DIRTY LITTLE SECRET

OFFICIAL CAST:

-PARK CHANYEOL

-BYUN BAEKHYUN

MAIN CAST:

-MEMBER OF TVXQ

-MEMBER OF SUPER JUNIOR

-MEMBER OF EXO

GENRE: ROMANCE, CONFORT, HURT, FAMILY

...

...

...

Cerita ini tercipta dari hasil jerih payah otak recehku. Jika kalian gak suka silahkan OUT.

Jika kalian menemukan kesamaan plot, latar,tema, waktu, tokoh, alur. Itu bukan kesengajaan. Karena cerita ini di adaptasi ya gaes bukan di jiplak.

FF ini di adaptasi dari novelnya ALIAZALEA dengan judul yang sama.

DON'T LIKE DON'T READ.

HAPPY READING...

...

...

...

"Siapa ahjussi itu?"

"Kenapa ahjussi itu ada di ruangan eomma?"

"Kenapa ahjussi itu mencium eomma?"

Chanyeol mengerutkan keningya. Terlebih dengan Baekhyun yang hanya berdiri kikuk sambil mengigit bibirnya. 'siapa dua bocah ini?'. Namun setelah nya ia sadar jika kedua bocah ini memanggil Baekhyun 'Eomma'.

Dan Chanyeol menyadari sesuatu yang membuatnya menatap lekat-lekat kedua bocah laki-laki dihadapannya ini.

Mereka mewariskan hampri semua yang ada pada wajah cantik Baekhyun, kecuali. Mata keduannya yang sangat tak asing bagi Chanyeol dan, Chanyeol hampir menyeringai saat merasakannya, dua anak di hadapannya ini memiliki aura kenakalan yang sangat, sama sepertinya.

Tapi yang membuat rasa bersalahnya kembali memuncak adalah benarkah apa yang ada di otaknya saat ini. Bahwa kedua anak ini adalah...

"Baek..." Chanyeol beralih pada Baekhyun yang masih terlihat gugup.

Dan tanpa memperdulikan apapun Baekhyun menariknya dan mebawannya ke tangga darurat.

"Dengar aku akan—"

"Apakah mereka—?"

"Aku—"

"Apa mereka anakku Baek?"

Baekhyun terkejut dengan apa yang baru saja di lontarkan oleh pria di hadapannya ini. Sebegitu mudahnya Chanyeol untuk mengenali anaknya?

"Baek jawab aku!"

"..." baekhyun bergeming.

"JAWAB AKU BAEK!" Tapi bukan jawaban yang di terima Chanyeol karena Baekhyun hanya terdiam dan mengigit bibir bawahnya.

"I-iya...mereka anakmu." Baekhyun mengatakannya dengan kepala tertunduk, dengan suara yang sangat pelan hingga Chanyeol hampir tidak mendengarnya.

"Dan, jika kau sudah mendapatkan jawabanmu, kuharap kau bisa pergi dari sini."

"..."

"Dan jangan pernah mendekat seincipun pada kedua anakku!"

Setelahnya Baekhyun meninggalkan Chanyeol yang masih shock, karena fakta yang baru saja di dapatinnya.

Ia punya anak. Bukan hanya satu melainkan dua sekaligus dan ia tidak pernah tahu sedikitpun tentang itu hingga saat ini. Tubuh tegap Chanyeol merosot jatuh, Chanyeol bersandar di pintu tangga darurat yang tertutup.

Ia tidak pernah merasa serapuh ini seumur hidupnya. Tidak semenjak Baekhyun meninggalkannya delapan tahun yang lalu tanpa sedikitpun petunjuk.

...

...

...

Dua hari berlalu setelah kejadian Baekhyun meniggalkannya. Chanyeol yang baru sadar jika ia memang melakukan kesalahan yang sangat fatal ia mencoba mencari gadis itu di hampir seluruh tempat yang ia tahu akan di datangi baekhyun.

Dari mulai tempat yang sering mereka kunjungi, taman kampus, hingga mengangu Lay. Sahabat gadis itu.

"She's not here, Chanyeol."

"Please Lay tell me the truth. She's not at home since yesterday."

"So you think she was here?"

"yeah."

"And your answer is no, cause i naver meet her anymore since yesterday to. Now, stop bothering me and get out of my face."

BLAM.

