DIRTY LITTLE SECRET
OFFICIAL CAST:
-PARK CHANYEOL
-BYUN BAEKHYUN
MAIN CAST:
-MEMBER OF TVXQ
-MEMBER OF SUPER JUNIOR
-MEMBER OF EXO
GENRE: ROMANCE, CONFORT, HURT, FAMILY
...
...
...
Cerita ini tercipta dari hasil jerih payah otak recehku. Jika kalian gak suka silahkan OUT.
Jika kalian menemukan kesamaan plot, latar,tema, waktu, tokoh, alur. Itu bukan kesengajaan. Karena cerita ini di adaptasi ya gaes bukan di jiplak.
FF ini di adaptasi dari novelnya ALIAZALEA dengan judul yang sama.
DON'T LIKE DON'T READ.
...
...
...
BaeKhyun mengikuti Jaejoong dari belakang memasuki rumahnya. Sebenarnya ia pernah memikirkan jika suatu saat hal seperti ini akan terjadi tapi, tidak dengan Chanyeol yang juga ada di rumahnya.
"Chanyeol-ssi, bisa kita bicara sebentar?" Chanyeol menatap Bingung Ke arah Jaejoong namun akhirnya ia mengikuti Jaejoong bersama Baekhyun ke, entahlah tempat itu seperi ruang keluarga menurutnya. Ia melirik Baekhyun sesekali seperti meminta penjelasan akan sampai mana mereka akan mengikuti Jaejoong. Hingga wanita paruh baya yang masih sangat terlihat cantik itu berhenti dan duduk di sofa single.
Ia mengikuti Baekhyun dengan duduk tepat di sofa panjang di samping kiri Jaejoong. Mulutnya sudah siap melontarkan pertanyaan namun Jaejoong lebih dulu mengatakannya.
"Langsung saja, aku yakin kalian pasti tahu apa yang akan ku tanyakan bukan?" Kedua alisnya berkerut. Chanyeol tidak mengerti apa yang di bicarakan Jaejoong.
"..."
"..." Keduannya bergeming.
"Baiklah, kalau begitu ku sampaikan saja. Apakah pandanganku salah jika Chanyeol-ssi adalah ayah kandung kedua anakmu Byun Baekhyun?" Keduannya terkejut. Dan seketika tubuh mereka menegang, bahkan Baekhyun sudah pucat mendapat pertanyaan itu.
"Eomma...aku-."
"Jawab dengan jujur dan tegas Byun Baekhyun."
"Iya, eommonim aku adalah ayah dari kedua anak Baekhyun." Chanyeol menjawabnya dengan sangat tegas dan yakin, seakan ia tengah membanggakan kedua anaknya dan lupa bahwa ia pernah tak menginginkan mereka.
"Begitu? Aku ingin tahu bagaiman kalian bisa bertemu dan berakhir seperti...ini?" Jaejoong menatap tajam pada kedua orang yang menatapnya dengan pandangan berbeda. Chanyeol dengan pandangan gugup karena. Yah, karena kau tahu masalahnya dengan Baekhyun tidaklah se-mudah itu. Sedangkan Baekhyun menatap ibunya frustasi dan ingin sangat ingin pergi dari tempat ini sekarang juga.
"Begini...kami bertemu saat masa pengenalan mahasiswa baru saat di Lowa dan—."
"Sudahlah eomma aku ingin pergi ke kantor dan tidak mau melanjutkan pembicaraan ini lagi." Baekhyun beranjak pergi. Ia benar-benar membenci pria itu, yang dengan entengnya membicarakan masa lalu mereka.
"Baek kau kenapa?" Baekhyun mendelik pada Chanyeol dan menatap sinis pria itu yang baru saja mencekal lengannya.
"Aku? Kenapa? Bisakah kau tanya pada dirimu sendiri Tuan Park." Tatapan membunuh tidak lepas dari mata Baekhyun. "Tanyakan pada dirimu yang bisa dengan mudahnya berkata tentang masa lalu, seakan akan kau tidak mengenal kesalahanmu sendiri." Baekhyun mendorong dada Chanyeol dengan telunjuknya.
"Itulah tujuanku datang kesini. Aku ingin menebus masa laluku padamu dan memulainya lagi untuk masa depan kita. Berhentilah bersikap egois Baek"
"Egois? EGOIS katamu?! PIKIRKAN DENGAN OTAKMU YANG JENIUS ITU PARK CHANYEOL. SIAPA YANG SEBENARNYA EGOIS DI SINI DAN SELAMA INI, IDIOT." Jaejoong membulatkan matany terkejut. Umpatan adalah kata yang paling haram di ucapkan oleh Baekhyun sekesal apapun ia.
