Chapter Seven

Cast:

Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun [18]

Park Jungsoo as Park Jungsoo (Kyuhyun's brother 1) [26]

Kim Youngwoon as Park Kangin (Kyuhyun's brother 2) [23]

Lee Hyukjae as Park Eunhyuk (Kyuhyun's brother 3) [19]

Shim Changmin as Kyuhyun's best friend [18]

Genre:

Family, Friendship, Hurt/Comfort, Sad, Angst,

Disclaimer:

All casts belong to God and themself and i just own the story. DLDR! Alur ff ini sudah pasaran jadi mohon di maafkan jika ada kesamaan dengan beberapa cerita yang lainnya. /.\ Tapi saya tidak memplagiat ataupun menjiplak karya author lain karena cerita ini berasal 100% dari pikiran saya dan mungkin memang terinspirasi dari beberapa ff dengan tema brothership yang pernah saya baca tanpa disengaja sama sekali!

Summary:

Perjuangan seorang adik terkecil di keluarga Park untuk mendapat kasih sayang ketiga hyungnya yang selalu menganggapnya tidak ada. Apa yang membuatnya tidak dianggap sama sekali? Bisakah ia mendapat kasih sayang para hyungnya?

"Aku menyayangi kalian melebihi diriku sendiri.."

- Park Kyuhyun –

Sebelumnya..

Ia memejamkan matanya dan mencengkram rambutnya karena sakit yang ia alami begitu dahsyat. Setelah itu, darah dari hidungnya menetes. Dan ia melihat darah itu sudah mengotori meja makan. Ia benar-benar kaget dan segera mengelap darah itu dengan baju yang ia gunakan. Lalu ia pergi ke westafel untuk membersihkan darah itu dari hidungnya. Ia berusaha menengadahkan kepalanya untuk menghentikan darah itu.

Setelah beberapa menit, mimisannya sudah berhenti. Namun, tubuhnya benar-benar lemas. Ia memaksakan tubuhnya untuk melangkah kembali ke kamarnya dan mempersiapkan diri untuk ke sekolah.

HAPPY READING~!

Selanjutnya..

Seperti pagi-pagi sebelumnya, Jungsoo, Kangin dan Eunhyuk bersiap untuk melakukan aktifitas masing-masing dan kemudian setelah mereka selesai, mereka akan berjalan menuju meja makan untuk menyatap sarapan pagi mereka.

"Pagi, Jungsoo hyung, Kangin hyung." Sapa Eunhyuk dengan memasang gummy smilenya kepada kedua hyungnya itu.

"Pagi, Hyuk-ah~" Jawab Kangin dan Jungsoo bersamaan.

Setelah saapan itu berakhir, mereka melangkahkan kaki mereka menuju meja makan dan menduduki kursi masing-masing. Namun, tiba-tiba,

"Omo! Darah siapa ini?" Kaget Eunhyuk saat melihat beberapa tetesan darah yang sepertinya mulai mengering di atas meja makan tepat di antaranya dengan Jungsoo.

Kangin dan Jungsoo segera melihat tetesan darah itu. Mereka juga ikut terkaget.

Entah di dalam hati Jungsoo, ia merasa itu adalah darah Kyuhyun. Namun ia menepisnya dan segera mengelap darah itu dengan tisu yang sudah disediakan di meja itu.

"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Kalian makan dengan cepat dan kita segera berangkat bersama. Ah.. Dan Kangin, bisa kau antar Eunhyuk? Aku harus berangkat secepatnya hari ini." Kata Jungsoo tenang dan mulai mengambil makanan yang tersedia di atas sana.

Sedangkan Kangin dan Eunhyuk yang masih bingung, segera mengendikkan bahunya dan mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh Jungsoo sebelumnya.

"Hmm.. Baiklah Hyung." Jawab Kangin.

Mereka makan dengan hening dan hikmat.

Tapi Kyuhyun yang sudah lengkap dengan baju seragam, tas punggung hitamnya dan sepatunya pun tiba-tiba muncul dengan langkah gontai dan dengan kepala menunduk ke bawah. Ia terus berjalan dengan menatap lantai tanpa memandang para hyungnya yang sedang makan di meja makan. Dapat terlihat, wajahnya saat ini sedang memasang raut murung dan lelah serta kulitnya yang begitu pucat dari biasanya.

