Chapter 13

Cast:

Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun [18]

Park Jungsoo as Park Jungsoo (Kyuhyun's brother 1) [26]

Kim Youngwoon as Park Kangin (Kyuhyun's brother 2) [23]

Lee Hyukjae as Park Eunhyuk (Kyuhyun's brother 3) [19]

Shim Changmin as Kyuhyun's best friend [18]

Genre:

Family, Friendship, Hurt/Comfort, Sad, Angst,

Disclaimer:

All casts belong to God and themself and i just own the story. DLDR! Alur ff ini sudah pasaran jadi mohon di maafkan jika ada kesamaan dengan beberapa cerita yang lainnya. /.\ Tapi saya tidak memplagiat ataupun menjiplak karya author lain karena cerita ini berasal 100% dari pikiran saya dan mungkin memang terinspirasi dari beberapa ff dengan tema brothership yang pernah saya baca tanpa disengaja sama sekali!

Summary:

Perjuangan seorang adik terkecil di keluarga Park untuk mendapat kasih sayang ketiga hyungnya yang selalu menganggapnya tidak ada. Apa yang membuatnya tidak dianggap sama sekali? Bisakah ia mendapat kasih sayang para hyungnya?

Note:

Buat para readers yang tidak punya akun, tetep bisa ngerevie yah. Tinggal isi kolom nama aja (atau bisa dikosongkan) trus review. Gampang kan? Review kalian itu adalah bayaran atas tulisan saya, jadi jangan lupa untuk tinggalkan jejak ^^

Sebelumnya..

"Lakukan saja, Yunho-ya.. Lakukan saja jika itu dapat membuat Kyuhyun sembuh.. Aku tidak ingin kehilangannya.. Ku mohon.. hiks.." Jungsoo kembali mengeluarkan air matanya.

"Tenanglah hyung.. Kemoterapi itu tidak dapat menyembuhkan Kyuhyun tapi bisa memperlambat laju perkembangan sel kanker itu."

"Kumohon lakukan apapun Yunho-ya.." Jungsoo memohon dengan air mata yang membasahi pipinnya.

HAPPY READING~!
Selanjutnya..

Setelah berbicara dengan Yunho di ruangannya, Jungsoo kembali ke ruang rawat dongsaengnya yang sedari pingsan. Ia melangkah pelan.

Ia sudah tiba di depan ruang rawat Kyuhyun, dan ia membuka pintu itu dengan perlahan agar tidak mengganggu orang yang ada di dalamnya. Lalu ia melangkah dan menutup kembali pintu itu dengan perlahan kemudian berjalan kecil sehingga tidak menimbulkan suara di ruangan yang serba putih itu.

Matanya langsung tertuju pada sebuah objek yang sedang berbaring di ranjang dan menutup kedua manik onyxnya. Ia benar-benar seperti tertidur dengan damai layaknya anak berusia 5 tahunyang begitu polos. Dan ia melirik sekilas pada infus beserta tiangnya yang sudah berdiri dengan tegak di samping kiri ranjang sang adik dan selang kecil yang ada di infus itu terhubung dengan sebuah jarum yang sudah tertancap di tangannya untuk memberikan cairan yang diperlukan oleh tubuh anak itu.

Jungsoo kemudian melangkah menuju ke samping kiri ranjang Kyuhyun lalu mendudukkan dirinya di atas kursi yang sudah tersedia di samping ranjang itu. Dan memperhatikan wajah sang adik dengan intens tanpa melakukan apapun.

Waktu terus berlalu dan sekarang sudah menunjukkan pukul satu siang. Itu berarti sudah empat jam Kyuhyun pingsan dan belum menunjukkan tanda-tanda untuk sadar.

Jungsoo masih setia duduk di samping adiknya.

Namun ia merasa sebuah pergerakkan kecil timbul dari jari jemari sang adik dan itu membuatnya menegakkan badannya karena kaget. Ia merasa seperti hanya berkhayal dengan apa yang baru saja ia rasakan itu. Ia memfokuskan dirinya pada tangan adiknya yang ia genggam sedari tadi. Dan sekali lagi, Kyuhyun menggerakkan kecil jarinya.

