Chapter 19

Cast:

Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun [18]

Park Jungsoo as Park Jungsoo (Kyuhyun's brother 1) [26]

Kim Youngwoon as Park Kangin (Kyuhyun's brother 2) [23]

Lee Hyukjae as Park Eunhyuk (Kyuhyun's brother 3) [19]

Shim Changmin as Kyuhyun's best friend [18]

Genre:

Family, Friendship, Hurt/Comfort, Sad, Angst,

Disclaimer:

All casts belong to God and themself and i just own the story. DLDR! Alur ff ini sudah pasaran jadi mohon di maafkan jika ada kesamaan dengan beberapa cerita yang lainnya. /.\ Tapi saya tidak memplagiat ataupun menjiplak karya author lain karena cerita ini berasal 100% dari pikiran saya dan mungkin memang terinspirasi dari beberapa ff dengan tema brothership yang pernah saya baca tanpa disengaja sama sekali!

Summary:

Perjuangan seorang adik terkecil di keluarga Park untuk mendapat kasih sayang ketiga hyungnya yang selalu menganggapnya tidak ada. Apa yang membuatnya tidak dianggap sama sekali? Bisakah ia mendapat kasih sayang para hyungnya?

Note:

Buat para readers yang tidak punya akun, tetep bisa ngereview yah. Tinggal isi kolom nama aja (atau bisa dikosongkan) trus review. Gampang kan? Review kalian itu adalah bayaran atas tulisan saya, jadi jangan lupa untuk tinggalkan jejak ^^

Sebelumnya..

"Apa kau sudah tau kalau semua hyungmu sudah kembali menyayangimu, Kyu? Bahkan kau tersenyum indah walau kau sedang tertidur seperti ini.." Kata Jungsoo dan tidak ada balasan yang terdengar, hanya suara dari alat pendeteksi jantung saja yang memenuhi ruangan itu dengan ritme yang pelan.

"Kau tidak boleh terlalu lama tertidur seperti ini, Kyunnie.. sekarang saja kau sudah membuat hyung rindu dengan suaramu. Jadi.. jangan terlalu lama, arachi?" Lanjut Jungsoo dengan suara yang dibuatnya agar terdengar tegar di hadapan Kyuhyun walaupun pada kenyataanya air matanya menetes lagi tanpa bisa ia cegah.

HAPPY READING~!

Selanjutnya..

Saat ini, Yunho sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit tempatnya bekerja selama beberapa waktu terakhir ini setelah ia dan Changmin – adiknya – pindah dari Jepang untuk menetap di Korea. Ia ingin menuju ke ruangannya secepat mungkin untuk menenagkan hati dan pikirannya karena semua kejadian yang terjadi hari ini benar-benar membuatnya bingung harus bersikap bagaimana. Di satu sisi ia merasa bahagia karena adik bungsu keluarga Park bisa kembali mendapat kasih sayang dari semua hyungnya, namun di sisi lain, Kyuhyun harus koma dan penyakitnya menjadi semakin parah. Bahkan Eunhyuk pingsan karena shock. Ia sungguh merasa kasihan dengan keluarga sahabat sekaligus keluarga sahabat adiknya.

Ahh.. Ia teringat dengan Changmin – adiknya. Entah apa yang harus ia katakan pada adiknya nanti. Bahkan sampai saat ini pun tidak ada yang memberitahunya mengenai penyakit Kyuhyun.

Ia menghela napas beratnya. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi terhadap adiknya jika adiknya tahu mengenai hal itu. Ia memijat pelipisnya sejenak namun tidak menghentikan langkahnya menyusuri koridor yang agak lengang.

'Apa yang harus kulakukan?' Yunho membatin. Sekarang ia sudah sampai di depan ruang kerjanya dan ia segera menggerakkan tangannya menuju ke knop pintu kemudian membuka pintu itu dengan perlahan.

