Baekhyun terbangun di tengah malam. Ia masih di kamar rumah sakit. Eomma dan Appanya memaksanya tetap berada di rumah sakit hingga hiperventilasinya tidak kambuh lagi.
Baekhyun menoleh mendapati pria yang tingginya menjulang itu di sana, tertidur di sofa yang panjangnya tak mampu manampung seluruh tubuhnya. Baekhyun tersenyum pahit.
Seharusnya pria itu melupakannya saja. Karena itu akan jadi hal yang lebih mudah baginya saat ini.
Harusnya ia tidak meninggalkan kesan yang baik pada pria itu dulu. Karena jika akhirnya akan jadi serumit ini. Ia akan lebih rela jika Chanyeol melupakannya. Atau tidak menganggapnya sama sekali.
Tapi tidak. Pria itu ada di sini, dan bersikeras untuk meminta maafnya seperti pengemis yang patut di kasihani.
Baekhyun tahu seberapa berpengaruhnya pria itu di bidangnya. Ia tahu semua hal yang terjadi pada pria itu dari sudut kaca para pemberita.
Pemilik perusahaan konsultan bisnis yang sudah jadi pembicaraan sejak perusahaan itu di bangun, karena status ayahnya sebagai hakim dan jaksa terkenal. Ada yang memuji bakan mencibir keputusanya itu, karena memilih pekerjaan yang melenceng dari apa yang ayahnya mau.
Tapi pria yang sedang tertidur dengan sangat menyedihkan di sofa ruanga rawat inapnya itu, berhasil membungkam mulut para pencibir sial yang mengolok-oloknya dalam waktu lima tahun.
Dan bisnis konsultanya berkembang dengan sangat pesat hingga saat ini. Tanpa bantuan siapapun. Percaya atau tidak.
Dari mana baekhyun tahu?
Dari berbagai sumber yang merajalela di luar sana. Ia ikut senang akan hal itu. Sungguh.
Tapi.
Saat melihat Chanyeol tersenyum dengan amat sangan bahagia menatap kilauan kamera mendapatkan hasil dari mimpinya. Jujur saja Baekhyun kesal, marah, kecewa, dan merasa sangat bodoh pernah, ah. Bahkan masih mencintai pria itu hingga saat ini.
Saat itu. Lari adalah hal yang paling masuk akal yang terlintas di pikirannya. Karena jika memang Chanyeol membenci apa yang sudah terjadi, biarlah pria itu membenci keadaan dan Baekhyun. Baekhyun tidak boleh ikut membenci anak pria itu.
KARMA.
Baekhyun berharap pria itu mendapatkan hal itu saat ini. Karena ia tidak sanggup untuk meghukum pria itu dengan tangannya sendiri.
Baekhyun selalu berharap takdir dan waktu yang membalas pria itu. Karena penyesalan tidaklah cukup baginya.
Anggaplah ia kejam.
Atau egois.
Atau apapun.
Karena telah mendoakan hal yang tidak-tidak pada orang yang di cintainya. Tapi pria itu memang harus di beri pelajaran.
Penjara misalnya.
Baekhyun masih terduduk sambil melamaun tentang apa yang akan terjadi setelah ia keluar dari rumah sakit.
Apa menerima maaf dari Chanyeol?
Itu terlalu mudah.
Atau mengabaikan pria itu hingga ia lelah mengejarnya?
Baekhyun bahakan tidak yakin pria itu memang ingin kembali padanya.
Baekhyun menghela nafas lelah. Kepalanya serasa mau pecah hanya karena memikirkan satu orang.
Akhirnya Baekhyun kembali berbaring. Dengan wajahnya yang menghadap Chanyeol yang sedang tertidur di sofa. Wajah tidurnya masih tidak berubah. Tetap terlihat damai dan polos, dan masih membuat jantung dan darahnya berdenyut keras.
Salahkan ingatan Baekhyun yang terlalu tajam tentang pria itu. Yang membuatnya masih mengingat hal-hal remeh sekalipun.
Yang membuatnya tidak bisa berpaling seicipun pada pria lain.
