DIRTY LITTLE SECRET

CALAMITY

OFFICIAL CAST:

-PARK CHANYEOL

-BYUN BAEKHYUN

MAIN CAST:

-MEMBER OF TVXQ

-MEMBER OF SUPER JUNIOR

-MEMBER OF EXO

GENRE: ROMANCE, CONFORT, HURT, FAMILY

Holla! Annyeonghaseyooo..!

Mari kita mulai chapter baru ini. Maaf udah buat para readers menunggu lama karena semua perjuangan baru beres kemarin ini dan baru bisa mulai buat nulis lagi hehe...

I do not want to hear that you love me, but want you to feel it without me having to say. –Anonymous—

_J_

"Tunggulah sebentar noona aku baru saja keluar dari pesawat, sebentar lagi sampai di pelataran bandara..."

"Iya aku tahu, ku tutup ya? aku sudah hampir sampai." Seorang pria yang baru saja menutup sambungannya dengan seseorang itu kembali melangkahkan kakinya keluar dari bandara International Seoul. Ia melihat arloji A. Lange&Söhne-nya yang belum ia sesuaikan dengan waktu Korea. Perjalanan dari New York hingga sampai Seoul selama 17 jam membuatnya kehilangan banyak tenaga.

"Noona!" Mungkin teriakannya terlalu keras hingga beberapa orang yang menunggu di pintu kedatangan dan yang baru saja keluar menoleh padanya. Sooyoung beralih dari fokusnya membenarkan rengkuhannya pada seorang bocah berumur 3 tahun –Park Jisung—

Tidak dengan berlali seperti yang ada di film tapi Chanyeol menghampiri dan memeluk noonanya yang dibalas dengan pelukan hangat.

"Selamat datang kembali bocah besar." Sooyoung tersenyum setelah mengatakan julukkan yabg di buatnya untuk Chanyeol.

"Yah aku senang bisa pulang." Chanyeol mengalihkan pandangannya pada balita imut yang ada dalam gendongnan Sooyoung.

"Annyeong Jisung-ah, kau ingat aku?" Jisung yang ditanya tersenyum dengan gigi-giginya yang hampit tumbuh sepenuhnya.

"KYAAHH" Jisung menyapanya dengan bahasanya dengan antusias itu tandanya ia masih di ingat.

Dalam sekejap Jisung sudah berpindah tangan. Dan Chanyeol menggendong bocah itu seakan mengendong anaknya sendiri. Fikiran Sooyoung melayang membayangkan bahwa jika adiknya ini menjadi seorang ayah.

Tanpa sadar Sooyoung mendesah, Chanyeol adalah salah satu orang yang akan mengelak saat ditanyai soal "PERNIKAHAN". Ia akan berkata. "Aku masih belum terlalu mapan untuk masuk ke fase itu dalam hidupku." Oh ayolah siapa yang akan bilang bahwa seorang yang punya Consultant Financial Corporat seorang yang belum mapan, entah di mana ia menaruh otaknya sampai sebodoh itu –pikir Sooyoung—. Dan hal itu sering membuatnya jengkel dan ingin melempar Chanyeol ke luar angkasa jika tidak mengingat Chanyeol adalah adiknya.

"...Noona." Sooyoung kembali ke dunia saat Chanyeol memanggilnya.

"Wae?"

"Bisakah kita pulang?"

"Oh baiklah." Sooyoung mengambil alih Jisung dari Chanyeol yang menatapnya bingung. Dan melemparkan kunci mobilnya pada Chanyeol.

"Come on sister, i just flew for seventeen hours and you ask me to drive?"

"Oh brother. Don't you remember i have a baby who was asleeping here?" kata Sooyoug. "And don't forget if i know you won't to be exposed to get jetlag even if you flew over the 24th hours."

