dulu keluar. Mingyu telah sampai didepan kelas Wonwoo namun sang gadis tidak terlihat.

Mingyu panik, ia mengedarkan pandangan mencari sosok seorang Jeon Wonwoo.

"Hei adik kelas, jangan menghalangi jalan."

Mingyu menoleh dan melihat Wonwoo tersenyum meledek.

"Aish kamu dari mana? Aku bilang jangan keluar sebelum aku jemput."

"Aku dari toilet, ya masa aku harus buang air di kelas? Aku ambil tas dulu." Wonwoo masuk ke dalam untuk mengambil tasnya.

...

...

"Sayang, aku mau patbingsu." Wonwoo meminta dengan manja.

"Katanya mau belanja, besok-besok saja jajannya."

"Tapi mau, aku mau minta tips sama eonnie itu."

"Aish aish sudah, jangan dibahas lagi. Ayo nanti keburu tutup tokonya."

"Ish, masih sore mana mungkin tutup. Kalau tutup juga masih banyak toko yang lain."

Mingyu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa Wonwoo masih cemburu.

"Kim sayang, kalau aku ikut audisi iklan shampo bisa diterima tidak ya?" Wonwoo masih memainkan rambutnya, sedikit mengibasnya.

"Sudah cukup Jeon sayang. Aku lebih suka saat kamu mengikat rambutmu ke atas, itu terlihat sangat cantik."

"Benarkah? Tidak di gerai seperti ini? Eonnie itu ram..."

"Eih sudah-sudah jangan sebut eonnie atau noona itu lagi. Noona yang aku sayangi hanya yang bernama Jeon Wonwoo." Mingyu buru-buru memotong omongan Wonwoo.

"Aku bukan noona!" Ucap Wonwoo protes.

"Oh, lalu apa?"

"Aku kesayangan Kim Mingyu!" Wonwoo mengerucutkan bibirnya lagi.

Mingyu tidak bisa menahan tawanya, sikap Wonwoo saat cemburu sangat menggemaskan. Tanpa terasa mereka sudah sampai di sebuah supermarket. Mingyu masih setia menemani Wonwoo belanja kebutuhan.

"Beli apa lagi nona cantik?" Mingyu menggoda Wonwoo yang masih berkeliling. Wonwoo mengecek isi belanjaan pada troli yang dipegang oleh Mingyu. Wonwoo sengaja mengajak Mingyu sebagai tenaga bantuan membawa belanjaan.

"Ah, iya ada yang belum. Kita kesana." Wonwoo menunjuk jalan ke arah tempat tissu. Mingyu menurut, namun bukan tissu yang Wonwoo beli melainkan sesuatu yang berada di rak sebelahnya.

"Aish, aku tunggu disana ya."

"Jangan, sebentar saja nanti kalau kita berpencar aku sulit mencarimu. Ponselku mati." Wonwoo menarik troli dari depan.

Mingyu hanya pasrah menuruti kemana Wonwoo berjalan, Wonwoo mengedarkan pandangan mencari merk pembalut yang biasa ia pakai.

Mingyu hanya menunduk malu saat beberapa pelanggan wanita lain tersenyum melihat pasangan anak sekolah sedang belanja.

...

...

Wonwoo mentraktir es krim stik karena Mingyu sudah menemaninya belanja. Hari sudah mulai malam, Mingyu membawa 1 kantung belanja yang agak berat berisi sabun cair, shampo dll. Sementara Wonwoo membawa 1 kantung yang ringan berisi pembalut.

"Sayang, tali sepatu kamu lepas." Mingyu menunjuk ke bawah.

"Oh?" Wonwoo menunduk dan melihat tali sepatunya lalu ia minta tolong Mingyu memegang es miliknya.

"Jangan lari! Nanti jatuh!"

'Tap tap tap' langkah kecil terdengar sangat cepat mendekati Wonwoo yang sedang berjongkok saat mengikat tali sepatunya.

"Aaahh."

Brugh!

Wonwoo kaget saat ada yang menimpa dirinya bagian punggung, Mingyu langsung menolong anak kecil yang menabrak punggung Wonwoo.

"Aduh maaf. Apa ada yang terluka?" Ucap seorang gadis berseragam pengasuh menghampiri dengan nafas tersengal-sengal.

"Oh sepertinya tidak." Mingyu mengecek tubuh anak kecil itu.

"Maaf ya, ayo minta maaf pada noona."

"Maaf noona." Ucap sang anak kecil pada Wonwoo. Wonwoo hanya mengangguk walau sebenarnya ia ingin mengomel karena sangat kaget. Beruntung ia bisa menahan tidak ikut terjatuh.

"Terima kasih. Astagaaa...!" Gadis itu melebarkan matanya saat melihat sesuatu di rambut Wonwoo. Mingyu pun ikut kaget dengan yang dilihatnya.

"Maaf ya dik, tapi saya sedang buru-buru sebentar lagi ibu anak ini pulang kerja jadi harus sudah sampai dirumah. Ini semoga cukup untuk ke salon." Gadis itu buru-buru memberikan 3 lembar uang pada Wonwoo.

