In the Middle of Night
AkaKuro with Mayuzumi Chihiro.
.
.
oo00oo
Rumah besar itu begitu suram, cahaya purnama bersinar terang menembus kaca jendela kamar besar itu. Kuroko Tetsuya bergidig ngeri, ia terjaga dari tidurnya. Matanya menatap sekeliling, lalu menepuk-nepuk sisi kanannya, ia mengrenyit tatkala tak menemukan hangatnya tubuh milik suaminya, ia hanya menemukan kedinginan dan kehampaan. Tetsuya lantas turun dari ranjangnya, melangkah perlahan dengan penuh ketakutan di malam yang temaram itu.
"Sei-kun?"
"Sei-kun?"
"Sei-kun? Kau dimana?"
Tetsuya terus bersuara, memangil nama orang tercintanya.
Lorong panjang itu ia susuri dengan hati yang berdebar kencang. Perasaanya sungguh tak enak, hatinya seperti dihujam jarum bertubi-tubi. Tapi kenapa? Tetsuya pun tak tahu menahu itu, yang terngiang dikepalanya hanya segeralah ia menemukan sang suami tercinta.
"Sei-kun? Kau di dalam?"
"Sei-kun?"
Ruangan demi ruangan telah disusuri Tetsuya. Jantungnya kian berpacu cepat. Suaminya tak dapat ia temukan dimanapun, dan juga terbesit rasa heran, pasalnya rumahnya tak sesuram ini, tapi kenapa sekarang malah menjadi seperti rumah yang terkutuk pada novel-novel horror yang ia baca.
"Sei-kun? Kau didalam?"
Tetsuya memasuki ruang kerja suaminya. Namun, yang ia dapat hanya kehampaan, ruang sepi tak berpenghuni.
Alisnya naik perlahan, ia bingung mau kemana lagi. Berpikir sejenak, ruang mana lagi yang belum ia jamah?
Lalu rautnya berubah, ia teringat. Dapur. Ruangan itu belum ia tilik sama sekali. Dengan hati-hati ia berjalan menuju dapur.
"Sei-kun?"
Sekali lagi, nama yang sama ia alunkan, berharap si empunya cepat muncul dan menemani dirinya.
"S-Sei-kun..."
Matanya membola tatkala sampai di pintu dapur. Badanya bergetar hebat, cairan bening merembes keluar dari mata indahnya. Tetsuya jatuh terduduk. Terisak hebat melihat sosok suaminya.
Sosok Seijuro, tubuh lemasnya digantung diatap-atap dapur, tubuhnya bersimbah darah dengan pisau yang menancap sana sini. Mata kanannya hilang, jari-jarinya terputus, hilang entah kemana, mulutnya sobek, dadanya tertancap lima pisau dengan ukuran yang berbeda.
Tetsuya nyaris pingsan, jika saja sosok pria lain yang tengah berdiri dibalik mayat Seijuro tidak membuka suaranya.
"Tetsuyaaa~~"
Tetsuya menegang. 'Suara ini?! Tak mungkin! Tak mungkin itu-'
"Lihatlah mahakarya terbaikku, Tetsuya~~"
Sosok itu menampakan dirinya, berjalan anggun, keluar dari balik punggung Seijuro.
'Chihiro-nii!'
Tetsuya mencelos saat melihat sang kakak tiri berdiri dengan tanpa dosanya disamping mayat Seijuro. Rautnya menyeramkan, seringai kejam terlukis indah diwajah datar itu, surai kelabu dan tubuhnya terciprat bercak darah milik Seijuro.
"Nah~ Tetsuya sayang. Sekarang tidak akan ada lagi yang berani mengganguku. Menghalangiku untuk memilikimu seutuhnya." Pisau dengan lumuran darah itu teracung persis didepan Tetsuya. Tetsuya memandang tak percaya pada Chihiro. Airmatanya kian deras mengalir.
"C-Chi-Chihiro-nii, k-kenapa?! K-kenapa? K-kenapa kau me-melakukan ini p-padaku?! Hiks k-kau j-jahat!" Tetsuya bercicit, bersimpuh dengan ketakutan saat Chihiro malah mendekatinya dengan seringai kejamnya yang masih tercetak jelas.
Tetsuya kian meringkuk tatkala Chihiro semakin dekat dengannya.
"Sekarang. Kau. Adalah. Miliku. Tetsuya." Kata-katanya penuh penekanan. Chihiro tiba-tiba saja menerjang Tetsuya layaknya orang kesetanan, nafsunya sampai menguar kemana-mana. Tetsuya menjerit keras, meminta pertolongan pada sosok suaminya yang tak bernyawa.
"SEI-KUN! TOLONG AKU! SEI-KUN!"
Tetsuya terus meronta dijeratan Chihiro. Wajahya memanas, ia kewalahan.
"H-he-eumh..He-hentikan! Hentikan ini Ch-chihiro-nii..."
"Yamettehhh..."
"YAMEEETTTTEEEEEE..."
Zrakkk...
Tetsuya terbangun dari tidurnya, peluh mengalir deras dari dahinya, nafasnya tersengal tak teratur. Elusan lembut sebuah tangan besar nan hangat mengalihkan fokusnya. Hingga dengan tiba-tiba Tetsuya memeluk sosok empunya tangan itu.
"Hiks...hiks...Sei-kun...aku..takut...hiks...jangan pernah pergi dariku...hiks...jangan tinggalkan aku sendirian...hiks..."
Seijuro tersenyum. Tangannya kembali mengelus helaian lembut Tetsuya dengan sayang. Didekapnya erat tubuh yang bergetar itu, mencoba memberi rasa aman dan nyaman disaat bersamaan.
"Sttttt...tenanglah Tetsuya. Kau hanya bermimpi buruk saja. Ssttt...tenanglah, sayangku. Aku tak akan pernah meninggalkanmu barang satu senti pun. Aku akan selalu bersamamu. Tenanglah, sayang,"
Seijuro terus mengelus helai lembut itu dan menepuk-nepuk lembut punggung ringkih itu, hingga Tetsuya berangsur tenang.
Tetsuya pun melepas dekapan itu. Memandang manik hetero suaminya. Ia menatap penuh makna. Makna akan ia begitu mencintai pria sejati yang sudah menikahinya.
"Berjanjilah padaku, Sei-kun," Tetsuya mengacungkan jari kelingkingnya, Seijuro tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari milik Tetsuya.
"Aku berjanji dengan seluruh jiwa dan ragaku, Tetsuya,"
Tetsuya kembali mendekap Seijuro, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"Aku mencintaimu, Sei-kun,"
"Aku juga, sayang. Aku juga lebih mencintaimu,"
oo00oo
End
oo00oo
[A/N : Plis jangan bacok saya :") jujur saya ga tau ngetik apaan, ini mengalir begitu saja setelah menonton film psychopath.]