Akhirnya Chanyeol pasrah ia menaiki Camry hitam milik Sooyoung dan mulai mengendarainya

Sampai di rumah Sooyoung mendahuluinnya masuk ke dalam rumah. Sementara Chanyeol masih bertahan di dalam mobil. Ia memikirkan apa yang akan di katakan atau di lakukan ayahnya saat melihat

Chanyeol tahu keputusannya tetap tinggal di Amerika selama hampir delapan tahun membuat kedua orangtuannya marah. Pasalnya hanya ia yang akan meneruskan karir ayahnya sebagai pengacara, tapi alangkah egoisnya ia hanya karena insiden tujuh tahun yang lalu ia memutuskan untuk tidak memberi tahu atau bahkan menghubungi siapapun yang ada di Seoul hingga setahun yang lalu ia berani menghubungi keluargannya dengan menghubungi Sooyoung untuk pertama kali.

Seperti dugaannya Sooyoung marah besar karenanya.

"KAU TAHU KAU ADALAH DONGSAENG YANG PALING TIDAK TAHU DIRI DI DUNIA PARK CHANYEOL." Amuk Sooyoung saat itu manekankan setiap kata yang ia lontarkan di sebrang sana. "Kau tahu bagaimana khawatirnya eomma saat kau mengirim pesan terakhir kali, tujuh tahun lalu itu?"

"Mianhe Noona." Cicit Chanyeol.

"Apakah hanya itu yang bisa kau katakan? Kau bahkan tidak tahu kan jika aku saat ini sudah menikah dan punya seorang anak?"

"Maafkan aku noona. Aku benar-benar minta maaf?" Karena hanya itu yang ada di otaknya dan yang mampu ia katakan.

"Ah sudahlah, yang penting kau sudah mau menghubungiku setelah sekian lama." Sooyoung akhirnya menyerah akan kekesalannya.

"Kapan rencananya kau akan pulang?"

"aku masih belum tahu noona."

Sooyoung siap mengeluarkan amukannyau untuk yang ke dua kalinya saat.

"Tapi aku berjanji akan pulang dalam waktu dekat." Chanyeol memberi tahunya sebelum Sooyoung menembaknya lagi.

"Ya sudah, berikan alamat apartemenmu saja. Dua minggu lagi aku akan menemani suamiku –Siwon— untuk urusan bisnis di Manhattan dan aku mau melihat seberapa menyedihkannya adikku yang satu ini." Sooyong mendahuluinnya sebelum bertanya.

"Baiklah aku akan kirimkan alamatnya." Setelah menutup sambungannya Chanyeol mengirimkan alamat itu pada Sooyoung.

Dan keluarga kecil itu benar-benar datang dua minggu kemudian. Dengan menggendong Jisung yang masih berumur satu tahun yang langsung lengket pada Chanyeol di pertemuan pertama mereka.

"Jadi...kapan rencanyannya kau akan menyusul kami Chanyeol-ah?"

Setelah bertemu kangen yang lebih tepatnya pengeksekusian(?) yang dilakukan Sooyoung pada Chanyeol, dan perkenalan Chanyeol dengan Siwon yang tanpa di sangka perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan peroperti milik Siwon. Dan pernah beberapa kali bertemu.

Chanyeol terdiam.

"Kau belum menjawab pertanyaanku."

"Pertanyaan yang mana?" Siwon mengangkat sebelah alisnya karena ia tahu Chanyeol mengerti apa yang ia bicarakan.

"Oh, soal itu... sampai saat ini aku masih belum menemukannya."

"Menemukan seseorang untuk menjadi istrimu?"

"Bukan... Menemukan keberanian untuk itu."

"Apa yang kau takutkan?"

"Aku sendiri tidak tahu Hyung." Itu kalimat terakhir yang bisa ia katakan sebelum terdiam sangat lama.

Setelah itu Siwon tidak bertanya apapun lagi. Biarlah hanya Chanyeol yang tahu rahasia itu, fikirnya.

_J_

Ke esokan harinya Sooyoung, Siwon, dan Jisung berpamian pulang.

"Kau harus pulang secepat mungkin ParkPabo." Chanyeol hanya tersenyum menanggapinya.

"Tenang saja aku akan pulang dalam beberapa bulan."

"Akan ku pastikan beberapa bulan itu tidak akan lama!"

