Chapter 8
Cast:
Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun [18]
Park Jungsoo as Park Jungsoo (Kyuhyun's brother 1) [26]
Kim Youngwoon as Park Kangin (Kyuhyun's brother 2) [23]
Lee Hyukjae as Park Eunhyuk (Kyuhyun's brother 3) [19]
Shim Changmin as Kyuhyun's best friend [18]
Genre:
Family, Friendship, Hurt/Comfort, Sad, Angst,
Disclaimer:
All casts belong to God and themself and i just own the story. DLDR! Alur ff ini sudah pasaran jadi mohon di maafkan jika ada kesamaan dengan beberapa cerita yang lainnya. /.\ Tapi saya tidak memplagiat ataupun menjiplak karya author lain karena cerita ini berasal 100% dari pikiran saya dan mungkin memang terinspirasi dari beberapa ff dengan tema brothership yang pernah saya baca tanpa disengaja sama sekali!
Summary:
Perjuangan seorang adik terkecil di keluarga Park untuk mendapat kasih sayang ketiga hyungnya yang selalu menganggapnya tidak ada. Apa yang membuatnya tidak dianggap sama sekali? Bisakah ia mendapat kasih sayang para hyungnya?
"Waktu terus berjalan dan apakah aku bisa?"
- Park Kyuhyun –
Sebelumnya..
Mengingat penyakit yang saat ini di deritanya benar-benar membuatnya sesak.
Namun, jika memang ini jalan yang Tuhan berikan kepadanya untuk segera menemui appa dan eommanya yang sudah terlebih dahulu berada di surga, maka ia bersedia. Karena ia sudah mendengar sendiri dari hyungnya kalau jika ia pergi, maka mereka akan senang. Dan pastinya Kyuhyun akan melakukannya agar hyungnya tetap tersenyum.
Tak berapa lama ia memejamkan matanya.
Happy Reading~!
Selanjutnya..
Drap
Drap
Drap
Seseorang melangkahkan kakinya melalui lorong yang ada di rumah itu. Kemudian ia terhenti sejenak di depan sebuah kamar yang di pintunya dipasangi sebuah papan bertuliskan 'Kyu (규)' yang terlihat agak berantakan pada tulisannya dan sudah terlihat usang.
Ia mengelus sejenak papan itu dan mulai memejamkan matanya sejenak. Memori yang ada di otaknya mengenai itu pun masih terekam dengan jelas bahkan kenangan masa kecilnya itu terasa seperti baru kemarin terjadi.
Perlahan tapi pasti setetes air mata mengalir dari manik orang yang sedang berdiri itu. Entah ia merasa haru atau sedih namun yang jelas air mata yang mengalir dari matanya itu sudah mengalir seperti anak sungai di atas pipinya.
Flashback
"Jungcoo hyungieeeeee" Kyuhyun memanggil hyung tertuanya itu yang sedang duduk di halaman belakang rumah mereka dengan santai. Jungsoo yang menghadap membelakangi Kyuhyun pun segera memutar badannya, dan ia melihat dongsaeng bungsunya ituyang sedang berlari dengan riang sambil membawa pensil dan kertas. Ia kemudian memberikan senyuman angelic yang merupakan ciri khasnya itu pada dongsaengnya.
Sesaat setelah Kyuhyun sampai di dekat Jungsoo, ia pun segera menarik tangan hyungnya menuju ke dalam rumah.
"Hyungie cudah janji pada Kyunie kalau hyungie mau ajarin Kyunie menulis. Jadi cekarang caja yah hyungie." Kyuhyun berbicara dengan mimik muka polos dan penuh dengan ekspresi memelas yang tidak akan pernah membuat Jungsoo tidak luluh saat melihatnya.
Bagaimana tidak, tatapan yang diberika Kyuhyun sudah seperti tatapan anak anjing. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya untuk menolaknya? Tentu saja. Maka itulah yang dirasakan Jungsoo. Ia benar-benar merasa tak berdaya jika dongsaengnya sudah seperti itu.
