Chapter 18

Cast:

Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun [18]

Park Jungsoo as Park Jungsoo (Kyuhyun's brother 1) [26]

Kim Youngwoon as Park Kangin (Kyuhyun's brother 2) [23]

Lee Hyukjae as Park Eunhyuk (Kyuhyun's brother 3) [19]

Shim Changmin as Kyuhyun's best friend [18]

Genre:

Family, Friendship, Hurt/Comfort, Sad, Angst,

Disclaimer:

All casts belong to God and themself and i just own the story. DLDR! Alur ff ini sudah pasaran jadi mohon di maafkan jika ada kesamaan dengan beberapa cerita yang lainnya. /.\ Tapi saya tidak memplagiat ataupun menjiplak karya author lain karena cerita ini berasal 100% dari pikiran saya dan mungkin memang terinspirasi dari beberapa ff dengan tema brothership yang pernah saya baca tanpa disengaja sama sekali!

Summary:

Perjuangan seorang adik terkecil di keluarga Park untuk mendapat kasih sayang ketiga hyungnya yang selalu menganggapnya tidak ada. Apa yang membuatnya tidak dianggap sama sekali? Bisakah ia mendapat kasih sayang para hyungnya?

Note:

Buat para readers yang tidak punya akun, tetep bisa ngereview yah. Tinggal isi kolom nama aja (atau bisa dikosongkan) trus review. Gampang kan? Review kalian itu adalah bayaran atas tulisan saya, jadi jangan lupa untuk tinggalkan jejak ^^

Sebelumnya..

Di sinilah Eunhyuk saat ini. Ia duduk menunggu di kursi yang ada di depan UGD yang belum bisa ia masukin. Ia tertunduk dan terus terisak.

DRAP

DRAP

DRAP

Eunhyuk mengangkat wajahnya yang dibasahi air matanya sendiri ke arah asal suara itu. Terlihat dua orang yang sangat ia kenali berlari kecil menuju tempatnya saat ini. Eunhyuk berdiri dan...

PLAK

Happy Reading~!

Selanjutnya..

Setelah melihat bus yang ditumpangi oleh Kyuhyun telah melaju jauh dari tempatnya berdiri saat ini, Changmin segera melangkahkan mobilnya yang masih terpakir di halaman sekolah. Ia sudah bersiap dengan rencana untuk mengetahui sesuatu yang mungkin sangat penting dan di sembunyikan oleh Kyuhyun darinya.

Maka saat ini, tekadnya sudah sangat bulat untuk mencari tahu apa hubungan obat yang ia temukan tadi dengan Kyuhyun sehingga tujuannya saat ini adalah rumah sakit. Dimana ia bisa mengetahui fungsi obat itu dengan rinci.

Changmin segera masuk dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya agar keluar dari halaman sekolahnya.

.

.

"K-Kyu! HYUNG MOOHONNN! SADARLAH! KYU!" Eunhyuk berteriak histeris karena sedari tadi ia berteriak dengan keras pada seseorang yang ada di pangkuannya yang sedang menutup matanya dengan rapat. Bahkan ia sudah menggerakkan tubuhnya namun orang tersebut – Kyuhyun – tidak bergerak barang sedikit pun.

Tiba-Tiba suara ambulans mengagetkan mereka – para pelayan dan Eunhyuk – yang ada di ruang tengah. Sepertinya memang para petugas dari ambulans itu sangat cepat tanggap karena saat ini mereka sudah berada di dekat Eunhyuk dan segera mengangkat tubuh ringkih Kyuhyun yang sudah tergeletak tidak berdaya di atas paha Eunhyuk ke tandu yang mereka bawa sehingga dapat memudahkan mereka untuk membawa Kyuhyun ke dalam ambulans. Satu orang petugas lainnya menuntun dua petugas yang membawa tandu tadi menuju ke bagian belakang ambulans. Sebelum pergi ia melihat Eunhyuk menangis terisak.

"Sebaiknya salah satu dari keluarga ikut dengan kami di dalam ambulans." Kata petugas itu dan segera keluar dan masuk kembali ke dalam ambulans.

Eunhyuk kemudian tersadar dan mengikuti langkah petugas tadi. Ia segera masuk dan ambulans itu berjalan dengan kecepatan yang cukup tinggi agar segera sampai di rumah sakit.

.

.

.

Changmin sudah tiba di parkiran rumah sakit dan dengan cepat meninggalkan mobilnya yang sudah terparkir dengan baik. Dengan kakinya yang panjangnya melebihi rata-rata dapat membantu Changmin untuk berjalan lebih cepat dari yang lain.

Ia terus menyusuri lorong-lorong rumah sakit itu. Ada lorong yang lengang, ada juga yang ramai. Tapi itu tidak menghentikan langkahnya untuk segera sampai ke ruangan yang ia tuju.

Ia membuka ponselnya dan mencari gambar obat yang telah ia foto tadi. Ia berhenti tepat di depan suatu ruangan dengan papan nama yang tidak asing lagi buatnya. Ya, siapa lagi kalau bukan tulisan nama kakaknya – Yunho.

Tok

Tok

Tok

Changmin mengetuk pintu itu. Karena kebiasaannya dalam hal sopan santun sekecil ini selalu ia lakukan apapun keadaannya.