Sejak tadi memang ia memperhatikan keduanya setelah Chanyeol pergi mengikuti Baekhyun menuju pintu keluar. Untunglah kedua anaknya ada di taman belakang rumah jadi mereka tidak bisa mendengarnya.
Baekhyun berbalik untuk meraih gagang pintu saat Chanyeol masih menggenggam lengannya. Baekhyun berusaha melepaskan tangnnya namu Chanyeol malah menariknya. Ia berbalik.
"Maafkan aku." Pria itu berkata lirih dengan suara seraknya. "Lakukan apapun padaku Baek. Pukul aku. Adili aku, tuntut aku, atau bunuh saja aku jika itu bisa membuatmu memaafkanku." Chanyeol memukul dadanya yang sakit mengingat apapun yang pernah ia lakukan.
"..." Baekhyun tidak menjawab. Ia melepaskan genggaman Chanyeol pada tangannya dan pergi keluar dari rumah orang tuannya. Berlari kecil menuju mobilnya dan pergi dari sana tanpa melihat kebelakang sedikitpun.
Baekhyun tahu hal ini akan terjadi suatu hari nanti. Tapi yang ia tidak tahu adalah. Chanyeol ada di dalam kekacauan ini.
Sesering apapun ia memikirkan kemungkinan terbesar dalam hidupnya setelah Chanyeol mencampakkannya ia selalu bertekad bahwa pria itu tidak akan masuk dan menghancurkan kehidupannya lagi untuk kedua kalinya.
Tapi yah, tekad hanyalah tekad walau realitanya ia tidak bisa membodohi dan menghindari takdir apalagi dengan yang baru saja terjadi.
Si keparat itu bahkan memohon padanya seakan ia lah yang menjadi korban di sini. Baekhyun mendengus. Tidak habis fikir dengan jalan pikiran si keparat itu.
Baekhyun tidak memedulikan apapun, sesampainya di kantor ia singgah di meja kerja Irene.
"Kosongkan jadwalku untuk sisa hari ini."
"Tapi setelah ini nona ada—."
"Tidak ada sanggahan Irene, dan jangan izinkan seorangpun masuk ke ruanganku."
Awalnya Irene ingin menyanggah lagi, karena hari ini bosnya itu ada rapat wajib yang tidak boleh di tinggalkan bagi seluruh karyawan. Tapi, melihat raut kacau Baekhyun ia mengurungkan niat itu.
"Baiklah nona."
Ketika segala hal yang seakan keluar dalam satu waktu di otaknya, satu bayangan muncul. Bayangan yang membuatnya terdiam dan mengabaikan pikiran lain.
Anak-Anaknya.
Ia terlalu bersikap seperti seorang gadis saat berhadapan dengan Chanyeol dan ibunya tadi, hingga melupakan satu hal penting. Bahwa ia adalah seorang ibu.
Seketika tangisnya pecah.
Bahunya bergetar.
Dan yang pasti, air matanya turun deras saat itu.
"Maafkan eomma nak."
Ia memang egois. Baekhyun mengakui hal itu. Tapi ia merasa sangat egois pada kedua anaknya.
Titah ayahnya sudah mutlak, ia harus mendapatkan suami jika tidak ingin anaknya terbengkalai. Ia membenci Chanyeol dengan amat sangat, tapi hatinya tidak bisa di buka oleh orang baru yang berusahan meyakinkannya.
Ia membenci hal ini.
Sangat.
Hingga rasanya ia ingin.
Mati saja.
ARRRGGGGHH...
Nafas Baekhyun berpacu, begiupun denyut nadinya. Dan setelahnya semuanya gelap.
...
...
...
"Eomma...hiks." Baekhyun mengerutkan keningnya mendengar suara-suara tangis yang sangat dia kenal.
Aroma antiseptik menyapa penciumannya, di mana dia?
Bukankah ia masih di kantor?
Tapi kenapa?—
Ia perlahan membuka matanya. Warna putih langit kamar rumah sakit menyapanya. Dan juga—
"Eo...eommaaa." Tubuhnya yang masih lemah di terjang kedua anaknya dengan tangis mereka yang semakin kencang.
"Sudah sayang. Jangan menangis." Baekhyun mengelus kepala kedua putranya. Mereka harus berhenti karena jika tidak maka Baekhyun yang akan menangis setelahnya.
