Chapter Four

Cast:

Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun [18]

Park Jungsoo as Park Jungsoo (Kyuhyun's brother 1) [26]

Kim Youngwoon as Park Kangin (Kyuhyun's brother 2) [23]

Lee Hyukjae as Park Eunhyuk (Kyuhyun's brother 3) [19]

Shim Changmin as Kyuhyun's best friend [18]

Genre:

Family, Friendship, Hurt/Comfort, Sad, Angst,

Disclaimer:

All casts belong to God and themself and i just own the story. DLDR! Alur ff ini sudah pasaran jadi mohon di maafkan jika ada kesamaan dengan beberapa cerita yang lainnya. /.\ Tapi saya tidak memplagiat ataupun menjiplak karya author lain.

NOTE:
Baca Author notes setelah baca yah ;))

Summary:

Perjuangan seorang adik terkecil di keluarga Park untuk mendapat kasih sayang ketiga hyungnya yang selalu menganggapnya tidak ada. Apa yang membuatnya tidak dianggap sama sekali? Bisakah ia mendapat kasih sayang para hyungnya?

"Bisakah kalian sedetik saja menyayangiku?"

- Park Kyuhyun -

Sebelumnya..

Satu jam..

Dua jam..

Namun tidak ada tanda-tanda seseorang yang keluar dari dalam sana untuk menjelaskan keadaan Kyuhyun.

Ceklek

Mata mereka tertuju pada pintu ruangan yang ada di depan mereka. Dan terlihatlah seorang sosok tinggi dan berpakaian warna putih.

Donghae yang pertama kali sadar, segera menghampiri dokter itu.

"Uisanim, bagaimana keadaannya?" Tanya Donghae dengan penuh kekhawatiran.

"Dia..."

Happy Reading~!

Selanjutnya..

"Dia sudah baik-baik saja saat ini. Namun karena penyakit pneumothoraxnya kambuh, kondisinya menjadi sangat lemah. Ditambah lagi ia mengalami hipotermia ringan. Jadi untuk saat ini biarkan ia beristirahat dulu. Tapi sewaktu memeriksanya tadi kami menemukan beberapa kejanggalan di otaknya. Apa dulu ia pernah kecelakaan?" Jelas Dokter itu panjang lebar mengenai kondisi Kyuhyun saat ini.

Sesaat setelah mendengar perkataan dokter itu, Donghae berusaha mengingat-ingat apakah Kyuhyun mengalami kecelakaan. Dan akhirnya ia mengingat kejadian itu.

Ia kemudian mengganggukan kepalanya.

"Ne, uisanim. Dia pernah kecelakaan sekali saat dia berumur sekitar 7 tahun." Ujar Donghae.

"Begitukah? Kalau cuma sekali,tidak mungkin mengakibatkan sesuatu dalam otaknya." Gumanan dokter itu yang masih dapat di dengar oleh Donghae.

"Seingat saya dia Cuma pernah mengalami kecelakaan sekali." Donghae menjawab gumanan Dokter itu.

"Baiklah kalau begitu. Setelah dia mulai membaik, kami akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengecek kesehatannya. Sekarang anda sudah bisa masuk ke dalam." Kata Dokter itu. Ia membiarkan Donghae masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan itu.

Namun, saat ia akan melangkahkan kakinya untuk kembali di ruangannya, ia menangkap seorang laki-laki yang mendudukkan badannya di kursi depan ruangan itu sambil menudukan kepalanya. Ia merasa sangat familiar. Dan ia tahu saat jarak antara kedua sudah semakin dekat.

"Changmin-ah.." Kata dokter itu sambil memegang bahu laki-laki itu yang ternyata adik kandungnya.

Changmin kaget dengan tepukan di bahunya itu, sehingga dengan segera ia mendongakkan kepalanya menghadap ke orang tersebut.

"Hyung..." Changmin menatap sendu hyungnya itu. Perasaannya sedang bercampur aduk saat ini. Untuk saat ini, pikirannya hanya tertuju pada Kyuhyun yang berada di dalam sana dan melupakan kemarahannya pada hyungnya.

"Waeyo, Min? Ada apa denganmu, hm?" Yunho, sang hyung sekaligus dokter yang menangani Kyuhyun mendudukan dirinya di samping Changmin dan merangkul lembut bahu sang dongsaeng. Ia memang belum mengerti mengenai apa yang sedang terjadi pada diri dongsaengnya itu.