Saat ia masuk, ia melihat ada beberapa kertas dan juga map yang kemungkinan menyimpan kertas-kertas itu sudsah berhamburan dilantai. Sontak ia langsung masuk untuk melihat siapa yang berani melakukan hal itu di ruangan kerjanya. Namun, baru selangkah ia masuk lebih dalam untuk melihat apakah pelakunya masih berada di ruangannya atau tidak, ia kembali dikejutkan dengan melihat orang yang terduduk di atas lantai putih itu dengan tatapan yang kosong. Dan yang membuatnya terkaget adalah orang itu merupakan adiknya sendiri – Changmin.

"C-changmin-ah.. a-apa yang.. a-apa yang kau lakukan di sini?" Yunho berbicara dengan terbata-bata. Sungguh, ia benar-benar kaget dengan keberadaan Changmin di ruangannya. Ia tidak bisa mengontrol emosinya saat ini.

Changmin yang merasa ada orang yang memanggilnya segera menggerakkan kepalanya ke arah sumber suara itu dengan gerakan lambat. Ia menatap asal suara itu dengan mata sendu dan sembab. Di pipinya yang tirus itu masih tersisa jejak aliran air mata. "Hyung... wae?" Lirih Changmin dengan suara serak. Suaranya yang seraknya itu mendukung dugaan Yunho bahwa adiknya itu menangis tanpa ada isakan sama sekali.

"..." Yunho tidak bisa menjawab pertanyaan Changmin. Changmin sudah pasti telah mengetahui apa yang telah ia dan yang lain sembunyikan mengenai Kyuhyun dengan melihat betapa terpuruknya anak itu saat ini. Ia sudah bisa mengelak sama sekali. Pasti kertas yang masih tergeletak tidak berdaya di atas lantai itu adalah hasil check up Kyuhyun sebelumnya. Ia sungguh bodoh meletakkan hasil itu di atas mejanya.

"WAE?! KENAPA KAU MENYEMBUNYIKAN HAL INI HYUNG?! KENAPA?! HIKS" Changmin berteriak dengan keras kepada Yunho dan terisak untuk pertama kalinya karena menyembunyikan kenyataan yang sangat menyakitkan buatnya bahkan ini berhubungan dengan keadaan sahabatnya – Kyuhyun. Walaupun mereka belum lama ini menjadi sahabat, namun mereka merasa mereka memiliki suatu ikatan tak kasat mata yang membuat mereka terikat sebagai sahabat. Changmin sendiri sudah menganggap Kyuhyun sebagai saudaranya sendiri. Dan dengan mengetahui kenyataan ini membuat hatinya seperti tercabik-cabik oleh sebuah pisau yang tak kasat mata.

"Changmin-ah..." Yunho hanya bisa mengatakan itu. Ia sudah tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada adiknya itu. Lidahnya terasa keluh sehingga membuatnya tidak bisa mengucapkan sepatah kata yang lainnya.

"Hiks.. Kau jahat hyung.. Kau jahat.. hiks.." Changmin terus mengeluarkan air matanya dan terisak dengan keras di depan Yunho. "Harusnya.. hiks.. harusnya kau memberitahuku, hyung!" Lanjut Changmin lagi dengan suara serak yang cukup keras namun itu tidak mampu membuat Yunho bergeming dari tempatnya berdiri saat ini.

Changmin berdiri dengan gerakan pelan sambil menghapus jejak-jejak air mata yang tersisa di pipinya namun apa yang dilakukannya itu sia-sia saja, karena air matanya seakan tidak mau berhenti. Ia berusaha berdiri dengan seluruh kekuatannya karena jika ia ingin jujur, tenaganya entah pergi kemana setelah mengetahui penyakit yang di derita oleh Kyuhyun. Meski sudah Changmin hapus berkali-kali, air matanya itu tidak berhenti mengalir di pipinya. Mungkin air matanya itu mengerti dengan suasana hati Changmin yang begitu sakit karena mengetahui penyakit yang Kyuhyun derita.

