.
oOo
If I wanna closer with you
I'm really loving you
oOo
.
.
Rated T
Meanie Couple
Genderswitch
OS
.
.
Happy Reading
"Liburan kalian akan kemana?" Tanya Seungkwan di sela makan siangnya. Saat ini anggota OSIS sedang berkumpul semua.
"Aku ada jam tambahan di tempat kursus." Ucap Jihoon malas.
"Aku mudik ke China dengan kedua orang tuaku." Ucap Jun.
"Kamu juga Hao?" Tanya Jeonghan namun Minghao hanya menggeleng.
"Aku di rumah saja, Baba belum bisa cuti."
"Sama, aku juga di rumah saja." Ucap Chan menambahkan.
"Manfaatkanlah waktu kalian sebaik mungkin." Ucap Seungcheol sembari mengaduk minumannya dengan sedotan.
"Hyung! Hwaiting! Noona juga!" Soonyoung memberi semangat pada Seungcheol, Jeonghan dan Jisoo yang sudah di tingkat akhir masa SMA yang akan menempuh ujian negara. Selama mereka ujian maka anggota yang lain libur sekolah.
"Yup, terima kasih. Gyu, kamu rencana kemana?" Tanya Seungcheol pada Mingyu yang terlihat lesu selama berkumpul. Mingyu hanya mengaduk makanan dan makan dengan tidak selera.
"Aku harus latihan basket, sebentar lagi ada pertandingan." Ucap Mingyu lemas.
"Oooh..." ucap yang lain serempak.
"Won, kamu pulang?" Tanya Jisoo yang duduk di sebelah Wonwoo.
"Hmm... entahlah." Wonwoo hanya mengedikkan bahunya.
"Huaaaaaa... sedih sekali, aku sendirian nanti kalau kamu pulang ke Changwon." Mingyu merengek pada Wonwoo di depan teman-temannya. Wonwoo hanya menatap diam Mingyu yang berubah manja.
"Pppfffftt... lihat kelakuan bayi besar itu." Jeonghan meledek tingkah Mingyu.
"Aigoo! Dasar manja!" Seokmin memukul bahu Mingyu karena merasa gemas dengan sikap Mingyu.
"Aaaauhhh... Sayang, aku di pukul..."
Wonwoo masih terdiam melihat Mingyu yang manja sementara Mingyu sudah memajukan bibirnya dan menurunkan kadar ketampanannya dengan ekspresi seolah akan menangis.
Wonwoo masih berpikir apa yang terjadi pada diri Mingyu.
"Ssst aku berani bertaruh kalau sebentar lagi Wonu akan ikut memukul Mingyu." Bisik Seungcheol pada Soonyoung dan Hansol.
"Bagaimana kalau tidak?" Soonyoung merasa ragu dengan tebakan Seungcheol.
"Kalau aku salah, aku akan traktir kalian es kopi susu."
"Setuju!" Ucap Jun semangat.
"Aish! Jelek sekali tampangmu Kim!" Ledek Seokmin makin gemas dan masih memberikan pukulan sayang dari seorang teman.
"Sayang... aku di bilang jelek..." Mingyu masih mengadu. Teman-teman yang lain terus menatap pasangan di depan mereka. Menunggu kepastian sikap Wonwoo selanjutnya.
"Sini, mana yang sakit?"
"Ini, sakit..." Mingyu menyodorkan lengannya dan Wonwoo mengusap lembut.
"Fuuuh... cepat sembuh yaa..." Wonwoo meniupkan dan mengucap kalimat sakti yang biasa orang tua ucapkan pada anaknya yang sedang merengek karena terluka.
'Brak!' Seungcheol memukul keras meja kantin hingga semuanya kaget, namun teman-temannya hanya terkekeh geli. Sementara Mingyu dan Wonwoo tersentak kaget dan menatap yang lain dengan bingung.
"Masih sakit?"
"Tidak, sekarang masih lapar."
"Iya habiskan makannya ya." Wonwoo mengambil piring makanan milik Mingyu yang belum habis lalu menyuapinya. Mingyu langsung makan dengan lahap di iringi dengan tatapan heran teman-temannya.
Mingyu yang berubah manja dan Wonwoo yang sangat perhatian. Sungguh pemandangan ajaib di mata teman-temannya.
Seungcheol menelan kenyataan yang pahit, akibat ucapannya ia jadi harus bertanggung jawab mentraktir es kopi susu untuk teman-temannya. Soonyoung bersemangat membeli beberapa es kopi susu kemasan setelah Seungcheol memberikan beberapa lembar uang.
"Hyung, aku juga mau." Mingyu merasa iri karena hanya ia dan Wonwoo yang tidak diberi.
"Beli sendiri! Kamu belum pantas minum ini, lebih baik kamu minum susu saja." Ucap Seungcheol kesal.
Mingyu hanya merengut tidak mengerti apa yang terjadi.
"Ini, minum yang ini saja." Wonwoo menyodorkan minuman jus kemasan miliknya dan Mingyu langsung menyesap isinya. Wonwoo masih melanjutkan menyuapi makan.
"Ayo bubar! Bubar!" Seungcheol terus memprovokator teman-temannya. Soonyoung tertawa paling keras melihat semuanya. Semuanya serempak bangun dari duduk kecuali Mingyu dan Wonwoo.
"Kalian mau kemana?" Mingyu masih merasa bingung.
"Kalian teruskan saja, aku harus kembali ke kelas." Ucap Jisoo yang ikut bangun dari duduk meninggalkan pasangan Mingyu dan Wonwoo.
"Mereka kenapa?"
"Entahlah, ini sekali lagi." Wonwoo selesai menyuapi Mingyu. Mingyu tersenyum puas dimanjakan oleh sang gadis pujaan hati.
oOo
Wonwoo tengah bersiap, sebentar lagi Mingyu akan menjemputnya. Mereka berencana akan kencan seharian menikmati libur sekolah berdua.
"Won... Mingyu sudah datang...!" Teriak ibu asrama dari lantai bawah.
"Iya... tunggu..." Wonwoo langsung bergegas merapihkan rambut dan bajunya. Rambutnya yang belum lama di potong model bob tidak perlu banyak tatanan. Kesan simple dan manis untuk tema Wonwoo hari ini. Gadis cantik berumur 17 tahun itu menyusuri anak tangga turun ke lantai bawah asrama yang ia tempati hampir 2 tahun ini.