Oh ayolah, Jungsoo, Kangin, dan Eunhyuk terus menatap Kyuhyun yang berjalan dengan lurus tanpa pamit pada mereka seperti yang biasanya ia lakukan. Di tambah lagi Kulit wajahnya yang begitu pucat. Tak ada yang tidak menyadari hal itu.

Walaupun memang pada dasarnya, kulit Kyuhyun memang putih pucat, namun, warnanya saat ini begitu berbeda.

Kangin yang mulai geram akhirnya pun berdiri dan menyusul Kyuhyun.

PLAK

Suara tamparan menggema di seluruh ruangan rumah itu. Entah apa yang merasuki Kangin sehingga ia menampar Kyuhyun di pagi hari seperti ini. Jungsoo dan Eunhyuk yang masih ada di ruang makan, bertatapan satu sama lain saat mendengar suara yang begitu keras itu dan berdiri untuk melihat apa yang terjadi.

Tampak Kyuhyun sudah menghadap Kangin namun, ia masih menoleh ke samping sambil memegang pipinya yang mulai memerah akibat tamparan Kangin yang tidak bisa di katakan pelan.

"Kenap kau tidak menyapa kami, anak sial? Apa selain sial, kau juga tidak punya etika, HAH?!" Bentak Kangin tepat di depan Kyuhyun. Sebenarnya Kangin bingung mengapa ia sangat marah melihat Kyuhyun yang tidak menyapa mereka seperti biasanya. Dan ia juga kaget ketika tangannya terangkat begitu saja.

Kyuhyun yang sudah mulai mengangkat kembali wajahnya menghadap ke arah Kangin.

Ia tersenyum sinis dan menghiasi wajah pucatnya. Dan ia mulai mengelap darah di sudut bibirnya akibat tamparan Kangin itu.

"Hahahaha.. Haruskah aku melakukannya terus-menerus? Bahkan selama sebelas tahun ini, setiap aku menyapa ataupun pamit pada kalian, kalian tidak pernah membalasnya atau hanya melirik sinis padaku dan kemudian berlalu begitu saja. Kalian pikir aku tidak lelah? Cih Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran kalian tuan-tuan" Kata Kyuhyun mengungkapkan isi hatinya yang sudah bisa lagi ia bendung.

"Ah.. Bahkan untuk memandangku saja kalian sepertinya sudah jijik dan tidak sudi lagi. Jadi sebaiknya, setelah ini TUAN Kangin sebaiknya mencuci tangan anda dengan baik. Baiklah, karena itu permintaan kalian, maka aku akan berpamitan. Aku pergi dulu, Tuan." Kyuhyun membungkuk hormat pada hyung-hyungnya sebelum akhirnya berjalan meninggalkan rumah itu.

Sedangkan para hyungnya itu masih berdiri di posisi masing-masing dengan kaku.

.

.

Kyuhyun berjalan menuju halte bis tempatnya biasa menunggu bis untuk ke sekolah. Namun selama perjalanan, cairan bening yang berasal dari pelupuk matanya tidak berhenti mengalir walau tidak ada isakan yang keluar dari bibirnya.

'mianhae hyung..' Batin Kyuhyun. Entah mengapa ia tiba-tiba saja melakukan hal tadi secara spontan, dan itu membuatnya tidak berhenti merutuki kelakuannya itu.

Ia benar-benar tidak mengerti kenapa dirinya berubah menjadi seperti itu.

.

.

.

Saat ini Jungsoo sudah tiba di ruangannya di kantor. Ia terlihat kurang fokus untuk membaca berbagai kertas yang harus segera dia tanda tangani.

Ia berhenti sejenak dan memijat pelipisnya. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan terhadap Kyuhyun. Kadang kala ia terus menerus memikirkan adiknya itu, namun juga ia mengikuti egonya yang memang tiap kali mengingat Kyuhyun maka ia juga akan mengingat kejadian itu.

Ia memejamkan matanya. Ia bingung. Sangat Bingung.

Ia kembali teringat apa yang terjadi semalam hingga tadi pagi.

Sebenarnya ia sangat khawatir mengenai keberadaan Kyuhyun. Namun ia tidak menunjukkannya bukan karena tanpa alasan. Ia tidak menunujukkannya karena memang egonya untuk membenci Kyuhyun muncul untuk menghilangkan perasaannya yang bodoh itu. Sesaat setelah Kyuhyun tiba, memang ia memperhatikan wajah Kyuhyun yang terlihat sangat pucat. Ia bingung mengapa Kyuhyun tidak pulang hingga beberapa hari seperti itu. Kalaupun ia akan mengerjakan tugas, ia terlebih dahulu akan izin kepadanya walau tidak mendapatkan jawaban sama sekali.

