DIRTY LITTLE SECRET
OFFICIAL CAST:
-PARK CHANYEOL
-BYUN BAEKHYUN
MAIN CAST:
-MEMBER OF TVXQ
-MEMBER OF SUPER JUNIOR
-MEMBER OF EXO
GENRE: ROMANCE, CONFORT, HURT, FAMILY
….
Selamat datang di chapter baru. Aku gak tahu sih kalian bakal suka apa eggak. Jadi silahkan berikan tanggapan kalian di kolom Review yah...
….
...
...
"Eomma." Seoeun memanggilnya. Saat mereka baru saja pulang setelah Baekhyun menjemput mereka dari rumah orangtuannya.
"Apa sayang?"
"Apa eomma habis menangis? Mata eomma bengkak." Baekhyun menyentuh bagian bawah matanya. Baekhyun merutuki kebodohannya, padahal ia sudah mengompres matanya sejak pagi dan ia sudah mengoleskan Concealer yang sangat banyak.
Tapi Seoeun seperti tahu, karena anak itu kini menyipitkan matanya menuntut penjelasan.
"Ah, eomma hanya kurang tidur saja Seoeun-ah tidak apa-apa."
"Tapi wajah eomma pucat, dan mata eomma merah."
Mati kau Baekhyun...
Kali ini Seojun yang sejak tadi sibuk dengan miniatur Ratchet-nya – entah kenapa appanya senang sekali memberikan berbagi seri miniatur Tranformers itu—.
Ia lupa. Kedua ankanya itu gabungan dari Dokter Schweitzer dan Sherlock Holmes jika sudah sangat penasaran akan sesuatu.
"Apa eomma sakit?"
"Ya, apa eomma sakit?" entah kenapa mereka mudah sekali memuat Baekhyun terharu dalam hal apapun.
"Tidak eomma tidak sakit. Jadi jangan di pikirkan ya?" Baekhyun berjongkok menyamakan tinggi mereka. Ia mengelus sayang puncak kepala Seoeun dan Seojun.
Keduanya tersenyum tak ayal membuat Baekhyun juga ikut tersenyum. Lalu mereka mengecup pipi Baekhyun secara bersamaan. Lalu masuk tanpa berkata apapun.
Baekhyun menghela nafas. Untunglah ia punya mereka di saat-saat seperti ini. Jadi, ia mungkin dapat melupakan apa yang terjadi semalam dengan cepat.
"Kalian mau dibuatkan cemilan apa hari ini?"
"Pudding."
"Brownies."
Mereka berdua bersitatap dengan sengit seakan mata itu dapat mengeluarkan aliran kilat. Sebelum mereka memulai peperangan Baekhyun dengan segera melerai.
"Oke Oke. Junie ingin Pudding dan Eunie ingin Brownies. Bagaimana jika eomma buat mereka jadi satu? Apa kalian setuju?" Keduanya mengengguka antusias. "Dan selama eomma memasak kalian tidak oleh bertengkar, mengerti!"
"Aye Aye Kapten." Keduannya kompak menjawab lau pergi ke ruang Tv.
...
...
"Camilannya sudah siap!" Baekhyun meletakkan Pudding+browniesnya diatas meja ruang Tv yang ada di hadapan si kembar. Saking asyiknya keduannya bahkan tak menyadari Baekhyun ada di sana.
"Oh baiklah, jika kalian tidak mau eomma akan menyingkirkannya."
"ANDWE EOMMA." Seoeun dan Seojun melempar semua miniatur Transformer mereka mendengar ancama Baekhyun.
"Ini punyaku."
"Tidak ini punyaku. Kau yang kuning saja."
"Tapi aku suka yang merah." Baekhyun mengusap wajahnya frustasi. Seharusnya memang ia tak harus membuatnya berbeda warna.
Baekhyun selalu berharap agar kedua anaknya tidak menyukai wanita yang sama, suatu saat nanti. Karena, lihatlah bahkan hanya karena warna pudding+brownies mereka bertengkar. {Yang berwarna puddingnya yah bukan Browniesnya.}
"Oke oke stop!" Baekhyun kembali melerai keduanya sebelum ada salah satu yang terluka. Baekhyun kembali ke dapur dan mengeluarkan pudding+brownies berwarna merah dari lemari pendingin dan menukarnya.
Dan voila, keduannya duduk berampingan dan pertengkaran tadi seakan tak pernah terjadi.
Baekhyun duduk berselonjor di atas sofa. Sedangkan si kembar Seoeun dan Seojun duduk di bawah beralaskan karpet beludru biru laut sambil menghabiskan Pudding+Brownies mereka dengan tenang.
Tiba-tiba saja, semua hal berkelebat dalam kepalannya.