"H-yungh.." terdengar suara lemah dari bibir Kyuhyun namun sang pemilik belum memperlihatkan manik onyx indahnya itu yang sedari tadi bersembunyi di balik kelopak matanya.

"Kyunnie.. buka matamu dongsaeng-ah.." Ucap Jungsoo setelah mendengar lirihan Kyuhyun yang ditangkap gendang telinganya karena ruangan itu benar-benar sepi.

Seperti sebuah sihir, kedua mata Kyuhyun terbuka dengan perlahan. Ia terfokus dengan warna putih yang ia lihat – langit-langit ruangan itu. Ia kemudian menyesuaikan penglihatannya dan melirik ke samping dengan gerakan lemah.

"Hyung.." Ia melirik Jungsoo dan menutup matanya sejenak sambil mengukirkan senyum manis namun terkesan lemah karena kondisinya.

Kyuhyun kembali membuka matanya dan menatap Jungsoo degan pandangan yang bisa dibilang sayu.

"Akhirnya kau bangun.. Kau tahu, hyung sangat mengkhawatirkanmu.." Jungsoo mengelus tangan Kyuhyun.

"Mianhae.." Kata Kyuhyun dengan lirih itu membuat Jungsoo terenyuh. Kenapa harus adik kecilnya ini yang meminta maaf terlebih dahulu. Seharusnya dia yang meminta maaf karena tidak becus menjaga adiknya. Bahkan ia tidak tahu adiknya merasa sangat kesakitan akibat penyakit sialan yang menggerofoti tubuh adiknya entah sejak kapan.

"Pasti.. ak-aku.. membuat hyung.. khawatirkan?" Ia masih susah untuk mengeluarkan suatu kalimat yang panjang dan membuatnya sedikit tersendat-sendat saat mengucapkannya.

"Kau tidak salah Kyunnie-ah.. Hyung yang bersalah karena tidak memperhatikan kondisimu tadi." Ucap Jungsoo sekali lagi.

Jungsoo melanjutkan. "Kalau kau merasa tidak enak badan, langsung katakan pada hyung.. Hyung tahu kau pasti tidak ingin membebani hyung, tapi tidak dengan menahan rasa sakitmu sendirian, Kyuhyun-ah."

Kyuhyun menganggukan kepalanya tanda mengiyakan perkataan Kyuhyun. Memang, semua yang dikatakan Jungsoo itu seluruhnya benar.

"Kau tahu kan kalau hyung akan sangat sedih jika kau menyimpannya sendiri dan tidak ingin berbagi dengan hyung. Hahh.. sudahlah.. Hyung akan panggil Yunho untuk memeriksa kondisimu terlebih dahulu."Jungsoo kemudian bangkit dari tempat duduk yang sudah sedari tadi ia duduki selama berjam-jam untuk menunggu Kyuhyun siuman. Lalu ia keluar dari kamar itu.

.

"Kondisi Kyuhyun sudah membaik dibandingkan dengan tadi. Tapi aku akan memberikan jadwal kemoterapinya nanti malam karena seperti prediksiku sebelumnya kalau sel kanker yang ada di tubuhnya memang berkembang sangat cepat sehingga ia bisa drop seperti ini dan kemoterapi pertama harus dilakukan besok." Kata Yunho panjang lebar sambil melepaskan kacamata minus yang bertengger di mukanya entah berapa jam.

Kyuhyun sudah kembali tidur karena saat Yunho memeriksanya Yunho menyutikkan obat tidur agar waktu istirahatnya lebih banyak sehingga ia tidak mendengar apa yang dibicarakan hyung dan Yunho – dokter yang menanganinya.