Chanyeol menjambak rambutnya. Kemana gadis itu?

Karena setelah akhirnya berfikir dengan kepala dingi dan tidak menyisakan egonya untuk masuk sedikitpun.

Chanyeol akhirnya menyadari. Jika ia tidak seharusnya hanya menyalahkan Baekhyun dalam hal ini. Karena sebagian besar kesalahan ada padanya.

Dan ia adalah laki-laki yang tidak seharusnya bersikap sangat pengecut dengan memaksa Baekhyun untuk mengugurkan bayinya.

Karena seharunya ia menenangkan Baekhyun dan memberinya dukungan agar bukan hanya gadis itu yang meraskan sakit.

Tapi apa gunannya. Baekhyun sudah pergi dan Chanyeol tidak tahu kemana perginya gadis itu.

Sekalipun masih ada kemungkinan Baekhyun masih di Lowa, tapi usahannya sudah hampir sia-sia.

Pasalnya setelah di bentak habis-hbisan oleh Lay, Chanyeol menemukan jalan buntu yaitu, anggapan bahwa Baekhyun sudah kembali ke Korea, ke tempat yang mungkin, menjadi sandarannya saat ini dan bukan dirinya.

...

...

...

...

Chanyeol pulang dengan air muka yang sulit di jelaskan. Shock, marah, kecewa, dan pastinya rasa bersalah yang masih setia menggerogotinnya.

Shock, sudah pasti. Siapa yang tidak akan shock jika mengetahui ia memiliki anak padahal sejak lama ia mengira bahwa anak itu sudah di gugurkan. Marah, ia sangat marah pada Baekhyun yang tak pernah memberi tahunya sedikitpun tentang hal ini.

Ooh, apa aku lupa Park –bajingan—Chanyeol, Baekhyun sudah pernah memberi tahumu tapi kau menolaknya mentah-mentah dan membuatnya meninggalkanmu selama delapan tahun ini.

Lalu mungkin Chnayeol sudah gila, tapi ia merasakan setitik kebahagiaan dalam dadannya saat melihat kedua anak itu. Lalu Chanyeol berfikir, apa kedua anaknya pernah melakukan kenakalan yang sangat sepertinya dulu? Ah, tapi mungkin saja mereka mewarisi lebih banyak sifat Baekhyun di bandingkan dengannya. Chanyeol bahkan belum tahu nama mereka.

Namun, Persetan dengan nama. Setelah memikirkan semua rasa yang di timbulkan dari egonya kini yang tersisa hanya rasa bersalah. Dan hanya itu satu-satunya yang membuatnya sadar jika...

Kemana saja ia selama ini?

Melihat apa yang sudah ia dapatkan selama delapan tahun terakhir dan bagaimana posisi Baekhyun di hari, bulan, tahun, yang sama di masa lalu.

Baekhyun pasti menghadapi masa-masa yang sangat sulit. Gadis itu pasti mendapat cacian atau bahkan hal yang lebih buruk lagi dari itu.

Bagaimana respon kedua orang tua Baekhyun yang, bukan membawa pulang ijazah sarjananya melainkan janin yang ada di dalam tubuhnya.

Chanyeol tertidur lemas di sofa ruang keluarga rumahnya. Ia tidak merasakan apapun hingga, seseorang menyentuh lengannya.

"Dude what happened?" Itu Sooyoung. Kakaknya itu pasti bingung dengan tampangnnya saat ini.

"Aku...aku punya anak noona."

"What?...But, how?"

Chanyeol duduk memberikan Sooyoung tempat di sampingnya. Chanyeol tidak yakin untuk menceritakan hal ini. Tapi melihat Kakaknya yang tidak sedikitpun memberondongkan pertanyaan selain pertanyaan tadi.

Chanyeol menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat. Pria itu harus yakin jika saat ini adalah waktu yang tepat untuk membagi sebuah rahasia. Dan Chanyeol mulai mengalirkan apa yang terjadi pada kakak semata wayangnya.

"Jadi ini alasan terbesar kenapa kau tidak pulang bahkan tidak memberi kabar sedikitpun?"

Chanyeol mengangguk.

"Dan hal ini berhubungan dengan kaluarga Byun? Apa kau gila! Bagaimana jika hal ini di ketahui media."