Belajar hidup mandiri dengan jauh dari orang tua yang membuat Wonwoo rela sekolah di luar kota. Namun kasih sayang dari orang tua tak pernah luput menanyakan kabar setiap harinya. Ditambah dengan kehadiran Mingyu yang menemani harinya selain teman-teman lainnya. Hidup Wonwoo tidak pernah merasa kesepian.
Wonwoo hanya terdiam melihat raut wajah Mingyu yang terlihat murung. Pemuda tampan itu memakai masker yang menutup mulutnya.
"Kamu sakit?" Wonwoo terlihat khawatir karena sedang musim dingin.
"Kalau sakit, tidak usah pergi saja."
Mingyu buru-buru mengeluarkan telapak tangannya yang sedari tadi ia masukkan ke dalam coat panjang dan menggeser masker yang menutup mulutnya.
"Bibir aku luka, kemarin saat latihan terkena bola." Mingyu mulai merengek meminta perhatian. Dengan sedikit membungkuk ia memperlihatkan bekas luka di sudut bibirnya pada Wonwoo.
Wonwoo refleks mengusap bekas luka yang sebenarnya hanya luka kecil namun Mingyu membesar-besarkannya. Mingyu sedang manja mode on. Entah mengapa efek puber yang Mingyu alami terlihat aneh. Biasanya anak seumuran dia ingin terlihat keren di mata teman-temannya namun Mingyu malah suka manja.
"Iya itu sakittt..."
Mingyu masih dengan rengekannya...
'Bugh!'
"Ayo cepat kita jadi pergi kan?" Wonwoo memukul lengan Mingyu dan langsung berjalan duluan.
"Eih ini belum sembuh... sayang... tunggu..." Mingyu berlari mengejar Wonwoo yang berjalan cepat karena udara masih sangat dingin. Dengan cepat tubuh kurus Wonwoo yang dibalut coat panjang berhasil direngkuh tubuh besar Mingyu yang memberi kehangatan di tengah dinginnya cuaca saat itu.
Mingyu merangkul Wonwoo berjalan berdua menuju stasiun subway yang akan membawa mereka ke pusat kota untuk sekedar hangout.
"Bagaimana kalau kita foto dengan wajah jelek?" Ucap Mingyu yang sudah mengeluarkan ponselnya.
"Wajah jelek?" Wonwoo langsung senam muka mencoba mimik wajahnya sendiri sesuai keinginan Mingyu.
Mingyu hanya tertawa melihatnya, ia langsung menaikkan syal yang dipakai Wonwoo untuk menutup seluruh wajah Wonwoo dan hanya menyisakan rambut saja.
"Sudah foto begini saja, kalau kamu foto dengan wajah jelek nanti yang ada wajah kamu tetap terlihat lucu dan menggemaskan." Ucap Mingyu terkekeh geli karena wajah Wonwoo sudah tertutup syal berwarna biru.
Wonwoo hanya meremas lengan Mingyu sementara Mingyu menutup wajah dengan masker sampai batas bawah hidung. Tidak adil memang, dimana Mingyu masih dapat melihat sementara wajah Wonwoo tertutup semua.
Mereka hanya tertawa melihat hasil foto yang tidak biasa membuat penumpang kereta ada yang sempat melirik ke arah pasangan muda itu.
"Oh, ibu silahkan duduk." Mingyu menyadari ada seorang ibu yang baru naik dan ia langsung memberikan bangkunya walau tempat yang ia duduki bukan bangku prioritas.
"Terima kasih anak muda."
"Sama-sama." Ucap Mingyu dengan senyum tampannya namun tertutup masker yang masih digunakan.
Terkadang Mingyu bersikap manja saat bersama Wonwoo namun ia tetap bisa bersikap dewasa. Mingyu yang berdiri tepat di depan Wonwoo mengusap lembut puncak kepala Wonwoo sementara tangan satunya ia gunakan untuk berpegangan. Sikap Mingyu seolah memberi tanda kalau Wonwoo adalah miliknya.
"Kalian mau kemana?" Tanya sang ibu yang diberi duduk oleh Mingyu pada Wonwoo.
"Mau ke Hongdae." Jawab Wonwoo sopan.
"Oooh... iya hati-hati ya."
"Iya terima kasih."
"Kalian dari agensi mana?"
"Eh? Agensi?"
"Iya kalian anak trainee bukan? Agensi pasti melarang kalian pacaran tapi gejolak anak muda siapa juga yang bisa menolak?"
"Oh? Hahaha..." Wonwoo menyadari dengan penampilan ia dan Mingyu yang terkesan tertutup membuat mereka terkesan seperti idol ditambah dengan paras dan tubuh keduanya yang semakin meyakinkan orang lain.
Wonwoo mendongakkan kepalanya dan Mingyu menatap ke bawah bingung saat beradu pandang dengan Wonwoo. Wonwoo hanya menggeleng lucu dengan syal yang masih menutup mulutnya. Mingyu hanya merasa gemas sendiri dengan sedikit mencubit pipi Wonwoo, karena ia merasa Wonwoo saat ini sedang tertawa dibalik syalnya. Sementara sang ibu hanya tersenyum melihat pasangan anak muda di dekatnya.
"Kamu kenapa tadi? Ibu itu bilang apa?" Mingyu masih penasaran, dengan erat ia menggenggam telapak tangan Wonwoo dan memasukkan bersama dalam saku coatnya agar Wonwoo merasa hangat. Sementara tangan satunya masuk ke dalam saku coat masing-masing.
"Ibu itu mengira kalau kita kabur dari agensi untuk berkencan."
"Apa? Agensi?" Mingyu terkekeh geli mendengar jawaban dari Wonwoo.
Keduanya berjalan di tengah keramaian, banyak anak muda berpasangan selain mereka. Mingyu terus menggenggam tangan Wonwoo dibalik saku coatnya agar mereka tidak berpisah satu sama lain karena suasana sangat ramai.
Mingyu membawa Wonwoo ke sebuah restoran pasta, mengingat hari sudah siang. Ia tidak ingin sang gadis cantik yang bersamanya kelaparan di tengah dinginnya cuaca. Wonwoo merasa terlindungi dengan Mingyu yang selalu menjaganya.
Keduanya memesan dengan menu berbeda dan keduanya saling mencicipi menu pasangannya.
"Ini." Wonwoo menyuapi fettucini miliknya ke Mingyu.
"Hmm enak. Ini kamu coba." Mingyu membalas menyuapi spaghetti miliknya pada Wonwoo.