"Ya ya baklah sampai jumpa. Hati-hati dalam perjalanan kalian." Chanyeol melambaikan tangannya saat keluarga kecil itu masuk lebih dalam dan menghilang di balik pintu.

_J_

Chanyeol berdiri diam. Tubunya kaku seketika melihat eommanya, Chanyeol benar-benar tak sanggup bertatapan dengan Eommanya. Ia malu karena yang selalu ada di otaknya adalah tatapan marah dan kecewa dari orang tuannya yang akan ia terima saat sampai di rumah, tapi apa yang ia dapat kali ini. Bukan tatapan kebencian seperti yang ia bayangkan, tapi tatapan kerinduan yang ibunya pancarkan.

"Chanyeol..."

"Eomma..." Chanyeol merasa seperti kembali ke masa kecilnya saat diamana ia hanya akan menangis di hadapan ibunnya tidak di depan orang lain. Ia yang hanya akan menangis dengan sangat kencang seakan memuntahkan semua bebannya, semua kekhawatirannya.

"Uljima.." Nyonya Park memeluk dan mengusap punggung lebar putra bungsunya dengan sayang.

"Jeongsohamnida eomma..."

"Dwesseo. Eomma sudah memaafkanmu sebelum kau memintannya."

_J_

Setelah kejadian melodramatik itu, yang benar-benar tidak di sangkannya. Dan lagi Appanya juga melakukan hal yang sama walaupun Chanyeol juga mendapatkan dua pukulan main-main di kepalannya, hadiah dari sang ayah.

Appanya meminta untuk datang ke ruang kerjannya setelah makan malam dan Chanyeol tercengang melihat banyak sekali majalah yang dimuat bersikan dirinya dan perusahaannya. Di dalam ruangan itu.

"Kenapa? Kau pikir kami akan menendangmu setelah melihat batang hidungmu muncul di depan pintu?"

"..."

"Oh ayolah nak, kami tidak sekejam itu."

"Tapi aku tahu seharusnya aku di hukum."

"Seharusnya. Tapi kami tidak melakukannya. Dan kau tahu, sebenarnya Appa kecewa padamu..." Chanyeol menatap Appanya ia sudah siap apapun yang akan dikatakan ayahnya.

"Tapi aku tidak akan melakukan apapun padamu, karena ini semua sudah menjadi kemauanmu dan Appa tidak bisa mengubah apapun jika sudah sebesar itu." Tuan Park menunjuk kumpulan majalah itu dengan dagunya.

Mungkin untuk ke sekian kalinya ia akan berterima kasih kepada tuhan karena telah memberika keluarga yang luar biasa padanya.

_J_

"Kita mau kemana Noona?" Chanyeol merengek pada Noonanya. Entah dia akan bibawa kemana oleh Noonanya ini. Pasalnya ia baru saja ingin tidur karena tak tahu lagi apa yang akan di lakukannya saat Noonanya tiba-tiba saja menyeretna saat baru bangkit dari sofa ruang keluarga.

"Kau harus membantuku."

"Iya, tapi kau harus memberi tahuku dulu akan pergi kemana kita sekarang?" Bahkan Chanyeol masih bertanya-tanya sejak kapan ia sudah masuk ke mobil Noonanya.

"Pesta amal." Chanyeol hanya membulatka kedua bibirnya membentuk huruf O.

"Seharusnya kau tidak perlu menyeretku untuk hal satu ini."

"Kenapa? Memangnya jika aku meminta dengan baik-baik kau mau ikut dengan suka rela?"

"Tidak." Chanyeol langsung nyengir setelah mengatakannya. Dan di hadiahi jitakan di kepalannya.

_J_

"Aku bosan Noona." Chanyeol berbisik pada Sooyoung yang sedang mengobrol dengan salah satu istri kolega Siwon.

"Kau baru saja limabelas menit di sini." Sooyoung melotot pada Chanyeol dan hampir saja menjitak pria itu untuk kedua kalinnya.