Setelah mengetok pintu ruangan itu, ia segera membuka pintu itu dan segera masuk ke dalamnya. Namun, saat ia sudah berada di dalam, tak ada seorang pun yang ada di dalam sana.

"Eoh? Yunho hyung ada dimana?" tanya pada dirinya sendiri kebingungan. Ia mengutak atik ponselnya lagi dan mendekatkan ponselnya itu ke telinganya.

Nada sambung sudah Changmin dengar dari ponselnya dan tiba-tiba terdengar seperti suara getaran dari meja sang hyung. Changmin mendekati meja kerja itu dan ternyata ponsel hyungnyalah yang bergetar. Changmin mematikan panggilannya itu setelah melihat ponsel itu bergetar akibat panggilannya.

"Huh.. Dasar Yunho hyung." Umpat Changmin pada hyungnya dengan pelan sambil meraih ponsel dengan ukuran yang cukup besar itu dari atas meja hyungnya. Namun, baru saja ia memegang ponsel itu, sebuah map yang ada di atas meja itu menarik perhatiannya. Bagaimana tidak jika di map itu tertulis nama Sahabatnya – Park Kyuhyun.

Ia memandangi map itu sejenak. Terlihat dari luar bahwa itu adalah map riwayat kesehatan. Ia melepaskan pegangannya dari ponsel hyungnya itu dan beralih mengambil map itu dengan perlahan. Ia tidak secara gamblang membuka map itu. Tapi ia terus menelitinya terlebih dahulu.

Dengan perlahan ia membuka map itu. Dalam map itu, tertulis banyak bahasa kedokteran yang kurang ia mengerti. Namun, saat sampai di bagian kesimpulan, ia terlihat sangat tercengang dengan kata-kata yang tertera di situ.

Ia membaca kata-kata itu berulang kali karena ia berharap itu Cuma khayalannya saja. Namun, setelah berulang kali membaca, hal yang sama ia temukan bahwa...

Sahabatnya – Cho Kyuhyun – terkena kanker otak dan sudah stadium 3.

Ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya dan ia merasa matanya kian memanas. Tubuhnya terasa lemas. Ia menjatuhkan map itu dari tangannya dan sesaat setelah itu ia menjatuhkan tubuhnya sendiri karena kakinya tiba-tiba tidak bisa menopang badannya sendiri.

Ia memandang kosong ke depan namun air mata tetap mengalir tanpa isakan.

"Ani.. ini pasti tidak mungkin.." Guman Changmin sambil menggelengkan kepalanya pelan. Sungguh, ia masih belum percaya dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.

"Ani.. Ani.. Kyuhyun.. tidak mungkin.. hiks tidak mungkin.." Ia sudah tidak bisa menahan sesak di dadanya lagi. Ia terus menangis terisak di ruang kerja hyungnya itu.

.

.

.

.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, Eunhyuk masih terisak karena melihat kondisi adiknya yang kian menurun. Bahkan adiknya belum tersadar untuk mengucapkan sesuatu padanya. Ia amat khawatir.

Petugas yang berada bersama-sama dengan Eunhyuk itu dengan cekatan memasang berbagai kabel di tubuh Kyuhyun. Tak lupa juga, mereka memasang alat bantu pernapasan agar Kyuhyun dapat bernapas dengan baik.

Tidak lama kemudian mereka telah sampai di rumah sakit, para perawat sudah siap siaga menunggu di sana dengan ranjang dorong. Kyuhyun telah dibawa turun dan segera di letakkan di atas ranjang dorong yang telah tersedia oleh para petugas.

Para dokter serta suster yang ada di situ mulai mendorong ranjang dorong yang ditempati oleh Kyuhyun menuju ke ruang UGD dengan cepat. Eunhyuk pun turut serta ia semakin menangis. Ia sangat menyesal atas apa yang ia perbuat.

"Kyu... Hyung mohon bertahanlah... Hiks.." Eunhyuk terus terisak dan menggenggam tangan Kyuhyun dengan erat sambil berlari mengikuti ranjang yang di dorong itu.

Tiba-tiba, tangan Kyuhyun yang Eunhyuk pegang bergerak membalas genggaman tangannya. Ia menatap tangan Kyuhyun dengan dalam, kemudian mengalihkan pandangannya k arah wajah Kyuhyun.

Ia terkejut karena melihat mata Kyuhyun terbuka sedikit.

"H-hyunghh.." lirih Kyuhyun memanggil sang hyung.

"Kyu! Syukurlah.. hiks.. Hyung mohon bertahanlah dongsaeng.." Kata Eunhyuk lembut pada Kyuhyun, ia kemudian lebih mengeratkan genggaman tangannya.

Kyuhyun menatap sendu hyungnya itu. Ia tidak ingin seperti ini. Ia merasa sangat lemah saat ini. Bahkan untuk berbicara sepatah kata pun terasa sangat sulit baginya.

"H-hyung..." Ia sudah tidak bisa mengatakan kata-kata yang lain lagi. Kemudian ia berusaha untuk menyunggingkan senyuman terbaik untuk hyungnya walaupun pada kenyataannya tidak terlalu banyak pergerakan yang terjadi pada wajahnya.

"Ne, Kyu? Hyung mohon bertahanlah.. kalau tidak hyung tidak akan.. hiks memaafkan diriku.. hiks" Kata Eunhyuk. Air mata sudah membanjiri wajahnya bahkan wajahnya sudah menjadi merah padam.