Wonwoo hanya mengangguk dengan mulutnya yang mengunyah spaghetti. Ibu jari Mingyu bergerak membersihkan sisa bumbu spaghetti yang menempel di sudut bibir Wonwoo lalu ia menjilat lagi ibu jarinya sendiri setelah membersihkan dari bibir Wonwoo.
"Ish jorok!" Wonwoo memukul gemas melihat tingkah Mingyu, Mingyu hanya tertawa geli. Baginya ia merasa senang melihat Wonwoo yang kesal karena sangat perhatian.
Wonwoo mencari tissu basah di tasnya lalu membersihkan setiap jari Mingyu dengan tissu basah. Beberapa pelayan yang melihat hanya menggelengkan kepalanya. Karena suasana restoran saat itu tidak terlalu ramai hingga aksi pasangan muda itu mudah ditangkap oleh orang lain.
Selesai makan mereka berkeliling ke berbagai toko dengan Mingyu yang masih menggenggam tangan Wonwoo dibalik coatnya.
"Sayang lihat, ini lucu." Mingyu menunjuk deretan jepit rambut pada Wonwoo. Tanpa ragu ia mengambil salah satu jepitan dan memakaikan pada rambut Wonwoo.
"Cantik!" Pekik Mingyu gemas merasa senang jepitan pilihannya membuat Wonwoo semakin cantik setelah dipakai.
Wonwoo yang tidak percaya, mengambil cermin dan langsung bercermin.
"Beli 1 gratis 1." Ucap seorang bapak tua sang pedagang dengan tersenyum.
"Kamu ambil satu lagi." Ucap Mingyu semangat, ia merasa senang bisa membelikan hadiah untuk Wonwoo walau hanya jepit rambut mengingat ia masih anak sekolah.
Wonwoo menatap deretan jepitan yang lain dan langsung memilih 1 model lagi berbentuk pita.
"Kalau ini?" Wonwoo meminta pendapat pada Mingyu setelah ia memakai jepitan pilihannya dan Mingyu mengangguk senang. Ia segera membayar dan membawa Wonwoo menyusuri jalan lagi dimana banyak barang dagangan yang untuk dilihat.
"Sayang, kita kesana." Wonwoo menunjuk ke pedagang lain.
"Oke." Mingyu menuruti kemana Wonwoo melangkah. Wonwoo berhenti tepat di depan pedagang kaos kaki dan matanya melihat satu persatu dagangan yang di pajang.
Pilihannya jatuh pada sarung tangan berbahan wol. Ia mengambil 2 pasang dan langsung memakaikan pada tangan Mingyu.
"Lucu. Aku akan membelinya sebagai ganti kamu sudah traktir makan dan jepitan ini."
"Eih tidak usah."
"Hng... tidak, ini hadiah dariku dan kamu tidak boleh menolaknya." Wonwoo segera membayar sarung tangan couple yang telah ia pilih.
"Kalau pakai ini, aku tidak bisa genggam tangan kamu lagi."
"Aku yang akan berpegangan pada lenganmu. Ayo. Aku dengar mau ada pertunjukkan di sana." Wonwoo langsung mengapit lengan Mingyu. Mingyu tersenyum walau keduanya telah memakai sarung tangan tapi tubuh mereka semakin menempel satu sama lain.
Mingyu yang masih memakai masker dan Wonwoo yang meninggikan syalnya menutup mulutnya berjalan beriringan di tengah keramaian.
Mingyu mencari posisi nyaman untuk menonton pertunjukkan jalanan. Hanya spot sedikit yang tersisa, ia menarik Wonwoo dan menyuruhnya duduk. Mingyu memilih duduk di belakang Wonwoo sehingga bisa melindungi tubuh Wonwoo dari kanan kiri penonton lain. Wonwoo melipat dan memeluk kakinya sendiri
Pertunjukkan dimulai dari cover dance dari kalangan anak muda dan dilanjutkan oleh penyanyi jalanan yang menyumbangkan suaranya. Wonwoo sangat menikmati hiburan gratis di depannya. Terkadang ia sedikit menyender pada tubuh Mingyu yang duduk di belakangnya sementara Mingyu sesekali mencium puncak kepala Wonwoo dari belakang.
Romantis. Kesan yang terlihat pada pasangan muda itu dimana tidak ada yang mengenali dirinya karena penampilan mereka yang tertutup. Hingga mereka tidak malu untuk mengumbar kemesraan.
Hari beranjak sore, suasana semakin ramai. Kedua anak muda itu masih menikmati hiburan yang tersaji di depannya. Wonwoo merasa sedikit lelah, ia menyender pada salah satu lutut Mingyu. Mingyu mengusap lembut rambut Wonwoo dan mendekatkan wajahnya kemudian berbisik. "Kamu lelah?"
Wonwoo kembali menegakkan tubuhnya dan menengok ke belakang. "Aku bosan."
"Mau kemana lagi?"
Wonwoo hanya mengedikkan bahunya namun tubuhnya tetap masih ingin menempel pada Mingyu.
"Beli minuman saja ya."
Ajakan Mingyu langsung dituruti Wonwoo, dengan perlahan ia bangun dari duduknya diantara kerumunan anak muda lain yang masih betah berlama-lama menonton pertunjukkan.
Mingyu mengajak ke sebuah coffee shop dan memesan minuman panas untuk menghangatkan mereka.
"Dingin ya?" Mingyu menghangatkan tangan mungil Wonwoo dengan telapak tangannya. Sementara sang pemilik tangan tersipu malu karena perhatian yang diberikan oleh Mingyu.
"Kamu benar mau pulang besok?"
"Iya, ayahku sudah pesankan tiket. Kenapa?"
"Nanti kalau aku kangen bagaimana?" Mingyu mulai merajuk mode on lagi yang membuat Wonwoo sedikit merasa sebal.
"Eih lucu sekali kalau cemberut."
"Bagaimana nanti kalau aku sudah lulus?"
Mingyu hanya terdiam dan memutar bola matanya ke segala penjuru arah. Ia belum bisa membayangkan akan berpisah dengan Wonwoo, tidak akan menemuinya lagi dalam 1 sekolah.
"Masih bisa bertemu kan? Rencana kamu mau ambil negeri?"
"Aku mau keluar negeri." Jawab Wonwoo cepat.
"Apa?"
"Alasan aku sekolah jauh dari orang tua untuk melatih agar aku bisa mandiri."