Biar ia tebak, pasti sekarang semua orang sudah mengetahui hal itu dan hanya dia saja yang baru mengetahuinya.

Tiba-tiba ruangan itu dilanda keheningan. Kedua kakak beradik itu diam di tempatnya masing tanpa melakukan pergerakan apapun yang menimbulkan suara. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

"Changmin-ah.." panggil Yunho memecahkan keheningan di ruang kerjanya. "Hyung punya alasan untuk tidak memberitahumu mengenai penyakit Kyuhyun." Lanjut Yunho lagi. Changmin yang berdiri dihadapannya tidak bergerak sedikitpun. Ia masih diam di tempatnya berdiri.

"Waktu itu.. hyung juga cukup kaget melihat hasil pemeriksaan lengkapnya saat Donghae membawanya ke sini sewaktu ia terkena hipotermia.. Hyung sudah mengatakan padanya bahwa ia harus mengatakan hal ini kepada keluarganya, tapi... ia menolak..." Yunho terdiam sesaat. Kemudian ia mengambil napas yang dalam dan kembali melanjutkan perkataannya. "Bahkan saat itu juga, ia langsung meminta hyung untuk merahasiakan hal itu darimu. Sebenarnya, saat itu hyung ingin sekali mengatakannya padamu tapi sepertinya ia bisa membaca pikiran hyung dan dengan cepat meminta itu pada hyung." Lanjut Yunho kemudian ia tersenyum miris.

"Kau tahu.. Kyuhyun sangat menyayangimu karena ia melihat ketulusan yang terpancar dari matamu. Dan.. ia tidak ingin membiarkanmu bersedih atau khawatir karena dirinya. Ia memikirkanmu Changmin-ah.. ia tak ingin kau khawatir jika kau mengetahui penyakitnya. Sewaktu Kyuhyun akan menjalani proses kemoterapi, biasanya ia akan menceritakan beberepa hal tentang dirimu atau meminta hyung menceritakan sesuatu tentang dirimu pada Kyuhyun. Ia bahkan pernah berkata pada hyung kalau kaulah satu-satunya sahabatnya selama ini dan kaulah yang bisa mengerti dirinya." Kata Yunho dengan suara yang lirih.

"Walaupun kalian baru saja menjadi sahabat, hyung bisa melihat ketulusan diantara kalian berdua. Di mata kalian berdua, terlihat jelas – sangat jelas – ketulusan itu." Kata Yunho berusaha membuka pikiran dongsaengnya akan suatu alasan mengapa Kyuhyun – sahabat Changmin – menyembunyikan hal ini darinya.

Changmin mendengar dengan jelas setiap ucapan Yunho namun ia hanya diam dan tak merespon sama sekali. Ia bisa mengerti itu. Tapi, sulit untuknya untuk menerima kenyataan ini. Kyuhyun dan ia baru saja bersahabat dan mereka sudah akan dipisahkan oleh penyakit sialan itu. Sungguh ia tak rela. Walau baru mengenal Kyuhyun selama beberapa bulan ini, ia sudah sangat menyayanginya sendiri, ditambah lagi pengalaman pahit yang diceritakan Kyuhyun kepadanya semakin membuatnya ingin melindungi sahabat baru dan yang ia paling sayangi itu.

"Dan.. ada satu hal lagi – " Yunho menggantungkan perkataannya. "Karena kau sudsah tahu semuanya, jadi hyung tidak ingin menyembunyikan sesuatu hal lagi padamu... Hah.. Saat ini... Kyuhyun... Dia.. koma." Lanjut Yunho dan satu lagi fakta yang membuat Changmin semakin merasa sedih bahkan terpuruk.

