Please Have Mercy on Me (Flashback)
-xoxo-
Flashback on.
Tetsuya berjalan lemas dikoridor kampusnya. Badannya terasa pegal, suhunya badannya naik drastis dari tadi pagi, perutnya agak mual. Tetsuya menghela nafas, memijit keningnya berharap dapat meringankan pusing yang ia derita. Makin lama, pandangannya kian mengabur, ia limbung, hampir menyentuh tanah jika saja tak ada lengan kekar pemuda berambut blonde itu.
"Ey?! Kuroko?! Kau baik-baik saja?!"
Tetsuya menggeleng pelan, menatap manik si penolong.
"Aku...aku pusing sekali, Nash-kun,"
"Ah, suhu badanmu tinggi sekali, sebaiknya kita ke ruang kesehatan saja,"
Tiba-tiba, Nash menggendong Tetsuya ala bridal, Tetsuya kaget, tapi kondisinya tak memungkinkan saat ini.
oo00oo
Ruang kesehatan itu terlihat sepi, tak ada dokter kampus disitu. Nash membaringkan Tetsuya diranjang paling pojok.
"Aduh, bagaimana ini?! Tak ada Aida-san," ujar Nash, ia mondar-mandir cemas. "Ah...tunggu sebentar Kuroko, akan ku ambilkan obat, minyak, dan plaster penurun panas,"
Nash meranjak menuju lemari di pojok depan, mencari-cari barang yang ia butuhkan, setelah mendapatkannya, ia bergeser, mengambil segelas air dari dispenser itu. Ia langsung saja beranjak menuju Tetsuya. Membantu pemuda manis itu untuk duduk bersandar.
"Nah, kau sudah makan?"
Tetsuya menganguk lemah. Nash pun menyiapkan obat demam itu. Lalu menyerahkannya pada Tetsuya.
"Diminum dulu obatnya,"
Tetsuya menenguk obatnya bersamaan dengan air itu. Rasa pahit sedikit terasa dikerongkongannya, sampai ia bergidig. Nash kembali membantu Tetsuya merebahkan diri.
"Ah ya, mau ku bantu olesi minyak angin, tidak?"
Tetsuya tersenyum, lalu menganguk lemah. Nash lantas mengolesi minyak ke tangan Tetsuya dengan berhati-hati.
"Aa- nafas ku, sesak," celetuk Tetsuya. Nash lalu mengrenyit.
"Mau dioles dibagian dada dan leher? Untuk mengurangi sesaknya,"
"Hmm,"
Karena posisinya menyulitkan untuk Nash. Nash pun mau tak mau menaiki ranjang itu, perlahan membuka kancing kemeja atas Tetsuya, kemudian menyibaknya sedikit untuk memudahkan olesan minyaknya. Tangannya mulai menyapu kulit seputih porselen itu, perlahan-lahan.
Zrakkkkk...
"Tetsuya? Kau didalam? Aku menjemputmu kemari, katanya kau di ruang kes-"
Ucapan Akashi Seijuro menggantung diudara. Matanya melebar, menatap bengis dua insan dihadapnnya. Lalu mendengus sangsi.
"Heh? Baru kutinggal beberapa jam saja sudah main-main dengan yang lain, cih. Neee...Tetsuya, kau sudah berani ya?! Kau juga tuan pirang asing, beraninya menyentuh milikku!" Akashi menatap dingin, lalu berceletuk.
"Ah, aku mengganggu ya?! Ja~ sepertinya aku harus pergi, nee Kuroko Tetsuya-kun?!"
Tetsuya gelagapan, kekasihnya salah paham, sungguh ini salah paham. Bagaimana ini?
Tetsuya menampik tangan Nash, lalu mengubah posisinya jadi duduk.
"A-Akashi-kun?! Sungguh, ini salah paham, aku tak melakukan apapun dengan Nash-kun, kau salah paham Akashi-kun,"
Akashi mendengus.
"Sudahlah Tetsuya, aku tau semuanya. Ah, aku bahkan dengar ada tuan putri yang digendong oleh pangeran blondenya ke ruang kesehatan,"
Tetsuya menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sungguh aku tak berbohong, Akashi-kun,"
Akashi mendengus remeh. Nash yang tak tahan mulai angkat suara.
