Chapter Four

Cast:

Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun [18]

Park Jungsoo as Park Jungsoo (Kyuhyun's brother 1) [26]

Kim Youngwoon as Park Kangin (Kyuhyun's brother 2) [23]

Lee Hyukjae as Park Eunhyuk (Kyuhyun's brother 3) [19]

Shim Changmin as Kyuhyun's best friend [18]

Genre:

Family, Friendship, Hurt/Comfort, Sad, Angst,

Disclaimer:

All casts belong to God and themself and i just own the story. DLDR! Alur ff ini sudah pasaran jadi mohon di maafkan jika ada kesamaan dengan beberapa cerita yang lainnya. /.\ Tapi saya tidak memplagiat ataupun menjiplak karya author lain.

Summary:

Perjuangan seorang adik terkecil di keluarga Park untuk mendapat kasih sayang ketiga hyungnya yang selalu menganggapnya tidak ada. Apa yang membuatnya tidak dianggap sama sekali? Bisakah ia mendapat kasih sayang para hyungnya?

"Aku menyayangi kalian melebihi apapun.."

- Park Kyuhyun -

Sebelumnya..

Tiba-tiba ia merasa sesuatu yang membuatnya tidak enak dan kemudian memegang dadanya.

"Apa yang terjadi?" Gumanannya.

Namun setelah itu, ia menepis pikiran itu dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Selanjutnya..

Sore sudah hampir menjelang, Eunhyuk, Donghae, dan Jonghyun sedang bermain di rumah Eunhyuk. Mereka semua bersenang-senang dengan cara bermain PS ataupun memakan berbagai makanan ringan yang tersedia.

"Aku benar-benar bahagia hari ini.. Hahahahaha." Tawa Eunhyuk. Ia memang terlihat sangat senang.

"Apa yang membuatmu sangat senang, huh?" Tanya Donghae sambil memakan makanan yang ia pegang.

"Aku membuat anak sial itu terkunci dalam kamar mandi sekolah bagian barat. Dan yah.. kau pasti mengertilah hahahha." Jawab eunhyuk dengan diiringi dengan tawa yang sangat menggelegar.

"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. K-kau benar-benar melakukannya, hyuk-ah?" Donghae tersedak dengan makanannya. Ia tidak percaya Eunhyuk sampai melakukan hal itu.

"Tentu saja. Memangnya kenapa? Kau tidak senang?" Eunhyuk memberikan rentetan pertanyaan pada Donghae.

"Ani.." jawab Donghae pelan. Setelah itu ia kembali tenggelam pada pikirannya sendiri

"Ahh Hyuk-ah sepertinya aku harus segera pergi. Aku ada Janji dengan Seulgi malam ini." Celetuk Jonghyun setelah melihat jam tangannya.

"Hmmm.. Baiklah.. Bersenang-senanglah Jong!" Kata Eunhyuk.

"Sepertinya aku juga akan pamit Hyuk. Aku ada janji untuk makan malam." Donghae pun ikut pamit.

"Oke. Hati-hati di jalan." Sahut Eunhyuk. Ia menunggu sampai kedua mobil sahabatnya itu meninggalkan halaman rumahnya.

.

.

.

Dalam perjalanan, Donghae memikirkan Kyuhyun.

Pantas saja ia tidak terlihat sejak mereka tiba di rumah Eunhyuk.

Ia memutuskan untuk ke sekolah untuk melihat keadaannya. Sejujurnya sedari dulu, ia tidak tega saat Eunhyuk memperlakukan Kyuhyun seperti itu. Ia mengerti, sangat mengerti malah, mengenai masalah yang keluarga Park hadapi sehingga membuat magnae itu menjadi tersisih.

Namun, Donghae yang berpikir dengan perasaannya tentu menemukan kejanggalan yang terjadi disini. Anak berumur 7 tahun pasti hanya ingin bermain-main. Tapi saat itu memang kecelakaan yang melibatkan Tuan dan Nyonya Park serta Kyuhyun harus terjadi. Jadi tidak mungkin Kyuhyun melakukannya dengan sengaja.

Setibanya ia di halaman sekolah, ia memarkirkan mobilnya dan segera turun menuju Toilet bagian barat. Sekolah sudah sepi karena memang jam sudah menunjukan 5:40 PM. Bahkan ekskul pun sudah selesai sedari tadi.

Sesampainya ia di toilet bagian barat, Donghae menemukan sebuah tanda bahwa toilet itu sedang rusak.