"Itu tidak akan terjadi. Buktinya ia berhasil menutupinya selama delapan tahun ini." Walau Chanyeol ragu.

"Oh Really? Mungkin kau terlalu lama tinggal di luar negri hingga tidak mengetahui berita tampat kelahiranmu sendiri. Ada beberapa berita sekitar tujuh atau enam tahun yang lalu menuliskan bahwa. Byun Baekhyun pulang membawa aib dan malu bagi keluargnnya, gadis itu pulang kembali ke Korea bukan dengan membawa prestasi yang gemilang melainkan bayi yang ada di kandungannya. Dan kau tahu? Sekalipun berita itu hanya bertahan selama seminggu di internet dan menyebutkan bahwa mungkin saja berita itu hanya bualan. Tapi aku berfikir bahwa berita itu benar. Karena Siwon pernah melihat Baekhyun beberapa kali membawa dua orang anak laki-laki ke kantor saat ia memenuhi rapat pembangunan kantor cabanya. Dan sekarang semua spekulasiku terjawab bahkan dari sumber yang paling terpercaya. Sang pelaku."

Sooyoung menghujami Chanyeol dengan pukulan yang tidak bisa di bilang pelan.

"Ampun noona ampun."

"Kau harusnya meminta ampun pada gadis itu yang seharusnya membunuhmu."

Bugh! Bugh! Bugh!

Sooyoung tidak berhenti karena ia sangat kesal pada adiknya yang satu ini. Ia tahu jika Chanyeol itu brengsek tapi ia baru tahu jika adiknya tidak bertanggung jawab bahkan idiot.

"Aku memang akan meminta ampun padanya." Seketika Sooyoung menghentikan pukulanya.

"Aku akan meminta ampun padanya noona. Tapi sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana melakukaannya. Ia begitu dingin dan seakan memiliki benteng besar yang sangat tinggi dan kokoh untuk di gapai."

"Hanya segitu kemampuanmu sebagai seorang laki-laki Park Chanyeol?"

"Tidak, tentu tidak. Aku akan berusaha untuk mendaptkannya. Kali ini buan hanya maafnya tapi aku akan mendapatkan seluruh hal yang dia punya. Termasuk hatinyaa."

"Ouhh. Aku tersentuh, tapi jika kau tidak menepati ucapanmu aku sendiri yang akan menembak kepalamu.

...

...

...

"Dan sang katak tertidu karena kekenyangna di bawah pohon yang rindang." Baekhyun menutup buku cerita sambil menatap kedua anaknya yang masih terjaga.

"Ada apa? Apa kalian tidak mengantuk?"

"Eomma... kami mau tanya." Seoeun mengatakannya dengan kepala tertunduk. Baekhyun mengerutkan keningnya.

"..."

"Ahjussi yang tadi siang itu siapa?"

"Dia teman eomma." Bagus Baek, kau mulai berbohong lagi pada anakmu.

"Tapi mengapa ia mencium eomma?" Kali ini Seojun yang sepertinya siap mengintragasinya.

"Itu biasa di lakukan pada seorang teman. Eomma juga biasa mencium Luhan ahjussi—"

"Di pipi." Skak Mat. Wajah Baekhyun berubah pucat.

"Oke, berhenti mengintrogasi eomma, dan sekarang kalian harus tidur."

"Menggasi... apa eomma?" Seojun mengerutkan kening dan Seoeun menelengkan kepalanya. Kedua anaknya itu tampak bingung. Dan entah saat ini Baekhyun harus memarahi mereka atau malah tertawa melihat ekspresi keduannya. Tentu saja kata yang barusan Baekhyun ucapkan cukup sulit untuk bocah berumur tujuh tahun.

"Tidak bukan apa-apa, sekarang cepat tidur kita akan membahasnya nanti." Sambil menahan tawa Baekhyun membenarkan selimut keduannya, memberikan kecupan selamat malam di ahi mereka, mematikan lampu, lalu menutup pintu dengan perlahan.

Setelah pintu tertutup Baekhyun kembali memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ia merasa sangat bersalah telah berbohong –lagi— pada kedua anaknya.

Sebenarnya ia ingin sangat ingin untuk membeberkan segalannya pada mereka tapi hatinya selalu saja tidak yakin.