"Benar katanya Akashi, ini salah paham. Aku hanya membantunya, lalu membantunya mengoles minyak kerena ia sesak nafas,"
"Diam kau. Aku tak mau dengar apapun!"
Akashi lantas beranjak, melangkah dengan raut wajah dingin bak seorang pembunuh bayaran.
Tetsuya menangis sejadi-jadinya. Nash hanya diam, ia bingung untuk membantu apa lagi.
oo00oo
Pukul tujuh malam, mansion Akashi terlihat sepi, suram sepeti tak berpenghuni. Mansion ini hanya dihuni Akashi Seijuro dan beberapa pelayannya, karena mansion ini bukan kediaman utama keluarga Akashi.
Bel berbunyi nyaring untuk beberapa saat, sebelum pintu itu terbuka. Kuroko tersenyun ramah pada Tanaka-san, pimpinan pelayan mansion Akashi ini.
"Tanaka-san? Apa Akashi-kun ada didalam?"
"Tentu, tuan muda ada didalam. Silahkan masuk, Kuroko-san. Ah, beliau ada diruang kerjanya,"
Tetsuya menganguk, ia berjalan menuju ruang kerja kekasihnya.
Tok...tok...tok...
Terdengar seruan Seijuro dari dalam. Tetsuya pun memasuki ruangan itu. Gelap, tapi tak sepenuhnya karena cahaya bulan masuk melalui jendela yang terbuka lebar itu, membuat keadaan remang-remang.
"Akashi-kun?"
"Arraaa?! Kukira Tanaka, ternyata kau, ya!" Ujarnya seraya membalikan kursi kerjanya menjadi berhadapan dengan Tetsuya.
Seijuro, pria itu memandang sinis Tetsuya.
"Akashi-kun, aku mohon, dengarkan penjelasku terlebih dahulu,"
"Heee! Penjelasan apa lagi, Tetsuya sayang?! Kau selingkuh dariku? Kau kembali lagi dengan mantanmu, si pirang asing itu? Atau kau yang berhubungan intim dengan mantan busukmu itu?! Eh?! Yang mana?!"
Tetsuya menghela nafas. Ia manatap tepat kedam manik hetero itu.
"Dengar Akashi-kun?! Aku bersumpah, aku tak melakukan apapun dengan Nash-kun?! Kau salah paham Akashi-kun!"
Tetsuya mulai tersulut emosi, susah juga punya kekasih dengan tingkat kecemburuan dan keposesifan yang berlebihan. Akashi hanya menatap datar.
"Kau yang dengar, Tetsuya! Aku tau semuanya. Aku mengetahuinya. Jangan anggap jika aku jauh darimu maka aku tak tau apa yang kau lakukan. Kau dan si Nash itu berencana untuk kembali, bukan?! Jangan mengelak, aku tau semuanya."
Tetsuya menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sungguh, aku tak sebusuk itu Akashi-kun?! Aku berani bersumpah, aku dan Nash-kun hanya berteman. Memang benar ia mantan kekasihku, tapi sekarang hubungan kita hanya sebatas teman saja. Tadi, ia hanya menolongku karena aku sakit. Sungguh aku tak berbohong!"
"Heee?! Begitu kah?! Emmm, bagaimana saat dia akan menciummu diperpustakaan?! Apa kau akan mengelak Tetsuya?! Aku punya buktinya loh?!"
Tetsuya tampak terkejut, ia lantas menggeleng lagi.
"Aku memang tak punya bukti, tapi kejadian saat itu sungguh berbeda dari apa yang kau tau. Mataku kemasukan debu, dan Nash-kun berusaha menolongku dengan meniupnya, ia bahkan tak menyentuhku Akashi-kun! Tolong dengarkan aku?! Apa kau lebih percaya pada anak buahmu yang selalu memata-mataiku dan selalu membuat tuduhan palsu?! Kau lebih mempercayainya ketimbang aku, kekasihmu?! Sebegitu dangkalkah rasa percayamu padaku, Akashi-kun?! Aku tak menyangka kau sejahat ini!"
Seijuro bangkit dari duduknya. Ia manatap bengis Tetsuya. Tangannya terkepal menahan emosi. Berjalan, lalu bersandar tepat didepan meja kerjanya.