Apalagi jika ia sudah akan menolak maka Kyuhyun akan berpura-pura sedih dan mempoutkan bibirnya dan... Tada... Ia akan menyetujui keinginan Kyuhyun dan diikuti dengan senyum ceria dari Kyuhyun.
Kyuhyun terus menarik tangannya hingga mereka mencapai ruang keluarga. Kyuhyun mengambil posisi duduk di atas karpet yang ada di sana dan meletakkan peralatan tulisnya begitu saja di karpet itu.
Jungsoo segera mengambil posisi juga di sana dan mulai bertanya,
"Baiklah, Hyung akan mengajar Kyunie, tapi Kyunie harus serius ya~" Kata Jungsoo. Sedangkan Kyuhyun yang masih berusia lima tahun itu hanya mengangguk patuh.
"Hmm.. Bagus. Kita mulai dari menulis nama Kyuhyun dulu yah." Kata Jungsoo lagi. Ia kemudian mengambil kertas dan pensil itu dan mulai menulis di atas karpet sambil memperlihatkan kepada Kyuhyun bagaimana cara menulis namanya dengan baik.
"Nah, seperti ini. Coba kau ikuti." Ucap Jungsoo setelah menyelesaikan tulisan nama Kyuhyun dan segera memberikan kertas itu pada Kyuhyun.
Kyuhyun mengambilnya dan segera mencoba. Ia berusaha meniru apa yang telah Jungsoo tulis di kertas itu. Sesekali ia mengeluarkan lidahnya dan terus menulis hingga ia selesai dan memperlihatkan hasil tulisannya.
"Hyung, bagaimana?" Kata Kyuhyun polos. Jungsoo melihatnya dan mengancungkan jempolnya pada Kyuhyun.
"Wahhh.. Itu sudah bagus. Kau memang dongsaeng hyung yang paling pintar. Sekarang ulangi terus yah. Hyung ingin mengambil sesuatu dulu." Jawab Jungso sambil mengacak rambut dongsaengnya kemudian berdiri dan melangkah menuju kamarnya.
"Ne, hyungie." Kyuhyun kembali dengan aktifitasnya yang mencoba menulis namanya dengan baik.
Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan sebuah papan berwarna biru dan spidol hitam.
"Cha, hyung bawakan ini untuk Kyunie. Karena sepertinya Kyunie sudah semakin bagus. Sekarang tulis Kyu saja, dan kita memejangnya di depan kamarmu." Kata Jungsoo.
"Uwaaaa... Gomawo Hyungieee.. Kyunie sayang Jungcoo hyungieee." Kata Kyuhyun sambil merebut spidol di tangan Jungsoo dan menuliskan namanya di atas papan itu.
Ia benar-benar serius saat menulisnya. Setelah selesai, Jungsoo segera menggendong Kyuhyun dan membawanya ke depan kamar bocah itu yang tertutup. Sudah tersedia sebuah kaitan untuk menggantung papan itu di pintu kamar Kyuhyun.
"Biar aku caja, hyungie.." Kyuhyun memajukan badannya dan memasang papan itu.
"Cantik hyungie.." Kyuhyun benar-benar takjub.
"Eung.. Kyunie harus menjaganya dengan baik yah." Jungsoo tersenyum dengan lembut pada dongsaengnya yang masih ada di gendongannya.
End of flashback
Jungsoo membuka kembali matanya yang terpejam sedari tadi karena mengenang masa lalunya bersama Kyuhyun.
Ia sebenarnya ingin masuk ke dalam kamar itu namun ia kembali mengurungkan niatnya.
Ia kemudian melangkah kembali, dan bergegas menuju ke kamarnya yang terletak di lantai dua.
.
.
.
Di hari minggu yang indah ini, dimana seharusnya anak-anak usia sebayanya menghabiskan waktu di rumah ataupun berjalan-jalan bersama keluarga atau temannya, Kyuhyun harus berjalan menyusuri jalanan trotoar di salah satu jalanan besar di kota Seoul.
Ia berjalan bukan tanpa tujuan, melainkan mencari pekerjaan lain untuknya karena ia sudah di pecat dari mini market, jika mengandalkan gajinya dari restoran saja mungkin masih belum cukup sehingga ia harus mencari pekerjaan lagi.