Changmin hanya terus melihat ke bawah, bahkan semakin menunduk. Cahaya di matanya semakin meredup dan kembali meneteskan cairan bening yang selalu berusaha tahan seumur hidupnya. Yunho yang melihat sang adik seperti itupun, kemudian maju dengan perlahan, selangkah demi selangkah, hingga akhirnya hanya berjarak sangat dekat dengan adiknya itu. Tanpa aba-aba, ia merengkuh tubuh adiknya yang lebih tinggi darinya dan menepuk-nepuk punggung sang adik guna menenangkannya. Namun bukannya tenang, malah tangisan Changmin semakin mengeras.

"H-hyung.. hiks.. hiks.. Kenapa harus Kyuhyun? Hiks.. Wae? Dia.. sudah terlalu banyak penderitaan yang harus ia tanggung.. hiks.." Changmin terisak. Ia meraung karena sesak yang ia alami saat ini sangat membuatnya sakit. Kenyataan yang ia dapat hari ini benar-benar melulu lantakkan hatinya seketika.

Yunho yang memeluk erat Changmin tidak ingin berkata apapun lagi pada adiknya. Sudah cukup apa yang harus ia katakan. Ia ingin, Changmin meluapkan segala emosinya agar ia lebih tenang. Sungguh, ia juga turut sedih dengan keadaan seperti ini.

Kedua kakak beradik itu terus berpulukan tanpa ada niatan untuk melepaskan rengkuhan itu. Yunho sebagai seorang kakak bagi Changmin, merasa sangat bersalah pada adiknya karena melihat adiknya terpuruk hingga seperti ini. Saat ini saja, ia sudah tidak bisa menahan perasaannya untuk ikut bersedih bersama adiknya.

.

.

.

Tek

Tek

Tek

Bunyi jam dinding setiap detik di sebuah ruangan yang bernuansa putih yang berisi dua namja yang sedang tertidur namun berbeda posisi. Namja yang bertubuh cukup berisi sedang tertidur dengan posisi terduduk di kursi di samping ranjang pasien yang tengah di tiduri oleh namja lainnya yang terbaring dengan jarum infus yang tertancap rapih di lengan kiri bawahnya. Kedua namja itu adalah Kangin dan Eunhyuk.

Sudah dari beberapa jam yang lalu, Eunhyuk belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dan Kangin dengan setia menunggui adiknya itu dengan penuh perasaan bersalah dan penyesalan atas apa yang ia perbuat pada Eunhyuk. Kangin tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi sesaat setelah Yunho keluar dari ruang rawat itu. Ia langsung menangis dengan keras bahkan pipinya banjir dengan air matanya. Ia terus menggenggam tangan Eunhyuk dan mengucapkan kata-kata permintaan maaf pada Eunhyuk walaupun ia tahu Eunhyuk tidak akan mendengarnya karena Eunhyuk tengah tidak sadar. Namun, beberapa saat setelah itu, ia jatuh tertidur dengan kepala yang terbaring di atas ranjang yang di tempati Eunhyuk karena kelelahan dengan semua hal yang terjadi hari ini.

Tunggu dulu. Sepertinya ada yang aneh dengan Eunhyuk. Ia sedari tadi tertidur dengan gelisah dan keringat terus bercucuran dari dahi dan pelipisnya. Kedua bola matanya yang tersembunyi di balik kelopak matanya bergerak gelisah. Dan ia juga melenguhkan sesuatu.

"Kyuniehh.." lirih Eunhyuk memanggil nama adiknya namun kelopak matanya belum kunjung terbuka. Ia terus bergerak gelisah dalam tidurnya.

"Andwae.. Kyu! Kajima!" Sekali lagi, lirihan kecil terdengar seperti agak berteriak dari Eunhyuk. Ia semakin gelisah dan membuat Kangin yang tidur di sampingnya – tepatnya Cuma kepalanya saja yang terbaring – bangun karena pergerakkan yang di timbulkan Eunhyuk.

Kangin berusaha mengembalikan kesadarannya dan saat semua kembali, ia begitu kaget dengan keadaan wajah Eunhyuk yang sudah di penuhi keringat dingin yang terus mengalir dari dahi dan pelipisnya. Ah, jangan lupakan juga gerakkan gelisah Eunhyuk masih terus berlanjut.