"Eomma, apakah Appa orang jahat?"
"Ah, itu..."
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"... itu karena tadi saat di sekolah Songsangnim bertanya apa yang akan kami berikan pada Appa kami masing-masing karena minggu depan adalah hari ayah."
"Dan Seoeun sedih hingga sekarang. Apalagi saat ia mendengar ucapan eommanya teman-teman yang bilang kalau Appa Seoeun dan Seojun pasti bajingan karena meninggalkan kami dan eomma."
"Apa kata itu benar-benar buruk eomma? Karena setahukubajinganadalah kata yang buruk."
...
"Cobalah untuk membuka dirimu pada seorang pria Baekhyunie, tawaran ini ku berikan bukan hanya untuk kebaikanmu tapi juga untuk kebaikan kedua putramu. Mungkin saat ini kau merasa baik-baik saja jika mereka tidak mengenal ayahnya, tapi... Saat mereka sudah beranjak dewasa nanti, mereka membutuhkan peran seorang ayah yang akan mengingatkan mereka untuk menggapai cita-citanya. Yang akan memberikan nasihat kepemimpinan pada kedua putramu. Yang akan membuat mereka menjadi diri mereka sendiri."
...
...
...
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Waktunya tersisa hanya beberapa hari lagi untuk menentukan keputusannya. Karena Baekhyun yakin jika rencana saat ini gagal maka Appanya mempunyai rencana lain dan Baekhyun yakin. Rencana itu bukanlah hal yang akan mudah di terima olehnya.
Tapi bagaimana carannya mendapatkan seoarang calon suami dalam kurun waktu kurang dari seminggu.
CHANYEOL.
'Tidak'. Baekhyun menggeleng kuat-kuat. Ia tidak akan melakukannya sekalipu Pria itu adalah pilihan terakhirnya.
...
...
...
"Noona." Sooyoung menoleh pada Chanyeol yang berdiri di belakang sofa ruang keluarga yang ia duduki.
"Wae?"
"Kau harus balas budimu." Sooyong mengerutkan keninggnya. 'Balas Budi untuk apa?' ia berfikir sejengak dan akhirnya mengangguk. "Mwo? Apa Maumu?"
"Itu... Carikan aku informasi tentang seseorang."
"Siapa?"
Chanyeol berbisik menucakan orang yang di maksud seakan ada orang lain yang akan mendengarnya. Setelahnya Sooyung menyeringai seakan mengejek adiknya.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin tahu tentang nona Byun ini?" Sooyoung memberti tatapan menyelidik pada adiknya. Sekalipun ia tidak tahu Byun siapa yang sedang mereka bicarakan.
"Hmmm... aku tertarik padanya." Singkat padat dan jelas. Sekalipun Sooyong masih memasang raut curiga tapi ia tidak bertanya lagi setelahnya.
"Iya, aku akan balas budimu itu. Tapi nanti setelah Siwon pulang." Sooyoung bangkit karena Jisung sudah lelap di pangkuannya dan ini saatnya ia untuk tidur juga.
Chanyeol. Pria itu menampilkan senyum bodohnya menatap kepergian kakaknya menaiki tangga, terlalu senang. Akhirnya. Setelah delapan tahun akhirnya menemukan titik terang.
Karena, sejak dulu satu-satunya informasi yang ia dapat dari Baekhyun hanya tentang gadis itu yang tinggal di Seoul. Selebihnya mereka tidak memberi tahu satu-sama lain tentang jati diri asli mereka masing-masing.
Mungkin karena hubungan mereka yang memang terlalu singkat untuk menceritakan semuannya. Dan pria itu bertekad, kali ini ia akan memulainnya dari awal. Ia akan mulai sekali lagi agar Baekhyun kembali mencintainya, mungkin ini terdengar seperti tidak ada wanita lain di muka bumi ini hingga ia rela melakukan semua ini.
Tapi mau bagaimana lagi. memang tidak ada wanita lain di dunia ini yang sanggup memberikan rasa yang sama padanya selain Baekhyun.
Chanyeol sudah bereksperimen lebih dari delapan tahun untuk yang satu ini dan tidak menemukan hasil. Karena setiap hal yang dilakukan seluruh paangannya saat itu hanya membuatnya memikirkan satu orang, bahkan saat bercinta.
...
...
...
"Eomma akan hitung sampai lima. Jika kalian tidak turun juga, eomma akan berankat sendiri dan kalian harus naik bus." Lagi-lagi dan seperti hari biasannya, Baekhyun harus mengancam si kembar untuk ke sekian kalinya.
"Hana."
"Eun-ah, di mana kau taruh dasiku?"
"Mana ku tahu, cepatlah Junie aku tidak mau naik bus." Baekhyun tersenyun geli mendengar suara pertenkaran kedua anaknya di pagi hari yang cerah ini.