Sudah ke puluhan tempat ia datangi untuk mencari tempat part time yang pas bagi dirinya yang masih merupakan anak SMA namun sepertinya belum ada yang menerima sama sekali ataupun belum pas.
Tapi ia melangkah ke sebuah cafe, Mouse Rabbit, Ia masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan wajah gembira. Kenapa? Karena ia diterima bekerja, dan sesuai dengan waktunya.
Sudah jam 1 siang. Itu berarti ia harus segera kembali untuk menyiapkan sarapan serta membersihkan rumahnya yang besar itu. Walaupun ada maid dan tukang kebun, namun ia harus tetap melakukannya karena mereka sudah diperintahkan oleh hyungnya untuk tidak bekerja saat Kyuhyun bekerja.
Kruyukk
Bunyi perutnya menghentikan langkahnya. Ia berpikir sejenak dan masuk ke sebuah mini market dan mengambil roti dan air putih. Setidaknya cukup untuk mengganjal perut itu saja sudah cukup untuknya.
Ia kembali berjalan hingga tiba di rumahnya yang besar itu dan segera melakukan pekerjaannya tanpa di perintah sama sekali.
Memasak makan siang, mencuci pakaiannya sehari-hai, dan membersihkan halaman. Itulah yang ia kerjakan saat siang hingga sore pada hari minggu.
Tapi... Sakit kepala yang begitu menusuk tiba-tiba muncul dan menyerangnya begitu saja saat ia akan masuk ke dalam rumahnya setelah menyelesaikan tugas terakhirnya.
Ia memegang kepalanya dengan begitu erat. Matanya yang sudah tidak bisa melihat secara fokus akibat sakit di kepalanya. Ia berusaha melihat apa yang ada di depannya, tapi benar-benar terlihat kabur sehingga ia tidak bisa melakukan apa-apa selain memegang kepalanya.
"Akhhhh!" Ia memekik nyaring dan jatuh berlutut di atas lantai marmer rumah itu. Tidak ada yang pernah merasakan kepalanya sesakit ini.
'Oh Tuhan. Apakah sudah semakin parah?' batinnya dalam hati.
Tiba-tiba cairan pekat berwarna merah mengalir deras dari hidungnya tanpa ia sadari.
Sebenarnya sedari tadi, Jungsoo dan Kangin sudah berada di tangga saat mendengar pekikan kesakitan dari Kyuhyun itu. Namun, tidak ada dari mereka yang berusaha untuk meredakan kesakitan yang Kyuhyun alami itu.
Bertanya dimana Eunhyuk? Eunhyuk sedang keluar bersama sahabatnya untuk bersenang-senang.
Badan Kyuhyun kemudian oleng lalu jatuh di atas lantai marmer itu dengan mata marmer itu dengan mata yang masih terbuka dan menatap kosong di depannya dan sepertinya napasnya juga terlihat melemah karena ia sudah mulai menarik napas lewat mulutnya, namun itu terasa sangat lemah. Ia sudah benar-benar seperti tidak merasakan tubuhnya lagi.
Mata Kangin dan mata Jungsoo membulat saat melihat dongsaengnya itu sudah tergeletak tak berdaya dengan hidung yang terus mengeluarkan darah hingga menodai lantai disekitarnya.
Jungsoo yang pertama sadar dari keterkejutannya itu, segera menuruni tangga dan berlari menuju tempat Kyuhyun tergeletak. Ia berlutut dan mengangkat kepala Kyuhyun itu ke atas pahanya.
"YA! KYUHYUN-AH! KAU KENAPA?! SADARLAH!" Ia menepuk-nepuk wajah Kyuhyun, namun seperti tidak ada respon apa-apa dari Kyuhyun. Matanya sudah setengah terpejam. Tanpa Jungsoo sadari, ia sudah berurai air mata. Ia kembali mengulangi kegiatannya yang tadi. Namun tidak ada gunanya.