"Tapi aku bosan noona." Chanyeol terus merengek seperti anak kecil minta pulang.

"Pergi sana cari apapun yang bisa menarik perhatianmu dan jangan mengganguku sampai dua jam kedepan." Begitu pula Sooyoung yang menanggapinya sakan ia ibunya.

Chanyeol cemberut dan akhirnya pergi menjauh dari Sooyoung dan teman-temannya.

Bukan hanya karena ia merasa bosan tapi, sekalipun ia sering datang ke tempat seperti ini tetap saja ia merasa sangat bosan. Alasannya. Tidak ada satupun dari orang-orang ini yang ia kenal. Padahal banyak sekali koleganya yang bersal dari perusahaan Korea tapi tak satupun ia temukan di sini.

Chanyeol menyesap minumannya yang tinggal setengah dan dia sudah ke kamar mandi dua kali karena sudah menghabiskan enam gelas jus dalam kurun waku limabelas menit terakhir ini.

Chanyeol melangkahkan kaki panjangnya mengitari ballroom yang besar sekeliling. Tidak ada yang menarik sebenarnya hanya seperti kebanyakan orang yang ia tahu saat datang ke acara seperti ini. Para pria mengenakan jas semi formal, kemeja, dan sweter. Sedangkan para wanita mengenakan dress.

Edaran pandangannya terhenti saat ia melihat seseorang yang tampaknya familiar namun ia masih belum bisa memastikannya. Tapi, semakin ia memperhatikannya Chanyeol semakin yakin bahwa ia tidak sedang berhalusinasi atau sedang mengigau saat ini.

Chanyeol terus saja memperhatikan setiap pergerakan yang dilakukan wanita itu. Bagaimana cara wanita itu memandang sekeliling seakan ia berada di pelanet lain, bibir tipisnya yang tersenyum manis, jari-jari lentiknya, kulit putihnya. Dan jangan lupakan bentuk tubuh gadis itu yang tak pernah sekalipun ia lupakan dalam ingatannya.

BYUN BAEHKHYUN.

Entah ini memang anugrah tuhan yang mungkin sedang baik padanya atau takdir. Chanyeol tidak tahu dan tidak mau tahu.

Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang memang berdiri berdampingan dengan Luhan yang sepertinya menyadari keberadaan Chanyeol.

Chanyeol melihat gadis di samping Baekhyun membisikkan sesuatu hingga Baekhyun menatapnya.

Dalam sekejap bayangan indah yang Chanyeol fikirkan dalam otaknya runtuh. Saat melihat tatapan terkejut,marah, dan entah apa lagi. Yang jelas Chanyeol merasakan bahwa Baekhyun akan mengangis sebentar lagi.

Tanpa aba-aba kakinya melangkah mendekati kedua gadis itu. Baekhyun menggenggam tangan gadis di sebelahnya dan beranjak pergi menghindari langkah Chanyeol yang semakin mendekat.

Baekhyun dan temannya itu keluar dari ballroom dan Chanyeol harus mencegahnya. Dengan setengah berlari untuk menyusul keduannya. Chanyeol menghadang jalan mereka dengan beridiri tepat dihadapan keduannya.

"Hai..." Oh ayolah Park Chanyeol. Dari semua kata yang ada dalam sistem otakmu kau hanya bisa bilang 'Hai'.

Tapi memang ia tidak tahu apa yang harus ia katakan selain itu.

Karena tubuhnya bahkan sangat ingin memeluk wanita mungil itu namun ia menahan hasratnya dengan seluruh tenagannya melihat kepanikan Baekhyun yang sangat kentara.

"Maaf tuan. Aku tidak punya urusan apapun denganmu jadi permisi dan jangan menghalangi jalanku." Setelah itu Baekhyun melewatinya, menuju lift yang dengan cepat tetutup. Tanpa Chanyeol tahu apa yang harus ia lakukan untuk mencegahnya.