"Ne. Lebih cepat lebih baik." Kata Jungsoo menanggapi ucapan Yunho. Ia lalu melihat wajah Kyuhyun yang sedang tertidur yang terlihat seperti malaikat. Benar-benar polos dan begitu lucu. Dalam hati kecilnya, ia begitu menyesal karena ia membenci Kyuhyun hingga ia melewatkan waktu lebih dari sebelas tahun untuk menghibur, bermain, merawat adiknya itu. 'Aku benar-benar bodoh' Batin Jungsoo.

"Hyung. Jujur saja, aku begitu kaget saat kau memanggilku ke rumahmu untuk memeriksa Kyuhyun." Yunho duduk di sofa yang ada di ruangan itu dan Jungsoo pun duduk di sana juga. Yunho yang sudah tidak memiliki jadwal yang lain pun tinggal untuk berbincang-bincang dengan temannya saat di kampus dulu walaupun berbeda jurusan.

"Yah.. Aku juga kaget kalau kau adalah dokter yang menangani adikku. Hah.. Betapa bodohnya aku." Kata Jungsoo. Ia menutup matanya dan menyadarkan lehernya di sandaran sofa itu kemudian menutup matanya dengan lengan kanannya.

"Kau tahu.. saat pertama kali ia dibawa kesini, keadaannya begitu mengenaskan. Bibir yang sudah hampir membiru, napas yang sangat lemah, darah yang keluar dari hidungnya tanpa henti, bahkan suhu tubuhnya sudah seperti es batu, sangat dingin. Aku sangat kasihan padanya." Kata Yunho. Ia menghela napas sejenak.

"Kata anak yang membawanya kesini, dia terkunci di dalam toilet sekolahnya selama berjam-jam dan ia menemukan Kyuhyun saat sudah hampir petang. Bisa kau bayangkan berada di dalam toilet yang lembab dan diudara sedingin itu?" Lanjutnya panjang lebar.

"Setelah memeriksanya, aku menemukan kelainan di otaknya dan ternyata dugaanku benar. Aku menanyakannya saat adikku, Changmin, berada di sekolah dan kondisi Kyuhyun yang mulai agak membaik saat itu.." Sekali lagi Yunho menjelaskan pengalamannya yang sebelumnya.

"Kau tahu, Yun? Aku sungguh merasa bersalah padanya. Hah.. bahkan sepertinya aku sudah tidak pantas dipanggil seorang hyung karena sikapku padanya yang mendiamkannya bahkan memusuhinya sebelas tahun lebih. Seharusnya aku menjaga dan menenangkannya karena ia juga sama sedihnya dengan kami saat itu." Jungsoo merutuki dirinya sendiri.

Mereka berdua terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Hyung, aku akan ke ruanganku terlebih dahulu. Aku akan segera kembali dengan jadwal kemoterapi Kyuhyun." Yunho berdiri dan pamit kepada Jungsoo.

"Ne." Jawab.

Setelah Yunho keluar dari kamar itu Jungsoo segera mengambil ponselnya yang sedari tadi terus berada di dalam kantong celananya.

Ia mengutak-atik sebentar kemudian ia melepaskan pandangannya dari layar ponselnya.

Sebenarnya sedari tadi, ia mengetik pesan yang ia kirim kepada Eunhyuk dan Kangin bahwa ia tidak akan pulang karena ia mendapat tugas di luar kota mendadak selama dua hari ke depan.

Itu adalah alasan yang cukup bagus untuk menemani Kyuhyun melakukan kemoterapi tanpa memberitahu yang sebenarnya kepada Kangin dan Eunhyuk.

Ia beranjak dari sofa yang ada di pojok ruangan itu, dan kembali duduk di bangku yang ada di samping ranjang Kyuhyun. Setelah itu, ia menggenggam tangan sang adik dengan lembut dan menyalurkan kehangatan yang dimilikinya kepada sang adik yang tangannya terasa dingin.

Tak berapa lama, rasa kantuk sudah dirasakan oleh Jungsoo. Ia merebahkan kepalanya di atas ranjang Kyuhyun kemudian jatuh tertidur dalam posisi duduk.

.

.

.

.