"Hyukkie.. Kau kenapa saeng?" Kangin mencoba menenangkan Eunhyuk dengan meraih tangan dongsaengnya itu kemudian menggenggamnya erat.

"Kyunnie~~ Kajima! Hyung mohon.. hiks.." Bukannya semakin tenang, malah Eunhyuk mulai terisak sambil terus bergumam dengan lirih. Kangin melihat itu, semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan adiknya itu. "Hiks.. Kyunniehhh.. hiks kajima! Hiks.." Eunhyuk kembali mengigau sambil terus terisak.

"Hyukkie-ah.. kau kenapa, saeng? Tenanglah.." Kata Kangin sekali lagi dan menggosokkan kedua tangannya dengan tangan Eunhyuk kemudian menyalurkan kehangatan yang tercipta karena gosokkan itu. Ia melihat Eunhyuk sudah mulai tenang dan isakannya berubah menjadi isakan-isakan kecil. Tidak lama kemudian mata yang sedari tadi terpejam mulai terbuka dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.

"Kyunniehh.." lenguh Eunhyuk sambil memfokuskan pandangannya ke depan. Yang pertama kali ia lihat adalah warna putih dari langit-langit ruang rawat tempatnya berada saat ini. Ia terlihat seperti masih memproses seluruh ingatannya sebelum semuanya gelap.

"Hyukkie-ah.." Kangin memanggil Eunhyuk. Di dalam hati, Kangin memanjatkan syukur karena adiknya yang berjarak empat tahun dengan dirinya kini sudah sadar dari pingsan.

Setelah mendengar panggilan Kangin, Eunhyuk langsung berbalik dan entah kenapa tubuhnya menegang seketika saat ia melihat Kangin ada di sampingnya sekarang dan sedang memegang tangannya. Ia menatap Kangin dengan raut ketakutan dan ia menarik telapak tangannya yang dipegang Kangin.

"K-kangin hyung.." Eunhyuk berucap pelan namun masih bisa terdengar karena ruangan itu cukup sepi sehingga suara sekecil atau sepelan apapun itu masih bisa terdengar dengan jelas. Kangin berusaha memberikan senyuman terbaiknya kepada Eunhyuk tapi sejujurnya ia cukup bingung dengan perubahan sikap yang Eunhyuk perlihatkan sekarang. Apa ini yang dimaksud oleh Yunho tadi?

Tubuh Eunhyuk yang menegang itu sedikit bergetar, Eunhyuk berusaha bangun dengan perlahan dari posisi berbaringnya dan bergerak ke arah yang berlawanan dengan posisi Kangin saat ini – ia bergerak menjauhi Kangin.

Dalam pikirannya, langsung terbayang bagaimana saat Kangin menamparnya dengan keras. Ingatannya itu membuatnya merundukkan kepalanya dan kedua tangannya bergerak ke kepalanya kemudian menjambak rambutnya sendiri. "ARRRGGHHH!" Seluruh ingatan yang ia telah proses membuatnya histeris. Ia berteriak sambil menjambak rambutnya dan cairan bening yang sempat berhenti keluar dari matanya kembali mengalir di pipinya.

Kangin kaget dengan apa yang Eunhyuk lakukan sekarang. Ia bangkit dan mencoba melepaskan cengkraman Eunhyuk yang keras dari rambut Eunhyuk sendiri. "Hyukkie-ah! Apa yang kau lakukan?!" Kangin berteriak dan terus berusaha walaupun agak sulit. Namun, karena kondisi Eunhyuk yang memang masih cukup lemah karena baru saja sadar membuat kekuatan Kangin yang memang lebih besar darinya bisa menghentikan apa yang ia lakukan.

Kangin sudsah memegang kedua tangan Eunhyuk. "Hiks.. Hiks.." Sekarang hanya isakan Eunhyuk yang terdengar helaan napas Kangin.

