"Jangan libatkan aku! Lepaskan aku―!"

Gakushū memberontak untuk melepaskan diri dari gengaman kedua tangan kekar Ayahnya yang mencoba untuk melucuti pakaian pelajar SMP tersebut.

Wah.


- Unexpected Experience -

.

Assassination Classroom © Yuusei Matsui

.

Fanfiction Laknat keluarga Asano, hanya untuk memenuhi asupan semata dan memenuhi permintaan mereka. Kemungkinan OOC, konten dewasa, typo, dll(?)

Don't like?

Don't read.


Jika diberikan kekuatan untuk mengembalikan waktu, tentu saja remaja berhelai pirang stroberi itu menginginkan waktu kembali dimana dia tidak dapat melihat pemandangan memalukan yang telah tertangkap oleh kedua indera pengelihatan. Sial sekali, ya, hari ini adalah hari sialnya. Kedua kelopak mata pemuda itu terpejam begitu erat seraya kepala dengan helai pirang stroberi menggeleng kuat, badan berbalik dan hendak melangkah menjauh. Namun, nampaknya tubuhnya tertahan oleh salah satu tangan kekar yang menahan tangan kanannya. Dan, ternyata ayahnya telah melepaskan persatuan tubuh dengan ibunya, tentu saja, sosok itu telah kembali menyembunyikan daerah privasinya di balik celana yang belum terlepas sama sekali.

"Kau ingin kemana, nak?" tanya Gakuhō kepada anak semata wayangnya, kalimat pertanyaan itu membuat bulu kuduk Gakushū merinding―serta detak jantung yang berhenti selama beberapa detik.

Oh, sialan.

Umpatan-umpatan mulai memenuhi batin sang remaja, dengan berat hati dia pun menjawab, "Saya ingin kembali ke kamar, Pak." Jawabnya, berusaha untuk tidak terlihat panik. Padahal, batinnya sedari tadi sudah merutuk dan meraung kala tangan kekar ayahnya menahan salah satu tangannya.

Lepaskan aku, dasar Pak Tua sialan!

Apa yang didapatkan tidaklah sesuai dengan ekspetasinya dimana tangannya yang tertahan dilepas, justru tangan kekar ayahnya itu bertambah. Ya, tubuh yang lebih mungil sosok itu pun ditahan sepenuhnya sebelum ditarik ke belakang dan menyeret sosok tersebut untuk mendekati sang ibu.

"A-Akh, sakit! Lepaskan aku!"

Gakushū meringis kala tubuhnya terpaksa mengikuti tubuh yang menarik, parahnya lagi dengan posisi yang sangat tidak enak dan menyakitkan. Jeritan yang keluar dari remaja itu membuat wanita berhelai pirang itu membuka suara, "Sayang, jangan kasar begitu dengan Shū…"
Paras wanita itu terlihat khawatir dengan kondisi anak semata wayangnya. Gakuhō menjawab, "Tenang saja."
Jawaban itu membuat Gakushū merasa jengkel, untungnya dia telah sampai di tempat ibunya berada. Setelah itu yang muda pun mengeluarkan protes, "Apa yang akan kau lakukan padaku? Aku ingin kembali ke kamar, Pak."
Seperti biasa, Gakushū tidak ingin memanggil ayahnya dengan sebutan 'ayah'. Dan, yang muda masih saja bersikeras untuk melepaskan diri.

Tentu saja, Gakushū mengharapkan balasan yang menyenangkan hati. Apalagi jika bukan dibiarkan kembali ke kamarnya dan belajar? Tetapi, apa yang didapatkan adalah hal yang sebaliknya, dimana sang ayah mengeluarkan sesuatu dari kantong pakaian atas yang masih dikenakan, sebuah botol kecil berisi cairan. Cairan apakah itu? Gakushū mengetahui keberadaan sebuah botol kecil itu dalam genggaman tangannya, namun dia tidak menyangka jika ayahnya akan memaksanya untuk meminum cairan yang ada dalam botol kecil tersebut. Salah satu tangan kekar bergerak menuju kedua ruas pipi Gakushū kemudian menghimpit kedua ruas pipi tersebut dengan satu tangan, membuat rongga mulut sang anak terbuka dengan paksa. Hal tersebut tentu saja membuat Gakushū semakin berontak, sebenarnya, apa yang diinginkan oleh ayahnya itu?!