"Hiks... Aku tak berguna, hyung.. Hiks.. Aku tak berguna sama sekali.." Changmin mulai menangis karena merutuki dirinya yang meninggalkan Kyuhyun sendiri saja beberapa hari ini. Sejak pertama kali bertemu dengan Kyuhyun, ia bahkan menyayangi sejak saat itu entah karena apa. Ia seperti tahu, apa yang Kyuhyun rasakan dengan hanya menatap matanya saja walaupun Kyuhyun berusaha untuk menyembunyikan emosinya. Ia benar-benar sudah menyayangi Kyuhyun seperti saudaranya sendiri.

"Shhhttt.. Jangan berkata seperti itu. Siapa bilang kau tidak berguna? Kau sangat berguna, min-ah." Kata Yunho menenangkan Changmin. Ia kemudian membawa Changmin ke dalam pelukannya itu. Changmin tidak menjawab apa-apa, hanya saja ia terus menangis hingga sesegukan di dada Yunho. Yunho sama sekali tidak mempermasalahkan bajunya yang basah akibat air mata Changmin.

Selang beberapa menit, Changmin mulai berhenti menangis. Namun, isakan-isakan kecil masih terdengar.

"Kalau kau sudah tenang, kau bisa menceritakan apa yang terjadi padamu." Yunho kembali membuka suaranya sambil mengelus surai sang adik.

Changmin terdiam sebentar kemudian mengelap bekas-bekas air mata yang ada di pipinya.

"Aku.. aku adalah teman Kyuhyun di sekolah." Changmin mulai angkat bicara dengan pandangan menuju ke lantai.

"Tidak usah kau lanjutkan. Hyung sudah mengerti." Ucap Yunho agar dongsaengnya tidak menceritakan kelanjutannya. Karena memang ia sudah mengerti apa yang membuat Changmin menjadi seperti itu. Ia hyung kandung Changmin, sehingga ia mengerti bagaimana sifat Changmin. Ia akan seperti ini jika ia mulai menyayangi seseorang.

"Sebaiknya kau pulang dan beristirahat terlebih dahulu. Nanti kau bisa kembali lagi ke sini setelah itu." Lanjut Yunho. Ia memang melihat guratan kelelahan dari wajah dongsaengnya itu.

"Baiklah hyung. Tapi, aku ingin melihat Kyuhyun terlebih dahulu." Kata Changmin.

"Hm. Datanglah ke ruanganku jika kau sudah ingin pulang, hyung akan pulang bersamamu." Changmin mengiyakan pernyataan Yunho dengan anggukan singkatnya. Yunho tersenyum pada Changmin dan mulai beranjak dari tempatnya duduk dan kembali ke ruangannya dan meninggalkan dongsaengnya sendiri.

Changmin belum beranjak. Ia masih ingin menenangkan diri terlebih dahulu sebelum masuk menemui Kyuhyun.

.

.

.

.

Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah ranjang yang di atasnya terbaring seseorang yang tergolek lemah dengan masker oksigen yang bertengger diatas hidung dan sebagian wajahnya.

Donghae miris melihat tubuh yang tak berdaya itu. Ia perlahan mendekati ranjang itu dengan langkah lembut. Setelah sampai di dekat Kyuhyun yang terbaring lemah itu, Dongahae menatap lekat kepada Kyuhyun.

Pandangannya ia tujukan pada tangan Kyuhyun yang tidak tertusuk jarum infus dan kemudian menyentuhnya lembut, bahkan sangat lembut, bagai ia memegang sesuatu yang sangat rapuh. Tidak lama setelah itu, tangan Kyuhyun mulai menujukan pergerakan kecil. Donghae sedikit melebarkan matanya dan kemudian ia melihat lagi pergerakan itu dengan sangat jelas. Pandangannya kemudian beralih pada wajah pucat Kyuhyun. Ia melihat mata Kyuhyun yang mulai terbuka perlahan.

"Kyu..." Ucap Donghae pelan.

Kyuhyun membuka matanya dengan perlahan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Ia berkedip pelan beberapa saat. Setelah itu ia melirik tangan kirinya karena ia merasa ada yang memegang tangannya dan kemudian mengangkat sedikit pandangannya sehingga dapat melihat siapa pemilik tangan itu.

Donghae. Ia memang merasa kaget namun ia tidak dapat mengekspresikan kekagetannya itu karena tubuhnya saat ini benar benar lemas.

"Dong.. hae.. hy-hyung.." Kata Kyuhyun yang menyerupai bisikan namun Donghae berusaha untuk mendengarkannya dengan baik.

"Hmm? Sebaiknya kau istirahat dulu. Kau pasti benar benar lemas, kan?" Kyuhyun mengangguk sekilas.

"To.. long.. jangan.. be.. ri.. ta..hu hyung.. deul." Kyuhyun kembali berkata dengan pelan.