Wonwoo menarik nafasnya dengan dalam, hal seperti ini menjadi beban pikirannya. Ia sudah terlanjur sayang pada Mingyu dan kalau harus berpisah pasti akan sangat sakit. Namun impian ia kuliah di negeri orang sudah menjadi cita-citanya sejak dulu.
Mingyu hanya bisa terdiam, ia baru mengetahui dibalik alasan Wonwoo sekolah yang jauh dari kota kelahirannya.
"Mau kemana?" Tanya Mingyu lirih tak bersemangat.
"Ke Inggris atau Amerika tergantung nantinya aku diterima di mana."
"Ooh..."
"Kamu marah?"
"Kenapa harus marah? Aku yakin kamu bisa, masih ada setahun lagi bukan?" Mingyu hanya menunduk lemas merasa kecewa. Dalam kurun waktu 1 tahun yang bisa ia manfaatkan untuk bersama Wonwoo. Ia sangat mencintai dan menyayangi Wonwoo dalam umurnya yang terbilang masih sangat muda.
Pesona dari seorang Jeon Wonwoo sulit untuk dilupakan, namun ia takut hatinya akan berubah seiring berjalannya waktu. Apakah Wonwoo juga akan terus mencintai Mingyu seperti saat ini? Mereka masih sangat muda untuk mendalami arti cinta.
Awal Mingyu mengenal cinta saat menyukai kakak kelasnya ini, semakin hari ia merasa semakin tidak ingin berpisah walau terkadang rasa jenuh itu tetap ada.
Wonwoo pun larut dalam pikirannya, berpisah dengan Mingyu pasti sulit dilakukan. Secanggih apapun teknologi saat ini namun dengan sentuhan dan perhatian dari seorang Kim Mingyu tidak dapat tergantikan dengan sekedar video call.
"Aku... aku..."
Wonwoo menoleh dimana Mingyu menahan kesedihannya. Hari ini Mingyu telah merencanakan akan bersenang-senang bersama sebelum Wonwoo pulang ke Changwon untuk menghabiskan libur sekolahnya.
"Kenapa?"
"Apa aku bisa menyusulmu nanti? Ini mungkin terdengar gila. Walau aku tidak mendapat beasiswa tapi ayahku pasti mau membiayai sekolahku nanti."
Senyum mengembang di wajah cantik Wonwoo. Ia merasa sangat senang kalau Mingyu ingin terus bersamanya.
"Oh... apa yang akan kamu katakan pada orang tuamu nanti?"
"Entahlah, aku belum memikirkannya. Bagaimana kalau kita main ice-skating?" Ajak Mingyu riang, ia tidak mau larut dalam kesedihan. Wonwoo mempunyai cita-citanya dan Mingyu harus mendukungnya.
"Aku tidak bisa, main sepatu roda saja langsung jatuh."
"Nanti aku ajari, ayo habiskan minumannya. Kita main sampai puas hari ini."
"Oh oke!" Wonwoo menurut menghabiskan cokelat panasnya dan mereka segera bergegas ke tempat bermain ice skating.
Tawa riang keduanya saat mencoba permainan baru berdua. Dengan telaten Mingyu mengajari Wonwoo.
"Sakit..." Wonwoo mulai merengek setelah puas bermain.
"Dimana yang sakit?"
"Ini." Wonwoo menunjukkan bokongnya karena beberapa kali ia sempat terjatuh. Mingyu hanya menelan ludahnya, Mingyu masih normal, ia hanya anak muda biasa yang sedang puber.
"Sini..."
"Eih, tidak boleh..." Wonwoo langsung menghindar saat Mingyu menawarkan mau mengusap bokongnya. Ia berlari kecil meninggalkan Mingyu.
"Yak... awas kamu ya!" Mingyu langsung mengejar dan dengan cepat ia mendapatkan Wonwoo yang gerakannya memang lambat.
"Mingyu sayang..."
"Hmm..."
"Jangan kangen aku ya..." Wonwoo memeletkan lidahnya, Mingyu membalas dengan memberikannya kecupan manis di bibir. Wajah Wonwoo langsung bersemu merah, semakin membuat Mingyu merasa gemas. Wonwoo hanya meremas coat milik Mingyu saat bibir mereka bersatu, dengan lembut Mingyu melumat bibir ranum milik Wonwoo saat mengantarnya pulang.
Katakan Mingyu memang berani dengan sikapnya yang sekarang, terlebih lagi keadaan sedang sepi dan gelap dimana orang lebih memilih berdiam di dalam rumahnya yang hangat.
oOo
Sudah 2 hari Wonwoo pulang ke kota kelahirannya menghabiskan libur sekolahnya, sementara Mingyu memilih latihan basket bersama teman klubnya.
"Jangan kangen aku ya..." kalimat itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran Mingyu maka ia memutuskan untuk berolah raga saja agar tidak terlalu merindukan sosok cantik dan manis yang selalu menemani hari-harinya.
"Gyu, habis latihan bagaimana kalau kita makan ayam goreng?" Ajak Kang Dong Ho sang kapten basket.
"Ayo, boleh saja hyung."
Dong Ho mentraktir Mingyu yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Liburan tidak pergi Gyu?"
"Tidak hyung, mau pergi berlibur sekeluarga tapi ayahku ada urusan keluar kota."
"Ooh begitu, makanlah yang banyak."
"Terima kasih hyung." Mingyu sangat senang bisa makan dengan gratis dan tidak ada yang mengomel karena saat ini cara makan Mingyu cukup berantakan dengan tangan yang blepotan dengan bumbu ayam yang menempel di setiap jarinya.
Mingyu kembali teringat dengan Wonwoo, kalau ada kekasihnya saat ini pasti Wonwoo akan mengomel dan langsung sigap membersihkan jari-jari Mingyu. Ia merindukan sosok yang cerewet tapi sangat perhatian.
Kedai ayam goreng yang mereka datangi tidak terlalu ramai, hanya beberapa pengunjung termasuk Mingyu dan Dong Ho. Tak lama datang segerombolan pemuda yang memakai seragam sekolah, mereka tepat duduk di belakang Mingyu dan Dong Ho duduk.
"Yak, cepat kamu pesan!"
"Iya."
Terdengar kekehan dari gerombolan pemuda tersebut.
"Salah siapa kalah taruhan?"
"Diam kau tikus!"
"Hahaha dasar singa!"
Pemuda yang dipanggil singa segera bangun dan menuju meja pesanan untuk memesan.
"Hyung, lihat. Masih sekolah tapi rambutnya di cat merah seperti itu." Bisik Mingyu pada Dong Ho mengomentari penampilan pemuda tersebut.
