Look Perfect Tonight.
Akakuro.
Romance. Friendship. All Seijuro POV.
Happy Reading~
oo00oo
Aku Akashi Seijuro. Seonggok makhluk budiman yang amat sangat beruntung. Hidup dalam lingkungan keluarga yang hangat, tetangga sebelah yang baik dan ramah, serta tak ketinggalan sahabat terbaik yang pernah ada. Sosok bersurai biru langit yang menawan, sosok hangat dalam balutan wajah tanpa ekspresinya. Namun, siapa sangka, senyumnya dapat melelehkan hatiku. Sampai-sampai aku berjanji sehidup semati untuk menikahinya dan menjadikannya miliku seumur hidup.
Aku dan Tetsuya—sosok pemuda bersurai biru langit— sudah bersahabat sejak kecil. Rumah kami bersebelahan, orang tua kami bersahabat, itu lah mengapa aku dan Tetsuya sangat dekat.
Kami tumbuh besar seiring berjalanya waktu. Taman kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Sekolah Atas, sampai Perguruan Tinggi pun kami masih tetap bersama, walau berbeda fakultas. Dan, mustahil dalam hubungan yang begitu dekat dan selalu bersama, tak menimbulkam benih-benih cinta. Mustahil. Aku mengakuinya. Aku menyayangi, ah lebih tepatnya Aku mencintai Tetsuya.
oo00oo
Hari demi hari berlalu, perasaanku semakin kuat. Aku memutuskan untuk menyampaikan perasaan cintaku padanya, Kuroko Tetsuya.
"Tetsuya...?"
Dia menatap lurus. Memandang penuh tanya padaku. Semilir angin menerpa surainya yang tersibak pelan.
"Tetsuya..."
"Hm. Ada apa, Sei-kun?"
"Tetsuya. Aku hanya ingin berkata jujur saja, tentang apa yang aku rasakan selama ini padamu,"
Dia mengrenyit. Menatap penasaran kearahku. Jantungku kian berpacu mengingat kemungkinan yang ada.
Jika dia menolaku, pasti hubungan persahabatan kita akan terasa canggung.
Jika dia menerimaku. Aku senang bukan kepalang.
"Tetsuya."—aku menatapnya, tepat, sangat tepat dimanik Aquamarine itu—"Jadilah kekasihku. Aku mencintaimu, sejak lama, sudah sejak lama, tapi aku takut membuat persahabatan kita hancur. Maaf. Tapi aku mencintaimu, jadilah kekasihku, Tetsuya,"
Ah. Dia terkejut. Rautnya tak terbaca, dan aku begitu was-was saat ini. Takut ditolak, tapi aku yakin dia tak tega.
Ia menunduk. Astaga, aku begitu gugup disini. Aku merutuk dalam hati. Cepatlah jawab, cepatlah jawab.
"I-iya..."
Aku melongo mendengar suara yang nyaris seperti bisikan.
"Hah?"
Angin berhembus disekitar kita. Ia mengangkat wajahnya, poninya tersibak, menampakan wajah penuh bahagia. Tetsuya tersenyum, dan itu manis sekali.
"Iya. A-aku mau menjadi k-kekasihmu, S-Sei-kun,"
Aku masih melongo sesaat. Hingga tiba-tiba aku sudah berada dihadapanya, dan mendekapnya erat.
"Terima kasih, Tetsuya,"
oo00oo
Tahun berganti, 20 Desember 20xx, aku Akashi Seijuro akhirnya meminang Kuroko Tetsuya untuk menjadi milikku sehidup semati, dalam suka maupun duka, dalam rasa sakit maupun bahagia.
Pestanya tak begitu meriah, namun juga tak begitu sederhana sekali. Kami mengundang banyak tamu, salah satunya sahabat kami, anak-anak Generation of Miracle.
"Hiks, hiks, Kurokocchi kenapa kau menikah dengan Akashicchi-ssu? Kenapa tidak denganku saja-ssu?"
Ah. Aku benci makhluk kuning ini. Akashi Tetsuya hanya milik Akashi Seijuro seorang. Makhluk terbully sepertimu tak pantas mendapatkanya. Aku lantas memandang tajam Kise Ryouta, membuat dia terintimidasi olehku.