Ia merasa sangat mengantuk. Perlahan tapi pasti pandangannya mengabur dan terus mengabur bahkan suara yang ia dengar pun menjadi samar. Saat ia akan menutup matanya kembali, ia mendengar suara Eunhyuk memanggilnya namun ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena tenaganya sudah menghilang begitu saja. Kesadarannya sudah berada di ambang batas. Sedikit demi sedikit ia melihat kegelapan hingga seluruhnya menjadi gelap gulita dan tidak ada suara sama sekali.

.

.

Mereka sudah tiba di depan pintu ruang UGD yang ada di rumah sakit itu. Ada beberapa petugas yang membukakan pintu agar mereka bisa masuk ke dalam. Namun tiba-tiba seorang suster melarangnya untuk masuk ke dalam.

"Tuan, silahkan tunggu di luar." Kata Suster itu melarang Eunhyuk untuk masuk ke dalam agar tidak mengganggu proses yang akan dilakukan oleh tim medis di dalam sana. Setelah mengucapkan larangan itu kepada Eunhyuk, suster itu meninggalkan Eunhyuk sendirian di depan ruangan itu dengan perasaan yang sangat kalut.

Eunhyuk tidak bisa menolak apa yang dikatakan suster itu. Ia hanya bisa menangis sambil menunduk ke bawah. Ia melangkah dengan gontai ke salah satu deretan kursi yang tersedia di sana.

Ia duduk di sana dengan perasaan yang kalut tanpa ada orang di sisinya. Ia sendirian sekarang. Ia ingin memberitahu kedua kakaknya tapi tangannya terasa sangat lemas untuk memegang sesuatu.

Ia menyembunyikan mukanya dengan kedua telapak tangannya kemudiannya menjadi semakin keras. Hatinya sungguh sesak. Ia menyesal – sangat menyesal.

Ia kembali teringat dengan masa kecilnya bersama para hyungnya dan Kyuhyun. Mereka selalu tertawa bahagia bersama. Mereka akan mengkhawatirkan satu sama lain jika salah satu dari mereka berempat ada yang jatuh sakit, apalagi jika itu Kyuhyun. Ia akan terus menangis dan menyalahkan dirinya jika Kyuhyun sampai jatuh sakit walaupun sebenarnya ia tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Ia akan terus menangis sampai salah satu dari keluarganya sudah tiba di rumah jika mereka tidak ada, atau akan berhenti jika ia lelah menangis.

Ia menjadi semakin keras terisak dengan ingatan masa kecilnya itu. Ia menyadari kebodohannya karena emosinya menutupi rasa sayangnya pada adiknya itu. Ia kembali terisak dan terus terisak. Beruntungnya dirinya karena saat ini lorong itu tidak dilewati oleh orang-orang.

.

.

.

Kangin dan Jungsoo tiba di rumah bersamaan.

"Eoh hyung? Kau sudah pulang?" Tanya Kangin pada Jungsoo ketika mereka berdua sudah keluar dari mobil masing-masing.

"Eum.. Pekerjaanku sudah selesai. Dan perasaanku tidak enak sedari tadi jadi aku pulang cepat." Jawab Jungsoo. Kangin hanya mengangguk menjawab pernyataan Jungsoo. Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah.

Saat mereka masuk, beberapa pelayan mereka tengah membersihkan lantai dekat dengan tangga yang penuh noda darah. Tunggu darah? Apa yang terjadi?

Jungsoo yang lebih dulu menyadari keanehan itu segera berjalan dengan cepat menuju pelayan yang tengah membersihkan sesuatu itu. Ketika pelayan itu melihat majikannya ada di depan mereka, mereka langsung berdiri sambil menunduk hormat pada Jungsoo.

"Ada apa ini? Kenapa ada darah?" Tanya Jungsoo dengan suara tegas. Pelayan itu semakin menunduk karena takut.

Karena pertanyaannya tidak dijawab, Jungsoo bertanya sekali lagi, "Kenapa kalian diam? Beritahu padaku sebenarnya apa yang terjadi?!" Jungsoo meulai menaikkan suaranya.

"Begini, tuan. T-tadi Tuan muda Kyuhyun terjatuh dari tangga dan sudah dibawa ke rumah sakit." Jawaban yang keluar dari salah satu pelayan itu membuat mata Jungsoo dan Kangin yang sedari tadi melihat Jungsoo membulat.

"MWO?!" Teriak mereka bersamaan.

"Kenapa Kyu bisa jatuh?!" Kata Kangin mulai angkat bicara. Sungguh ia sangat shock.

"Kami tidak tahu dengan jelas, tuan. Tapi sebelum jatuh, kami mendengar tuan muda Eunhyuk berteriak kepada tuan muda Kyuhyun." Jawab pelayan itu lagi. Setelah mengatakan hal itu kedua pelayan itu langsung pamit undir diri.

Jungsoo dan Kangin terdiam.

"Hyung. Ayo kita ke rumah sakit." Kangin pertama kali tersadar, kemudian mengajak Jungsoo. Jungsoo yang tidak tahu akan melakukan apapun hanya mengikuti langkah Kangin dan mengikuti Kangin ke salah satu mobil yang ada di di garasi rumahnya kemudian segera bergegas ke rumah sakit.

.

.

.