"Eomma tidak apa-apa. Jangan menangis ya." Baekhyun menghapus lelehan air mata yang masih deras di pipi kedua jagoannya.
Baekhyun tersenyum tipis. Inilah alasannya tetap hidup. Merekalah mataharinya, semangat hidupnya. Dan ia tidak akan meninggalkan mereka hanya demi ego percintaannya yang tak berujung.
"Eomma tidak boleh sakit."
"Iya eomma, biar Junie saja yang sakit eomma jangan."
"Sudah, kalian jangan menangis. Eomma tidak sakit parah kok. Nanti setelah eomma keluar dari sini kita jalan-jalan yah." Baekhyun tidak berhenti mengelus kepala keduanya. Ia harus tetap tegar, karena cinta sejatinya seutuhnya ada pada Seoeun dan Seojun dan untuk selamanya ia tidak akan mengkhianati itu.
Saat Baekhyun mencoba untuk duduk, sebuah tangan besar dengan sigap menopang dan membantunya untuk itu.
Baekhyun menoleh ke samping kanan dan mendapati wajah kacau Chanyeol di retinanya.
BRAK!
"Baekhyunie." Itu Jaejoong. Sifat cepat paniknya ternyata masih ada. Eomma cantiknya itu benar-benar terlihat gusar sekarang.
"Tidak apa-apa eomma. Aku hanya kena Hiperventilasi lagi sepertinya." Baekhyun tersenyum menenangkan semua yang ada di sana.
"LAGI?! Sudah berapa lama kau mengalami ini?"
Appanya hanya bisa mengelus pundak istrinya untuk tetap tenang. Karena Jaejoong yang dalam mode panik akan sulit untuk di kontrol dengan kata-kata.
"Sejak...dia datang." Arah sorot matanya pada Chanyeol yang sedang memeluk Seoeun dan Seojun yang tertidur di pangkuannya.
"Tapi mungkin ini yang terakhir." Baekhyun tersenyum lemah pada seluruh orang yang ada di sana. "Oh iya Appa. Aku menolak semua syaratmu, termasuk mencarikanku seorang suami dari kalangan manapun...karena aku sudah tidak bisa dan mungkin tidak akan pernah bisa menerima siapapun lagi."
"Dan mungkin aku akan mengundurkan diri dari perusahaan. Mungkin membuat toko roti setelahnya."
"Ada apa ini sebenarnya. Bukankah kau tidak mau terlihat lemah oleh siapapun bahkan appamu ini." Yunho Syok dengan kata-kata putrinya. Ia hanya pingsan kan bukan terbentur hal-hal aneh kenapa arah bicaranya jadi seperti ini.
"Inilah caraku untuk kuat Appa. Hatiku sudah penuh oleh Seoeun dan Seojun yang tidak mungkin bisa di masuki siapapun lagi dan aku juga tidak akan menyerahkan apapun lagi pada siapapun kecuali mereka. Appa boleh mencabut namaku dari daftar keluarga dan anggap semua yang kau keluarkan selama ini sebagai hutang dan aku akan membayarnya dengan segera."
"JAGA UCAPANMU BYUN BAEKHYUN! JIKA KAU MEMANG TIDAK MAU MENIKAH YA SUDAH. Buang saja kata itu dari hidupmu dan jangan sentuh hal itu sama sekali. Tapi membuang dirimu sendiri dari keluargamu adalah hal yang tidak bisa di terima oleh siapapun."
Jaejoong meracau dengan perasaan panik yang sudah berganti dengan frustasi.
Baekhyun terkejut Jaejoong tidak pernah berteriak padanya seumur hidupnya tapi kali ini sepertinya ia memang sudah kelewatan.
Baekhyun menunduk dan mulai menangis.
"Aku membuang diriku sendiri dari kalian karena aku merasa sangat tidak pantas...a-aku—."
"Sudahlah, yang jelas kau sudah tidak apa-apa. Eomma harus menemani Appamu ke Busan untuk beberapa hari. Dan Chanyeol-ah." Chanyeol mendongak. "Tolong jaga Baekhyun dan cucu-cucuku." Jaejoong tersenyum pada Chanyeol yang mengangguk. Wanita cantik itu menghampiri anaknya dan mengecup puncak kepala anaknya lama, sebelum berlalau menuju arah pintu keluar.
"Kau harus cepat sembuh sayang. Eomma pergi dulu."
BLAM!
Dan setelahnya hanya tersisa Baekhyun dan Chanyeol dengan Seoeun dan Seojun yang tertidur di pangguan 'ayahnya'.