"Hmm.. Tidurlah. Kau tenang saja, aku tidak akan memberitahu mereka." Donghae mengusap pelan surai Kyuhyun dengan penuh kasih sayang. Sebagai sahabat Eunhyuk, ia benar-benar merasa kecewa dengan tindakan Eunhyuk yang memang selalu kelewatan dalam menyiksa Kyuhyun.

Ceklek.

Changmin melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

Donghae menatapnya dalam, tapi setelahnya donghae kembali pada Kyuhyun sambil memegang tangannya.

Changmin melangkah ke samping ranjang lainnya. Kyuhyun yang belum menutup matanya mengalihkan pandangannya pada Changmin walau dengan gerakan yang sangat pelan.

"Kyu.. mianhae.." Ucap Changmin sambil menundukkan kepalanya. Rasa sesak dalam dadanya kembali mencuat saat melihat Kondisi Kyuhyun saat ini.

Telapak Tangan Changmin yang berada sangat dekat denga telapak tangan Kyuhyun, memungkinkan Kyuhyun untuk mendekatkan tangannya pada tangan changmin.

Changmin yang merasakan itu, kemudian melirik tangannya lalu menatap Kyuhyun penuh arti. Saat Changmin menatap Kyuhyun, Kyuhyun dengan sekuat tenaga melengkungkan senyuman pada Changmin. Setelah itu, mata Kyuhyun terpejam. Aktifitas itu memang menguras banyak energinya.

Changmin kemudian membalas senyuman Kyuhyun walau Kyuhyun sudah menutup matanya.

"Cepatlah sembuh kawan.." Ucap Changmin dengan haru karena ini pertama kalinya ia melihat senyuman Kyuhyun.

.

.

.

.

Matahari sudah mulai terbit dari ufuk timur. Para penghuni rumah megah itu sudah mulai terbangun dan menyiapkan segala sesuatunya.

Mereka semua bertemu satu sama lain saat akan menuju ke meja makan untuk menikmati sarapan mereka. Biasanya setiap pagi Kyuhyun akan menyiapkan sarapan mereka. Namun, ia sama sekali tidak terlihat sama sekali. Malah pagi ini, sarapan mereka disiapkan oleh sang pembantu.

"Ajumma, Dimana anak itu?" Kangin yang membuka suara pertama kali langsung bertanya pada Bibi Lee.

"Saya tidak melihat tuan muda Kyuhyun pagi ini, tuan." Setelah menjawab pertanyaan sang majikan, ia membungkuk undur diri dari sana, sebab ia sudah menyelesaikan pekerjaannya.

"Dasar anak tidak tahu diuntung. Seenaknya saja ia tidak pulang." Kangin mulai emosi.

"Iya hyung. Tunggu saja setelah dia pulang nanti. Aku akan membuat perhitungan dengannya." Ucap Hyukjae.

Jungsoo kembali dalam keheningannya.

"Kalian duduklah dan makan sarapan kalian. Setelah itu kita berangkat bersama." Jungsoo langsung duduk di kursi tengan, sedangkan Kangin dan Eunhyuk duduk di sebelah kanan dan kirinya.

Mereka kemudian menyantap makanannya masing-masing dalam keheningan. Setelah itu mereka berangkat bersama.

.

.

.

.

Di ruangan yang Kyuhyun tempati sedari tadi malam, hanya terdapat Donghae yang tidur disamping Kyuhyun. Changmin memang langsung pamit pulang setelah memastikan Kyuhyun benar-benar tertidur semalam.

Kyuhyun yang mulai tersadar dan melihat Donghae yang ada di sampingnya. Pergerakan kecil yang tidak sengaja Kyuhyun buat, menyebabkan Donghae merasa sedikit terusik dan kemudian membuka matanya.

Ia menguap sesaat setelah itu dan memandang Kyuhyun.

"Oh, Kau sudah bangun,Kyu? Bagaiman? Apa kau merasa sakit?" Tanya Donghae beruntun.

"Aniyo, hyung. Kau tidak pergi ke sekolah?" Kata Kyuhyun. Jelas saja Kyuhyun menanyakan hal itu karena ini masih hari jumat, dan sekolah belum libur.

Donghae menggeleng, "Sebaiknya aku menemanimu hari ini." Ia merekahkan senyumannya pada Kyuhyun. Kyuhyun sangat bahagia melihat ada seseorang yang memerhatikannya lagi seintim ini. Bahkan ia sudah lupa akan perasaan itu, namun saat ini ia kembali teringat dan merasa bahagia tapi sedih karena bukan para hyungnya yang melakukannya padanya.