Ia sangat tidak yakin karea mungkin saja Seoeun dan Seojun akan membenci ayahnya itu karena telah dengan tega meninggalkan mereka.

Tapi sebenarnya Baekhyun juga takut, bisa saja mereka akan lebih menyayangi ayah mereka dan Baekhyun akan kehilangan.

Baekhyun mungkin egois, ya katakanlah seperti itu, ia tidak ingin jika kasih sayang keduanya terbagi saat mereka tahu siapa ayah mereka nanti. Dan itu pasti akan terjadi. Seperti kata eommanya.

"sekalipun anak laki-laki sangat dekat dan lebih menyayangi ibunya saat mereka masih kecil. Namun mereka akan lebih bergantung pada ayahnya yang akan mengajari mereka bagaimana caranya manjadi pria dewasa saat mereka besar nanti. Begitu juga dengan anak perempuan, mereka akan sangat dekat dengan ayahnya saat mereka menjadi gadis cilik. Tapi tapi semua perempuan akan belajar menjadi dirinya saat mereka berhadapan dengan seorang ibu di masa remaja mereka."

Baekhyun mendengarnya saat ia masih sangat muda sekitar kelas dua Senior High School, ia menganggap apa yang ibunnya bilang mungki bualan karena saat itu saat ia sudah mengnjak masa remaja ia masih saja menempel pada ayahnya.

Namun saat ia sudah perguruan tinggi, ia mengerti sangat-sangat mengerti paa apa yang di bilang ibunya saat itu. Karena setiap kali ia mennemukan kesulitan atau masalah buakan ayahnya yang ada di otaknya melainkan ibu. Dan Baekhyun lebih leluasa bercerita pada eommanya di bandingkan appa yang lebih sering serius menghadapinnya sejak saat itu.

Baekhyun kembali ke kamarnya dan menemukan ponselnya yang tergeletak di atas ranjang menyala dan menampilkan sebuah paggilan masuk dari nomor yang tidak ia ketahui.

Baekhyun pikir itu salah sambung, tapi munkin juga itu telepon penting. Akhirnya Ia mengangkat panggilan itu.

"Yeobose—"

"Baek..." Satu hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah mengumpat.

SHIT!

Dari mana Chanyeol tahu nomor ponselnya? Dan lagi kenapa pria itu menelpon malam-malam begini.

"Ba...Bagimana kau dapat nomor ponselku?"

"Itu hal yang mudah, sayang." Sepertinya Park Chanyeol kita sudah keluar dari zona syoknya karena saat ini ia sedang tersenyum bodoh mendengar tuduhan panik Baekhyun.

"Berhenti mengatakan hal gila." Apa tadi katanya 'sayang' pria park itu sepertinya sudah kehilangan urat malunya.

"Tidah Baek jangan menutup sambungannya." Jari Baekhyun mengambang sesaat sebelum kembali menempelkan ponselnya ke telinga.

"Apa maumu? Sudah ku bilang jangan pernah menghubungiku lagi."

"Aku benar-banar minta maaf Baek, dan aku ingin kita memulai lagi semuannya dan aku akan terima dan membantumu atas semua yang terjadi."

"Cih. Berhenti membual dan mengucapkan omong kosong."

"Dengar Baek, apapun yang ku katakan saat ini bukanlah omong kosong. Dan aku tidak akan menarik kata-kataku sampai kapanpun."

Setelahnya Chanyeol memutuskan sabungan teleponnya secara sepihak.

Baekhyun mendengus sambil menatap ponselnya tidak percaya. Siapa sebenarnya yang marah di sini? Kenapa malah pria itu yang menutupnya duluan dan seakan Baekhyunlah yang saah di sini.

Tapi. Dibandingkan kesal, Baekhyun lebih merasakan takut pad apa yang akan terjadi padannya. Karena ia tahu, seorang park Chanyeol tidak akan bermain-main dengan apa yang ia ucapkan. Dan pria itu pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia mau.

"Aaaarrgghh.." Baekhyun mengcak rambut coklat madu se bahunnya frustasi dan berakhir insomnia hingga jam 3 pagi.

...

...

...

"Eomma"

"Hmmm" Baekhyun yang sedang mengemudi menuju rumah orang tuannya mengantarkan si kembar.

"Apa eomma tidak tidur tepat waktu lagi?" Seoeun yang kali ini kedapatan duduk di sampingnya melamparkan tanya pada baekhyun.