"Dul."
"Sebentar eomma aku sedang mencari dasi Seojun. Cepatlah Junie kancingkan bajumu."
"Iya sabar."
"Set."
"Net."
Seoeun turun dengan pakaian yang sudah rapih. Tanpa kekurangan satupun.
"Mana Seojun?"
"Tunggu aku eomaaaa."
Seojun berlari dengan kecepatan tinggi menuruni tangga. Dan tang membuat Baekhyun menggeleng-geleng kepala adalah, tak satupun yang di pakai anaknya ini berada di tempatnya.
Dasi kupu-kupu birunya terpasang menfhadap ke sebelah kiri. Deretan kacing bajunya miring. Kaus kakinya tinggi sebelah dan jangan lupakan rabut hitam pekat Seojun masih berantakan. Dan...
"Di mana topimu?" Seojun menatap kembarannya.
"Ada di tasku." Seoeun menunjukkan tasnya pada Baekhyun.
Baekhyun menghela nafas. Dan mulai merapihkan pakaian Seojun. Setelah selesai, Baekhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen mereka. Lampu ruang tengah, dapur, balkon, kamar mandi sudah mati.
"Lampu kamar kalian sudah mati?"
"Sudah."
"Kalian sudah mentup pintunya?"
"Sudah."
"Cha...ayo kita berangkat."
Sampai di tempat parkir apartemen mereka. Seoeun dan Seojun seakan tak melihat kan-kiri. Karena mungkin saja ada mobil yang akan keluar atau masuk dan menyenggol atau bahkan menyerempet mereka.
Kedua bocah itu berlari menuju mobil Baekhyun. Dan memperebutkan sesuatu yang sudah sangat-sangat biasa.
"Aku duduk di depan." Seoeun.
"Tidak Kali ini, aku yang duduk di depan." Seojun.
"Tapi kemarin kau sudah duduk di depan." Seojun tetep tak mau mengalah sepertinya.
"Itu karena aku baru sembuh." Dan begitu pula dengan Seoeun.
"Jika kalian tidak menyelesaikan ini. Eomma akan pergi sendiri."
Dan akhirnya. Seoeun mengalah dan berjalan manjauh dari pintu depan dan duduk di kursi belakang.
...
...
...
Baekhyun berhasil meyakinkan ayahnya untuk menarik semua perjanjian mereka dengan janji (Baru). Ia akan benar-benar mencari seorang suami ketika proyek apartemen di Daejeon, kota yang menjadi salah satu kota metropolitan di Korea Selatan ini selesai.
...
...
...
"Nona."
"Ada apa Irene?"
"Ada seseorang yang menelfon ketika nona sedang ada di ruang Byun sajangnim."
"Siapa?"
"Saya tidak tahu, tapi ia menanyakan 'apa benar Byun Baekhyun bekerja di sini' dan saat ku jawab iya. Orang itu langsung menutup sambungannya."
"Pria atau wanita."
"Pria nona." Baekhyun mengerutkan keningnya. Seingatnya ia tak pernah berhubungan dengan pria manapun selain orang-orang di kantor.
"Apa ia mengatakan hal lain?"
"Tidak nona, ia hanya menanyakan hal itu lalu menutup teleponnya."
Setelah ngucapkan terima kasih pada Irene dan duduk di kursi ruangannya. Baekhyun merenung.
Mungkinkah...
'tidak, tentu saja tidak mungkin. Karena bisa saja Chanyeol sudah tak mengenalinnya.'
'Tapi saat di pesta itu terlihat sekali jika Chanyeol masih mengenalinnya.'
Well, dengan hanya memikirkan siapa penelpon itu Baekhyun melupakan laporan budget pembangunan yang harus ia selesaikan sore ini.
...
...
...
Sekitar pukul tiga siang ia menelepon supir ayahnya untuk menjemput Seoeun dan Seojun dari sekolah. Karena ia baru ingat menulis laporannya setelah selesai makan siang dan pastinya ia tidak bisa menjemput kedua putrannya. Alhasil ia meminta Myungjung untuk menjemput keduannya.
Dan kali ini ia meminta Myungjung untuk mengantar keduannya kek kantor karena Ibunya sedang tidak ada di rumah.
"Nona." Irene masuk.
"Ada Apa?"
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Nona."
"Siapa?" Lalu Irene bergeser sedikit dan membuka pintu ruangannya lebih lebar.
Entah waktu yang berhenti atau jantungnya yan berhenti. Dan ia yakin kali ini bukanlah halusinasi. Pria itu ada di sana dengan tatapan yang sarat akan makna. Dan Baekhyun bersumpah ia ingin lari kemanapun yang ia bisa saat ini, agar pria di hadapannya tak menemukannya seperti yang sudah-sudah.