"Park Chanyeol brengsek." Dengan suara lemah karena rasa kantuk kembali menyerangnya. Baekhyun mengumpati Chanyeol yang masih pulas di sana.
Baekhyun terbangun dan mencoba untuk membuka matanya saat merasakan usapan lembut di pucuk kepalanya.
Ketika berhasil membuka matanya dan membiaskan cahaya terang yang menyapa. Baekhyun di hadapkan dengan wajah Chanyeol dan tangan pria itu yang mengusak rambutnya.
Baekhyun mencoba duduk dan bersandar di kepala ranjangnya dengan bantua Chanyeol tentunya. Segera saja ia mengalihkan pandangannya kemanapun, asal jangan wajah seorang Park Chanyeol dengan rambut basahnya. Yang—
Ok hentikan.
"Sudah ku bilang kau harus pergi."
"Aku akan tetap di sini sampai kau sembuh, mau tidak mau." Suara serak pria itu membuat Baekhyun ingin menoleh namun tidak, ia harus menahannya.
"Aku tidak mau menerima orang yang sudah membuangku." Ucapan Baekhyun terdengan datar dan dingin.
"Dan aku tidak akan pergi kemana pun dari orang yang ku cintai."
"Benarkah—?"
"Tentu saja aku me—."
"Benarkah kau bahkan pernah mencintaiku?" akhirnya Baekhyun menoleh dan melangkan pandangan meremehkan pada pria yang duduk di amping ranjangnya.
"Iya. Aku pernah dan akan selalu." Chanyeol membalas sorot meremehkan itu dengan pandangan lembut yang bisa meluluhkan wanira manapun. Tapi tidak dengan Baekhyun.
"Kenapa kau tidak mencari wanita lain saja. Yang pastinya belum punya anak yang tidak jelas siapa ayahnya. Dan yang pasti bisa menerimamu tanpa harus memikirkan masa lalumu?" Baekhyun memang sedikit tidak percaya setelah apa yang sudah terjadi.
Park chanyeol dengan segala hal yang bisa ia miliki masih mau berurusan dengannya.
Pria itu terdiam. Mungkin karena alasan Baekhyun yang sangat masuk akal. Atau mungkin tidak.
"Aku tidak bisa." Chanyeol masih menatap Baekhyun dengan sorot lembutnya. Dan tangannya mengelus lengan kurus Baekhyun. "Aku tidak bisa. Karena ayah dari anak-anakmu adalah aku. Dan masa laluku adalah bagian dari hidupku dan karena kau ada di dalamnya, kau adalah bagian darinya."
"Berhentilah membual Tuan Park. Apapun yang keluar dari mulutmu hanyalah omong kosong... sama seperti hal-hal yang kau bilang delapan tahun lalu." Baekhyun tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun Pada Chanyeol yang sejak tadi menantikan kontak mata mereka.
"Hei, bisakah kita tidak membicarakan masa lalu. Yang terpenting sekarang aku ada di sini, dan bertanggung jawab atas semuanya sekarang."
Baekhyun mendelik, dan seketika menatap marah Chanyeol.
"Bisa-bisanya kau mengucapkan itu dengan mudah. Kau pikir—."
"Aku sudah sangat lama berfikir Baekhyun-ah. Semuanya, hal-hal yang pernah kulakukan padamu. Aku sudah memikirkannya dengan sangat dan mungkin sebentar lagi aku akan gila karena tidak bisa mendapatkan maafmu." Tangannya beralih menyentuh kepala Baekhyun dan mengusapnya lembut.
Persetan jika gadisnya menolaknya, toh Baekhyun masih tetaplah Baekhyun yang tidak pernah bisa menolak semua perlakuan manis Chanyeol sedikitpun.
"Jadi ku mohon Baekhyun-ah, kembalilah padaku karena aku pun tidak pernah berpaling sedikitpun sejak dulu darimu."
"Cih, yang kau bilang tidak pernah berpaling siapa? Lalu siapa wanita-wanita yang ada di sekitarmu itu hah?"
Baekhyun tidak marah sungguh. Ia hanya sebal dengan apa yang baru saja Chanyeol bilang. Lalu siapa semua wanita yang berfoto bersamanya di foto-foto yang Baekhyun lihat di banyak majalah itu.