Baekhyun melihat kedua anaknya yang terlihat nyaman di dalam rengkuhan tubuh besar Chanyeol.
"Baekhyun-ah—."
"Sudahlah, aku juga berharap bisa memaafkanmu. Tapi, tidak bisa. Kau sudah menghancurkan segalanya Chanyeol-ah. Tapi... aku juga berterima kasih padamu. Karena... kau sudah memberikanku cinta abadi yang tidak akan pernah jadi kegagalan."
Chanyeol menatap Baekhyun yang memandang jauh entah kemana. Pria itu membaringkan kedua putranya di sofa dengan arah kepala berlawanan dan kaki yang saling beradu.
Lalu menghampiri si pasien dan duduk di tepi ranjangnya.
"Kau tau, seberapa sakitnya hatiku saat kau bilang kami adalah kegagalan dalam hidupmu?" Chanyeol diam. Ia membiarkan Baekhyun menumpahkan segalanya yang seharusnya ia terima sejak dulu.
"Saat itu aku berfikir. Jika sejak awal memamang hubungan kita adalah kegagalan seperti katamu. Karena jika tidak, kau tidak mungkin mengatakan hal sekasar itu padaku." Mata cantiknya sudah mengalirkan sungai menuju pipi. Namun tatapan gadis mungil di hadapannya ini pasih lurus kedepan namun entah menerawang kemana.
"Dan kau berhasil Park Chanyeol. Kau berhasil membuang kegagalanmu dan mendapatkan kesuksesanmu yang sekarang ini."
Baekhyun menoleh. Menatap lelaki yang tidak pernah musnah sedikitpun dari akal dan hatinya setelah sekian lama ia mencoba untuk menghapusnya.
Tangan mungil nan dinginnya terulur menyentuh sudut kasar yang di tumbuhi bulu halus di sana.
"Maafkan aku Baekhyun-ah. Kau tahu, aku bahkan sudah sangat menyesal saat kau baru saja pergi dari apartemenku saat itu. Tapi aku tidak bisa menemukanmu di manapun setelahnya. Hingga saat ini."
Chanyeol menggenggam jemari rapuh yang masih menyentuh pipinya.
"Kau jahat Chanyeol-ah. Kau adalah manusia paling jahat di dunia. Karena hingga mereka lahir sekalipun paras mereka selalu mengingatkanku padamu. Dan semakin keras aku melenyapkannya. Semakin penuh akalku dengan itu."
Baekhyun mengangis semakin keras. Dan Chanyeol memeluknya dengan sangat erat.
"Kau bajingan sialan. Si keparat yang tidak tau diri. Aku menahan malu dan menahan penderitaan yang sangat selama delapan tahun ini."
"Aku tahu." Chanyeol hanya bisa mengelus kepala gadis rapuh yan ada dalam dekapannya ini.
"APA YANG KAU TAHU? Kau membuangku dan bayi kita seakan kami ini sampah yang bisa kau campakkan kapan saja. Kau tidak tau seberapa inginnya aku membunuh diriku sendiri karena itu. Keluargaku bahkan membuangku saat itu. Apa yang kau tahu di saat kau bahkan tidak mengindahkan siapapun karena terlalu sibuk mengejar impian sialmu itu. Kau pikir hanya kau saja yang punya mimpi? Aku juga keparat. Dan kau tidak memikirkan bagaiman perasaanku karena kau terlalu sibuk memiirkan keegoisanmu."
Baekhun memukuli Chanyeol dengan semua kekuatannya yang tersisa. Seolah melampiaskan semua masalahnya selama ini. Menumpahkan semua kesalahan pada sang pelaku.
Chanyeol?
Pria itu diam di sana. Menerima semua pukulan itu dengan suka rela, bahkan pria itu berfikir jika ia harus di tikam atau di pukuli sampai mati saat ini juga ia rela, jika itu adalah bayaran yang sepadan untuknya.
Haluuuuu...
Lama banget yah?
Rasanya kayak udah bertahun tahun gak update.
Mungkin, kalian udah lupa malah sama ceriita ini. Tapi klo asih ada yang inget ya syukur deh.
Oh iya, buat beberapa plot twist yang tajam dan alur yang makin gak karuan terutama typo yang bala di mana-mana. Aku mohon maaf /sungkem/
Kerna aku juga manusia yah, yang pasti punya salah. Hehehe
Jangan lupa review dan tinggalkan jejak.
ADOUSS~~~~