Dong Ho hanya tertawa geli dan menyuruh Mingyu untuk melanjutkan makan dibanding bergosip membicarakan orang lain.
"Omo!" Mingyu tersentak kaget saat melihat wajah pemuda itu yang telah selesai memesan dan berjalan ke arahnya. Mingyu masih ingat siapa pemuda itu, sepupu Wonwoo. Namun ia lupa namanya.
"Besok kamu jadi berangkat dengan Jaeyoon?"
"Tidak jadi, Jae hyung ada evaluasi dadakan besok."
"Jadi tiket yang sudah dibeli?"
"Ya hangus tidak bisa di refund, kamu mau menggantikan?"
"Aku kalau tidak ada audisi mau saja, penasaran juga dengan sepupu kamu itu. Cantik ya?"
"Sangat!"
"Juho-ya, kalau kamu bicara begitu semakin membuat Rowoon penasaran."
"Youngbin hyung, bagaimana kalau kamu saja yang pergi? Sampaikan salamku untuk sepupu Juho yang katanya cantik itu."
Mingyu mendadak terdiam setelah mencuri dengar percakapan pemuda di belakang ia duduk.
'Sepupu cantik? Apa Wonwoo yang dimaksud?'
"Berapa lama kamu di Changwon esok?"
Deg!
Tebakan Mingyu benar adanya, yang mereka bicarakan sedari tadi adalah Wonwoo. Wonwoo gadis pujaan hatinya, Wonwoo yang saat ini ia rindukan. Wonwoo yang masih menyapanya tadi pagi sebelum ia pergi latihan basket.
"Aku tidak lama, setelah acara juga segera pulang. Jadi, ada yang berminat mau jalan-jalan bersamaku? Tae? Diam saja dari tadi. Mau ikut?"
"Tidak bisa hyung, besok aku ada kompetisi dance."
"Ok, kamu ada kompetisi, lalu Rowoon ada audisi dan kamu hyung?"
"Hmm aku sedang menyusun acara untuk pentas seni kelulusan. Tapi..."
"Aku mau!" Mingyu berteriak dengan sangat lantang membuat 4 pemuda tersebut terdiam dan menatap ke arah Mingyu yang tangannya masih blepotan bumbu ayam. Saat ini Mingyu sudah berdiri di depan 4 pemuda yang duduk tepat di belakangnya dan Dong Ho hanya terkejut melihat sikap Mingyu.
Pemuda pemilik rambut merah itu hanya terdiam dan mengernyitkan dahinya menatap Mingyu.
"Hyunggg... hmmm Baek... Baek hyung... tolong berikan tiketnya untukku saja..." Mingyu melirik sekilas papan nama di seragam pemuda di depannya.
Mereka saling berpandangan menatap Mingyu yang memelas.
"Siapa?" Rowoon menatap Juho meminta penjelasan. Juho hanya terdiam mencoba mengingat.
"Tidak kenal."
'Jleb' rasanya Mingyu tidak di akui, memang pertemuan sebelumnya sangat tidak berkesan dimana saat itu Mingyu sedang bermasalah dengan Wonwoo dan Juho sebagai penengah, namun Mingyu terkesan arogan saat itu.
"Hyung, ini aku Mingyu. Kim Mingyu, pacarnya Wonu."
"Wonu itu siapa?" Tanya pemuda pemilik mata bulat yang duduk di sebelah Juho, Taeyang.
"Wonu itu sepupu aku yang cantik, Tae."
"Jadi, sepupu kamu itu sudah punya pacar?" Tanya pemuda yang postur tubuhnya paling tinggi, Rowoon.
"Ah! Aku ingat!"
"Akhirnya kau ingat aku juga, iya ini aku." Mingyu mengangguk senang saat pemuda bermarga Baek di depannya ingat dirinya.
"Tapi bukankah kalian sudah putus?"
'Jleb kedua' Mingyu merasa lemas Juho mengingatkan ia pada masa lalu dimana ia memang saat itu sempat putus dengan Wonwoo.
Kekehan terdengar dari teman-teman Juho melihat tingkah Mingyu yang terkesan gila. Mingyu memang gila karena sangat merindukan Wonwoo.
oOo
"Astaga! Dia kemana? Bis sudah mau berangkat!" Mingyu menggeram gemas menunggu seseorang di terminal bis.
Kurang dari 5 menit bis akan berangkat, ia bisa saja membeli tiket namun ia tidak paham alamat Wonwoo di Changwon. Dan untuk tiket, Juho yang pegang jadi Mingyu harus menurut mengikuti Juho tanpa banyak protes.
Iya, saat ini Mingyu akan menuju Changwon bersama Juho yang notabene sepupu Wonwoo. Mingyu berhasil mendapatkan tiket ke Changwon setelah menahan malu di kedai ayam goreng kemarin.
Saat itu Juho diberi nasehat oleh temannya yang bernama Youngbin agar tiket bis yang masih ada untuk diberikan pada Mingyu, karena Mingyu sangat menginginkan untuk bertemu Wonwoo.
"Ah, itu dia!" Mingyu menggertakkan giginya masih merasa kesal karena sosok yang ia tunggu akhirnya muncul dengan tenang dan langsung masuk ke dalam bis. Mingyu buru-buru mengekor karena bis segera berangkat.
"Kamu mau apa?"
"Duduk di sini." Jawab Mingyu polos.
"Itu masih banyak bangku kosong." Juho menyuruh Mingyu mencari bangku kosong yang lain. Mingyu sangat sabar menghadapi sepupu Wonwoo yang menyebalkan demi bisa bertemu sang gadis pujaan hati.
Selama perjalanan, Juho hanya tertidur dan Mingyu hanya terdiam. Hingga Juho terbangun dan bermain ponsel, Mingyu mulai berani untuk sekedar berbicara.
"Hyung, memang ada acara apa di sana?"
"Kamu tidak tahu?"
"Tidak."
"Wonu tidak cerita?"
"Belum, sepertinya dia sangat sibuk."
"Ooh, dia mau tunangan."
Mingyu langsung terdiam dengan bola mata yang membesar. Maksud ucapan Juho itu apa? Wonwoo yang beberapa hari lalu mengutarakan akan melanjutkan pendidikan keluar negeri setelah lulus. Wonwoo yang belum dapat di hubungi. Mingyu ingin bertanya lebih lanjut tapi Juho terlihat sibuk menelepon seseorang dengan suara yang lembut, yang ia yakin adalah kekasih dari Juho.