Kangin dan Jungsoo telah sampai di area rumah sakit dan segera memarkirkan mobilnya dengan sedikit asal. Mereka sudah tidak bisa berpikir untuk melakukan apapun dengan baik karena apa yang ada di pikirannya hanya kekhawatiran mereka terhadap kondisi Kyuhyun.

Lain Jungsoo, lain pula Kangin. Jungsoo hanya dipenuhi kecemasan terhadap kondisi Kyuhyun, begitu pula Kangin. Namun, Kangin merasa emosi dengan perbuatan Eunhyuk kepada Kyuhyun yang menurutnya sudah kelewatan batas. Didalam benaknya, pasti Eunhyuklah yang membuat Kyuhyun bisa sampai terjatuh dari tangga itu.

Mereka berdua – Kangin dan Jungsoo – berjalan dengan cepat melewati koridor rumah sakit itu agar segera bisa melihat keadaan Kyuhyun.

.

.

.

Sudah lewat dari satu jam Eunhyuk menunggu Kyuhyun di depan ruang operasi itu sendirian. Ia sudah tidak bisa menangis lagi, hanya beberapa isakan kecil yang keluar dari bibirnya. Dapat juga terlihat matanya yang sudah sangat sembab karena tidak berhenti menangis.

Ia memainkan jemari tangannya menandakan ia sangat gelisah dengan situasi ini.

DRAP

DRAP

DRAP

Suara langkah yang tiba-tiba bergema di koridor itu, membuat Eunhyuk tersentak dan mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa yang melangkah seperti itu. Eunhyuk sangat kenal dengan kedua orang itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Kangin dan Jungsoo. Eunhyuk berdiri.

Kedua orang itu sudah sampai di dekat Eunhyuk. Jungsoo baru akan membuka suaranya untuk bertanya mengenai kondisi Kyuhyun saat ini, harus kembali menelan pertanyaannya itu karena Kangin yang tiba-tiba melayangkan tangannya ke pipi tirus Eunhyuk yang menyebabkan suara tamparan yang cukup keras.

PLAK

Eunhyuk memegang pipinya dan mereka bertiga terdiam dalam posisi itu. Hanya terdengar suara napas Kangin, karena ia emosi yang sedari tadi ia tahan.

"Kau keterlaluan, Hyuk.." Geram Kangin. Eunhyuk terdiam dan menatap ke arah lantai yang ada di bawahnya. Air mata yang ia kira sudah habis tadi, kini terjatuh lagi.

"Kalau terjadi apa-apa dengan Kyuhyun... hyung tidak akan memaafkanmu, Hyuk." Kangin kemudian pergi dari tempat itu menuju ke suatu tempat untuk mendinginkan kepalanya, meninggalkan kedua saudaranya itu.

Eunhyuk menatap kepergian Kangin. Sesaat kemudian, ia jatuh bersimpuh dan jatuh dengan isakan yang cukup keras. Sekali lagi hatinya terasa begitu sesak. Sangat sesak seakan ia tidak bisa bernapas lagi.

"Hyuk-ah.." Jungsoo yang terdiam dari tadi mulai mengeluarkan suaranya. Ia kemudian mengangkat tubuh Eunhyuk dan mendudukkannya di kursi yang ada di situ. Setelah itu, ia memeluk adiknya itu untuk menenagkannya. Dari rautnya muka yang Eunhyuk tunjukkan tadi saat ia dan Kangin telah sampai, kalau ia sedang sangat gelisah. Namun, Kangin terlihat sangat emosi.

"Ssssttt, tenanglah.. Uljima.." Jungsoo mencoba menghentikan tangisan Eunhyuk dengan kata-kata yang menenangkan.

"Hyung.. hiks.. hiks.. aku yang salah.. hiks.. hiks.. aku yang salah.. hiks.." Kata Eunhyuk di tengah isakannya. Ia terus menyalahkan dirinya dalam pelukan hangat sang hyung tertua.

"Ani.. tidak ada yang salah.. sssttt uljima.." kata Jungsoo lagi.

"A-aku tidak sengaja membuat Kyu jatuh, hyung.. hiks.. aku tidak sengaja.. hiks.. hiks.. aku.. aku.." Eunhyuk terus terisak dalam pelukan Jungsoo bahkan itu membuat kemeja yang digunakan Jungsoo menjadi basah karena air matanya.

"Ssssttt.. tenanglah.. Kyuhyun pasti kuat jadi tenanglah. Dan jika Kyuhyun melihatmu menangis seperti ini, dia pasti sangat sedih.." Ucap Jungsoo.

"hiks.. hiks." Eunhyuk masih terlihat terisak tapi ia sudah bisa mengontrol dirinya agar lebih tenang. "Mian, hyung.." Kata Eunhyuk dan segera menghadap kembali ke arah dinding yang ada di depan dengan tatapan yang kosong. Namun jemari bergerak gelisah yang menandakan dirinya sangat cemas.

Jungsoo melihat gelagat adiknya itu, langsung memegang kedua tangan adiknya agar lebih tenang. Tak lupa ia memberikan senyuman yang teduh kepada Eunhyuk saat adiknya itu menatapnya.

.

.

.

Sudah satu jam berlalu setelah Jungsoo dan Kangin datang namun dokter ataupun suster yang berada di dalam sana belum menunujukkan akan keluar. Kangin yang sedari tadi pergi pun belum kembali.