Donghae membulatkan matanya. Itu karena dapat dipastikan bahwa tidak ada yang menyelamatkan Kyuhyun dari dalam sana karena tidak ada yang masuk ke dalam sana. Ia segera membuka pintu depan itu dengan cara mendobraknya.

Pertama kali yang ia lihat hanyalah lampu remang-remang di dalam toilet itu. Donghae membuka satu persatu toilet itu. Namun ketika Toilet yang terakhir, toilet itu terkunci.

Tok

Tok

Tok

"Kyuhyun-ah, kau ada di dalam?" Donghae mengetuk pintu itu. Namun karena tidak mendapat jawaban, ia pun mulai khawatir. Tapi sekali lagi ia mengetok pintu dan memanggil Kyuhyun. Namun tetap tidak ada jawaban.

Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu. Dan di pojok toilet itu ada sebuah linggis. Donghae meraihnya dan mencoba membuka paksa pintu itu.

Trekkk

Berhasil. Donghae berhasil membukanya. Segera, ia membukanya dan menemukan Kyuhyun yang terduduk dengan menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.

"Kyu, gwaenchana?" Ujar Donghae sambil mengguncangkan bahu Kyuhyun.

"..." Hening. Tidak ada balasan dari kyuhyun. Bahkan pergerakan pun tidak ada.

"Kyu?" Sekali Kyuhyun memanggil Kyuhyun. Dan lagi, tidak ada balasan sama sekali.

Donghae mulai mendekatkan tangannya untuk menyentuh bahu Kyuhyun. Perlahan tapi pasti, tangannya mulai menyentuh seragam yang masih Kyuhyun kenakan.

"Kyu-" Ucapan Donghae terputus saat dorongan kecil yang ia lakukan pada tubuh Kyuhyun menyebabkan tubuh Kyuhyun tergerak dan akhirnya berbaring dengan posisi miring. Untungnya bilik toilet itu sedikit lebih besar dari ukuran toilet sekolah pada umumnya.

"-hyun." Donghae kaget dan segera menutup mulutnya dengan tangannya melihat bagaimana kondisi Kyuhyun saat ini.

Bagaimana ia tidak kaget, kalau sekarang ini yang ia lihat adalah muka kyuhyun sangat pucat seperti seperti salju, bibir yang mulai membiru, darah yang sudah mengering di bawah hidungnya dan juga sudah mengotori bajunya.

"K-Kyu..." Donghae mulai mendekati tubuh Kyuhyun yang sudah tidak berdaya.

"Kyuhyun-ah!" Donghae segera berlutut disamping tubuh itu dan mulai mengguncang pelan tubuh itu.

Ia merasa sangat bersalah pada anak yang terbaring di depannya ini. Tanpa aba-aba, ia menitikkan air matanya.

Ia tidak larut terlalu lama merasa bersalah dan menghapus titik-titik air mata di pipinya, sesaat kemudian ia memeriksa tubuh Kyuhyun. Ia merasa sesuatu yang aneh. Dada anak itu tidak menunjukkan pergerakkan.

Perlahan ia mendekatkan tangannya pada hidung Kyuhyun. Ia merasa setidak angin yang menerpa kulit jarinya. Itu menandakan napas Kyuhyun sangat lemah.

Setelah itu, tanpa berpikir panjang lagi, ia membopong tubuh Kyuhyun ke atas punggungnya.

"Kyu, kumohon bertahanlah." Guman Donghae dengan berlari sekencang mungkin meyusuri koridor sekolah itu menuju mobilnya agar segera membawa Kyuhyun ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan.

.

.

.

.

Jungsoo dan Kangin tiba bersamaan di rumahnya. Mereka berjalan beriringan namun tidak ada pembicaraan diantara mereka.

Sudah pukul 9 malam. Saat mereka masuk, tidak ada suara apapun. Hening.

"Hyung, sepertinya Hyukie sudah tidur duluan." Kangin mulai bersuara.

Jungsoo melepas kacamatanya kemudian pertanyaan Kangin,

"Hm.. Baiklah kalau begitu kau juga beristirahatlah." Jungsoo mulai tersenyum sejenak. Kangin yang melihatnya pun segera mengangguk dan berjalan meninggalkannya menuju lantai dua rumah mereka dimana kamarnya berada.

Saat Kangin sudah tidak terlihat, Jungsoo sendiri.

Entah apa yang membawanya sehingga ia kemudian terduduk di kursi ruang tamu.

Ia hanya duduk dan termenung mengingat masa lalunya.