Eunhyuk yang sudah tiba terlebih dahulu di rumahnya. Tidak ada tanda-tanda para hyungnya yang sudah terlebih dahulu. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk di kamarnya untuk beristirahat.

Saat ia telah duduk di atas ranjangnya, ia merasa sesuatu bergetar di kantong celananya.

Drrt Drrtt

Ia kemudian mengambilnya, kemudian membuka ponselnya. Ternyata ia mendapatkan sebuah pesan dari sang hyung yang mengatakan bahwa hyungnya akan ada di luar kota.

Setelah membaca pesan itu, ia membaringkan badannya. Ia menutup mata sejenak dan ada bayangan Kyuhyun yang tiba-tiba saja muncul di benaknya.

Ia bangkit lagi dan mengacak rambutnya.

"Aishh.. ada apa dengan ku?" Teriaknya tidak dengan volume penuh.

"Tapi... saat di sekolah tadi, aku tidak melihatnya dimanapun.." Eunhyuk mulai berpikir. Benar, sedari tadi ia tidak melihatnya dimana pun. Biasanya ia sudah akan melihatnya di koridor sambil berjalan menunduk sebelum bel masuk, saat jam istirahat ia akan berada di kantin sendirian namun sekarang ia sudah tidak sendiri lagi, ia sudah teman.

Eunhyuk menutup matanya dan mengacak rambutnya sendiri. 'Aish, apa yang kupikirkan ini? Buat apa memikirkan anak sial itu. Babo!' Ia berguman di atas tempat tidurnya. Lalu ia bangkit dan membersihkan tubuhnya, ia sudah cukup lelah dengan kegiatannya di sekolah hari ini.

.

.

.

From : Jungsoo hyung

Text : Aku ada tugas keluar kota mendadak hari ini dan mungkin akan kembali 2 hari ke depan.

Kangin membaca pesan dari hyungnya itu.

Sekarang ia berada di depan kantornya karena semua urusannya sudah selesai, jadi ia ingin sesegera mungkin untuk kembali ke rumahnya kemudian beristirahat dengan tenang.

Ia memasuki mobilnya yang akan membawanya kembali ke rumahnya.

.

.

.

.

Fajar sudah mulai menyingsing. Terlihat di sebuah ruangan serba putih – ruang rawat – ada dua orang yang sedang tertidur namun bedanya adalah yang satunya berada di atas kasur khas rumah sakit dengan wajah yang pucat sedangkan yang lainnya sedang tertidur sambil terduduk di atas sebuah kursi yang berada di samping kasur itu.

Cahaya matahari sudah mulai menelusup masuk melalui celah-celah jendela di ruangan itu, membuat seseorang yang sedang terbaring di atas ranjang mulai merasa terganggu. Ia perlahan membuka matanya. Sedikit demi sedikit mata onyxnya itu sudah mulai terlihat. Saat ia ingin menggerakkan tangannya, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal, tapi saat ia menoleh terlihat hyungnya tertidur sambil menggenggam tangannya dan wajahnya sungguh terlihat seperti malaikat.

Ia merasa sungguh beruntung sehingga ia dapat melihat pemandangan ini walaupun sepertinya waktunya sudah hampir habis. Namun sebelum ia pergi ia ingin sekali kedua hyungnya yang lain kembali menatapnya walaupun hanya beberapa saat saja.

Ia mendesah pelan.

Merasa ada pergerakan, Jungsoo mulai bangun dan meregangkan badannya. Setelah itu ia melihat Kyuhyun sudah terbangun.

"Oh Kyuhyunie selamat pagi. Kenapa tidak mebangunkan hyung, eoh?" Kata Jungsoo sambil mengelus rambut adiknya itu. Ia tersenyum. Ia melihat Kyuhyun berusah untuk duduk kemudian membantunya dengan hati-hati.

"Kyu tidak tega membangunkan hyung. Hyung pasti lelah menjagaku dari semalam." Ia tersenyum manis di wajahnya yang masih kontras menampilkan kepucatan.