...
...
Mingyu telah sampai, di depannya berdiri bangunan 2 lantai dan di halaman rumah tersebut ada mobil van dengan merk catering dan beberapa mobil lainnya.
Terlihat ramai keadaan rumah Wonwoo saat itu. Lutut Mingyu sudah lemas rasanya namun ia penasaran apa benar kalau Wonwoo benar akan tunangan? Mingyu hanya berjalan mengekor di belakang Juho dengan menunduk.
Keadaan dalam rumah yang ramai, semuanya terlihat sibuk mempersiapkan sebuah acara pesta. Mingyu kehilangan Juho si pemilik rambut merah itu.
"Kemana dia?" Mingyu berjalan menyusuri sisi rumah, ia berubah pikiran yang semula ingin mencari Juho, berubah untuk mencari kamar Wonwoo.
"Hei! Mau kemana?"
Mingyu menoleh dan melihat Juho yang sudah menatap dengan tajam seolah mengerti tujuan Mingyu.
"Sini kamu."
Mingyu menurut mengikuti langkah Juho berjalan mendekati seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik. Apakah itu ibunya Wonwoo? Mingyu antara siap dan tidak akan di perkenalkan oleh ibunya Wonwoo.
"Tante."
"Iya, lho kamu masih di sini? Tadi tante suruh istirahat saja kan kamu baru sampai."
"Tidak apa, oh iya masih butuh orang kan?"
"Iya, tadi ada yang sakit."
"Ini saja, dia tenaganya kuat dan sangat rajin."
Mingyu hanya menatap sinis pada Juho yang tersenyum pada wanita paruh baya itu.
"Wah tampan juga, tapi dia terlihat sangat muda seperti seumuran kamu."
"Karena yang masih muda jadi tenaganya kuat." ucap Juho.
Wanita itu mengangguk senang sementara Mingyu masih bingung dengan maksud dan tujuan Juho sebenarnya.
"Oke, semoga berhasil." Juho langsung pergi tanpa memberi penjelasan.
"Acaranya sebentar lagi mulai, sebaiknya kamu ganti baju ya." Ucap wanita itu dan memanggil seseorang, tak lama Mingyu diberi seragam.
Menjadi pelayan! Mingyu tak habis pikir, niat ia bertemu dengan Wonwoo harus dengan cara dikerjai habis-habisan oleh sepupu Wonwoo. Sementara wanita itu telah menghilang ditengah kesibukan orang yang berlalu-lalang.
"Dasar singa!" Mingyu hanya bisa menggeram marah mengingat kejadian dari awal ia mau berangkat.
"Hei, cepat kamu ganti baju!" Ucap seseorang membuyarkan lamunan Mingyu. Mingyu hanya pasrah menurut untuk berganti pakaian.
Mingyu berjalan berkeliling dengan sudah berganti pakaian. Ia menunduk malu saat bertemu tamu undangan lain. Matanya mencari sosok yang ia rindukan, namun sosok itu belum terlihat. Berbagai karangan bunga bertuliskan "Selamat dan Sukses" yang Mingyu temui. Pestanya sendiri dilakukan di taman belakang rumah yang sangat luas.
Mingyu hanya melirik sebal ke arah Juho yang terlihat santai menikmati pesta dengan bercengkrama dengan tamu pesta lain, dan tamu itu tentu tak lain adalah para gadis. Pakaian yang digunakan juga terlihat bagus dibanding dengan Mingyu yang memakai seragam hitam dengan logo catering dan apron di pinggangnya.
"Hai Won, selamat ya!"
"Oh? Hahaha terima kasih."
Samar-samar Mingyu mendengar suara Wonwoo, ia bergerak mencari sosok yang ia kenal. Wonwoo terlihat sangat cantik memakai gaun pesta berwarna biru muda dengan rok selutut dan memakai mantel bulu yang terlihat sangat lembut membalut tubuh tinggi kurusnya.
"Cantik..."
"Yak! Kalau kerja yang benar!" Seorang tamu wanita muda membuyarkan lamunan Mingyu. Wanita itu kesal karena Mingyu tak sengaja menumpahkan minuman pada gaun pestanya.
Semua mata memandang ke arah keributan kecil di tengah pesta. Mingyu menunduk minta maaf namun sang wanita itu terlanjur sangat kesal.
Raut wajah Mingyu pucat pasi karena wanita di depannya seolah ingin menerkam ia.
"Gyu! Kamu sedang apa disini?"
Bola mata Mingyu membesar dengan sosok di depannya.
"Mingyu?"
Mingyu terkejut kedua kalinya karena Wonwoo juga mendekat ke arahnya, namun ia lebih terkejut karena ayahnya berada di tengah-tengah pesta saat itu. Sang ayah tampak terkejut juga karena putranya berpakaian pelayan. Mingyu hanya ingin menangis rasanya meminta keadilan.
...
...
"Jadi dia anakmu?"
"Ah aku juga tidak tahu kalau ia jauh-jauh datang kesini dan membuat keributan."
Mingyu hanya menunduk lemas serasa di sidang. Di depan ia duduk, ada ayahnya dan ayah Wonwoo yang ternyata sudah bersahabat sejak masa kuliah dulu.
Wonwoo yang duduk di sebelah terus menilisik wajah Mingyu seolah masih belum percaya kalau Mingyu telah sampai mencarinya hingga ke Changwon. Mingyu hanya melirik dengan wajah cemberut seolah minta di manja oleh Wonwoo. Mingyu butuh pelukan kasih sayang. Mingyu ingin Wonwoo mengusap punggungnya sambil berkata "tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan."
"Maaf..." ucap Mingyu lirih, sementara yang lainnya hanya tersenyum geli.
"Papa pikir kamu pamit kemana, tidak tahunya pergi kesini juga."
"Papa juga tidak bilang kalau mau ke Changwon. Aku kan tidak perlu menderita seperti ini."
"Kenapa kamu bisa berpakaian begini?" Wonwoo masih penasaran.
"Kamu benar mau tunangan?"
"Tunangan? Siapa yang bilang begitu?!"
"Sepupu kamu itu, singa rambut merah. Karena dia juga aku disuruh jadi pelayan."
Wonwoo langsung ke balkon ruang kerja ayahnya. Dengan matanya yang tajam ia mencari sosok yang telah mengerjai Mingyu dari atas.