Flashback

"Hyung-ie~~" Teriak seorang anak berusia 5 tahun dengan suara cemprengnya yang memekakan telinga.

"Ada apa Kyunnie?" Jawab seorang anak berusia 13 tahun yang baru saja keluar dari dapur.

"Mainan kyu rucak hyung-ie." Anak itu kemudian mempoutkan bibirnya dan membuat mukanya menjadi sedih yang terlihat lucu bagi hyungnya itu.

Anak yang lebih tua dari Kyuhyun yang dapat diketahui sebagai Jungsoo kemudian tersenyum dan mengacak surai madu dari adiknya itu.

"Baiklah. Berikan pada hyung, akan hyung coba perbaiki." Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil mainan itu. Kyuhyun memberikan mainannya itu ke tangan sang hyung.

Beberapa saat kemudian Jungsoo sudah memperbaiki kerusakan yang ada pada mainan adiknya itu.

"Ini mainanmu, sudah hyung perbaiki." Kata Jungsoo sambil menyerahkan mainan Kyuhyun.

"Yeyyyy.. Gomawo hyung-ie. Kyu cayang Jungcoo hyungie" Kata Kyuhyun bersorak gembira dan memeluk hyungnya itu. Jungsoo tersentak karena tindakan tiba-tiba itu. Namun sesaat kemudian ia tersenyum lembut dan membalas pelukan adiknya.

"Hyung juga." Ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.

"Ya, Ya.. Kau tidak sayang pada kami, Kyunie?" Suara yang datang tiba-tiba itu berasal dari anak berusia 10 tahun yang sedang menggenggam tangan adik lagi yang berusia 6 tahun. Lebih tua setahun dari Kyuhyun.

"Tentu caja aku juga menyayangi Kangin hyung dan Hyukie hyung. Eomma dan appa juga." Kyuhyun berkata dengan riang sambil menunjukkan giginya dan memeluk semua hyungnya.

End of Flashback

Mengingat masa-masa itu dada Jungsoo terasa sesak. Sangat sesak, seperti tidak bisa bernapas.

Jungso menutup matanya dengan lengan kanannya. Sejenak, ia menangis. Namun, dengan segera ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya.

.

.

.

.

Donghae segera memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah sakit itu. Ia kemudian bergegas membuka pintu jok belakang dan membopong tubuh Kyuhyun kembali.

"Dokter! Suster! Kumohon tolong aku." Teriak Donghae. Semua orang melihat ke arahnya.

"Ada apa dengan dia, tuan? Suster, tolong ambilkan kasur dorong." Kata seorang Dokter yang menghampiri Donghae.

"Aku tidak tahu.. Ku mohon tolong dia." Ucap Donghae memohon pada Dokter yang dihadapannya itu.

"Akan kami usahakan. Sekarang mari kita dorong hingga ruang UGD." Dokter dan Donghae mulai mendorong kasur itu. Dan Beberapa suster ikut membantu membantu mendorong kasur yang di atasnya terdapat Kyuhyun.

Sewaktu di dorong, Kyuhyun sedikit membuka matanya. Ia melihat langit-langit ruangan berwarna putih dan terus bergerak. Ia melirik samping kirinya, ia melihat seseorang mengenakan baju putih. Kemudian ia melirik samping kanannya, dan ia melihat sosok orang yang sangat ia ketahui. Ia sadar itu adalah sahabat Hyungnya, yakni Donghae.

Donghae melihat Kyuhyun sedikit membuka matanya dan melirik padanya. Ia kemudian merundukkan kepalanya dan membisikkan sesuatu.

"Bertahanlah Kyunnie." Bisik Donghae dan memegang tangan Kyuhyun erat tanpa berhenti mendorong ranjang dorong itu.

Kyuhyun dapat mendengarnya walaupun sudah setengah sadar. Ia menyunggingkan senyum kecil dan kembali menutup matanya.

.

.

Changmin sedang menyusuri lorong rumah sakit itu karena sepulang dari Jepang sehabis mengunjungi orang tuanya, hyungnya menghubunginya untuk datang menemuinya di rumah sakit tempatnya bekerja.

"Aish kalau aku bertemu dengan tiang listrik itu, akan ku habisi dia. Dia tidak mengerti apa kalau perjalanan dari Jepang itu melelahkan. Huh." Changmin menggerutu tidak jelas.

Dia marah karena hyungnya itu tidak ada di ruangannya.