"Aniya.. Hyung tidak akan pernah lelah menjagamu. Ini belum seberapa kyunie-ah~" Jawab Jungsoo menanggapi ucapan Kyuhyun. Kyuhyun hanya memandangi wajah hyungnya yang sedang tersenyum itu.

"Ahh kata Yunho, hari ini kau akan kemoterapi." Benar. Ia hampir melupakan kenyataan yaitu penyakitnya. Ia menunduk sambil memainkan jemari tangannya.

"Jangan khawatir, hyung akan menemanimu nanti." Melihat kecemasan Kyuhyun, Jungsoo segera meremas lembut kedua tangan itu dengan kedua tangannya.

"Kau pasti bisa. Dongsaengku pasti kuat. Hwaiting." Lanjut Jungsoo lagi sambil memberi semangat.

Setidaknya Kyuhyun merasa sedikit tenang dengan pernyataan hyungnya tadi.

"Tapi hyung... bagaimana dengan Kangin hyung dan Eunhyuk hyung? Mereka pasti khawatir padamu karena kau tidak pulang dari semalam." Ucap Kyuhyun.

"Tenang saja, hyung sudah mengurusnya. Jangan pikirkan apapun lagi. Cukup fokus saja pada terapimu hari ini, ne."

"Eum." Kyuhyun mengangguk.

Tok Tok Tok

Cklek.

"Selamat pagi." Seseorang yang tinggi dan memakai jas dokter itu masuk di kamar itu. Siapa lagi kalau bukan Yunho.

"Kalian sudah bangun ternyata. Aku pikir akan kalian masih tidur." Kata Yunho sambil berjalan mendekati keberadaan Jungsoo dan Kyuhyun dan dapat terlihat ia sedang memegang sebuah kertas putih.

"Jungsoo hyung, ini jadwal kemoterapi Kyuhyun. Dan terapi pertamanya hari ini. Apa kau siap?" Ia berdiri di sisi yang berlawanan dengan Jungsoo dan dijawab dengan anggukan kecil oleh Kyuhyun dalam posisi terduduk.

"Baguslah." Yunho tersenyum sambil memperbaiki kacamatanya.

"Oh iya, hyung kau tidak ke kantor hari ini?" Tanya Yunho kepada Jungsoo.

"Aniyo. Aku sudah ijin kemarin. Aku ingin menemani adikku ini sampai dua hari kedepan." Jawab Jungsoo.

"Begitukah? Baiklah, aku ada jadwal untuk mengunjungi pasienku yang lain. Nanti akan ada suster yang akan membawa Kyuhyun ke ruangan kemoterapi. Aku keluar dulu." Yunho berjalan keluar. Tinggallah Kyuhyun dan Jungsoo lagi berdua di ruangan rawat itu.

Suasana hening berlangsung di ruangan itu.

"Hyung pasti belum makan dari kemarin. Kalau hyung lapar, hyung ke kantin saja. Aku tidak apa-apa disini sendirian." Kata Kyuhyun memecahkan keheningan yang ada di ruangan itu.

"Ah ne, baiklah. Hyung akan kembali secepatnya. Jangan kemana-mana, arachi?" Kata Jungsoo dan mengacak rambut Kyuhyun kemudian beranjak.

Setelah Jungsoo menutup pintu ruangan itu, Kyuhyun menghela napas. Begitu banyak hal yang ada di pikirannya saat ini.

.

.

.

.

Saat ini Kangin dan Eunhyuk sudah selesai sarapan di ruang makan di rumahnya. Namun sedari tadi mereka belum melihat keberadaan Kyuhyun.

Bahkan sarapan mereka pagi ini dimasak oleh maid mereka karena kata mereka, Kyuhyun belum pulang dari kemarin. Mereka hanya ber-Oh ria setelah mendengar penuturan maidnya itu. Namun jauh dilubuk hati mereka, ada suatu perasaan yang muncul. Terutama Kangin. Ia sudah tidak bisa lagi mengelak dengan apa yang ia rasakan. Ia sudah mulai menyayangi si bungsu keluarga Kim itu. Entah sejak kapan ia menyadarinya. Namun yang jelas, ia sudah menyadarinya tapi ia belum bisa menunjukkannya langsung pada Kyuhyun.