Kemudian wajah Kyuhyun tadi pagi, tidak ada bedanya dengan semalam. Pucat. Bahkan jika diperhatikan secara seksama, tubuh Kyuhyun itu sangatlah kurus dan wajahnya sangat tirus.

Dan lagi ia dan saudaranya yang lain menemukan darah yang hampir mengering di atas meja makan.

Sudah pasti, maid yang lain tidak akan berada di dapur jika Kyuhyun ada. Maka sudah pasti itu darah Kyuhyun. Tidak ada lagi selain dia. Namun sekali lagi beribu-ribu pertanyaan muncul di benak Jungsoo. Ada apa dengannya? Apa ia sakit? Apa ada sesuatu yang terjadi?

Munafik jika ia tidak penasaran dengan apa yang terjadi dengan adiknya itu. Tapi apa daya.

Ia menghembuskan napasnya kasar dan mencoba fokus kembali dengan pekerjaannya yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya.

.

.

.

Di lain sisi, Kangin yang sudah tiba di kantornya yang memang berbeda dengan Jungsoo setelah mengantar Eunhyuk terlebih dahulu ke sekolahnya. SMA Shinhwa.

Ia terus memikirkan kejadian pagi tadi. Ia memijat pelipisnya sesekali untuk menghilangkan sakit di kepalanya.

Ia bingung, benar-benar bingung, mengapa ia bisa melakukan hal itu? Mengapa tangannya terangkat begitu saja dan menampar Kyuhyun? Mengapa ia bisa memaki Kyuhyun karena tidak menyapa mereka?
Bukankah itu yang mereka inginkan?

Terlebih lagi perkataan Kyuhyun semalam benar-benar membuatnya bingung mengenai apa maksudnya.

'Kalau.. memang kalian tidak bisa menerimaku walau sedetik saja.. aku tidak apa-apa.. Jika memang kalian sudah muak denganku, maka aku akan segera pergi dan lenyap dari hadapan kalian. Tapi kumohon tunggu sebentar lagi.. setelah itu.. aku benar-benar akan menghilang dari pandangan kalian. Tapi setelah aku pergi, aku mohon tetaplah hidup bahagia.'

Perkataan itu terus saja terngiang-ngiang di otaknya.

Ia berkali-kali mencoba memikirkannya namun, ia tetap saja tidak menemukan apa-apa.

.

.

.

Kyuhyun yang sudah tiba di halaman sekolahnya, berjalan lurus tanpa banyak ekspresi menuju kelasnya. Seperti biasa, ia menghiraukan perkataan-perkataan mengenai dirinya meski itu olokan atau apapun itu.

Saat ia sampai di kelasnya, semua mata langsung tertuju padanya. Siapa yang tidak kaget kalau ia membukanya dengan sedikit keras, tidak sedikit memang yang langsung menatapnya sinis.

Ia tiba di bangkunya yang berada di bangku paling belakang dan segera membaringkan kepalanya diatas tumpukan lengannya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Saat ini ia merasa kepalanya seperti akan pecah karena sakit yang ia rasakan begitu membuatnya tidak berdaya dan ia harus memaksakan tubuhnya untuk masuk ke sekolah jika tidak ingin beasiswa dicabut.

Ia tidak mungkin membiarkan itu terjadi karena ia sudah susah payah untuk mendapatkannya.

"Omo! Kyuhyun-ah kenapa kau ada di sini?" pekik Changmin yang kemudian mengecilkan volume suaranya. Jelas saja, ia kaget melihat Kyuhyun sudah ada di kelas saat ini. Bahkan ia belum mendapat info dari Yunho bahwa Kyuhyun sudah boleh keluar dari rumah sakit.

"Ya, Kyuhyun-ah. Waeyo? Apa kau merasa tidak enak badan, eoh?" Changmin yang sudah duduk di tempatnya kemudian menempatkan tangan kirinya di atas punggung Kyuhyun yang sedang merebahkan kepalan di atas meja.

Kyuhyun yang mendengar perkataan Changmin itu, dengan perlahan mengangkat sedikit wajahnya ke arah Changmin namun masih tetap merebahkan kepalanya di atas meja dengan mata terpejam.

"Hmm.. kepalaku agak sakit, Min-ah." Kata Kyuhyun pelan.