Apa kau baru saja menyebar fakta kau memantau pria itu Baekhyun-ah?
Baekhyun menggeleng menyingkirkan pikirannya barusan. Dan merutuki apa yang mulut tanpa remnya ucapkan.
Bukannya menjawab, pria yang di tuduh itu terkekeh geli dengan ucapan spontan Baekhyun barusan.
"Kenapa kau tertawa?!" Padahal dalam hati Baekhyun ingin pingsan lagi saja.
"Kau tidak berubah."
"Memangnya siapa bilang aku berubah? Aku masih membencimu." Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kemanapun asat tidak pada Chanyeol.
"Iya aku tahu. Kau akan seslalu mencintaiku." Chanyeol mash mengusap kepala Baekhyun dengan sesekali merapikan rambut honeybrown wanita itu.
"Pulanglah kau akan membuatku tambah lama terbaring di sini karena stres jika masih tetap di sini." Baekhyun mendorong pria itu menjauh. Memutuskan semua kontak fisik mereka.
"Di mana Seoeun dan Seojun?" Baekhyun menatap tajam Chanyeol yang kembali mendekat, meggenggam lalu memainkan jari-jari kurus Baekhyun lagi.
"Noonaku membawa mereka ke rumahnya tadi pagi. Jika mereka tetap di sini mereka tidak akan sekolah. Kau tahu."
"Aku harus segera keluar dari sini." Baekhyun menekan pemanggil dokter di nakas.
"Tidak, eomma mu bilang kau harus berda di sini sampai kau benar-benar sembuh."
"Aku sudah sembuh jadi aku ingin pulang."
"Ada apa?"
"Saya ingin pulang sore ini, jadi tolong urus berkas dan list pembayarannya ya."
"Baiklah akan saya urus, permisi."
Chanyeol menghela safas. Ungkapan wanita di hadapannya ini tidak berubah itu benar. Baekhyun memang tidak berubah masih saja keras kepala.
Lihat saja, setelah mengucapan itu pada suster tadi. Baekhyun bersedekap dan menatapnya angkuh.
"Aku tidak akan terlihat lemah di hadapa siapapun tuan Park."
Setelah mengemasi barang-barangnya yang memang tidak banyak itu. Baekhyun pulang diantar Chanyeol. Lebih tepatnya pria itu memaksanya, dan dengan alasan mereka harus menjemput Seoeun dan Seojun di rumah Sooyoung.
Hari sudah menjelang sore, dan hiruk pikuk kendaraan di jalanan Seoul yang semakin padat entah kenapa memunculkan suasana canggung di sini.
Tidak ada percakapan di antara mereka sejauh ini. Chanyeol tengah sibuk menyetir dan Baekhyun yang menatap keluar jendela, berperang dengan segala pemikirannya.
"Yeol." Chanyeol megalihkan perhatiannya pada Baekhyun yang masih menatap ke luar jendela.
"Hmm?"
"Apakah alasanmu meninggalkanku saat itu hanya karena aku hamil—" Baekhyun menggantungkan kalimatnya untuk menghela nafas. "Atau ada orang lain bersamamu saat itu." Karena pria itu juga tidak meluruskan masalah wanita-wanita yang beramanya saat itu.
Baekhyun tidak menoleh sedikitpun. Ia tetap menatap keluar, entah apa serunya.
"Aku akan menjawabnya, tapi nanti." Lampu lalu lintas kembali hijau dan mereka kembali menyusuri kota Seoul yang padat.
Sampai di pelataran rumah keluarga kecil Choi itu. Mereka masuk beriringan. Rumah yang meneurut Baekhyun terlalu sederhana bagi kedua orang yang bisa memiliki segalanya. Sebelum masuk mereka akan melihat taman keil dengan beberapa bunga tumbuh dan satu ayunan kayu di samping kanannya. Rumah itu bercat coklas susu, jika di lihat dari luar. Rumah ini hampir sama dengan rumahnya namun setidaknya sedikit lebih besar.
Setelah memencet bel beberapa kali, akhirnya pintu terbuka.