Dia terus menggerutu tanpa henti hingga akhirnya ia mencapai perempatan lorong itu. Ia melihat ada seorang pasien yang sedang di dorong.

Ia berhenti sejenak untuk membiarkan itu terlebih dahulu.

Badannya menegang. Walaupun hanya sekilas, namun ia tahu siapa itu. Ia sangat tahu. Itu adalah Kyuhyun.

Ia berdiri kaku dan kemungkinan otaknya masih memproses apa yang sedang terjadi.

"Kyu..." Gumannya kemudian ikut berlari.

.

.

.

"Mohon tunggu di luar sebentar." Kata seorang suster saat mereka sudah tiba di depan ruang UGD.

Donghae yang terlihat cemas hanya menggangguk pasrah, membiarkan suster itu kembali masuk dan menutup pintu ruangan itu.

Ia kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Donghae masih larut dengan kecemasan akan Kyuhyun.

Drap

Drap

Drap

Langkah kaki terburu-buru menggema di lorong itu. Donghae mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berlari itu.

Perlahan anak laki-laki yang berlari itu menghentikan langkahnya dan merundukkan badannya dan memegang lututnya untuk menetralkan napasnya sehabis berlari.

"Hosh... Kyu.. Kyuhyun Hosh kenapa?" Kata Changmin dengan masih terengah engah.

"Dia.. Dia terkunci di kamar mandi sekolah hingga hampir menjelang malam." Jawab Donghae.

"MWO?! BAGAIMANA BISA?! SIAPA YANG MELAKUKANNYA?!" pekik Changmin. Ia sangat kaget bagaimana bisa sahabatnya itu bisa terjebak di sana. Sahabat? Ya. Changmin sudah menganggap Kyuhyun sebagai sahabatnya walau Kyuhyun belum menganggapnya apa-apa.

"Sudahlah... Walau aku menceritakannya juga kau tidak akan mengerti." Setelah mengucapkan itu. Donghae mendongakkan kepalanya dan menutup matanya beberapa saat.

Changmin terduduk di samping Donghae. Shock. Itu sudah pasti.

Tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara mereka selanjutnya. Namun apa yang ada di dalam hati mereka sama, mengkhawatirkan keadaan Kyuhyun.

Satu jam..

Dua jam..

Namun tidak ada tanda-tanda seseorang yang keluar dari dalam sana untuk menjelaskan keadaan Kyuhyun.

Ceklek

Mata mereka tertuju pada pintu ruangan yang ada di depan mereka. Dan terlihatlah seorang sosok tinggi dan berpakaian warna putih.

Donghae yang pertama kali sadar, segera menghampiri dokter itu.

"Uisanim, bagaimana keadaannya?" Tanya Donghae dengan penuh kekhawatiran.

"Dia..."

.

.

.

.

To Be Continued

Annyeong Readers~~~

Kimchan balik lagi nih hihihihi

Sebenarnya mau pos ini kemarin malam, Cuma pas mau ketik ending chapter ini, tiba-tiba mati lampu-_-

Aku senang banget dapat respon positif dari semua yang udah review.. Makasih banget lho :*

Dan itu menjadi dorongan untuk ngelanjutin menulis.

Sekali lagi untuk saran-sarannya kimchan ucapkan terima kasih banyak

Kalau ada typo, maafin yah soalnya kalau mau ngedit aku malas kadang-kadang. Dan untuk chap ini kimchan posnya jam 5:40 pagi jadi aku ga sempet karena harus kesekolah jam 6 hehe

Yang minta Changmin, Chapter ini udah ada Changminnya yah.. dan mengenai keluarga changmin sudah dijelaskan disini.. Untuk Hyungnya Changmin, nanti muncul chapter depan..

Yang bilang ini agak mirip dengan cerita author lain seperti jiyeoon dan Park Hyeo Bi, aku minta maaf yah.. Aku sama sekali ga meniru karya orang lain. Karna ini semua murni dari pikiranku sendiri. Tapi kalo di bilang mirip gitu, aku minta maaf banget karna aku tidak sengaja. Dan aku memang akui cerita kayak gini udah pasaran banget. Maaf sekali lagi yaa. Akan aku usahain buat beda untuk selanjutnya. Dan author-author yang disebutkan itu author fav aku juga.

Ahhh iya.. Makasih juga buat yang udah follow atau favorite ff ini kkk :*

Saran-saran untuk kelanjutan ff ini atau pun saran lainnya mengenai cara menulis saya akan terus saya terima.

Last.. Mind to review this Chapter?

Thank Youu

Kimchan