"Hyukkie.. Hyung mohon jangan seperti ini..." Kata Kangin dengan lembut dan tatapan sendunya. "Jangan sakiti dirimu seperti ini.." Kata Kangin lagi. Matanya sudah berkaca-kaca namun ia berusaha agar air matanya tidak tumpah saat itu, jadi sekarang ia mendongakkan kepalanya ke atas. Untungnya Eunhyuk saat ini tengah menunduk sambil terisak sehingga ia tidak melihat usaha Kangin untuk mencegah air matanya keluar dari pelupuk matanya.

Tapi, tiba-tiba Eunhyuk yang masih terisak mencoba melepaskannya dari pegangan Kangin dan segera turun dari ranjangnya. Kangin melihatnya dengan sedikit kebingungan.

Eunhyuk menurunkan kakinya yang ia rasa masih lemas dan berusaha menopang berat tubuhnya dengan kedua kakinya saat ia sudah menapaki lantai. Kangin melihat itu, langsung beralih ke sisi ranjang yang lain saat ia melihat Eunhyuk dengan sekuat tenaga berusaha berdiri kemudian ia membantu Eunhyuk untuk menopang tubuhnya yang ia tahu masih lemas.

"Apa yang kau lakukan, saeng? Kau masih lemah sebaiknya kau kembali berbaring, hm?" Kangin berucap. Tapi Eunhyuk malah menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian ia menekukkan lututnya dan terus menurunkan lututnya hingga bertemu dengan permukaan lantai yang cukup dingin. Eunhyuk berlutut saat ini entah untuk apa. Mata Kangin pun terbelalak kaget dengan apa yang dilakukan adiknya sekali lagi.

"A-ada apa ini sebenarnya, saeng? Berdirilah. Jangan berlutut." Kata Kangin yang cukup terkejut. Eunhyuk menggeleng lagi. Kangin mencoba menariknya berdiri namun Eunhyuk tetap bertahan dengan posisinya yang seperti itu.

"Hyung.. kumohon.. hiks kumohon maafkan aku hyung.. hiks.. aku tidak tahu kalau.. kalau kyuhyun.. hiks.." Eunhyuk semakin terisak dengan keras dan tidak bisa melanjutkan perkataannya karena emosi yang tidak stabil. Kangin menatap miris ke arah adiknya saat ini yang tengah berlutut memohon pengampunan darinya. Inikah akibat dari merasakan penyakit Kyuhyun dari Eunhyuk? Bahkan ditambah lagi kecelakaan yang disebabkan oleh Eunhyuk semakin memperparah semuanya.

Seharusnya ia sudah tahu dan bisa membayangkan keadaan Eunhyuk jika Eunhyuk tahu kalau Kyuhyun sakit. Namun, sepertinya mereka melupakan hal sepenting itu.

Kangin tidak tahu harus menjawab Eunhyuk seperti apa. Ia pun bingung dengan situasi seperti ini. Situasi dimana ia harus berpikir keras untuk mengatasinya. Bahkan ini lebih rumit dari masalah perusahaannya. Ia kemudian mengambil tindakan untuk menarik Eunhyuk untuk berdiri sekali lagi. Dan.. Usaha Kangin berhasil. Tubuh Eunhyuk terlalu lemah untuk melawannya.

"hiks.. Hiks.." Eunhyuk terus terisak saat ia sudah berdiri dengan tegak tepat di hadapan Kangin walaupun ia masih di topang oleh tangan Kangin karena kedua kakinya belum terlalu bisa menopang berat badannya.

"Ani.. kau tidak salah, saeng.." Ucap Kangin mencoba menenangkan adiknya yang terus menangis tanpa henti bahkan hingga seluruh wajahnya yang awalnya putih dengan sedikit pucat menjadi kemerahan. "Mungkin.. mungkin.. ini hukuman yang diberikan oleh Tuhan karena sudah memusuhi Kyuhyun selama bertahun-tahun." Lanjut Kangin. Kemudian, ia sedikit mendorong Eunhyuk ke belakang agar Eunhyuk bisa duduk di ranjangnya dengan sedikit bantuannya untuk naik ke sana.