Keheningan terus menerpa kedua orang yang sedang menunggu dengan harap cemas di depan ruang operasi. Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka. Jungsoo sang tertua masih tetap memegang tangan Eunhyuk agar adiknya itu merasa sedikit tenang.

Sebenarnya Eunhyuk sudah merasa kepalanya sangat pening dan perutnya terasa perih saat ia masih menunggui Kyuhyun sorang diri. Bagaimana tidak? Jika ia belum makan apapun bahkan setetes airpun belum ia minum dari tadi. Ditambah lagi kejadian Kyuhyun yang terjatuh dari tangga membuatnya sangat tertekan karena perasaan cemas serta tekanan karena emosi sang hyung kedua membuat kondisinya makin memburuk. Tapi ia mencoba untuk menahannya karena tidak ingin Jungsoo lebih cemas lagi.

Tiba-tiba...

CKLEK

Suara pintu terbuka menghancurkan keheningan yang tercipta di koridor itu sehingga membuyarkan lamunan panjang keduanya. Jungsoo yang melihat Yunho keluar, langsung menghampirinya. Eunhyuk yang melihat itu pun, langsung mengikuti langkah Jungsoo dari belakang dengan gontai.

"Bagaimana keadaan Kyunnie, Yun-ah?" Kata Jungsoo dengan raut cemas yang sangat terlihat namun ia tetap berusaha menyembunyikannya.

"Hahh.. Benturan yang Kyuhyun alami cukup keras, hyung. itu sangat mempengaruhi kondisinya. Juga, tadi aku menemukan kalau kanker yang ada di dalam kepala Kyuhyun semakin berkembang dan ia sudah memasuki stadium keempat. – " Jelas Yunho. "Dan juga... Maaf jika aku haru mengatakan ini, hyung.. Kyuhyun.. dia.. koma." Lanjut Yunho.

Kata terakhir yang diucapkan oleh Yunho itu membuat Jungsoo dan Eunhyuk tercengang. Jungsoo menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia sudah tidak bisa membendung lagi perasaannya. Kemudian ia jatuh bersimpuh di atas lantai yang dingin. Yunho terlihat seperti tidak bisa melakukan apapun.

Eunhyuk sangat kaget dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Yunho.

'Kanker? Koma? Ani.. ini pasti bohong.. ani.. ani..." batin Eunhyuk.

"M-mwo? Kanker? Stadium empat? Koma? Ani.. Pasti kau bohongkan Yunho hyung.. ani.. Kumohon.. jangan bohongi aku.. a-aku tidak sedang berulang tahun hari ini. Jadi kumohon jangan berkata bohong seperti itu! Ini tidak lucu, Yunho hyung!" Kata Eunhyuk yang seperti tidak percaya dengan omongan Yunho.

"Aku tidak bohong, Hyuk-ah.." Kata Yunho yang sukses membuat hati Eunhyuk semakin tertohok dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui ini.

"Ani.. Ini tidak mungkin.. Ani.." Guman Eunhyuk pada dirinya sendiri yang bisa terdengar oleh orang yang ada di sana. Ia menggelengkan kepalanya pelan dengan terus menggumankan kata-kata tadi. Ia mundur beberapa langkah kecil. Namun sesaat kemudian rasa pening dan rasa perih di perutnya makin menjadi dan membuat pandangannya mengabur. Kedua tangannya mencengkram kepala dan perutnya bersamaan agar meringkan rasa sakit yang ia rasakan, namun sepertinya itu sia-sia karena rasa sakit itu semakin menjadi dan membuatnya limbung ke samping dan rebah di lantai rumah sakit itu yang menimbulkan bunyi debuman yang cukup keras.

Jungsoo terkaget mendengar debuman itu. Saat ia akan berbalik ke arah asal suara itu, Yunho sudah terlebih dahulu berlari ke sana. Jungsoo telah sadar sepenuhnya dan segera menghampiri Eunhyuk. Saat ia melihat Eunhyuk sudah di ambang batas kesadarannya, ia mengguncangkan badan Eunhyuk yang masih mengerang kecil.

"Hyukkie! Kau kenapa?! Hyukkie!" Teriak Jungsoo.

"Ap-appo, h-hyung..." lirih Eunhyuk. Semakin lama Eunhyuk semakin menutup matanya hingga akhirnya ia menutup matanya sepenuhnya.

"Eunhyuk-ahh!" Jungsoo semakin kalut melihat mata Eunhyuk tertutup sempurna. Ia merasa sudah cukup sedih memikirkan keadaan Kyuhyun yang entah kapan akan sadar, dan sekarang Eunhyuk mengetahui keadaan Kyuhyun yang sebenarnya dan membuatnya drop hingga seperti ini.

"Hyung, aku akan membawa Eunhyuk ke kamar rawat lain. Sebaiknya kau yang menjaga Kyuhyun dan segera menelpon Kangin hyung." Kata Yunho berusaha bersikap setenang mungkin dan dijawab anggukan lemah oleh Jungsoo. Setelah melihat jawaban itu, Yunho segera membawa tubuh kurus Eunhyuk di atas punggungnya dan berlari menjauhi tempat itu.

Jungsoo bangkit setelah Yunho membawa Eunhyuk untuk diperiksa kemudian mengambil ponselnya yang tersimpan di saku celananya dan segera mendial Kangin.