"Kalau begitu kenapa kau kabur? Apa Yunho hyung tahu? Ya sudah, kau tidur saja dulu. Sepertinya hari ini Kim seonsaengnim tidak akan masuk jadi kau punya waktu untuk beristirahat sejenak." Kata Changmin sambil mengelus sekilas bahu Kyuhyun.

Sedangkan Kyuhyun kembali melanjutkan istirahatnya .

.

.

.

Seperti biasanya Kyuhyun pergi bekerja ke tempat kerjanya.

Setelah ia selesai di restoran, ia akan segera menuju ke mini market. Namun, di sana ia melihat seseorang yang baru ia lihat sudah berdiri di depan kasir. Ia melirik jam yang ada di tangannya.

Oh bahkan ia baru terlambat 5 menit.

Kyuhyun yang melihat ahjussi pemilik mini market itu di deretan barang-barang, ia segera menghampirinya.

"Ahjussi, jeogiyo." Kata Kyuhyun sopan.

"Ah Kyuhyun-ssi." Jawab ahjussi itu.

"Apa yang terjadi? Apa.. Apa aku di pecat?" kata Kyuhyun yang mengecilkan kata-kata terakhirnya.

"Ne. Mianhae. Dua hari ini kau tidak datang dan tidak ada alasan yang jelas sehingga kau diganti oleh pegawai baru itu. Sekali lagi, mianhae." Kata ahjussi itu yang tersirat rasa bersalah karena melihat wajah Kyuhyun yang berubah sendu.

"Ah.. begitu. Kalau begitu saya pamit ahjussi." Kata Kyuhyun membungkuk sebentar dan berjalan keluar dari mini market itu.

Namu saat ia berjalan belum terlalu jauh dari mini market itu, Ahjussi pemilik mini market itu berlari keluar menyusulnya.

"Kyuhyun-ssi~! Tunggu sebentar.. hosh.. hosh.. hos.." Ahjussi itu beusaha menetralkan nafasnya dan memberikan kepada Kyuhyun sebuah amplop.

"Apa ini, ahjussi?" Kata Kyuhyun memegang amplop dari ahjussi itu.

"Itu gajimu beserta pesangonmu. Terima kasih atas bantuanmu selama ini." Kata ahjussi itu sambil tersenyum dan kembali ke mini marketnya.

Kyuhyun memandang amplop itu dan kemudian memasukkannya ke dalam tasnya dan kembali berjalan pulang.

.

.

.

Kyuhyun sudah tiba di rumahnya. Dan ia berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai.

Para hyungnya yang memang ada di ruang tengah itu hanya melihatnya saja. Entah apa yang ada di dalam hati mereka.

Kyuhyun langsung membaringkan badannya di atas kasurnya yang kecil itu dan memejamkan matanya. Badannya sudah seperti remuk. Ditambah lagi dengan sakit kepalanya yang selalu datang tiba-tiba dan itu menghambat aktifitasnya.

Mengingat penyakit yang saat ini di deritanya benar-benar membuatnya sesak.

Namun, jika memang ini jalan yang Tuhan berikan kepadanya untuk segera menemui appa dan eommanya yang sudah terlebih dahulu berada di surga, maka ia bersedia. Karena ia sudah mendengar sendiri dari hyungnya kalau jika ia pergi, maka mereka akan senang. Dan pastinya Kyuhyun akan melakukannya agar hyungnya tetap tersenyum.

Tak berapa lama ia memejamkan matanya.

To Be Continued

Annyeong readers~

Kimchan datang lagi bawa Chapter 7..

Aku minta maaf banget klo kurang panjang yah.. soalnya ide lagi stuck aja -_-

Buat review, fav, dan follow ff ini aku ucapin banyak-banyak terima kasih karena tetap menyemangati saya~

Oh iya, ff ini alurnya kecepatan yah? Kalau kecepatan aku minta maaf banget .-.

Semua saran akan saya terima tapi, kembali lagi ke cerita yang saya buat apakah idenya cocok atau ga. Tapi saya usahakan semua ide itu saya masukin di dalam ff ini.

Please banget, buat yang Siders tinggalkan jejak yahh..

Oh iya, bisa ga untuk chapter ini dapat 200 reviews? Bukan target juga sih.. tpi aku akan tetap update kok klo pun ga kena 200.. tapi klo bisaa aja hahaha

Last, Would you mind to review this chapter?

- Kimchan97 -