Ia juga harus memikirkan Eunhyuk karena, ia melihat Eunhyuk masih sangat membenci Kyuhyun. Ia harus segera menyadarkannya.

Namun, ia kembali teringat saat ia melihat Kyuhyun di area khusus penyakit kanker dengan memakai baju pasien. Dan jangan lupakan Yunho juga yang membantu Kyuhyun saat itu. Jujur, ia benar-benar bingung dan penasaran dengan apa yang terjadi pada adiknya itu. 'Apa... Apa Kyuhyun punya penyakit Kanker?' Tanyanya dalam hati. Namun ia sekali lagi menjauhkan pikirannya itu.

Kangin dan Eunhyuk sudah sampai di sekolah Eunhyuk.

"Hyung sepertinya aku akan pulang sedikit terlambat." Kata Eunhyuk sebelum turun dari mobil Kangin.

"Hm. Baiklah. Hyung akan menghubungi pelayan untuk membawakan motormu setelah ini." Ucap Kangin.

"Ne." Kata Eunhyuk singkat, lalu keluar dari mobil itu dan berjalan masuk ke sekolahnya.

.

.

.

Waktu terus berjalan dan sekarang sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Jungsoo sudah kembali dari kantin untuk mengisi perutnya sejak beberapa jam yang lalu.

Tok

Tok

Tok

"Masuk." Jawab Jungsoo singkat.

Setelah jawaban singkat Jungsoo, seorang perawat wanita dengan seragam khasnya memasuki ruangan itu sambil mendorong kursi roda.

"Sudah waktunya Kyuhyun-ssi untuk melakukan kemoterapi." Kata perawat itu dengan ramah.

"Ah ne, baiklah." Jawab Jungsoo. Ia kemudian membantu Kyuhyun untuk turun dari ranjang itu dan menuntunnya sampai ke kursi roda yang dibawa perawat tadi.

"Biar saya saja yang mendorong adikku." Kata Jungsoo untuk mengambil alih kursi roda itu.

"Ne, kalau begitu, mari ikut saya." Perawat itu membukakan pintu untuk mereka berdua dan berjalan di depan mereka.

.

Mereka sudah sampai di ruangan kemoterapi yang ada di ruangan itu.

Saat ini Kyuhyun sudah berbaring diatas ranjang yang ada di dalam sana. Ada beberapa perawat serta pegawai yang menangani bagian kemoterapi di sana dan mereka sedang melakukan persiapan.

Yunho memasuki ruangan itu dan langsung menuju ranjang yang di tempati Kyuhyun.

"Baiklah. Sepertinya peralatannya sudah siap. Apa kau siapa, Kyu?" Tanya Yunho.

"Ne, hyung." Kata Kyuhyun menjawab pertanyaan Yunho.

"Baiklah. Kau akan merasakan mual dan beberapa efek samping lainnya dalam proses ini. Kau harus kuat, ne." Kata Yunho.

"Dongsaengku itu kuat sepertiku. Jadi ia pasti bisa. Aku yakin itu." Celetuk Jungsoo.

"Aku percaya itu, hyung." Setelah mengatakan itu. Ia memberi tanda kepada perawat dan pegawai itu untuk mulai memasukan cairan kimia untuk proses kemoterapi ini.

Setelah itu, mereka keluar.

Beberapa saat kemudian, tubuh Kyuhyun sudah mulai bereaksi dengan cairan kimia yang disuntikkan tadi padanya.

Keningnya sudah mulai mengernyitk tanda kesakitan yang dia rasakan saat ini.

"Euuunnnggghhh hyung.. appo.." Adu Kyuhyun.

Sungguh ia merasa sangat sakit. Bahkan ia sudah tidak bisa mendeskripsikan rasa sakitnya itu.