TUT

TUT

TUT

'Yeoboseyo..' Jawab Kangin di seberang sana. Dapat di dengar bahwa suara Kangin cukup parau, jadi Jungsoo menyimpulkan Kangin menangis.

"Kangin-ah.. Kumohon cepat kemari.." Kata Jungsoo dengan nada yang lemah kepada Kangin.

'Baiklah, hyung.. tapi.. keadaan Kyuhyun bagaimana?' Tanya Kangin.

"Kyuhyun.. Dia.. dia.." Jungsoo menggantungkan kalimatnya. Jujur ia tidak sanggup mengatakannya. Untuk berbicara dengan Kangin saja seperti saat ini, ia menahan isakannya sekuat tenaga. "dia.. koma." Lanjut Jungsoo. Kangin juga berhak tahu mengenai keadaan Kyuhyun, pikir Jungsoo.

'M-mwo? H-hyung.. k-kau tidak.. bohong, kan?' Kangin menjawab dengan terbata-bata. Ia sungguh shock dengan keadaan Kyuhyun yang ia baru saja dengar.

"Ani, Kangin-ah.. Kumohon.. hiks.. cepat kemari.. hiks.. hiks.. Eunhyuk.. hyukkie juga pingsan.. aku sudah tidak harus bagaimana lagi, Kangin-ah.." Jungsoo sudah tidak bisa membendung rasa sedihnya lagi. Tidak ada jawaban lagi dari Kangin karena Jungsoo langsung mendengar bunyi sambungan putus. Itu menandakan Kangin sudah memutuskan sambungannya.

Sesudah itu, Jungsoo kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruangan intensif, dimana Kyuhyun sudah dipindahkan.

.

.

Kangin telah sampai di atap rumah sakit untuk mencari ketenangan serta udara segar untuk menghilangkan sedikit emosi yang masih ada di dadanya. Ia menutup matanya dan merasakan angin yang menerpa tubuhnya.

Ia dalam pikiran kembali terputar kejadian saat ia menampar Eunhyuk dengan penuh emosi. Ia bahkan menampar pipi adiknya dengan begitu keras. Bahkan sebelum ia menampar wajah adiknya itu, ia melihat wajah Eunhyuk yang dipenuhi air mata, sembab, serta sedikit pucat dari biasanya tapi ia tetap menamparnya karena dipenuhi oleh emosi.

Ia merasa sangat bodoh bisa melakukan hal seperti itu kepada adiknya. Seharusnya ia tidak melakukan hal itu. Seharusnya ia tidak menampar adiknya – Eunhyuk – dengan keras tadi. Seharusnya ia memeluk adiknya, menguatkan adiknya agar tetap tergar menghadapi cobaan yang diberikan oleh Tuhan kepada keluarga mereka khususnya la sebagai salah satu kakak dari Eunhyuk dan Kyuhyun. Ia tahu jika Jungsoo tidak akan mungkin menyembunyikan kesedihannya lagi, jadi dialah yang harus menjadi tumpuan dari Eunhyuk dan Kyuhyun bukannya melakukan hal itu. Apalagi, ia sangat tahu jika saat mereka masih muda dulu, Eunhyuklah yang akan mengkhawatirkan keadaan Kyuhyun secara berlebihan. Bahkan ia akan menyalahkan dirinya walau itu bukanlah kesalahannya. Bukan hanya itu, ia akan menangis tanpa henti hingga akhirnya ia akan jatuh terlelap dan suhu badannya naik.

Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai sehingga sekarang posisinya sedang berlutut.

"Seharusnya aku tidak menamparnya.." Guman Kangin yang bisa terdengar walaupun saat ini tidak ada seorang pun yang menemaninya di sana.

"Hiks... apa yang sudah kulakukan pada adikku.. hiks.. seharusnya aku tidak melakukan itu.. hiks.. hiks.." Kangin akhirnya terisak dan mengeluarkan semua perasaan yang ada di dalam hatinya, baik itu emosi ataupun perasaan bersalah yang memenuhinya saat ini.

"Mian, hyukkie.. Maafkan Hyung.. hiks.." Kangin terus mengucapkan kalimat permintaan maaf kepada seseorang yang tidak ada di tempat itu. Ia terisak dengan sangat keras mengeluarkan semua yang ada di hatinya.

Tiba-tiba ia teringat saat ia mengetahui Kyuhyun terkena kanker otak beberapa waktu lalu dan itu membuatnya semakin histeris. Dan teringat lagi kejadian tadi saat ia menampar Eunhyuk dengan begitu keras.

Drrt

Drrt

Drrt

Suara ponsel bergetar terdengar samar dari kantong jas yang dikenakan Kangin. Ia meraih ponselnya dengan cepat dan tak lupa menghapus buliran air mata yang sudah membasahi hampir seluruh wajahnya. Ia melihat layar ponselnya dan tertera nama Jungsoo di sana.

"Yeoboseyo.." Kangin menjawab panggilan Jungsoo dengan suara seraknya.

'Kangin-ah.. Kumohon cepat kemari..' jawab Jungsoo dengan suara yang lirih dan lemah.

"Baiklah, hyung.. tapi.. keadaan Kyuhyun bagaimana?" Kata Kangin. Ia sebenarnya sangsi jika ia akan mendengar berita yang baik dari hyungnya itu.