Irene yang seakan mengerti keluar dari ruangan itu perlahan bahkan ia menutup pintu sangat pelan agar tak merusak apapun yang sedang terjadi antara keduannya.
"Kenapa kau di sini?"
"..."
"Sudah ku bilang jangan pernah menemuiku lagi kan?"
"Baek aku..."
"Apa lagi yang akan kau lakukan terhadapku PARK CHANYEOL?"
"Dengar Baek, aku datang ke sini untuk minta maaf."
"Seperti aku butuh dengan maafmu."
"Dan aku ingin memulai semuannya dari awal."
"Dengar Chanyeol. Aku tidak membutuhkan maafmu. Dan aku juga tidak ingin memulai apapun yang ingin kau lakukan dari awal. Dan aku ingin KAU KELUAR DARI SINI SEKARANG!" Baekhyun sudah sangat frustasi dan sangat putus asa.
Sebenarnya ada sedikit sisi dalam dirinya yang sangat ingin merengkuh pria ini dan meluapkan tangisnya. Meluapkan bebannya yang tak pernah bisa ia bagi pada siapapun termasuk ibunya karena ia selalu berfikir beban-beban itu hanya Chanyeollah yang dapat menampungnya.
Tapi Baekhyun tidak melakukannya alih-alih ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat menahan hal itu dan mengendalikannya.
Baekhyun melangkah menuju pintu yang berada di belakang Chanyeol scepat mungkin dan sejauh mungkin dari pria itu.
Namun, mungkin ruangannya terlalu kecil hingga Chanyeol dapat meraihnya dan dalam sekejap tubuh ringkih Baekhyun telah berada sempurna dalam dekapan Chanyeol.
"Lepaskan aku!." Tapi mungkin tenagannya memang tak sebesar Chanyeol karena pria itu malah mempererat rengkuhannya seakan tak mengizinkannya kemanapun.
Chanyeol sendiri sudah hampir di ambang batas pengenalian dirinya. Karena, bertemu dengan Baekhyun di saat-saat seperti ini adalah hal yang sangat ia mimpikan dalam delapan tahun terakhir.
Persetan dengan hal apapun yang akan Baekhyun lakukan nanti padannya.
Chanyeol menagkup wajah Baekhyun dan mencium bibir gadis itu dengan paksa karena Baekhyun tetap saja berontak berusaha mendorong tubuhnya menjauh.
'Ini tidak benar' Kaki Bakehyun mulai lemas saat Cahyeol meluat bibirnya lembut, sangat lembut hingga membuatnya tak mampu manpakkan kakinya. Tapi Baekhyun tidak melakukan apapun.
Chanyeol merengkuh pinggangnya dengan tangan kiri dan tangan kanannya masih berada di pipi Baekhyun yang sekarang mengelusnya.
Baekhyun memutup matanya dan membalas lumatan Chanyeol pelan. Pelan namun pasti Kedua tangan Baekhyun naik dan memeluk leher Chanyeol. Dan ciuman mereka bukan lagi lembut.
"mmhhh..." Hilang sudah akal sehat Baekhyun. Kini gadis itu meremas rambut Chanyeol tanpa ampun. Menyalurkan kenikmatan yang tak pernah ia rasakan belakangan ini.
Dan begitu pula sebaliknnya, tangan Chanyeol tidak tinggal diam, kini kedua tangan besarnya turun ke bokong sintal Baekhyun dan meremasnya. Suara yang ditimbulkan keduannya menggema dalam.
"EOMMA!" Baekhyun membuka matanya selebar-lebarnya dan mendorong Chanyeol dengan kekuatan penuh. Mendengar suara teriakan Seoeun dan Seojun.
Keduanya tersengal dan kaget di saat yang sama. Lalu Chanyeol mengalihkan pandangannya pada dua bocah yang sedang menatapnya bingung. Bahkan Myungjung sang masih menenteng tas kedua putranya menatap mereka tanpa berkedip.
,,,,
,,,,
...
Annyeonghaseyoooo...
Aku balik lagi nih. Aku gak tau klo upate kali ini cukup lama tau enggak tapi semoga kalian suka yah, sama ff yang semakin hari semakin gak jelas alurnya apa.
Makasih banget buat yang udah ngereview chapter yang kemaren, aku belum ngasih tahu gimana reaksi kembar pas ketemu Chan tapi aku usahain di chap selanjutnya. Semoga.
Aku gsk tshu kalian dapet feel pas ciumannya apa enggak soalnya aku lagi gabud banget waktu nulisnya.
DI REVIEW YAHHH...(yang panjang hehe)
ADIOUS...