"YAK! BAEK JUHO! Aku patahkan tulang hidungmu yang selalu kamu banggakan itu! YAK! Awas kamu!"
Wonwoo langsung keluar dengan tergesa menghampiri Juho yang sedang melarikan diri setelah berteriak dan para tamu undangan hanya tertawa melihatnya.
"Hahahaha! Pestanya semakin meriah ya." Ayah Jeon hanya tertawa melihat sang putri mulai mengamuk.
"Ah.. maafkan atas keributan ini Jeon."
"Tidak apa, dengan begini aku jadi bisa bertemu anakmu dan ternyata mereka juga saling mengenal."
Mingyu hanya memajukan bibirnya masih merasa malu harus bertemu dengan ayahnya Wonwoo dengan keadaan seperti ini.
"Dengar Gyu, paman Jeon ini teman papa. Dan beliau baru diangkat jadi Rektor jadi ini pesta perayaannya bukan pesta pertunangan putrinya."
"Oooh begitu... hehehe..." Mingyu bernafas lega karena Wonwoo masih lajang dan masih ada kesempatan bagi Mingyu untuk terus menjalin hubungan ditambah dengan ayahnya yang kenal baik dengan ayahnya Wonwoo.
"Ya sudah, ini sudah malam. Aku pamit."
"Pamit? Mingyu belum makan malam kan? Kita makan saja dulu, Wonu juga belum makan malam. Sejak pagi ia sibuk mengatur dekorasi bunga, semuanya dia yang desain."
"Wah putrimu hebat."
Ayah Jeon tersenyum puas merasa senang dipuji oleh temannya.
Semuanya keluar dari ruang kerja ayahnya Wonwoo.
"Gyu, ganti bajumu."
"Iya."
...
...
"Ampun ampun ampun Won!"
"Iiiihhhhh!" Wonwoo terus memukul lengan Juho.
"Aku belikan buku ya, novel terbaru oke. 1? Hmm 2? Oke?"
"Yak!"
"3! Bagaimana 3 buku? Oke! Penawaran terakhir. Aku minta maaf, hanya bercanda Won!"
"Jangan minta maaf padaku! Minta maaf pada Mingyu!"
"Oke oke!"
Juho mencoba bernegosiasi demi menyelamatkan batang hidungnya. Ia takut kalau Wonwoo benar-benar mematahkan seperti ucapannya, karena melihat Wonwoo yang mengamuk adalah hal yang mengerikan.
...
...
"Maaf Gyu." Ucap Juho di sela makan malam keluarga. Pesta telah selesai dan tamu undangan sudah pulang.
"Astaga, benar kan? Bunda dari awal sudah curiga kalau ia bukan pegawai catering tapi benar seorang murid."
Mingyu hanya tersenyum malu, tebakan ia benar kalau wanita cantik yang ia temui sebelumnya adalah ibunda dari Wonwoo.
"Maaf ya jadi merepotkan." Ayahnya Mingyu terus meminta maaf.
"Jangan begitu Kim, hehehe..."
"Oppa, aku sudah kirimkan daftar buku yang harus kamu beli untukku."
Juho langsung memeriksa ponselnya. "Astaga!" Mulut Juho terbuka lebar setelah melihat layar ponsel tak ketinggalan matanya yang sipit juga terbuka lebar walau hasilnya masih terlihat kecil. Wonwoo kembali makan dengan tenang sementara Juho terlihat seperti terkena serangan jantung.
"Kenapa?"
"Paman, putrimu memang pintar menguras uang jajanku. Buku yang diminta adalah buku impor dan edisi terbatas."
Mingyu menahan tawanya, Wonwoo membalas dendam kepada saudaranya demi membela dirinya.
"Uangmu kan banyak jadi itu tidak masalah."
"Kalau aku sudah jadi komposer terkenal, bagiku tidak masalah Won. Tapi sayangnya, aku masih amatir."
"Kalau kamu terkenal nanti, aku akan minta lebih dari itu." Ucap Wonwoo tidak mau kalah.
"Sudah sudah sudah..." sang ibunda melerai perdebatan putri dan keponakannya. Tawa Mingyu hampir meledak merasa puas melihat Juho yang balik dikerjai oleh Wonwoo.
...
...
"Jeon, aku pamit. Sekali lagi selamat atas jabatan barunya dan mohon maaf sekali lagi atas perbuatan Mingyu."
"Sudah jangan dibahas lagi, anak muda... biasa..."
Mingyu ikut dengan ayahnya kembali ke hotel dan esoknya sudah harus kembali ke Seoul. Mingyu sempat kecewa dengan pertemuannya hanya beberapa jam saja dengan Wonwoo.
"Sering-seringlah main Kim, pintu rumahku terbuka lebar untukmu."
"Kalau aku boleh main lagi kesini?" Mingyu tersenyum senang dengan matanya melirik nakal pada Wonwoo yang berdiri di depannya dan dirangkul oleh ayahnya.
"Boleh saja, jangankan main. Mau menginap juga boleh." Sang ayah meledek putrinya yang wajahnya langsung bersemu merah.
"Benarkah?"
"Iya, tapi..."
"Tapi apa paman?"
"Kalau kamu sudah sukses seperti ayahmu bisa memimpin perusahaan dan menjadi pria yang bertanggung jawab maka paman akan mengizinkan kamu menginap di rumah ini."
Mingyu hanya terdiam setelah mendengar ucapan dari ayahnya Wonwoo. Apakah ini pertanda baik? Mingyu merasa seperti melihat lampu hijau di depannya. Namun syarat yang diajukan? Apakah Mingyu dapat melewatinya?
Pipi Wonwoo semakin bersemu merah dan sang ayah terlihat sangat menyayangi putrinya. Iya, paman Jeon seolah memberi jalan untuk Mingyu agar terus bisa bersama Wonwoo.
"Kami pamit, taksi sudah lama menunggu." Sang ayah membuyarkan lamunan Mingyu dan Mingyu menunduk hormat saat berpamitan sebelum masuk ke dalam taksi yang akan membawa ia dan ayahnya kembali ke hotel. Mingyu hanya tersenyum dan melambaikan tangan pada Wonwoo.
"Hati-hati di jalan..." kalimat yang Wonwoo ucap sebelum mereka berpisah.
oOo
Musim dingin, penuh kenangan bagi Mingyu dan Wonwoo. Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat.
"Ouch!" Mingyu tersentak kaget karena pipinya disentuh oleh jemari lentik seorang wanita.