'Kyuhyun.. Dia.. dia..' Jungsoo menjawab pertanyaan Kangin dengan tersendat-sendat dan menjeda perkataanya selama beberapa saat. 'dia.. koma.' Lanjut Jungsoo dan jawaban Jungsoo itu menohok hati Kangin. See? Apa yang ia pikir akhirnya terjadi. Malah yang terjadi lebih buruk dari apa yang dia terka

"M-mwo? H-hyung.. k-kau tidak.. bohong, kan?" Walaupun Kangin sudah menerkanya, namun tetap saja itu membuatnya shock.

'Ani, Kangin-ah.. Kumohon.. hiks.. cepat kemari.. hiks.. hiks.. Eunhyuk.. hyukkie juga pingsan.. aku sudah tidak harus bagaimana lagi, Kangin-ah..' Jungsoo mulai terisak. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera meninggalkan tempat itu dan menuju ke tempat lain.

.

.

.

.

Di sebuah ruang rawat, ada seorang namja yang sedang terbaring dengan pakaian casualnya dan di lengan kanan bawahnya sudah tertusuk dengan rapih sebuah jarum yang menghubungkannya dengan sebungkus penuh cairan infus. Eunhyuk, namja yang terbaring itu. Setelah tadi dibawa oleh Yunho dan diperiksa dengan dibantu beberapa perawat, Yunho mendiagnosis bahwa Eunhyuk terkena maag dan shock ringan. Ia sudah bisa menduga bagaimana bisa Eunhyuk bisa sampai drop seperti ini.

Yunho masih tetap berdiri di samping ranjang Eunhyuk setelah selesai memeriksa anak itu. Para suster yang tadi berada di ruangan itu sudah kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing. Sedangkan ia masih dengan setia menunggu di sini. Dalam pikirannya, ia akan kembali ketika salah satu dari Jungsoo atau Kangin datang untuk menjaga adik mereka ini.

Ia sungguh kasihan dengan keluarga teman dekatnya semenjak kuliah – Jungsoo – karena mereka mendapat berbagai masalah dalam waktu yang bersamaan. Sungguh miris melihat keadaan si bungsu yang ternyata keadaannya semakin memburuk dan Eunhyuk yang drop dengan tiba-tiba karena belum makan apapun ditambah dengan kejadian ini.

Sebenarnya, sewaktu Eunhyuk dan Kyuhyun sudah tiba di rumah sakit, Yunholah dokter yang berjaga. Yunho pun turut serta saat mendorong ranjang Kyuhyun. Ia mengira Eunhyuk akan menyadari keberadaannya namun ternyata ia salah. Karena Eunhyuk sama sekali tidak menyadarinya sebab ia terus terfokus kepada sang adik sambil terus terisak. Melihat keadaan Eunhyuk itu, ia tidak mungkin menyapa Eunhyuk, jadi ia hanya membiarkannya.

Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka tiba-tiba dan menampilkan seseorang bertubuh tinggi besar yang sedikit berkeringat serta ngos-ngosan seperti sehabis berlari dengan cepat ke tempat itu.

Siapa lagi kalau bukan Kangin. Sebenarnya Yunho juga sudah mengirimkan sebuah SMS kepada Kangin agar menjaga Eunhyuk karena Jungsoo sudah berada di ruangan Kyuhyun untuk menjaga adik mereka. Ia sangat tahu, jika Eunhyuk sudah sadar nanti akan terjadi sesuatu yang mungkin tidak bisa ditanganinya. Tapi bisa ditangani oleh Kangin atau Jungsoo saja.

"Hosh.. Hosh.. Hosh.." Kangin mengatur napasnya sejenak di pintu dan setelah itu kembali berjalan menuju tempat di mana Yunho berdiri.

"Yunho-ya.. ada apa dengan Eunhyuk?" Kangin bertanya pada Yunho dengan raut khawatir yang terlihat sangat jelas di mukanya. Ia sungguh kaget ketika mendengar Jungsoo mengatakan jika Eunhyuk juga pingsan. Sebenarnya sewaktu ia pergi meninggalkan Jungsoo dan Eunhyuk setelah menampar Eunhyuk dengan penuh emosi, ia sudah merenung dan merutuki apa yang telah ia perbuat terhadap adiknya. Seharusnya sebagai salah satu hyung Eunhyuk dan Kyuhyun, ia harus menjadi lebih bijaksana bukan malah dengan emosi menyalahkan bahkan bermain kasar pada adiknya itu.

"Dia terkena maag dan mengalami shock ringan, hyung. Sebaiknya saat ia sadar nanti, hyung harus menenangkannya dengan baik, karena ada kemungkinan ia akan histeris saat bangun nanti. Aku tidak bisa memastikannya dengan akurat, namun jika dilihat dari gelagatnya sesaat sebelum ia pingsan, hal itu bisa terjadi." Jelas Yunho panjang lebar kepada Kangin. Sedangkan Kangin mendengarkan dengan baik setiap kata yang diucapkan Yunho dengan tatapan yang fokus di arahkan kepada adiknya yang tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit itu. Ia tersenyum miris setelah mendengar keseluruhan hasil pemeriksaan adiknya dari Yunho. Shock ringan? Ahh.. itu pasti saja terjadi. Bagaimana tidak jika ia melihat dan mendengar langsung keadaan adik bungsu mereka. Ditambah lagi tamparan yang ia berikan kepada sang adik tadi.