_J_

Setelah sampai di rumah dengan mata sembap dan make up yang sudah tidak beraturan, untunglah Seoeun dan Seojun diambil alih oleh eomma dan Appanya kali ini. Jadi setidaknya ia tidak harus menjawab pertanyaan duo Sherlock Holmes itu karena melihat eommanya pulang dengan penampilan berantakan seperti ini.

Dan bekhyun sedikit merasa bersalah pada Luhan karena ia meninggal kan banyak sekali pertanyaan di wanaja rusa mungil itu. Tapi ia benar-benat tidak dapat menceritakan apapun pada siapapun saat ini. Karena ia butuh sendiri.

Baekhyun mengigit bibirnya hingga hampir mati rasa bahkan ada darah yang keluar dari sana.

Ini yang ia takutkan. Saat dimana Chanyeol kambali di pertemukan dengannya, entah dengan cara apa dan itu sudah terjadi saat ini.

Dinding yang ia bangun dan dan pertahanana yang ia tumbuhkan dalam dirinya selama bertahun-tahun hancur porak-poranda hanya dalam satu malam. Baekhyun menjambak rambutnya ketika tiba-tiba saja fikirannya melayang pada awal bencana ini bermula.

_J_

"Tidak appa, aku tidak mau." Baekhyun bersikeras mengubah keputusan appanya yang menginginkannya kuliah di Amerika

Appanya tidak berkata apapun yang artinya ia tidak akan mengubah keputusannya. Baekhyun keluar dari ruangan Appanya.

"Baekhyunie." Langkahnya terhenti, ia berbalik dan mendapati eommanya yan sepertinya mendengar semuannya.

"Eomma minta, kau ikuti saja apapun yang di inginkan Appamu."

"Tapi Eomma, kenapa harus Amerika, aku sudah terdaftar di salah satu Universitas di Seoul. Kenapa aku harus di sana, aku bahkan tidak mengenal siapapun di sana."

"Kau bisa cari teman baru. Lagipula banyak saudara kita yang tinggal di Amerika bukan?"

"Tapi kebanyakan dari mereka tinggal di DC atau New York, tidak ada yang pernah tinggal di Lowa."

"Tapi Appamu ingin kau di sana karena anak kedua keluarga Kim kuliah di sana."

'Cih'. Baekhyun mendengus tidak percaya, ia tahu ini alasannya. tidak mungkin jika bukan persaingan ego ayahnya dan kolegannya yang sama liciknya, Baekhyun terlempar pada perang ini.

Lihat saja bagaiman Appa dan para kolega sialannya itu saling melemparkan anaknya seakan mereka ini kartu As yang akan memenangkan mereka dalam sebuah kompetisi.

"Kapan aku dapat menentukan keinginanku sendiri eomma?" Baekhyun sudah tus sangat putus asa.

"Bukankah eomma dan appa sudah membebaskanmu dalam segala hal?"

"Segala hal?"

Eomma terdiam untuk sesaat. Ia di besarkan alam keluarga yang mengajarkan untuk selalu menghormati keputusan setiap kepala keluarga.

"ini adalah hal yang akan kau syukuri suatu hari nanti Baekhyunie. Appamu tidak akan mentukan keputusan tanpa berfikir hal yang akan teradi." Baekhyun tak berkata apapun lagi. ia berbalik menuju kamarnya dan menangis sepuasnya. Karena tidak ada yang bisa mengubahnya, karena keputusan appanya adalah hal mutlak yang tidak dapat di ganggu-gugat.

Setelah hampir lima hari Baekhyun tak menampakkan wujudnya di adapan orangtuannya, akhirnya ia menyerah, kini yang ia fikirkan adalah. Apapun yang akan terjadi padanya nanti appanyalah yang harus bertnggung jawab atas semuannya.

Dan mungkin appa tidak berfikir akan terjadi hal seperti ini pikirnya.

_J_

"Are you lost? Can i help you" Baekhyun berbalik dan mendapati seorang manis ber dimple dengan kacamat ber frame ungu menatapnya.

"Ah yeah, i'm a bit confused."

"Are you chinese people like me?" Gadis itu menatpnya lekat seakan meneliti wajahnya.