"Hihihi... dingin ya..." kepala seorang wanita tersembul keluar dari balik selimut dan ia bergelayut manja memeluk leher Mingyu dimana ia sedang menyender pada sisi tempat tidur.
"Kenapa tanganmu begitu dingin? Apa pemanas ruangan ini rusak? Sepertinya tidak bermasalah."
"Tentu saja dingin karena kamu tidak memberi kehangatan..."
"Mwo?" Mingyu menoleh ke belakang dimana seorang wanita cantik sedang berbaring dan menggeliat manja dibalik selimut tebalnya
"Karena kamu sedari tadi sibuk sendiri, menyebalkan."
"Eih, aku sedang bekerja sayangku. Sebentar lagi ayahku akan pensiun dan aku yang menggantikan posisinya."
"Hmmm? Ayahmu? Ayahku juga bukan? Walau masih calon."
"Dingin..." ucapnya manja.
"Baiklah." Mingyu segera menyingkirkan laptop dan berkas yang sedari tadi ia pegang karena sang wanita merasa cemburu karena Mingyu tidak memerhatikan dirinya.
"Sudah hangat?"
"Hmmm lebih baik. Sayang, bagaimana kalau kita keluar?"
"Mau kemana? Di luar sangat dingin."
"Hongdae? Makan pasta? Menonton pertunjukkan jalanan lalu ke kafe?"
"Kamu masih mengingatnya?"
"Wae? Apa kamu melupakan semua memori tentang kita?"
"Tentu saja tidak, aku menyimpan rapi dalam memori di otak. Demi mendapat restu dari ayahmu, aku rela belajar giat dan menyusul kamu ke Universitas Columbia untuk menjaga kamu agar tidak berpindah hati. Dan pada akhirnya, membuahkan hasil bukan?" Mingyu mengusap jari tangan seorang wanita yang kini tersemat sebuah cincin bermata berlian yang menghiasi jari manis seorang wanita cantik yang tak lain adalah Wonwoo.
Wonwoo sang kakak kelas di saat Mingyu baru menginjakkan kaki di tahun pertama senior high school. Wonwoo yang dulunya menyebalkan di mata seorang Mingyu. Dimana mereka sering bertengkar pada awalnya.
Namun dengan Wonwoo pula, Mingyu mendapatkan cinta pertama dan cinta sejatinya. Walau hubungan keduanya tidak selalu berjalan mulus namun semakin membuat mereka saling memahami satu sama lain. Kini, Mingyu sudah bertunangan dengan wanita pilihannya.
Mingyu menagih janji pada ayahnya Wonwoo untuk diizinkan menginap di rumah orang tua Wonwoo. Mingyu dengan rasa penuh percaya diri bertemu dengan ayahnya Wonwoo dan langsung mengutarakan niatnya melamar sang putri kesayangan yang telah menjadi kekasihnya bertahun-tahun. Ayah Jeon tersenyum bangga dengan Mingyu yang telah menunjukkan dirinya sebagai pria yang bertanggung jawab dan sangat mencintai Wonwoo. Mingyu telah lulus menjadi sarjana di sebuah universitas ternama yang sama dengan Wonwoo menuntut ilmu. Mingyu yang belajar dengan cepat mengambil alih dengan perlahan pekerjaan di perusahaan ayahnya.
"Dingin..." Wonwoo mencari posisi yang sangat nyaman, padahal Mingyu sudah memeluknya sangat erat dan selimut tebal pun sudah membungkus sempurna tubuh Wonwoo.
"Bagaimana tidak dingin? Baju tidur kamu sangat tipis."
"Hehehe..."
"Jadi pergi keluar?"
"Hmm... di sini saja. Di luar dingin..." ucap Wonwoo malas dan membuat Mingyu selalu merasa gemas.
"Oh... ada salju." Mingyu berseru saat melihat turunnya salju dari jendela kamar apartemennya. Saat ini mereka memang sudah tinggal bersama. Mingyu dan Wonwoo sepakat membeli sebuah apartemen dari uang hasil kerja mereka.
Mingyu yang bekerja dengan ayahnya dan Wonwoo yang bekerja di departemen keuangan pemerintahan. Keduanya sudah terbiasa hidup mandiri hingga tidak ingin membebankan orang tuanya lagi.
"Kamu tidak mau melihat salju sayang?"
"Aku sudah nyaman seperti ini..." Wonwoo tidak ingin bergeser sedikit pun dari pelukan tunangannya.
Mingyu hanya tersenyum dan mendaratkan kecupan sayangnya pada kening Wonwoo sang tunangan yang beberapa bulan lagi akan resmi menjadi istrinya.
Wonwoo tak menyangka kalau Mingyu akan menjadi pasangan hidupnya. Awalnya ia sempat ragu di saat Mingyu melakukan pendekatan dengan dirinya. Namun dengan sifat Mingyu yang pemberani, ia menjadi luluh dengan semua perhatian yang Mingyu berikan.
"Mingyu sayang..."
"Hmmm..."
"I hate you..."
"But i love you my Wonwoo..."
"Don't leave me..."
"Never... i promise..."
Wonwoo tersenyum, matanya semakin berat dan ia mempertahankan posisi nyamannya dalam dekapan Mingyu. Mingyu ikut tertidur setelah lelah mengerjakan berbagai tugas. Hari libur kerja mereka habiskan dengan bermalas-malasan.
.
.
.
HAPPY ENDING
Note : karena mereka terlalu manis jadi WAJIB untuk HAPPY ENDING
Annyeong,
Untuk ff ini kemungkinan tidak diperpanjang lagi, karena dari awal memang dibuat OS dan ternyata untuk ke depannya, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan karena kurang paham dengan kids jaman now lebih tepatnya gaya pacaran anak sekolah seperti apa (hehehe...).
Gomawo untuk yang selalu setia menunggu updatean ff ini atau ff yang lain. Mian kalau akhir-akhir ini lama update tidak seperti saat baru mengenal menulis ff (hehehe...).
Masih selalu ditunggu repiunya dari kalian readernim tersayang *kiss kiss
Terima kasih untuk yang selalu meninggalkan jejak, memfavorit dan memfollow ff ini. Kalian adalah penyemangat ^^.
Special thank's untuk review sebelumnya :
wortelnyasebong / Mockaa1617 / LittleOoh / rizka0419 / elfviliebe / SweetLate / KimHaelin29 / Cha KristaFer / seventeenyep / diwuls / jeononu / XiayuweLiu / Ocha-kacha
31 Desember 2017
Happy New Year 2018