"Aku tidak mau merepotkanmu, hyung. Sebaiknya hyung pulang dan beristirahat. Dan... Terima kasih karena sudah menolongku, hyung." Kyuhyun kembali dengan senyum tulusnya.

Donghae dan Kyuhyun dulunya juga begitu dekat karena Donghae merupakan sahabat Eunhyuk. Namun, ketika Eunhyuk membenci Kyuhyun, ia juga ikut menjauhinya karena ia takut menyakiti hati sahabatnya. Namun ia juga merasa di sisi lain, ia tidak mau menjauhi Kyuhyun karena menurutnya Kyuhyun anak yang sangat baik dan periang. Selain itu, ia merasa memang bukan Kyuhyunlah yang bersalah.

"Kau tidak perlu merasa sungkan begitu. Baiklah aku akan pulang terlebih dahulu dan kembali ke sini siang hari."
"Terserah Hyung saja kalau begitu." Kyuhyun mengalah. Ia memang tidak memaksa orang lain.

"Hm.. Baik-baiklah. Aku pergi dulu." Donghae pamit dan meninggalkan Kyuhyun sendiri.

.

Hyung Changmin – Dokter Shim Yunho – membuka pelan pintu ruangan yang di tempati oleh pasien yang ia rawat semalam yang juga merupakan teman Changmin.

"Annyeong, Kyuhyun-ssi. Bagaimana perasaan pagi ini?" Ucapan Yunho membuyarkan lamunan Kyuhyun dari dunia khayalnya.

"Oh.. Uisanim. Aku sudah merasa baik-baik saja." Jawab Kyuhyun.

"Syukurlah kalau begitu. Aku hyung dari Changmin, jadi jangan sungkan padaku, ne?" Yunho semakin mendekat. "Dan aku Shim Yunho. Panggil aku hyung saja ya." Lanjutnya.

"Begitukah? Baiklah hyung." Kyuhyun menanggapi pernyataan Yunho.

"Hm. Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Apa kau pernah mengalami kecelakaan beberapa kali sebelumnya?" Raut Yunho mulai menjadi serius.

"Aku Cuma sekali mengalami kecelakaan saat aku berusia 7 tahun. Dan sepertinya aku tahu kemana arah pembicaraan kita." Kyuhyun juga menunjukan wajah seriusnya namun, itu luntur karena perkataannya yang selanjutnya.

"Jika hyung ingin memprediksi penyakitku yang lain, maka hyung tidak perlu repot-repot karena aku sudah mengetahuinya." Kyuhyun tersenyum terpaksa sambil melanjutkan kalimatnya.

"Benarkah? Sejak kapan? Apa kau pernah memeriksakannya sebelumnya?" Tanya Yunho penasaran. Ia baru saja ingin mengutarakan keinginannya untuk mengecek keadaan keseluruhan kondisi Kyuhyun, namun sepertinya hal itu sudah tidak dibutuhkan lagi.

"Ya.. Aku pernah melakukan pemeriksaan sekali dan itu sebulan yang lalu. Jadi, hyung tidak perlu lagi mengecek kondisiku lagi untuk memastikan prediksimu." Jawab Kyuhyun panjang lebar.

"Jadi.. Jadi penyakitmu..."

To Be Continued

Annyeong readers~~ Balik lagi nih dengan Chapter 5~~ *tebar mawar*

Saya sangat senang dengan respon yang baik dari semua readers.. Makasih yaaa

Untuk yang sudah favorite atau follow ff ini, aku ucapin banyak terima kasih juga..

Oh iya, aku tetap menerima saran-saran, ide-ide untuk next chapter ataupun perbaikan ff ini.. Semua akan saya terima dengan senang hati ;))

Dan seperti biasa kalau ada typo, mohon di maafin soalnya aku ga edit ulang..

Btw, aku mau pasang target buat reviewnya nih.. boleh ya? Soalnya aku liat di viewersnya itu udah lebih dari 2k+ viewers tapi yang review Cuma dikit;;; bukannya aku pengen banyak review, tapi karena aku penulis baru yang baru mulai debut(?), jadi aku merasa saran-saran dari readers sekalian ataupun sekedar meninggalkan jejak saja di kotak review..

Review kalian itu sangat berpengaruh banget untuk tulisanku ke depan nantinya, jadi aku mohon banget yaaa

Targetnya 120 reviewers, jadi aku akan pos chapter selanjutnya setelah melewati target itu..

Aku minta tolong banget yah guys~~ Karena review kalian itu penyemangatku buat nulis chapter selanjutnya.

Kayaknya aku udah banyak banget ngomongnya.. udahan aja ya hahahaha

Last, Mind to review this story? ;)))

Thank Youuuuuu

- Kimchan83 -