"Iya, mata eomma bengkak lagi." Seojun menyahut dari kursi belakang.

"Tidak, eomma tidur tepat waktu kok."

Seoeun dan Seojun masih memasang wajah penuh tanya, tapi mereka tidak bertanya apapun lagi.

"Dengar, kali..."

"Halmeonnieeeee..." dalam sekejap kedua anaknnya itu keluar dari mobil yang baru saja di tepikan Baekhyun. Dan Baekhyun belum menyelesaikan kaimatnya.

Dan yang lebih membuatnya kesal adalah...

"Hai Baek."

'Kenapa pria sialan itu ada di sini.' Baekhyun mengutuk dalam hati. Dan Chanyeol sepertinya sudah bertemu dengan ibunya.

"Oh. Ajusshi yang kemarin di kantor eomma." Seojun yang di ikuti Seoeun mengalihkan perhatiannya dari Jaejoong.

"Kalian mengenalnya?"

"Iya halmeonie. Ajusshi ini kemarin ada di ruang kerja eomma dan mereka saling men... apa Eun-ah?"

"Mencium."

"Iya itu, mencium satu sama lain."

Jawaban polos kedua anaknnya membuat baekhyun ingin menenggelamkan dirinnya di manapun sekarang juga. Karena sekaran Jaejoong menatapnya dan Chanyeol secara bergantian dengan pandanan menyelidik.

"Begini..."

"Ajusshi, kita belum berkenalan." Penjelasan Chayeol di tukas oleh Seoeun. "Namaku Seoeun. Byun Seoeun." Seoeun yang pertama mendekati Chanyeol dengan tangan terubaekhyun mengerjapkan matanya berkali-kali. Apakah ia salah lihat. Seoeun yang terkean sangat pemalu pada orang asing, memperkenalkan dirinya dengan percaya diri di hadapan Chanyeol. Apakah anak itu sudah mengenali Chanyeo? Tapi Seoeun tudak mungkin se peka itu.

"Namaku Byun Seojun." Setelah nya Seojun yang seperti biasa tersenyum sangat lebar pada siapapun.

"Halo. Nama ajusshi Chanyeol. Park Chanyeol." Chanyeol berjongkok di hadapan kedua bocah itu. Mensejajarkan tingginya yang menjulang di hadapan kedua tubuh mungil itu.

Chanyeol tersenyum sangat lebar. Saat mengetahui kedua nama anaknya. 'jadi nama mereka Seoeun dan Seojun'

Sulit memang membedakan keduannya karena mereka kembar identik yang sangat.

"Kalian Suka transformers juga?"

"Iya." Keduannya mengangguk semangat. "Apa Ajusshi juga suka?"

Chanyeol mengengguk. "Ajusshi punya beberapa di rumah."

"Wah. Apa ajusshi punya yang ini kata harabeoji ini model terbaru." Seojun menunjukkan robot Crosshairsnya pada Chanyeol.

"Kalau tidak salah ajusshi punya."

"Benarkah? Eomma kapan-kapan kita ke rumah Chanyeol Ajusshi ya?" Ujar Seojin berharap. Dan di angguki Seoeun tak kalah semangat.

Baekhyun hanya terseyum lemah sekaligus canggung.

"Sepertinya kita harus masuk ke dalam. Ada yang ingin ku bicarakan dengan kalian berdua." Jaejoong mengatakannya dengan melaangkan tatapan intimidasi pada Baekhyun.

"Tapi aku harus kembali ke kantor sekarang eoma."

"Tidak. Ada yang harus kau jelaskan Byun Baekhyun."

Jaejoong berlalu pergi, meniggalkan Baekhyun di halaman rumahnya yang di penuhi bunga lili.

Chanyeol?

Pria itu sudah di geret masuk ke dalam oleh Seoeun dan Seojun.

...

...

...

Fiuhhh...

akhirnya update, aku gak tahu apa chapterini makin absurd apa gimana.

Makasih buat yang udah review chapter-chapter kemarin.

Oiya. Buat yang kemarin nanya kenapa gak dapet chapter 4. Aku abis ngerombak jadi yang chapter 2 yang isinya pengumuman aku apus.

Makasih sekali lagi buat yang udah mau bas

ADIOUS~~