Karena tidak mendapat respon, Ia segera mengambil tubuh ringkih Kyuhyun dan membawa ke atas punggungnya dan segera menuju kekamar Kyuhyun yang terletak hampir di belakang rumah.
Baru ia sadari kalau tubuh Kyuhyun begitu ringan. Ia berpikir, apakah dongsaengnya itu baik-baik saja?
Di lain sisi, Kyuhyun yang sudah begitu lemah dan sudah tidak bisa menahan matanya lagi dan ia pingsan di punggung Kyuhyun dengan senyuman tipis.
.
.
Bisa dilihat betapa paniknya Jungsoo. Saat ini, ia benar-benar sudah melupakan dan tidak mengingat apa-apa lagi. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Kyuhyun saja. Ia begitu kebingungan saat ia sudah membaringkan Kyuhyun di kasurnya yang kecil itu.
Ia berpikir sejenak dan membuka baju Kyuhyun yang sudah ada bercak darah yang tidak sedikit itu. ia kemudian mengambil baskom dan air serta handuk kecil untuk menghilangkan darah dari hidung Kyuhyun yang sudah berada di pipinya itu. Dengan telaten ia mengusapnya hingga semua darah itu menghilang dari wajah Kyuhyun dan yang sekarang ia lihat hanya wajah Kyuhyun yang begiu pucat.
Ia segera mengambil baju Kyuhyun dari lemari dan ia hanya melihat beberapa lembar baju, beberapa setel seragam sekolah Kyuhyun, celana, dan beberapa helai pakaian dalam saja di dalam lemari kecil itu. Lagi-lagi kenyataan miris yang dihadapkan padanya saat ini benar-benar mengiris hati.
Bagaimana bisa ia menelantarkan dongsaeng terkecilnya itu hingga seperti ini. Bagaimana bisa? Ia terus merutuki apa yang sudah ia perbuat selama sebelas tahun belakangan ini.
Ia sudah mengambil satu baju dan memakaikannya pada tubuh Kyuhyun.
"Eungh..." Kyuhyun melenguh pelan dan mengernyitkan dahinya seperti kesakitan. Jungsoopun menghampirinya dan menemukan bahwa Kyuhyun terlihat kesulitan bernapas.
"Omo! Kyu.. Kau kenapa saeng? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ia semakin panik. Ia segera merogoh kantongnya dan menelpon seseorang.
Tut..
Tut..
Tut..
"ayolah cepat angkat.." Kata Jungsoo gelisah.
Klik..
"Yeoboseyo.. Jungsoo-hyung." Kata seseorang dari seberang sana.
"Oh Yunho-ya.. Kumohon kau segera kemari, aku akan segera mengirimkan alamat rumahku. Ini benar-benar mendesak. Disini dongsaengku sedang kesakitan, ia.. ia sulit bernapas. Kumohon Yunho-ah." Kata Jungsoo gelabakan. Panik, bingung, sedih, bercampur menjadi satu.
"O-Oh.. Baiklah aku akan segera kesana dan membawa tabung oksigen. Jangan panik. Jika ia sudah terlihat semakin lemah dalam bernapas, lakukan CPR atau beri napas buatan untuk tindakan awal." Jawab Yunho sambil menenangkan dan mengarahkan Jungsoo.
"Ne.. cepatlah." Ia segera menutup sambungan teleponnya dengan Yunho dan segera mengirim sebuah pesan kepada Yunho mengenai alamat rumahnya.
Bingung kenapa Yunho bisa mengenal Jungsoo? Itu karena Jungsoo dan Yunho Kuliah di Universitas yang sama namun berbeda Jurusan yaitu, Jungso dengan Jurusan Bisnisnya dan Yunho dengan Jurusan kedokterannya. Mereka bertemu lantaran suruhan seorang dosen. Namun karena itulah yang membuat mereka dekat dan kemudian menjadi sahabat karib. Namun, Yunho tidak tahu kalau Kyuhyun merupakan dongsaeng dari Jungsoo.
Jungsoo berjalan mondar-mandir disamping ranjang Kyuhyun.