"L-Lwepaskwan!" titah yang lebih muda dari yang lebih tua, namun tentu saja Gakuhō lebih kuat dibandingkan oleh Gakushū, hingga akhirnya sosok pria berhelai cokelat kemerahan tersebut berhasil membuat Gakushū mendongak dan menelan cairan yang diberikan oleh sang ayah secara paksa.

Sialan, obat ini―!

Gakushū tahu obat apa ini, mengapa ayahnya memberikan obat ini kepadanya yang notebanenya masih berumur 15 tahun?! Dia benar-benar tak tahu jalan piker sang ayah, usai menelan cairan yang minum secara paksa, kepala Gakushū merasa pusing pun tubuh yang tiba-tiba saja menjadi panas dan lemas. Nampaknya, cepat sekali obat tersebut beraksi. Gakuhō pun akhirnya melepaskan sang anak sebelum akhirnya kembali mengantongin botol kecil berisi obat yang telah diberikan paksa pada Gakushū ke dalam tempat semula, yaitu saku pakaian atas yang dikenakan.

Tubuh Gakushū terasa oleh hingga akhirnya hampir terjatuh, untunglah yang lebih tua dengan sigap menahan tubuh yang lebih mungil darinya itu lalu menyerahkannya kepada sang ibu. "Tahan dia, aku akan melucuti pakaian yang dikenakan oleh Asano-kun."
Apa yang dikatakan oleh ayahnya berhasil membuat Gakushū terbelalak disela-sela nafasnya yang mulai tersenggal, Anna merasa iba dengan putranya yang harus diikuti dalam permainan mereka. Ya, wanita itu tahu jika Gakushū akan diikut sertakan dalam permainan panas sepasang suami-istri. Ini tidaklah benar, namun sejujurnya, Anna pun tidak begitu mengerti jalan pikiran suaminya. Apakah memang benar Gakuhō mabuk atau memang sengaja ingin mengikut sertakan Gakushū? Itu masihlah sebuah misteri.

"Baiklah..." balas sang nyonya Asano, kedua tangannya menahan kedua tangan Gakushū agar tidak dapat berontak, yah walaupun―tenaga yang lebih muda telah terkuras habis karena efek dari obat yang disebelumnya dipaksa oleh sang ayah untuk dikonsumsi. Gakushū segera membuka suara untuk melayangkan protes kepada sang ibu, "Tidak, lepaskan aku, ibu―!" suara yang berhelai pirang stroberi itu mulai terdengar serak, dari raut parasnya juga sosok itu memohon untuk dilepaskan.
Sungguh, tak tega. Namun, Anna juga tidak ingin menolak permintaan suaminya.

Maafkan aku, Shū...

Sang ibu hanya dapat merespon kalimat putranya di dalam hati, disisi lain, kedua tangan kekar milik Gakuhō mulai bergerak menuju pakaian atas yang dikenakan oleh Gakushū. Perlahan namun pasti, jika memang pria berhelai cokelat kemerahan itu ingin terus bermain kasar, bisa saja dia merobek pakaian yang dikenakan Gakushū.

"TIDAK, LEPASKAN AKU―!"

Bahkan, genangan air bening mulai mengumpul di kedua sudut mata milik si helai pirang stroberi, tubuh lemasnya juga mulai menggeliat untuk melepaskan diri. Kasihan sekali dia. Tidak berdaya di hadapan kedua orang tuanya.


- To be continued -


Hi, long time no see.
Akhirnya saya punya motivasi untuk melanjutkan fanfict ini. Maaf jika chapter 2 ini terasa pendek, karena saya tiba-tiba terserang writer block /GAK.
Silahkan beri saran, kritik dan review. Itu semua akan berharga bagi author newbie macam saya. ~
Udah segini dulu, see you next chapter~