"No." Oh ayolah, ia baru beberapa hari sampai di sini dan ia bahkan berkali-kali harus mengoreksi tentang rasnya.

"I'm Yixing by the way. But you can call me Lay." Lay mengulirkan tangannya dan di balas oleh Baekhyun.

"I'm Baekhyun, and actualy i'm a Korean."

"Oh sorry, because almost Asian people here are Chinese. So, i think you to."

"Yeah never mind."

"oh ya, if you are a Korean, berarti kau harus mengenal seseorang." Baekhyun mengengkat sebelah alisnya mendengar Lay menggunakan bahasa Korea dengan aksen Cinanya yang mencolok.

"Kau bisa...?"

"Ya, aku tinggal beberapa bulan di sana sebelum ke sini."

"Come."

Baekhyun mengikuti Lay dari belakang. Ia tak mendengarkan satupun kalimat yang di ucapkan Lay karena ia sibuk dengan pikirannya hingga.

BRUK!

Baekhyun mengerutkan dahinya. Sepertinya ia menabrak seseorang.

"Sor..." Kalimatya tergantung saat mendongak.

"Hai." Baekhyun mundur beberapa langkah agar bisa melihat dengan jelas siapa lawan bicarannya.

"Oh Hai."

"Namaku Chanyeol. Park Chanyeol." Pria itu mengulurkan tangannya dan ohh holy mother of God. Baekhyun tak pernah melihat senyuman semenawan itu sebelumnya.

"Ekhem." Baekhyun tersaar saat Lay berdeham(?).

"Oh Sorry. Aku Baekhyun. Byun Baekhyun." Baekhyun uluran tangan Chanyeol yang ukurannya dua kali lebih besar dari tangannya sendiri.

"Kau orang Korea?"

"Ya."

"Di mana tepatanya kau tinggal?"

"Seoul."

Dan begitulah, setelah hari itu tidak ada yang namanya 'Date' dalam hubungan mereka hanya. Kesokan harinya Chanyeol mengajaknya makan siang dan menemani Baekhyun kemana-mana di hari selanjutnya hingga seterusnya.

Sampai dimana...

"Park Chanyeol! Park Chanyeol! Open the door." Baekhyun bisa melihat pria itu baru saja bangun dari mimpi panjangnya di hari sabtu ini.

"What?"

Baekhyun menerobos masuk ke aparteman Chanyeol dengan tampak sangat murka dan frustasi.

"I'm PREGNANT." Chanyeol membulatkan mata besarnya.

"NO it can be."

"Of course it is." Baekhyun melemparkan testpack dengan dua garis merah yang sangat jelas.

"How long?"

"Five weeks." Chanyeol mengingat apa yang telah terjadi lima minggu lalu.

"You said you were infertile!"

"And I was obviously wrong."

"You have to abort it."

"Are you crazy?" Baekhyun tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Chanyeol.

"So why you let this Happen?"

"Wait a second...are you blaming this on me." Baekhyun tidak percaya dengan yang baru saja Chanyeol katakan. "You think women can pregnant by themselves?"

"Baek just think about it. Akan terjadi sesuatu yang buruk jika kau mempertahankannya. Apa yang akan di katakan teman-teman? Apa yang akan di katakan orang-orang jika kau mempunyai bayi di umurmu sekarang? Dan yang terpenting apa yang akan dikatakan orangtuamu? Kita masih terlalu muda untuk hal ini"

Baekhyun menatap Chanyeol dengan kemarahan yang siap meledak. Baekhyun tahu Semua yang chanyeol katakan untuk dirinya sendiri bukan untuknya. Tapi Chanyeol memang sudah sangat frustasi karena ia memikirkan mimpinya. Semua impiannya yang akan hangus jika ia mempertahankan bayi itu dan ayahnya pasti akan marah besar karena bukan ijazah terbaik yang ia bawa pulang melainkan seorang bayi.

"But i love with this baby."

"But this is just an accident. Our fuck-up which never happens."

"I can't believe you call your baby that."

"But it is a fuck up. You and the baby is fuck up which ruined my life."