Wonwoo bingung lalu tangan Wonwoo dipaksa untuk menerimanya. Gadis itu langsung pergi bersama sang anak kecil tersebut.

Wonwoo hanya bisa terdiam menyadari rambut panjangnya yang ia banggakan seharian terkena permen karet yang diyakini milik anak kecil itu.

"Hiks hiks hiks..." Wonwoo menangis sesenggukan dihadapan Mingyu, tangannya sibuk melepas permen karet yang menempel.

"Ini bagaimana? Kenapa tidak mau lepas?" Ucap Wonwoo yang sudah banjir air mata.

Mingyu ikut membantu untuk melepasnya.

"Aw sakit! Sakit!" Wonwoo terus memukul Mingyu.

"Ya terus mau bagaimana? Ini sulit sudah menempel."

"Semua gara-gara kamu!"

"Lho kenapa aku? Kan anak kecil itu yang menabrak kamu sayang."

"Iya biasanya kan kamu yang mengikat tali sepatu aku! Aku jadi tidak perlu berjongkok!"

"Ya ampun sayang. Namanya juga kecelakaan, aku mana tahu akan kejadian begini."

"Pokoknya semua karena kamu!" Wonwoo langsung berlari meninggalkan Mingyu. Mingyu panik ditinggal sendiri dengan kantung belanjaan yang tergeletak.

Mingyu menyusul Wonwoo. Wonwoo mencari tempat sepi dan meluapkan kesedihannya dengan masih terus menangis.

"Ya sudah, dipotong saja bagaimana? Dia juga sudah memberi uang."

"Kamu bagaimana malah membela dia! Nanti kalau dipotong, aku tidak cantik lagi!"

"Eih sayang!"

"Rambut aku jadi pendek, tidak seperti eonnie itu rambutnya panjang!"

Mingyu sudah tidak bisa menahannya lagi, ia langsung menangkup wajah Wonwoo. Dengan cepat ia meraih bibir Wonwoo dan melumatnya dengan lembut.

Wonwoo mendadak berhenti menangis saat merasa bibir atasnya dilumat lembut oleh Mingyu.

Mingyu melepas ciumannya dan jemarinya menghapus jejak air mata Wonwoo.

"Jangan menangis lagi, kamu tetap cantik apa adanya walau berambut pendek sekalipun. Aku tetap menyukai kamu. Aku tetap mencintai kamu."

Wonwoo hanya terdiam, tangisannya sudah berhenti. Mereka saling diam cukup lama. Jujur Wonwoo sedikit shock Mingyu berani menciumnya seperti itu, Wonwoo berpikir pasti Mingyu sudah latihan sebelumnya belajar dari menonton drama romantis misalnya.

"Maaf, kalau aku kelepasan." Ucap Mingyu memecah keheningan.

"Ayo ke salon, sepertinya memang aku harus potong rambut. Lihat uangnya banyak, pasti ada sisa bisa buat kita makan nanti." Ujar Wonwoo dan ia mulai tersenyum. Mingyu mengangguk menyetujuinya lalu berjalan lagi mencari salon yang masih buka.

...

...

Mingyu terus menatap Wonwoo yang duduk didepannya, ia terus tersenyum sementara yang ditatap hanya menunduk malu sambil menyuap nasi.

Wonwoo menepati janji mentraktir makan dari uang sisa potong rambut.

"Lihat, kamu terlihat sangat cantik dan fresh rasanya." Mingyu terus memuji penampilan rambut Wonwoo yang dipotong model bob sebahu tak lupa poni depan yang mempermanis wajahnya.

"Benarkah? Apa terlihat dewasa?"

"Eih sudah jangan dibahas lagi."

Wonwoo terkekeh geli melihat ekspresi Mingyu. Keduanya larut dalam canda tawa selama menikmati makan malam berdua.

Wonwoo sendiri merasa sangat lega karena Mingyu benar-benar menyayanginya dan tidak ada niat berpaling darinya.

Mingyu pun menyadari, setiap pasangan ada cara tersendiri untuk mengungkapkan perasaannya. Wonwoo memang terlihat pasif tapi sekalinya aktif malah membuat Mingyu kelabakan takut ada orang lain yang ikut menyukai Wonwoo.

.

.

.

END

Annyeong,

Lama ga update Meanie, ku tetap cinta Meanie...

Gomawo yang sudah review chap lalu, chap ini udah kisseu lagi ga cuma nempel tapi ada kemajuan sedikit, hehehehe *ketawa evil... Mengingat masih rated T jadi masih 'ngerem' hehehe...

Trus hurt comfortnya biar ga bosen sama yang sweet-sweet aja, maaf kalau tidak sesuai harapan reader karena suka ga tega sama Meanie hiks...

Ditunggu review kalian, kiss-kiss...

Special thank's for :

Mockaa1617 / Alda Trand / marinierlianasafitri / Devil Prince / tripledoubleyu.a / rizka0419 / wortelnyasebong / elfviliebe / KimHaelin29 / Jeon06 / Cha KristaFer / wonuguaegi / jeononu / SweetLate / XiayuweLiu / Dardara

31 Oktober 2017