"Berisik, Kise!"—teriak si hitam Aomine—"Yo~ Tetsu, Akashi, selamat atas pernikahannya,"
Dia menyalami kami, walau aku sedikit jijik lantaran dia habis menggali isi telinganya.
"Terima kasih, Aomine-kun," ujar Tetsuya.
"Thanks, Daiki,"
Tiba-tiba tangan besar mengelus lembut surai Tetsuya, dan aku sudah hapal betul kelaluan siapa ini.
"Selamat atas pernikahanya, Akachin~ Kurochin~" ujar Murasakibara dengan nada malasnya.
Aku dan Tetsuya mengucap terima kasih pada Murasakibara.
"Hmp. Selamat atas pernikahanya, nanodayo, semoga langeng, Akashi, Kuroko,"
"Terima kasih, Midorima-kun,"
Aku hanya menganguk. Menatap sekeliling, berharap pesta cepat berakhir dan ia bisa leluasa menghabiskan waktu dengan isterinya.
oo00oo
Pukul setengah sembilan malam, aku dan Tetsuya baru saja tiba dikediaman kami. Aku langsung menuju kamar mandi, sedangkan Tetsuya menyiapkan teh dan beberapa camilan untuk kita.
Aku menuju dapur, sesaat kulihat Tetsuya yang begitu sibuk. Aku meneluknya dari belakang. Membisikan sesuatu.
"Mandilah, lalu kita nikmati malam ini,"
Tetsuya menganguk, lalu ia berjalan menuju kamar kita. Aku menunggunya seraya mengutak-atik ponsel memeriksa apakah ada notifikasi kerjaannya.
Setelah beberapa saat, Tetsuya berjalan kemari. Rambutnya masih basah dan menguarkan wangi vanilla yang membuat ketagihan.
"Sei-kun? Ayo ke teras samping,"
Dia berjalan mendahuluiku sembari membawa dua gelas teh dan beberapa camilan di nampan itu. Aku mengekori dari belakang.
oo00oo
Hari semakin larut, di teras hanya ada satu lampu yang mengantung dan satu lampu taman yang bersinar redup.
"Tetsuya?"
"Hm,"
"Ayo berdansa denganku,"
Aku menariknya berdiri, lalu mematikan saklar lampu yang mengantung tenang, membuat keadaan begitu remang menampilkan taburan ribuan bintang diatas sana.
Aku membawa tersuya ke taman depan teras, mendekati lampu taman yang menyala redup. Tanpa alas kaki, kita menginjak rerumputan yang begitu halus.
Aku dan Tetsuya mulai meliuKkan badan, tak ada irama, hanya sekadar meliukkan badan saja. Menari mengikuti kalbu, dalam kesunyian malam, langit bertabur bintang, aku berdansa dengan Tetsuya, seolah dunia ini hanya ada kita berdua saja.
Aku berbisik.
"Kau terlihat sempurna malam ini, Sayang. Perfect,"
Kulihat ia merona, walau dalam keadaan remang aku bisa melihat semburat merah jambunya.
"Kau juga, Sei-kun. Kau begitu tampan malam ini,"
Aku terkekeh mendengarnya yang dengan malu-malu mengatakan itu. Hening untuk beberapa saat. Aku akhirnya mulai berbisik lagi.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Akashi Tetsuya. Terima kasih sudah sudi menjadi isteriku,"
Dia menatapku tepat dimata.
"Aku juga, Sei-kun. Aku mencintaimu, sangat. Dan, sama-sama, suamiku,"
Dia masih menatapku, membuatku terpaku oleh tatapan dalam iris Aquamarine itu. Dan aku menyadarinya, tatapan itu. Tatapan penuh kasih, tatapan yang sekarang tertuju hanya padaku. Dan menjadi miliku seorang.
Aku, Akashi Seijuro, merasa menjadi pria paling beruntung didunia ini.
oo00oo
END
oo00oo
[A/N : Hai. Saya balik bawa yang manis-manis. Inspirasi lagunya Ed Sheeran — Perfect. Maaf jika banyak Typo, cos ditulis tengah malam dalam keadaan mata ngantuk berat, tapi ogah merem. RnR?]