Baekhyun diam, begitu juga Chanyeol yang langsung menyadari kesalahannya.

"Baek."

"Don't touch me."

"But Baek."

"I said don't touch me, and never meet me again, because i'm going to raise this fuck up myself." Baekhyun menunjuk Chanyeol tepat di depan wajahnya.

Chanyeol tidak berdaya menatap punggung sempit Baekhyun yang keluar dari apartemennya. Ia tak pernah melihat Baekhyun se marah itu. Karena yang ia tahu selama hampir dua tahun bersama gadis itu ia adalah wanita yang manis dan lembut.

_J_

Dalam keheningan malam Baekhyun kembali menyesali apa yang sudah terjadi padanya. seharusnya ia tidak pernah bertemu dengan Chanyeol, seharusnya ia tidak pernah menjadi kekasih pria itu. Dan seharusnya ia tidak pernah ke Amerika. Karena dari saat itulah semuanya bemula.

Tapi apa gunanya, waktu tidak pernah bisa di ulang. Seoeun dan Seojun bahkan sudah mulai besar. Walau mereka belum tahu siapa dan apa yang terjadi pada ayah mereka.

Arena kelelahan menangis Baekhyun tertidur di sofa dengan make up yang sdah sangat berantakan hingga pagi.

_J_

Chanyeol masuk ke kamarnya setelah sampai di rumah tanpa berkata apapun pada Sooyoung yang terus saja menerornya dengan pertanyaan.

Ia benar-benar tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan Baekhyun se cepat ini. Bukan cepat sebenarnya, karena sejak hari itu baekhyun menghilang entah kemana seperti di telan selama delapan tahun ia terus mencari di mana gadis itu berada dan here it is. Ia menemukannya malam ini dalam kesempatan yang tak ia duga. Terakhir kali ia tahu Baekhyun pulang ke Korea karena hal itu dan tak dan Chanyeol tidak tahu apa yang terjadi.

Dan pertanyaan yang selalu di benaknya adalah. Apa baekhyun mengugurkan bayi itu? Atau ia membesarkannya? Jika iya bagaimanakah bayi itu sekarng apa mirip dengannya atau mirip dengan Baekhyun.

Hanya dengan memikirkannya Chanyeol merasa sangat frustasi. Inilah salah satu yang ia takutkan untuk menikah. Ia tak pernah bisa lupa sedetik pun dan seincipun hal tentang Baekhyun. Apapun yang pernah mereka lakukan dan apapun yang ada dalam gadis itu seakan tak pernah hilang sekalipun ia selalu berusaha menggantikannya dengan wanita lain.

Pesona Baekhyun tak berkurang sedikitpun walau sudah delapan tahun berlalu. Dan itu mebuatnya semakin tidak tenang apakah Baekhyun sudah menikah. Apa Suaminya tahu masa lalu gadis itu. Atau jika belum kenapa Baekhyun tidak menikah? Apa Baekhyun merasakan ketakutan yang sama sepertinya?

"AARGHH" Chanyeol menjambak rambutnya frustasi.

_J_

FIUHHH...!

Aku tahu kalau sekarang bukan bulan Mei lagi. tapi maukah kalian memaafkanku atas keterlambatan ini. Aku bener bener depresi nungguin hasil UM-PTKIN dan PBSB jadi belum bisa update. An baru sekarang bisa...

Mianhe...jongmal Mianhe...

Oh ya aku udah bikin flashback dikit dan kurang jebo juga sih menurutku tapi. Kalo kalian bisa memahami sendiri aku berterima kasih...

Makasih buat yang udah baca ff sangadh gak jelas ini dan aku lebih berterima kasih lagi buat yang uda mau review...makasih loh...ini udah di lanjut kok

Oh ya klo kalian nemu typo ato ada kataa yang hilang bis langsungb ilang kok. Karena koreksian kalian bisa jadi pelajaran berharga buat saya penulis AMATIR.

Thanks a lot

REVIEW, FAVORIT, AND FOLLOW

ADIOUS...