"h-hy-hyungggghhh.." Suara Kyuhyun yang menyerupai sebuah bisikan itu tetap masih bisa di dengar oleh Jungsoo. Jungsoo segera menghampiri Kyuhyun dan menggenggam tangan dongsaengnya itu. Tangan itu sangat dingin, ia merasa bulu romanya berdiri karena dinginnya.
"Iya, Kyu... Hyung ada di sini.. Kau harus bertahan, ne? Dokter akan segera datang.." Kata Jungsoo. Entah mengapa Kyuhyun seperti merasa tenang.
.
.
.
Yunho sudah tiba tepat di depan pintu masuk rumah itu. Ia segera membuka bagasi dan menyuruh penjaga yang ada di sana untuk membantunya membawa peralatan itu. Ia juga meminta diantar ke ruangan dimana adik Jungsoo itu berada. Ia kaget saat melewati lorong sempit itu. Ia berpikir keras.
Namun saat pelayan yang ada di depannya itu membuka pintu, aku sudah melihat bahu Jungso yang menunduk sambil menggenggam tangan dongsaengnya itu.
Yunho belum melihat wajah dongsaeng Jungsoo itu. Ia segera masuk dan mempersiapkan tabung oksigen itu. Namun, saat ia akan memasangkan alat itu, ia terlonjak kaget.
Ia yakin itu adalah Kyuhyun. Sahabat dari Changmin, sekaligus pasiennya yang kabur dari rumah sakit. Ia merasa membeku di tempat.
.
.
.
.
To Be Continued
Annyeong readers, Kimchan balik lagi dengan chapter 8..
Aku mau ngasih tau kalau aku sudah mempertimbangkan dan memutuskan kalau saya tidak akan hiatus, dan tetap melanjutkan ff ini hingga akhir. Jadi jangan khawatir.
Saya berterima kasih banget buat yang sudah memberi saya semangat dengan berbagai kata-kata baik melalui review ataupun pm. Saya benar-benar tidak tahu mau ngucapin apa lagi selain Terima kasih yang sedalam-dalamnya.
TERUTAMA, buat jiyeoon eonni yang udah ngeluangin waktu untuk memberikan motivasi dan semangat pada saya. Terima Kasih eonni.
Dan yang masih mau nuduh saya kalau saya itu meniru karya orang terutama ff ME, tolong untuk dipikir-pikir lagi. Dan lagi, baca dulu keselurahan dari chapter 1 hingga chapter yang baru-baru saja yang saya update. Apa tidak ada perbedaan sama sekali? Tapi terserah aja penilaianya gimana. Yang jelas, saya tekankan kalau SAYA TIDAK MENJIPLAK KARYA ORANG. FF dengan tema brothership seperti ini, serta dengan cast Kyuhyun sebagai sosok yang menderita, semua alurnya hampir sama kok dan pasaran banget aku akuin itu. Tapi tergantung dari cara masing-masing penulis bagaimana cara menyampaikannya. IDE BOLEH SAMA TAPI GAYA PENULISAN ITU PASTI BEDA. Dan pastinya pikiran tiap orang beda-beda. Alur cerita disesuaiin dengan penulisnya. Dia mau menulis seperti itu, adalah haknya yang mutlak. Namun, kalau memang menjiplak, maka itu yang seharusnya di beritahu atau di beri kritikan.
Untuk semua reader setia ff ini saya ucapkan Terima Kasih sebanyak-banyaknya.
Kembali ke topik, saya akan membuat para hyungnya Kyu, satu persatu akan melunak ama Kyuhyun dan menyesal. Tapi sad end atau engganya tergantung ama saya aja yah huahahahahaha
Ada saran lagi ga buat chapter depan? Saya butuh banget saran dan ide-ide baru. Yang ada di pikiran saya Cuma ide menjelang ff ini selesai. Selebihnya belum ada sama sekali. Jadi dalam review mohon beri sedikit saran atau ide. Walaupun sedikit aja.. Tpi itu sangat berarti lho.
Typos mohon dimaafkan karena saya tidak edit. Jika ada kesalahan kata mohon maafkan saya *bow
Last, Mind to review this Chapter? ;)
Thank Youuuu
- Kimchan83 -