Kangin meletakkan kedua tangannya di kedua bahu Eunhyuk. "Hyung yakin, pasti ada cara agar Kyuhyun bisa sembuh dari penyakit itu. Jadi, jangan menangis. Kyuhyun pasti akan sedih jika kau terus menangisinya seperti ini." Kangin berkata sambil mengusap pipi adiknya dengan lembut dan dibalas anggukan kecil dari adiknya. Kangin tersenyum melihat balasan yang di dapatnya.

"Cha, sebaiknya kau tidur. Kau masih lemah sekarang. Jadi istirahatlah.." Kangin menuntun Eunhyuk untuk kembali berbaring di atas tempat tidurnya. Saat Kangin telah selesai dan berbalik sebentar, tiba-tiba terdengar suara Eunhyuk.

"Hyung..." Panggil Eunhyuk dengan suara cukup pelan dan sedikit serak akibat menangis tadi.

"Ne?" Kangin berbalik dan menjawab panggilan Eunhyuk.

"Eum.. Jangan tinggalkan aku.." Suara Eunhyuk semakin mengecil saat ia mengucapkan 2 kata terakhirnya. Dalam hati Kangin, ia tersenyum senang dengan sifat Eunhyuk yang manja seperti ini telah kembali seperti dulu.

"Hyung akan di sini.. jadi tidurlah." Ucap Kangin seraya beranjak ke sisi ranjang lainnya di mana ada sebuah Kursi yang terletak di sana. Kemudian ia duduk tenang sambil mengelus rambut adiknya agar ia lebih cepat terlelap.

Itu adalah kebiasaan Kangin dulu saat ia belum disibukkan dengan tugas kantor. Saat itu ia masih remaja sedangkan Eunhyuk dan Kyuhyun masih anak-anak. Ia akan bergantian mengelus kepala kedua adiknya saat mereka akan tidur.

Jika mengingat seluruh kenangan mereka di masa lalu membuatnya ingin kembali ke masa itu dan bersenang-senang dengan seluruh anggota keluarganya dengan bahagia tanpa ada apapun yang terjadi sehingga mereka akan terus merasakan kebahagiaan tanpa ada yang tersakiti ataupun pergi. Namun, apa yang bisa di lakukan jika takdir sudah berkata lain?

Kangin hanya bisa berharap agar tidak ada lagi dari mereka yang pergi.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

Annyeong readers.. kimchan balik nih dengan chapter 19 ^^

Apa masih ada yang menunggukah? Maaf banget atas keterlambatannya.. soalnya ga bisa jelajah di laptop kalo bukan pake hotspot hape dan hape aku hilang beberapa minggu yang lalu ㅠㅠㅠㅠ Tapi sekarang udah bisa lagi kok hihihi

Kurang Panjangkah? Membosankankah? Saya akui kalo ada yang komen seperti itu, karena saya agak kurang dpt feel dan kehilangan ide untuk kelanjutannya-_- Entah lari kemana aja ide2 yang pernah saya pikirin-,-

Ohiya, ada bsok ada yang nonton SS6 ga? :') Kalo ada, nitip poto heenim yahhh :'D Exclusive buat aku dong supaya makin semangat lanjutin cahpter selanjutnya hehehe

Ada yang ke Ystyle? Ada yang mau ketemu Yesung? Nitip salam yah akunya :')

Udah ah curhatannya lol

Buat Reader baru, welcome yaa.. kalo udah baca langsung review ^^ ga punya akun juga bisa review kok ^^

Buat Reader setia, keep reading yaaa.. jangan lupa review juga lho kkk

Last, Would you mind to review this fict?

Thank you!

- Kimchan83 -