"Annyeonghaseyoo.."Baekhyun menunduk memberi hormat pada Sooyoung.
"Oh Tuhan, kenapa kau pulang secepat ini? Bukankah kau harus di sana sampai kau sembuh total." Lalu Sooyoung memeluknya. Baekhyun yang seakan linglung dengan apa yang terjadi menatap Chanyeol dan di balas senyum kalem dari pria itu.
"Hmm, Noona bolehkah kami masuk."
"Oh tentu, masuklah kalian."
Sooyoung mempersilahkan keduanya masuk. Dan ternyata Seoeun dan Seojun ada di ruang keluarga dengan seorang balita mungkin tiga atau empat tahun.
Mereka sedang bermain dengan miniatur dinosaurus dan teman-temannya. Si balita mengayun-ayunkan miniatur Tiranosaurus dengan cukup keras ke atas dan ke bawah. Lalu...
TAK!
Miniatur itu mengenai kepalanya. Dan kalian pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya.
"HUWEEEE."
Sooyoung berniat untuk menghampiri anaknya. Tapi sepertinya ada yang lebih cepat dari Sooyoung.
"Jisungie kengapa?" Itu Seoeun yang menatap sang balita khawatir.
"Huss, sudah. Dinonya sudah pergi jauh Jisungie jangan nangis lagi ya?" Seojun memeluknya dari samping dan mengusap punggungnya.
"Jisungie jangan nangis. Laki-laki gak boleh nangis, nanti kalau Jisungie menangis siapa yang lindungin eommanya Jisungie." Seoeun menghapus air mata Jisung dan mengusap kepalanya yang terkena miniatur."
Baekhyun tersentak, lalu tersenyum haru. Dan tanpa sadar ia hampir menangis karena perkataan Seoeun barusan sama dengan perkataannya beberapa tahun lalu.
"Hiks Hiks."
"Sudah, Jisungie gak boleh nangis lagi yah."
"Cungie gak leh ngis." Dengan mata yang berair Jisung menatap Seoeun dengan mata polosnya itu. Seoeun mengangguk dan tersenyum.
"Ohh, mereka keren sekali." Sooyoung tersenyum kagum pada si kembar.
"Eun-ah, Junie"
"EOMMAA." Keduanya berlari menerjang Baekhyun dengan pelukan. Baekhyun berjongkok menyamaakan tingginya dan membalas pelukan keduanya.
"Apa eomma sudah semmbuh?"—Seoeun.
"Iya, apa eomma sudah sembuh?"—Seojun.
"Apa tangan eomma sakit."—Seoeun.
"Kemarin Junie lihat tangan eomma ada selangnya, hiyyy." Seojun mengakhiri pertanyaan beruntun mereka dengan gidikan ngeri. Yang membuat orang dewasa manapun tersenyum gemas dengan tingkahnya. Terutama tiga orang dewasa di sana.
"Eomma baik-baik saja. Lihat, selang yang kemarin kalian lihat sudah tidak ada. Dan sekarang eomma sudah sembuh." Baekhyun menunjukkan tangannya yang berperban bekas infus.
"Baiklah kami pulang dulu hmm—."
"Eonni. Panggil saja Sooyoung eonni." Baekhyun tersenyum kikuk. Soooyung seakan tahu apa yang ada di pikirannya.
"Cha, ayo kita pulang." Baekhyun menggandeng Seoeun dan Seojun yang melambai pada Jisung di dekapan Soooyung.
...
...
...
Mian guys jinja mian
Maafin aku yah ya g lamaaaaaaa banget updatenya. dan sebenernya chapter ini tuh belum sempurna. dan karna mumpung lagi dapet wifi. hehehe (o)
maaf juga klo ceritanya semaki. aneh dang gak nentu, karena emang lagi sering ga fokus sama tiba2 ngeblank gitu pas nulis.
pokoknya yang udah nyenmpetin baca terima kasih banyak, yang udah mau review makasih banyak juga. sider juga maksih banyak banget. setidaknya kalian udah bersedia baca cerita gk jelas ini kan.
itu aja deh. pokoknya
Support aku selalu juseyoo...
Semoga kalian sukak
di review ya (~_)
ADIOUS~~