"Tenanglah, dongsaeng-ah. Kau pasti bisa melewati ini. Kau jangan menyerah." Jungsoo mengeratkan genggaman tangannya agar dongsaengnya itu merasa sedikit tenang.

Perlahan tapi pasti, peluh di dahinya sudah mulai bermunculan. Ia benar-benar merasa kesakitan.

"Hyung.. Mphhh.." Saat ia akan mengadu lagi, ia langsung menutup mulutnya karena ia merasa ada yang mendesak keluar dari dalam perutnya.

Melihat Kyuhyun akan muntah, Jungsoo dengan tanggap mengambil baskom yang ada di ruangan itu dan memegangnya dengan erat. Sedangkan Kyuhyun langsung memuntahkan semua isi perutnya.

"Hoek... Hoek.. Hoek.. Hyunghh.. Hoek.." Ia terus menerus merasa mual hingga hanya lendir yang bercampur dengan asam lambungnya yang berwarna kekuningan.

Jungsoo memegang baskom itu sambil mengelus punggung Kyuhyun. "Kyunie-ah... sudah tidak lagi yang keluar.."

"Anihh.. Hoek.. Hoek.." Ia terus muntah hingga ia sedikit tenang dan kembali berbaring, namun beberapa saat kemudian, ia merasakan sakit yang begitu menyiksa. Ia bergerak gelisah diatas ranjang itu.

Sejujurnya Jungsoo sudah hampir menangis melihat keadaan adiknya itu. Tapi ia harus kuat di hadapan adiknya itu.

.

.

Eunhyuk kembali tidak melihat Kyuhyun dimana pun di sekolah. Ia benar-benar bingung, kemana sebenarnya anak itu.

.

.

Saat ini Kangin sedang mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Ia ingin menjenguk temannya lagi.

Tidak sampai setengah jam kemudian ia sudah memarkirkan mobilnya di halaman parkir rumah sakit itu. Setelahnya, ia melangkah masuk ke dalam sana.

Ia melewati koridor yang penuh dengan lalu lalang pasien, keluarga pasien, dokter, dan perawat.

Namun, matanya tiba-tiba tertuju pada satu objek yang keluar dari sebuah ruangan saat ia sudah memasuki kawasan khusus kanker yang ada di rumah sakit itu.

Ia sangat mengenal sosok itu. Yah, dan ia tidak mungkin salah melihat.

Ia segera berjalan dengan cepat untuk menghampiri sosok itu.

"J-Jungsoo hyung.." Ia memegang pundak sosok itu yang ia yakini sebagai Jungsoo – hyungnya.

Sosok itu berbalik, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sang adik berada di rumah sakit itu.

"K-kangin-ah.." Jungsoo benar-benar tidak bisa berkata apa-apalagi. Lidahnya terasa keluh untuk mengatakan sesuata.

Sama seperti Jungsoo, Kangin juga terkejut dengan keberadaan sang hyung di rumah sakit itu.

"Apa.. A-apa yang hyung lakukan disini?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

Annyeong readers~~

Kimchan balik lagi noh dengan chapter 13 hehehehe

Masih ada yang nunggu ff ini kah? Maaf yah kalo updatenya agak lama..

Soalnya minggu lalu aku tiba-tiba ujian praktek jadi tidak bisa lanjut nulis karena paper bahan ujian praktek bahasa inggris aku belum kelar, jadi aku fokus ngelanjutin itu dulu.

Dan syukur banget bisa selesai tepat waktu hehehe

Buat yang lain yang udah kelas XII juga, semangat yahhh~

Maaf kalo aku tiba-tiba curcol disini ^^;;

Mungkin untuk chapter selanjutnya, akan dipost minggu depan soalnya minggu ini aku UAS..

Kalo ada typo di maafin yah. Aku ga sempet ngedit.

Kalau ada kritik / saran / ide, silahkan langsung review yah, kimchan akan baca semua dan coba dimasukin dalam cerita atau diperbaikin lagi.

Last, Mind to review this chapter? ;)

Thank youuuu

-Kimchan83-