"Heee?! Kau berani juga Tetsuya?! Harusnya aku yang berkata sepert itu padamu! Bukankah kau pembohong yang sesungguhnya?! Dengar! Kouki mengumpulkan segala kebusukan yang kau lakukan dibelakangku dengan Nash Gold Jr, mantan kekasihmu itu. Semuanya sudah jelas, aku mempunyai bukti-buktinya! Jadi jangan salahkan Kouki, dia tak bersalah disini! Kau lah yang patut meminta ampun dariku, Tetsuya!" Ujarnya dingin.
Tetsuya menangis. Menggigit bibir bawahnya untuk mencegah isakan kecil lolos dari bibirnya. Hatinya sakit, kekasihnya lebih membela Kouki, tangan kanan Seijuro sekaligus rivalnya dulu saat merebutkan Seijuro. Tetsuya tau, Kouki selalu saja ingin membuat hubungannya dengan Seijuro kandas dengan berbagai cara. Dan ini puncaknya. Ia rasa, Kouki menang.
"Akashi-kun?! Kau jahat! Kau memfitnah diriku demi tangan kananmu yang pembual besar itu?! Kau lebih membela dirinya ketimbang aku! Kau bahkan melibatkan Nash-kun yang tidak bersalah disini! Kau jahat! Kau brengsek! Aku membencimu!"
"TETSUYA!"
"Akashi-kun monster! Tak memiliki hati, aku benci padamu! Kurasa orang kepercayaanmu menang, aku kalah! Dia menang! Sekarang dan untuk kedepan, aku bukan lagi kekasihmu, aku hanya bayang masa lalumu. Aku membencimu, Akashi-kun! Kau puas!"
Tetsuya menangis, air mata itu mengalir dengan derasnya. Memandang penuh kecewa pada sosok angkuh Seijuro, yang tampak membatu dihadapnnya. Tetsuya melepas cincin dijarinya, lalu membuang itu dihadapan Seijuro.
"Aku membencimu, Akashi-kun! Tapi aku mencintaimu! Selamat tinggal." Lirihnya.
Tetsuya berbalik, melangkah gemetar menuju pintu itu. Seijuro memandangnya, tiba-tiba tangannya bergerak meraih patung kayu yang ada disampingnya. Dengan perasaan kalut dan air mata yang terus menetes, Seijuro berjalan menuju Tetsuya.
Kejadian itu berlalu dengan cepat. Tangan Seijuro terayun begitu saja. Patung kayu itu tepat mengenai kepala belakang Tetsuya dengan kerasnya, hingga sedetik kemudian Tetsuya jatuh dengan darah yang mengucur dikepala belakangnya.
Seijuro menatap tak percaya pada tangannya. Air mata kian deras turunnya. Jatuh terduduk disamping jasad sang mantan kekasih. Dengan kaku ia meremas kepalanya. Lalu meranung sejadi-jadinya. Menyesali tindakkannya beberapa saat yang lalu.
"TETSUYAAAA...HIKS TETSUYAAAA...BANGUNLAH...TETSUYAAAAAAAAAAAA..."
oo00oo
Hari ini adalah hari pemakaman Tetsuya. Keluarganya, terutama Ibunya menangis, meraung keras memangil nama putera tercintanya. Langit tampak mendung, seperti memahami isi hati para pelayat disini. Seijuro menatap kosong gundukan tanah dihadapannya. Ia menyesal, sungguh menyesal. Ia, pengecut brengsek ini menyesal.
Harusnya ia berada dibalik jeruji besi saat ini. Tapi, keluarganya melindunginya dengan memanipulasi kematian Tetsuya, lalu mengatakan Tetsuya jatuh dari tangga mansion Akashi, dan kepalanya membentur ujung runcing tangga itu.
Seijuro menatap kosong, matanya lelah mengeluarkan air mata yang sudah ia kuras, mungkin mencapai satu liter. Dengan gontai, ia berjalan menuju mobilnya dan melaju dengan ugal-ugalan menuju taman dekat sini.
Seijuro berharap, ia dapat menemui Tetsuya secepatnya. Seijuro hanya tersenyum miring, merutuki kebodohannya, menyesal sejadinya, kerena ia tak bisa memutar waktu kembali.
Flashback off.
oo00oo
End.
oo00oo
[A/N : jadi, ini adalah flasback dari Please Have Mercy on Me. Maaf kalo jelek. Semoga suka]