"Dan.. aku tahu pasti jika Jungsoo hyung sudha memberitahukan keadaan Kyuhyun yang sekarang koma. Juga, stadium kankernya sudah naik menjadi stadium empat." Kata Yunho sekali lagi.

"..." Kangin hanya terdiam, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya itu seolah ada gembok yang sedang mengunci mulutnya dengan rapat dan tidak bisa terbuka barang sedikitpun.

Setelah itu, Yunho langsung memegang bahu Kangin seolah menyalurkan kekuatannya kepada Kangin agar pria itu kuat menanggung musibah yang dialami oleh keluarganya ini kemudian berjalan keluar dari ruangan itu dan menyisakan Kangin yang berdiri mematung di sana sambil menatap lekat wajah damai Eunhyuk yang masih setia tertidur.

.

.

.

Di sebuah ruangan yang didominasi warna putih dan biru diisi dengan beberapa alat kedokteran beserta kabel-kabel yang menghubungkan alat itu dengan pasien.

Ruangan itu adalah ruangan ICU.

Ya, saat ini Jungsoo sudah berada di ruang ICU untuk menjaga sang adik bungsu yang tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit dan tubuhnya dipenuhi dengan kabel-kabel yang berasal dari alat kedokteran yang ada di ruangan itu. Dan jangan lupakan perban berwarna putih yang melingkar manis di kepalanya serta beberapa lebam yang membekas di muka pucatnya.

Jungsoo dengan pakaian sterilnya mulai menghapuskan jarak diantara mereka dengan berjalan semakin mendekat dengan adiknya itu. Jungsoo melihat wajah Kyuhyun dengan intens. Entah ia benar atau tidak, ia melihat Kyuhyun seperti tengah melukiskan senyuman tipis walau itu tidak terlalu terlihat dengan jelas. Ia mencoba menyakinkan dirinya dengan meneliti lebih dalam lagi dan ternyata ia memang tidak salah melihat. Ia memandang Kyuhyun dengan mata yang teduh serta senyuman bak malaikat yang berasal dari surga.

"Apa kau sudah tau kalau semua hyungmu sudah kembali menyayangimu, Kyu? Bahkan kau tersenyum indah walau kau sedang tertidur seperti ini.." Kata Jungsoo dan tidak ada balasan yang terdengar, hanya suara dari alat pendeteksi jantung saja yang memenuhi ruangan itu dengan ritme yang pelan.

"Kau tidak boleh terlalu lama tertidur seperti ini, Kyunnie.. sekarang saja kau sudah membuat hyung rindu dengan suaramu. Jadi.. jangan terlalu lama, arachi?" Lanjut Jungsoo dengan suara yang dibuatnya agar terdengar tegar di hadapan Kyuhyun walaupun pada kenyataanya air matanya menetes lagi tanpa bisa ia cegah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

Annyeong readers~

Kimchan balik lagi nih dengan chapter 18..

Maaf ya kalo updatenya cukup lama.. soalnya lagi persiapan UN dan juga baru-baru ini hapeku hilang jadi harus pinjam hape dongsaeng aku dulu kalo mau internetan ;;;;;

Ah iya, chapter ini sudah panjangkan? Hahahaha sengaja aku panjangin sebagai permintaan maaf karena lama di update.. semoga suka yaa~

Kira-kira ceritanya makin jelek, ya? Atau ngebosenin?

Langsung bilang aja kalo memang gitu.. aku juga masih penulis amatiran jadi mohon dimaafkan.

Kalau typo masih bertebaran, juga mohon dimaafkan soalnya saya suka males re-edit *bow

Di chapter kemarin, ada yang bilang pendek.. emang pendek ya? '-' perasaan wordsnya udah lebih dari 3,5k words lho._. tapi yasudahlah gpp kkk

Saran/Ide/ Kritik saya terima banget, jadi bagi yang belum mereview tolong review yah soalnya dengan review kalian, saya bisa termotivasi dan bisa tau dimana saja letak kesalahan di ff ini.

Dan buat yang rajin review, makasiiiiiihhhh banget.. tapi jangan lupa review chapter ini yaa~

Oh iya aku mau numpang promosi bentar yaaa kkkk
kalau ada yang mau pesan tshirt SS6, bisa langsung mention ys824_ atau indo_elfshop di twitter/IG. Buat yang pesan akan dapat poster/paper bag kyochon ^^ Persediaannya terbatas lho jadi jangan lupa dipesan, apalagi buat yang mau nonton SS6 nnt..^^

Thanks to:

Mifta cinya, nurul cynkeomma, jihyunelf, isroie106, siskasparkyu0

Desviana407, kyuli99, ayusetya198, yulianasuka, Awaelfkyu13, dewiangel

Dewidossantosleite, DinggoChan, yunacho90, meimeimayra, sparkyubum, raein13

, namielf, kyucho, angel sparkyu, Hehyuk17, Shofie Kim, d5, Wonhaesung Love

Kuroi Ilna, septianurmalit1, Shin Ririn1013, chairun, ApolDes, hulachan, diahretno, Anik0405

Lydia Sparkyu Elf, Nisa, ilmah, sumire, kyuhae, nita, nfs, feivkyu, Galaxy Yunjae, mza

And all the guests!

Last, would you mind to review this ff? ;))))

Thank Youuuu

- Kimchan83 -